cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 327 Documents
EVALUASI FAKTOR PENUNJANG PERMUKIMAN BERKELANJUTAN DI TSM TELANG, BANYUASIN Nyiluh Rahajeng Sofia Undari; Rahmatyas Aditantri
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i2.005

Abstract

Permukiman Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM) Telang, Banyuasin menghadapi tantangan kompleks dalam upaya mencapai keberlanjutan kawasan. Kerentanan terhadap bencana, keterbatasan infrastruktur dasar, serta degradasi kualitas lingkungan menjadi isu utama yang belum tertangani secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor penunjang keberlanjutan permukiman berbasis konteks lokal. Menggunakan pendekatan mix-method, data dikumpulkan melalui survei terhadap 100 kepala keluarga, wawancara mendalam dengan lima pakar, serta studi literatur kebijakan dan regulasi. Analisis dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menetapkan bobot prioritas masing-masing faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur dasar, keterlibatan sosial masyarakat, dan kualitas lingkungan merupakan tiga faktor dominan yang paling menentukan keberlanjutan permukiman. Temuan juga mengindikasikan adanya kesenjangan antara kondisi eksisting dan preferensi penghuni, terutama dalam hal sanitasi dan akses air bersih. Kajian ini menegaskan pentingnya perencanaan adaptif yang berpijak pada partisipasi komunitas serta sinergi antara aspek teknis dan sosial dalam merancang permukiman berkelanjutan. Implikasi penelitian ini tidak hanya relevan bagi TSM Telang, tetapi juga dapat diadopsi pada kawasan transmigrasi lainnya di Indonesia.
PLANT PHOTOTROPISM AS THE BASIS FOR DESIGNING INCLUSIVE LIGHTING IN SPACES FOR THE DEAF Muhammad Rizqy Akbar; Aghnia Zahrah
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.008

Abstract

This article explores a biomimetic architectural approach that applies the concept of plant phototropism as a conceptual foundation for designing inclusive lighting environments for individuals who are deaf or hard of hearing. Recognizing that deaf users rely on visual perception as their primary medium of communication, this study draws an analogy between the way plants move toward light and the way deaf individuals orient themselves within illuminated spaces. Supported by the multisensory theory in architecture (Spence, 2020), which asserts that spatial perception arises from the integration of multiple senses, this research employs qualitative and conceptual experimentation based on plant growth direction to develop lighting design principles that are even, adaptive, and responsive to visual communication needs. These principles are translated into architectural strategies such as the orientation of spaces toward natural light, the balanced distribution of artificial illumination, and the use of material reflectance, positioning phototropism as a biomimetic foundation for DeafSpace development that enhances both functionality and sensory experience.
EVALUASI PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA DESAIN RESORT (STUDI KASUS: TAMAN DAYU RESORT & GOLF) Salma Nuha Rozan Hanifah; Azkia Avenzoar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.005

Abstract

Padatnya aktivitas, gaya hidup serba instan, dan keterbatasan ruang hijau membuat masyarakat perkotaan rentan terhadap stres dan kejenuhan mental. Akibatnya, kebutuhan akan ruang yang mampu mendukung pemulihan psikologis (healing space) meningkat. Resort dengan pendekatan healing architecture dapat menjadi pilihan alternatif karena memberikan pengalaman yang menyembuhkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Salah satu resort yang memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai ruang penyembuhan pengguna adalah Taman Dayu Resort & Golf. Sebagian besar penelitian healing architecture masih berfokus pada fasilitas kesehatan, dan belum banyak penelitian empiris tentang aplikasinya pada resort tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip healing architecture pada desain Taman Dayu Resort dengan meninjau aspek alam, indera manusia, dan kenyamanan psikologis diwujudkan dengan 9 prinsip healing architecture oleh Nousiainen (2011). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif dengan studi kasus, melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis ulasan pengunjung untuk memperoleh data sekunder mengenai pengalaman spasial pengguna. Hasil evaluasi berdasarkan triangulasi data menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen seperti lanskap terbuka, orientasi visual ke alam, dan material alami telah mendukung relaksasi, aspek inderawi dan psikologis seperti stimulasi sensorik yang beragam, penataan furnitur, pencahayaan lorong, dan aksesibilitas belum optimal. Perbaikan pada elemen-elemen tersebut diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, orientasi ruang, dan pengalaman penyembuhan secara menyeluruh. Temuan ini memperkuat teori Nousiainen (2011) tentang pentingnya integrasi aspek alam, inderawi, dan psikologis dalam healing architecture, sekaligus menekankan perlunya adaptasi desain agar prinsip-prinsip tersebut dapat berfungsi maksimal di konteks resort tropis.
KAJIAN ELEMEN ARSITEKTUR SEBAGAI PEMBENTUK SAKRAL PADA MASJID RAYA AL JABBAR PROVINSI JAWA BARAT Lusiana Armi; Tendy Y Ramadin
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.007

