cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Hubungan anemia dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisis reguler Senduk, Cindy R.; Palar, Stella; Rotty, Linda W. A.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10941

Abstract

Abstract: The objective of this study is to determine the correlation between anemia and quality of life in chronic kidney disease patients undergoing regular hemodialysis. This was an observational analytical study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using consecutive sampling. Patients’ quality of life was assessed with short-form 36 questionnaires (SF-36) while their Hb levels data were taken from the medical records. There were 60 samples, with a majority age range of 50-59 years old (33.33%) adn the dominant gender was males (68,3%). There were 13 non-anemia patients (22%), 27 mild anemia patients (45.0%), 15 moderate anemia patients (25.0%) and 5 severe anemia patients (8%). The highest quality of life score obtained was 90.70 with an average score 61.99. The Spearman correlation test showed a correlation between anemia and life quality (p=0.000). Conclusion: There was a significant correlation between anemia and quality of life in chronic kidney disease patients undergoing regular hemodialysis.Keywords: chronic kidney disease, hemodialysis, anemia, quality of life Abstrak: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan anemia dengan kualitas hidup pasien PGK yang sedang menjalani hemodialisis reguler. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan rancangan studi potong silang (cross sectional study). Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu consecutive sampling. Data kualitas hidup pasien diukur dengan pertanyaan dalam kuesioner Short Form (SF-36) sedangkan kadar Hb diambil dari rekam medik. Hasil dari penelitian ini didapatkan sampel 60 orang, usia terbanyak 50-59 tahun (33,3%), jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (68,3%), tidak anemia 13 orang (22%), anemia ringan 27 orang (45,0%), 15 orang (25,0%) anemia sedang dan sisanya 5 orang (8%) anemia berat. Skor kualitas hidup tertinggi 90,70 dengan rata-rata 61,99. Uji korelasi spearman didapatkan hubungan antara anemia dengan kualitas hidup (p=0,000). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara anemia dengan kualitas hidup pasien PGK yang sedang menjalani hemodialisis reguler.Kata kunci: penyakit ginjal kronik, hemodialisis, anemia, kualitas hidup
PENGARUH BISING TERHADAP AMBANG PENDENGARAN PADA KARYAWAN YANG BEKERJA DI TEMPAT MAINAN ANAK MANADO TOWN SQUARE Tumewu, Billy; Tumbel, R.; Palandeng, O
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.4697

Abstract

Abstrak: Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya disebabkan oleh bising di lingkungan kerja. Bising di lingkungan kerja adalah masalah utama pada kesehatan kerja di berbagai negara termasuk Indonesia.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bising mesin permainan terhadap ambang pendengaran. Metode yang digunakan adalah metode analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional study. Sampel sebanyak 20 orang yang diambil dari pekerja di tempat bermain anak Timezone dan Amazone. Data diperoleh melalui tanya jawab dan pemeriksaan  fungsi pendengaran dengan mengunakan audiometri. Data dianalisis dengan menggunakan Statistical Program Product and Service Solution (SPSS) dan menggunakan uji fisher exact. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat gangguan pendengaran sebesar 40 % dari jumlah seluruh pekerja di tempat bermain Timezone dan Amazone di kota Manado. Pekerja dengan intensitas bising tinggi serta dengan lama kerja ≥ 10 tahun mempunyai resiko lebih besar menderita gangguan pendengaran dibandingkan dengan pekerja yang bekerja dengan intensitas bising yang rendah serta dengan lama kerja < 10 tahun. Data yang diperoleh melalui uji fisher exact menunjukan nilai p=0,014 (p<0,05) yang berarti data ini signifikan. Hal ini membuktikan bahwa adanya pengaruh bising terhadap gangguan ambang pendengaran. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lama kerja dengan intensitas bising (≥85 dB) mempunyai hubungan dengan terjadinya gangguan pendengaran. Kata Kunci: Pekerja Timezone dan Amazone, Bising, Pendengaran     Abstract: Noise-induced hearing disorder is hearing disorder caused by long-term exposure of high intensity noise and usually occurred in working environment. Noise in working environment is one of the main problem in occupational health in many countries including Indonesia. The relationship between excessive noise exposure and hearing loss was known since ancient times. The purpose of this study is to find out the effect of machine’s noise to hearing threshold. Metodology used in this study was analytic with cross-sectional design. Samples in this study was 20 workers from children’s playground “Timezone” and “Amazone”. Data taken from direct interview and hearing function assessment using audiometry. Data was analyzed using Statistical Program Product and Service Solution (SPSS) and using fisher exact test. Result of this study shown that there are hearing loss in 40% of samples. Workers exposed with high intensity noise and work ≥ 10 years has increased risk of hearing loss compared to workers exposed with lower intensity noise and work <10 years. Data obtained by fisher exact test show value p=0,014 (p<0,05) indicating the data were significant. This test also showed that there is effect of machine’s noise to hearing threshold. Based on this study, it can be concluded that there is relationship between worktime and noise intensity (>85 dB) with occurrence of hearing loss. Keyword: Timezone and Amazone worker, Noise, Hearing
PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 – MEI 2014 Khasanah, Rhiza; Mahama, Corry N.; Runtuwene, Theresia
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7478

