cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Universa Medicina
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 19073062     EISSN : 24072230     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Universa Medicina (univ.med) is a four-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Universa Medicina Online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 3 (2007)" : 6 Documents clear
Exon prediction on DNA-genes of Plasmodium falciparum based on coding sequence structure using hidden Markov model Agoes, Suhartanti; Gunawan, Dadang; S, Sardy; Hoedojo, Hoedojo
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.129-136

Abstract

BACKGROUNDA hidden Markov model (HMM) is used for exon prediction on DNA of genes Plasmodium falciparum that has a model structure based on exon region structure in coding sequence (CDS). The objective research was to develop a new structure model to predict exon on DNA-genes of Plasmodium falciparum based on CDS structure using the HMM system.METHODSModel design in CDS, between two exon regions can be found one intron region and the model state number is used for its region. Its state number is used by separating start codon from first exon region and stop codon from the last exon region up to 9. The Viterbi algorithm and the backward-forward method for transition as well as emission states are used for training process. Furthermore, Viterbi and Baum-Welch algorithms are used for the testing process. The correlation coefficient (CC) was used as performance indicator, as the ratio of the estimated state in the output and the original state in the input of the model. RESULTSThe simulation results has shown that the CC values depend on the given of the backward-forward transition state values randomly. The model with state number 9 showed the highest average of CC values of 0.7289 for Viterbi algorithm, and is 0.7166 for Baum-Welch algorithm. However, the lowest average of CC values has been found for the model with state number five. Its values are 0.6735 by using Viterbi algorithm and 0.6661 by using Baum-Welch algorithm. CONCLUSIONThe new structure model based on HMM system was valid to predict exon on DNA-genes of Plasmodium falciparum.
Nyeri muskuloskeletal pada leher pekerja dengan posisi pekerjaan yang statis Samara, Diana
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.137-142

Abstract

Nyeri leher pada pekerja pada umumnya lebih sering disebabkan oleh gangguan muskuloskletal di mana terjadi ketegangan dan peregangan otot dan ligamentum sekitar leher. Sebuah studi menunjukkan prevalensi nyeri muskuloskeletal pada leher di masyarakat selama satu tahun besarnya 40% dan prevalensi ini lebih tinggi pada wanita. Beberapa pekerjaan yang dapat memicu terjadinya nyeri leher antara lain bekerja dengan komputer dalam waktu yang lama atau bekerja di depan meja dengan posisi membungkuk dalam waktu lama. Mengangkat, mendorong atau membawa barang, penari, dan pengemudi angkutan umum. Gejala-gejala nyeri leher antara lain terasa sakit di daerah leher dan kaku, nyeri otot-otot leher, sakit kepala, dan migraine. Nyeri bisa menjalar ke bahu, lengan, dan tangan disertai keluhan terasa baal atau seperti ditusuk jarum selain itu nyeri juga bisa menjalar ke kepala menyebabkan rasa sakit kepala. Kebanyakan kasus nyeri leher dapat mengalami perbaikan dengan sendirinya. Hal yang penting bagi pekerja yang mengalami nyeri leher adalah modifikasi pekerjaan termasuk manajemen administrasi dan pengaturan ergonomik.
Penatalaksanaan tuberkulosis pada kehamilan Meiyanti, Meiyanti
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.143-151

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia demikian juga tuberkulosis pada kehamilan. Insidens tuberkulosis pada kehamilan makin meningkat. Tuberkulosis pada kehamilan mempunyai gejala klinis yang serupa dengan tuberkulosis pada wanita tidak hamil. Diagnosis mungkin ditegakkan terlambat karena gejala awal yang tidak khas. Tuberkulosis tidak mempengaruhi kehamilan dan kehamilan tidak mempengaruhi manifestasi klinis dan progesivitas penyakit bila diterapi dengan regimen kemoterapi yang tepat dan adekuat. Pemberian regimen yang tepat dan adekuat ini akan memperbaiki kualitas hidup ibu, mengurangi efek samping obat-obat tuberkulosis terhadap janin dan mencegah infeksi yang terjadi pada bayi yang baru lahir. Obat anti tuberkulosis yang diberikan dibagi dalam 2 golongan yaitu obat lini pertama dan lini kedua. Obat lini pertama, kecuali Streptomisin dapat digunakan pada tuberkulosis pada kehamilan. Penggunaan streptomisin dan obat lini kedua (kanamisin, etionamid, kapreomisin) sebaiknya dihindari pada wanita hamil karena efek samping yang akan terjadi pada janin, kecuali dalam keadaan resistensi beberapa obat.
Teknik reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-PCR) dan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA untuk deteksi human immunodeficiency virus (HIV) dalam serum darah Rosilawati, Maria Lina; Bela, Budiman
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.111-119

