cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
PENGARUH BRISK WALKING (JALAN CEPAT) TERHADAP FUNGSI HATI PADA OBESITAS SENTRAL Nuryanto, Heri; Wantania, Frans E. N.; Waleleng, B. J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10954

Abstract

Abstract: Central obesity is considered as a risk factor that strongly associated with several chronic diseases. Men with waist circumference ≥ 90 cm and women with waist circumference ≥80 cm are stated as central obesity. This study aimed to determine the effect of brisk walking on liver function in central obesity. This was an experimental field study with a non-randomized pre-post one group test and control group. This study used consecutive sampling method. There were 30 samples divided into two groups; 15 samples were given intervention and 15 samples as the control group. Data were analyzed with Wilcoxon signed ranks test.   The results showed that brisk walking for 1 month decreased the SGPT and SGOT levels, however, statistically there was no significant difference before and after intervention with a p value >0.05. Conclusion: There was no significant influence of brisk walking on liver function in central obesity. Keywords: central obesity, liver function, brisk walking  Abstrak: Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang berkaitan erat dengan beberapa penyakit kronis. Laki-laki dengan lingkar pinggang ≥90 cm atau perempuan dengan lingkar pinggang ≥80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brisk walking (jalan cepat) terhadap fungsi hati pada obesitas sentral.  Metode penelitian ini yaitu eksperimental lapangan dengan rancangan non – randomized pre-post test with control. Sampel ditentukan dengan teknik pengambilan sampel konsekutif sampling. Terdapat 30 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok yakni 15 sampel yang diberi perlakuan dan 15 sampel sebagai kontrol. Data dianalisis dengan SPSS 20 dan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian memperlihatkan terjadi penurunan kadar enzim hati SGPT dan SGOT pada sampel yang melakukan brisk walking selama 1 bulan tetapi secara statistik tidak ada perbedaan bermakna sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan dengan nilai p > 0,05.  Simpulan: Tidak terdapat pengaruh bermakna dari brisk walking (jalan cepat) terhadap fungsi hati pada obesitas sentral. Kata kunci: obesitas sentral,  fungsi hati,  brisk walking
Gambaran kekerasan pada anak sekolah dasar di Kecamatan Malalayang Kota Manado Radja, Rebeka D.; Kaunang, Theresia M.D.; Dundu, Anita E.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14598

Abstract

Abstract: Child abuse case is increasing in society. Child abuse and neglect is defined as act or failure to fulfill its obligation as a parent or care giver, that has potential to result in serious physical or emotional injury. This study was aimed to obatin the profile of child abuse in primary school children at Malalayang Districtin Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were all primary school children in forth to sixth grade aged 9-12 years at Malalayang District Manado who met the inclusion and exclusion criteria. The resulst showed that child abuse was found in 99.7% respondents, mostly female (53.8%), with middle income (40%), and physical abuse as the most common type (97.8%). Conclusion: In six primary schools at Malalayang Manado, there were 99.7% children had been abused, mostly female, with middle income. The most common type of abuse was physical abuse.Keywords: child, abuse, profile Abstrak: Kasus kekerasan pada anak semakin meningkat di lingkungan masyarakat. Kekerasan pada anak dan penelantaran diartikan sebagai semua tindakan atau gagalnya memenuhi tindakan kewajiban sebagai orang tua atau pengasuh, yang berpotensial meninggalkan luka fisik maupun emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kekerasan pada anak sekolah dasar di Kecamatan Malalayang Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif menggunakan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah seluruh siswa sekolah dasar kelas 4-6 berusia 9-12 tahun di enam sekolah dasar Kecamatan Malalayang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan kekerasan pada anak dialami oleh 99,7% responden, lebih banyak pada perempuan (53,8%), dengan tingkat ekonomi menengah (40%), dan kekerasan fisik sebagai kekerasan yang paling banyak dialami responden (97.8%). Simpulan: Pada enam sekolah dasar Kecamatan Malalayang didapatkan 99,7% anak mengalami kekerasan, terbanyak berjenis kelamin perempuan, tingkat ekonomi menengah, dan jenis kekerasan fisik. Kata kunci: anak, kekerasan, profil
EFEKTIVITAS DETEKSI SPERMATOZOA MENGGUNAKAN PEWARNAAN MALACHITE GREEN Richardo, Arios; Tomuka, Djemmi; Kristanto, Erwin
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5030

