cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
POLA BAKTERI AEROB PADA DISPENSER AIR MINUM KEMASAN GALON PADA KONSUMEN DI KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Kaban, Indra Y.; Buntuan, Velma; Rares, Fredine E. S.
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.7426

Abstract

Abstract: The use of the dispenser on gallon bottled water consumers make the presentation of drinking water to be practical but dispensers hygiene generally overlooked by consumers. Poor microbiology quality of drinking water can cause disease, which one of them is diarrhea. To determine the condition of drinking water studies or clinical testing in the laboratory is required. This study aimed to determine the pattern of aerobic bacteria in water dispenser among consumers in the District Malalayang Manado. This study used descriptive research method. Samples were taken from 20 consumers of water dispenser in the District Malalayang, Manado. Identification of bacteria was performed with the culture medium. The results showed that the highest number of Bacillus subtilis 11 samples (36.6%), Proteus vulgaris found as many 7 samples (23.3), Enterobacter cloacae 3 samples (10%), Providencia stuartii 3 samples (10%), Salmonella sp 3 sampels (10%), Escherichia coli 1 sample (3.3%), Staphylococcus sp 1 sample (3.3%) and Proteus mirabilis 1 sample (3.3%). Conclusion: The type of bacteria mostly found was Bacillus subtilis.Keywords: water, dispensers, bacteriaAbstrak: Penggunaan dispenser pada konsumen air minum kemasan galon membuat penyajian air minum menjadi praktis tetapi kebersihan dispenser umumnya kurang diperhatikan oleh konsumen. Air minum yang kualitas mikrobiologisnya yang buruk dapat menyebabkan penyakit yang salah satunya yaitu diare. Untuk mengetahui kondisi terkontaminasinya air minum diperlukan penelitian atau pengujian secara klinis di laboratorium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola bakteri aerob pada dispenser air minum kemasan galon pada konsumen di Kecamatan Malalayang Kota Manado. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Sampel diambil dari 20 pengguna dispenser air minum kemasan galon di Kecamatan Malalayang Kota Manado. Identifikasi bakteri dilakukan dengan media kultur. Hasil penelitian menunjukkan Bacillus subtilis terbanyak ditemukan yaitu 11 sampel (36,6%), Proteus vulgaris ditemukan sebanyak 7 Sampel (23,3), Enterobacter cloacae 3 sampel (10%), Providencia stuartii 3 sampel (10%), Salmonela sp 3 sampel (10%), Escherichia coli 1 sampel (3,3%), Staphylococcus sp 1 sampel (3,3%) dan Proteus mirabilis 1 sampel (3,3%). Simpulan: Pada penelitian ini jenis bakteri terbanyak ditemukan adalah Bacillus subtilisKata kunci: air, dispenser, bakteri
Hubungan kadar asam urat dengan status gizi pada remaja di Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Budiono, Alvin; Manampiring, Aaltje E.; Bodhi, Widhi
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14605

Abstract

Abstract: Hyperuricemia is one state that is now likely to be obtained at adolescent. The state of hyperuricemia can be influenced by many factor, for example is the nutritional status. This study aims to determine the correlation between uric acid levels and nutritional status in adolescents in the District of West Bolangitang. This study is cross-sectional analytic. The subjects were adolescents from middle and high school in the District of West Bolangitang. Respondents were entering the study were 60 children, 16 boys and 44 girls. From the results obtained hyperuricaemia 16 children, and 12 (75%) were obese, 1 underweight, normal 2 and 1 overweight. Conclusion: There is a correlation between uric acid levels and nutritional status in adolescents in the District of West BolangitangKeywords: hyperurisemia, uric acid, nutritional status Abstrak: Hiperurisemia merupakan salah satu keadaan yang sekarang cenderung didapatkan pada usia yang lebih muda. Keadaan hiperurisemia ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satu contohnya adalah status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat dengan status gizi pada remaja di Kecamatan Bolangitang Barat. Penelitian ini bersifat cross-sectional analitik. Subjek penelitian ini adalah remaja dari SMP dan SMA di Kecamatan Bolangitang Barat. Responden yang mengikuti penelitian berjumlah 60 anak, 16 laki-laki dan 44 perempuan. Dari hasil pemeriksaan didapatkan 16 anak hiperurisemia, dan 12 (75%) diantaranya obesitas, 1 underweight, 2 normal dan 1 overweight. Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar asam urat dengan status gizi pada remaja di Kecamatan Bolangitang Barat Kata kunci: hiperurisemia, kadar asam urat, status gizi
HUBUNGAN TINGGI BADAN DAN PANJANG ULNA PADA ETNIS SANGIHE DEWASA DI MADIDIR URE Honandar, Briando S.
eBiomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.1.2014.4388

