cover
Contact Name
Rachmad Rizal Yulianto
Contact Email
rahmatrizalyulianto1990@gmail.com
Phone
+6285791298048
Journal Mail Official
jurnal.alwijdan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Mojosari No.2, Dawuhan, Jatirejoyoso, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65163
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Wijdan : Journal of Islamic Education Studies
ISSN : 25412051     EISSN : 25413961     DOI : 10.58788
AL-WIJDÁN: Journal of Islamic Education Studies is a scientific journal of Islamic education that contains the results of research by experts in the field of Islamic education from various perspectives, including: Islamic Education Management Islamic Education and Peace Character building Islamic Education Innovation Educational Technology and Islamic Education Curriculum Islamic Education for Elementary, Middle, and Higher Levels Islamic Education Literacy, and Other Islamic Studies
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019" : 8 Documents clear
Implementasi Metode Tamyiz Dalam Pembelajaran Baca Kitab Kuning Wildan, Khoirul; fuad, Ahmad Jauhar
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.275 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.301

Abstract

Penguasaan ilmu nahwu shorof yang memadai sangat dibutuhkan untuk dapat membaca dan menulis serta menterjemahkan kitab kuning, sedangkan nahwu shorof sedari dulu dianggap sulit untuk mengkonsep dan memahami teorinya dalam pembelajaran yang mudah. Karenanya, ketepatan sebuah metode bahasa arab sangat dibutuhkan. Metode Tamyiz merupakan metode yang praktis untuk pembelajaran terjemah Al-Qur’an dan kitab kuning. Hizbul Kaafi merupakan salah satu lembaga kursus bahasa arab yang menerapakan metode Tamyiz dalam salah satu program pembelajarannya, padahal penerapan metode Tamyiz di sekolah dan di madrasah terbilang jarang. Tulisan ini mengungkap implentasi dan system evaluasi metode Tamyiz dalam pembelajaran baca kitab kuning di Hizbul Kaafi Pare Kediri. Penelitian merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan analisis kualitatif deskriptif, di mana sumber datanya terdiri dari sumber data primer dan sekunder, dengan tehnik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan, dan memverifikasi data. Uji keabsahan datanya menggunakan Uji Credibility dengan bentuk perpanjangan pengamatan, triangulasi, peningkatan kecermatan, analisis kasus negative, dan member check. Hasil penelitian, yaitu: (1) Pelaksanaan pembelajaran baca kitab kuning dengan metode Tamyiz, merupakan bentuk gabungan dari pembelajaran tradisional (Traditional Classes), metode pengajaran langsung (Explicit Instruction), dan model pembelajaran Quantum yaitu sebuah model yang membiasakan belajar menyenangkan demi meningkatkan minat belajar sampai hasil belajar peserta secara menyeluruh. (2) Hasil penilaian observasi menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran tamyiz mendapat skor 75% yang berarti baik. (3) Evaluasi metode Tamyiz di Hizbul Kaafi menggunakan evaluasi sumatif dan formatif. (4) Kemampuan peserta didik keseluruhannya sudah mencapai nilai KKM (75) yang berarti pembelajaran baca kitab kuning dengan metode tamyiz terbilang efektif. Kata Kunci: Metode Tamyiz, Pembelajaran Baca Kitab Kuning
Model Pelembagaan Nilai-Nilai Humanitas Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Damai (Studi Akulturasi Nilai-Nilai Agama, Kearifan Lokal, dan Modernitas di Kabupaten Malang) Nurhayati, Ifa; Roibin, Roibin
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.988 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.307

