cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
POLA HERNIA INGUINALIS LATERALIS DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE AGUSTUS 2012 – JULI 2014 Rawis, Claudia G.; Limpeleh, Hilman P.; Wowiling, Paul A. V.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8603

Abstract

Abstract: Lateral inguinal hernia is a protrusion of the abdominal wall that occurs in the inguinal region adjacent to the lateral inferior epigastric vessels. This hernia can occur due to congenital or acquired causes. Approximately 80-90% of laateral inguinal hernia was found in men and 10% in women. This study aimed to determine the pattern of lateral inguinal hernia in Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period August 2012 - July 2014. This was a retrospective descriptive study using secondary data of lateral inguinal hernia patients in the Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado. The results showed that there were 146 lateral inguinal hernia patients in Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado during the period August 2012 - July 2014. The most common age group was elderly (27.4%). Male sex was the majority of the lateral inguinal hernia patients (99.3%). Patients with the layout of the lateral inguinal hernia on the right were the most cases (60.3%). The type according to the progress of the hernia was reponible (74.0%). The most frequent management of the lateral inguinal hernia patients was herniotomy with the use of mesh (73.3%).Keywords: hernia, pattern of lateral inguinal herniaAbstrak: Hernia inguinalis lateralis adalah suatu penonjolan dinding perut yang terjadi di daerah inguinal sebelah lateral pembuluh epigastrika inferior. Penyebab hernia inguinalis lateralis yaitu kongenital atau karena sebab yang didapat. Sekitar 80-90% ditemukan pada laki-laki dan 10% pada perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola hernia inguinalis lateralis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus 2012 – Juli 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder pasien hernia inguinalis lateralis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan 146 pasien hernia inguinalis lateralis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode waktu tersebut. Kelompok umur tersering ialah manula atau >65 tahun (27,4%). Jenis kelamin laki-laki merupakan mayoritas (99,3%). Pasien hernia inguinalis lateralis dengan letak di sebelah kanan merupakan kasus terbanyak (60,3%). Jenis menurut perlangsungan hernia yang tersering ialah hernia inguinalis lateralis reponibel (74,0%). Penanganan hernia inguinalis lateralis yang paling sering dilakukan ialah herniotomi disertai penggunaan mesh (73,3%).Kata kunci: hernia, pola hernia inguinalis lateralis
Profil dermatitis atopik pada anak di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013 – Desember 2015 Keles, Flinka F.; Pandaleke, Herry E.J.; Mawu, Ferra O.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14456

Abstract

Abstrack: Atopic dermatitis (AD) is a chronic skin inflammation that mostly occurs in infants and children withh a prevalence of 10-20%. Management of AD needs a systematic approach because AD has complex trigger factors. This study was aimed to obtain AD profile in children at Dermatology and Venereal Polyclinic Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 2013 to December 2015. This was a descriptive retrospective study evaluating the medical record of AD among children patients. New cases were grouped in number of cases, age, sex, trigger factor, therapy, and complication. The results showed 117 (15.27%) new AD cases from 766 new cases of skin diseases in children, consisted of 53 (45.3%) males and 64 (54.7%) females with a ratio of 1:1.2. The majority of cases were aged 2-12 years in 72 cases (61.54%); genetic history as the trigger factor in 44 cases (37.61%); combination therapy in 77 cases (65.81%); and associated complication in 42 cases (35.9%).Keywords: atopic dermatitis, profile Abstrak: Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis yang paling sering terjadi pada awal masa infant dan masa kanak-kanak dengan prevalensi berkisar 10-20%. Penatalaksanan DA memerlukan pendekatan sistematik karena faktor pencetus DA bersifat kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil DA pada anak di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013– Desember 2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan mengevaluasi catatan rekam medik pasien DA pada anak. Kasus baru dikelompokkan menurut jumlah kasus, usia, jenis kelamin, faktor pencetus, pengobatan, dan komplikasi. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 117 kasus baru DA pada anak (15,27%) dari 766 kasus baru penyakit kulit pada anak selama periode penelitan, terdiri dari 53 anak laki-laki (45,3%) dan 64 anak perempuan (54,7%) dengan rasio 1:1,2. Mayoritas kasus ialah kelompok usia 2-12 tahun (fase anak) pada 72 kasus (61,54%); faktor pencetus riwayat genetik pada 44 kasus (37,61%); pengobatan terapi kombinasi pada 77 kasus (65,81%); dan adanya komplikasi pada 42 kasus (35,9%). Kata kunci: dermatitis atopik, profil
PROFIL HERPES ZOSTER DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 HR, Sahriani
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3671

