Filter By Year

1945 2024


Implementasi Metode PPP (Presentation, Practice, dan Production) dalam Pembelajaran Berbicara BIPA Level Pemula Rosa Lamria Mardiana Simbolon; Suci Sundusiah; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.2859

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi penerapan metode Presentation, Practice, and Production (PPP) dalam pengajaran keterampilan berbicara bagi pelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) tingkat pemula. Penelitian ini menggunakan desain single subject research (SSR) dengan pola A-B-A yang merupakan pola eksperimen tunggal, melibatkan tiga mahasiswa asal Uzbekistan sebagai partisipan. Metode PPP diterapkan melalui tiga tahapan sistematis: tahap presentasi untuk menyampaikan input yang mudah dipahami, tahap praktik untuk membiasakan pola bahasa, dan tahap produksi untuk menerapkan kemampuan secara komunikatif dan autentik. Alat ukur dalam penelitian meliputi tes kemampuan berbicara terstruktur, lembar observasi partisipasi, serta dokumentasi dalam bentuk audio dan video. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan perubahan performa berbicara masing-masing subjek pada setiap fase (A1–B–A2) melalui teknik analisis visual grafik untuk menelaah tren perkembangan, tingkat capaian, dan kestabilan respons pembelajaran selama penerapan metode PPP. Hasil penelitian memperlihatkan adanya peningkatan yang signifikan dalam seluruh aspek kompetensi komunikasi lisan para subjek. Tingkat kefasihan meningkat dari 35 menjadi 58 kata per menit (kenaikan 65,7%), tingkat akurasi bahasa dari 60% menjadi 82%, dan kecocokan pragmatik dari 40% menjadi 75%. Analisis longitudinal menunjukkan bahwa setiap tahap dalam metode PPP efektif dalam mendukung proses pemerolehan bahasa Indonesia. Temuan ini memberikan bukti empiris tentang keunggulan metode PPP dibanding pendekatan tradisional dalam pengajaran berbicara untuk BIPA level pemula. Penerapan metode ini juga berkontribusi pada pengembangan kerangka pembelajaran yang sistematis dan fleksibel untuk diterapkan dalam berbagai konteks lintas budaya. Model ini mendorong pengembangan pembelajaran yang lebih komunikatif, adaptif terhadap perbedaan budaya peserta, serta relevan untuk diterapkan oleh pengajar BIPA di berbagai konteks internasional.
Pengembangan Asesmen Membaca Bagi Pembelajar BIPA Aras Dasar di Sekolah Essa Baucau Timor Leste Gil Tomé Ribeiro; Nuny Sulistiany Idris; Ida Widia
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.2967

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Timor Leste masih menghadapi kendala, khususnya dalam asesmen membaca yang belum dirancang secara sistematis dan belum sepenuhnya disesuaikan dengan karakteristik pembelajar. Di Escola Secundária Sant’António (ESSA) Baucau, instrumen asesmen yang digunakan masih memiliki validitas rendah, reliabilitas kurang memadai, dan belum kontekstual dengan latar belakang bahasa siswa yang menggunakan Tetun dan Portugis sebagai bahasa ibu. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen asesmen membaca BIPA aras dasar yang memenuhi kriteria valid, reliabel, dan praktis untuk digunakan di ESSA Baucau, Timor Leste. Pendekatan yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Data penelitian bersumber dari dokumen asesmen formatif dan sumatif sekolah ESSA. Subjek penelitian terdiri dari 45 siswa BIPA aras dasar yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi lembar validasi ahli, angket respons siswa, dan tes kemampuan membaca. Validasi dilakukan oleh tiga ahli BIPA dan asesmen. Uji coba instrumen dilakukan dalam dua tahap, yakni uji coba terbatas pada 15 siswa dan uji coba luas pada 45 siswa. Analisis data menggunakan Content Validity Ratio (CVR) dan Content Validity Index (CVI) untuk menilai validitas, Alpha Cronbach untuk mengukur reliabilitas, persentase respons positif untuk mengukur kepraktisan, serta uji t-test untuk mengukur efektivitas. Hasilnya, instrumen yang dikembangkan memiliki skor rata-rata validitas 4,17 (skala 5) dari penilaian ahli, dengan 28 dari 30 butir soal (93,3%) memiliki validitas tinggi. Reliabilitas instrumen mencapai 0,87 (Alpha Cronbach), menunjukkan konsistensi internal yang baik. Kepraktisan instrumen memperoleh persentase 83,5% dari respons siswa dan 90,5% dari respons guru. Implementasi instrumen juga terbukti efektif, ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata skor membaca siswa dari 65,2 menjadi 78,4, serta peningkatan motivasi belajar sebesar 23%. Secara keseluruhan, instrumen asesmen membaca BIPA aras dasar yang dikembangkan ini valid, reliabel, praktis, dan efektif untuk mengukur kemampuan membaca siswa, mencakup indikator pemahaman literal, inferensial, dan kritis yang sesuai dengan karakteristik pembelajar di Timor Leste.
Pengembangan Kamus Visual Kuliner Indonesia untuk Pemelajar BIPA Asal Korea Selatan Jong Min Hong
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 15 No. 1 Februari (2026): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3642