Abstract

Abstract: Epilepsy is one of the oldest neurological diseases, found in all ages, and can cause impairment and mortality. Epilepsy is still a major public health problem, not only because of its health implications but also for its connotations in social, cultural, psychological, and economic life. This study aimed to obtain a description of patients with epilepsy in Neurology Clinic of Prof. Dr. RD Kandou Manado General Hospital, period of June 2013 - May 2014. The method used in this study was descriptive retrospective. The results showed that the number of epileptic patients was higher in males than in females. By the age group age, it was found that epileptic patients in young adult age group were the most frequent. By the level of education, it was found that patients with epilepsy were more common high school graduated. By the type of work; it was found that a lot of patients with epilepsy had no ocuupation yet and were still students/college students. Patients with partial seizure type (focal) epilepsy were the most commonly found. By past medical history, it was found that most patients had experienced seizures. The most common treatment for epileptic patients was monotherapy antiepileptic drugs..Keywords: epilepsy, seizureAbstrak: Epilepsi adalah salah satu penyakit neurologi tertua, ditemukan pada semua umur dan dapat menyebabkan hendaya serta mortalitas. Epilepsi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama, bukan hanya karena implikasi kesehatan tetapi juga untuk konotasi sosial, budaya, psikologis dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penyandang epilepsi di Poliklinik Saraf RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado periode Juni 2013 – Mei 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan penyandang epilepsi laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Berdasarkan golongan usia, terbanyak ditemukan pada golongan usia dewasa muda. Berdasarkan tingkat pendidikan, terbanyak ditemukan pada lulusan SMA. Dilihat dari jenis pekerjaannya, banyak penyandang epilepsi yang belum bekerja dan masih berstatus sebagai pelajar/mahasiswa. Penyandang epilepsi dengan jenis bangkitan parsial (fokal) paling banyak ditemukan dari pada penyandang epilepsi dengan jenis bangkitan umum. Berdasarkan riwayat penyakit dahulu terbanyak terdapat pada riwayat penyakit dahulu dengan kejang. Pengobatan tersering yang dilakukan terhadap penyandang epilepsi ialah dengan monoterapi obat-obat anti epilepsi.Kata kunci: epilepsi, kejang
POLA PENYAKIT PASIEN RAWAT JALAN DI POLIKLINIK TELINGA, HIDUNG, TENGGOROK - BEDAH KEPALA LEHER BLU RSU PROF. DR. R.D. KANDOU – MANADO PERIODE JANUARI 2010 - DESEMBER 2012 Pembobo, Elisa E. B.; Mengko, Steward K.; Pelealu, Olivia C. P.
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i3.3590