Abstract

Abstract: Identification is an important examination to identify a person’s identity. Height estimation is one of the parameter in forensic anthropology to determine a person’s biological profile. Height can be estimated by measurements of long bones, including ulna.  This study aimed to determine the correlation between heights and ulnar lengths among Sangihe adults in Madidir Ure. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Samples were obtained with purposive sampling method and data were analyzed with Pearson correlation and simple linear regression. There were 94 subjects consisting of 56 males and 38 females. The results showed a strong correlation between height and ulnar length, with a value of (r) 0.853 in total subjects, 0.661 in males, and 0,671 in females. Equations based from the result of simple linear regression were height = 87.436 + 2.990 x ulnar length for males; height = 69.843 + 3.550 x ulnar length for females; and height = 58.346 + 4.098 x ulnar length for the total subjects with P value = 0.000 (<0.01). Conclusion: There was a highly significant correlation between heights and ulnar lengths among Sangihe adults in Madidir Ure. Keywords: identification, height, ulnar length, Sangihe, adults     Abstrak: Penentuan identitas merupakan pemeriksaan penting untuk mengidentifikasi seseorang. Pengukuran tinggi badan merupakan suatu parameter antropologi forensik yang dapat membantu menentukan profil biologis seseorang.Tinggi badan dapat ditentukan melalui pengukuran tulang panjang, termasuk tulang ulna. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan tinggi badan dan panjang ulna pada dewasa etnis Sangihe di Madidir Ure. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional. Sampel diambil dengan cara purposive sampling dan dianalisis dengan korelasi Pearson dan analisis regresi linier sederhana. Terdapat 94 orang sebagai sampel, yang terdiri dari 56 laki-laki dan 38 perempuan. Hasil penelitian memperlihatkan hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan panjang ulna dengan koefisien korelasi (r) keseluruhan 0,853, pada laki-laki 0,661, dan pada perempuan 0,671. Dari hasil analisis regresi linier sederhana didapatkan rumus TB laki-laki = 87,436 + 2,990 x panjang ulna; TB perempuan = 69,843 + 3,550 x panjang ulna; dan secara keseluruhan TB = 58,346 + 4,098 x panjang ulna dengan nilai P = 0.000 (<0.01). Simpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan panjang ulna pada dewasa etnis Sangihe di Madidir Ure. Kata Kunci: identifikasi, tinggi badan, panjang ulna, dewasa, Sangihe
PERBEDAAN EFEK PEMBERIAN BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM L.) DAN VITAMIN C PADA KUALITAS SPERMATOZOA TIKUS WISTAR (RATTUS NORVEGICUS) YANG DIBERI PAPARAN ASAP ROKOK Sanggamale, Injilia K.; Rumbajan, Janette M.; Tendean, Lydia E.N.
eBiomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.8.1.2020.28706