Abstract

Penguasaan kosakata berbasis budaya merupakan salah satu tantangan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Salah satu ranah kosakata yang sering menimbulkan kesulitan bagi pemelajar asing adalah kosakata kuliner Indonesia yang kaya akan istilah bahan, teknik pengolahan, serta makna budaya. Pemelajar BIPA asal Korea Selatan kerap mengalami kendala akibat perbedaan budaya makan, jenis bahan pangan, dan keterbatasan media pembelajaran yang bersifat visual dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kamus visual kuliner Indonesia yang dirancang khusus bagi pemelajar BIPA asal Korea Selatan di Kota Malang serta menguji kelayakan produk dan respons pengguna. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri atas sepuluh pemelajar BIPA asal Korea Selatan. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, angket, validasi ahli, dan uji coba terbatas. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa kamus visual berada pada kategori sangat baik pada aspek kebahasaan, kelayakan isi, dan visual. Hasil uji coba pengguna menunjukkan bahwa kamus visual mudah digunakan, membantu pemahaman kosakata, dan meningkatkan ketertarikan belajar bahasa Indonesia. Dengan demikian, kamus visual kuliner Indonesia dinyatakan layak digunakan sebagai media pembelajaran pendukung BIPA yang efektif, kontekstual, dan berbasis budaya.
ANALISIS KESAMAAN RUMPUN BAHASA BI DAN MALAGASI SEBAGAI ALAT BANTU PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) Dewi Nastiti Lestari N.
MABASAN Vol. 8 No. 2 (2014): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v8i2.90

Abstract

 The promotion of bahasa Indonesia as an international language, as stated in the Article No. 44 of the Law No. 24 of 2009, is indirectly meant to give a wider oppurtunity to introduce bahasa Indonesian to the world through the learning of bahasa Indonesia for foreign learners. This   article is a simple review and a result of action reseach conducted by Nastiti (2010) in the BIPA program of Trisakti University. The result shows that the learners from Madagascar mastered bahasa Indonesian faster than other learners. It is assumed that such progress occurred due to the similarity in the language family, Austronesian language. This article discusses a medium of interaction of bahasa Indonesian for foreign learners through the exploration of the similarities of a language family, i.e between bahasa Indonesian and Malagasi language. Cross linguistics understanding and the learners’ language influenced significantly to the mastery of the target language. This article describes several words in Malagasi language which are derived from loan words from a number of local languages in Indonesia, such as Ma’anyan language (Kalimantan), Malay, Javanese, and South Sulawesi languages. These load words were used as a medium for learning bahasa Indonesian (BIPA) among Madagascar learners. Results of analysis shows thatthere was a number of levels of difficulty pertaining to the structure of the learners’language and the instructional prediction of BIPA learners from Madagascar which benefit for BIPA teachers especially for those who involes in Developing Country Program or other BIPA programs.
Analisis Wacana Kritis dan Studi Bahasa Kritis dalam Pengajaran BIPA Ganjar Hwita
MABASAN Vol. 2 No. 2 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i2.133

