cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Gambaran hasil pemeriksaan fungsi hati pada anak dengan infeksi dengue periode Januari 2011-Oktober 2016 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Saudo, Rindah M.; Rampengan, Novie H.; Mandei, Jose M.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14476

Abstract

Abstract : Dengue infection still one of the global health problem. Hepatic dysfunction is common in dengue infection and the spectrum of liver dysfunction in children with dengue infection is wide and has been associated with disease severity. Hepatic dysfunction can be measured with aminotransferase levels. Significant rise of aminotransferase level helps in recognition of severe form of dengue infection. This study aimed to obtain the profile of aminotransferase levels of children diagnosed with dengue infection. This was a descriptive retrospective study using medical record data of patients in Pediatrics Department Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. There were 432 patients with dengue infection during the period 2011-2016. Patients performed liver function test were 222 patients, however, only 183 patients that meet the inclusion criteria. All cases were grouped into Dengue Fever (DF), Dengue hemorrhagic fever (DHF) and Dengue shock syndrome (DSS) according to WHO criteria. Most patient diagnosed with DSS. Aminotransferase levels rise more significant in DSS and DHF group compared to DF group. AST was elevated more than ALT.Keywords: dengue infection, children, liver function, AST, ALT Abstrak: Infeksi dengue masih merupakan masalah kesehatan global. Disfungsi hati umum ditemukan pada infeksi dengue dan spektrum disfungsi hati pada anak dengan infeksi dengue luas dan berkaitan dengan keparahan penyakit. Disfungsi hati dapat diukur dengan kadar aminotransferase. Peningkatan signifikan kadar enzim transaminase dapat membantu mengenali infeksi berat virus dengue. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan fungsi hati pada anak dengan infeksi dengue. Penelitian ini adalah penelitian deskritif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sebanyak 432 pasien infeksi virus dengue periode 2011-2016 dan yang diperiksa fungsi hati sebanyak 222 pasien, namun hanya 183 pasien yang memenuhi kriteri inklusi. Semua kasus dikelompokkan menjadi Demam Dengue (DD), Demam berdarah dengue (DBD), dan Sindroma Syok Dengue (SSD). Pasien terbanyak adalah pasien SSD. Peningkatan kadar enzim aminotransferase lebih signifikan pada kelompok SSD dan DBD dibandingkan DD. SGOT meningkat lebih tinggi dibandingkan SGPT. Kata kunci: infeksi dengue, anak, fungsi hati, AST, ALT
Sikap dan pengetahuan tentang kehamilan remaja di 3 SLTA Manado Ongela, Franky
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3740

