cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
MANFAAT LATIHAN OLAHRAGA AEROBIK TERHADAP KEBUGARAN FISIK MANUSIA Palar, Chrisly M.; Wongkar, Djon; Ticoalu, Shane H. R.
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7127

Abstract

Abstract: Aerobic exercise is a kind of exercise systematically by increasing the load gradually and continuously using energy derived from the combustion using oxygen, and takes oxygen without causing fatigue. Examples of aerobic exercise is the way, jogging, running, cycling, and swimming. Physical fitness is the body’s ability to function effectively when working or doing other things, and still have enough energy to handle or emergencies that may arise. Before planning to do aerobic exercise, namely: the frequency of exercise three to five times every week, exercise intensity 60 - 80% of maximum heart rate, and duration of exercise 20 – 60 minutes.mConclusion: With regular aerobic exercise, blood flow to be smooth and speed up the disposal of metabolic waste substances, so that recovery takes place rapidly, and the person with not experience fatigue after performing the task, and still be able to perform other activities. Benefits of aerobic exercise training is increased physical fitness.Keywords: aerobic exercise, physical fitness.Abstrak: Latihan olahraga aerobik ialah aktivitas olahraga secara sistematis dengan peningkatan beban secara bertahap dan terus-menerus yang menggunakan energi yang berasal dari pembakaran dengan menggunakan oksigen, dan membutuhkan oksigen tanpa menimbulkan kelelahan.Contoh latihan olahraga aerobic adalah jalan, jogging, lari, bersepeda, dan renang. Kebugaran fisik adalah kemampuan tubuh untuk berfungsi secara efektif ketika bekerja atau melakukan aktivitas lainnya, dan masih memiliki cukup energi untuk menangani atau menghadapi keadaan darurat yang mungkin timbul. Sebelum merencanakan untuk melakukan latihan olahraga aerobik, perlu memperhatikan kriteria-kriteria yang berkaitan dengan takaran latihan, yaitu: frekuensi latihan tiga sampai lima kali setiap minggu, intensitas latihan 60-80% dari denyut jantung maksimal, dan durasi latihan 20 - 60 menit. Simpulan: Dengan pembuangan zat-zat sisa metabolisme, sehingga pemulihan berlangsung dengan cepat, dan seseorang tidak akan mengalami kelelahan setelah melaksanakan tugas, serta masih dapat melakukan aktivitas lainnya. Manfaat latihan olahraga aerobik ialah kebugaran fisik meningkat.Kata kunci: Latihan olahraga aerobik, kebugaran fisik.
PENGARUH SENAM ZUMBA TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DARAH PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Rembang, Ashael A.; Rampengan, J. J. V.; Supit, Siantan
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7416

