cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 22527077     EISSN : 25493892     DOI : -
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri which is abbreviated as Industria. Industria is a journal published by Department of Agro-industrial Technology, Faculty of Agricultural Technology, University of Brawijaya, Indonesia. It publishes articles in the scope of technology and management of agro-industrial field, and also other related topics.
Arjuna Subject : -
Articles 265 Documents
Assessment Model of Halal Good Manufacturing Practice in Bakery SMEs Lapele, Sukmawati; Garside, Annisa Kesy; Amallynda, Ikhlasul; Lukman, Mohammad
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2024.013.01.2

Abstract

AbstractBakery products are in great demand among Indonesians today. Therefore, small and medium enterprises (SMEs) of bakeries have an essential role in creating products that are guaranteed to be halal and safe, following regulations in Indonesia. This research aims to design a Halal Good Manufacturing Practice (HGMP) assessment model for “X” Bakery to improve product quality. HGMP integrates the criteria of Indonesia's Halal Assurance System, called Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH), and Good Manufacturing Practices (GMP). The Quality Function Deployment (QFD) method evaluates company performance based on HGMP criteria and translates it into technical responses. The Pareto diagram determines the priority of HGMP criteria and technical responses. The identification results show 56 valid HGMP criteria for “X” Bakery, consisting of location and environment, buildings, facilities, employees, production, and storage. Implementing the assessment model at “X” Bakery resulted in 40 HGMP criteria that needed improvement and 12 technical responses that needed to be prioritized in meeting the HGMP criteria. This HGMP assessment model is hoped to help “X” Bakery improve the quality of halal, safe, high-quality products.Keywords: assesment model, bakery, good manufacturing practice, halal, quality function deployment AbstrakBakery merupakan salah satu produk pangan yang banyak diminati masyarakat Indonesia saat ini. Oleh karena itu, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) bakery memiliki peran penting dalam menghasilkan produk yang terjamin kehalalan dan keamanannya sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model asesmen Halal Good Manufacturing Practice (HGMP) pada Bakery “X” dalam meningkatkan kualitas produk. HGMP mengintegrasikan kriteria Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) dan Good Manufacturing Practice (GMP). Metode Quality Function Deployment (QFD) digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan berdasarkan kriteria HGMP dan menerjemahkannya ke dalam respon teknis. Diagram Pareto digunakan untuk menentukan prioritas kriteria HGMP dan respon teknis. Hasil identifikasi menunjukkan 56 kriteria HGMP yang valid untuk Bakery “X” yang terdiri dari aspek lokasi dan lingkungan, bangunan, fasilitas, karyawan, produksi, dan penyimpanan. Implementasi model asesmen pada Bakery “X” menghasilkan 40 kriteria HGMP yang perlu ditingkatkan dan 12 respon teknis yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu dalam memenuhi kriteria HGMP. Model asesmen HGMP ini diharapkan dapat membantu Bakery “X” dalam meningkatkan kualitas produk yang halal, aman, dan bermutu.Kata Kunci: assesment model, bakery, good manufacturing practice, halal, quality function deployment 
External Defects and Soil Deposits Identification on Potato Tubers using 2CCD Camera and Principal Component Images Al Riza, Dimas Firmanda; Suzuki, Tetsuhito; Ogawa, Yuichi; Kondo, Naoshi
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2023.012.02.4