Abstract

Abstract: Exposure to cigarette smoke may increase Reactive Oxygen Species (ROS) and induce oxidative stress that may lower the quality of spermatozoa. Oxidative stress maybe prevented with the administration of antioxidants such as garlic and vitamin C. To identify the different effects in the administration of garlic (Allium sativum L.) and vitamin C on the quality of spermatozoa in wistar rats (Rattus norvegicus) exposed to cigarette smoke. This study uses an experimental design with a completely random design approach. The samples used in this study are 9 male wistar rats (Rattus norvegicus) divided into 3 groups, namely P0 (Exposed to cigarette smoke), P1 (Exposure to cigarette smoke and given 0.1 grams/day of garlic), P2 (Exposure to cigarette smoke and given 1.8 mg/day of vitamin C). This study finds that the quality of spermatozoa in wistar rats (Rattus norvegicus) that exposed by cigarette smoke and given garlic show there?s no meaningful difference on statistically with wistar rats (Rattus norvegicus) that only exposed by cigarette smoke. As for the wistar rats (Rattus norvegicus) that exposed by cigarette smoke and given vitamin C show improved quality of spermatozoa in this case is spermatozoa motility (p=0,046) than wistar rats (Rattus norvegicus) that only exposed by cigarette smoke. In conclusion, giving vitamin C could improved quality of spermatozoa wistar rats (Rattus norvegivus) that exposed by cigarette smoke in this case is spermatozoa motility.Keywords: garlic, vitamin C, cigarette smoke, quality of spermatozoa. Abstrak: Paparan asap rokok dapat meningkatkan Reactive Oxygen Species (ROS) sehingga menimbulkan stres oksidatif yang dapat menurunkan kualitas spermatozoa. Stres oksidatif dapat dicegah dengan pemberian antioksidan seperti bawang putih dan vitamin C. Mengetahui perbedaan efek pemberian bawang putih (Allium sativum L.) dan vitamin C pada kualitas spermatozoa tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diberi paparan asap rokok. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan pendekatan rancangan acak lengkap. Sampel yang digunakan adalah 9 ekor tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu P0 (perlakuan paparan asap rokok), P1 (perlakuan paparan asap rokok dan diberi bawang putih 0,1 gram/hari), dan P2 (perlakuan paparan asap rokok dan diberi vitamin C 1,8 mg/hari). Hasil penelitian didapatkan bahwa kualitas spermatozoa pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diberi paparan asap rokok dengan pemberian bawang putih menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik dengan tikus wistar (Rattus norvegicus) yang hanya diberi paparan asap rokok. Sedangkan, pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diberi paparan asap rokok dengan pemberian vitamin C menunjukkan peningkatkan kualitas spermatozoa dalam hal ini  motilitas (p=0,046) spermatozoa dibandingkan tikus wistar (Rattus norvegicus) yang hanya diberi paparan asap rokok. Simpulan penelitian ini ialah pemberian vitamin C dapat meningkatkan kualitas spermatozoa tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diberi paparan asap rokok dalam hal ini yaitu motilitas spermatozoa.Kata kunci: bawang putih, vitamin C, asap rokok, kualitas spermatozoa
Tingkat Refleksi Pembelajaran Mahasiswa Angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Menggunakan Skala Reflection-In-Learning Polii, Vanessa G.; Mariki, Windy M. V.; Wagiu, Christilia G.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28396

Abstract

Abstract: Medical students need to know and apply reflection in preparing to become a professional in the health field, especially becoming a doctor. A doctor must be prepared to a long life study, therefore, reflection in learning can be a useful parameter in the professionalism of doctors. This study was aimed to test the reflection in learning of medical students at Sam Ratulangi University batch of 2018. This was a quantitative descriptive study. Respondents were 150 medical students batch of 2018. The Indonesian adaptation reflection-in-learning scale questionnaire was used to test the level of learning reflection of respondents. The results showed that of the reflection in learning, "restricted" was the most chosen indicator (36.4%), followed by "partial" indicator (30.2%), "ample" indicator (26.4%), "minimal" indicator (3.9%), and "maximal" indicator (3.1%). In conclusion, the ability of reflection in the learning of students of Faculty of Medicine of Sam Ratulangi University batch of 2018 was still classified as low level namely in the category of "restricted". Therefore, an introduction to the concept of reflection in learning is needed to improve the learning process of the student.Keywords: reflection-in-learningscale,medicalstudents,reflection Abstrak: Mahasiswa kedokteran perlu mengetahui dan menerapkan refleksi dalam memper-siapkan diri menjadi seorang profesional di bidang kesehatan khususnya menjadi seorang dokter. Seorang dokter harus siap untuk belajar sepanjang hayat, oleh karena itu refleksi dalam belajar dapat menjadi parameter yang berguna dalam profesionalisme dokter. Penelitian ini bertujuan untuk menguji refleksi dalam pembelajaran mahasiswa angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif. Responden ialah 150 mahasiswa pendidikan dokter angkatan 2018, menggunakan kuesioner skala reflection-in-learning adaptasi Bahasa Indonesia yang disusun untuk menguji tingkat refleksi pembelajaran. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan refleksi dalam pembelajaran terbanyak dipilih pada indikator “terbatas” (36,4%), diikuti indikator “sebagian” (30,2%), indikator “cukup” (26,4%), indikator “minimal” (3,9%), dan indikator “maksimal” (3,1%). Simpulan penelitian ini ialah kemampuan refleksi dalam pembelajaran mahasiswa angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi masih tergolong pada tingkat rendah yaitu kategori “terbatas”. Diperlukan pengenalan terhadap konsep refleksi untuk meningkatkan pembelajaran mahasiswa. Kata kunci: skala refleksi dalam pembelajaran, mahasiswa kedokteran, refleksi
Pengaruh Minuman Tradisional Beralkohol Khas Sulawesi Utara Dosis Bertingkat terhadap Gambaran Morfologik Hati Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Rembang, Addi A.; Kairupan, Carla F.; Lintong, Magdalena P.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28742