Abstract

Abstrak: Teenage is one of unique life phase which characterized by change in social and biological; centralized on both healthy physical and psychological condition. Although, the understanding and expectation of being a teenage as a transition period between a child to a young adult are vary in social context. Teenage pregnancy may relate to negative outcome to parent, the child, and the society. Babies who are born by the result of teenage pregnancy will face a different life challenges. They most likely to suffer from education, attitude, and health in their life, compare to the babies who are born naturally when the parents are married in adequate age. There is several of contributing factor to unplanned pregnancy for teenagers. Such as pressure for married and having babies in young age, limited access to education and unemployment. The objectives of this research are to understand how the attitude and knowledge of teenagers towards the issue of `teenage pregnancy. This research is based on descriptive analyze with questionnaire method. The research of attitude and teenage knowledge about teenage pregnancy was conducted in three high schools in Manado City which are, SMA Rex Mundi (A), SMA 7 (B), and SMK 6 (C). The results shows the age of participating respondents are between 15-19 years old in each three schools and in order of percentage 91.7%, 83.3%, and 78.3% respectively. Parent’s education levels are respectively; 32% for father with degree, 61,7% for high school & 78,3%; and mother with degree for 50%, 68,3% for high school and 73,3% . For father occupation in private sector respectively 70%, 56,7% and 75%.  For mother occupation in private sector respectively 48.3%, 68.3%, and 70%. The most source of information for the three schools are mass media and respectively in percentage; 23.3%, 26.4%, & 27.1%. The knowledge of pregnancy in the three schools is satisfactory level and respectively 70.0%, 76.7%, and 65%. The attitude of the three schools towards the issue is positive with percentage of 65%, 58.3% and 63.3 % respectively. With adequate knowledge about teenage pregnancy from this research, it provides a more positive attitude to avoid pregnancy in teen age.Keyword: Teenage, teenage pregnancy, knowledge, attitude   Abstrak: Masa remaja sebagai suatu fase kehidupan yang berbeda yang dikarakteristik oleh penanda sosial dan biologi, pusat keadaan yang sehat fisik dan psikologis. Namun, pengertian dan ekspektasi dari remaja, sebagai suatu periode pertengahan antara anak-anak dan dewasa, bisa bervariasi dalam konteks sosial.Kehamilan masa remaja berhubungan dengan akibat negatif bagi orang tua, anak mereka dan masyarakat. Anak-anak yang lahir dari remaja akan menghadapi tantangan-tangangan khusus. Mereka mungkin akan menghadapi masalah dalam pendidikan, perilaku dan kesehatan sepanjang hidup mereka, dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari orang tua yang telah dewasa.Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kehamilan yang tidak direncanakan dan diinginkan pada remaja. Tekanan untuk menikah dan memiliki anak di usiadini, akses pendidikan yang terbatas dan tidak memiliki prospek pekerjaan, hal-hal tersebut membuat remaja akhirnya memilih untuk menikah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, bagaimana sikap dan pengetahuan remaja terhadap kehamilan remaja. Penelitian ini bersifat analisa deskriptif dengan  metode kuesioner. Penelitian sikap dan pengetahuan remaja tentang kehamilan remaja dilakukan pada 3 sekolah di Kota Manado, yaitu SMA Rex Mundi (A), SMA 7 (B) dan SMK 6 (C). Hasil yang diperoleh adalah: usia responden yang paling banyak berperan dalam penelitian ini adalah usia 15-19 tahun pada ketiga sekolah, beruturut-turut 91,7 %, 83,3 % dan 90,0 %. Tingkat pendidikan orang tuaberturut-turut; untuk ayah, sarjana 32 %, SMA 61,7 %, dan 78,3 %; ibu berturut-turut: sarjana 50 %, SMA 68,3 % dan SMA 73,3 %. Pekerjaan orang tua untuk ayah paling banyak swasta, berturut-turut: 70,0 %, 56,7 % dan 75,0 %. Untuk ibu paling banyak swasta, berturut-turut: 48,3%, 68,3 % dan 70,0 %. Berdasarkan sumber informasi untuk ketiga sekolah paling banyak adalah media massa, berturut-turut: 23,3 %, 26,4 % dan 27,1 %. Berdasarkan tingkat pengetahuan tentang kehamilan pada ketiga sekolah paling banyak adalah baik, berturut-turut; 70,0 %, 76,7 % dan 65,0 %. Dan sika premaja paling banyak pada ketiga sekolah adalah positif, berturut-turut: 65,0 %, 58,3 % dan 63,3 %. Dengan pengetahuan remaja yang baik tentang kehamilan remaja pada penelitian ini, menghasilkan sikap yang positif remaja untuk menghindari kehamilan pada usia remaja.Kata kunci: Remaja, kehamilan remaja, pengetahuan, sikap
Hubungan Framingham Risk Score dengan Derajat TIMI Risk Score pada Pasien Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode Januari–September 2018 Alitu, Moh. A. R.; Jim, Edmond L.; Joseph, Victor F.
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i2.22127