Abstract

AbstractPrecise recognition of potato external defects and the ability to identify defects and non-defect areas are in demand. Common scab represents a significant issue that requires detection, yet identifying the extent of common scab infection remains challenging when using a standard RGB camera. In this research, a 2CCD camera system that could obtain a set of RGB and near-infrared images, which could enhance defect detection, has been used. Image segmentation strategies based on a single principal component image and the principal component pseudo-colored image have been proposed to identify external potato defects while excluding soil deposits on the potato surface, often recognized as defects by the normal color machine vision system. Performance metrics calculation results show relatively good results, with segmentation true accuracy around 64% for both methods. Principal component pseudo-colored images were able to discriminate defects area and soil deposits in a single image. The methods presented in this paper could be used as the basis to develop further classification and grading algorithms.Keywords: image processing, multispectral, PCA, surface defects AbstrakPengenalan yang tepat terhadap cacat eksternal kentang dan kemampuan untuk mengidentifikasi area cacat dan non-cacat sangat dibutuhkan. Keropeng yang umum merupakan masalah signifikan yang memerlukan deteksi, namun mengidentifikasi tingkat infeksi keropeng yang umum tetap menjadi tantangan saat menggunakan kamera RGB standar. Penelitian ini menggunakan sistem kamera 2CCD yang dapat memperoleh serangkaian gambar RGB dan inframerah dekat yang dapat meningkatkan deteksi cacat. Strategi segmentasi gambar berdasarkan gambar komponen utama tunggal dan gambar berwarna semu komponen utama diusulkan untuk mengidentifikasi cacat eksternal kentang dengan mengecualikan endapan tanah pada permukaan kentang yang sering dikenali sebagai cacat oleh sistem penglihatan mesin warna normal. Hasil penghitungan metrik kinerja menunjukkan hasil yang relatif baik, dengan akurasi segmentasi sebenarnya sekitar 64% untuk kedua metode. Komponen utama gambar berwarna semu mampu membedakan area cacat dan endapan tanah dalam satu gambar. Metode yang disajikan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan algoritma klasifikasi dan penilaian lebih lanjut.Kata Kunci: cacat permukaan, multispektral, PCA, pengolahan citra 
Enhancing Consumer Engagement through Kansei Engineering: A Novel Approach to Sago Rice Packaging Design Johan, Vonny Setiaries; Riftyan, Emma; Khairany, Septy
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2024.013.01.3

Abstract

AbstractThe purpose of this study was to produce a sago rice packaging design that suits consumer preferences using the Kansei Engineering method. This study employed a survey method and quantitative analysis. The Kansei words selected in this study included communicative, transparent, informative, practical, safe, brightly colored, attractive, innovative, size-appropriate, unique, strong, creative, distinctive, patterned, and protective of the product (15 words in total). The design elements and sub-elements identified from 10 samples of analog rice packaging were packaging materials (aluminum foil and plastic), labels (digital printing and stickers), packaging forms (standing pouches, side gusset pouches, and sachets), and colors (many colors (>3 colors), few colors (2-3 colors), and plain). The packaging design desired by consumers, based on conjoint analysis, reflected the Kansei words practical, attractive, innovative, unique, creative, distinctive, and patterned. Consumers preferred packaging made of aluminum foil, labeled with digital printing, in the form of a standing pouch, and featuring many colors (>3 colors).Keywords: Kansei Engineering, Kansei word, packaging design plan, sago rice AbstrakTujuan penelitian ini adalah menghasilkan rancangan desain kemasan beras sagu yang sesuai dengan keinginan konsumen menggunakan metode Kansei Engineering. Penelitian ini menggunakan metode survei dan analisis kuantitatif menggunakan metode Kansei Engineering. Kata Kansei yang terpilih pada penelitian ini adalah komunikatif, transparan, informatif, praktis, aman, berwarna terang, menarik, inovatif, ukuran sesuai kebutuhan, unik, kuat, kreatif, berciri khas, bermotif dan melindungi produk (15 kata). Elemen desain dan sub elemen desain yang dipilih berdasarkan identifikasi 10 sampel kemasan beras analog adalah bahan kemasan terdiri dari aluminium foil dan plastik, label kemasan terdiri dari digital printing dan stiker, bentuk kemasan terdiri dari standing pouch, side gusset pouch, dan sachet, dan warna kemasan terdiri dari banyak warna (>3 warna), sedikit warna(2-3 warna), dan polos. Desain kemasan yang diinginkan konsumen berdasarkan kombinasi yang muncul dari hasil conjoint analysis menggambarkan kata kansei praktis, menarik, inovatif, unik, kreatif, berciri khas, dan bermotif dan kemasan dengan bahan aluminium foil, berlabel digital printing, berbentuk standing pouch, dan terdiri banyak warna (>3 warna).Kata kunci: Beras sagu, Kansei Engineering, kata Kansei, rancangan desain kemasan  
Influence of Cultivars and Cultivation Land Slope on Sensory Quality of Gayo Arabica Coffee Abubakar, Yusya'; Hasni, Dian; Widayat, Heru Prono; Muzaifa, Murna; Rinaldi, Dedi
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2023.012.02.5

