cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC" : 10 Documents clear
Fraktur geriatrik Kepel, Felicia R.; Lengkong, Andreissanto C.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.30179

Abstract

Abstract: Elderly have higher risk for fractures due to aging process which causes decreased bone density and quality. Inferior trunk fractures are the most common fractures in the elderly group, namely fractures of the hip, pelvis, lower vertebrae, and ankle. Geriatric fractures can be caused by high and low impact mechanisms. Low impact fractures most often occur due to osteoporosis associated with a mechanism of fall. Changes in musculoskeletal system are decreased muscle mass as well as bone density and quality that lead to osteoporosis. The diagnosis of fracture is based on history, physical examination, and supporting investigations. Treatment of geriatric fractures needs to be carried out by a team of doctors consisting of orthopedic doctors and geriatric doctors. Good communication and appropriate therapy plans need to be prepared thoroughly to achieve proper treatment in handling geriatric patients, therefore, the quality of life can be improved and disabilities can be prevented.Keywords: geriatric fracture Abstrak: Kelompok lanjut usia (lansia) memiliki risiko tinggi untuk terjadinya fraktur akibat proses penuaan yang menyebabkan penurunan kepadatan dan kualitas tulang. Fraktur trunkus inferior merupakan fraktur paling umum pada kelompok lansia yaitu fraktur pinggul, panggul, vertebra bagian bawah, dan pergelangan kaki. Fraktur geriatrik dapat disebabkan oleh mekanisme high impact maupun low impact. Fraktur low impact paling sering terjadi disebabkan oleh karena keadaan osteoporosis disertai dengan mekanisme jatuh. Perubahan yang dapat terjadi pada muskuloskeletal yaitu penurunan massa otot serta penurunan kepadatan dan kualitas tulang yang menyebabkan terjadinya osteoporosis. Diagnosis fraktur ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Penanganan fraktur pada lansia perlu dilakukan oleh tim dokter yang terdiri dari dokter ortopedik dan dokter geriatrik. Komunikasi yang baik dan rencana terapi yang tepat perlu dipersiapkan agar pasien lansia dapat ditangani dengan baik sehingga dapat memperbaiki quality of life dan mencegah disabilitas.Kata kunci: fraktur geriatrik
Gambaran Kasus Kejahatan Kekerasan Seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2017-Desember 2019 Latjengke, Aditya P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30181

Abstract

Abstract: Rape or sexual violence is very prominent in this globalization era. This sudy was aimed to obtained the profile of sexual violence crimes in Forensic Department of RS Bhayangkara Tingkat III in the period of January 2017 to December 2019. This was a retrospective and descriptive study using visum et repertum. Data were presented in tables of frequency distribution. There were 305 cases of sexual violence crimes in this study; 152 cases were 12-16 years (teenagers). Most victims were females (304 cases); had occupation/education as students (184 cases); and lived in Manado (169 cases). Perpetrators of sexual violence crimes were friends of the victims (108 cases). In conclusion, the majority of sexual violence victims were 12-16 years old (teenagers), females, had occupation/education as students, and lived in Manado. Most perpetrators were friends of the victims.Keywords: sexual violence crimes, victims, perpetrators Abstrak: Fenomena kejahatan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada era globalisasi saat ini sangat menonjol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kasus kejahatan kekerasan seksual di Bagian Forensik RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2017-Desember 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan hasil visum dan dilaporkan menurut distribusi frekuensi. Hasil penelitian mendapatkan 305 kasus kejahatan kekerasan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual berusia 12-16 tahun (masa remaja awal) yaitu 152 kasus. Jenis kelamin korban yang terbanyak ialah perempuan yaitu 304 kasus. Pekerjaan/pendidikan korban ialah pelajar sebanyak 184 kasus. Alamat korban terbanyak berada di Kota Manado yaitu 169 kasus. Pelaku kejahatan kekerasan seksual yang terbanyak ialah teman korban yaitu 108 kasus. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas korban kasus kekerasan seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado berusia 12-16 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan/pendidikan sebagai pelajar dengan alamat di Kota Manado. Pelaku kekerasan seksual terbanyak ialah teman korban.Kata kunci: kejahatan kekerasan seksual, korban, pelaku
Perbedaan Rerata Feritin Serum antara Pria Obesitas Sentral dengan Non Obesitas Sentral Wowor, Ribka
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.29627