Abstract

Abstract: Background – Herpes  zoster that is also called with shingles, dampa, or cacar ular is a disease caused by the infection of varicella zoster virus (VZV) and affects the skin and mucosa. This infection is a virus reactivation after primer infection characterized with unilateral radicular pain and vesicular lesion that manifests on  the skin and its innervation. Objctive – The aim of this research is to find out the profile of outpatient diagnosed with  herpes zoster in Dermatovenereology Department RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado from January to December 2012. Methods – It is a retrospective study that describe several factors related to the subjects, using medical records data from January to December 2012. There were 22 patients evaluated. Result – 2% of 1096 new patients in the period of January to December 2012 were diagnosed as herpes zoster. 73% were 45 – 64 years old, with 54,5% men and 45,4% women, oftalmicus nerve involved counted to 32%, the most common therapy were the combination of Antivirus + Analgesic + Neurovitamin (36,3%). Conclusion – Increasing of the age could be the factor to reactivate the viral infection. The incidence were not affected by sex. Antivirus remain the drug of choice to treat herpes zoster.Key words : herpes zoster – reactivation – virus   Abstrak: Latar Belakang – Herpes zoster atau disebut juga dengan shingles, dampa, cacar ular adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela – zoster (VVZ) yang menyerang kulit dan mukosa. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer yang ditandai dengan adanya nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi. Tujuan Penelitian – Mengetahui profil herpes zoster di poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2012. Metode – Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif, yaitu mendeskripsikan beberapa faktor yang berhubungan dengan subjek penelitian yang ada. Data penelitian diambil dari rekam medik periode Januari – Desember 2012. Jumlah sampel penelitian sebanyak 22 orang. Hasil Penelitian – Terdapat 2% penderita herpes zoter dari 1096 pasien periode Januari – Desember 2012. Pada umur 45 – 64 tahun terdapat 73% penderita, laki – laki 54,5% dan perempuan 45,5%, lokasi yang sering terkena adalah oftalmikus 32%, serta kombinasi terapi yang sering digunakan adalah Antivirus + Analgesik + Neuronvitamin 36,3%. Kesimpulan – Peningkatan usia dapat memicu reaktivasi virus. Kejadian herpes zoster tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Obat yang sering digunakan adalah antivirus.Kata kunci : herpes zoster – reaktivasi – virus
Perbandingan Perubahan Kadar Gula Darah Sebelum Pembedahan, 30 Menit dan 60 Menit Saat Pembedahan dengan Anestesi Umum dan Anestesi Spinal Yaqin, Muh A.N; Tambajong, Harold F.; Kambey, Barry I.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18539