Abstract

Abstract: Lipid is classified into several types, which include High Density Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), Very Low Density Lipoprotein (VLDL) and triglycerides. Triglyceride is a compound consists of three fatty acid molecules esterified into glycerol. Triglycerides are neutral fats synthesized from carbohydrate that are stored in lipid cells. Normal triglyceride levels of human is < 150 mg/dL. High levels of triglyceride have negative impacts on health as it can lead to diseases such as atherosclerosis. High level of triglyceride can be prevented and lowered by exercises such as Zumba exercise. The aim of this study is to know the effect of Zumba exercise on the level of blood triglyceride. This was an experimental study with one group pre-post test design, with criteria that include ages within 16-20 years old, normal Body Mass Index, not a Zumba gymnast, and in healthy condition during research. Samples were 19 female medical faculty students of Sam Ratulangi University class of 2014. They were subjected to do Zumba exercise every day for a week. Triglyceride levels are measured before the first Zumba exercise session and after the final session of Zumba exercise. The data were analyzed using paired-t test with SPSS programme. The results showed that there was a significant change between the mean level of triglyceride before first Zumba exercise 68,11 mg/dL and after Zumba final exercise 48 mg/dL. Conclusion: There was a decrease in triglyceride blood levels of the research subjects after doing Zumba exercises everyday for a week.Keywords: triglyceride, zumba exerciseAbstrak: Lemak terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu lemak HDL, lemak LDL, lemak VLDL, serta kadar trigliserida. Trigliserida adalah senyawa yang terdiri dari tiga molekul asam lemak teresterifikasi menjadi gliserol. Trigliserida merupakan lemak netral yang disintesis dari karbohidrat untuk disimpan dalam sel lemak. Kadar trigliserida normal dalam tubuh manusia yaitu <150 mg/dL. Namun kadar trigliserida yang berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan. Tingginya kadar trigliserida dalam darah dapat menyebabkan terjadinya penyakit, misalnya aterosklerosis. Kadar trigliserida yang tinggi dapat dicegah dan diturunkan dengan melakukan olahraga seperti senam Zumba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam Zumba tehadap kadar trigliserida darah. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pre-post one group test dengan sampel penelitian yang memenuhi kriteria-kriteria, yaitu usia 16-20 tahun, IMT normal, bukan merupakan seorang atlit atau pesenam Zumba, dan sehat saat dilakukan penelitian. Sampel penelitian adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan 2014 berjumlah 19 orang. Subjek penelitian melakukan latihan setiap hari dalam seminggu. Kadar trigliserida diukur sebelum latihan Zumba pertama dan sesudah latihan Zumba terakhir. Hasil data dianalisis dengan uji t berpasangan menggunakan program SPSS. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil yang menunjukkan perubahan yang signifikan dengan rerata kadar triglierida sebelum senam Zumba 68,11 mg/dL dan rerata sesudah senam Zumba 48,00 mg/dL.Simpulan: Terjadi penurunan kadar tigliserida darah dari subjek penelitian setelah melakukan senam Zumba setiap hari selama seminggu.Kata kunci: trigliserida, senam zumba
Pengaruh pemberian vitamin E terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik Warong, Kristo; Pangemanan, Damajanty H.C.; Engka, Joice N.A.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14343

Abstract

Absract: Physical exercise can improve and maintain physical fitness. However, physical exercise can lead to oxidative stress that can reduce the activity of antioxidants. Vitamin E is a fat-soluble antioxidant that could free radicals in the body. Neutrophils play an active role in the process of phagocytosis of bacteria and other microorganisms the damaged tissue caused by tissue injury. This study was aimed to obtain the effect of vitamin E on neutrophil count after physical exercise. This was a field experimental study with a pre post test control group design. Data were analyzed with the Mann Whitney U (α = 0.05). The physical exercise was playing futsal for 60 minutes. Respondents were 30 male respondents divided into 2 groups: treatment and control groups. The levels of neutrophils were examined after physical exercise and after the administration of vitamin E 400 IU for seven days. Data analysis of the effect of vitamin E on neutrophil level after physical exercise showed a p value of 0.031. Conclusion: Vitamin E influenced the levels of neutrophils after physical exercise.Keywords: physical exercise, oxidative stress, vitamin E, neutrophil Abstrak: Latihan fisik merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk meningkatkan atau memelihara kebugaran tubuh. Latihan fisik dapat menimbulkan stres oksidatif sehingga dapat menurunkan aktivitas antioksidan. Vitamin E merupakan antioksidan yang larut dalam lemak dan berfungsi untuk mengurangi radikal bebas yang terdapat dalam tubuh. Neutrofil berperan aktif dalam proses fagositosis bakteri, mikroorganisme, dan membersihkan sisa jaringan rusak yang disebabkan oleh cedera jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh vitamin E terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik. Jenis penelitian ialah eksperimental lapangan dengan pre post test control group design. Untuk menguji signifikansi penelitian digunakan uji Mann Whitney U (α = 0,05). Latihan fisik berupa olahraga futsal selama 60 menit dilakukan oleh 30 responden laki-laki yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu perlakuan dan kontrol. Kadar neutrofil diukur setelah latihan fisik dan setelah pemberian vitamin E 400 IU selama 7 hari. Hasil statistik menunjukkan terdapat pengaruh bermakna dari vitamin E pada kelompok perlakuan (p=0,031). Simpulan: Terdapat pengaruh vitamin E terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik. Kata kunci: latihan fisik, stres oksidatif, vitamin E, neutrofil
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH IBU DAN PENINGKATAN BERAT BADAN SAAT KEHAMILAN DENGAN PREEKLAMPSIA Quedarusman, Hermanto; Wantania, John; Kaeng, Juneke J.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4363