Abstract

Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu masjid kontemporer yang memiliki desain arsitektur yang berbeda dari masjid pada umumnya yang kerap mengutamakan kubah. Keunikan bentuknya yang monumental ini menjadikan Masjid Al-Jabbar sebagai daya tarik tersendiri sehingga banyak pengunjung yang tertarik untuk melihat dan mengunjungi secara langsung. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan pusat edukasi.  Namun, sebagai masjid yang utamanya sebagai tempat ibadah, perlu diteliti apakah Masjid Al-Jabbar masih mempertahankan elemen-elemen arsitektur yang menciptakan nuansa sakral sebagai pendukung ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen arsitektur yang menciptakan nuansa sakral pada bagian eksterior dan interior Masjid Raya Al Jabbar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis elemen arsitektur seperti gate , path , dan place pada eksterior; serta portal , aisle , dan place pada interior. Hasil observasi menunjukkan bahwa perjalanan spiritual jamaah dimulai dari eksterior yang mencakup gerbang sebagai simbol pemisah antara dunia luar dan ruang sakral. Jalur koridor kemudian mengarahkan jamaah menuju ruang utama ibadah. Elemen dominan pada eksterior adalah bentuk segitiga vertikal repetitif yang mengarah ke langit bermakna simbolis sebagai penunjuk Sang Ilahi. Pada interior, portal utama menjadi penanda transisi ke area lebih sakral dari eksterior, jalur (aisle) menjadi area ibadah sholat yang mengarah ke kiblat, dan mihrab sebagai tempat imam memimpin sholat didesain secara khusus dengan warna coklat kontras dan hiasan kaligrafi emas. Lafaz “Allah” pada langit-langit memberikan kesan bahwa Allah Maha Tinggi, sementara mihrab menjadi titik fokus paling sakral. Keseluruhan elemen ini dirancang untuk menciptakan transisi bertahap dari ruang profan di luar menuju ruang sakral di dalam, memperkuat pengalaman spiritual dan koneksi jamaah dengan Tuhan.
KONSEP TRADISIONAL BALI PADA KAWASAN INDONESIA TOURISM DEVELOPMENT CORPORATION (ITDC) NUSA DUA, KABUPATEN BADUNG, PROVINSI BALI I Dewa Gede Agung Surya Pranditha; I Gusti Agung Ayu Rai Asmiwyati; Kadek Edi Saputra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.006

Abstract

Pesatnya perkembangan Bali sebagai destinasi wisata unggulan berpotensi mengakibatkan terjadinya perubahan budaya dan memudarnya konsep arsitektur tradisional Bali di Kawasan pariwisata khususnya ITDC. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dilakukan identifikasi konsep arsitektur tradisional Bali dan kesesuaian ruang terhadap kegiatan di ITDC yang berbasis Tri Hita Karana (THK). Penelitian ini memuat tiga tahapan utama yaitu studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara. Data penelitian diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga konsep Tradisional Bali yang diterapkan pada kawasan ITDC yaitu Tri Hita Karana, Tri Mandala, Catur Warna. Tri Hita Karana terlihat dari pembagian ruang berdasarkan tingkat kesucian yaitu parhyangan, pawongan, palemahan. Konsep Tri Mandala membagi ruang berdasarkan keseimbangan dengan orientasi kangin kauh/timur barat, dan konsep Catur warna terbukti dari konsep penanaman tanaman yang sesuai dengan warna arah mata angin di Bali. Hasil penelitian juga menunjukan kesesuaian ruang terhadap kegiatan berdasarkan konsep Tri Hita Karana di ITDC terbukti dari kegiatan yang dilaksakan berdasarkan zona sakral dan profan dimana area parhyangan yang digunakan sebagai zona persembahyangan, pawongan sebagai zona akomodasi wisatawan, dan palemahan sebagai zona pengelolaan limbah. Temuan ini berkontribusi secara praktis terhadap upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan di Bali melalui penerapan prinsip arsitektur tradisional yang selaras dengan nilai-nilai lokal dan keseimbangan lingkungan.
TENDENSI PENERAPAN PERANGKAT LUNAK BIM (Building Information Modeling) DAN NON-BIM PADA MATA KULIAH PERANCANGAN ARSITEKTUR Annizar Bachri; Endah Mustikowati; Wibisono Bagus Nimpuno
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.001