Abstract

Abstract: Excessive consumption of alcoholic beverages can affect the liver, in the form of fatty liver, alcoholic hepatitis, and liver cirrhosis. This study was aimed to determine the influence of alcoholic drink on the liver if it is consumed routinely in low and moderate doses, specifically an alcoholic drink produced by residents of North Sulawesi, namely Cap Tikus. It was an experimental laboratory study. Subjects were 24 Wistar rats divided into one control group and three treatment groups, each of six rats. The control group (K) was not given Cap Tikus. Treatment group 1 (K1) was given Cap Tikus at a dose of 1.08 mL/day in male rats (K1A) and 0.81 mL/day in female rats (K1B). Treatment group 2 (K2) was given Cap Tikus at a dose of 2.16 mL/day in male rats (K2A) and 1.62 mL/day in female rats (K2B). Treatment group 3 (K3) was given Cap Tikus at a dose of 4.32 mL/day in male rats (K3A) and 3.24 mL/day in female rats (K3B). All rats were terminated on day 21 and their livers were prepared for microscopic examination. The results showed fatty liver cells in all treatment groups. At moderate and high doses there were necrotic liver cells. Hepatitis was found in the male group with the highest dose. In conclusion, Wistar rats given Cap Tikus had fatty liver cells at all doses, liver cell necrosis at moderate and high doses, and the presence of hepatitis in the group of male rats at high doses.Keywords: Cap Tikus, fatty liver cells, and necrotic liver cells, hepatitis Abstrak: Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada hati, berupa perlemakan hati, hepatitis alkoholik, dan sirosis hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minuman beralkohol terhadap hati bila dikonsumsi secara rutin dalam dosis rendah maupun sedang, secara khusus minuman beralkohol yang diproduksi oleh masyarakat Sulawesi Utara, yaitu Cap Tikus. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik. Subyek penelitian ialah 24 ekor tikus Wistar yang dibagi atas satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari enam ekor tikus. Kelompok kontrol (K) tidak diberikan Cap Tikus. Kelompok perlakuan 1 (K1) diberikan Cap Tikus dengan dosis 1,08 mL/hari pada tikus jantan (K1A) dan 0,81 mL/hari pada tikus betina (K1B). Kelompok perlakuan 2 (K2) diberikan Cap Tikus dengan dosis 2,16 mL/hari pada tikus jantan (K2A) dan 1,62 mL/hari pada tikus betina (K2B). Kelompok perlakuan 3 (K3) diberikan Cap Tikus dengan dosis 4,32 mL/hari pada tikus jantan (K3A) dan 3,24 mL/hari pada tikus betina (K3B). Semua tikus diterminasi pada hari ke-21 dan hati tikus dilakukan pemeriksaan mikroskopik. Hasil pemeriksaan menunjukkan perlemakan sel hati pada semua kelompok perlakuan. Pada dosis sedang dan tinggi terdapat sel-sel hati yang mengalami nekrosis sedangkan pada kelompok jantan dengan dosis paling tinggi terdapat hepatitis. Simpulan penelitian ini ialah tikus Wistar yang diberikan minuman Cap Tikus mengalami perlemakan sel hati pada semua dosis; nekrosis sel hati pada dosis sedang dan tinggi; serta adanya hepatitis pada kelompok tikus jantan dengan dosis tinggi.Kata kunci: Cap Tikus, perlemakan dan nekrosis sel hati, hepatitis
Gambaran Kemampuan Refleksi Pembelajaran Mahasiswa Angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Ruitan, Lidia S.; Manoppo, Firginia M; Wariki, Windy M.V.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28701