Abstract

Abstract: Health has a great role in improving people's lives. The health system itself is all the activities that have the primary purpose of improving, repairing, or health care. Many things affect the health system in Indonesian as a developing country, among others is people's behavior. This can make the health system spending more responsive to local conditions and the diversity of disease patterns. Moreover, it can also result in the increase of regional disparities of health financing and reduced health information of national importance. This study aimed to determine the pattern of disease in the polyclinic ENT-HN Prof. Dr. R.D. Kandou General Hospital during January 2010 - December 2012. This was a retrospective descriptive study. The highest number of patients was in 2011 which was 2305 patients. The most common disease found in 2010 was obturans wax. In 2011 and 2012, the most common disease was otitis externa. During the period 2010-2012, the highest frequencies were among civilized employees, females, and aged 45-64 years. Conclusion: There were 10 diseases with the highest frequency during 2010-2012. In 2010, obturans wax was the most frequent cases, followed by otitis externa, sinusitis, chronic pharyngitis, acute pharyngitis, rhinitis, corpus alienum MAE, presbyakusis, acute rhinitis, and acute otitis media. In 2011, otitis externa was the most common disease, followed by obturans wax, chronic pharyngitis, sinusitis maxilaris, chronic purulent otitis media, allergic rhinitis, presbyacusis, corpal, and laryngitis. In 2012, otitis externa was still the most frequent, followwed  by obturans wax, chronic pharyngitis, sinusitis maxilaris, presbyacusis, chronic purulent otitis media, allergic rhinitis, laryngitis, and chronic rhinitis Keywords: disease patterns, outpatient, ENT-HN    Abstrak: Kesehatan berperan besar dalam meningkatkan derajat hidup masyarakat. Sistem kesehatan sendiri merupakan semua aktivitas yang memiliki tujuan utama meningkatkan, memperbaiki, atau merawat kesehatan. Banyak hal yang memengaruhi sistem kesehatan di Indonesia sebagai suatu negara berkembang; salah satunya ialah perilaku masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan pengeluaran kesehatan menjadi lebih responsif terhadap kondisi lokal dan keragaman pola penyakit; selain itu, dapat juga berdampak pada meningkatnya ketimpangan pembiayaan kesehatan secara regional dan berkurangnya informasi kesehatan yang penting secara nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola penyakit di poliklinik THT-KL BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou periode Januari 2010 - Desember 2012. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kunjungan terbanyak pada tahun 2011 yaitu 2305 orang. Pada tahun 2010, penyakit tersering ditemukan serumen obturans. Tahun 2011 dan 2012, penyakit tersering ditemukan ialah otitis eksterna. Pada periode 2010-2012 pekerjaan pasien yang tertinggi ialah PNS, jenis kelamin perempuan, dan usia 45 – 64 tahun. Simpulan: Terdapat 10 jenis penyakit dengan frekuensi terbanyak. Pada periode 2010 secara berurut (mulai dari kunjungan tersering), yaitu: serumen obturans, otitis eksterna, sinusitis, faringitis kronik, faringitis akut, rinitis alergi, korpus alienum, presbiakusis, rinitis akut, dan otitis media akut. Pada periode 2011, yaitu: otitis eksterna, serumen, serumen obturans, faringitis kronik, sinusitis maksilaris, OMPK, rinitis alergi, presbiakusis, korpal, laringitis. Pada periode 2012, yaitu: otitis eksterna, serumen, serumen obturans, faringitis kronik, sinusitis maksilaris, presbiakusis, OMPK, rinitis alergi, laringitis, dan rinitis kronik. Kata kunci: pola penyakit, rawat jalan, THT-KL
KESEHATAN TENGGOROK SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 9 MANADO Koagouw, Gabriella A.; Mengko, Steward K.; Sondakh, Armenius R.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10973