Abstract

Abstract: Inflammation process that occurs in obese people plays a crucial role for cardiovascular events in the future. Animal studies found an association between macrophage and ferritin as a proinflammatory marker. This study was aimed to determine the difference in serum ferritin level between central obese and non central obese individuals. This was a cross sectional study using consecutive sampling mnethod. Subjects were residents of Medical Faculty, Sam Ratulangi University, consisted of 41 young males divided into two groups: 25 subjects with central obesity and 16 subjects without central obesity. Blood pressure, peripheral blood, serum ferritin, creatinine, and fasting blood sugar tests were performed on all subjects. The results showed that of 25 subjects with central obesity, there were 15 subjects with hyperferritinemia, meanwhile only 3 subjects with hyperferritinemia in non central obesity group. There was a significant difference of mean serum ferritin levels between central obesity and non central obesity groups (303.03±171.53 mcg/dL vs 128.24±66.79 mcg/dL; p=0.000). In conclusion, serum ferritin level in male subjects with central obesity was higher than those without central obesity.Keywords: serum ferritin, central obesity Abstrak: Inflamasi yang terjadi pada obesitas berperan penting terhadap kelainan metabolisme yang menjadi dasar terjadinya kelainan kardiovaskular. Pada hewan coba didapatkan adanya hubungan antara makrofag dengan feritin yang merupakan salah satu protein penanda inflamasi akut dan kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan rerata ferritin serum pada individu dengan dan tanpa obesitas sentral. Desain penelitian ialah potong lintang dengan menggunakan konsekutif sampling. Subyek penelitian ialah mahasiswa PPDS Sp1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado terdiri dari 41 pria usia dewasa muda berusia kurang dari 40 tahun yang dibagi atas dua kelompok: 25 subyek dengan obesitas sentral dan 16 subyek non obesitas sentral sebagai kontrol. Pemeriksaan tekanan darah, darah perifer lengkap, dan kadar feritin serum dilakukan pada semua subyek. Uji statistik menggunakan uji beda rerata antara kadar feritin pada kedua kelompok. Hasil penelitian mendapatkan pada kelompok obesitas sentral, 15 dari 25 subyek mengalami peningkatan kadar feritin serum, sedangkan pada kelompok non obesitas sentral hanya 3 dari 16 subyek yang mengalami peningkatan kadar feritin serum. Rerata feritin serum pada kelompok obesitas sentral ialah 303,03±171,53 mcg/dL; sedangkan pada kelompok non obesitas sentral ialah 128,24±66,79 mcg/dL (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan rerata feritin serum antara subyek dengan obesitas sentral dibandingkan subyek non obesitas sentral pada pria dewasa muda.Kata kunci: feritin serum, obesitas sentral, dewasa muda
Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) Laloan, Richardo J.; Lengkong, Andreissanto C.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30180

Abstract

Abstract: Congenital talipes equinovarus (CTEV) is a type of foot deformities characterized with hindfoot varus, adducted metatarsus, wide arched of the foot (cavus), and equinus. Its incidence is 1.2% per 1000 births annually. Around 80% of cases occur as idiopathic type and the remaining 20% is associated with other anomaly conditions. Genetic component is considered to play a role in the occurrence of CTEV. However, up to this day, there is no exact underlying etiology that defines the exact pathogenesis of CTEV. The evolving etiology nowadays is still multifactorial. Management of CTEV varies from non-surgical treatment to surgical treatment. A number of scoring and grading using qualitative and quantitative measurement are being used nowadays to assess the severity of CTEV because this deformity needs long-term follow-up due to its tendency to relapse.Keywords: congenital talipes equinovarus, clubfoot Abstrak: Congenital talipes equinovarus (CTEV), dikenal juga dengan true clubfoot, merupakan deformitas pada kaki yang ditandai oleh adanya bentuk varus kaki belakang, adduksi metatarsus, dan adanya bentuk lengkungan kaki yang lebar (cavus) serta equinus. CTEV merupakan salah satu dari deformitas kaki pada saat lahir dengan insidensi 1,2% per 1000 kelahiran hidup per tahunnya. Pada 80% kasus terjadi secara idiopatik dan 20% dikaitkan dengan kondisi-kondisi lain. Komponen genetik diduga berperan pada CTEV, namun, sampai saat ini, belum ada etiologi pasti yang menjelaskan patogenesis CTEV. Etiologi yang berkembang sampai saat ini bersifat multifaktorial. Tatalaksana pasien CTEV bervariasi mulai dari non-operatif maupun operatif. Sejumlah pengukuran kualitatif maupun kuantitatif telah dikembangkan untuk menilai keparahan CTEV berhubung kondisi deformitas ini membutuhkan follow-up jangka panjang karena mempunyai kecenderungan untuk relaps.Kata kunci: congenital talipes equinovarus, clubfoot
Hubungan antara Literasi Kesehatan dengan Kualitas Hidup pada Penyan-dang Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado Pongoh, Lucyana L.; Pandelaki, Karel; Wariki, Windy
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.31495