Abstract

Abstract: Sexual assult is a crime that is still becoming a global problem. Most sexual assault involves intercourse which is characterized by penetration of male genital organ (penis) into female genital organ (vagina). Finding spermatozoa in vaginal smear is one of the simplest techniques in Forensic examination to obtain authentic evidence about the occurrence of penetration and semen ejaculation on the victim. Malachite green 1% and eiosin yellowish 1% are staining reagents that can be combined to detect the presence of spermatozoa. Malachite green provides a distinctive green color on the tail of sperm cells and eiosin yellowish gives red color on the head and neck of sperm cells. Stain and counter-stain techniques of these two reagent help to determine the presence of sperm under microscope. This study aims to determine the effectiveness of malachite green staining to find the presence of spermatozoa on alleged rape victim. This study designed in a descriptive study. The study results showed 45 samples that have been divided into five stages examination in six days, have outcomes that malachite green gives a good outward appearance at the whole sample (100%) although the count number of intact spermatozoa is gradually decreased approach the sixth day. Keywords: Malachite green, Eiosin Yellowish, Spermatozoa, Effectivenes Abstrak: Kekerasan seksual merupakan suatu tindak kriminal yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan global. Kekerasan seksual paling sering melibatkan aksi persetubuhan yang ditandai dengan adanya penetrasi organ genital pria (penis) kedalam organ genital wanita (vagina). Temuan spermatozoa pada apusan vagina merupakan salah satu teknik pemeriksaan Forensik sederhana dalam memperoleh bukti otentik terjadinya penetrasi dan ejakulasi semen pada korban. Malachite green 1% dan eiosin yellowish 1% adalah dua reagen pewarnaan yang dapat dikombinasikan untuk mendeteksi adanya spermatozoa. Pulasan malachite green memberi warna hijau yang khas pada bagian ekor sel sperma dan eiosin yellowish memberi warna merah pada bagian kepala dan leher sel sperma. Teknik stain dan counter-stain reagen tersebut mempermudah penentuan adanya spermatozoa dibawah mikroskop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas dari pewarna malachite green dalam menemukan spermatozoa pada korban yang diduga mengalami perkosaan. Penelitian ini didesain dalam bentuk penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, dari 45 sampel yang telah dibagi menjadi lima tahap pemeriksaan selama enam hari, malachite green memberikan pulasan warna yang baik pada keseluruhan sampel (100%) meskipun jumlah hitung spermatozoa utuh berangsur-angsur berkurang mendekati hari ke-enam. Kata Kunci: Malachite green, eiosin Yellowish, spermatozoa, efektivitas.
Analisis Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis Neonatorum di Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kereh, Tesalonika; Wilar, Rocky; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27007

