cover
Contact Name
Verna A. Suoth
Contact Email
vernaalbert@gmail.com
Phone
+628124757878
Journal Mail Official
mipa.unsrat.online@gmail.com
Editorial Address
EDITOR IN CHIEF Gerald H. Tamuntuan, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia MANAGING EDITOR Verna A. Suoth, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Audy Wuntu, Fakultas MIPA Univesitas Sam Ratulangi BOARD OF EDITOR Nio Song Ai, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Nelson Naingolang, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal MIPA
ISSN : -     EISSN : 23023899     DOI : https://doi.org/10.35799/jmuo.10.2.2021.33592
Core Subject : Science, Education,
Jurnal MIPA menjadi sarana publikasi bagi akademisi dan peneliti. Jurnal MIPA mempublikasikan artikel hasil penelitian di bidang : Matematika Fisika Biologi Kimia
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel" : 6 Documents clear
Penetapan Kadar Pektin dan Metoksil Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) yang Diekstraksi Dengan Metode Refluks Rahmayulis Rahmayulis; Tri ulan Dari; Hilmarni
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.44984

Abstract

Salah satu buah yang banyak dimanfaatkan di Indonesia adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Buah naga merah banyak dikonsumsi secara langsung atau diolah menjadi jus, agar-agar, dan pewarna alami, sedangkan kulitnya mengandung pektin ± 10,8% . Pektin merupakan komponen tambahan dalam industri makanan, farmasi dan kosmetik, pektin digunakan sebagai pengental, pengikat, obat-obatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar pektin yang terdapat pada kulit buah naga merah. Pengambilan pektin yang terdapat pada kulit buah naga merah dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut asam klorida (HCl) 0,35 N. Proses ekstraksi pektin pada penelitian ini menggunakan waktu 90 menit. Setelah ekstraksi selesai dilakukan karakterisasi pektin antara lain, kadar pektin, kadar air , berat ekivalen, kadar metoksil. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan kadar pektin 6,118% dan 1,895%, kadar air 23,747% dan 18,059%, berat ekivalen 346,284 mg dan 456,898 mg, kadar metoksil 2,504% dan 1,638%. One fruit that is widely used in Indonesia is the red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus). Dragon fruit is consumed directly or processed into juice, jelly, and natural dyes, while the peel contains ± 10.8% pectin. Pectin is an additional component in the food, pharmaceutical and cosmetic industries, pectin is used as a thickener, binder, medicine. The purpose of this study was to determine the levels of pectin found in red dragon peel. Extraction of pectin contained in red dragon was carried out by extraction method using 0.35 N hydrochloric acid (HCl) solvent. The pectin extraction process in this study used 90 minutes. The results of the research showed that pectin content was 6.118% and 1.895%, water content was 23.747% and 18.059%, equivalent weight was 346.284 mg and 456.898 mg, methoxyl content was 2.504% and 1.638%.
Uji Stabilitas dan Aktivitas Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill.) Yusnita Usman; Mutmainnah Baharuddin
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.44775

