cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "vol. 16 no. 1 (2026)" : 9 Documents clear
SEGREGASI PEMANFAATAN RUANG KOMUNAL PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA KS TUBUN BERDASARKAN KARAKTERISTIK PENGHUNI Fikri Alam; Joni Hardi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.006

Abstract

Urbanisasi yang meningkat pesat di Jakarta mendorong pengembangan hunian vertikal sebagai solusi keterbatasan lahan, namun memunculkan tantangan baru terkait keberagaman sosial penghuni yang berpengaruh terhadap interaksi sosial dalam rumah susun. Penelitian ini bertujuan menganalisis segregasi pemanfaatan ruang komunal pada Rumah Susun Sederhana Sewa KS Tubun berdasarkan Karakteristik Penghuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory digunakan melalui proses open coding, axial coding, dan selective coding, disertai konten analisis menggunakan perangkat JMP untuk menguji hubungan karakteristik penghuni dengan jenis kegiatan serta lokasi interaksi. Sebanyak 30 responden dipilih secara random sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Dari hasil analisis data terlihat adanya hubungan yang kuat antara tempat berinteraksi sosial dengan karakteristik penghuni. Kelompok dewasa paling aktif memanfaatkan ruang komunal, remaja cenderung memilih ruang semi-terbuka, sementara lansia lebih memilih ruang yang tenang dan dekat dengan hunian. Kelompok mayoritas agama dan etnis memanfaatkan ruang publik secara lebih luas, sedangkan kelompok minoritas lebih selektif dan memilih ruang yang dianggap netral. Tingkat pendidikan turut membedakan preferensi penggunaan ruang formal dan informal. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang komunal masih tersegmentasi dan belum mendukung interaksi yang inklusif. Diperlukan strategi penataan ruang dan pengelolaan berbasis komunitas untuk mendorong interaksi lintas kelompok dan memperkuat kohesi sosial di lingkungan hunian vertikal.
KAJIAN ELEMEN ARSITEKTUR SEBAGAI PEMBENTUK SAKRAL PADA MASJID RAYA AL JABBAR PROVINSI JAWA BARAT Lusiana Armi; Tendy Y Ramadin
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.007

Abstract

Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu masjid kontemporer yang memiliki desain arsitektur yang berbeda dari masjid pada umumnya yang kerap mengutamakan kubah. Keunikan bentuknya yang monumental ini menjadikan Masjid Al-Jabbar sebagai daya tarik tersendiri sehingga banyak pengunjung yang tertarik untuk melihat dan mengunjungi secara langsung. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan pusat edukasi.  Namun, sebagai masjid yang utamanya sebagai tempat ibadah, perlu diteliti apakah Masjid Al-Jabbar masih mempertahankan elemen-elemen arsitektur yang menciptakan nuansa sakral sebagai pendukung ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen arsitektur yang menciptakan nuansa sakral pada bagian eksterior dan interior Masjid Raya Al Jabbar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis elemen arsitektur seperti gate , path , dan place pada eksterior; serta portal , aisle , dan place pada interior. Hasil observasi menunjukkan bahwa perjalanan spiritual jamaah dimulai dari eksterior yang mencakup gerbang sebagai simbol pemisah antara dunia luar dan ruang sakral. Jalur koridor kemudian mengarahkan jamaah menuju ruang utama ibadah. Elemen dominan pada eksterior adalah bentuk segitiga vertikal repetitif yang mengarah ke langit bermakna simbolis sebagai penunjuk Sang Ilahi. Pada interior, portal utama menjadi penanda transisi ke area lebih sakral dari eksterior, jalur (aisle) menjadi area ibadah sholat yang mengarah ke kiblat, dan mihrab sebagai tempat imam memimpin sholat didesain secara khusus dengan warna coklat kontras dan hiasan kaligrafi emas. Lafaz “Allah” pada langit-langit memberikan kesan bahwa Allah Maha Tinggi, sementara mihrab menjadi titik fokus paling sakral. Keseluruhan elemen ini dirancang untuk menciptakan transisi bertahap dari ruang profan di luar menuju ruang sakral di dalam, memperkuat pengalaman spiritual dan koneksi jamaah dengan Tuhan.
INTERPLAY AS A MECHANISM IN CONSTRUCTING ARCHITECTURE: SPATIAL NEGOTIATION IN PUBLIC SPACE OF KOTA TUA JAKARTA Gaby Fitria Bahri; Kristanti Dewi Paramita; Yandi Andri Yatmo
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.009

