cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 22527077     EISSN : 25493892     DOI : -
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri which is abbreviated as Industria. Industria is a journal published by Department of Agro-industrial Technology, Faculty of Agricultural Technology, University of Brawijaya, Indonesia. It publishes articles in the scope of technology and management of agro-industrial field, and also other related topics.
Arjuna Subject : -
Articles 265 Documents
Institutional Pressure and Circular Economy Performance: Collaborative Circular Supply Chain Capabilities in Indonesia’s Fertilizer Industry Primantara, Ari; Fahmi, Muhammad Ainul; Rozudin, Maghfur; Ardianto, Rizal
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2025.014.01.7

Abstract

AbstractThe global environmental crisis and the fertilizer industry’s dependence on phosphate and gas are accelerating the shift toward a circular economy. This transition requires more effective management of nutrient flows, waste, and cross-actor collaboration along integrated supply chains. This study examined how external pressures influence environmental sustainability commitments and how alliance, engagement, and circular supply chain capabilities shape circular economy performance in Indonesian fertilizer companies. A quantitative approach was applied through a cross-sectional survey of 122 companies and analysis using Partial Least Squares Structural Equation Modeling. The results show that external pressures strengthen environmental sustainability commitments (path coefficient = 0.658), and that commitment enhances alliance capabilities (0.782) and engagement capabilities (0.737). Alliance capabilities and engagement capabilities jointly explain the development of circular supply chain capabilities (R² = 0.826). Circular supply chain capabilities are the strongest predictor of circular economy performance (path coefficient = 0.769; R² = 0.892), indicating a stable and significant causal structure. These findings confirm that the success of a circular economy in the fertilizer industry depends on companies' ability to translate institutional pressures into strategic commitments and collaborative capability bundles that support reverse logistics, residue utilization, and nutrient recovery.Keywords: circular economy, circular supply chain, environmental sustainability commitment, alliance capabilities, fertilizer industry AbstrakKrisis lingkungan global dan ketergantungan industri pupuk pada fosfat dan gas mendorong transformasi menuju ekonomi sirkular. Transisi ini menuntut pengelolaan aliran nutrien, limbah, dan kolaborasi lintas aktor yang lebih efektif di sepanjang rantai pasok industri terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh tekanan eksternal terhadap komitmen keberlanjutan lingkungan dan peran kapabilitas aliansi, kapabilitas keterlibatan, dan kapabilitas rantai pasok sirkular dalam membentuk kinerja ekonomi sirkular perusahaan pupuk di Indonesia. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui survei potong lintang terhadap 122 perusahaan pupuk dan analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling. Hasil menunjukkan bahwa tekanan eksternal meningkatkan komitmen keberlanjutan lingkungan dengan koefisien jalur 0,658 dan komitmen tersebut memperkuat kapabilitas aliansi sebesar 0,782 serta kapabilitas keterlibatan sebesar 0,737. Kapabilitas aliansi dan kapabilitas keterlibatan bersama-sama menjelaskan pembentukan kapabilitas rantai pasok sirkular dengan koefisien determinasi 0,826. Kapabilitas rantai pasok sirkular menjadi penentu utama kinerja ekonomi sirkular dengan koefisien jalur 0,769 dan koefisien determinasi 0,892 sehingga struktur hubungan kausal stabil dan signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular di industri pupuk bergantung pada kemampuan perusahaan menerjemahkan tekanan institusional menjadi komitmen strategis dan bundel kapabilitas kolaboratif yang mendukung logistik balik, pemanfaatan residu, serta pemulihan nutrien.Kata kunci: ekonomi sirkular, rantai pasok sirkular, komitmen keberlanjutan lingkungan, kapabilitas aliansi, industri pupuk 
Feed Engineering for Sustainable Livestock Nutrition Shah, Syed Muhammad Ali
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2025.014.01.8

Abstract