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is defined as a clinical syndrome with systemic manifestations and bacteremia that occurs in the first month of life. Admnistration of antibiotics had to follow the pattern of the most common causal germs in a hospital. This study was aimed to determine the antibiotics of neonatal sepsis patients at the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado, in this case types of antibiotics, duration of the used antibiotics, as well as the use of the first, second, and third-line antibiotics. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Samples were neonatal sepsis patients who were treated with first, second, and third line antibiotic therapy at the NICU from September to November 2019. The results obtained a total of 40 patients, consisting of 22 males (55%) and 18 females (45%). The condition of the patients when coming out of the ward were 12 recovered (30%) and 28 died (70%). Combination antibiotics were the most common used as many as 37 cases (58%). The length of time using antibiotics based on lines, obtained that the first-line antibiotics were given at a duration of ≤5 days, while the second and third line antibiotics were more often given at a duration of >5 days. In conclusion, most neonatal sepsis patients were given antibiotics in combination. There were differences among the durations of the first, second and third line antibiotics used in patients with neonatal sepsis.Keywords: neonatal sepsis, antibiotics Abstrak: Sepsis neonatorum didefinisikan sebagai sindrom klinis dengan manifestasi sistemik dan bakterimia yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan. Pemberian antibiotik harus memperhatikan pola kuman penyebab tersering yang ada di suatu rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatorum di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dalam hal ini jenis-jenis antibiotik yang digunakan, durasi penggunaan antibiotik yang diberikan, serta penggunaan antibiotik lini pertama, kedua, dan ketiga. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien sepsis neonatorum yang menggunakan terapi antibiotik lini pertama, kedua, dan ketiga yang dirawat di ruangan NICU periode September - November 2019. Hasil penelitian memperoleh total 40 pasien, terdiri dari 22 bayi laki-laki (55%) dan 18 bayi perempuan (45%). Keadaan pasien saat keluar dari ruang rawat 12 sembuh (30%) dan 28 meninggal (70%). Penggunaan antibiotik kombinasi paling banyak digunakan yaitu sebanyak 37 kasus (58%). Lama waktu penggunaan antibiotik berdasarkan lini, didapatkan antibiotik lini pertama paling banyak diberikan pada durasi ≤5 hari, sedangkan lini kedua dan ketiga lebih sering diberikan pada durasi >5 hari. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar pasien sepsis neonatorum diberikan antibiotik secara kombinasi. Terdapat perbedaan pada lama waktu penggunaan antibiotik pasien sepsis neonatorum baik lini pertama, kedua dan ketiga.Kata kunci: sepsis neonatorum, antibiotik
PERAN DOKTER DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA DI KOTA MANADO Siwu, Theo L.; Tomuka, Djemi; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7607

Abstract

Abstract: In general, a doctor will face a variety of patients that needed to be treated. However, treating patients is not the only role of a doctor. Doctors can also be called to serve in court of justice, therefore, serving the law is one of the most important aspects of a good doctor. In Indonesia, especially in Manado, a lot of criminal cases leading to death can be found. Concerning death cases, the law enforcement have to consult the Forensic Department. The request might come in the form of an autopsy which is to figure out the cause of death or the identity of the victim. In certain places, it is common to use a forensic doctor as a specialist in crime scene area. This was a descriptive analytical study using questionairre as primary data. Conclusion: From all the data it can be concluded that a doctor’s role in crime scene area is very important. Therefore, the investigator in crime scene area can handle the cases with medical related problem much beter.Keywords: doctor’s role, crime scene.Abstrak: Seorang dokter akan berhadapan dengan bermacam-macam pasien dalam kehidupannya tetapi menangani pasien bukan menjadi satu-satunya tugas seorang dokter. Dokter juga bisa dipanggil untuk menjadi seorang saksi ahli pada kasus-kasus dengan tindakan pidana. Peranan seorang dokter untuk membantu tindak keadilan merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Di Indonesia khususnya di Manado telah cukup banyak kasus kejahatan yang berujung pada kematian. Dalam hal kasus kematian maka pihak kepolisian akan datang meminta bantuan ke pihak forensic antara lain dalam bentuk autopsi untuk meneliti sebab kematian dari mayat atau mencari tahu identitas korban. Di beberapa negara telah digunakan jasa seorang dokter forensik sebagai salah satu tenaga ahli di tempat kejadian perkara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan kuesioner sebagai data primer. Simpulan: Dari hasil yang didapatkan disimpulkan bahwa peran dokter di tempat kejadian perkara sangat penting. Dengan adanya bantuan dari pihak kedokteran maka para penyidik dapat menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan medis secara lebih baik.Kata kunci: peran dokter, tempat kejadian perkara.
Kesehatan telinga mahasiswa Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado Timbuleng, Tamira T.; Palandeng, Ora I.; Pelealu, Olivia C.P.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14216