Abstract

Abstract: People with diabetes mellitus tend to increase especially in low and middle income countries. Health literacy is an important construct in diabetes care, improvement of quality of life (QoL), and decrease of complications. This study was aimed to analyze the relationship between health literacy and QoL among people with type 2 diabetes mellitus (T2DM) at Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Pancaran Kasih Hospital Manado. This was a descriptive and correlational analytical study with a cross sectional design. The population in this study were all T2DM patients who came for treatment at the Internal Medicine Polyclinic of the GMIM Pancaran Kasih Hospital in the period of November 2019 to February 2020. There were 132 patients as samples in this study. Data were carried out by using the HLS-EU-Q16 and QoL questionnaires, and were analyzed by using the Chi Square test with a significance level of p=0.05. The results showed that of health literacy variable, all respondents (100%) were easy in terms of literacy, meanwhile of QoL variable, 75.0% of respondents had good QoL. Moreover, the relationship between health literacy and QoL had a p value of 0.000. In conclusion, there was a significant relationship between health literacy and the QoL of people with T2DM at the GMIM Pancaran Kasih Hospital Manado.Keywords: literacy, quality of life, people with DM  Abstrak: Penyandang diabetes melitus (DM) di seluruh dunia cenderung meningkat terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Literasi kesehatan merupakan konstruksi penting dalam perawatan diabetes, peningkatan kualitas hidup, dan pengurangan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan dengan kualitas hidup penyandang diabetes melitus tipe 2 (DMT2) di RSU Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Pancaran Kasih Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik korelasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah seluruh pasien DMT2 yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSU GMIM Pancaran Kasih Manado pada periode bulan November 2019 sampai Februari 2020. Jumlah sampel penelitian ialah 132 pasien. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner HLS-EU-Q16 dan Quality of Life. Analisis data penelitian menggunakan uji Chi Square dengan tingkat signifikansi p=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk variabel literasi kesehatan, seluruh responden (100%) mudah dalam hal literasi dan untuk kualitas hidup, 75,0% responden memiliki kualitas hidup yang baik. Selain itu, hubungan literasi kesehatan dengan kualitas hidup mendapatkan p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara literasi kesehatan dengan kualitas hidup penyandang DMT2 di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado,Kata kunci: literasi, kualitas hidup, penyandang DM 
Dampak Coronavirus Disease 2019 terhadap Sistem Kardiovaskular Willim, Herick A.; Ketaren, Infan; Supit, Alice I.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30540

Abstract

Abstract: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) infection has become a pandemic. Patient with cardiovascular comorbidity has a higher risk of suffering more severe manifestation of COVID-19 associated with a higher mortality. Although dominated by respiratory clinical manifestation, COVID-19 may also cause severe cardiovascular disorders. Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) acts as a receptor of SARS-CoV-2. Patients of COVID-19 with cardiovascular comorbidities may experience more severe clinical manifestations, presumably due to higher ACE2 expression in this population. Cardiovascular complications in COVID-19 may include myocardial injury, myocarditis, acute myocardial infarction, acute heart failure, thromboembolism, and arrhythmias. Therefore, optimization of conservative medical therapy needs to be prioritized in patients with cardiovascular comorbidities. Emergency intervention can be considered in certain cases with hemodynamic instability.Keywords: cardiovascular system, COVID-19, SARS-CoV-2, ACE2 Abstrak: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah merupakan pandemi yang disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Pasien dengan komorbid kardiovaskular berisiko lebih tinggi untuk mengalami manifestasi yang lebih berat jika terinfeksi COVID-19 dan berhubungan dengan mortalitas yang lebih tinggi. Meskipun didominasi oleh manifestasi klinis respiratorik, COVID-19 juga dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular yang berat. Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) berperan sebagai reseptor SARS-CoV-2. Diduga pasien dengan penyakit kardiovaskular dapat bermanifestasi klinis lebih berat karena ekspresi ACE2 yang lebih tinggi pada populasi ini. Komplikasi kardiovaskular pada COVID-19 dapat meliputi jejas miokardium, miokarditis, infark miokard akut, gagal jantung akut, tromboemboli, dan aritmia. Pada pasien dengan komorbid kardiovaskular, optimalisasi terapi medis konservatif perlu diprioritaskan. Tindakan intervensi darurat dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu dengan instabilitas hemodinamik.Kata kunci: sistem kardiovaskular, COVID-19, SARS-CoV-2, ACE2
Adenokarsinoma Kolon: Laporan Kasus Padang, Mersy S.; Rotty, Luciana
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30539