Abstract

Abstract: Preeclampsia is a health problem that occurs when a pregnancy reaches 20 weeks or more, preeclampsia is accompanied by hypertension and protenuria as main signs. Women with obesity before pregnancy are known to have higher risk to get preeclampsia during pregnancy than those with normal IMT. Excessive weight gain during pregnancy can also increase the risk of preeclampsia in pregnant woman. The purpose of this research is to examine the relationship between maternal body mass index and weight gain during pregnancy with preeclampsia.This research used observasional-analytic method through case-control approach. The number of case group is 38 people and the number of control group is 38 people. The result shows that at risk women were four times more likely to develop preeclampsia during pregnancy than those with normal IMT (OR= 4,32 95% CI= 1,15-16,12), and obese women were five times more likely to develop preeclampsia during pregnancy than those with normal IMT (OR= 5,06 95% CI= 1,46-12,67). The result also shows that women with excessive weight gain during pregnancy were almost three times more likely to develop preeclampsia during preeclampsia than women with normal weight gain during pregnancy (OR=2,53 95% IK= 0,99-31,81). The results show that there is a significant association between maternal IMT and weight gain during pregnancy with preeclampsia. Key Word: BMI, obesity, pregnancy and preeclampsia     Abstrak: Preeklampsia adalah masalah kesehatan yang terjadi pada usia kehamilan 20 minggu ke atas dengan tanda utama hipertensi dan protenuria. Wanita dengan obesitas sebelum kehamilan memiliki risiko lebih besar untuk menderita preeklampsia dibandingkan wanita normal. Peningkatan berat badan berlebihan saat kehamilan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia pada wanita hamil. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) ibu dan peningkatan berat badan saat kehamilan dengan preeklampsia. Penelitian ini menggunakan metode observasional-analitik dengan desain case-control. Jumlah sampel untuk kelompok kasus 38 orang dan untuk kelompok kontrol 38 orang. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok IMT at risk berisiko empat kali lebih besar untuk menderita preeklampsia dibandingkan kelompok IMT normal (OR= 4,32 95% IK= 1,15-16,12), sedangkan kelompok IMT obesitas berisiko lima kali lebih besar untuk menderita preeklampsia dibandingkan kelompok IMT normal (OR= 5,06 95% IK= 1,46-12,67). Kelompok dengan peningkatan berat badan tinggi berisiko hampir tiga kali lebih besar untuk menderita preeklampsia dibandingkan wanita dengan peningkatan berat badan saat hamil normal (OR=2,53 95% IK= 0,99-31,81). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara indeks massa tubuh ibu dan peningkatan berat badan saat kehamilan dengan preeklampsia. Kata Kunci: IMT, obesitas, kehamilan, dan preeklampsia.
GAMBARAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ANAK USIA 6-24 BULAN DI DESA MOPUSI KECAMATAN LOLAYAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW INDUK Mangkat, Olivia; Mayulu, Nelly; Kawengian, shirley E.S.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.13902

Abstract

Abstract: According to Sustainable Development Goals/Millennium Development Goals (SDG's/MDG's), the infant mortality rate is still relatively high due to poor nutrition for pregnant women and infants. The best food for infants aged 0-6 months is breast milk. After 6 months, breast milk will only meet about 60-70% of the infant?s need, while 30-40% should be achieved from complementary foods. This study was aimed to describe the complementary feeding in Mopusi village, Lolayan, Bolaang Mongondow Induk. This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were 90 mothers with children aged 6-24 months lived at Mopusi village from September 2014 until December 2014. Data were obtained by using questionnaires, and were analyzed with SPSS. The results showed that 32 infants (35.6%) were fed with manufactured complementary food; the most commonly given was formula milk (37.5%) and the least one was pureed Sun (15.6%). Of 58 infants (64.4%) who were fed with family foods, the most given food was rice (25.9%) and the least one was meat (3.4%). Conclusion: In this study, the most complementary food for infants aged 0-6 months was family food, rice. Keywords: breastfeeding, complementary feeding, manufactured, family foods Abstrak: Angka kematian bayi sesuai SDG?s/MDG?s (Sustainable Development Goals/Millenium Development Goals) relatif masih cukup tinggi. Penyebabnya antara lain nutrisi yang buruk untuk ibu hamil dan bayi. Makanan terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan ialah ASI. Setelah 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan bayi, sedangkan 30-40% harus dipenuhi dari makanan pendamping ASI (MP-ASI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian MP-ASI di Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow Induk. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden ialah ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan sebanyak 90 orang di Desa Mopusi pada bulan September 2014-Desember 2014. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis dengan SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 32 bayi (35,6%) mendapat MP-ASI pabrikan, yang paling banyak diberikan ialah susu formula (37,5%) dan paling sedikit diberikan ialah bubur Sun (15,6%). Sebanyak 58 bayi (64,4%) mengonsumsi MP-ASI lokal, yang paling banyak diberikan ialah nasi (25,9%) dan yang paling sedikit diberikan ialah daging (3,4%). Simpulan: Pada studi ini, jenis MP-ASI yang paling sering diberikan pada bayi usia 6-24 bulan ialah MP-ASI local, yaitu nasi.Kata kunci: ASI, MP-ASI, lokal, pabrikan
PERBANDINGAN JUMLAH TROMBOSIT PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN KOMPLIKASI VASKULAR DAN TANPA KOMPLIKASI VASKULAR DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Widiarto, Nina S; Posangi, Jimmy; Mongan, Arthur; Memah, Maya
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4153