Abstract

Abstract: Ear is one of the five senses that functions as hearing and body balance device. The health status of human ear is influenced by lifestyle, activities, and environmental factors. Noise is one of the hazardous physical factors that could cause hearing problems ranging from temporary to permanent deafness depending on the intensity of noise, duration of exposure, and individual sensitivity towards noise. Ear health status can be determined through investigation problems or abnormalities of the ear and the hearing function. This study was aimed to obtain the profile of ear health among students of State Police Academy Karombasan Manado. This was a descriptive observational study with a cross-sectional design. There were 30 students as respondents. Data were analyzed by using Microsoft Excel 2010. The results showed that only one respondent (3%) had abnormal outer ear shape (preauricular fistula) meanwhile 29 respondents (97%) had normal outer ear shape. Based on the ear canal, 25 respondents (83%) had normal ear canal and 5 respondents (17%) had cerumen. Investigation of tympanic membrane showed that all respondents had normal tympanic membrane. All respondents had good ear function based on Rinne and Weber tests. Conclusion: Ear health status among students of State Police Academy Karombasan Manado was categorized as good.Keywords: ear abnormality, hearing function abnormality Abstrak: Telinga merupakan indera yang berfungsi sebagai alat pendengaran dan keseimbangan tubuh. Status kesehatan telinga manusia dipengaruhi oleh perilaku hidup, aktifitas, dan faktor lingkungan. Kebisingan merupakan salah satu faktor fisik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran mulai dari ketulian sementara sampai ketulian permanen bergantung pada intensitas, lama waktu paparan, dan kepekaan individu terhadap kebisingan. Status kesehatan telinga dapat ditentukan dengan pemeriksaan gangguan atau kelainan telinga, dan pemeriksaan gangguan fungsi pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kesehatan telinga mahasiswa Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 30 mahasiswa Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado. Data hasil penelitian diolah menggunakan Microsoft Office Excel 2010. Hasil penelitian menunjukkan pada pemeriksaan telinga luar hanya 1 responden (3%) yang memiliki bentuk telinga luar abnormal yaitu fistula preaurikular, sedangkan 29 responden (97%) memiliki kondisi telinga luar normal. Pemeriksaan membran timpani mendapatkan hasil normal telinga kiri dan telinga kanan pada semua responden (100%). Pemeriksaan tes fungsi pendengaran Rinne dan Weber mendapatkan hasil normal pada 30 responden (100%) baik telinga kiri dan kanan. Simpulan: Status kesehatan telinga mahasiswa Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado tergolong baik. Kata kunci: gangguan atau kelainan pada telinga, gangguan fungsi pendengaran
HUBUNGAN INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTH DENGAN KADAR HEMOBGLOBIN ANAK SEKOLAH DASAR GMIM BUHA MANADO Basalamah, Muhammad Fachrurrozy; Pateda, Viviekenanda; Rampengan, Novie
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3601