Abstract

Abstract: Reflection is an integral part of the student-centered approach used in medical education. The learning reflection ability of students needs to be assessed with a valid and reliable instrument. This study aims to determine the reflection ability of batch 2016 students in Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University using the Reflection-in-Learning questionnaire. This is a descriptive quantitative study with cross-sectional approach administered to batch 2016 students in Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. Results show that the 95 respondents are in the 18-23 age group, with most respondents being 21 years old (48,8%), followed by 20 years old (34,7%) and 22 years old (8,4%). There are more female respondents (66%) and male respondents (34%). Most respondents fall into the “ample” category of learning reflection ability (41,4%), followed by “partial” (24,2%), “restricted” (17,9%), and “minimal” and “maximal” (8,4%). In conclusion, the learning reflection ability of batch 2016 students in Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University are mostly in the “ample” category, followed by the categories of “partial”, “restricted”, and both “minimal” and “maximal”.Keywords: learning reflection, mahasiswa kedokteran  Abstrak: Refleksi adalah bagian penting dari pendekatan student-centered yang digunakan dalam pendidikan kedokteran. Kemampuan refleksi pembelajaran mahasiswa dapat diukur dengan instrumen berbentuk kuesioner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan refleksi pembelajaran mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi menggunakan Kuesioner Reflection-in-Learning. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang yang dilakukan terhadap mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Ditemukan bahwa responden yang berjumlah 95 orang berada di rentang umur 18-23 tahun dengan responden terbanyak berumur 21 tahun (48,8%), diikuti dengan 20 tahun (34,7%) dan 22 tahun (8,4%). Responden berjenis kelamin perempuan (66%) lebih banyak daripada laki-laki (34%). Kemampuan refleksi pembelajaran responden terbanyak berada di kategori “cukup” (41,4%), diikuti dengan “sebagian” (24,2%), “terbatas” (17,9%), serta “minimal” dan “maksimal” (8,4%). Simpulan penelitian ini ialah kemampuan refleksi pembelajaran mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi paling banyak berada di kategori “cukup”, diikuti dengan kategori “sebagian”, “terbatas”, dan “minimal” serta “maksimal”.Kata kunci: refleksi pembelajaran, mahasiswa kedokteran
Kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) Pada Peminum Minuman Beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan Maliangkay, Owen J.; Assa, Youla; Tiho, Murniati
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28707