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease which has increased from year to year. Type 2 diabetes has the highest number of cases. There is a change in platelet count in type 2 diabetes. The change in platelet count can lead to vascular complications in DM. This was a descriptive analytic study with a cross sectional design by using the medical record data of type 2 diabetic patients in the outpatient department of Prof. DR. R. D. Kandou Hospital, Manado. Subjects who met the inclusion criteria were 72 patients; 36 patients with vascular complications and 36 patients without vascular complications. Data were analyzed by using the Mann-Whitney test to determine the ratio of the platelet count in patient with type 2 diabetes patient with and without vascular complication, with α = 0.05. The Mann-Whitney test showed that there was no significant difference in platelet count among patients with type 2 diabetes, with and without vascular complication (P = 0.051). Conclusion: There was no significant difference in the platelet count of type 2 diabetes patients with and without vascular complication.Keywords: type 2 diabetes mellitus, vascular complication, platelet countAbstrak: Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Jenis DM yang paling banyak kasusnya ialah DM tipe 2. Pada DM tipe 2 terjadi perubahan jumlah trombosit, yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi vaskular pada DM. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancang penelitian cross sectional dengan menggunakan data rekam medik pasien DM tipe 2 yang rawat jalan di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 72 pasien; 36 pasien dengan komplikasi vaskular dan 36 pasien tanpa komplikasi vaskular. Hasil penelitian diuji menggunakan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbandingan jumlah trombosit pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi vaskular dan tanpa komplikasi vascular, α = 0,05. Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa perbedaan jumlah trombosit tidak bermakna antara pasien DM tipe 2 dengan komplikasi vaskular dan tanpa komplikasi vaskular (p=0,051). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara jumlah trombosit pada pada DM tipe 2 dengan komplikasi vaskular dan tanpa komplikasi vaskular.Kata kunci: DM tipe 2, komplikasi vaskular, jumlah trombosit
Jenis dan kepadatan tungau debu rumah di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kota Manado Hohakay, Yohanes A.; Wahongan, Greta J. P.; Bernadus, Janno B. B.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.16352