Abstract

Abstract: The most throat health problem is inflammation. Around 80% of sore throat are caused by viruses and only 10-20% are caused by bacteria. The types of inflammation found on the throat are tonsillitis and pharyngitis. This study aimed to obtain data of throat health among students of SMA Negeri 9 (Senior High School) Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Respondents were 10th grade students of SMA Negeri 9 Manado. The results showed that most respondents had normal tonsil and pharynx. Conclusion: Most students of SMA Negeri 9 Manado had good throat health status. Keywords: throat health status, tonsil examination, pharynx examination Abstrak: Masalah kesehatan pada tenggorok yang terbanyak ditemukan ialah peradangan. Sekitar 80% radang tenggorok disebabkan oleh virus dan hanya 10-20% disebabkan oleh bakteri. Peradangan yang sering ditemukan pada tenggorok ialah tonsilitis dan faringitis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kesehatan tenggorok pada siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden ialah siswa-siswi kelas X.4 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya responden mempunyai tonsil dan faring yang normal. Simpulan: Umumnya gambaran kesehatan tenggorok pada siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Manado baik.Kata kunci: kesehatan tenggorok, pemeriksaan tonsil, pemeriksaan faring
Karakteristik kehamilan dan persalinan pada usia Abdurradjak, Karlin; Mamengko, Linda M.; Wantania, John J.E.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12225

Abstract

Abstract: Age is an important factor to determine the prognosis of pregnancy. Globally, the complications of pregnancy and childbirth are the second leading cause of death in women aged 15 to 19 years. Maternal death in pregnant women and childbirth at the age below 20 years is 2 to 5 times higher than at the age of 20 to 29 years and increases again at the age of 30 to 35 years. Around 20-30% of women under 20 years old especially in primiparity have higher risk of having low birth weight (LBW) babies and fetal malformation is the cause of perinatal mortality. This study aimed to determine characteristics of pregnancy and childbirth at age <20 years in Obstetrics and Ginecology Department at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado from January 1, 2013 to December 31, 2014. This was a retrospective descriptive study using patients' medical record, parturition book, and some datas from the sub-section perinatology. Samples were all mothers who gave birth at age <20 years in Obstetrics and Gynecology department at Prof. Dr. R. D. Kandou hospital, Manado from January 1, 2013 to December 31, 2014. The results showed that there were 1,066 cases of age <20 years from 8,499 childbirths, most were 18-19 years old without any complications. About childbirth, most had head fetal presentation, spontaneous childbirth,, and birth weight 2500-3000 grams. Keywords: pregnancy, childbirth, age <20 years Abstrak: Usia merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan prognosa kehamilan. Secara global komplikasi kehamilan dan persalinan merupakan penyebab kedua kematian pada wanita di usia 15 sampai 19 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan di usia di bawah 20 tahun diperkirakan 2-5 kali lebih tinggi dari pada di usia 20 sampai 29 tahun dan meningkat kembali di usia 30-35 tahun. Sekitar 20-30% wanita yang berusia dibawah 20 tahun terutama pada primipara berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) serta mengalami malformasi janin yang merupakan penyebab kematian perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kehamilan dan persalinan pada usia < 20 tahun dibagian Obstetri Ginekologi RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2013-31 Desember 2014. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. menggunakan rekam medis pasien, buku partus, dan data dari sub bagian perinatologi. Sampel penelitian ialah semua ibu yang melahirkan pada usia <20 tahun di bagian Obstetri dan Ginekologi di RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2013 – 31 Desember 2014. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat 1.066 kasus persalinan pada usia <20 tahun dari 8.499 total persalinan dan paling banyak terjadi pada kelompok usia 18-19 tahun, tanpa komplikasi kehamilan maupun persalinan. Mengenai persalinan, yang paling sering ditemukan ialah presentasi janin letak kepala, persalinan spontan, dengan berat badan lahir 2500-3000 gram.Kata kunci: kehamilan, persalinan, usia < 20 tahun
Hubungan asam urat dan HbA1c pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang dirawat inap di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Guntur, .; Ongkowijaya, Jeffrey; Wantania, Frans E.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14597

