cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 327 Documents
DESAIN SPEKULATIF: PENDEKATAN TEORETIS DALAM ARSITEKTUR Deki Tasima; Zadha Faedhillah Rana; Danti Arinta Hapsari
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.009

Abstract

Tantangan sosial, lingkungan, dan kemajuan teknologi yang pesat menantang peran arsitektur untuk bergerak melampaui praktik desain yang terbatas pada pemenuhan kebutuhan praktis. Desain spekulatif hadir sebagai pendekatan konseptual yang kritis dan reflektif, untuk mendorong eksplorasi terhadap kemungkinan masa depan yang belum terwujud. Penelitian ini bertujuan mengkaji desain spekulatif dalam konteks arsitektur, dengan fokus pada prinsip dasar, fungsi kritis-reflektif, serta perbedaannya dengan pendekatan desain konvensional. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan research through design, yang menitikberatkan pada eksplorasi objek desain sebagai sumber pengetahuan. Data diperoleh dari sumber sekunder seperti artikel ilmiah, jurnal, studi preseden, dan literatur relevan, yang dianalisis melalui interpretasi kritis dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain spekulatif memperluas peran arsitektur sebagai praktik intelektual yang mendorong refleksi dan imajinasi terhadap masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Keberhasilan dalam pendekatan ini tidak diukur dari implementasi praktis, melainkan dari kemampuannya memicu refleksi, dialog sosial, serta kesadaran terhadap dimensi etis, kultural, dan intelektual dalam praktik arsitektur. Di Indonesia, integrasi pendekatan ini dalam pendidikan arsitektur berpotensi mendorong pola pikir kritis dan kreatif, memperkuat kepekaan terhadap isu lokal dan keberlanjutan, serta membentuk generasi arsitek yang adaptif dan visioner.
EFEKTIVITAS PENATAAN DAN SIRKULASI RUANG KOMUNAL DI DESA ADAT BAYUNG GEDE MENGGUNAKAN METODE SPACE SYNTAX Putu Gede Wahyu Satya Nugraha; Tjokorda Gede Dalem Suparsa; Cokorda Istri Arina Cipta Bagus Utari; I Putu Susila Dharma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.004

Abstract

Desa Adat Bayung Gede di Kecamatan Kintamani, Bangli, merupakan Desa Bali Aga dengan nilai sejarah dan budaya yang unik, sehingga memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata. Meskipun berpotensi, desa ini belum memiliki perencanaan pengembangan wisata yang terstruktur dan berkelanjutan, yang sejalan dengan upaya Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penataan ruang komunal publik, terutama dari segi penempatan, sirkulasi, dan visibilitas sebagai dasar perencanaan ruang publik yang mendukung kegiatan social dan pariwisata. Metode yang digunakan adalah teknik Space Syntax yang mampu mengevaluasi struktur spasial berdasarkan metrik konektivitas, integrasi, dan visibilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hierarki spasial yang jelas; pusat-pusat utama seperti Pura Bale Agung, Pura Puseh Jro Kajangan, dan LPD Desa Bayung Gede memiliki nilai konektivitas dan integrasi tertinggi, menjadikannya titik simpul pergerakan dan interaksi sosial. Sebaliknya, fasilitas yang membutuhkan ketenangan (seperti sekolah dan pura tertentu) berada di lokasi dengan konektivitas terendah. Pola visibilitas juga menunjukkan area pusat dan ruang terbuka memiliki visibilitas tinggi, mendukung fungsi kegiatan publik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penataan ruang komunal publik di Desa Adat Bayung Gede dinilai efektif karena telah menciptakan hierarki spasial yang terorganisir dan fungsional. Pola ini berhasil mendukung aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan dengan menempatkan fasilitas penting sesuai dengan kebutuhan aksesibilitas dan privasi.
Cover Vol 15 No 2 Juli 2025 Agus Arif Wicaksono
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Vol 15 No 2 Juli 2025
Halaman Depan Vol 15 No 2 Agus Arif Wicaksono
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Halaman Belakang Vol 15 No 2 Agus Arif Wicaksono
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A MORPHOLOGICAL REVIEW OF FAÇADE PRECEDENTS EMPLOYING BIOMIMETIC DESIGN PRINCIPLES Sultan Yazid
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.003