Abstract

Abstract: Myocardial infarction (MI) is one of the main manifestations of coronary heart diseases. ST segment elevation myocardial infarction (STEMI) is a symptomatic clinical syndrome characterized by myocardial ischemia associated with persistent ST segment elevation. The Framingham risk score (FRS) is designed to predict the risk of death due to coronary heart disease and myocardial infarction meanwhile the TIMI risk score is used as a tool to determine the mortality risk of STEMI patients. This study was aimed to determine the relationship between the FRS and the degree of TIMI risk score in STEMI patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective analytical study. Samples were patients diagnosed as STEMI at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January to September 2018. There were 93 patients obtained by using total sampling. The Pearson correlation test of the relationship between the FRS and the degree of TIMI risk score in STEMI patients obtained an r of 0.097 with the P value of 0.177. Conclusion: There was no relationship between the Framingham risk score and the TIMI risk score among IMA-EST patients.Keywords: myocardial infarction, Framingham risk score, TIMI risk score, STEMI Abstrak: Infark miokard adalah salah satu manifestasi utama penyakit jantung koroner (PJK). Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) adalah sindrom klinis dengan gejala karakteristik iskemia miokard yang berhubungan dengan elevasi segmen ST persisten. Framingham risk score (FRS) dirancang untuk memrediksi risiko kematian karena PJK dan infark miokard. TIMI risk score digunakan sebagai alat untuk menentukan risiko mortalitas pasien IMA-EST. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan FRS dengan derajat TIMI risk score pada pasien IMA-EST di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif. Sampel penelitian ialah pasien IMA-EST di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-September 2018 sebanyak 93 pasien diambil dengan total sampling. Hasil uji korelasi Pearson terhadap hubungan antara FRS dan TIMI risk score pada pasien IMA-EST mendapatkan r=0,097 dengan nilai P=0,177. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara Framingham risk score dan TIMI risk score pada pasien IMA-EST.Kata kunci: infark miokard, Framingham risk score, TIMI risk score, IMA-EST
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI Mokodongan, Menthari H.; Wantania, John; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6829

Abstract

Abstract: Leucorrhoea in teenagers can be caused by bad behavior of leucorrhoea precaution. Knowledge is a factor to build behavior in teenager. Method: observational analytic research with cross sectional design with using 200 samples from 4 Senoir high school at Manado and Kotamobagu city purposely. Data is collected by using questionnaire and be analysed by using chi-square. Result: more teenager at Manado and Kotamobagu city have good knowledge of leucorrhoea. More teenager with good knowledge of leucorrhoea have good behavior in leucorrhoea precaution (53,7%), while more teenager with poor knowledge of leucorrhoea have poor behavior of leucorrhoea precaution (66,1%). There is a relationship between knowledge level of leucorrhoea with behavior of leucorrhoea precaution (p=0,023). Teenager with good knowledge of leucorrhoea is 1,5 times to have good behavior of leucorrhoea precaution (PR=1,5; 95% CI=1,1-2,2). Conclusion: Knowledge of leucorrhoea is related significantly to behavior of leucorrhoea precaution in teenager.Keywords: leucorrhoea, knowledge, behavior.Abstrak: Keputihan pada remaja dapat disebabkan karena perilaku pencegahan keputihan yang kurang baik. Pengetahuan adalah salah satu faktor terbentuknya perilaku pada remaja. Metode: penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang menggunakan 200 sampel dari 4 SMA di Manado dan Kotamobagu yang diambil secara tidak acak. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisa dengan chi-square. Hasil: remaja di kota Manado dan Kotamobagu lebih banyak memiliki pengetahuan yang baik tentang keputihan. Remaja dengan pengetahuan yang baik tentang keputihan lebih banyak memiliki perilaku yang baik dalam pencegahan keputihan (53,7%), sementara itu remaja dengan pengetahuan yang buruk tentang keputihan lebih banyak memiliki perilaku yang buruk dalam pencegahan keputihan (66,1%). Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja (p=0,023). Remaja dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang keputihan memiliki kecenderungan 1,5 kali memiliki perilaku pencegahan yang baik (PR=1,5; 95% CI=1,1-2,2). Simpulan: pengetahuan tentang keputihan berhubungan secara bermakna dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja.Kata kunci: keputihan, pengetahuan, perilaku
Karateristik perawat di Irina F RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang mengalami keluhan nyeri punggung bawah Goni, Naftalia T.S.; Khosama, Herlyani; Tumboimbela, Melke J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12107