Abstract

Alpukat (Persea americana Mill) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan seperti tannin, alkaloid, saponin, alfa tokoferol dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula, evaluasi stabilitas fisik dan menguji aktivitas antibakteri dari sediaan sabun mandi cair dari ekstrak etanol daun alpukat. Formula sediaan dibuat dalam 3 konsentrasi ekstrak yaitu F1 (10%), F2 (15%), dan F3 (20%).  Uji stabilitas menggunakan metode penyimpanan dipercepat  selama 6 siklus (1 siklus = 1x24 jam disuhu 4oC dan 1x24 jam disuhu 40oC), sedangkan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi dengan bakteri uji Staphylococcus aureus. Hasil uji stabilitas menunjukkan F1, F2, dan F3 secara organoleptis memiliki bentuk yang cair, bau yang khas, dan warna hijau tua. Pada uji stabilitas menunjukkan tidak terjadi perubahan secara organolpetik dan homogenitas baik sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Perubahan nilai pH terjadi pada F2 dan perubahan tinggi busa terjadi pada F1. Meski demikian, perubahan yang terjadi pada F1 dan F2 masih memenuhi syarat SNI.  Secara keseluruhan stabilitas yang paling memadai adalah F3 karena tidak terjadi perubahan di setiap parameter uji stabilitas sediaan.  Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa zona hambat rata-rata yang terbentuk dari  kontrol negatif, F1, F2, F3 dan kontrol positif terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aurreus berturut-turut 0; 6,67 mm; 8,33 mm; 10,43 mm dan 14,57 mm. Dapat disimpulkan bahwa formula terbaik adalah F3 karena memiliki stabilitas yang paling baik dan aktivitas antibakteri yang paling kuat dibandingkan F1 dan F2. Jadi, semakin tinggi konsentrasi ekstrak pada formula semakin stabil dan tinggi pula zona hambat yang dihasilkan Avocado (Persea americana Mill) is a plant that contains tannin, alkaloid, saponin, alpha tocopherol and flavonoid. This study aims to make a formula, evaluate physical stability and antibacterial activity test of a liquid body wash made from ethanol extract of avocado leaves. The preparation formula was made in 3 extract concentrations, namely F1 (10%), F2 (15%), and F3 (20%). The stability test used the accelerated life testing for 6 cycles (1 cycle = 1x24 hours at 4oC and 1x24 hours at 40oC), while antibacterial activity test used the diffusion method with Staphylococcus aureus as bacteria agent. Stability test results showed that organoleptic of F1, F2, and F3 had a liquid form, a characteristic odor, and a dark green color. The stability test showed no changes in organoleptic and homogenity both before and after accelerated life testing. Changes in pH values ​​occur in F2 and changes in foam height occur in F1. However, the changes that occur in F1 and F2 still appropriate with value of SNI. Overall the most adequate stability was F3 because there was no change in any of the stability test parameters of the preparation. The results of the antibacterial activity test showed that the average inhibition zone formed from negative controls, F1, F2, F3 and positive controls on the growth of Staphylococcus aurreus bacteria was 0; 6.67mm; 8.33mm; 10.43mm and 14.57mm. It can be concluded that the best formula is F3 because it has the best stability and the strongest antibacterial activity compared to F1 and F2. So, the higher the concentration of the extract in the formula, the more stable and the higher the inhibition zone produced
Histomorfometri Duodenum Mencit (Mus musculus) yang Diinfeksi Telur Infektif Hymenolepis nana dan diberi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Atin Supiyani; Sekar Liyundzira; Daniel Ramadhan; Dalia Sukmawati
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.45964

Abstract

Cacing cestoda Hymenolepis nana merupakan cacing parasit intestinal yang bersifat zoonosis. Infeksi dari cacing H.nana berdampak buruk pada saluran pencernaan, terutama pada duodenum host. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh dari pemberian ekstrak daun kelor terhadap struktur duodenum mencit yang diinfeksi H.nana. Sebanyak 27 ekor mencit dibagi dalam 3 kelompok yaitu aquades (kontrol negatif), albendazole (kontrol positif), dan ekstrak daun kelor 500 ppm. Dosis letal 100 diperoleh dari uji in vitro ekstrak daun kelor pada telur dan larva cacing H.nana pada masa inkubasi 24, 48 dan 72 jam. Setiap mencit diinfeksi 40 butir telur H.nana secara oral. Ekstrak daun kelor diberikan selama 21 hari setelah infeksi. Histomorfometri struktur duodenum dengan mengukur tinggi vili, tebal mukosa, sub-mukosa, tunika muskularis, dan serosa pada 10 vili. Hasil penelitian diperoleh dosis letal 100-24 jam ekstrak daun kelor terhadap telur H.nana sebesar 397 ppm. Tinggi vili, tebal lapis mukosa, sub-mukosa, muskularis dan serosa mencit yang diberi ekstrak daun kelor berbeda signifikan (Sig<0.05). Pemberian ekstrak daun kelor dapat mempengaruhi struktur duodenum mencit yang terinfeksi cacing Hymenolepis nana.   The cestode worm Hymenolepis nana is a zoonotic intestinal parasitic worm. Infection from H. nana worms adversely affects the gastrointestinal tract, especially on the host duodenum. The purpose of this study was to determine the effect of Moringa leaf extract on the structure of the duodenum of mice infected with H. nana. A total of 27 mice were divided into 3 groups, namely aquades (negative control), albendazole (positive control), and Moringa leaf extract of 500 ppm. A lethal dose of 100 was obtained from in vitro tests of Moringa leaf extract on eggs and larvae of H. nana worms during the incubation period of 24, 48 and 72 hours. Each mice is infected with 40 H. nana eggs orally. Moringa leaf extract is administered for 21 days after infection. Histomorphometry of duodenal structures by measuring villi height, mucosal thickness, sub-mucosa, muscular tunica, and serous on 10 villi. The results of the study obtained a lethal dose of 100-24 hours of Moringa leaf extract against H. nana eggs of 397 ppm. Tall villi, thick layer mucosa, sub-mucosa, muscular and serous mice given Moringa leaf extract differed significantly (Sig<0.05). Administration of Moringa leaf extract can affect the structure of the duodenum of mice infected with Hymenolepis nana
KARAKTERISASI KARBON AKTIF YANG TERBUAT DARI TEMPURUNG KELAPA MENGGUNAKAN TEKNIK PIROLISIS DENGAN AKTIVASI FISIKA DAN KIMIA Andi Ikhtiar Bakti; Megastin Massang Lumembang; Jumriadi
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.46160