Abstract

Abstract: House dust mites in house dust have cosmopolitan distribution. House mites live from eating the remaining cask of human skin scale and grow in a humid environment. Mites are commonly found in beds, carpets, and clothes. This study was aimed to obtain the types and density of dust mites in Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Manado. This was a descriptive study with a cross sectional study conducted from October to January 2015. Samples of dust were collected from bed, bedroom floor, and sofa in residential houses by using technique simple random sampling. The results showed that there were 5 dust mite samples from Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, and Chortoglyphidae families. Density of house dust mites was 199 mites/13.46 g of dust. The most dominant type of dust mites was the Glycyphagidae family and the highest percentage of its population was in the bedroom floor meanwhile the most dominant population in bed was the Pyroglyphidae family. Conclusion: There were 5 dust mite families- Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, and Chortoglyphidae with the density of 199 mites/13.46 g of dust. The most frequently found mites was the Glycyphagidae family.Keywords: dust mites, types, densityAbstrak: Tungau debu rumah (TDR) terdapat dalam debu rumah dan berdistribusi kosmopolit. Tungau debu hidup dengan memakan sisa skuama kulit manusia dan bertumbuh dalam lingkungan yang lembab. Tungau biasanya ditemukan di tempat tidur, karpet, dan pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kepadatan TDR yang ditemukan di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang yang dilakukan selama bulan Oktober sampai Januari 2015. Sampel penelitian yaitu sampel debu yang dikumpulkan dari tempat tidur, lantai kamar tidur, dan sofa yang ada di perumahan penduduk dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian mendapatkan 5 jenis TDR dari famili Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, dan Chortoglyphidae. Kepadatan TDR yaitu 199 tungau/13,46 gr debu. Jenis tungau debu yang paling dominan yaitu dari famili Glycyphagidae dengan populasi tertinggi pada lantai kamar tidur sedangkan populasi paling dominan pada tempat tidur yaitu famili Pyroglyphidae. Simpulan: Di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kota Manado terdapat 5 jenis TDR dari famili Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, dan Chortoglyphidae dengan kepadatan TDR yaitu 199 tungau/13,46 gr debu. Jenis TDR yang paling sering ditemukan ialah famili GlycyphagidaeKata kunci: tungau debu rumah, jenis, kepadatan
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA MENCIT JANTAN (Mus musculus) YANG DIBERI PAPARAN SUHU Luhulima, Franco; Tendean, Lydia; Queljoe, Edwin de
eBiomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.2.2014.5109

Abstract

Abstract: Vitamin E is an antioxidant for two classes of molecule, namely Tocopherol and Tocotrienol that have role in body nutrient. Purpose of this study was to determine the effect and mechanism of vitamin E on the quality of spermatozoa of mice. This study used a descriptive observational method. The subject of the study consist of 27 mice were divided into 3 groups: group P0 not given temperature exposure and vitamin E, P1 groups given exposure to temperatures of 40°C, P2 groups given exposure to temperatures of 40°C and vitamin E. Treatment carried out for 32 days. The results of research on the P2 group showed improvement in the quality of spermatozoa with a mean concentration of spermatozoa (68.7 x105mL), the mean percentage of normal spermatozoa morphology (61%), the mean percentage of abnormal spermatozoa morphology (39%), the mean percentage spermatozoa motility Ma (38.1%). Conclusion: sperm quality can be improved with vitamin E after exposure to hot temperatures. Keywords: quality of spermatozoa, vitamin E, temperature exposure.     Abstrak: Vitamin E adalah antioksidan untuk dua kelas molekul zat yaitu tokoferol dan tokotrienol yang mempunyai aktivitas dalam nutrisi tubuh. Vitamin E melawan radikal bebas dengan menghambat perioksidasi lipid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan mekanisme vitamin E terhadap kualitas spermatozoa mencit. Penelitian ini menggunakan metode observasional  deksriptif. Subyek penelitian sebanyak 27 ekor mencit yang terbagi menjadi 3 kelompok: kelompok P0 tidak diberikan paparan suhu dan vitamin E, kelompok P1 diberikan paparan suhu sebesar 40°C, kelompok P2 diberikan paparan suhu sebesar 40°C dan vitamin E. perlakuan dilakukan selama 32 hari. Hasil penelitian pada kelompok P2 menunjukkan perbaikan kualitas spermatozoa dengan rerata konsentrasi spermatozoa (68,7x105mL), persentase rerata morfologi normal (61%), persentase rerata morfologi abnormal spermatozoa (39%), persentase rerata motilitas Ma ( 38,1%). Simpulan: kualitas spermatozoa dapat diperbaiki dengan pemberian vitamin E setelah pemaparan suhu panas Kata kunci: kualitas spermatozoa, vitamin E, paparan suhu.
Seroepidemiologi toksoplasmosis pada masyarakat di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa Lestari, Bella; Kepel, Billy J.; Budiarso, Fona
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.10843