Abstract

Abstract: Colorectal cancer (CRC) is a malignancy originated from the colon tissue which starts in the large intestine and rectum. In 2018, colorectal cancer was ranked fourth of the total malignancy in Indonesia with the number of cases of 30,017 (8.6% of the total cancer cases in Indonesia). We reported a case of colon cancer (adenocarcinoma) in a female aged 34 years. Diagnosis was based on anamnesis of the presence of liquid bowel movements along with blood, intermittent abdominal pain, and change of defecation pattern. Physical examination obtained tenderness in epigastric and hypochondriac right button regions. Colonoscopy was performed and revealed a colonic tumor suspicious of adenocarcinoma, suspected chronic colitis, and internal hemorrhoid. Pathological examination of the tumor tissue resulted in colonic adenocarcinoma (moderate differentiation). The management of this patient was extensive resection with anastomosis and was planned for adjuvant therapy.Keywords: adenocarcinoma colon cancer, colorectal cancer Abstrak: Kanker kolorektal (KKR) adalah keganasan yang berasal dari jaringan usus besar, yang menyerang usus besar dan rektum. Di Indonesia pada tahun 2018, kanker kolorektal menduduki posisi keempat dari keseluruhan diagnosis kanker dengan jumlah kasus 30.017 (8,6% dari seluruh kasus kanker di Indonesia). Kami melaporkan sebuah kasus kanker kolon (adenokarsinoma) pada seorang perempuan usia 34 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis adanya buang air besar cair diserta darah, nyeri perut hilang timbul, perubahan pola defekasi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan epigastrium dan nyeri tekan bagian hipocondria kanan. Pada pemeriksaan penunjang dilakukan kolonoskopi dan didapatkan hasil tumor kolon curiga adenocarcinoma, kolitis kronik curiga kolitis ulseratif, dan hemoroid interna. Hasil patologi anatomi dari kolonoskopi yaitu kolitis kronis dengan displasia kolon ascenden dan hasil patologi anatomi jaringan tumor berupa adenokarsinoma kolon (diferensiasi sedang). Tatalaksana yang diberikan untuk pada pasien ini berupa tindakan reseksi luas dengan anastomosis dan direncanakan untuk terapi adjuvan.Kata kunci: adenokarsinoma kolon, kanker kolorektal
Central Serous Chorioretinopathy Induced by Work Stress: A Case Report Nursalim, Ade J.; Sumual, Vera
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.31107

