cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
KADAR MEAN CORPUSCULAR VOLUME (MCV) PADA PENGGUNA ALKOHOL MENAHUN DI DESA RURUKAN KECAMATAN TOMOHON TIMUR Mokoagow, Nanang A.; Supit, Siantan; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i2.8772

Abstract

Abstract: Chronic consumption of alcohol in large enough quantity can cause a variety of health problems, one of them is anemia. Maximum blood alcohol level is achieved in 30-90 minutes. This study aimed to obtain the level of Mean Corpuscular Volume (MCV) among alcohol consumers in Rurukan village, Tomohon. This was a descriptive study with a cross sectional design. The level of MCV was measured by using ABX tool Petra XL 80. The results showed that there were 30 respondents in this study. Most of the respondents were in age group 46-55 years (63%), worked as labours/motor drivers (80%), and the durations of alcohol consumption were 7-10 years and 11-15 years with an average of MCV level of 88.62 fL (within normal limit). Conclusion: The average of MCV level of chronic alcohol consumers in Rurukan village, Tomohon, was still within normal limit.Keywords: chronic alcohol consumption, MCVAbstrak: Penggunaan alkohol yang lama dan dalam jumlah cukup besar dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, salah satunya anemia. Kadar alkohol maksimum dalam darah dicapai 30-90 menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar MCV pada pengguna alkohol menahun di Desa Rurukan Kecamatan Tomohon Timur. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan potong lintang. Pemeriksaan kadar MCV menggunakan alat BAX Petra XL 80. Hasil penelitian memperlihatkan dari 30 responden yang terbanyak terdapat pada kelompok umur 46-55 tahun (63%), pekerjaan sebagai buruh/ojek (80%), dan lama mengonsumsi alkohol 7-10 tahun dan 11-15 tahun dengan rerata kadar MCV 88,62 fL (dalam batas normal). Simpulan: Rerata kadar MCV pengguna alkohol menahun di Desa Rurukan Kecamatan Tomohon Timur masih dalam batas normal.Kata kunci: konsumsi alkohol menahun, MCV
Gambaran glukosa urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Girsang, Wilson F.C.; Rambert, Glady I.; Wowor, Mayer
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14651

Abstract

Abstract: Urinalysis is urine testing to see substances contained in the urine. This test helps to diagnose, monitor disease progression and the effectiveness of therapy. Urinalysis can be done fast, accurate, safe, and cost effective. This study was aimed to investigate the characteristics of urinary glucose levels in adult patients with pulmonary tuberculosis in the department. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This was an observational descriptive study conducted at the Pulmonary Clinic and Inpatient Department of Internal Medicine. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Samples were urine samples from all patients during pulmonary tuberculosis who met the inclusion criteria. Patients with pulmonary tuberculosis were asked to sign the informed consent followed by anamnesis and urine sampling. Urine samples were examined in Pro-Kita laboratory Manado. Urine glucose tests were performed using the reagent test strips and checked using Siemens Clinitek Status® Instruments + Analyzer. Conclusion: Of 32 patients with lung tuberculosis who met the inclusion criteria, there were 7 patients (21.88%) that had glucose in the their urine.Keywords: urinalysis, glycosuria, pulmonal tuberculosis. Abstrak: Urinalisis adalah pengujian urin untuk melihat zat-zat yang terkandung dalam urin. Pengujian ini membantu mendiagnosis, memantau perkembangan penyakit, dan efektifitas terapi. Urinalisis dilakukan dengan cepat, akurat, aman, dan hemat biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kadar glukosa urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional. Penelitian dilaksanakan di Poliklinik Paru dan rawat inap bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel penelitian ialah sampel urin sewaktu dari semua pasien tuberkulosis paru yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien tuberkulosis paru diminta untuk menandatangani informed consent diikuti dengan anamnesis dan pengambilan sampel urin yang diperiksa di Laboratorium Pro-Kita Manado. Pemeriksaan glukosa urin dilakukan dengan menggunakan reagent strip test dan dibaca dengan menggunakan Instrumen Siemens Clinitek Status®+ Analyzer. Simpulan: Dari 32 pasien dengan penyakit tuberkulosis paru yang memenuhi kriteria inklusi terdapat 7 pasien (21,88%) dengan glukosa urin. Kata kunci: urinalisis, glukosuria, tuberkulosis paru
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK TINTA CUMI-CUMI (LOLIGO SP) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Rahayu, Mayangsari P.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
eBiomedik Vol 7, No 2 (2019): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.7.2.2019.23876