AbstractFeed Engineering integrates mechanical, biological, and chemical processes to enhance nutrient efficiency and sustainability in animal production. This study aimed to synthesize recent evidence on key feed engineering technologies (pelleting, grinding, fermentation, and agro-industrial by-product valorization) through a systematic literature review following the PRISMA 2020 framework. From 642 publications initially identified, 97 met the final inclusion criteria. Results reveal that optimized pelleting and grinding improved feed conversion ratios by 6–12%, nutrient digestibility by up to 15%, and reduced methane emissions by 10–15%, depending on livestock species and processing parameters. Incorporation of residues such as cassava pulp, rice bran, and fruit pomace lowered feed costs by around 15% and improved waste utilization efficiency by 18%. Biological and enzymatic treatments further enhanced protein solubility and detoxified antinutritional compounds, increasing the safety and nutritional value of formulated feeds. These integrated processes demonstrate that Feed Engineering not only boosts productivity but also contributes to circular resource use and emission reduction. Future developments should focus on establishing standardized processing parameters, ensuring long-term feed safety, and integrating digital process control for precision and energy efficiency, enabling sustainable and climate-resilient livestock systems.Keywords: Feed engineering, livestock nutrition, pelleting, agro-industrial by-products, sustainability AbstrakRekayasa Pakan (Feed Engineering) mengintegrasikan proses mekanis, biologis, dan kimiawi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan nutrisi dalam produksi ternak. Studi ini bertujuan untuk mensintesis bukti terkini tentang teknologi rekayasa pakan utama (pelet, penggilingan, fermentasi, dan valorisasi produk sampingan agroindustri) melalui tinjauan pustaka sistematis yang mengikuti kerangka kerja PRISMA 2020. Dari 642 publikasi yang awalnya diidentifikasi, 97 memenuhi kriteria inklusi akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelet dan penggilingan yang dioptimalkan meningkatkan rasio konversi pakan sebesar 6–12%, daya cerna nutrisi hingga 15%, dan mengurangi emisi metana sebesar 10–15%, tergantung pada spesies ternak dan parameter pengolahan. Penambahan residu seperti ampas singkong, dedak padi, dan ampas buah menurunkan biaya pakan sekitar 15% dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah sebesar 18%. Perlakuan biologis dan enzimatik semakin meningkatkan kelarutan protein dan mendetoksifikasi senyawa antinutrisi, sehingga meningkatkan keamanan dan nilai gizi pakan yang diformulasikan. Proses-proses terintegrasi ini menunjukkan bahwa Rekayasa Pakan tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga berkontribusi pada pemanfaatan sumber daya secara sirkular dan pengurangan emisi. Pengembangan di masa mendatang harus berfokus pada penetapan parameter pemrosesan yang terstandarisasi, memastikan keamanan pakan jangka panjang, dan mengintegrasikan kontrol proses digital untuk presisi dan efisiensi energi, yang memungkinkan sistem peternakan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap iklim.Keywords: Rekayasa pakan, nutrisi ternak, pelet, produk sampingan agroindustri, keberlanjutan 
Roasting Degree as a Design Lever: Physicochemical Quality, Sensory Appeal, and Youth Preference in Hot-Process Upcycled Robusta Coffee Soap Wulandari, Sri; Sidik, Gusmon; Anggraini, Septiana; Ikarini, Imro'ah; Yustina, Ita
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractDemand for natural solid soaps is rising due to skin safety and sustainability concerns. Robusta coffee contains pigments and bioactive compounds whose properties vary with roasting degree and may affect soap quality. This study evaluated the effects of light, medium, and dark roasting on the physicochemical characteristics of natural coffee soap and young consumer preferences. Soaps were produced using a heat process in a completely randomized design with three replications. Analyses included moisture content, pH, free fatty acids, free alkalis, caffeine content, and color, while a hedonic test involving 199 panelists aged 16–24 assessed color, aroma, and overall appearance. Coffee samples showed water content of 3.40–5.20%, pH 5.92–6.81, and caffeine 1.63–1.77%. Soap water content ranged from 10.71–14.61%, pH 10.29–10.60, free fatty acids 0.66–1.22%, free alkalis 0.25–0.34%, and caffeine 0.20–0.24 mg g⁻¹. Roasting degree did not affect free alkalis. Dark-roasted coffee soap received the highest aroma and overall appearance scores, while color preference did not differ significantly. These results support the