Abstract

Abstract: According to the Global Health Observatory (GHO-WHO) through the Global Information System on Alcohol and Health (GISAH) in 2018 recorded the distribution of alcohol use per capita worldwide in 2016 said the use of alcohol has caused the death of 3 million people each year. Alcohol consumed can cause disease, one of which is impaired liver function. One of the tests used as a marker of liver damage is the examination of Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT). This research is a descriptive study with a cross-sectional design and was carried out in September 2019 to December 2019. By using total sampling , 50 respondents were willing to take blood. Samples were then examined at Noongan Hospital. Research results from 50 samples showed that as many as 43 samples (86%) had normal SGOT levels, and 7 samples (14%) had high SGOT levels. The most samples in this study were male respondents totaling 40 respondents (80%), while those who were female totaled 10 respondents (20%). Samples with a length of consumption of alcoholic drinks for 16-20 years had SGOT levels of an average of 28.8 U/L and those who had >20 years of drinking alcoholic drinks had SGOT levels of 28.38 U/L, while those who consumed alcoholic drinks for <5 years had an average SGOT level of 27.29 U/L, 5-10 years an average of 27.95 U/L, and 11-15 years an average of 64.5 U/L. In conclusion, based on the results of the examination of SGOT levels to all samples, most (86%) had normal SGOT levels. The mean or average value is 29.24 U/L, the median value is 25 U/L, and the mode value is 20 U/L, whereas for a maximum value of 60 U/L and the minimum value is 8 U/L. A total of 38 samples (76%) had normal SGOT levels, and 12 samples (24%) had high SGOT levels.Keywords: serum glutamic oxaloacetic transaminase, sgot, alcohol  Abstrak: Menurut Global Health Observatory (GHO-WHO) melalui Global Information System on Alcohol and Health (GISAH) tahun 2018 mencatat sebaran penggunaan alkohol per kapita di seluruh dunia tahun 2016 menyebutkan penggunaan alkohol telah menyebabkan kematian 3 juta orang setiap tahun.     Alkohol yang dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit, salah satunya adalah gangguan fungsi hati. Salah satu pemeriksaan yang digunakan sebagai penanda adanya kerusakan hati yaitu dengan pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kadar Serum Glutamic Oxaloacetic (SGOT) pada Peminum Minuman Beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada bulan september 2019 sampai dengan desember 2019. Dengan menggunakan total sampling, dengan jumlah sampel 50 yang bersedia dilakukan pengambilan darah. Sampel kemudian diperiksa di RSUD Noongan. Hasil Penelitian dari 50 sampel menunjukkan bahwa sebanyak 43 sampel (86%) memiliki kadar SGOT normal, dan 7 sampel (14%) memiliki kadar SGOT yang tinggi. Sampel terbanyak dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki berjumlah 40 responden (80%), sedangkan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 10 responden (20%). Sampel dengan lama konsumsi minuman beralkohol selama 16-20 tahun memiliki kadar SGOT rata-rata 28,8 U/L dan yang telah >20 tahun meminum minuman beralkohol memiliki kadar SGOT 28,38 U/L, sedangkan yang lama konsumsi minuman berlakohol selama <5 tahun memiliki kadar SGOT rata-rata 27,29 U/L, 5-10 tahun rata-rata 27,95 U/L, dan 11-15 tahun rata-rata 64,5 U/L. Simpulan penelitian berdasarkan hasil pemeriksaan kadar SGOT kepada seluruh sampel, sebagian besar (86%) memiliki kadar SGOT normal. Nilai mean atau nilai rata-rata yaitu 29,24 U/L, nilai median yaitu 25 U/L, dan nilai modus yaitu 20 U/L, sedangkan untuk nilai maksimum 60 U/L dan nilai minimumnya 8 U/L. Sebanyak 38 sampel (76%) memiliki kadar SGOT normal, dan 12 sampel (24%) memiliki kadar SGOT yang tinggi.Kata kunci: serum glutamic oxaloacetic transaminase, sgot, alkohol
Perbandingan Massa Otot Lengan Dominan dan Tidak Dominan dengan Latihan Beban Castendo, Cynthia C.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Engka, Joice N.A.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28690