Abstract

Abstract: Anesthesia and surgery could cause stress response within the body that affects blood glucose level. This study was aimed to compare blood glucose levels at 30 minutes and 60 minutes during surgery using general anesthesia and spinal anesthesia. This as an observational prospective analytical stdy with a cross-sectional design performed on 12 patients gathered through consecutive sampling that fulfilled inclusion and exclusion criteria. The patients were divided into 2 groups: those undergoing surgery with general anesthesia and those with spinal anesthesia. Measurement of blood glucose level was done 3 times, 2 hours before premedication induction, 30 minutes and 60 minutes during surgery. Data were analyzed statistically by using the Shapiro-Wilk test, the T-independent test, and the Mann Whitney. The results showed that there was no significant difference between blood glucose level at 30 minutes during surgery using general anesthesia and spinal anesthesia (P = 0.23), however, there was a significant difference between blood glucose level at 60 minutes during surgery using general anesthesia and spinal anesthesia (P=0.03). Mean blood glucose level at30 minutes during surgery with general anesthesia was 103 mg/dl and at 60 minutes during surgery was 116.7 mg/dl, while mean blood glucose level at 30 minutes during surgery using spinal anesthesia was 93.50 mg/dl and at 60 minutes during surgery was 94.50 mg/dl. Conclusion: There was a significant difference in blood glucose level between general anesthesia and spinal anesthesia at 60 minutes during surgery.Keywords: stress response, blood glucose level, general anesthesia, spinal anesthesia Abstrak: Anestesi dan pembedahan dapat menyebabkan terjadinya suatu respon stres pada tubuh yang memengaruhi kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar gula darah 30 menit dan 60 menit saat pembedahan dengan anestesi umum dan anestesi spinal. Jenis penelitian ialah observasional analitik prospektif dengan desin potong lintang. Penelitian dilakukan terhadap 12 pasien yang didapatkan secara consecutive sampling dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, lalu dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum dan kelompok yang menjalani menjalani pembedahan dengan anestesi spinal. Pengukuran kadar gula darah dilakukan 3 kali, yaitu 2 jam sebelum induksi premedikasi, serta 30 menit dan 60 menit saat pembedahan. Analisis statistik dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk, uji T-Independen,, dan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar gula darah 30 menit saat pembedahan dengan anestesi umum dan anestesi spinal (P=0,23) sedangkan pada 60 menit saat pembedahan menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kadar gula darah 60 menit saat pembedahan dengan anestesi umum dan anestesi spinal (P=0,03). Rerata kadar gula darah 30 menit saat pembedahan dengan anestesi umum yaitu 103 mg/dl dan 60 menit saat pembedahan yaitu 116,7 mg/dl, sedangkan rerata kadar gula darah 30 menit saat pembedahan dengan anestesi spinal yaitu 93,50 mg/dl dan 60 menit saat pembedahan yaitu 94,50 mg/dl. Simpulan: Perubahan kadar gula darah yang bermakna antara anestesi umum dan anestesi spinal terjadi pada 60 menit saat pembedahan.Kata kunci: respon stres, kadar gula darah, anestesi umum, anestesi spinal
GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA STROKE HEMORAGIK DI BAGIAN RADIOLOGI FK. UNSRAT/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Parinding, Novita T. A.; Ali, Ramli Haji; Tubagus, Vonny N.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6746

Abstract

Abstract: Hemorrhagic stroke is a spontaneous blood vessel bursts inside the brain. The main cause is chronic hypertension and the presence of degeneration of cerebral blood vessels. Bleeding can occur in the brain and the subarachnoid space due to rupture of an artery or rupture of the aneurysm. At a stroke, a CT scan is the gold standard examination to distinguish infarction with bleeding, because CT scan can give a very clear picture of the head of the intracranial space persisted as cerebral infarction, intracranial hemorrhage, and hemorrhagic stroke. So it can be helpful to diagnose the disease and neurological disorders. The purpose of this study is to cognize the distribution of hemorrhagic stroke patients who performed a head CT scan at The Department of Radiology of FK UNSRAT / SMF Radiology of BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This is a retrospective descriptive study by using secondary data coming from hemorragic stroke patients medical records in the Department of Radiology of BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado on the period time from May to October 2014. Patients admitted inclusion criteria age between 30-80 years old, proven hemorrhagic stroke based on history, physical examination and investigations of doctors. The results showed that the total number of head CT Scans are 296 patients and more showed abnormal picture (58.1%) compared with the normal picture (41.9%), there are 64 patients with abnormal CT Scan picture results of hemorrhagic stroke (37.2% ), patients with hemorrhagic stroke are more common in males (65.6%), most in the age group of the early elderly betweeb 46-55 years old (40.6%) with most bleeding type of intracerebral hemorrhage (87.5%). Conclusion: Patient that comes with hemorrhagic stroke case or recurrent stroke should undertake a CT Scan of head to assist diagnose and later on can identify the type of bleeding caused by the stroke.Keywords: head CT scan, haemorrhagic strokeAbstrak: Stroke hemoragik adalah perdarahan spontan di dalam otak. Penyebab utamanya adalah hipertensi kronik dan adanya degenerasi pembuluh darah cerebral. Perdarahan dapat terjadi di dalam otak dan ruang subaraknoid karena ruptur dari arteri atau ruptur dari aneurisma. Pada penyakit stroke, CT Scan merupakan pemeriksaan baku emas untuk membedakan infark dengan perdarahan, karena CT Scan dapat memberikan gambaran kepala yang sangat jelas tentang proses desak ruang intrakranial seperti infark otak, perdarahan intrakranial, dan stroke hemoragik. Sehingga dapat membantu penegakan diagnosis penyakit dan kelainan neurologik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi penderita stroke hemoragik yang dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala di Bagian Radiologi FK UNSRAT/SMF Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa rekam medik pasien stroke hemoragik di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Mei-Oktober 2014. Pasien yang masuk kriteria inklusi yaitu usia 30-80 tahun, terbukti stroke hemoragik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang oleh dokter. Hasil pemeriksaan CT Scan kepala berjumlah 296 pasien dan lebih banyak menunjukkan gambaran abnormal (58,1%) dibandingkan gambaran normal (41,9%), pada gambaran abnormal terdapat 64 penderita dengan hasil CT Scan gambaran stroke hemoragik (37,2%), penderita stroke hemoragik lebih banyak terjadi pada laki-laki (65,6%), paling banyak pada kelompok umur lansia awal 46-55 tahun (40,6%) dengan tipe perdarahan paling banyak yaitu perdarahan intraserebral (87,5%). Simpulan : Penderita yang datang dengan keluhan stroke hemoragik atau stroke berulang sebaiknya melakukan pemeriksaan CT Scan kepala untuk membantu diagnosis dan dapat diketahui tipe perdarahan dari stroke tersebut.Kata kunci : CT scan kepala, stroke hemoragik
PROFIL KANDIDIASIS VULVOVAGINALIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI - DESEMBER 2012 Syamsudin, Aljufri; Kapantow, Marlyn G.; Kandou, Renate T.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.10155