Abstract

Abstract: Low back pain is a clinical syndrome characterized by major symptoms of pain or other uncomfortable feelings in the lower spine. Low back pain is the leading cause of activity limitation and work absence world-wide. This study aimed to obtain the characteristics of nurses in Irina F Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado who had low back pain. This was a prospective descriptive study with a cross sectional design. Samples were 43 respondents. The results showed that of 50 respondents there were 43 respondents who suffered from low back pain. Of 43 respondents there were 14 male nurses (32.5%), and 29 female nurses (67.5%). Low back pain was suffered by 16 nurses (37,2%) aged 23-29 years, 19 nurses (44.2%) aged 30-39 years, two nurses (4.6%) aged 40-49 years, and six nurses (14%) aged 50-57 years. There were 16 nurses (37.2%) who had worked less than 5 years, and 27 nurses (72.8%) who had worked more than 5 years. There were seven nurses (16.3%) who had working time <8 hours a day, and 36 nurses (83.7%) who had working time >8 hours a day. Keywords: low back pain, nurse Abstrak: Nyeri punggung bawah (NPB) adalah sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tulang punggung bagian bawah. NPB merupakan penyebab utama dari keterbatasan aktivitas dan absen pekerjaan di sebagian besar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perawat di Irina F RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini deskriptif prospektif dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh sebanyak 43 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden terdapat 43 responden (86%) yang pernah mengalami keluhan NPB. Dari 43 responden terdapat 14 perawat laki-laki (32,5%) dan 29 perawat perempuan (67,5%). NPB dialami oleh 16 perawat (37,2%) berusia 23-29 tahun, 19 perawat (44,2%) berusia 30-39 tahun, 2 perawat (4,6%) berusia 40-49 tahun, dan 6 perawat (14%) berusia 50-57 tahun. Terdapat 16 perawat (37,2%) yang memiliki masa kerja <5 tahun, dan 27 perawat (62,8%) memiliki masa kerja >5 tahun. Terdapat 7 perawat (16,3%) yang memiliki lama kerja <8 jam sehari, dan 36 perawat (83,7%) memiliki lama kerja >8 jam sehari.Kata kunci: nyeri punggung bawah, perawat
GAMBARAN FOTO TORAKS PADA PENDERITA DEWASA DENGAN DIAGNOSIS KLINIS DIABETES MELITUS YANG DISERTAI TUBERKULOSIS PARU DI BAGIAN/SMF RADIOLOGI FK UNSRAT BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2011 – 31 DESEMBER 2011 Ismail, Muhammad Rizal
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i3.3239