Abstract

Praktek pelembagaan nilai-nilai humanitas dalam masyarakat paguyuban dan patembayan Watugong, Kanjuruhan, Tlogomas, Malang acapkali menampakkan ekspresi budaya yang sangat hedrogen. Adakalanya ekspresi budaya itu berbentuk penolakan terhadap budaya sebelumnya, hingga menampakkan adanya benturan antar budaya. Adakalanya pula terjadi kompromi dengan budaya sebelumnya, hingga melahirkan perjumpaan sinergis dan harmonis antara entitas budaya satu dengan budaya lainnya dalam realitas sosial masyarakat. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan dua tipologi model pelembagaan nilai humanitas, pertama: model adaptif kompromistik, model ini berpijak pada nilai-nilai kemaslahatan universal multi entitas budaya. Menggambarkan adanya proses sosial yang ramah, adaptif, kompromistis, dan damai dengan melakukan perjumpaan budaya secara lintas. Memodifikasi kebudayaan tanpa menghilangkan kebudayaan asli. Dalam terminologi pengembangan kelembagaan pendidikan Islam, istilah ini akrab dengan jargon al-muhȃfadhotu ala al-qadȋmi al-shȃlih wa al-akhdu bi al-jadȋdi al-aslah, yaitu memilahara karyakarya lama yang masih baik, cocok, dan relevan, terhadap perkembangan zaman dan menghadirkan karya karya baru yang lebih baik, cocok, dan relevan bagi tuntutan zaman dan sosial. Kedua: Pelembagaan nilainilai humanitas dengan model rejektif partikularistik. Model pelembagaan nilai yang cenderung kontras dan menolak sistem nilai lain yang berbeda dengan sistem nilai yang melekat pada dirinya. Model penyerapan nilai yang dilakukan oleh kelompok ini cenderung parsial, terpisah dengan sistem nilai yang dilakukan oleh entitas budaya lain. Dengan demikian model pelembagaan nilai dari komunitas ini cenderung eksklusif, yang berdampak pada sikap keras, fanatis, truth claim, dan tertutup. Komunitas masyarakat demikian cenderung terisolir dan tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya. Kata Kunci: Pelembagaan nilai-nilai humanitas, Akulturasi, kearifan lokal, dan Perdamaian.
Islam Nusantara dan Spirit Pluralisme Sebagai Modal Karakter Bangsa Salim, Agus; Rofik, Abdur
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.015 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.308

Abstract

Islam Nusantara dan Pluralisme sering kali diasumsikan sebagai konsep yang dianggap paradoksal, padahal Islam Nusantara bukanlah sebuah aliran (madzhab) apalagi sebagai agama baru, akan tetapi sebagai ciri khas atau karakteristik (khashais) keislaman yaang mengakomodir adat-istiadat dan budaya lokal (local wisdom) yang menjadi pembeda dari ideologi Islam yang ada di belahan negara-negara timur tengah, yang cendrung kaku dan menolak tradisi lokal. Begitu juga pluralisme (budaya) merupakan sebuah konsep yang menerangkan ideal (ideologi) kesetaraan kekuasaan dalam suatu masyarakat multikultur, di mana kekuasaan ”terbagi secara merata” di antara kelompok-kelompok etnik yang bervariasi sehingga mendorong pengaruh timbal balik di antara mereka. Dan dalam masyarakat multikultur tersebut, kelompok-kelompok etnik itu dapat menikmati hak-hak mereka yang sama dan seimbang, dapat memelihara dan melindungi diri mereka sendiri karena mereka menjalankan tradisi kebudayaannya. Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan, untuk mengatasi ekses-ekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat plural mensyaratkan tiga kompetensi normatif, yaitu kompetensi kebudayaan, kemasyarakatan dan kepribadian. Kompetensi kebudayaan adalah kumpulan pengetahuan yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membuat interpretasi-interpretasi yang dapat mengkondisikan tercapainya konsesus mengenai sesuatu. Kompetensi kemasyarakatan merupakan tatanan-tatanan syah yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membentuk solidaritas sejati. Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang memungkinkan seorang subjek dapat berbicara dan bertindak dan karenanya mampu berpartisipasi dalam proses pemahaman timbal balik sesuai konteks tertentu dan mampu memelihara jati dirinya sendiri dalam berbagai perubahan interaksi. Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kokoh, beranekaragam budaya, etnik, suku, ras dan agama, yang kesemuanya itu akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukkan itu menjadi suatu yang tangguh. Sehingga ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari. Kata Kunci: Islam Nusantara dan Pluralisme, Budaya dan Karakter Bangsa.
Strategi Media Pembelajaran Ritatoon Untuk Meningkatkan Daya Ingat Gerakan Sholat Siswa Tunagrahita Ringan Khairiyah, Karunia Yulinda
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.473 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.302