Abstract

Abstract: Mouthwash could inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria in the oral cavity. Albeit, the most widely used today is mouthwash containing clorhexidine that has side effects in prolonged use. Therefore, it is necessary to find new agents as an alternative antibacterial, especially against Staphylococcus aureus. Squid ink is one of the best known seafood used as alternative medicine which has a wide range of therapeutic applications. This study was aimed to evaluate the inhibitory effect of squid ink extract (Loligo sp) on the growth of S. aureus. This was a true experimental study with a post test only control group design. We used modified Kirby-Bauer method using filter papers. Ciprofloxacin antibacterial was used as the positive control and aquadest as the negative control. Extract of squid ink (Loligo sp) and stock of pure bacteria S. aureus bacteria were prepared. The results showed that mean of zone of inhibition of the squid ink extract (Loligo sp) was 11.22 mm which was less than the zone of inhibition of ciprofloxacin. In conclusion, the squid ink extract (Loligo sp) had a moderate inhibitory effect (Himedia category) on the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: extract of squid ink (Loligo sp), Staphylococcus aureus, inhibitory effectAbstrak: Salah satu cara penanganan bakteri Staphylococcus aureus dalam rongga mulut ialah dengan menggunakan obat kumur. Yang banyak digunaakan saat ini yaitu obat kumur yang mengandung clorhexidine dengan efek samping bila digunakan secara berkepanjangan. Oleh karena itudiperlukan penelitian terhadap agen baru sebagai alternatif antibakteri khususnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Tinta cumi-cumi merupakan salah satu hasil laut yang dikenal dalam dunia pengobatan alternatif serta memiliki jangkauan yang luas pada aplikasi terapeutik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) terhadap pertumuhan bakteri S. aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu metode modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan kertas saring. Kontrol positif menggunakan antibakteri siprofloksasin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Pada penelitian ini digunakan ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) dan stok bakteri murni S. aureus. Hasil penelitian mendapatkan bahwa diameter rerata zona hambat dari ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus sebesar 11,22 mm namun diameter tersebut lebih kecil daripada diameter zona hambat siprofloksasin. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) memiliki daya hambat kategori sedang (Himedia) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus.Kata kunci: tinta cumi-cumi (Loligo sp), bakteri Staphylococcus aureus, daya hambat
IDENTIFIKASI BAKTERI AEROB PADA MAKANAN JAJANAN JAGUNG BAKAR DI PINGGIRAN JALAN RING ROAD MANADO Porotu’o, Andreano Ch.; Buntuan, Velma; Rares, Fredine
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6614

