Digitalization in rural tourism villages is often reduced to social media promotion, emphasizing visual branding instead of data-based destination management. This Community Service Program (PKM) aims to strengthen digital literacy in Bandasari Tourism Village by integrating Global Positioning System (GPS) technology, GPS Exchange Format (GPX) data, and storytelling as community-based destination management tools. Using a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach, residents were positioned as active decision-makers. The program consisted of three stages: identifying tourism potential through participatory discussions, training residents to collect and interpret GPS–GPX spatial data, and developing narrative descriptions of tourism waypoints. Data were obtained through participatory observation, focus group discussions, and documentation. The results show a shift in the community’s perception of digitalization. Waypoints, initially viewed only as coordinates, evolved into narrative points representing local identity, enabling the creation of a digital story map. The community also began linking waypoints to local micro-businesses, strengthening the village’s economic network and reducing dependence on individuals with localized knowledge.Digitalisasi di desa wisata perdesaan sering kali direduksi hanya pada promosi melalui media sosial, dengan penekanan pada pencitraan visual dibandingkan pengelolaan destinasi berbasis data. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memperkuat literasi digital di Desa Wisata Bandasari melalui integrasi teknologi Global Positioning System (GPS), data GPS Exchange Format (GPX), dan pendekatan storytelling sebagai alat pengelolaan destinasi berbasis komunitas. Dengan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), masyarakat diposisikan sebagai pengambil keputusan aktif. Program ini dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu: identifikasi potensi wisata melalui diskusi partisipatif, pelatihan masyarakat dalam pengumpulan dan pembacaan data spasial GPS–GPX, serta penyusunan deskripsi naratif pada titik-titik wisata (waypoints). Data diperoleh melalui observasi partisipatif, diskusi kelompok terarah, dan dokumentasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya pergeseran persepsi masyarakat terhadap digitalisasi. Waypoints yang semula dipahami hanya sebagai koordinat berkembang menjadi titik-titik naratif yang merepresentasikan identitas lokal, sehingga memungkinkan terbentuknya peta cerita digital (digital story map). Masyarakat juga mulai mengaitkan waypoints dengan usaha mikro lokal, yang memperkuat jejaring ekonomi desa serta mengurangi ketergantungan pada individu-individu dengan pengetahuan lokal yang bersifat personal.
Copyrights © 2026