Abstract

Pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan saat ini menaruh perhatian khusus terhadap peningkatan kuwalitas layanan pendidikan pada siswa berkebutuhan khusus, salah satunya adalah siswa tunaghrahita. Siswa tungahrahita merupakan anak yang memililiki kelainan dan keterabatasan secara intelektual, di mana kecerdasan yang dimiliki tergolong sangat rendah dengan IQ rata-rata 68-52%. Dalam konteks ini, perkembangan kognitif anak tunagrahita yang terjadi pada setiap fase seringkali gagal dalam melakukan transfer persepsi verbal dan non-verbal. Akibatnya, anak tunagrahita lemah dalam mengingat, baik mengingat jangka panjang maupun jangka pendek. Gangguan tersebut dapat menghambat perkembangan pendidikannya, terutama pada materi gerakan sholat, di mana siswa tuangrahita masih belum mampu menghapal dan mempraktekkan gerakan-gerakan sholat secara benar. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kemampuan daya ingat gerakan sholat pada anak tunagrahita ringan sebelum menggunakan media ritatoon, menggambarkan kemampuan daya ingat gerakan doa pada anak tunagrahita ringan setelah menggunakan media ritatoon. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain Pra Eksperimental dalam bentuk desain One pretest posttest. Instrumen penelitian adalah tes tertulis dan tes kinerja. Teknik analisis yang digunakan adalah Uji Prasyarat menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil uji anova tes tulis memperoleh hasil sig. 0,000. Karena nilai excact sig. < taraf nyata (α = 0,05), dan hasil uji anova tes kinerja memperoleh hasil sig. 0,001. Karena nilai excact sig. < taraf nyata (α = 0,05), maka Ho ditolak. Yang artinya strategi media pembelajaran ritatoon dapat meningkatkan daya ingat gerakan sholat siswa tunagrahita ringan kelas V. Kata Kunci: Media ritatoon, daya ingat gerakan sholat, tunagrahita ringan.
Pengembangan Ranah Afektif dan Psikomotor Siswa dalam Implementasi Kurikulum 2013 Ismail, Ismail
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.973 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.248

Abstract

Ada dua pertanyaan yang menjadi studi utama dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana pengembangan ranah afektif dan psikomotorik pada implementasi kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Camplong ? Kedua, apa saja faktor pendukung dan penghambat untuk pengembangan ranah afektif dan psikomotorik pada implementasi kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Camplong ? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan; pertama, pengembangan ranah afektif dan psikomotorik pada implementasi kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Camplong adalah sebagai berikut: (a) Berbagai kegiatan pembelajaran berbasis sumber; (b) Proses pembelajaran menggunakan pembelajaran ilmiah sebagai penguat; (c) Kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi; (d) Sistem pembelajaran terpadu; (e) Meningkatkan keterampilan intelektual, mental dan fisik, (f) Sistem pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai disiplin dan keteladanan. Kedua, faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan ranah afektif dan psikomotorik pada implementasi kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Camplong adalah: (a) Faktor-faktor yang mendukung pengembangan ranah ranah afektif dan psikomotorik pada implementasi kurikulum 2013 di SMP Camplong 1 sebagai berikut: Siswa cenderung melakukan hal-hal dengan sikap positif; (2) Siswa memiliki minat yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran; (3) Siswa memiliki kepercayaan diri tentang apa yang disetujui adalah hal positif bagi mereka yang memenuhi syarat. (b) Faktor-faktor yang menghambat pengembangan ranah afektif dan psikomotorik pada implementasi kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Camplong sebagai berikut; (1) Guru kurang terampil dalam kegiatan pembelajaran terpadu; (2) Kurangnya pelatihan dan peningkatan kurikulum pengembangan 2013 untuk guru. Kata Kunci: Pengembangan Ranah Afektif, Ranah Psikomotorik, dan Kurikulum 2013.
Analisis Hasil Belajar (Munaqosah) Santri Taman Pendidikan Al Qur`an Nihayah, Hamidatun
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.293 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.306