development of dark-roasted coffee soap for young consumers and highlight the need to optimize the oil-to-NaOH ratio to meet Indonesian National Standards and support circular economy-based value-added products.Keywords: Consumer preference, natural coffee soap, physicochemical quality, roast degree, Robusta coffee AbstrakPermintaan sabun mandi padat berbahan alami meningkat seiring perhatian terhadap keamanan kulit dan keberlanjutan. Kopi Robusta menawarkan pigmen dan senyawa bioaktif yang dipengaruhi derajat sangrai sehingga berpotensi mengubah mutu sabun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh sangrai ringan, sedang, dan gelap terhadap karakteristik fisikokimia sabun kopi alami dan preferensi konsumen muda. Pembuatan sabun dilakukan melalui proses panas menggunakan rancangan acak lengkap, 3 ulangan setiap perlakuan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, pH, asam lemak bebas, alkali bebas, kadar kafein, dan karakter warna. Uji hedonik melibatkan 199 panelis berusia 16–24 tahun yang menilai warna, aroma, dan penampilan keseluruhan. Kadar air kopi berada pada 3,40–5,20%, pH 5,92–6,81, dan kafein 1,63–1,77%. Sabun menunjukkan kadar air 10,71–14,61%, pH 10,29–10,60, asam lemak bebas 0,66–1,22%, alkali bebas 0,25–0,34%, dan kafein 0,20–0,24 miligram per gram. Sangrai tidak memengaruhi alkali bebas. Sabun sangrai gelap memperoleh skor aroma dan penampilan keseluruhan tertinggi, sedangkan skor warna tidak berbeda nyata. Temuan ini mendukung pengembangan sabun kopi alami berbasis sangrai gelap bagi segmen konsumen muda, dan menekankan kebutuhan optimasi rasio minyak terhadap NaOH agar alkali bebas memenuhi Standar Nasional Indonesia dan siap dikembangkan sebagai produk bernilai tambah yang mendukung ekonomi sirkular.Kata kunci: Derajat sangrai, kopi Robusta, mutu fisikokimia, preferensi konsumen, sabun kopi alami 
From Symbolic Green Claims to Operational Impact: A Decision-Oriented AHP 7P Framework for Sustainable Coffee Shops Saliha, Ilmiasa; Ismoyowati, Dyah; Ainuri, Makhmudun
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 AbstractThe growth of urban coffee shops strengthens the economic contribution of the hospitality sector while increasing environmental pressure through intensive consumption of energy, water, and materials. Green marketing studies in this sector still focus on consumer perception and symbolic communication, lacking a measurable, operational, and strategically prioritized framework. This study offers a structured decision-making approach by integrating the 7P marketing mix (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, and Physical Evidence) and the Analytical Hierarchy Process (AHP) based on environmental expert assessments. The study aimed to identify green marketing strategies that are relevant, impactful, and realistic for small-scale coffee shops. A multi-criteria approach consolidated 23 attributes into 8 operational strategies, then ranked them through pairwise comparisons by six environmental experts following interviews with 21 business owners. All consistency ratios were below 0.10. Results showed that the People, Process, and Physical Evidence dimensions had the highest weighting. Internalization of employee green behavior ranked first, followed by operational resource efficiency and the use of energy- and water-efficient equipment, while price incentives and environmental donations ranked lower. The findings confirm that internal process control and behavioral discipline are the foundations of sustainability and support replication and scale-up of green practices to strengthen competitiveness and reduce environmental impact.Keywords: Analytical Hierarchy Process, green marketing, resource efficiency, strategy prioritization, sustainable coffee shop AbstrakPertumbuhan coffee shop perkotaan memperkuat kontribusi ekonomi sektor hospitality sekaligus meningkatkan tekanan lingkungan melalui konsumsi energi, air, dan material yang intensif. Kajian pemasaran hijau pada sektor ini masih berfokus pada persepsi konsumen dan komunikasi simbolik sehingga belum menyediakan kerangka prioritas strategis yang terukur dan operasional. Penelitian ini menawarkan pendekatan pengambilan keputusan terstruktur melalui integrasi bauran pemasaran 7P (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, dan Physical Evidence) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) berbasis penilaian ahli lingkungan. Tujuan penelitian adalah menyusun urutan prioritas strategi pemasaran hijau yang