Abstract

Abstract: Corn is a food that is usually made in the form of roasted corn. Microbial contamination in food can through environmental pollution, behavior management of food, equipment processing, processing space and seasonings. Contaminated food can cause food poisoning. The purpose of this research is to determine the aerobic bacteria in roasted corn street food on the outskirts of the Ring Road Street Manado. This research used a prospective descriptive method. Samples taken are roasted corn, with a total sample of 20 samples and sampling method using random sampling method, then performed the isolation and identification of bacteria. The results of the research from 10 samples of roasted corn not smeared seasonings showed 1 sample no growth and 9 samples growth, i.e. Bacillus subtilis, Enterobacter agglomerans, Serratia rubidaea, Lactobacillus sp., Gram-negative coccus, and Enterobacter cloacae, then 10 samples of roasted corn smeared seasonings showed 1 sample no growth and 9 samples growth, i.e. Bacillus subtilis, Enterobacter agglomerans, Serratia rubidaea, Lactobacillus sp., Enterobacter cloacae, Streptococcus sp., and Pseudomonas sp. The conclusion of this research is the discovery of bacteria in roasted corn not smeared and smeared seasonings. This indicates that the processing is not hygienic.Keywords: Roasted Corn, Seasonings, Aerobic BacteriaAbstrak: Jagung merupakan bahan makanan yang biasanya dibuat dalam bentuk jagung bakar. Pencemaran mikroba pada makanan dapat melalui polusi lingkungan, perilaku pengelolaan makanan, alat-alat pengolahan, ruang pengolahan dan bumbu penyedap. Makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan keracunan makanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bakteri aerob pada makanan jajanan jagung bakar di pinggiran jalan Ring Road Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif prospektif. Sampel yang diambil adalah jagung bakar, dengan jumlah sampel sebanyak 20 sampel dan cara pengambilan sampel menggunakan random sampling method, kemudian dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Hasil penelitian dari 10 sampel jagung bakar tidak dioleskan bumbu penyedap menunjukkan 1 sampel tidak ada pertumbuhan dan 9 sampel ada pertumbuhan, yaitu terdiri dari Bacillus subtilis, Enterobacter agglomerans, Serratia rubidaea, Lactobacillus sp., Kokus gram negatif, dan Enterobacter cloacae, kemudian 10 sampel jagung bakar dioleskan bumbu penyedap menunjukkan 1 sampel tidak terdapat pertumbuhan dan 9 sampel terdapat pertumbuhan, yaitu terdiri dari Bacillus subtilis, Enterobacter agglomerans, Serratia rubidaea, Lactobacillus sp., Enterobacter cloacae, Streptococcus sp., dan Pseudomonas sp. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu ditemukannya bakteri pada jagung bakar tidak dioleskan dan dioleskan bumbu penyedap. Hal ini menandakan bahwa pengolahannya tidak higienis.Kata kunci: Jagung Bakar, Bumbu Penyedap, Bakteri Aerob
GAMBARAN HISTOLOGIK GASTER PADA HEWAN COBA SELAMA 24 JAM POSTMORTEM Lilingan, Megi; Kalangi, Sonny J.R.; Wangko, Sunny
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.12146

Abstract

Abstract: Studies about postmortem histological changes in stomach is still very limited. This study aimed to obtain histological changes of stomach in several time intervals during 24 hours postmortem. This is a descriptive study using pig as model. Samples of fundus tissue taken in several time intervals in postmortem were as follows: 0 hour, 1 hour, 2 hours, 3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, 7 hours, 8 hours, 9 hours, 12 hours, 14 hours, 16 hours, 18 hours, 20 hours, 22 hours, and 24 hours. The results showed that the earliest histological change was identified at 2 hours postmortem as fundic gland cell congestion. At 7 hours postmortem the contours of some fundic glands and borders of their cells were not distinct anymore, meanwhile their nuclei were dispersed among the remnants of fundic glands. At 18-24 hours postmortem, almost all fundic glands could not be indetified. Conclusion: The earliest histological change of stomach was identified at 2 hours postmortem as fundic gland cell congestion, followed by necrosis of fundic gland cells since 7 hours postmortem.Keywords: postmortem histological changes, fundic glands, postmortem interval Abstrak: Studi mengenai perubahan gambaran histologik gaster postmortem masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran histologik gaster berdasarkan variasi waktu selama 24 jam postmortem. Jenis penelitian ini deskriptif dengan menggunakan babi sebagai hewan coba. Sampel jaringan fundus diambil pada interval waktu 0 jam; 1 jam; 2 jam; 3 jam; 4 jam; 5 jam; 6 jam; 7 jam; 8 jam; 9 jam; 12 jam; 14 jam; 16 jam; 18 jam; 20 jam; 22 jam; 24 jam postmortem. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perubahan histologik gaster babi mulai teridentifikasi pada 2 jam postmortem sebagai kongesti kelenjar fundus. Pada 7 jam postmortem bentuk dari beberapa kelenjar fundus dan batas-batas sel tidak jelas, sementara itu inti sel mulai terpisah di antara sisa-sisa kelenjar fundus. Pada 18-24 jam postmortem, umumnya kelenjar fundus sudah tidak bisa diindentifikasi. Simpulan: Perubahan histologik awal dari gaster dapat diidentifikasi pada 2 jam postmortem dengan gambaran kongesti kelenjar fundus, diikuti oleh nekrosis kelenjar fundus sejak 7 jam postmortem. Kata kunci: perubahan histologik postmortem, kelenjar fundus, waktu postmortem.
Uji Efek Antibakteri Jamur Endofit Akar Bakau Rhizophora stylosa Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Sumampouw, Michele
e-Biomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i1.3694