Abstract

The façade functions to separate the interior and exterior spaces of a building. This separation supports the building in providing protection from weather conditions, especially sunlight, for its occupants, and plays a role in reducing the building’s energy demand. At the same time, environmental issues pose distinct challenges for façade design, as environmental degradation increases the likelihood of rising global temperatures, which in turn leads to high energy use. Therefore, façade technology is required to be efficient and durable. One strategy to achieve this goal is the biomimetic approach. The research method uses a qualitative approach through the collection of secondary data in the form of façade precedents employing biomimetic principles. The sampling technique used is judgmental sampling, in which precedents are selected based on the architects’ narratives and the morphological characteristics that represent biomimetic principles. Two precedents from tropical and subtropical regions, Nicolas San Juan (Mexico) and The Alpha (Australia), were selected as case studies. The research stages include a literature review on façades and biomimicry, the development of a biomimetic assessment matrix, and the analysis of both precedents using the matrix to identify the application of biomimetic principles in façade design. This study is a foundational research that can be further developed by increasing the number of precedents and expanding the scope of biomimetic aspects, considering that this study is limited to morphological aspects and relies on secondary data. From this process, the research shows that both precedents successfully apply biomimetic principles consistently in their façade structures and patterns, thereby providing references for the development of biomimetic façade design in future studies.
EVALUASI PENATAAN LANSKAP RUANG PUBLIK ALUN-ALUN KOTA KARAWANG BERDASARKAN PRINSIP DAN STANDAR PENATAAN LANSKAP Reza Fauzi; Nur Intan Mangunsong; Rini Fitri; Dibyanti Danniswari; Samuel Febrian Hamonangan Lumbantoruan
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.002

Abstract

Kawasan perkotaan saat ini sangat memerlukan ruang terbuka publik yang nyaman dan indah untuk digunakan oleh masyarakatnya, selain berfungsi sebagai sarana atau fasilitas berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakatnya, ruang terbuka publik juga dapat meningkatkan nilai keindahan bagi suatu kawasan perkotaan. Seiring dengan meningkatnya jumlah Masyarakat juga dengan semakin berkembanganya Pembangunan, kebutuhan akan suatu ruang terbuka publik yang aman nyaman dan memiliki fungsi yang baik menjadi penting bagi memenuhi kebutuhan Masyarakat untuk berinteraksi dan berkumpul di ruang terbuka. Alun-alun kota Karawang sudah seharusnya dapat mengakomodir berbagai kegiatan Masyarakat di sekitarnya seperti rekreasi, olahraga hingga kegiatan kebudayaan lokal yang mungkin saja dilakukan di area alun-alun. Penataan lanskap yang ada saat ini di alun-alun Karawang belum optimal kurangnya area hijau membuat alun-alun Karawang tidak dapat digunakan sepanjang hari, dengan cuaca atau iklim yang panas melakukan kegiatan pada siang hari di alun-alun Karawang menjadi tidak nyaman. Kurang tepatnya pemilihan jenis perkerasan juga menjadi salah satu faktor penyebab lebih panasnya suasana di alun-alun kota Karawang, penggunaan material seperti keramik yang justru membuat area lebih panas adalah salah satu permasalahan penataan ruang luar yang diterapkan di alun-alun kota Karawang. Metode yang digunakan meliputi tahapan observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, serjta kajian literatur terkait prinsip desain lanskap. Data hasil identifikasi akan dianalisis secara fungsi dan ruang untuk mendapatkan permasalahan serta potensi pengembangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi dan fasilitas eksisting yang ada untuk dilakukan analisis dan mendapatkan gagasan penataan ruang luar yang lebih tepat dan sesuai dengan kondisi iklimnya. Hasil dari penelitian ini akan menciptakan konsep atau gagasan penataan lanskap alun-alun kota Karawang yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kegiatan dan lingkungan kota Karawang, sehingga fungsi alun-alun dapat lebih optimal baik dari segi ekologis maupun segi estetika.
PREFERENSI PERILAKU PENGGUNA RUANG BERDASARKAN SAKRALITAS RUANG STUDI KASUS MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA Feri Setiyanto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.005

Abstract

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta merupakan ruang religius yang memadukan arsitektur Islam dan budaya Jawa, sehingga penggunaan ruangnya tidak hanya ditentukan oleh fungsi fisik, tetapi juga oleh persepsi pengguna terhadap kesakralan. Penelitian ini berfokus pada preferensi perilaku pengguna ruang berdasarkan sakralitas ruang dengan menggunakan pendekatan perilaku, arsitektur Islam, dan budaya Jawa untuk membaca hubungan antara pola aktivitas, hierarki ruang, dan makna simbolik bangunan. State of the art menunjukkan bahwa penelitian terdahulu lebih banyak membahas sakralitas dalam arsitektur Islam secara umum atau pola ruang masjid Jawa, tetapi belum banyak menjelaskan bagaimana persepsi kesakralan membentuk preferensi perilaku pengguna pada masjid Jawa. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, pemetaan ruang, dan analisis tematik. Pembahasan menunjukkan bahwa ruang utama dipersepsikan sebagai zona paling sakral karena menjadi pusat ibadah, memiliki level lantai tertinggi, pencahayaan lebih temaram, dan elemen arsitektural yang menegaskan orientasi ritual, sedangkan serambi, teras, dan pawestren memiliki tingkat sakralitas yang situasional sesuai waktu, jenis kegiatan, dan aturan pengelolaan ruang. Hasil penelitian menegaskan bahwa preferensi perilaku pengguna dipengaruhi oleh interaksi antara aktivitas ibadah, tata ruang arsitektur Jawa, prinsip arsitektur Islam, dan latar budaya pengguna, sehingga studi ini memperkaya kajian arsitektur masjid berbasis budaya lokal.
ELEMEN-ELEMEN RUANG PUBLIK DAN KONEKTIVITAS ANTARA RUANG TERBUKA DAN TERTUTUP, KASUS LAPANGAN KAREBOSI Michael Edwin; Lucia Helly Purwaningsih
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.004