Abstract

AbstractAll processes involved influence the quality of brewed coffee. One factor that has not been explored well is the influence of environmental conditions, such as cultivation land slopes. This research examines the influence of cultivation area position on the taste quality of coffee from three local cultivars commonly cultivated in the Gayo Highlands. This research used a factorial randomized block design consisting of 2 factors: cultivar (V) and land area (H). The cultivars (V) observed were V1 = Timtim, V2= Borbor, V3 = Ateng Super, and V4 = multi variety. The expanse of coffee cultivation land (H) consists of M1 = flat expanse of land and M2 = sloping expanse of land with a slope of 25%-35%. The experiment was carried out with three replications. The results showed that the coffee brew from Ateng Super had higher acidity (low pH value, 4.90) than the other two cultivars. Cupping test results show that sloping land tends to produce better-tasting coffee brews. Borbor planted on sloping land produces coffee with the highest cupping score. The total cupping score for all treatments ranged from 80,04 – 85,08 with mean value 83,89, which shows that the coffee in this study meets the category of specialty coffee based on the standards of the Specialty Coffee Association of America (SCAA).Keywordss: arabica, coffee, cupping test, Gayo Highland, quality AbstrakMutu seduhan kopi sebagai produk akhir sangat dipengaruhi sejak awal proses hingga penyeduhan. Salah satu faktor yang belum terkesplorasi dengan baik adalah pengaruh kondisi lingkungan, seperti kemiringan lahan tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh posisi hamparan lahan tanam terhadap kualitas cita rasa kopi dari tiga kultivar lokal yang umum dibudidayakan di Dataran Tinggi Gayo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu kultivar (V) dan hamparan lahan (H). Kultivar (V) yang diamati adalah V1 = Timtim, V2 = Borbor dan V3 = Ateng Super dan V4 = multivarietas. Hamparan lahan tanam kopi (H) terdiri dari M1 = hamparan lahan datar, dan M2 = hamparan lahan miring dengan tingkat kemiringan 25-35%. Eksperimen dilakukan dengan 3 (tiga) ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan kopi dari Ateng Super memiliki keasaman tinggi (nilai pH rendah, 4,90) dibandingkan dua kultivar lainnya. Hasil uji cita rasa menunjukkan bahwa hamparan lahan miring cenderung menghasilkan seduhan kopi bercita rasa lebih baik. Borbor yang ditanam pada lahan miring menghasilkan seduhan kopi dengan cupping score tertinggi. Total cupping score semua perlakuan berkisar80,04-85,08 dengan rerata 83,89 yang menunjukkan bahwa kopi yang dihasilkan dalam penelitian ini masuk dalam katagori kopi specialty berdasarkan standar Specialty Coffee Association of America (SCAA).Kata kunci: arabika, cupping test, dataran tinggi Gayo, kopi, kualitas
Physicochemical Properties, Bioactive Compounds Degradation Kinetics, and Microbiological Counts of Fortified Pomegranate Gummy Candy (GC) during Ambient Storage Qi, Ng An; Hasnan, Noor Zafira Noor; Basha, Roseliza Kadir; Alyas, Nur Diyana; Zulkifli, Nurin Izzati Mohd
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2023.012.02.1