Abstract

Abstract: The aim of this study is to investigate the antibacterial effect of endophytic fungi originated from the root of mangrove Rhizophora stylosa growing on Mangrove Plantation Area around DAS Simpang 5 Jl. Piere Tendean Manado. The method of this research was using combination of PDA and NA media. Two species of endophytic fungi were extracted from the root of R. stylosa, black mycelium fungi as isolate A and brown mycelium fungi as isolate B. The activities of both isolates were tested against pathogenic bacteria Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The result showed the same inhibition zone of isolate A and B to S. aureus, while, isolate A showed bigger the inhibition zone in comparison to isolate B against E. coli. As a conclusion, the endophytic fungi taken from the root of R. stylosa have antibacterial activity toward S. aureus and E. coli. Keywords: endophytic fungi, Rhizophora stylosa, antibacterial, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya efek antibakteri dari jamur endofit yang diambil dari akar bakau Rhizophora stylosa yang ditanam di sekitar Perairan Daerah Aliran Sungai Simpang Lima Jl. Piere Tendean Manado. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan kombinasi media Potato Dextrose Agar (PDA) dan Nutrient Agar (NA). Dari akar bakau R. stylosa diperoleh dua  jenis jamur endofit yaitu isolat A dengan karateristik miselium jamur berwarna hitam dan isolat B yang dengan karakteristik miselium berwarna coklat. Kedua isolat ini selanjutnya diujikan aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian menunjukkan isolat A dan B memberikan  zona hambat yang sama terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan pada bakteri Escherichia coli isolat A menunjukkan diameter zona hambat yang lebih besar dibandingkan isolat B. Kesimpulan, Jamur endofit yang diisolasi dari akar bakau R. Stylosa memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Kata kunci: jamur endofit, Rhizophopra stylosa, antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.
GAMBARAN MAKROSKOPIK DAN MIKROSKOPIK LIMPA PADA HEWAN COBA POSTMORTEM Goni, Lidya R.; Wongkar, Djon; Wangko, Sunny
eBiomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.1.2017.14849

Abstract

Abstract: Morphologic changes of dead cells of an organ may be used as one of the alternatives to determine the time of death. Studies about macroscopic and microscopic postmortem changes in organs related to estimation of time of death are still limited. This study was aimed to obtain the macroscopic and microscopic changes of spleen based on the variation of time intervals up to 48 hours postmortem. This was a descriptive observational study that used two domestic pigs as animal model. The results showed that the macroscopic changes in the spleen occurred at 5 hours postmortem, characterized by changes in color and length. The spleen looked darker and became shorter (15 cm to 14.5 cm). At 30 hours postmortem, whitish spots appeared on the surface of the spleen. The earliest microscopic changes occured at 5 hours postmortem, characterized by congestion of Malpighian corpuscles. At 24 hours postmortem, a lot of cells in the Malpighian corpuscles showed pyknotic nuclei, and at 48 hours postmortem, most of the cells in the Malpighian corpuscles had undergone karyorrhexis and karyolisis. Conclusion: The earliest macroscopic changes occured at 5 hours postmortem meanwhile the earliest microscopic changes occured at 5 hours postmortem as congestion of Mapighian corpuscles. The lymphocytes inside the corpuscles showed pyknotic nuclei at 24 hours postmortem and became karyorrhexis as well as karyolysis at 48 hours postmortem.Keywords: macroscopic and microscopic description, spleen, postmortem Abstrak: Perubahan morfologi sel mati dari suatu organ dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menentukan lama waktu kematian. Penelitian mengenai perubahan makroskopik dan mikroskopik postmortem dari organ-organ sebagai alternatif perkiraan waktu kematian belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran makroskopik dan mikroskopik limpa postmortem berdasarkan variasi waktu sampai 48 jam. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional menggunakan dua ekor babi domestik sebagai hewan coba. Hasil penelitian menunjukkan perubahan makroskopik limpa pada hewan coba mulai tampak pada 5 jam postmortem ditandai dengan perubahan warna dan panjang limpa. Limpa tampak lebih gelap dan menjadi lebih pendek (15 cm menjadi 14,5 cm). Pada 42 jam postmortem muncul bercak-bercak pucat pada permukaan limpa. Perubahan mikroskopik limpa mulai tampak pada 5 jam postmortem yang ditandai dengan kongesti korpus Malpighi. Pada 24 jam postmortem sebagian besar limfosit dalam korpus memperlihatkan inti piknotik yang menjadi karioreksis dan kariolisis pada 48 jam postmortem. Kata kunci: gambaran makroskopik dan mikroskopik, limpa, postmortem
PERBANDINGAN SKOR RAMSAY ANESTETIKA INHALASI ISOFULRAN DIBANDING SEVOFLURAN PADA PASIEN PASCA OPERASI ABDOMEN Gufran, Muhammad; Lalenoh, Diana; Kumaat, Lucky
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4630

