cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 333 Documents
POLUSI VISUAL DAN DEGRADASI CITRA KOTA: ANALISIS IMAGEABILITY KORIDOR JALAN JENDERAL SUDIRMAN KUANINO, KOTA KUPANG Yuliana Bhara Mberu; Novenrius Kornelius Sera; Robert M Raya Wulan
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji degradasi kualitas visual koridor Jalan Jenderal Sudirman Kuanino, Kota Kupang, akibat polusi visual kumulatif dari dominasi billboard komersial dan jaringan kabel utilitas udara yang tidak tertata. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan menerapkan kerangka Image of the City Kevin Lynch sebagai lensa interpretatif untuk menganalisis dampak polusi visual terhadap paths, edges, districts, nodes, dan landmarks. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, dokumentasi fotografi pada lima titik strategis, pemetaan spasial, dan wawancara mendalam dengan 15 informan yang mewakili pengguna jalan, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan. Analisis data dilakukan menggunakan Analisis Tematik Braun dan Clarke untuk mengidentifikasi tema-tema empiris sebelum ditafsirkan secara teoretik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi billboard dan kabel utilitas udara menciptakan visual chaos dan cognitive overload yang mengganggu orientasi, mereduksi ritme fasad, menghomogenkan identitas kawasan, serta menggeser landmark publik oleh elemen komersial temporer. Temuan empiris dari wawancara mengungkap adanya benturan antara tiga logika utama: logika ekonomi pelaku usaha, logika kenyamanan publik, dan logika tata kelola pemerintah. Polusi visual ini tidak hanya berdampak estetis, tetapi menurunkan keterbacaan (legibility) dan daya citra (imageability) pada koridor. Temuan ini menegaskan relevansi teori Kevin Lynch dalam konteks kota dengan sense of place kontemporer dan memberikan dasar konseptual bagi penataan visual koridor jalan perkotaan yang berkelanjutan.
PERCEIVED ENVIRONMENTAL QUALITY AS A DIMENSION OF SPATIAL COMFORT: ITS ROLE IN RESIDENTIAL PREFERENCES AMONG URBAN YOUTH IN JAKARTA’S PUBLIC RENTAL FLATS Aqmala Fatma Kurniasih; Joko Adianto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the role of perceived environmental quality—as a primary dimension of spatial comfort—in shaping the residential preferences of the younger generation in public-facility-based rental flats (rusunawa) in Jakarta. The scarcity of strategic urban land and low youth occupancy rates in rental flats underscore the urgency of studying rusunawa development built on public facility sites. This research is driven by a shifting trend where the younger generation views housing not merely as a place to live, but also as a form of social identity. A limitation of previous studies lies in their predominant focus on physical-structural and economic attributes, leaving unexplored how sensory-psychosocial factors shape housing decisions. The novelty of this study lies in integrating the Theory of Planned Behavior and Person–Environment Fit Theory to explain the low interest among youth in living in public rental flats. Using a mixed-methods approach, a survey of 450 respondents and interviews with 10 selected participants were conducted to explore the psychosocial factors influencing housing choices. Quantitative analysis shows that perceived spatial-environmental comfort—comprising cleanliness, noise, privacy, odor, and safety—significantly predicts residential interest, surpassing structural factors such as unit size. Regression results (R² = 0.79, β = 0.889, p < .001) demonstrate the dominance of perceived environmental quality factors, while moderation analysis reveals that unit size has no significant mediating effect. Qualitative findings reinforce these results, highlighting environmental quality issues such as noise, limited privacy, unpleasant odors, and unclean surroundings commonly found in public-facility-based rental flats in Jakarta. Furthermore, living in rental flats is perceived as temporary housing, and the persistent social and negative environmental stigmas attached to the image of rusunawa make many young people reluctant to reside there. These findings suggest that housing policies for the younger generation need to emphasize spatial-environmental comfort. User participation in planning, alongside the integration of youth-friendly features such as communal spaces and flexible design, is essential for improving housing acceptance and long-term sustainability.
KAJIAN VISIBILITAS RUANG TERHADAP PEMBENTUKAN TERITORIALITAS DAN PERSEPSI RASA AMAN PENGUNJUNG KEDAI KOPI 24 JAM DI SURABAYA Lutfaiz Akbar Ahsani; Dian Kartika Santoso
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedai kopi 24 jam khususnya di Surabaya memiliki risiko pencurian yang tinggi pada malam hari karena menurunnya pengawasan visual secara alami. Berdasarkan teori Crime Prevention Through Enviromental Design (CPTED), risiko kejahatan ini dapat ditekan menggunakan prinsip Natural Surveillance (pengawasan alami) dan Territorial Reinforcement (penegasan batas wilayah). Solusi arsitektur dari teori ini menuntut pembuktian apakah jarak pandang di dalam kafe benar-benar bisa membuat pengunjung berani menguasai dan menandai meja mereka dari gangguan orang asing. Sampai saat ini, belum ada penelitian yang membandingkan hasil pengujian perangkat lunak tata ruang dengan bukti langsung berupa perilaku pengunjung di lapangan khususnya pada objek kedai kopi yang beroperasi 24 jam di Surabaya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jarak pandang (visibilitas) terhadap terbentuknya teritorialitas dan persepsi rasa aman mereka. Penelitian ini menggunakan metode campuran melalui tiga tahap: simulasi menggunakan software DepthmapX untuk memetakan area terpantau dan area blind spot, observasi lapangan untuk mencatat pengunjung yang meninggalkan barang di meja, serta penyebaran kuesioner sebagai bentuk validasi langsung dari pengunjung mengenai kesesuaian tata ruang dengan persepsi aman mereka. Hasil penelitian ini menemukan adanya anomali teritorial di mana area dengan integrasi visual tertinggi justru memicu perilaku defensif akibat hilangnya privasi, sementara area blindspot didominasi oleh perilaku meninggalkan barang di meja. Temuan ini menegaskan pergeseran paradigma bahwa rasa aman solo visitor tidak ditentukan oleh kebebasan jarak pandang semata, melainkan oleh keseimbangan spasial dan kehadiran sosial (social presence) yang bertindak sebagai salah satu elemen keamanan utama.