Abstract

Abtract: Intestinal worm infections are transmitted via soil (soil-transmitted helminth) is a global problem, especially in developing countries. The main worm infections caused by Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, and hookworm (necator americanus and Ancylostoma duodenale). Worm infections affect the digestion, absorption, and metabolism of food could result in loss of protein, carbohydrates, fats, vitamins and large amounts of blood as well as lower mean hemoglobin concentration. The purpose of this study was to determine the relationship of helminth infection with hemoglobin levels of elementary school children GMIM Buha Manado. This research was an observational analytic cross-sectional approach. Sebjek study as many as 80 children. Results showed that children infected with worms very significant effect on levels of hemoglobin (p < 0.001). Children who are infected with worms had lower hemoglobin levels when compared with children who are not infected with the worm. Children who are infected with the worm hemoglobin level falls to 9.5 g/dl. Keywords: elementary school children - a worm infection - hemoglobin.   Abstrak: Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminth) merupakan masalah dunia terutama di negara sedang berkembang. Infeksi cacing utama disebabkan oleh ascaris lumbricoides, trichuris trichiura, dan cacing tambang (necator americanus dan ancylostoma duodenale). Infeksi cacing berpengaruh terhadap pencernaan, penyerapan, serta metabolisme makanan yang dapat berakibat hilangnya protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan darah dalam jumlah besar serta menurunkan konsentrasi hemoglobin rerata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan infeksi cacing dengan kadar hemoglobin anak sekolah dasar GMIM Buha Manado. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebjek penelitian sebanyak 80 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terinfeksi cacing berpengaruh sangat bermakna terhadap kadar hemoglobin (p < 0,001). Anak-anak yang terinfeksi cacing memiliki kadar hemoglobin lebih rendah bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terinfeksi cacing. Anak-anak yang terinfeksi cacing kadar hemoglobinnya turun hingga mencapai 9,5 g/dl. Kata kunci: anak SD - infeksi cacing - kadar hemoglobin
KARAKTERISTIK PENDERITA PREEKLAMSIA DI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Warouw, Patricia C.; Suparman, Erna; Wagey, Freddy W.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10986

Abstract

Abstract: Worldwide there are about 76,000 pregnant women die each year due to preeclampsia and other hypertensive disorders in pregnancy. The incidence rate of preeclampsia in the United States, Canada, and Western Europe ranges from 2-5%. In developing countries, the rate ranges from 4-18% of all pregnancies. In Indonesia, the Maternal Mortality Ratio (MMR) of the period of 2008 to 2012 was 359 deaths per 100,000 live births. The occurrence of preeclampsia in Indonesia is about 3-10% of all pregnancies. This study aimed to determine the characteristics of patients with preeclampsia. This was a retrospective descriptive study. Samples were pregnant women with preeclampsia and had complete medical records at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital during the period of January 1, 2014 until December 31, 2014. The results showed that the number of pregnant women with preeclampsia were 201 people. Mild preeclampsia and severe preeclampsia were most prevalent in the age group of 20-35 years (70% and 61.46%) meanwhile superimposed preeclampsia in the age group of >35 years (78.13%). Preeclampsia was mostly among multiparity. Superimposed preeclampsia was found in 32 cases. Most pregnant women with preeclampsia had a BMI ≥ 30.00. Conclusion: Most preeclampsia cases occured in the age group of 20-35 and> 35 years with multiparity, some had hypertension, and mostly were obese. Keywords: mild preeclampsia, severe preeclampsia, superimposed preeclampsia, age, parity, nutritional status (obesity). Abstrak: Diseluruh dunia sekitar 76.000 wanita hamil meninggal setiap tahun akibat preeklamsia dan gangguan hipertensi lainnya pada kehamilan. Insiden preeklamsia di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat berkisar 2-5% sedangkan di negara berkembang berkisar 4-18% dari semua kehamilan. Di Indonesia Maternal Mortality Ratio (MMR) periode 2008 sampai 2012 sebesar 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Frekuensi kejadian preeklamsia di Indonesia sekitar 3-10% dari semua jumlah kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita preeklamsia. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Sampel penelitian ialah ibu hamil dengan preeklamsia dan mempunyai data rekam medis lengkap di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou periode 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ibu hamil dengan preeklamsia 201 orang. PER dan PEB terbanyak ditemukan pada kelompok usia 20-35 tahun (70% dan 61,46%) sedangkan superimposed PE pada kelompok usia >35 tahun (78,13%). Preeklamsi terbanyak pada paritas multigravida. Superimposed PE berjumlah 32 kasus. Ibu hamil dengan preeklamsia terbanyak memiliki IMT ≥30.00. Simpulan: Preeklamsia terjadi pada kelompok usia 20-35 dan >35 tahun dengan paritas multipara, sebagian dengan riwayat hipertensi, dan sebagian besar disertai obesitas.Kata kunci: preeklamsia ringan, preeklamsia berat, superimposed preeklamsia, usia, paritas, status gizi (obesitas).
Perbandingan Pemulihan Laju Jantung antara Subjek Obes Sentral Terlatih dengan yang Non-obes Sentral Tak Terlatih Wowor, Ribka; Wantania, Frans; Pamolango, Fendy
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.16878