Abstract

Abstract This study explored the potential of fortified pomegranate gummy candies (GC) as a solution for insufficient vitamin C and phenol intake. It entailed two objectives: assessing the impact of ambient storage (20±2 ℃) on various GC properties and developing kinetic models to predict vitamin C and phenol degradation during storage. The study involved the preparation of GC using a modified formulation and examined moisture content, water activity, texture, vitamin C, total phenolic content, and microbiological counts during 15-day-storage. Findings revealed that the moisture content decreased from 21.82% to 13.41%, potentially affecting texture. Water activity remained high (0.84-0.86), posing potential microbiological risks. The textural analysis indicated high hardness, springiness, gumminess, and chewiness, which may impact consumer acceptance. Adhesiveness remained minimal. Vitamin C decreased from 2,176.90 mg AA/100g to 1,419.10 mg AA/100g, possibly influenced by moisture and oxygen. Phenolic content decreased from 2,845.97 mg GAE/100g to 2,183.70 mg GAE/100g, remaining remarkably high. Kinetic modeling revealed that zero-order kinetics best described degradation, with constant degradation rates. In conclusion, fortified pomegranate GC demonstrate potential as functional food. However, further research is necessary to optimize texture properties, improve formulation and understand complex interactions between gelatin and phenolic compounds for enhanced consumer acceptance and health benefits.Keywords: gummy candy, kinetic modelling, phenol, physicochemical properties, vitamin C AbstrakStudi ini mengeksplorasi potensi gummy candy (GC) fortifikasi buah delima sebagai solusi kekurangan asupan vitamin C dan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dampak penyimpanan suhu ruang (20±2 ℃) pada berbagai sifat GC dan mengembangkan model kinetik untuk memprediksi degradasi vitamin C dan fenol selama penyimpanan. Pembuatan GC pada penelitian ini menggunakan formulasi yang dimodifikasi dan kemudian dilakukan pemeriksaan kadar air, aktivitas air, tekstur, vitamin C, kandungan fenolik total, dan jumlah mikrobiologis selama 15 hari penyimpanan. Hasil menunjukkan bahwa di akhir penyimpanan, kadar air menurun dari 21,82% menjadi 13,41%, berpotensi memengaruhi tekstur. Aktivitas air tetap tinggi (0,84-0,86), sehingga menimbulkan potensi risiko mikrobiologis. Analisis tekstur menunjukkan kekerasan, springiness, gumminess, dan chewiness yang tinggi, yang mungkin berdampak pada daya terima konsumen. Daya rekatnya tetap rendah. Vitamin C menurun dari 2.176,90 mg AA/100g menjadi 1.419,10 mg AA/100g, kemungkinan dipengaruhi oleh kelembapan dan oksigen. Kandungan fenolik menurun dari 2.845,97 mg GAE/100g menjadi 2.183,70 mg GAE/100g, namun masih sangat tinggi. Pemodelan kinetik mengungkapkan bahwa kinetika orde nol paling tepat menggambarkan degradasi, dengan laju degradasi yang konstan. GC yang difortifikasi buah delima menunjukkan potensi sebagai pangan fungsional. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan sifat tekstur, meningkatkan formulasi dan memahami interaksi kompleks antara gelatin dan senyawa fenolik untuk meningkatkan daya terima konsumen dan manfaat kesehatan.Kata Kunci: fenol, gummy candy, pemodelan kinetik, sifat fisikokimia, vitamin
Analysis of Supply Chain Performance Improvement in the Fish Processing Industry Manggala, Panji Wira; Machfud, Machfud; Sailah, Illah
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2024.013.01.4

Abstract

Abstract This study aims to identify the supply chain condition of the red snapper fish processing industry, assess the supply chain performance, and recommend performance improvements based on the performance measurement results. The study was conducted in Brondong District, Lamongan Regency, East Java, Indonesia. The methods used are the Supply Chain Operations Reference (SCOR) model and the Analytical Hierarchy Process (AHP), which measure effectiveness and efficiency parameters. Data were collected through interviews and field observations with expert respondents representing fishermen, collectors, and the fish processing industry. The results showed that the supply chain performance of the fishermen, collectors, and fish processing industry was 67.52% (poor), 88.11% (average), and 95.09% (excellent). The low performance was mainly in the fish catch composition accuracy and raw material handling practices. Root cause analysis was conducted to identify the leading causes, such as poor raw material quality, high raw material costs, and low cash-to-cash cycle time. Recommendations for improvement include handling raw materials training, using better cooling technology, and accelerating debt payments. Implementing lean supply chain management with the 5S system will improve operational efficiency and final product quality. Support from all stakeholders and government is essential for successfully implementing this strategy. Further study on the impact of lean implementation on environmental and social sustainability and exploration of new technologies for efficient fish handling and processing is needed.Keywords: AHP, lean supply chain, red snapper, SCOR, supply chain performance AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi rantai pasok industri pengolahan ikan kakap merah, menilai kinerja rantai pasok, dan merekomendasikan perbaikan kinerja berdasarkan hasil pengukuran kinerja. Penelitian dilakukan di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Indonesia. Metode yang digunakan adalah model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) yang mengukur parameter efektivitas dan efisiensi. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi lapangan dengan responden pakar yang mewakili nelayan, pengepul, dan industri pengolahan ikan. Hasil penelitian menunjukkan kinerja rantai nelayan, pengepul dan industri pengolah ikan berturut-turut adalah 67,52% (sangat kurang), 88,11% (sedang), dan 95,09% (sangat baik). Kinerja yang rendah terutama pada ketepatan jenis ikan dan penanganan bahan baku. Analisis akar masalah dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab utama, seperti kualitas bahan baku rendah, biaya bahan baku tinggi, dan siklus kas-ke-kas lama. Rekomendasi perbaikan mencakup pelatihan penanganan bahan baku, penggunaan teknologi pendinginan yang lebih baik, dan percepatan pembayaran utang. Implementasi lean supply chain management dengan metode 5R diharapkan meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas produk akhir. Dukungan dari semua pemangku kepentingan dan pemerintah sangat penting untuk keberhasilan penerapan strategi ini. Penelitian ini menyarankan kajian lebih lanjut tentang dampak implementasi lean terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial dan eksplorasi teknologi baru untuk efisiensi penanganan dan pengolahan ikan.Kata kunci: AHP, ikan kakap merah, kinerja rantai pasok, lean supply chain, SCOR
Supplementation of Antioxidant Liang Tea Extracts on Goat Milk Cream Cheese Zahrah, Syarifah; Dewi, Yohana Sutiknyawati Kusuma; Hartanti, Lucky
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2023.012.02.6