Abstract

Perangkat lunak berbasis Computer Aided Design (CAD) masih menjadi salah satu andalan setiap mahasiswa dalam kegiatan mendesain pada mata kuliah perancangan. Namun, hal tersebut dapat menjadi masalah pada era digitalisasi yang terus berkembang pesat karena disatu sisi perangkat lunak berbasis Building Information Modeling (BIM) sudah mulai banyak digunakan untuk merancang. Perangkat lunak berbasis BIM dalam dunia desain memberikan solusi yang lebih efisien dan terintegrasi, serta sudah berkembang sejak beberapa tahun silam. Metode BIM menawarkan efisiensi waktu pengerjaan desain yang lebih adaptif dan terukur sehingga dapat membantu mahasiswa dalam membuat gambar rancang yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kecenderungan mahasiswa arsitektur yang aktif dalam merancang menggunakan perangkat lunak pada mata kuliah perancangan arsitektur khususnya pada rancangan yang kompleks. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk menguji hipotesis dengan mengidentifikasikan tiga faktor dalam kecenderungan pemilihan perangkat lunak BIM dan non-BIM yang memiliki pengaruh penting dalam proses pembelajaran yaitu self-rated Proficiency (Kemampuan), Learning Time / Exposure (Waktu), dan Functional Tendency Principle (Fungsi).  Hasil dari penelitian menunjukan sebagian besar mahasiswa masih cenderung menggunakan perangkat lunak non-BIM. Mahasiswa dengan tingkat pemahaman yang lebih tinggi, masa studi yang lebih panjang, serta kemampuan menyesuaikan penggunaan perangkat lunak dengan kebutuhan perancangan, cenderung memilih BIM sebagai perangkat utama dalam proses desain lanjutan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa tiga faktor tersebut memiliki keterkaitan terhadap kecenderungan mahasiswa dalam memilih BIM atau non-BIM.
EVALUASI KINERJA TERMAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KENYAMANAN PENGUNJUNG MUSEUM BAHARI JAKARTA Doddy Anwar; M. Syarif Hidayat
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i2.008

Abstract

Bangunan bersejarah atau situs bersejarah didefinisikan sebagai lokasi resmi di mana potongan sejarah politik, militer, budaya, atau sosial telah dilestarikan karena nilai warisan budayanya. Bangunan ini merupakan bagian integral dari kekayaan warisan setiap negara. Terlepas dari wilayah tempat mereka berada, bangunan bersejarah milik semua orang di seluruh dunia. Salah satu cara untuk melestarikan bangunan bersejarah adalah dengan cara penggunaan bangunan kembali secara adaptif. Masalah yang dihadapi adalah tidak mudah menyesuaikan fungsi baru dengan bangunan lama. Seperti museum. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kinerja termal pada museum Bahari yang merupakan bangunan lama. Evaluasi kinerja termal ini difokuskan kepada suhu udara dan kelembaban relative. Kedua factor ini berpengaruh terhadap kenyamanan pengunjung dan benda pamer. Metode yang dilakukan dengan menggunakan metode survey untuk mengetahui kondisi termal museum dan persepsi pengunjung terhadap kondisi tersebut. Penelitian ini juga mengkaji persepsi pengunjung terhadap kondisi termal di ruang pamer Museum Bahari yang menggunakan ventilasi alami maupun sistem AC. Hasilnya menunjukkan bahwa suhu rata-rata di kedua jenis ruang tersebut masih berada di atas standar kenyamanan termal ideal (24–26°C). Temuan ini menegaskan perlunya evaluasi sistem penghawaan demi kenyamanan pengunjung dan pelestarian artefak dalam bangunan bersejarah.
INTERPLAY AS A MECHANISM IN CONSTRUCTING ARCHITECTURE: SPATIAL NEGOTIATION IN PUBLIC SPACE OF KOTA TUA JAKARTA Gaby Fitria Bahri; Kristanti Dewi Paramita; Yandi Andri Yatmo
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.009