Abstract

Abstract: Almost all surgery is performed under anesthesia, and of them performed under general anesthesia. General anesthesia is a reversible condition that changes the physiological status of the body, characterized by sedation, analgesia, amnesia and relaxation. Score ramsay is the first scale that is defined and designed as a measurement tool's ability to wake up. Score ramsay have six different levels of sedation and designed in accordance with how the patient's ability to get up, making it suitable for universal use. This study aims to determine the comparisons between the score ramsay on volatile agent isoflurane and sevoflurane post abdominal surgery in  Hospital Prof.Dr.R.D Kandou. The population in this study were patients undergoing abdominal surgery. Twenty eight people were divided into two groups isoflurane and sevoflurane, each consisting 14 people. Data were collected through examination of the level of sedation as measured by post-discontinuation of inhaled agents using ramsay scale. This study found ramsay score on isoflurane higher when compared with sevoflurane in both the 5th minute post-discontinuation and in the 10th minute. There were significant differences between the score ramsay isoflurane and sevoflurane were measured both at the 5th minute post-discontinuation (p=0.000) and at 10th minutes (p=0.000). Keywords: isoflurane, scores ramsay, sedation, sevoflurane.   Abstrak: Hampir semua tindakan pembedahan dilakukan dibawah pengaruh anestesi, dan diantaranya dilakukan dengan anestesi umum. Anestesi umum adalah suatu keadaan reversible yang mengubah status fisiologis tubuh, yang ditandai dengan sedasi, analgesi, amnesi dan relaksasi. Skor ramsay merupakan skala pertama yang didefinisikan dan dirancang sebagai alat ukur kemampuan seseorang untuk bangun. Skor ramsay  mempunyai enam tingkat sedasi  yang berbeda dan didesain sesuai dengan bagaimana kemampuan pasien untuk bangun, sehingga cocok untuk penggunaan universal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara skor ramsay anestetika inhalasi isofluran dan sevofluran paska operasi abdomen di RSU Prof.Dr.R.D Kandou Manado. Populasi dalam penelitian ini ialah pasien yang menjalani bedah abdomen di RSU Prof.Dr.R.D Kandou Manado. Sebanyak 28 orang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok isofluran dan kelompok sevofluran, yang masing-masing terdiri dari 14 orang. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan langsung tingkat sedasi yang diukur paska penghentian agen inhalasi dengan menggunankan skala ramsay. Penelitian ini ditemukan skor ramsay pada anestetika inhalasi isofluran lebih tinggi dibandingkan dengan sevofluran baik pada menit ke-5 paska penghentian agen inhalasi maupun pada menit ke-10. Terdapat perbedaan yang bermakna antara skor ramsay isofluran dan sevofluran yang diukur baik pada menit ke-5 paska penghentian agen inhalasi (p=0.000) maupun pada menit ke-10 (p=0.000). Kata kunci : isofluran, skor ramsay, sedasi, sevofluran.
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PERILAKU DENGAN KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAYUMBA PROVINSI SULAWESI TENGAH Lumolo, Fien; Pinontoan, Odi R.; Rattu, Joy M.
e-Biomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i3.10322