Abstract

This paper explores the understanding of interplay in architecture as a method of architectural design that negotiates two or more systems of order to generate new possibilities in spatial construction. Public space exists with various order systems that exist in a dominant or resistant way. However, this study argues that new space may exist through creative practice of play that enable interaction between orders. Interplay can be interpreted as a dynamic dialectic between systems of order that enable the construction of new spaces through spatial negotiation. This study explores interplay mechanisms to develop new architectural possibilities. The research was conducted through a case study of public spaces in Kota Tua Jakarta. This case study is selected due to the diverse and interacting systems of order present in the site. The study identifies six types of interplay in the public space: permanent-temporal, dynamic-static, formal-informal, dark-light, old-new, and attract-distract. Each interplay involves spatial operations of overlapping, occupying, spacing, adapting, and appropriation. By employing such approach, this paper offers architecture driven by interplay as a design method that negotiates the boundaries and dichotomies between systems of order, while also encouraging the production of more inclusive and dynamic spaces.
TRANSIT USAGE ALUN–ALUN KOTA TASIKMALAYA SEBAGAI FENOMENA PLACEMAKING Andhika Fakhri Padhlurrohman; Hastuti Saptorini
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.008

Abstract

Alun Alun Kota Tasikmalaya merupakan ruang publik di Kota Tasikmalaya yang ramai pengunjung. Paper ini bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena placemaking yang terjadi, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada transit usage dalam 4 zona properti yaitu properti rekratif, historis, olahraga dan ekonomis. Temuan menghasilkan 3 faktor utama pemicu fenomena placemaking yang terjadi yaitu faktor connectivity, readability dan walkability pada masing masing zona. Faktor connectivity dipicu oleh keterhubungan alun alun dengan pusat pendidikan juga ekonomi dan jasa. Faktor readability dipicu oleh keberadaan fasilitas berupa taman tugu, ruang terbuka hijau, trek lari dan ruang kuliner dalam 4 zona properti tersebut. Faktor walkability dipicu oleh kemudahan akses alun alun ini dijangkau dengan berjalan kaki dan juga ketersediaan akses bagi semua kalangan (universal use).
PREFERENSI PERILAKU PENGGUNA RUANG BERDASARKAN SAKRALITAS RUANG STUDI KASUS MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA Feri Setiyanto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.005

Abstract

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta merupakan ruang religius yang memadukan arsitektur Islam dan budaya Jawa, sehingga penggunaan ruangnya tidak hanya ditentukan oleh fungsi fisik, tetapi juga oleh persepsi pengguna terhadap kesakralan. Penelitian ini berfokus pada preferensi perilaku pengguna ruang berdasarkan sakralitas ruang dengan menggunakan pendekatan perilaku, arsitektur Islam, dan budaya Jawa untuk membaca hubungan antara pola aktivitas, hierarki ruang, dan makna simbolik bangunan. State of the art menunjukkan bahwa penelitian terdahulu lebih banyak membahas sakralitas dalam arsitektur Islam secara umum atau pola ruang masjid Jawa, tetapi belum banyak menjelaskan bagaimana persepsi kesakralan membentuk preferensi perilaku pengguna pada masjid Jawa. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, pemetaan ruang, dan analisis tematik. Pembahasan menunjukkan bahwa ruang utama dipersepsikan sebagai zona paling sakral karena menjadi pusat ibadah, memiliki level lantai tertinggi, pencahayaan lebih temaram, dan elemen arsitektural yang menegaskan orientasi ritual, sedangkan serambi, teras, dan pawestren memiliki tingkat sakralitas yang situasional sesuai waktu, jenis kegiatan, dan aturan pengelolaan ruang. Hasil penelitian menegaskan bahwa preferensi perilaku pengguna dipengaruhi oleh interaksi antara aktivitas ibadah, tata ruang arsitektur Jawa, prinsip arsitektur Islam, dan latar budaya pengguna, sehingga studi ini memperkaya kajian arsitektur masjid berbasis budaya lokal.
ELEMEN-ELEMEN RUANG PUBLIK DAN KONEKTIVITAS ANTARA RUANG TERBUKA DAN TERTUTUP, KASUS LAPANGAN KAREBOSI Michael Edwin; Lucia Helly Purwaningsih
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.004