Abstract

Abstrak: Central serous chorioretinopathy (CSC) adalah terkumpulnya cairan serosa di bawah lapisan epitel pigmen retina yang mengakibatkan terlepasnya retina neurosensorik (detachment). Keadaan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko, termasuk stres psikologik. Jenis kelamin laki-laki merupakan salah satu faktor risiko CSC. Terapi kondisi psikologik merupakan pena-nganan utama CSC yang diinduksi oleh stres kerja. Kami melaporkan seorang laki-laki berusia 27 tahun yang datang ke Poliklinik Mata RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital dengan keluhan kekaburan mata kanan yang mendadak sejak seminggu lalu tanpa didahului oleh nyeri pada mata. Pasien juga mengalami kesulitan dalam membaca teks dan mengenali wajah bila hanya menggunakan mata kanannya. Pasien telah pergi ke optik tetapi tidak mendapatkan ukuran kacamata yang sesuai. Pasien bekerja sebagai tenaga administrasi dan akhir-akhir ini mendapatkan beban kerja berlebihan. Pasien mengakui bahwa ia mengalami kesulitan dalam mengatur aktivitasnya, dan merasakan kelelahan sepanjang hari serta kehilangan minat kerja. Hasil pemeriksaan mata mendapatkan visus 6/15 untuk mata kanan dan visus 6/6 untuk mata kiri, dan metamorphopsia sedangkan hasil pemeriksaan oftalmoskopi memperlihatkan adanya edema dengan lingkaran kekuningan dan berbatas tidak jelas pada mata kanan. Pemeriksaan lanjut dengan OCT menunjukkan adanya cairan subretinal pada mata kanan disertai terlepasnya lapisan epitel pigmen. Saat kontrol setelah 36 hari, visus mata kanan telah membaik 6/6F2 dan peme-riksaan OCT menunjukkan penurunan tebal makula dari 289 μm pada kunjugan pertama men-jadi 190 μm, serta tidak tampak adanya cairan subretinal. Simpulan kasus ini ialah central serous chorioretinopathy yang diinduksi oleh stres kerja, dengan penanganan utama ialah terapi psikologik untuk memperbaiki kualitas hidup.Kata kunci: central serous chorioretinopathy (CSC), stres kerja Abstract: Central serous chorioretinopathy (CSC) is a condition where serous fluid builds up in the retinal pigment epithelium layer which causes neurosensory retinal detachment. This condition is affected by many risk factors, including psychological stress. Male gender is one of the risk factors for CSC. Treatment to the patient's psychological condition can be the main therapy in handling CSC induced by work stress. We reported a 27-year-old male came to the eye clinic at Prof. dr. R. D. Kandou Hospital complaining of sudden blurred vision in his right eye a week ago without initial pain in the eye. The patient also experienced difficulty in reading text and recognizing people’s face using the right eye. The patient went to an optic store but he did not find suitable glasses. The patient works as an administrative employee and is currently getting a heavy workload at his workplace. The patient admitted that he had issues in managing his life in a day. Patients felt tired throughout the day and had no interest in making any activities. The results of the eye examination showed vision 6/15 in the right eye and 6/6 in the left eye, metamorphopsia, edema with a yellowish circle with an unclear border on the right eye using ophthalmoscopy examination, and a subretinal fluid image in the patient's right eye with epithelial detachment pigment acquired through the examination with OCT. After 36 days from the first visit, the right eye vision was improved to 6/6 F2 and OCT examination resulted in a decrease in macula thickness from 289 μm at the first visit to 190 μm, and there was no subretinal fluid. In conclusion, this was a CSC case induced by work stress, and the main treatment was psychological therapy in order to improve the quality of life (QoL).Keywords: central serous chorioretinopathy (CSC), work stress
Profil Penderita Morbus Hansen (MH) di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari – Desember 2013 Desrina, Andiswati; Kapantow, Grace M.; Kandou, Renate T.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30132