Abstract

Diabetes is a major threat to human health in the 21st century. WHO to estimate that in 2025, number of people with diabetes over of 20 years will develop to 300 million people. Diabetes mellitus is also a disease that can lead to many complications one of them pulmonary tuberculosis, this complication be enforced with radiodiagnostic like thorax photo. The purpose of this study is to know about description of thorax photo in adult patients with a clinical diagnosis of diabetes mellitus with pulmonary tuberculosis in Department/SMF Radiology Faculty of Medicine UNSRAT BLU RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado period on 1st January 2011 – 31st December 2011. The study design was a retrospective descriptive study. The data are from request form sheet and radiographic response in the Department of Radiology and processed in descriptive. Results of this study indicate the number of patients with radiologic diagnosis of diabetes mellitus who accompanied pulmonary tuberculosis as many as 90 patients. Most cases are in the age of 56 - 65 years (41.11%) with the man that is equal to 53.33%. With the results of thorax photo in infiltrate view the highest 30.00%. The conclusion is description of thorax photo in adult patients with a clinical diagnosis of diabetes mellitus with pulmonary tuberculosis were fewer compared to those without pulmonary tuberculosis with the highest infiltrates view. Keywords: Diabetes mellitus, thorax photo, pulmonary tuberculosisAbstrakDiabetes adalah salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad ke-21. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2025 jumlah pengidap diabetes di atas umur 20 tahun akan membengkak menjadi 300 juta orang. Diabetes melitus juga merupakan suatu penyakit yang bisa menimbulkan banyak komplikasi salah satunya tuberkulosis paru, komplikasi ini diketahui dengan menggunakan radiodiagnostik seperti foto toraks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang gambaran foto toraks pada penderita dewasa dengan diagnosis klinis diabetes melitus yang disertai tuberkulosis paru di Bagian/SMF Radiologi FK UNSRAT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 januari 2011 – 31 desember 2011. Desain penelitian ini adalah penelitian retrospektif yang bersifat deskriptif. Data berupa lembaran permintaan dan jawaban foto toraks di Bagian Radiologi dan diolah dalam bentuk deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah penderita dengan diagnosis radiologis diabetes melitus yang disertai tuberkulosis paru sebanyak 90 penderita. Kebanyakan kasus adalah pada umur 56 – 65 tahun (41,11%) dengan laki-laki yaitu sebesar 53,33%. Dengan hasil gambaran foto toraks terbanyak pada gambaran Infiltrat yaitu 30,00%. Kesimpulannya ialah dari hasil gambaran foto toraks pada penderita dewasa dengan diagnosis klinis diabetes melitus yang disertai tuberkulosis paru ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan yang tanpa tuberkulosis paru dengan gambaran terbanyak yaitu infiltrat.Kata Kunci: Diabetes melitus, foto toraks, tuberkulosis paru
KESEHATAN HIDUNG SISWA SEKOLAH DASAR INPRES 10/73 PANDU Legoh, Andre M.; Mengko, Steward K.; Palandeng, Ora I.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10940

Abstract

Abstract: Environmental factors have great effects on human health. Physiologically, nose is one of our organs in that protect us from unfavorable environment. This study aimed to obtain the nose health status among students of Inpres 10/73 Pandu Elementary School. This was a descriptive observational study with a cross sectional approach. Respondents were students of Inpres 10/73 Pandu Elemntary School. There were 18 respondents consisted of 8 boys and 10 girls. The nose examination showed normal nose in 14 children and abnormalities in 4 children. The examination of the nasal conchae showed hyperemia 5.1% meanwhile hyperemia associated by edema 22.22%. The examination of the nasal mucosa revealed hyperemia 11.11%. The examination of nasal secretion showed mucoid secretion 11.11%, serous secretions 5.56%, and purulent secretion 5.56%. Conclusion: Most of the students had normal nose health status.Keywords: health survey, nose examinationAbstrak: Faktor lingkungan berperan sangat besar terhadap kesehatan manusia. Hidung merupakan salah satu organ yang secara fisiologik menjadi pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan hidung pada siswa-siswi Sekolah Dasar Inpres 10/73 Pandu. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif survei dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian ialah siswa-siswi Sekolah Dasar Inpres 10/73 Pandu. Jumlah responden yang mengikuti penelitian ialah 18 anak, terdiri dari 8 laki-laki dan 10 perempuan. Pada hasil pemeriksaan hidung didapatkan hasil normal pada 14 anak dan kelainan pada 4 anak. Pada pemeriksaan konka nasal, persentase hiperemis 5,1% dan persentase hiperemis disertai udim 22,22%. Pada pemeriksaan mukosa nasal, persentase hiperemis 11,11%. Pada pemeriksaan sekret, persentase sekret mukoid 11,11%, sekret serous 5,56%, dan sekret purulen 5,56%. Simpulan: Sebagian besar responden mempunyai status kesehatan hidung yang normal.Kata kunci: survei kesehatan, pemeriksaan hidung
Gambaran komponen sindrom metabolik pada pasien kanker payudara di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014 – 2015 Wowor, Kartika; Haroen, Harlinda; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14561