Abstract

Abstract: Dominant arms are the most frequently used in activity. Weight training can influence the increase in muscle strength that automatically increases muscle mass on both dominant and non dominant arms. The study aims to determine the comparison between dominant and non dominant arms muscle mass with weight training. This research uses a field experiment study with one group pre and post-test design for 8 weeks on 37 male college students with right dominant arm and 5 male college students with left dominant arm. Subjects were weight trained using dumbbells. Muscle mass were measured on bicep-triceps muscles using a tape measure (cm) to measure upper arm circumference on each subjects prior and after training. Statistical test was done using the test of normality (Shapiro Wilk), paired sample t-test and Wilcoxon Signed Rank Test. Results of the paired sample t-test obtained  p value = 0.00 (right and left upper arm circumference) on right dominant arm subjects and Wilcoxon Signed Rank test obtained p value = 0,042 (left upper arm circumference) and p value = 0,043 (right upper arm circumference) on left dominant arm subjects. Based on both test results there was a difference in muscle mass prior and after training although there were no significant differences in muscle mass between dominant and non dominant arms. In conclusion, there were no differences in muscle mass between dominant and non dominant arms with weight training.Keywords: weight training, dominant and non dominant arms, muscle mass  Abstrak: Lengan dominan merupakan lengan yang paling sering digunakan dalam beraktivitas. Latihan beban dapat memberikan pengaruh pada pertambahan kekuatan otot yang secara otomatis meningkatkan massa otot pada kedua lengan dominan maupun tidak dominan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan massa otot lengan dominan dan tidak dominan dengan latihan beban. Penelitian menggunakan penelitian eksperimental lapangan dengan rancangan one group pre and post-test design selama 8 minggu pada 37 mahasiswa laki-laki dominan kanan dan 5 mahasiswa laki-laki dominan kiri. Subjek diberi latihan beban dengan menggunakan dumbbell. Massa otot diukur pada otot bisep-trisep menggunakan alat ukur meteran (cm) untuk mengukur lingkar lengan atas (lila) tiap subjek sebelum dan sesudah latihan. Uji statistik menggunakan uji normalitas (shapiro wilk), uji t berpasangan dan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil uji t berpasangan didapatkan nilai p=0,00 (lila kanan dan kiri) pada subjek penelitian dominan kanan dan uji Wilcoxon Signed Rank Test didapatkan nilai p=0,042 (lila kiri) serta p=0,043 (lila kanan) pada subjek penelitian dominan kiri. Berdasarkan kedua uji didapatkan perbedaan massa otot sebelum dan sesudah latihan tetapi tidak ada perbedaan signifikan antara massa otot  lengan dominan dan tidak dominan. Simpulan penelitian ini ialah tidak ada perbedaan massa otot lengan dominan dan tidak dominan dengan latihan beban.Kata Kunci: latihan beban, lengan dominan dan tidak dominan, massa otot
Pengaruh Olahraga Step-up Terhadap Massa Otot Pada Wanita Dewasa Muda Tuerah, Jonathan B.; Rumampuk, Jimmy F.; Lintong, Fransiska
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28702

Abstract

Abstract: Sarcopenia is a major clinical problem in elderly public health; with some bad outcomes such as disability, poor quality of life, and increased risk of death. Several studies have shown that sarcopenia is caused by lack of physical activity. Step-up exercise is an aerobic exercise that has all the benefits of high-intensity cardio training without putting pressure on the joints. The purpose of this study was to determine the effect of step-up exercise on muscle mass in young adult women. This research is an experimental research with one group pre-test and post-test design approach. The location of the study was at the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado. The sample of this study was determined using a purposive sampling method which numbered 25 people to female students in the Nursing study program at Sam Ratulangi University class of 2019. Measurement of muscle mass was measured using a Bioelectrical Impedance Analysis measuring instrument and data were analyzed using t-paired tests. The results showed that muscle mass before and after step-up exercise showed no significant changes with a value of p=0.983 (p<0.05). In conclusions, A review of factors affecting muscle mass such as diet and lifestyle is needed.Keywords: Step-up, muscle mass, young adult woman.  Abstrak: Sarkopenia adalah masalah klinis utama dalam kesehatan masyarakat lansia; dengan beberapa hasil buruk seperti kecacatan, kualitas hidup yang buruk, dan peningkatan risiko kematian. Beberapa penelitian menunjukan bahwa sarkopenia diakibatkan oleh aktivitas fisik yang kurang. Olahraga step-up merupakan olahraga aerobic yang memiliki semua manfaat dari latihan kardio intensitas tinggi tanpa memberi tekanan pada sendi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh olahraga step-up terhadap massa otot pada wanita dewasa muda. Penelitianini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Lokasi penelitian bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado. Sampel dari penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling yang berjumlah 25 orang padamahasiswa wanita program studi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi angkatan 2019. Pengukuran massa otot diukur menggunakan alat ukur Bioelectrical Impedance Analysis dan data dianalisis dengan t-paired test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa otot sebelum dan sesudah olahraga step-up menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan dengan nilai p = 0,983 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah perlu adanya peninjauan kembali faktor yang mempengaruhi massa otot seperti pola makan dan gaya hidup.Kata Kunci: Step-up, massa otot, wanita dewasa muda