Abstract

AbstractCream cheese is a soft cheese that does not go through a ripening process and is widely used in various kinds of food preparations. Goat's milk is an alternative milk for cream cheese production. The addition of antioxidant extract from liang tea potentially produces functional cream cheese. This research aimed to obtain the concentration of added antioxidant liang tea extract in the formulation that produces the best characteristics of goat's milk cream cheese. This research used a Randomized Block Design method with one factor: the concentration of liang tea extract as an antioxidant. The treatment consisted of 5 levels of liang tea concentrations, 0%, 1.5%, 2%, 2.5%, and 3%, with five repetitions. The research showed that adding various concentrations of liang tea antioxidant extract produced a water content of 61.06%-62.09% and a fat content of 12.68%-14.46%. The resulting color characteristics with the L* value range from 60.83-76.43 (decreasing brightness), the* value range from -6.69-6.71 (reddish), and the b* value range from 4.47-23 .88 (yellowish). Antioxidant activity is expressed by percent inhibition of 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH), ranging from 36.00%-79.56%. The antioxidant activity of goat's milk cream cheese increases if the addition of liang tea extract is high. Based on the effectiveness index, the best goat's milk cream cheese is produced by adding a 3% concentration of liang tea. The cream cheese has a water content of 62.19%, a fat content of 14.46%, color (L* = 60.83, a* = 6.71, b* = 23.88), and antioxidant activity of 79.56%.Keywords: antioxidant, cream cheese, goat milk, liang tea AbstrakCream cheese merupakan salah satu jenis keju lunak yang tidak melalui proses pematangan dan banyak diaplikasikan pada berbagai macam olahan pangan. Susu kambing menjadi alternatif susu untuk membuat cream cheese. Penambahan ekstrak antioksidan dari liang teh berpotensi untuk membuat cream cheese fungsional. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh konsentrasi penambahan ekstrak antioksidan liang teh dalam formulasi yang menghasilkan karakteristik cream cheese susu kambing terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu konsentrasi ekstrak liang teh sebagai antioksidan. Perlakuan yang dilakukan terdiri dari 5 taraf, yaitu 0%, 1,5%, 2%, 2,5% dan 3% dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan berbagai konsentrasi ekstrak antioksidan liang teh menghasilkan kadar air pada rentang 61,06%-62,09% dan kadar lemak pada rentang 12,68%-14,46%. Karakteristik warna yang dihasilkan dengan rentang nilai L* adalah 60,83-76,43 (kecerahan menurun), nilai a* pada rentang -6,69-6,71 (kemerahan), dan nilai b* pada rentang 4,47-23,88 (kekuningan). Aktivitas antioksidan dinyatakan dengan persen penghambatan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH) pada rentang 36,00%-79,56%. Aktivitas antioksidan cream cheese susu kambing semakin meningkat jika penambahan ekstrak liang teh semakin tinggi. Cream cheese susu kambing terbaik berdasarkan indeks efektivitas dihasilkan dengan penambahan konsentrasi liang teh 3%. Cream cheese tersebut mempunyai kadar air 62,19%, kadar lemak 14,46%, warna (L* = 60,83, a* = 6,71, b* = 23,88), dan aktivitas antioksidan 79,56%.Kata kunci: antioksidan, cream cheese, liang teh, susu kambing 
Coffee Agro-industry Conceptual Model Using System Dynamics in Lampung Province, Indonesia Rosiana, Nia; Feryanto, Feryanto; Simorangkir, Nadya Carolina
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2024.013.01.1