Abstract

Ruang publik memiliki peran strategis dalam struktur kawasan pusat kota karena berfungsi sebagai wadah interaksi sosial, aktivitas ekonomi, serta pergerakan masyarakat perkotaan. Dalam perkembangan kota kontemporer, ruang publik tidak lagi dipahami secara terpisah antara ruang terbuka dan ruang tertutup, melainkan sebagai satu sistem ruang yang saling terhubung. Konektivitas antar ruang menjadi aspek penting dalam membentuk keterpaduan spasial, fungsional, dan visual yang memengaruhi kualitas kawasan pusat kota.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konektivitas ruang publik dalam sistem kawasan pusat Kota Makassar dengan studi kasus Lapangan Karebosi sebagai ruang terbuka publik utama berskala kota. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, pemetaan elemen ruang, serta kajian literatur perencanaan wilayah dan kota. Analisis difokuskan pada struktur ruang publik, jaringan sirkulasi pejalan kaki, zona transisi, orientasi fungsi bangunan, serta hubungan antara ruang terbuka dan ruang publik tertutup di sekitarnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa konektivitas kawasan Karebosi terbentuk melalui kesinambungan jalur pejalan kaki, keterbukaan visual menuju ruang terbuka utama, orientasi aktivitas yang mengarah ke lapangan kota, serta keberadaan ruang antara sebagai penghubung aktivitas. Integrasi elemen-elemen tersebut membentuk sistem ruang publik terpadu yang meningkatkan aksesibilitas, keterbacaan ruang, dan vitalitas kawasan pusat kota. Namun demikian, masih terdapat potensi penguatan konektivitas, terutama pada aspek kenyamanan sirkulasi, kejelasan orientasi, dan kualitas ruang transisi.Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan perencanaan ruang publik berbasis sistem kawasan, di mana ruang terbuka dan ruang publik tertutup dipahami sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi referensi konseptual bagi perencanaan dan pengembangan kawasan pusat kota yang terintegrasi dan berkelanjutan.
STRATEGI PENINGKATAN FUNGSI DAN LUASAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PADAT JALAN MARGA JAYA, TANGERANG Steven Lim; Samsu Hendra Siwi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.003

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan komponen tata ruang kota modern yang krusial karena memiliki fungsi multidimensi seperti aspek ekologi, sosial serta estetika. Pesatnya pembangunan perkotaan dan urbanisasi seringkali menyebabkan pertumbuhan permukiman organik informal serta dis-fungsi infrastruktur, termasuk minimnya RTH dalam mewadahi aktivitas publik. Kondisi ini menunjukkan perlunya kajian mendalam untuk peningkatan keberlanjutan permukiman. Salah satu kawasan yang mengalami pertumbuhan pesat dan menjadi magnet ekonomi adalah kawasan Alam Sutera, Tangerang. Permukiman organik yang tumbuh di tengah kota kawasan Alam Sutera adalah Jalan Marga Jaya, Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dis-fungsi RTH eksisting berdasarkan kriteria berdasarkan Permen PU No.05/PRT/M/2008, yaitu ekologis, sosial budaya, arsitektural estetika dan pengelolaan, serta merumuskan sintesis desain strategis untuk peningkatan fungsi dan luasan RTH. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap indikator kualitas RTH. Hasil analisis menunjukkan bahwa RTH eksisting hanya berjumlah 11.8% dan kualitas fungsinya tidak optimal. Hasil temuan penelitian berupa implementasi atap hijau pada hunian warga, menciptakan ruang bermain anak di atas lapangan olah raga dengan struktur komposit serta peningkatan RTH publik dan privat kawasan. Hasil sintesis desain berhasil meningkatkan luasan RTH kawasan untuk memenuhi standar minimum pemerintah yaitu 30% dan membentuk infrastruktur hijau yang fungsional dan berkelanjutan.
MODEL HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN STAKEHOLDER TERHADAP PENERAPAN PRINSIP EFISIENSI ENERGI DALAM DESAIN GEDUNG DATA CENTER NON-SERTIFIKASI Hikmah Nurcika Handayani; Budi Susetyo
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.002