Abstract

Abstract: Metabolic syndrome (MetS) is estimated to become an important factor for the development of certain types of cancer and their mortality inter alia breast cancer. This was a descriptive retrospective study based on secondary data of medical records of breast cancer patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital in 2014-2015. The results showed that the most common components of MetS in breast cancer cases were low level of HDL in 67 cases (68%). One component of MetS was found in 46 cases (64%); 3components of MetS in 6 cases (8%); and 4 components of MetS in 8 cases (11%). Family history of cancer was found in 3 cases with breast cancer (1%). Family history of MetS was found in 3 cases; 1 case of hypertension (0.25%) and 2 cases of hypertension and diabetes (0.50%). The most common clinical stage that had MetS components was stage IV in 27 cases (46%). Conclusion: Most breast cancer patients with MetS components had low level of HDL, only had 1 MetS component, family history of breast cancer and some components of MetS, and in clinical stage IV.Keywords: breast cancer, metabolic syndrome Abstrak: Sindrom metabolik diperkirakan menjadi faktor penting perkembangan jenis kanker tertentu dan mortalitasnya, termasuk peningkatan risiko kanker payudara. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif berdasarkan data sekunder dari catatan rekam medis pasien kanker payudara di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014-2015. Hasil penelitian memperlihatkan komponen SM yang sering ditemukan ialah kadar HDL rendah berjumlah 67 kasus (68%). Kasus yang memiliki 1 komponen yang memenuhi kriteria SM berjumlah 46 data (64%), 3 komponen berjumlah 6 data (8%) dan 4 komponen berjumlah 8 data (11%). Riwayat penyakit keluarga yang menderita kanker didapatkan tiga kasus dengan kanker payudara (1%). Riwayat penyakit keluarga yang mengalami komponen sindrom metabolik pada tiga kasus; satu kasus dengan hipertensi (0,25%) dan dua kasus dengan hipertensi dan diabetes (0,50%). Stadium klinis yang paling sering memiliki komponen sindrom metabolik ialah stadium IV sebanyak 27 kasus (46%). Simpulan: pada sebagian besar pasien kanker payudara yang memiliki komponen SM ditemukan kadar HDL rendah, hanya memiliki 1 komponen SM, riwayat penyakit keluarga berupa kanker payudara dan beberapa komponen sindrom metabolik, serta stadium klinis IV. Kata kunci: kanker payudara, sindrom metabolik
PENGETAHUAN IBU TENTANG KEPUTIHAN DI KOTA MANADO Fadilla, Emi; Mewengkang, Maya; Wantania, John
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.4696