Abstract

Abstrak: Diabetes mellitus is a metabolic disorder with characteristics of hyperglycemia that occurs due to abnormalities in insulin secretion, action or both. Uric acid is the end product of purine metabolism. Uric acid has been identified as a marker for a metabolic number and hemodynamic abnormalities. In diabetic patients, there is biochemical interaction between serum glucose and purine metabolism, with increased excretion of uric acid during hyperglycemia and glycosuria. Another theory explained that the increase of inflammatory response on diabetes mellitus may have a direct protective effect toward incidences of gout and hyperuricemia which directly produces an intense inflammatory response on uric crystallines containing antioxidant effects and free radical. HbA1C is a bond between glucose and hemoglobin. HbA1c examination is a standard for measuring the long-term glycemic value in diabetic patients. This study was aimed to determine the correlation of uric acid and HbA1C in patients with type 2 diabetes mellitus. The study was an analytical cross sectional. Sample selection was done by simple random sampling method. Data sources were secondary data from medical records of patients with type 2 diabetes mellitus who are hospitalized. The result of Spearman correlation analysis on the correlation of uric acidand HbA1C showed r value = -0.211 and p = 0.263 (p>α). Conclusion: There was no correlation between uric acid and HbA1C in patients with type 2 diabetes mellitus.Keywords: Type 2 diabetes mellitus, uric acid, HbA1C Abstrak: Diabetes melitus merupakan suatu kelompok metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin. Asam urat telah diidentifikasi sebagai penanda dari beberapa abnormalitas metabolik dan hemodinamik. Pada pasien diabetes melitus, dijumpai interaksi biokimiawi antara glukosa serum dan metabolisme purin, dengan peningkatan ekskresi asam urat selama hiperglikemia dan glikosuria. Teori lain menjelaskan bahwa meningkatnya respons inflamasi pada DM mungkin secara langsung justru memiliki efek protektif terhadap kejadian gout dan hiperurisemia yang secara langsung menghasilkan respons inflamasi yang intens terhadap kristal urat yang memiliki efek anti oksidan dan radikal bebas. HbA1C merupakan ikatan antara glukosa dengan hemoglobin. Pemeriksaan HbA1C merupakan standard dalam pemeriksaan kadar gula darah jangka panjang pada penyandang diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asam urat dan HbA1C pada penderita diabetes melitus tipe 2. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Sumber data merupakan data sekunder dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat inap. Hasil analisis korelasi spearman pada hubungan asam urat dengan HbA1c memperoleh nilai r = -0,211dan p = 0,263 (p > α). Simpulan: Tidak terdapat hubungan asam urat dengan HbA1C pada penderita diabetes melitus tipe2. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, asam urat, HbA1C
Hubungan kelahiran prematur dengan penyakit jantung bawaan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode tahun 2013-2014 Binalole, Vivi N.; Kaunang, Erling D.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11002