Abstract

Ruang publik memiliki peran strategis dalam struktur kawasan pusat kota karena berfungsi sebagai wadah interaksi sosial, aktivitas ekonomi, serta pergerakan masyarakat perkotaan. Dalam perkembangan kota kontemporer, ruang publik tidak lagi dipahami secara terpisah antara ruang terbuka dan ruang tertutup, melainkan sebagai satu sistem ruang yang saling terhubung. Konektivitas antar ruang menjadi aspek penting dalam membentuk keterpaduan spasial, fungsional, dan visual yang memengaruhi kualitas kawasan pusat kota.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konektivitas ruang publik dalam sistem kawasan pusat Kota Makassar dengan studi kasus Lapangan Karebosi sebagai ruang terbuka publik utama berskala kota. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, pemetaan elemen ruang, serta kajian literatur perencanaan wilayah dan kota. Analisis difokuskan pada struktur ruang publik, jaringan sirkulasi pejalan kaki, zona transisi, orientasi fungsi bangunan, serta hubungan antara ruang terbuka dan ruang publik tertutup di sekitarnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa konektivitas kawasan Karebosi terbentuk melalui kesinambungan jalur pejalan kaki, keterbukaan visual menuju ruang terbuka utama, orientasi aktivitas yang mengarah ke lapangan kota, serta keberadaan ruang antara sebagai penghubung aktivitas. Integrasi elemen-elemen tersebut membentuk sistem ruang publik terpadu yang meningkatkan aksesibilitas, keterbacaan ruang, dan vitalitas kawasan pusat kota. Namun demikian, masih terdapat potensi penguatan konektivitas, terutama pada aspek kenyamanan sirkulasi, kejelasan orientasi, dan kualitas ruang transisi.Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan perencanaan ruang publik berbasis sistem kawasan, di mana ruang terbuka dan ruang publik tertutup dipahami sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi referensi konseptual bagi perencanaan dan pengembangan kawasan pusat kota yang terintegrasi dan berkelanjutan.
STRATEGI PENINGKATAN FUNGSI DAN LUASAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PADAT JALAN MARGA JAYA, TANGERANG Steven Lim; Samsu Hendra Siwi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.003

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan komponen tata ruang kota modern yang krusial karena memiliki fungsi multidimensi seperti aspek ekologi, sosial serta estetika. Pesatnya pembangunan perkotaan dan urbanisasi seringkali menyebabkan pertumbuhan permukiman organik informal serta dis-fungsi infrastruktur, termasuk minimnya RTH dalam mewadahi aktivitas publik. Kondisi ini menunjukkan perlunya kajian mendalam untuk peningkatan keberlanjutan permukiman. Salah satu kawasan yang mengalami pertumbuhan pesat dan menjadi magnet ekonomi adalah kawasan Alam Sutera, Tangerang. Permukiman organik yang tumbuh di tengah kota kawasan Alam Sutera adalah Jalan Marga Jaya, Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dis-fungsi RTH eksisting berdasarkan kriteria berdasarkan Permen PU No.05/PRT/M/2008, yaitu ekologis, sosial budaya, arsitektural estetika dan pengelolaan, serta merumuskan sintesis desain strategis untuk peningkatan fungsi dan luasan RTH. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap indikator kualitas RTH. Hasil analisis menunjukkan bahwa RTH eksisting hanya berjumlah 11.8% dan kualitas fungsinya tidak optimal. Hasil temuan penelitian berupa implementasi atap hijau pada hunian warga, menciptakan ruang bermain anak di atas lapangan olah raga dengan struktur komposit serta peningkatan RTH publik dan privat kawasan. Hasil sintesis desain berhasil meningkatkan luasan RTH kawasan untuk memenuhi standar minimum pemerintah yaitu 30% dan membentuk infrastruktur hijau yang fungsional dan berkelanjutan.