relevan, berdampak, dan realistis diterapkan pada coffee shop skala kecil. Metode menggunakan pendekatan multi kriteria dengan konsolidasi 23 atribut menjadi 8 strategi operasional lalu diperingkatkan melalui perbandingan berpasangan oleh 6 ahli lingkungan setelah wawancara terhadap 21 pemilik usaha. Seluruh rasio konsistensi berada di bawah 0,10. Hasil menunjukkan dimensi People, Process, dan Physical Evidence memiliki bobot tertinggi. Internalisasi perilaku hijau karyawan menempati peringkat pertama, diikuti efisiensi sumber daya operasional dan penggunaan peralatan hemat energi dan air, sedangkan insentif harga dan donasi lingkungan berada pada posisi lebih rendah. Temuan menegaskan bahwa pengendalian proses internal dan disiplin perilaku menjadi fondasi keberlanjutan. Kerangka ini mendukung replikasi dan scale-up praktik hijau guna memperkuat daya saing dan menurunkan dampak lingkungan sektor hospitality.Kata kunci: Analytical Hierarchy Process, coffee shop berkelanjutan, efisiensi sumber daya, green marketing, prioritisasi strategi 
Compartment Ratio–Integrated Routing Optimization in Small-Fleet Multi-Compartment Distribution of Perishable Food Effendi, Usman; Angriawan, Rinaldi Dwi; Mulyarto, Aunur Rofiq
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 AbstractThe distribution of perishable food products faces challenges related to distance efficiency, cost efficiency, and vehicle capacity utilization, particularly when small fleets must serve multi-product demand while maintaining product quality sensitive to travel time. Vehicle capacity constraints strengthen the relationship between customer visit sequencing and internal vehicle load allocation. This study proposed a Multi-Compartment Vehicle Routing Problem (MCVRP) optimization approach that integrates compartment ratio design and route formation for the distribution of two packaged mozzarella cheese products to 18 customers in a single-depot system. The objective was to minimize total travel distance and evaluate the financial impact through fuel and labor cost components. A deterministic model with two vehicles of 100 kg capacity was formulated and solved using the Ant Colony Optimization algorithm, followed by a separate evaluation of operational costs for direct managerial interpretation. The results show that a 65:140 compartment ratio provides the best configuration, reducing total distance from 119.50 km to 106.20 km, decreasing routes from six to five, and lowering distribution costs by 15.87% per cycle. Capacity utilization improved without adding vehicles, enhancing both operational and financial efficiency. Industrial implications point to scale-up opportunities and enhanced sustainability through energy efficiency in small-scale food distribution.Keywords: Ant Colony Optimization, small fleet, perishable food distribution, Multi-Compartment Vehicle Routing Problem, compartment ratio AbstrakDistribusi produk pangan mudah rusak menghadapi tantangan efisiensi jarak, biaya, dan pemanfaatan kapasitas ketika armada kecil harus melayani permintaan multi-produk dan mutu produk sensitif terhadap waktu tempuh. Keterbatasan kapasitas kendaraan memperkuat keterkaitan antara keputusan urutan kunjungan pelanggan dan pembagian muatan internal kendaraan. Penelitian ini mengusulkan pendekatan optimasi berbasis Multi-Compartment Vehicle Routing Problem yang mengintegrasikan desain rasio kompartemen dan pembentukan rute pada distribusi keju mozzarella 2 varian kemasan kepada 18 pelanggan dalam sistem satu depot. Tujuan penelitian ialah menurunkan jarak tempuh total dan menilai dampak finansial melalui komponen biaya bahan bakar dan tenaga kerja. Metode penelitian memformulasikan model deterministik satu depot dengan dua kendaraan berkapasitas 100 kg, menyelesaikannya menggunakan Ant Colony Optimization lalu mengevaluasi biaya operasional secara terpisah agar interpretasi manajerial lebih langsung. Hasil menunjukkan rasio kompartemen 65:140 sebagai konfigurasi terbaik, menurunkan jarak dari 119,50 km menjadi 106,20 km, mengurangi jumlah rute dari 6 menjadi 5, serta menekan biaya distribusi 15,87% per siklus. Utilisasi kapasitas meningkat tanpa penambahan kendaraan sehingga efisiensi teknis dan finansial membaik secara simultan. Implikasi industri mengarah pada peluang scale-up dan penguatan keberlanjutan melalui efisiensi energi pada distribusi pangan skala kecil.Keywords: Ant Colony Optimization, armada kecil, distribusi pangan mudah rusak, Multi-Compartment Vehicle Routing Problem, rasio kompartemen