Abstract

Abstract: Preterm birth is all births before 37 completed weeks of gestation since the first day of a woman's last menstrual period. In the maturation of all organs of preterm birth has not been achieved so well that it may cause disruption, one of them is called the heart of congenital heart disease. Congenital heart disease is a problem with the heart's structure and function that is present at birth. The study aimed is to examine the relationship between preterm birth with congenital heart disease. This studied was conducted using observational analytic study design with a retrospective approach. The studied sample was children who were born Preterm in the Section of Child Health Prof. Dr R. D Kandou Manado diagnosed with congenital heart disease in 2013-2014. The study population numbered 353 children born prematurely, the sample fulfilled inclusion criteria are children born prematurely with CHD totaling 35 samples, and 30 samples were taken comparators. The assay used in this study is the Fisher Exact Test, produces a value p = 0.011 <α = 0.05, which indicates there is a significant relationship between preterm birth with congenital heart disease. Conclusion: There was a significant relationship between preterm birth with congenital heart disease.Keywords: Preterm birth, congenital heart diseaseAbstrak: Kelahiran prematur adalah semua kelahiran sebelum 37 minggu masa kehamilan sejak hari pertama haid terakhir seorang wanita. Pada kelahiran prematur kematangan semua organ belum tercapai dengan baik sehingga dapat menyebabkan gangguan, salah satu diantaranya yaitu jantung yang disebut PJB. Penyakit jantung bawaan (PJB) sendiri adalah permasalahan pada struktur jantung yang tampak setelah kelahiran. Tujuan penelititan ini adalah mengetahui hubungan antara kelahiran prematur dengan penyakit jantung bawaan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian yaitu anak yang lahir prematur di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang terdiagnosis PJB pada tahun 2013-2014. Populasi penelitian berjumlah 353 anak yang lahir prematur, sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yaitu anak yang lahir prematur dengan PJB berjumlah 35 sampel, dan diambil 30 sampel pembanding . Uji yang digunakan pada penelitian ini adalah Uji Fisher Exact, menghasilkan nilai p = 0,011 < α = 0,05, yang menunjukan ada hubungan yang bermakna antara kelahiran prematur dengan PJB. Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara kelahiran prematur dengan PJB.Kata kunci: Kelahiran prematur, PJB
Angka Keberhasilan Terapi Reperfusi pada Pasien ST Elevasi Miokard Infark Ermiati, . .; Rampengan, Starry H.; Joseph, Victor F.F
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18279

Abstract

Abstract: ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) is a kind of acute myocardial infarctions (AMI) with a high rate of mortality. Patients with STEMI are usually treated with reperfusion therapy consisting of primary percutaneous coronary intervention (primary PCI) and fibrinolytic therapy. This study was aimed to determine the success rate of reperfusion therapy in patients with STEMI at Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado from January to December 2016. This was a descriptive observational study with a retrospective approach. Samples were patients with STEMI treated with reperfusion therapy at Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado from January to December 2016, obtained by using consecutive sampling method. There were 73 patients in this study consisted of 82.2% of males and 17.8% of females. Most patients were >60 years old; 39.0% treated with primary PCI and 43.8% with fibrinolytic therapy. According to duration of therapy administration, most primary PCI were given at >90 minutes (80.5%) and fibrinolytic therapy at >30 minutes (75%). The success rate of primary PCI was higher in patients treated at ≤90 minutes (100%) compared to patients treated at >90 minutes. Moreover, the success rate of fibrinolytic therapy was higher in patients treated at ≤30 minutes (100%) compared to patients treated at >30 minutes (75%). Ventricular tachycardia (34.6%) was the most common type of reperfusion arrhythmia. Conclusion: The success rate of reperfusion therapy (primary PCI and fibrinolytic) in STEMI patients was higher if it was administered according to the optimum recommendations and targets.Keywords: STEMI, success rate of reperfusion therapy Abstrak: ST elevasi miokard infark (STEMI) merupakan jenis infark miokard akut (IMA) dengan mortalitas yang tinggi. Penatalaksanaan pasien STEMI dilakukan dengan terapi reperfusi yang terdiri primary percutaneous coronary intervention (primary PCI) dan fibrinolitik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka keberhasilan terapi reperfusi pada pasien STEMI di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian ialah pasien STEMI yang menerima terapi reperfusi, dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2016, yang diperoleh dengan teknik consecutive sampling. Dari total 73 pasien STEMI didapatkan pasien berjenis kelamin laki-laki (82,2%) lebih banyak dibandingkan perempuan (17,8%). Kelompok usia terbanyak ialah >60 tahun; 39,0% untuk terapi primary PCI dan 43,8% untuk terapi fibrinolitik. Waktu dilakukannya terapi reperfusi terbanyak dengan waktu terapi >90 menit untuk terapi primary PCI (80,5%) dan >30 menit (75%) untuk terapi fibrinolitik. Angka keberhasilan terapi primary PCI <90 menit lebih tinggi (100%) dibandingkan dengan terapi primary PCI >90 menit (96,6%), dan angka keberhasilan terapi fibrinolitik <30 menit lebih tinggi (100%) dibandingkan dengan terapi fibrinolitik >30 menit (75%). Jenis aritmia reperfusi ditemukan terbanyak ialah aritmia ventrikel takikardi 34,6%). Simpulan: Angka keberhasilan terapi reperfusi (primary PCI dan fibrinolitik) pada pasien STEMI lebih tinggi jika dilakukan tepat waktu sesuai dengan sasaran terapi optimal.Kata kunci: STEMI, angka keberhsilan terapi reperfusi.
PENGARUH LINGKUNGAN DAN TEMPAT TINGGAL PADA PENYAKIT ANAK UMUR 5 – 14 TAHUN DI KOTA BIAK TAHUN 2013 Kaidel, Grace A. D.; Warouw, Sarah M.; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6427