Abstract

Abstract: Heart rate recovery (HRR) is a predictor of cardiovascular mortality in adult as well as a risk factor of diabetes mellitus and cardiovascular diseases. Heart rate recovery is affected by autonomic nerve system and interestingly, athletes have more effective autonomic nerve system than the non-athletes. This was an observational descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were 15 adult trained males with central obesity and 15 untrained males without central obesity. Central obesity was determined if abdominal circumferences was above 90 cm. The treadmill test with Bruce protocol was used to evaluate the HHR at the second minute of recovery which was abnormal if the HRR below 42 times per minute. The non-tailed T test was used to determine the comparison of HRR between trained central obese and non-trained non-central obese subjects. The results showed that the 15 trained males with central obesity had average age 31.7±3.7 years and mean abdominal circumference 98.6±5.66 cm meanwhile the 15 untrained males without central obesity had mean age 29.4±6.4 years and mean abdominal circumference 80.27±7.05 cm. Mean HRR of the trained subjects was 55.6±10.6 and of the untrained subjects was 47.8 ±1.8. The non-tailed T test showed significant result in comparing the HRR between trained subjects and untrained subjects (P < 0.025). Abnormal HRR was found in 6.6% of the trained subjects and in 20% of the untrained subjects. Conclusion: Trained males with central obesity had a better HRR significantly than untrained males without central obesity; therefore, physical exercise played an important role in HRR.Keywords: heart rate recovery (HRR), central obesity, trained Abstrak: Pemulihan laju jantung (PLJ) merupakan prediktor kematian kardiovaskular pada orang dewasa dan dipengaruhi oleh sistem saraf otonom. Uniknya, atlet atau individu yang terlatih memiliki sistem saraf otonom yang lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak terlatih. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian terdiri dari15 pria dewasa dengan obesitas sentral yang terlatih dan 15 pria dewasa dengan non-obesitas sentral yang tidak terlatih. Subjek dinyatakan terlatih bila memenuhi rekomendasi latihan fisik menurut WHO. Obesitas sentral diukur dengan meteran pada lingkar perut bila lebih dari 90 cm. Uji latih jantung (ULJ) menggunakan treadmill dengan protokol Bruce. Pemulihan laju jantung dinilai pada menit ke-2 fase pemulihan dan dikatakan abnormal bila PLJ <42 x/menit. Perbandingan antara PLJ pada subjek obes sentral yang terlatih dengan subjek non-obes sentral yang tidak terlatih diuji dengan uji-T tidak berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan 15 subjek pria obes sentral yang terlatih dengan rerata usia 31,7±3,7 tahun, rerata lingkar perut 98,6±5,66cm dan 15 subjek pria non-obes sentral yang tidak terlatih dengan rerata usia 29,4±6,4 tahun, rerata lingkar perut 0,27±7,05cm. Rerata PLJ pada subjek obes sentral yang terlatih 55,6±10,6, dan rerata PLJ pada non-obes sentral yang tidak terlatih 47,8±1,8. Uji-T tidak berpasangan mendapatkan hasil bermakna untuk perbandingan antara PLJ pada subjek obes sentral yang terlatih dengan subjek non-obes sentral yang tidak terlatih (p<0,025). Didapatkan nilai abnormal PLJ 6,6% pada kelompok subjek obes sentral terlatih dan 20,0% pada kelompok subjek non-obes sentral tak terlatih. Simpulan: Subjek obes sentral yang terlatih memiliki PLJ yang lebih baik dibandingkan dengan subjek non-obes sentral yang tidak terlatih secara bermakna yang menunjukkan faktor latihan fisik berperan penting terhadap PLJ.Kata kunci: pemulihan laju jantung (PLJ), obesitas sentral, terlatih
GAMBARAN HASIL CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA DENGAN KLINIS STROKE NON-HEMORAGIK DI BAGIAN RADIOLOGI FK. UNSRAT / SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011- DESEMBER 2011 Tjikoe, Mohammad Arswendo; Loho, Elvie; Ali, Ramli H.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i3.6011