Abstract

Kerangka kerja analisis wacana kritis (AWK) relevan untuk pendekatan kritis terhadap studi bahasa—yang dikenal dengan studi bahasa kritis (SBK). SBK merupakan satu sumbangan penting dalam pendidikan dan pembelajaran bahasa yang mulai terkenal sekitar tiga dekade yang lalu.  Relevansi AWK dengan SBK terletak pada orientasi atau pandangan terhadap bahasa dalam pendidikan dan pembelajaran bahasa (R. Fowler, et., 1979; M. Pecheux, 1982; J. Mey, 1985; N. Fairlough, 1989).Dalam AWK, setiap wacana memiliki tiga dimensi: merupakan teks bahasa lisan maupun tertulis; suatu interaksi antar-orang—yang melibatkan proses produksi dan interpretasi teks (praktik kewacanaan); dan merupakan bagian dari suatu praktik atau tindak sosial.  Implikasinya dalam SBK adalah bagaimana studi ini mengangkat kaidah bahasa dan praktik kebahasaan ditanamkan bersama dengan hubungan suatu praktik atau tindak sosial yang sering tidak disadari oleh kita selama ini.  Studi ini pun mengkritik kecenderungan studi bahasa yang menggunakan kaidah dan praktik kebahasaan dengan begitu saja, sebagai objek yang dideskripsikan, dalam cara yang mengaburkan penanaman ideologi dan politik mereka.Makalah ini akan membahas dalam tataran ide suatu pemikiran bidang AWK dalam hubungannya dengan SBK tentang pengajaran suatu bahasa sebagai bahasa asing (N. Fairlough, 1989; C. Wallace, 1992). Masalahnya difokuskan pada pengajaran membaca dengan latar belakang seringnya pelajar BIPA dianggap rendah sebagai pembaca sehingga ada yang hilang dalam pembelajarannya.  Apa yang hilang itu adalah (1) usaha mendudukkan kegiatan membaca dan teks tulis dalam konteks sosial, (2) penggunaan teks yang provokatif, (3) cara penafsiran teks yang melibatkan asumsi-asumsi ideologis serta makna proposisional.
Penggunaan Media Film Dokumenter dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia pada Siswa Bipa Tingkat Madya di Universitas Trisakti Dewi Nastiti Lestari
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.194

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan berbicara dengan teknik diskusi melalui penggunaan film dokumenter sangat membantu atau memotivasi siswa untuk berpikir logis dan berbahasa target, bahasa Indonesia.Permasalahan keterampilan berbicara siswa yang ditemui pada program BIPA di Universitas Trisakti antara lain terdapat kekurangtepatan pada beberapa poin kebahasaan berikut, seperti: pelafalan saat merangkai kata menjadi kalimat; penggunaan kata dalam konteks kalimat; penggunaan kata sambung intrakalimat dan antarkalimat; pengujaran kalimat majemuk, serta pemahaman konteks ujaran kawan tutur. Hal tersebut memunculkan pertanyaan: (a) Bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara dalam bahasa Indonesia melalui media film dokumenter? (b) Apakah keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa BIPA tingkat madya dapat ditingkatkan melalui media film dokumenter? Keterampilan berbicara yang dimaksudkan adalah kegiatan yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan kawan bicara secara logis dan wajar dengan menggunakan pelafalan yang tepat, bertata bahasa yang benar, penggunaan kosakata yang tepat, kelancaran pengucapan yang baik, dan terdapat pemahaman antarkawan bicara. Sementara itu, penggunaan media film dokumenter yang dimaksud merupakan alat bantu pembelajaran efektif untuk menyampaikan materi yang berisikan pengenalan budaya dan realita sosial dengan tujuan untuk menjembatani proses komunikasi pada saat-saat tertentu, seperti terdapat kesenjangan antara bahasa dan budaya siswa asing. Dalam hal ini digunakan film dokumenter yang disesuaikan dengan topik BIPA pada tingkat madya. Film dokumenter yang digunakan diperoleh dari Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, sebuah komunitas film Indonesia yang di dalamnya terdapat kerja sama antara In-Docs dan The Ford Foundation.Bahasan dalam makalah ini memfokuskan pada penjelasan atas pertanyaan penelitian tersebut. Data yang digunakan dalam kajian ini berdasarkan hasil penelitian tindakan pada program BIPA, Kerjasama Negara Berkembang di Universitas Trisakti.
Penerapan Algoritma DBSCAN dan XGBoost untuk Menganalisis Keberhasilan Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Songsermsasana School, Hat Yai Rahma, Nadya; Maulana, Halim
Paedagogie Vol 21 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/paedagogie.v21i1.16185

Abstract

Traditional evaluation of Bahasa Indonesia for Foreign Speakers (BIPA) learning success relies on subjective teacher assessments lacking objectivity. This study aims to integrate DBSCAN and XGBoost algorithms to analyze learning patterns and dominant success factors in BIPA. Quantitative Educational Data Mining (EDM) exploratory approach applied to 200 students population at Songsermsasana School, Hat Yai, Thailand during 27-day KKN, using complete tabular data sample. Instruments include activity scores, class participation, attendance, exam/quiz scores, study time, and question frequency variables; analysis techniques involve preprocessing, DBSCAN clustering (ε=0.5, minPts=5), and XGBoost feature importance. Results reveal three clusters: Cluster 0 (high speaking/writing >80), Cluster 1 (stable receptive skills), Cluster 2 (low attendance), with speaking score (15.89%) and writing score (11.61%) dominant. Hybrid model outperforms K-Means in handling noise. Research provides objective data-driven evaluation for global BIPA teaching personalization.
Analisis Integrasi Teknologi Digital pada Buku Kemendikbud untuk Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia pada Pemelajar BIPA Dzakiroh, Azmilatudz; Asteria, Prima Vidya; Savitri, Agusniar Dian; Ahmadi, Anas
Paedagogie Vol 21 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/paedagogie.v21i1.16440