Abstract

Abstract: Morbus Hansen (MH) is still a public, social, and rehabilitation problems due to the physical disability resulted from delayed or inadequate treatment. This study was aimed to obtain the profile of MH patients at the Dermatovenerology clinic, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January to December 2013. This was a descriptive and retrospective study. The results showed that there were 98 MH patients consisting of 69 males (70.4%) and 29 females (29,6%). The majority of patients were 25-44 years old (47.0%) with multibacillary type (93.9%). Most patients did not show lepra reaction (67.3%); erythema nodosum leprosum (ENL) reaction was found in 29.6% of patients, and reversal reaction in 3.1% of patients. As many of 29.6% had been treated with multidrug therapy (MDT), and 10.2% did not, meanwhile, 60,2% of patients did not have any data of treatment. In conclusion, the majority of MH patients at the Dermatovenerology clinic, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January to December 2013 were males, aged 25-44 years, had multibacillary type with ENL reaction, and had been treated with MDT.Keywords: Morbus Hansen profile Abstrak: Morbus Hansen (MH) masih merupakan masalah kesehatan, sosial, dan rehabilitasi oleh karena kecacatan fisik yang terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau tidak memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita MH di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. R. D Kandou Manado periode Januari-Desember 2013. Jenis penelitian ialah deskrip-tif retrospektif. Hasil penelitian mendapatkan 98 penderita MH (6,72%) dari total 1457 pasien, terdiri dari 69 laki-laki (70,4%) dan 29 perempuan (29,6%). Mayoritas penderita berada pada rentang usia 25-44 tahun (47,0%) dengan tipe MH multibasiler (93,9%). Pada sebagian besar pen-derita tidak didapatkan reaksi lepra (67,3%); reaksi erythema nodosum leprosum (ENL) didapatkan pada 29,6% penderita dan reaksi reversal pada 3,1% penderita. Mengenai riwayat pengobatan, sebesar 29,6% telah mendapat pengobatan multidrug therapy (MDT) sebelumnya dan 10,2% belum pernah mendapatkan pengobatan MDT, namun sebesar 60,2% penderita tidak memiliki data pengobatan. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas penderita MH di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. R. D Kandou Manado periode Januari-Desember 2013 berjenis kelamin laki-laki, usia 25-44 tahun, tipe MH multibasiler, dengan reaksi ENL, dan pernah mendapat pengobatan MDT.Kata kunci: profil Morbus Hansen
Hubungan Pola Konsumsi Minuman Berkafein dengan Fungsi Kognitif pada Lansia di GKJ Gondokusuman Yogyakarta Putra, Dewa K.; Samodra, Yoseph L.; Nugroho, Daniel C. A.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.31432

Abstract

Abstract: Elderly population which continues to increase in number every year causes various social, economic, and health problems inter alia cognitive dysfunction. One of the efforts that can prevent and slow down the decline in cognitive function is consuming caffeinated beverages. This study was aimed to evaluate the relationship between the pattern of caffeinated beverage consumption and cognitive function among the elderly at GKJ Gondokusuman in Yogyakarta. This was an analytical observational study with a cross-sectional design. We used the modified Food Frequency Questionnaire (FFQ) to measure the consumption patterns of caffeinated beverage meanwhile the cognitive function was measured by using the Mini Mental State Examination (MMSE) and the Clock Drawing Test (CDT). Sample size was determined by using the total sampling method. There were 54 samples of elderly population. Data were analyzed by using the Spearman correlation test which obtained (p=0.023; r=-0.309) for the relationship between caffeinated beverage consumption pattern and cognitive function measured with the MMSE, and (p=0.075; r=0.244) for the relationship between caffeinated beverage consumption pattern and cognitive function measured with the the CDT. In conclusion, there was a significant relationship between caffeinated beverage consumption pattern and cognitive function measured with the MMSE, however, there was no significant relationship between caffeinated beverage consumption pattern and cognitive function measured with the the CDT.Keywords: caffeinated beverage consumption patterns, cognitive function, elderlyAbstrak: Populasi lanjut usia (lansia) yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya menimbulkan berbagai masalah sosial, ekonomi, dan kesehatan, antara lain gangguan fungsi kognitif. Salah satu upaya untuk mencegah dan memperlambat penurunan fungsi kognitif ialah dengan minuman yang mengandung kafein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan pola konsumsi minuman berkafein dengan fungsi kognitif lansia di GKJ Gondo-kusuman. Jenis penellitian ialah observasional analitik dan desain potong lintang. Pola konsumsi minuman berkafein diukur dengan Food Frequency Questionnaire (FFQ) yang telah dimodifikasi, sedangkan fungsi kognitif diukur dengan Mini Mental (MMSE) dan Clock Drawing Test (CDT). Penghitungan besar sampel dengan metode total sampling mendapatkan 54 sampel dari populasi, yaitu lansia di GKJ Gondokusuman. Hasil analisis data menggunakan uji Spearman terhadap hubungan antara pola konsumsi minuman berkafein dengan fungsi kognitif yang diukur dengan MMSE mendapatkan (p=0,023; r=-0,309) sedangkan dengan fungsi kognitif yang diukur dengan kuisioner CDT mendapatkan (p=0,075; r 0,244). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara pola konsumsi minuman berkafein dengan fungsi kognitif lansia yang dinilai menggunakan MMSE, namun tidak terdapat hubungan bermakna dengan fungsi kognitif lansia yang dinilai menggunakan CDT.Kata kunci: pola konsumsi minuman berkafein, fungsi kognitif, lansia

Page 1 of 1 | Total Record : 10