Abstract

Abstract: Toxoplasmosis is infectious disease caused by Toxoplasma gondii, which its definitive host is cat. Toxoplasmosis symptoms are asymptomatic but able to causing fatality particularly in pregnant woman which inducing miscarriage. This study aims to obtain Toxoplasmosis seroepidemiology among people of Rumengkor Dua Village Minahasa County by using Agglutination Latex Test (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan). This study method is cross-sectional descriptive . The population is people of Rumengkor Dua Village. The sample is blood serum collected from people of Rumengkor Dua Village. Data from interview questionnaire and latex agglutination test results included in the frequency distribution table and analyzed based on the results presentation. The result showed of toxoplasmosis seroepidemiology among people of Rumengkor Dua village Minahasa County by using Agglutination Latex Test (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan) is 68,2%, with majority of women, age 41-50, junior high school as the last education, housewives, income less than 1 million rupiah, consuming raw meat, not consuming raw vegetables, wash vegetables and fruits, having cat and dog as pet, and have no miscarriage history.Keywords: toxoplasmosis, catAbstrak: Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii, dimana kucing adalah hospes definitifnya. Gejala toksoplasmosis asimptomatis namun akibat yang ditimbulkan bisa fatal terutama bila mengenai ibu hamil dan bisa mengakibatkan keguguran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroepidemiologi toksoplasmosis pada masyarakat di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa dengan menggunakan uji Aglutinasi Lateks (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan). Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah semua orang yang berada di desa Rumengkor Dua dengan sampel penelitian serum darah pada masyarakat di desa Rumengkor Dua. Data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan subjek penelitian dan data hasil pemerikasaan laboratorium toksoplasmosis dengan cara tes aglutinasi lateks dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisa berdasarkan prosentasinya. Penelitian ini menunjukkan seroepidemiologi toksoplasmosis di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa dengan menggunakan uji aglutinasi lateks (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan) adalah 68,2%, yang mayoritas adalah wanita, usia 41-50 tahun, tingkat pendidikan SLTP, ibu rumah tangga, penghasilan ≤1 juta rupiah, mengkonsumsi daging mentah atau kurang matang, tidak mengkonsumsi sayuran mentah, mencuci sayuran dan buah sebelum dikonsumsi, memelihara kucing, anjing, dan tidak ada riwayat keguguran.Kata kunci: toksoplasmosis, kucing
HUBUNGAN KEDEWASAAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM ANGKATAN 2012 UNIVERSITAS SAM RATULANGI TERHADAP CARA BERSOSIALISASI Karim, Citra F.; Sinolungan, Jehosua S. V.; Opod, Henry
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1612

Abstract

Abstract: In general, maturity means a state of a person releted to his/her physical, mental, social, emotional, spiritual, and moral development. Humanbeings are social creatures for the whole periods of lives. This study aimed to find out the relationship between the maturity of students of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado 2012 and their socialization. This was an analytic study with stratified random sampling design. Data were collected by using questionairres. There were 47 respondents, consisted of 16 male and 31 female students. Data were analyzed by using Pearson – product moment correlation test. The results showed that 47 respondents (97.9%) had good maturity and one respondent (2.1%) fair maturity. About their socialization, six respondents (12.8%) were categorized as good; 39 respondents (83%) fair; and two respondents (4.3%) bad. Correlation test showed r = -0.116 and P = 0.219. Conclusion: there were no relationship between maturity and socialization among students of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado 2012. Keywords: maturity, socialization, students   Abstrak: Kedewasaan adalah status seseorang yang telah memiliki kematangan baik secara fisik, kemampuan mental, pertumbuhan sosial, emosi, serta pertumbuhan spiritual dan moral. Pada dasarnya sosialisasi dialami oleh individu sebagai makhluk sosial sepanjang kehidupannya sejak dilahirkan sampai meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedewasaan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado angkatan 2012 dan cara bersosialisasi. Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Penelitian dilakukan pada 47 responden, terdiri dari 16 laki-laki dan 31 perempuan. Analisis data menggunakan uji statistik yaitu uji korelasi Pearson – product moment. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah mahasiswa yang memiliki kedewasaan baik sebanyak 46 responden (97,9%) dan satu responden (2,1%) cukup. Jumlah mahasiswa yang memiliki sosialisasi kategori baik sebanyak enam responden (12,8%), kategori cukup 39 responden (83%), serta dua responden (4,3%) kurang. Berdasarkan uji korelasi Pearson-product moment didapatkan r = -0,116 dengan  P = 0,219. Simpulan: pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat angkatan 2012 tidak terdapat hubungan antara kedewasaan dan sosialisasi Kata kunci : kedewasaan, sosialisasi, mahasiswa