Abstract

AbstractThe consumption trend of coffee downstream products is increasing every year. However, the high variation in the quality of raw materials on the upstream side impacts agroindustrial activities. The limited capacity of processed coffee production indicates that coffee processing activities are not optimal. High competition and individual business activities cause the upstream and downstream linkage of the coffee industry to be limited. The research objective is to analyze the conceptual model of coffee agro-industry development based on the complexity of problems faced by the actors. Primary and secondary data are used as the basis for compiling the conceptual model of the coffee agro-industry using Vensim Software PLE 9.3.5x64. The conceptual sub-models built are farmers, intermediary traders, and processors. Coffee agro-industry is developed by improving the quality and continuity of raw materials, processing capacity, and the actors' skills. Quality and production are connecting variables of the three submodels built. The quality of raw materials produced by farmers will improve the quality of processed coffee. Improving the quality of raw materials is not only from using superior seeds but also from the technical skills of the actors involved. Increased processing capacity can increase the absorption capacity of the coffee agro-industry. Keywords: coffee, dynamic model, intermediary traders, processors, farmers Abstrak Tren konsumsi produk hilir kopi meningkat setiap tahun, tetapi variasi yang tinggi pada kualitas bahan baku di sisi hulu berdampak pada kegiatan agroindustri. Kapasitas produksi olahan kopi yang terbatas mengindikasikan bahwa kegiatan pengolahan kopi belum optimal. Persaingan yang tinggi dan kegiatan usaha yang individual menyebabkan linkage hulu dan hilir industri kopi terbatas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis model konseptual pengembangan agroindustri kopi berdasarkan kompleksitas permasalahan yang dihadapi para pelaku agroindustri kopi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, Indonesia. Data primer dan sekunder digunakan sebagai dasar penyusunan model konseptual agroindustri kopi dengan menggunakan Software Vensim PLE 9.3.5x64. Submodel konseptual yang dibangun adalah petani, pedagang perantara, dan pengolah. Pengembangan agroindustri kopi dilakukan melalui peningkatan kualitas dan kontinyuitas bahan baku, kapasitas pengolahan, dan skill para pelaku yang terlibat. Kualitas dan produksi menjadi variabel penghubung dari ketiga submodel yang dibangun. Kualitas bahan baku yang dihasilkan petani akan meningkatkan kualitas mutu kopi olahan. Peningkatan kualitas bahan baku dipengaruhi oleh penggunaan bibit unggul dan peningkatan skill teknis dari para pelaku yang terlibat. Peningkatan kapasitas pengolahan dapat meningkatkan daya serap agroindustri kopi.Kata kunci: kopi, model dinamis, pedagang perantara, pengolah, petani 
Position Analysis and Strategic Recommendations for Business Improvement in The Micro-Small Industry of Oil Palm Post-Harvest Equipment in Kampar Regency, Riau Province Juarsa, Rahmadini Payla; Sangadah, Hanik Atus
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2023.012.02.2