Abstract

Abstract: Malaria is a re-emerging disease (can spread back by the large number) and still being a problem in Indonesia. This disease is caused by Plasmodium. This study aimed to analyze the risk factors towards malaria in This was an analytical observational study with a case control approach (retrospectively) in the working area of Mayumba Community Health Center, Morowali, Middle Celebes Province. Samples were 94 respondents and the ratio of cases and controls was 1:1, therefore, there were a total of 188 peoples obtained by using the simple random sampling. From the results it can be concluded that there was a significant relationship between behavioral factors (knowledge, attitude, be out of the house at night, and hanging clothes in the house) and the incidence of malaria in Mayumba Health Center. It is advisable to the District Health Department and Community Health Center Morowali Mayumba to conduct a survey aiming to determine entomology vector bionomic which will be useful against malaria.Keywords: behavior, malaria incidenceAbstrak: Malaria merupakan penyakit yang re-emerging (menular kembali secara massal) dan masih merupakan masalah di Indonesia. Penyakit menular ini disebabkan oleh Plasmodium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terhadap kejadian malariadi wilayah kerja Puskesmas Mayumba Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan pendekatan case control (retrospektif). Besar sampel penelitian ini sebanyak 94 responden, dengan perbandingan antara kelompok kasus dan kontrol 1:1 sehingga total sampel sebanyak 188 orang. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara faktor perilaku (pengetahuan, sikap, keluar rumah pada malam hari, dan menggantung pakaian di dalam rumah) dengan kejadian malaria di Puskesmas Mayumba. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali dan Puskesmas Mayumba agar melakukan survei entomologi yang bertujuan untuk mengetahui bionomik vektor yang akan berguna dalam upaya penanggulangan malaria.Kata kunci: perilaku, kejadian malaria
GAMBARAN KADAR HIGH DENSITY LIPOPROTEIN DARAH PADA LAKI-LAKI BERUSIA 40-59 TAHUN DENGAN INDEKS MASSA TUBUH ≥23 kg/m2 Syahrullah, Rizky R.; Assa, Youla; Tiho, Murniati
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.1161

Abstract

Abstract: High density lipoprotein (HDL) is a lipoprotein containing apo A-1, associated with other apolipoproteins. One of the HDL functions is as the reversed transporter of cholesterol in order to reduce cholesterol level in peripheral tissues. Low HDL cholesterol level is often related to obesity. High cholesterol level, obesity, and low HDL level are known as risk factors of coronary heart diseases. Overweight subjects have higher probabality for suffering from heart diseases and stroke. This study aimed to elaborate high density lipoprotein (HDL) levels in males aged 40-59 years with body mass index higher than 23 kg/m2. This study used consecutive sampling method. Total subjects involved in this study were 20 males who lived in Malalayang. The results showed that there were 11 subjects with normal HDL levels and nine subjects (45%) with low HDL levels (<45 mg/dL). No subjects had high HDL level. Nineteen subjects (95%) were classified as obesity and only one subject (5%) as overweight. Conclusion: Most of the males 40-59 aged with body mass index ≥23 kg/m2 who lived in Malalayang Manado has normal HDL level. Keywords: males, high density lipoprotein, body mass index Abstrak: High density lipoprotein (HDL) ialah lipoprotein yang mengandung apoA-I, disamping apolipoprotein lainnya. Salah satu fungsi HDL ialah transpor balik kolesterol untuk menurunkan kadar kolesterol di jaringan perifer. Rendahnya kolesterol HDL sering dikaitkan dengan obesitas. Tingginya kolesterol, obesitas, dan rendahnya kadar HDL merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner. Individu dengan berat badan berlebihan berpeluang lebih besar untuk terkena penyakit jantung dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar high density lipoprotein (HDL) pada laki-laki berusia 40-59 tahun dengan indeks massa tubuh ≥23 kg/m2. Metode penelitian yang digunakan ialah consecutive sampling. Subyek penelitian berjumlah 20 orang laki-laki yang berdomisili di Kecamatan Malalayang Manado. Hasil penelitian memperlihatkan 11 subyek (55%) dengan kadar HDL normal, sembilan subyek (45%) dengan kadar HDL rendah (<45 mg/dL); dan tidak ada (0%) yang memiliki kadar HDL tinggi (>60 mg/dL). Terdapat 19 subjek (95%) dengan obesitas dan hanya satu subjek (5%) yang mengalami overweight. Simpulan: Sebagian besar laki-laki berusia 40-59 tahun yang berdomisili di Kecamatan Malalayang Manado dengan indeks massa tubuh ≥23 kg/m2 mempunyai kadar HDL normal. Kata kunci: laki-laki, high density lipoprotein, indeks massa tubuh