Abstract

LATAR BELAKANGTeknik biologi molekuler seperti teknik reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-PCR) dot blot hybridization dengan pelacak DNA berlabel biotin dapat mendeteksi human immunodeficiency virus (HIV) dalam serum darah. Teknik ini selanjutnya dapat diterapkan untuk skrining HIV donor jaringan biologi terutama dari Bank Jaringan Riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), seperti amnion, allograft steril radiasi, melalui darahnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sensitivitas metode RT-PCR hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin dan RT-PCR elektroforesis gel agarosa untuk deteksi HIV.METODEPenelitian ini menggunakan serum darah dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Fatmawati. Jumlah serum yang dipakai sebanyak 55 sampel terdiri dari 5 sampel negatif HIV hasil uji serologi dengan rapid test dan 50 sampel dengan enzyme linked immunoassay (ELISA). Ekstraksi RNA HIV sampel darah dilaksanakan menggunakan kit RNA viral extraction sedangkan teknik one step RT-PCR digunakan untuk amplifikasi DNA. HASILHasil penelitian menunjukkan pada 55 sampel yang diuji baik dengan teknik RT-PCR elektroforesis gel agarosa maupun RT-PCR hibridisasi dot blot, 43 sampel positif mengandung HIV. Hasil RT-PCR hibridisasi dot blot jauh lebih jelas dibanding dengan RT-PCR-elektroforesis gel agarosa. Hal ini terlihat munculnya dot hitam tebal pada film sedangkan pada gel agarosa pita DNA tampak tipis untuk beberapa sampel positif HIV yang sama KESIMPULANTeknik RT-PCR hibridsasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin lebih sensitif dibanding dengan RT-PCR elektroforesis gel agarosa untuk mendeteksi HIV.
Peran pertanda tulang dalam serum pada tatalaksana osteoporosis Priyana, Adi
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.152-159

Abstract

Osteoporosis adalah kelainan tulang yang kronik progresif akibat berkurangnya massa dan kekuatan tulang sehingga menjadi predisposisi meningkatnya risiko fraktur. Pertanda tulang dapat memberikan gambaran proses remodelling yang sedang terjadi. Pemeriksaan ini meliputi pertanda resorpsi tulang yang dilakukan oleh osteoklas dan pertanda formasi tulang yang dilakukan oleh osteoblas. Diagnosis untuk osteoporosis yang dianggap baku adalah pemeriksaan bone mass density (BMD) tetapi BMD tidak dipakai untuk monitoring pengobatan karena membutuhkan waktu lama (2 tahun) untuk melihat perbedaan gambaran massa tulang. Analisis pertanda tulang dapat memberikan gambaran proses remodeling yang sedang terjadi dalam waktu yang lebih singkat (3 – 6 bulan). Artinya analisis pertanda tulang dapat memantau dan menilai respons pengobatan, prognosis penderita dengan risiko osteoporosis, mencari penyebab berkurangnya tulang secara cepat, memilih pengobatan yang sesuai, memantau pasien dengan pengobatan kortikosteroid dan mempelajari patogenesis osteoporosis. Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa analisis pertanda tulang seperti alkaline phosphatase (ALP), osteocalcin, P1-NP dan ß-CrossLaps dan kegunaannya pada tatalaksana osteoporosis.
Merokok dan usia sebagai faktor risiko katarak pada pekerja berusia ³ 30 tahun di bidang pertanian Tana, Lusianawaty; Mihardja, Laurentia; Rif’ati, Lutfah
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.120-128