Abstract

AbstractMany industries producing post-harvest oil palm equipment are growing in Riau Province, Indonesia because this province has a large area of oil palm plantations. Micro-small businesses dominate this industry. The micro-small oil palm post-harvest equipment industry experiences many obstacles in improving and developing its business. This research aims to analyze the position of the micro-small oil palm post-harvest equipment industry and then provide strategic recommendations to improve their business. The position analysis used is Business Model Canvas (BMC) analysis and Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) matrices. Business development strategy recommendations use the Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT), and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) methods. The research results show that the company is in a growth and development phase. The top two strategies recommended for these companies are maximizing marketing channels and good cooperation through cooperatives, oil palm processing companies (such as PTPN), government agencies, and social media, and improving product quality by providing skilled human resources and research and development activities.Keywords: business development strategy, micro-small industry, oil palm post-harvest equipment, position analysis AbstrakAreal perkebunan kelapa sawit yang luas di Provinsi Riau mengakibatkan industri yang memproduksi alat pasca panen kelapa sawit banyak tumbuh di provinsi ini. Industri ini didominasi oleh usaha skala mikro hingga skala kecil. Industri alat pasca panen kelapa sawit skala mikro dan kecil ini mengalami banyak kendala dalam peningkatan dan pengembangan usahanya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis posisi industri mikro dan kecil alat pascapanen kelapa sawit kemudian memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan usahanya. Analisis posisi yang digunakan adalah analisis Business Model Canvas (BMC) dan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Rekomendasi strategi pengembangan bisnis dilakukan dengan metode Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan. Dua strategi teratas yang direkomendasikan untuk perusahaan tersebut adalah memaksimalkan saluran pemasaran dan kerjasama yang baik melalui koperasi, perusahaan pengolah kelapa sawit (seperti PTPN), instansi pemerintah, dan media sosial, meningkatkan kualitas produk melalui pemenuhan sumber daya manusia yang terampil, dan kegiatan penelitian pengembangan.Kata kunci: alat pascapanen kelapa sawit, analisis posisi, industri mikro dan kecil, strategi pengembangan usaha
Shelf-life Prediction of Canned Pacri Nanas Using the Accelerated Shelf-life Test (ASLT) Method Maherawati, Maherawati; Rahayuni, Tri; Hartanti, Lucky
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.industria.2024.013.01.5

Abstract

AbstractPacri nanas is a traditional Malay food made from fresh pineapple cooked with various herbs/spices and coconut milk. Pacri nanas can be marketed more widely if packed in cans. This study aims to estimate the shelf-life of canned pacri nanas using the Accelerated Shelf-Life Test (ASLT) method. The storage temperatures used in this study were 35 °C, 45 °C, and 55 °C. The parameters observed were sensory characteristics: color, aroma, taste, texture, and overall appearance. The results showed that all parameters decreased during storage, as indicated by the negative slope graph. The first-order reaction affects the sensory parameters decrease during storage. The lowest activation energy (Ea) value used to determine the product shelf-life is the aroma parameter with the regression equation y = -2416.4x + 5.9911, so the resulting activation energy is 4798.97 cal/mol. The shelf-life of pacri nanas at storage temperatures of 35 °C, 45 °C, and 55 °C were 11.3, 8.8, and 7.0 months, respectively. Storage of canned pacri nanas is recommended at room temperature (30 °C) with an estimated shelf-life of 12.8 months.Keywords: pineapple, storage life, traditional food AbstrakPacri nanas adalah makanan tradisional Melayu yang terbuat dari nanas segar yang dimasak dengan berbagai bumbu/rempah dan santan. Pacri nanas bisa dipasarkan lebih luas jika dikemas dalam kaleng. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan umur simpan dengan metode Accelerated Shelf-Life Test (ASLT) pada pacri nanas yang dikemas dalam kaleng. Suhu penyimpanan pacri nanas tersebut pada penelitian ini adalah 35 °C, 45 °C, dan 55 °C. Parameter yang diamati adalah karakteristik sensorik, yaitu warna, aroma, rasa, tekstur, dan kenampakan secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh parameter mengalami penurunan selama penyimpanan yang ditunjukkan dengan grafik dengan kemiringan negatif. Reaksi yang memengaruhi penurunan parameter sensorik selama penyimpanan merupakan reaksi orde pertama. Nilai energi aktivasi (Ea) terkecil yang digunakan untuk menentukan umur simpan produk adalah parameter aroma dengan persamaan regresi y = -2416,4x + 5,9911 sehingga energi aktivasi yang dihasilkan adalah 4798,97 kal/mol. Umur simpan pacri nanas pada suhu penyimpanan 35 °C, 45 °C, dan 55 °C masing-masing adalah 11,3, 8,8, dan 7,0 bulan. Penyimpanan pacri nanas yang dikemas dalam kaleng dianjurkan pada suhu ruangan (30 °C) dengan perkiraan umur simpan 12,8 bulan.Kata kunci: makanan tradisional, nanas, waktu penyimpanan