Abstract

Abstract: Candidiasis vulvovaginalis (candida vulvovaginitis) is an infection of the vagina or vulva by Candida genus, with a variety of clinical manifestations that can occur acutely, chronically, or episodically. This study aimed to determine the profile of candidiasis vuvovaginalis in the Dermatology clinic Prof. Dr. R. D. Kandou Manado during the period of January to December 2012. This was a retrospective study using the medical records of new patients with a diagnosis of candidiasis vulvovaginalis. The results showed that there were 30 patients (2.73%) with candidiasis vulvovaginalis among 1096 new patients. It was more commonly found in women with the largest age group 25-44 years, residence in Manado, and as housewives, The most frequent therapy was systemic antifungals and antihistamine. The occurence of this disease was associated with other diseases such as bacterial vaginosis.Keywords: vulvovaginaliscandidosis, candida albicansAbstrak: Kandidiasis vulvovaginalis (kandidosis vulvovaginalis, kandida vulvovaginitis) adalah infeksi vagina dan atau vulva oleh Genus Candida, dengan berbagai manifestasi klinisnya yang bisa berlangsung akut, kronis atau episodik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kandidiasis vuvovaginalis di poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2012. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dari rekam medik pasien baru dengan diagnosis kandidiasis vulvovaginalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 30 pasien (2,73%) kandidiasis vulvovaginalis dari 1.096 pasien baru, lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan kelompok umur 25-44 tahun, didapatkan bahwa wilayah tempat tinggal terbanyak adalah Kota Manado, menurut pekerjaan paling banyak terjadi pada IRT (Ibu rumah tangga), terapi yang banyak digunakan adalah Antijamur sistemik+antihistamin, dan kombinasi kandidiasis vulvovaginalis dengan penyakit lain terbanyak yaitu kandidiasis vulvovaginalis + bakterial vaginosis.Kata kunci: kandidiasis vulvovaginalis, candida albican, penelitian retrospektif
PROFIL PASIEN CEDERA KEPALA SEDANG DAN BERAT YANG DIRAWAT DI ICU DAN HCU Rawis, Maria L.; Lalenoh, Diana Ch.; Kumaat, Lucky T.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14481