Abstract

Kabupaten Tuban adalah salah satu kabubaten di Jawa Timur yang memberikan perhatian sangat kepada lembaga non formal (lembaga TPQ). Sebagaimana yang dijelaskan pada perda kabupaten Tuban no 6 tahun 2018 tentang pendidikan anak mulia. Harapan besar anak -anak didik terbekali dengan dasar agama yang cukup, mampu menjadi generasi penerus Qurâni yang bisa mewarnai dengan nilai-nilai keislaman. Oleh itu, mulai tahun 2018 ini uji hasil belajar santri atau yang disebut dengan munaqosah  menjadi peraturan wajib dan diikuti bagi anak didik yang duduk di kelas enam sekolah dasarMetode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan kuantitatif (mixed Metode). Hal Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, adapun kesimpulan yang dipaparkan sebagai berikut: Pelaksanaan pembelajaran TPQ di kecamatan Senori dilaksanakan 1% setelah Maghrib dan  99% dilaknakan pada sore. Method pembelajaran yang digunakan rata menggukan metode Iqro`, an Nahdliyah, Qiroati. Materi yang diajarkan pada TPQ yang telah disepaki bersama dibawah kepengurukan Korcam TPQ selain belajar al Qur`an, hafalan surat piliha, hafalan juz 30, dan fikih ibadah. Kwalitas hasil belajar (munaqasah) santri TPQ di kecamatan Senori tahun 2018;  9% mendapat predikat sangat baik, 1% predikat baik, 49% Predikar cukup dan 41% Predikat kurang. Kata Kunci: Pndidikan Al qur`an, Hasil belajar munaqosah, Santri.
Pendidikan Pluralis-Multikultural: Upaya Membangun Kaharmonisan Antar Sesama abdul Wahid Hasan
AL-WIJDÁN: Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM RADEN RAHMAT MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.683 KB) | DOI: 10.33379/alwijdn.v4i1.303

Abstract

Abstrak Kehidupan yang damai dan penuh keharmonisan merupakan impian, harapan semua orang, di negara manapun mereka tinggal. Tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan terjadinya konflik, pertikaian apalagi perang yang bisa mencabik-mencabik kenyamanan hidup, bahkan seringkali banyak memakan korban. Maka pendidikan plural-multikultural menjadi salah satu hal penting yang perlu diajarkan pada semua warga negara, terutama anak-anak. Dengan demikian, lambat laun mereka akan memahami arti penting perbedaan suku, ras, bahasa, dan agama. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk dipertemukan dan dipersandingkan. Oleh karena itu, upaya menanamkan ajaran pluralisme dan multikulturalisme ini perlu mendapat dukungan dari semua pihak, tidak hanya guru dan dosen, tetapi juga para tokoh agama dari berbagai agama yang ada. Dengan dukungan para tokoh dari lintas agama, rasa kebersamaan, toleransi dan persatuan akan terwujud. Akhirnya, kedamaian pun menjadi kenyataan. Kata Kunci: pendidikan plural-multikultural, perdamaian, dan harmoni.
Kepemimpinan Karismatik TGH Burhanuddin Dalam Menanamkan Budaya Religius di Pondok Pesantren Darus Shiddiqien NW Mertak Paok Gunawan, Hendri
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 4 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.487 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v4i1.2612

Abstract

The purpose of this study was to determine the charismatic leadership of TGH Burhanuddin and his strategy in shaping the Religious Culture at Darus Shiddiqien Islamic Boarding School, NW Mertak Paok. This study uses a qualitative research type using a phenomenological approach. Sources of data in this study use primary data sources and secondary data. Collecting data in this study using observation techniques, interviews, and documentation. Data analysis through data collection, data reduction, data display, and concluding. Checking the validity of the data using technical triangulation and source triangulation. The results showed: first, TGH. Burhanuddin as a charismatic leader with high authority him highly admired and highly respected by all residents of Islamic boarding schools and the surrounding community. The authority of TGH Burhanuddin emerged from the family tree which was the son of the founder of the Darus Shiddiqien Islamic Boarding School NW Mertak Paok and he was a pious, pious Tuan Guru Haji. Second; TGH Burhanudin's strategies in instilling a Religious Culture are: (1) Becoming a role model; such as discipline, and respect; (2) Habituation; greeting and greeting, respecting each other, praying together, praying in congregation, recitation every morning, hiziban and reading the Qur'an. (3) Creating a religious environment; students wear sarongs and caps every day, female students are required to wear a headscarf, and dress Islamically such as wearing skirts and robes. Third; Forms of religious culture at Darus Shiddiqien Islamic Boarding School Mertak Paok, including; (1) Religious culture in schools, such as; (a) praying together, (b) praying in the morning before entering class, (c) praying sunnah dua, (d) praying zuhur in congregation in the hall, (e) maintaining cleanliness. (2) Religious culture in the hostel, such as; (a) Smiles, greetings, and greetings, (b) obligatory fardu prayers in congregation, (c) studying the yellow book (mudzakarah), (d) weekly hiziban, (e) fasting Monday and Thursday. Keywords: Leadership, Charismatic, Religious Culture

Page 1 of 1 | Total Record : 8