Abstract

LATAR BELAKANGRuang lingkup penelitian ini adalah peranan faktor merokok dan katarak pada pekerja di bidang pertanian di Kabupaten Karawang. Katarak adalah kelainan mata berupa kekeruhan lensa, yang dapat mengganggu penglihatan bahkan sampai buta. 16% dari jumlah buta katarak di Indonesia terjadi di usia produktif. Salah satu tujuan penelitian adalah mendapatkan hubungan antara faktor merokok dengan katarak dalam rangka memperlambat katarak. METODERancangan adalah belah lintang. Sampel penelitian adalah petani dan keluarganya di Kecamatan Teluk Jambe Barat Kabupaten Karawang, dengan usia 30 tahun ke atas, yang terpilih secara purposive random sampling. Data diperoleh dengan wawancara, pemeriksaan dan pengukuran. Diagnosis katarak ditentukan oleh dokter spesialis mata dengan ophthalmoscope tanpa midriatika.Hasil Di samping faktor usia, faktor merokok mempunyai hubungan positif dengan katarak. Katarak berhubungan positip dengan merokok. Semakin berat derajat merokok maka semakin tinggi katarak.KesimpulanUsia dan merokok merupakan faktor risiko yang berhubungan positif dengan katarak pada pekerja di bidang pertanian.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol. 44 No. 3 (2025): Ahead Of Print Vol. 44 No. 2 (2025) Vol. 44 No. 1 (2025) Vol. 43 No. 3 (2024) Vol. 43 No. 2 (2024) Vol. 43 No. 1 (2024) Vol. 42 No. 3 (2023) Vol. 42 No. 2 (2023) Vol. 42 No. 1 (2023) Vol. 41 No. 3 (2022) Vol. 41 No. 2 (2022) Vol. 41 No. 1 (2022) Vol. 40 No. 3 (2021) Vol. 40 No. 2 (2021) Vol. 40 No. 1 (2021) Vol 39, No 3 (2020) Vol. 39 No. 3 (2020) Vol. 39 No. 2 (2020) Vol 39, No 2 (2020) Vol 39, No 1 (2020) Vol. 39 No. 1 (2020) Vol 38, No 3 (2019) Vol 38, No 2 (2019) Vol 38, No 2 (2019) Vol 38, No 1 (2019) Vol 38, No 1 (2019) Vol 37, No 3 (2018) Vol 37, No 3 (2018) Vol. 37 No. 2 (2018) Vol 37, No 2 (2018) Vol 37, No 2 (2018) Vol 37, No 1 (2018) Vol 37, No 1 (2018) Vol 36, No 3 (2017) Vol. 36 No. 3 (2017) Vol 36, No 3 (2017) Vol 36, No 2 (2017) Vol 36, No 2 (2017) Vol 36, No 1 (2017) Vol 36, No 1 (2017) Vol 35, No 3 (2016) Vol 35, No 3 (2016) Vol 35, No 2 (2016) Vol 35, No 2 (2016) Vol 35, No 1 (2016) Vol 35, No 1 (2016) Vol. 35 No. 1 (2016) Vol 34, No 3 (2015) Vol 34, No 3 (2015) Vol. 34 No. 2 (2015) Vol. 34 No. 1 (2015) Vol. 33 No. 3 (2014) Vol. 33 No. 2 (2014) Vol. 33 No. 1 (2014) Vol. 32 No. 3 (2013) Vol. 32 No. 2 (2013) Vol. 32 No. 1 (2013) Vol. 31 No. 3 (2012) Vol. 31 No. 2 (2012) Vol 31, No 1 (2012) Vol. 31 No. 1 (2012) Vol 31, No 1 (2012) Vol 30, No 3 (2011) Vol 30, No 3 (2011) Vol 30, No 2 (2011) Vol 30, No 2 (2011) Vol 30, No 1 (2011) Vol 30, No 1 (2011) Vol 29, No 3 (2010) Vol 29, No 3 (2010) Vol 29, No 2 (2010) Vol 29, No 2 (2010) Vol 29, No 1 (2010) Vol 29, No 1 (2010) Vol 28, No 3 (2009) Vol 28, No 3 (2009) Vol 28, No 2 (2009) Vol 28, No 2 (2009) Vol 28, No 1 (2009) Vol 28, No 1 (2009) Vol 27, No 4 (2008) Vol 27, No 4 (2008) Vol 27, No 3 (2008) Vol 27, No 3 (2008) Vol 27, No 2 (2008) Vol 27, No 2 (2008) Vol 27, No 1 (2008) Vol 27, No 1 (2008) Vol 26, No 4 (2007) Vol 26, No 4 (2007) Vol 26, No 3 (2007) Vol 26, No 3 (2007) Vol 26, No 2 (2007) Vol 26, No 2 (2007) Vol 26, No 1 (2007) Vol 26, No 1 (2007) More Issue