Abstract

Abstract: Stroke is the most common of neurologic manifestations and easily recognizable from the other neurologic diseases due to the early onset of sudden in a short time. Stroke as clinical diagnosis was divided to hemorrhagic stroke and ischemic stroke. In hemorrhagic stroke there is a rupture in blood vessel so the blood flow became abnormal and bleeds into surrounding brain and damage it. In ischemic stroke the blood flow heading to the brain is interrupted due to atherosclerosis process. The purpose of this study is to know about description of head CT scan in patient with clinical diagnonis of stroke non hemorrhagic in Department/SMF Radiology Faculty Of Medicine UNSRAT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period on 1st January 2011 – 31st December 2011. Methods: The study design was a retrospective descriptive study. The data are from request form sheet and radiographic response in the Department of Radiology and processed in descriptive. Results: Base on 163 data of stroke patients obtained, 74 patients diagnosed with infarction stroke (45,4%). Male had more (59,5%) than female (40,5%). For age group, 60-79 is the largest with 33 patients (44,6%). Area with most lesion was in parietal dextra lobe with 8 cases (10,8%). Most cases was happened in August with 10 cases (13,5%). Conclusion: Patients with radiology diagnosis infarction stroke, the most common infarction location is in parietal dextra area. Keywords: CT Scan, Infarction Stroke, Parietal Dextra.   Abstrak: Stroke merupakan salah satu manifestasi neurologik yang umum, dan mudah dikenal dari penyakit-penyakit neurologik lain karena mula timbulnya mendadak dalam waktu yang singkat. Stroke sebagai diagnosis klinis terbagi menjadi stroke hemoragik (pendarahan) dan stroke non-hemoragik (iskemik). Pada stroke hemoragik pembuluh darah pecah sehingga aliran darah menjadi tidak normal dan darah yang keluar merembes masuk ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Sedangkan pada stroke non-hemoragik aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah, melalui proses aterosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil CT scan kepala pada penderita dengan klinis stroke non-hemoragik di Bagian Radiologi FK. Unsrat / SMF Radiologi BLU RSUP Prof. dr. R. D Kandou Manado periode Januari 2011- Desember 2011. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa lembaran permintaan & jawaban CT scan kepala yang terdapat di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011. Hasil penelitian: Berdasarkan 163 data pasien yang didapatkan, 74 pasien didiagnosis dengan stroke infark (45,4%). Laki-laki lebih banyak (59,5%) dari perempuan (40,5%). Kelompok umur 60-79 merupakan kelompok umur terbanyak yaitu 33 pasien (44,6%). Daerah lesi terbanyak adalah pada daerah parietalis dextra dengan 8 kasus (10,8%). Kasus terbanyak terjadi pada bulan agustus dengan 10 kasus (13,5%). Simpulan: Pada pasien dengan diagnosis radiologi stroke infark, lokasi infark yang paling banyak muncul adalah terdapat pada daerah parietal dextra. Kata kunci: CT Scan, Stroke Infark, Parietal Dextra.

Page 14 of 108 | Total Record : 1074