Abstract

Abstract: Malaria is a disease of the symptoms of acute or chronic infection caused by Plasmodium, characterized by recurrent fever, chills, sweating, anemia and hepatosplenomegali. In Indonesia, malaria is still a major infectious disease, especially the East part. The most frequently found plasmodia are Plasmodium falciparum and Plasmodium malaria vivax. Risk factors are malnutrition, the state of the neighborhood around the bush, rice fields, ditches or gutters with puddle air. According to the Biak Health Department in January-December 2012 there were 3608 cases of malaria in 190 villages and the most commonly found was Plasmodium vivax. This was a descriptive observational study using cross-sectional study design. This study was done once in every neighborhood with diagnosed malaria patients. Samples were children aged 5-14 years who were diagnosed with malaria in public hospitals and health centers in Biak during October to December 2013, and the parents approved the form of a questionnaire study. Conclusion: In Biak, boys aged 5-7 years had the highest percentage of malaria. Environmental factors that affected might be the condition of house ventilation, not using repellent or mosquito nets, opened water reservoirs, puddle areas, bushes, and landfills around the houses.Keywords: malaria, children, environmentAbstrak: Malaria adalah penyakit infeksi akut atau kronis yang disebabkan oleh Plasmodium, ditandai dengan gejala demam rekuren, menggigil, berkeringat, anemia dan hepatosplenomegali. Di Indonesia, malaria masih merupakan penyakit infeksi utama khususnya dibagian Timur. Di kawasan Indonesia Timur plasmodia yang sering ditemukan ialah plasmodia falciparum dan vivax. Faktor risiko terkena malaria yaitu kekurangan gizi, keadaan lingkungan tempat tinggal disekitar semak belukar, persawahan, dan parit atau selokan dengan genangan air. Menurut Laporan Dinas Kesehatan Kota Biak penyakit malaria pada Januari-Desember tahun 2012 berjumlah 3608 kasus dengan jumlah 190 desa yang tertular. Malaria yang sering ditemukan yaitu plasmodium vivax. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan dan tempat tinggal pada penyakit malaria anak di Kota Biak, dengan rancangan potong lintang. Penelitian hanya dilakukan satu kali pada setiap lingkungan dan tempat tinggal pasien yang terdiagnosis malaria. Sampel ialah anak umur 5-14 tahun yang terdiagnosis malaria di RSU dan Puskesmas di Kota Biak selama bulan Oktober – Desember 2013 dan orang tua menyetujui penelitian berupa kuesioner. Simpulan: Di kota Biak, anak laki – laki berumur 5 – 7 tahun yang terbanyak terkena penyakit malaria. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor lingkungan antara lain ventilasi rumah yang tidak menggunakan kawat kasa, adanya genangan air dan terdapat semak- semak disekitar rumah, tidak memakai kelambu dan obat nyamuk saat tidur, tempat penampungan air yang tidak tertutup, dan tempat pembuangan sampah disekitar rumah.Kata kunci: malaria, anak, lingkugan

Page 72 of 108 | Total Record : 1074