Abstract

Abstract: Reproductive organs is one of the organs that are sensitive and require special care.Vaginal discharge is the health common problems of women genital area. The purpose of this research is to determine the knowledge of vaginal discharge  and the relationship between the factors that affect the mother's knowledge about vaginal discharge .This research used observational analytic method with a cross sectional study trough primary data based on questionnaires. From 200 respondents,  there were 7 respondents with a poor knowledge , 39 respondents with a moderete knowledge, and 154 respondents with a good knowledge. There is no significant relationship between mother's level of knowledge about vaginal discharge and age (p-value = 0.171), education (p-value = 0.090) ,  resources (p value = 0.174) and experience (p value = 0.052). There is a significant relationship between the level of knowledge about vaginal discharge and occupation (p value = 0.000). Mother’s knowledge of vaginal discharge in manado city is good. In this research only occupation has a significant relationship with the level of knowledge about vaginal discharge. Key words: vaginal discharge,knowledge   Abstrak: Organ reproduksi merupakan salah satu organ tubuh yang sensitif dan memerlukan perawatan khusus. Masalah kesehatan area genital yang umum terjadi pada wanita adalah keputihan. Tujuan penelitian ini mengetahui pengetahuan ibu tentang keputihan dan hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu tentang keputihan.Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan studi cross sectional menggunakan data primer berdasarkan kuesioner.Dari 200 responden penelitian didapatkan 7 responden dengan pengetahuan kurang, 39 responden dengan pengetahuan cukup (sedang), dan 154 responden dengan pengetahuan baik. Tidak ada hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan umur (nilai p = 0,171), pendidikan (nilai p = 0,090), sumber informasi (nilai p = 0,174) dan pengalaman ( nilai p = 0,052). Ada hubungan yang bermakna antara faktor pekerjaan (dengan nilai p = 0,000)  dengan tingkat pengetahuan ibu tentang keputihan.Pengetahuan ibu tentang keputihan di kota Manado adalah baik.  Pada penelitian ini hanya pekerjaan yang memiliki hubungan bermakna dengan tingkat pengetahuan ibu tentang keputihan. Kata kunci: keputihan, pengetahuan.
Gambaran Sebab Kematian pada Kasus Ekshumasi di Sulawesi Utara dan Gorontalo Tahun 2016-2018 Lumuhu, Adi W. S.; Kristanto, Erwin; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.26782

Abstract

Abstract: Exhumation is removing buried corpse to reidentify the corpse due to suspicion of the cause of death by the authorities. This study was aimed to obtain the causes of deaths of exhumated cases in North Sulawesi and Gorontalo during years 2016 to 2018. This study was conducted at the Forensic Medicine and Medicolegal Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a descriptive and retrospective study using data of Visum et Repertum. There were 10 exhumated cases during those years. Most cases were male (5 cases ~ 50%). The dominating sex was male (6 cases ~ 60%). The highest number of age was 14 years (3 cases ~ 30%). Of 10 exhumated cases, the causes of deaths could be determined in 8 cases. The most fequent causes of deaths was blunt trauma on the head that caused brain tissue injuries (4 cases ~ 40%). In two baby corpses, the causes of deaths could not be determined since both lungs were decomposed and the other baby was a stillbirth. In conclusion, most death causes of exhumated cases in North Sulawesi and Gorontalo registered during years 2016 to 2018 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado could be determinedand and the main cause of death was blunt trauma on the head that caused brain tissue injuryKeywords: exhumation, cause of death Abstrak: Ekshumasi adalah penggalian jenazah untuk mengidentifikasi kembali jenazah karena timbulnya kecurigaan terhadap kematian seseorang oleh pihak berwenang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sebab kematian pada kasus ekshumasi di Sulawesi Utara dan Gorontalo tahun 2016-2018. Penelitian dilakukan di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan hasil Visum et Repertum. Hasil penelitian mendapatkan 10 kasus ekshumasi selama tahun 2016-2018. Kasus terbanyak yaitu pada tahun 2016 yaitu 5 kasus (50%). Jenis kelamin jenazah didominasi oleh laki-laki sebanyak 6 kasus (60%). Usia terbanyak ialah 14 tahun berjumlah 3 kasus (30%). Dari 10 kasus ekshumasi, 8 kasus dapat ditentukan sebab kematian dengan sebab kematian terbanyak ialah kekerasan tumpul pada bagian kepala yang menyebabkan kerusakan jaringan otak pada 4 kasus (40%). Pada dua kasus bayi, sebab kematian tidak dapat ditentukan karena kedua paru sudah sangat membusuk sedangkan bayi lainnya lahir tidak bernapas. Simpulan penelitian ini ialah secara keseluruhan sebab kematian pada kasus ekshumasi di Sulawesi Utara dan Gorontalo yang masuk di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou tahun 2016-2018 dapat diungkapkan dengan kekerasan tumpul pada bagian kepala yang menyebabkan kerusak-an jaringan otak sebagai sebab kematian utama.Kata kunci: ekshumasi, sebab kematian

Page 47 of 108 | Total Record : 1074