Abstract

This paper explores the understanding of interplay in architecture as a method of architectural design that negotiates two or more systems of order to generate new possibilities in spatial construction. Public space exists with various order systems that exist in a dominant or resistant way. However, this study argues that new space may exist through creative practice of play that enable interaction between orders. Interplay can be interpreted as a dynamic dialectic between systems of order that enable the construction of new spaces through spatial negotiation. This study explores interplay mechanisms to develop new architectural possibilities. The research was conducted through a case study of public spaces in Kota Tua Jakarta. This case study is selected due to the diverse and interacting systems of order present in the site. The study identifies six types of interplay in the public space: permanent-temporal, dynamic-static, formal-informal, dark-light, old-new, and attract-distract. Each interplay involves spatial operations of overlapping, occupying, spacing, adapting, and appropriation. By employing such approach, this paper offers architecture driven by interplay as a design method that negotiates the boundaries and dichotomies between systems of order, while also encouraging the production of more inclusive and dynamic spaces.
TRANSIT USAGE ALUN–ALUN KOTA TASIKMALAYA SEBAGAI FENOMENA PLACEMAKING Andhika Fakhri Padhlurrohman; Hastuti Saptorini
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.008

Abstract

Alun Alun Kota Tasikmalaya merupakan ruang publik di Kota Tasikmalaya yang ramai pengunjung. Paper ini bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena placemaking yang terjadi, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada transit usage dalam 4 zona properti yaitu properti rekratif, historis, olahraga dan ekonomis. Temuan menghasilkan 3 faktor utama pemicu fenomena placemaking yang terjadi yaitu faktor connectivity, readability dan walkability pada masing masing zona. Faktor connectivity dipicu oleh keterhubungan alun alun dengan pusat pendidikan juga ekonomi dan jasa. Faktor readability dipicu oleh keberadaan fasilitas berupa taman tugu, ruang terbuka hijau, trek lari dan ruang kuliner dalam 4 zona properti tersebut. Faktor walkability dipicu oleh kemudahan akses alun alun ini dijangkau dengan berjalan kaki dan juga ketersediaan akses bagi semua kalangan (universal use).
KEARIFAN LOKAL DALAM PENGGUNAAN MATERIAL BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN PENGINAPAN DI JL. MONKEY FOREST UBUD BALI Meitha Wachidatullailiya; Regita Indarti Solekhah; Mabdiyah Qurroti ‘Aini; Elsa Sahira Az Zahwa; Erika Fetriborn Sinaga; Aisyah Aisyah; Zahidah Mahroini
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.010

Abstract

Peningkatan pembangunan fasilitas pariwisata di Bali menimbulkan urgensi dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal masyarakat Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wujud penerapan kearifan lokal dalam penggunaan material bangunan ramah lingkungan pada penginapan di kawasan Jl. Monkey Forest, Ubud. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif eksploratif, yang berupaya memahami fenomena sosial-budaya secara mendalam. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pengrajin, arsitek, dan masyarakat setempat, serta dokumentasi visual terhadap objek bangunan. Analisis data dilakukan secara induktif dengan teknik reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk menemukan makna kontekstual dari praktik penggunaan material lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penginapan di Bali menerapkan nilai-nilai kearifan lokal melalui pemanfaatan material alami seperti kayu jati, bambu, batu alam, batu bata merah, rotan, dan genteng tanah liat. Material tersebut tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan tetapi juga memperkuat identitas arsitektur tradisional Bali. Meskipun demikian, penggunaan material alami menghadapi tantangan berupa kebutuhan perawatan intensif, ketahanan terhadap cuaca tropis, dan biaya konstruksi yang relatif tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara kearifan lokal dan inovasi teknologi material modern menjadi kunci untuk mewujudkan arsitektur penginapan berkelanjutan yang selaras dengan budaya dan lingkungan Bali.