Abstract

Pusat data merupakan bangunan dengan intensitas energi tinggi, di mana keputusan desain pada tahap awal sangat menentukan kinerja efisiensi energi, terutama pada proyek yang tidak berada dalam kerangka sertifikasi bangunan hijau. Dalam konteks tersebut, penerapan prinsip efisiensi energi sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman stakeholder yang terlibat dalam proses perancangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman stakeholder terhadap penerapan prinsip efisiensi energi pada desain bangunan data center non-sertifikasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 45 stakeholder profesional yang terlibat dalam perancangan data center. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang dirancang untuk merepresentasikan tingkat pemahaman dan penerapan prinsip efisiensi energi dalam praktik desain profesional, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan dasar dan pemahaman teknis berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerapan prinsip efisiensi energi, sedangkan pemahaman regulasi serta pemahaman peran dan tanggung jawab tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial. Temuan ini mengindikasikan bahwa, pada proyek data center non-sertifikasi, implementasi efisiensi energi lebih dipengaruhi oleh kompetensi teknis dan pemahaman fundamental desain dibandingkan oleh aspek regulatif atau struktural. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap kajian efisiensi energi bangunan dengan menegaskan pentingnya dimensi kognitif stakeholder dalam proses desain, serta menjadi dasar rekomendasi penguatan kapasitas profesional dalam perancangan data center berkelanjutan di Indonesia.
TRANSFORMASI BUDAYA BERMUKIM DALAM HUNIAN VERTIKAL: PERAN RUANG INTERAKSI SOSIAL DI KAMPUNG SUSUN KUNIR Siti Zahhra; Joni Hardi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.001

Abstract

Transformasi hunian dari kampung tapak ke hunian vertikal merupakan proses yang tidak hanya mengubah tatanan fisik ruang, tetapi juga memengaruhi budaya bermukim masyarakat yang menempatinya. Perubahan tersebut terutama terlihat pada cara penghuni memanfaatkan ruang, membangun kehidupan bertetangga, serta memaknai hunian dalam konteks lingkungan baru. Penelitian ini berupaya memahami perubahan budaya bermukim yang terjadi pada Kampung Kunir pascarelokasi ke Kampung Susun Kunir, dengan menitikberatkan pada hubungan antara konfigurasi ruang hunian vertikal dan praktik sosial penghuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 30 responden yang merupakan penghuni Kampung Kunir sebelum relokasi dan saat ini menetap di Kampung Susun Kunir. Pengumpulan data dilengkapi dengan observasi lapangan pada ruang-ruang interaksi sosial. Analisis dilakukan melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding, serta dibaca melalui kerangka teori budaya bermukim (Rapoport, 1969, 1990) dan konsep hunian sebagai sistem terbuka dari (Habraken, 1983). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya bermukim di Kampung Susun Kunir tidak hilang, melainkan mengalami transformasi melalui proses adaptasi terhadap hunian vertikal. Ruang-ruang semi-publik seperti galeri, koridor, dan lantai dasar berperan penting dalam mempertahankan kehidupan bertetangga dan praktik interaksi sosial. Selain itu, keterlibatan warga dalam proses perencanaan melalui pendekatan desain partisipatif memperkuat rasa memiliki, kontrol terhadap ruang, serta kemampuan penghuni dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hunian baru. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi aspek budaya bermukim dan interaksi sosial dalam perancangan kampung susun sebagai hunian vertikal berbasis komunitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 9