Abstract

Abstract: Traumatic brain injuries are still the leading cause of death and disability, and require care on Intensive Care Unit (ICU). A traumatic brain injury caused by mechanical mass from outside the body, leads to impaired cognitive and psychosocial function that can occur temporarily or permanently, and can cause loss of consciousness. This study aims to determine the profile of the patients with moderate and severe traumatic brain injuries treated in ICU and HCU, using retrospective descriptive study conducted in September to November 2016 in the Medical Record department of Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado. The sample size was determined by non-probability sampling method, a purposive sampling. Samples are ICU and HCU patients with the diagnosis of moderate to severe traumatic brain injury, who meet the inclusion criteria in the medical record of the data period September 2015 to August 2016. From the obtained sample of 40 patients, males dominate the gender category with 33 cases (83%). SIRS complications found in 23 cases (57.5%). Most patients are treated within 1?7 days, which also become the most patients who died within their length of stay. Patients who dies account for a total of 25 patients (62.5%) and most died after > 48 hours (72%) of treatment; out of the 25 deceased patients, 18 among them (45%) died from severe traumatic brain injury. Conclusion: The mortality rate is highest on severe head injury; most patients died after > 48 hours in the ICU and the HCU.Keywords: moderate traumatic brain injury, severe traumatic brain injury Abstrak: Cedera kepala masih merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, dan memerlukan perawatan Intensive Care Unit (ICU). Cedera kepala disebabkan oleh massa mekanik dari luar tubuh yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif dan psikososial, dapat terjadi sementara atau permanen, dan dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien cedera kepala sedang dan berat yang dirawat pada ICU dan HCU, menggunakan metode penelitian deskriptif retrospektif yang dilakukan pada September sampai dengan November 2016 di Instalasi Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado. Besar sampel ditentukan dengan metode non probability sampling yaitu purposive sampling. Sampel penelitian adalah pasien ICU dan HCU dengan diagnosa cedera kepala sedang dan berat yang memenuhi kriteria inklusi pada data Rekam Medik periode September 2015 sampai dengan Agustus 2016. Hasil penelitian didapatkan jumlah sampel 40 pasien, dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki 33 orang (83%). Komplikasi SIRS ditemui pada 23 kasus (57,5%). Paling banyak pasien dirawat pada 1?7 hari dan pasien yang meninggal dunia terbanyak pada lama rawat 1?7 hari. Pasien meninggal dunia berjumlah 25 orang (62,5%) dan terbanyak meninggal dunia setelah > 48 jam (72%); dari 25 orang yang meninggal dunia pasien dengan cedera kepala berat sebanyak 18 orang (45%). Simpulan: Angka mortalitas tertinggi ada pada cedera kepala berat, dan pasien meninggal dunia paling banyak setelah > 48 jam di ICU dan HCU. Kata kunci: cedera kepala sedang, cedera kepala berat
HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS PADA PASIEN INFARK MIOKARD LAMA Manoy, Yanti
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3745

Abstract

Abstract: Old myocardial infarction (OMI) is a major disease of pre hospitalization. The patients who suffer OMI disease have a pain and mortality rate higher than those who do not. This is due to have as many OMI disease risk factors for coronary heart disease (CHD) is owned and usually decrease the glomerular filtration rate (GFR). Methods: This is a descriptive study with cross sectional analytic use the data of medical records at the heart of poly Hospital prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Results: There were 205 patients from a total of 330 patients OMI period January 2013 - December 2013 is included as a sample in this study. The results showed that patients aged 60-69 OMI most with 77 people (38 %) with decreased GFR (p=0.000). Patients with a history of hypertension, there are 148 people (72 %) with decreased GFR (p=0,048). Patients with increased LDL there are 166 people (80.9 %) with decreased GFR (p=0.088). Patients who have a history of diabetes, there are 50 men (24.4 %) with decreased GFR (p=0.333). Patients with a history of smoking are 41 people (20 %) with decreased GFR (p=0.103). Conclusion: There is a significant relationship between age and history of hypertension in patients OMI with GFR. There was no significant relationship between hyperlipidemia, diabetes mellitus and a history of smoking history in patients OMI with  GFR.Keywords: Risk factors of Coronary Heart Disease, Glomerular Filtration Rate, Old Myocardial Infarction. Abstrak: Infark miokard lama/Old myocardial infarction (OMI) merupakan penyakit utama prehospitalisasi. Pasien yang mempunyai penyakit OMI memiliki angka kesakitan dan kematian lebih tinggi dibanding yang tidak karena banyaknya faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK) yang dimiliki dan biasanya menurunkan laju filtrasi glomerulus (LFG). Metode: Ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif analitik cross sectional dengan menggunakan data rekam medik di poli jantung RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil: Terdapat 205 pasien dari total 330 pasien OMI periode Januari 2013 – Desember 2013 yang dimasukan sebagai sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien OMI paling banyak  berusia 60-69 dengan 77 orang (38%) memiliki LFG menurun (p=0,000). Pasien dengan riwayat hipertensi terdapat 148 orang (72%) dengan LFG menurun (p=0,048). Pasien dengan LDL meningkat terdapat 166 orang (80,9%) dengan LFG menurun (p=0,088). Pasien yang mempunyai riwayat DM terdapat 50 orang (24,4%) dengan LFG menurun (p=0,333). Pasien dengan riwayat merokok terdapat 41 orang (20%) dengan LFG menurun (p=0,103). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan riwayat hipertensi  dengan LFG pada pasien OMI. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hiperlipidemia, riwayat DM dan riwayat merokok dengan LFG pada pasien OMI.Kata Kunci: Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner, Laju Filtrasi Glomerulus, Infark Miokard Lama.
PROFIL KONDILOMA AKUMINATA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2013 SAMPAI DESEMBER 2013 Fathurahmad, Aswadi; Suling, Pieter L.; Kapantow, Grace M.
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.2.2018.22115