Abstract

This study aims to analyze the level of digital technology integration in Indonesian for Foreign Speakers (BIPA) textbooks published by the Ministry of Education and Culture (Kemendikbud) using the SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition) framework. A qualitative descriptive method was applied to seven levels of BIPA textbooks (Teaching materials 1 to teaching materials 7). Data were collected through document analysis of all units in each textbook, and analyzed by identifying and classifying technology-related activities into the four SAMR levels. Results indicate that the majority of BIPA textbooks remain at the Substitution level, with audio replacing conventional dialogue texts as the dominant pattern. Some books reach the Augmentation level through internet-based supplementary references, and the Modification level through access to electronic media and online applications. Only teaching materials 6 and teaching materials 7 achieved the Redefinition level, through the use of the MYOB accounting application and video recording tasks for digital platforms. This study concludes that technology integration in Kemendikbud's BIPA textbooks remains predominantly substitutive and needs to be elevated to a transformative level to support more authentic language competencies relevant to the digital era.
COMPENSATION STRATEGIES FOR VOCABULARY LIMITATIONS IN BIPA LEARNING: A CASE STUDY OF VIETNAMESE LEARNERS Nila Agustin Prianti; Muhammad Isnaini; Arif Setiawan; Nguyen Thi Thu Hang
Curricula: Journal of Teaching and Learning Vol. 10 No. 2 (2025): Curricula : Journal of Teaching and Learning
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the context of learning Indonesian as a foreign language, limited vocabulary often becomes one of the main obstacles that hinder learners from communicating effectively. To overcome this limitation, learners frequently employ various communication strategies that allow them to maintain interaction despite gaps in linguistic competence. Understanding how these strategies are used is essential for improving the effectiveness of Indonesian language teaching for foreign learners (BIPA). This study aims to identify and analyze the compensation strategies employed by BIPA learners in Vietnam when dealing with limitations in Indonesian vocabulary during classroom interactions. This research employed a qualitative descriptive approach. The study was conducted at Ho Chi Minh City Open University, Vietnam, involving Vietnamese students enrolled in an Indonesian language class. Data were collected through classroom observation, semi-structured interviews, and documentation of learners’ utterances during learning activities. A total of 20 instances of learner utterances and communicative behaviors indicating the use of compensation strategies were identified and analyzed. Data analysis followed the qualitative analysis model of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that BIPA learners employ several types of compensation strategies to maintain communication. These strategies include code-switching, lexical borrowing, lexical approximation, circumlocution, and gestural strategies. Among these strategies, lexical borrowing from English was found to be the most frequently used, indicating the role of English as a linguistic support in communication. Nonverbal strategies such as gestures were also commonly used to clarify meanings when learners lacked appropriate vocabulary. The study suggests that compensation strategies play an important role in sustaining communication and supporting the development of learners’ communicative competence. Therefore, BIPA instruction should adopt communicative and contextual approaches that allow learners to utilize such strategies while gradually expanding their vocabulary repertoire.
Profil kebutuhan media modifikasi wayang beber dalam pembelajaran berbicara dan pemahaman lintas budaya pemelajar BIPA Tiongkok Soyu, Salwa Yumna; Rizkyanfi, Mochamad Whilky; Widia, Ida
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v9i1.1837

Abstract

This study aims to describe the need for modified wayang beber teaching media in speaking and cross-cultural comprehension learning for beginner-level BIPA learners from China based on the perspectives of learners and teachers. The study uses a qualitative descriptive approach involving eight beginner-level learners from Xi'an International Studies University, China, and three teachers from Indonesia University of Education. Data collection was carried out through literature study, interviews, observation, and questionnaires. Data were analyzed using qualitative descriptive techniques by condensing, presenting data, and drawing conclusions. The study found four dimensions of needs: learners' needs regarding the characteristics of wayang beber media, the needs of wayang beber media in facilitating speaking skills, the needs of wayang beber media in cross-cultural understanding, and teachers' needs regarding the use of wayang beber and folk tales. Data triangulation from both perspectives produced a comprehensive profile of needs, including: presenting the story of Malin Kundang with clear and complex visual designs; integrating speaking and cross-cultural understanding learning through structured discussions on cultural values, comparisons between Indonesian and Chinese cultures, and reflective questions to develop learners' empathy; and comprehensive implementation covering print and digital media, guidelines for teachers and learners, assessment tools aligned with competency standards, and multimedia support materials.

Page 115 of 118 | Total Record : 1176