Abstract

Abstract: Condyloma acuminata (CA) is a certain type of human papilloma virus (HPV) vegetation, stemmed from a jagged surface. This study was aimed to obtain the profil of CA cases at the Department of Dermatovenerology Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective study using the medical record data of Polyclinic Dermatovenerology. The results showed that there were 40 patients (3.7%) with CA out of 1077 patients with skin diseases. Most of the patients were females (25 patients; 62.5%), in the age group of 25-44 years (19 patients; 47%), and worked as private workers (15 patients; 37 %). The most common location of the lesions in females was vulva (8 patients; 32%), and in males was glans penis (6 patients (40%). 28 patients (70%). The most comorbidity was candidiosis vulva vaginalis (CVV) as many as 5 patients (12.5%). Conclusion: In this study, most patients were females, age group of 25-44 years, and private worker. The most common location of CA was vulva in females and glans penis in males. Most patients were treated with podophylline. The most common comorbidity was CVV.Keywords: condyloma acuminata, human papilloma virus Abstrak: Kondiloma akuminata (KA) adalah vegetasi Human Papiloma Virus (HPV) tipe tertentu, bertangkai, dengan permukaan berjonjot. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil penyakit kondiloma akuminata di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013 sampai Desember 2013. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik dan buku register infeksi menular seksual di Poliklinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan jumlah penderita KA sebanyak 40 orang (3,7%) dari 1077 pasien penderita penyakit kulit yang datang berobat. Jumlah penderita KA terbanyak pada kelompok usia 25-44 tahun yaitu 19 orang (47%), jenis kelamin perempuan dengan jumlah 25 orang (62,5%), pekerja swasta yaitu 15 orang (37%), Lokasi lesi terbanyak pada perempuan terdapat di vulva sebanyak 8 orang (32%) sedangkan lokasi lesi terbanyak pada laki laki terdapat di glans penis sebanyak 6 orang (40%), Terapi yang paling sering diberikan ialah podofilin yaitu sebanyak 28 orang (70%), Penyakit penyerta terbanyak ialah kandidiosis vulva vaginalis (KVV) sebanyak 5 orang (12,5%). Simpulan: Dalam penelitian ini, pasien KA terbanyak pada kelompok usia 25-44 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan swasta, lokasi lesi pada perempuan tersering di vulva sedangkan pada laki-laki tersering di glans penis, dan pengobatan dengan podofilin. Penyakit penyerta terbanyak ialah KVV.Kata kunci: kondiloma akuminata, human papilloma virus
HUBUNGAN ANTARA LAMA MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN DEPRESI PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIK DI RSUP. PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Sompie, Elizabeth M.; Kaunang, Theresia M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6834

Abstract

Abstract: Hemodialysis is a treatment that must be lived for a lifetime in patients with chronic kidney disease. Hemodialysis patient may suffer depression from physical limitations. This study aimed to find the relation between duration of hemodialysis and depression. This research used observational-analytic method with cross sectional approach. This research involved all patients who carry out hemodialysis at Dahlia and Melati hemodialysis units at RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado who meet the inclusion criteria which are 34 people. The result of this study showed that the duration of hemodialysis (p = 0,17, p > 0,05) did not correlate significantly with depression. Conclusion: The duration of hemodialysis does not correlate significantly with depression.Keywords: the duration of hemodialysis, depressionAbstrak: Hemodialisis merupakan terapi yang harus dijalani seumur hidup pada pasien penyakit ginjal kronik. Keterbatasan secara fisik yang timbul pada pasien hemodialisis dapat menyebabkan munculnya keadaan depresi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan depresi. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional-analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini melibatkan semua pasien hemodialisis di unit hemodialisis Dahlia dan Melati RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 34 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan lama menjalani hemodialisis (p = 0,17, p > 0,05) tidak berhubungan secara signifikan dengan depresi. Simpulan: Lama menjalani hemodialisis tidak berhubungan secara signifikan dengan depresi.Kata kunci: lama menjalani hemodialisis, depresi

Page 15 of 108 | Total Record : 1074