Abstract

Karbon aktif dihasilkan dari tempurung kelapa melalui aktivasi fisika dan kimia. Teknik pirolisis digunakan untuk aktivasi secara fisika dengan suhu aktivasi optimal 600oC dan untuk aktivasi kimia direndam menggunakan zat pengaktif ZnCl2 10% dan Na2Ca3 10%. Karbon aktif (KA) dianalisis menggunakan metode Fourier Transform Infred FTIR dan X-Ray Difraction (X-RD). Hasil FTIR menunjukkan bahwa tempurung kelapa berhasil dikonversi menjadi karbon. Hasil X-RD menunjukkan adanya beberapa fase kristal berjenis grafit disekitar puncak 36o dan 44o, terdapat dua puncak difraksi yang luas dan dapat dikaitkan dengan keberadaan karbon dan grafit. Hasil karakterisasi SEM menunjukkan morfologi SEM dari struktur mikro dengan perbesaran 3000 kali, ukuran gambar 5 µm, nampak ukuran pori yang terbentuk dan terdapat porositas yang menjelaskan bahwa hasil aktivasi karbon berhasil.
Pemanfaatan Tumbuhan dalam Ritual Balenggang Oleh Suku Dayak Bakati Desa Kalon Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang (The Use of Plants in the Balenggang Ritual by the Dayak Bakati Tribe of Kalon Village, District as Wide as Bengkayang Regency) Rafdinal Rafdinal; Ester Yulinda; Elvi Rusmiyanto Pancaning Wardoyo
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.48778

Abstract

Suku Dayak Bakati merupakan sub suku yang tersebar di wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang hingga di Lundu Serawak. Masyarakat Suku Dayak Bakati masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap nenek moyang dalam memberikan perlindungan hingga penyembuhan penyakit yang melalui ritual adat yang dilakukan secara turun temurun. Ritual Balenggang merupakan jenis pengobatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Dayak Bakati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam ritual Balenggang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalon, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang dari bulan Juni hingga september 2022. Metode penelitian yang digunakan observasi secara tidak langsung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan responden berjumlah 10 orang. Penentuan responden dengan teknik snowball sampling. Hasil penelitian ini diperoleh 25 jenis tumbuhan dari 18 famili. Famili yang paling banyak yaitu Poaceae (4 jenis) dan Arecaceae (3 jenis). Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun (44%) yang dimanfaatkan secara langsung (tidak diolah). Nilai RKI (Rasio Kesepakatan Informan) tertinggi (0,800) dengan kategori pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulihan. The Dayak Bakati tribe is a sub-tribe spread across Sambas Regency, Bengkayang Regency until Lundu Sarawak. The people of Dayak Bakati still have a strong belief in their ancestors who are believed to be able to provide protection to cure diseases suffered by the community through traditional rituals that have been been carried out for generations. The Balenggang ritual is a type of treatment commonly carried out by the Dayak Bakati community. This study aims to determine the types and parts of plants used in the Balenggang ritual. This research was conducted in Kalon Village, Seluas District, Bengkayang Regency, from June to September 2022. The research method used is indirectly with the data collection techniqueused was an interview with 10 respondents determind by snowball sampling technique. The results of this study obtained 25 plant species from 18 families, in which the most numerous families were Poaceae (4 species) and Araceae (3 species). The most widely used parts of the plant is the leaves (44%) which are used directly (unprocessed. The highest RKI (Informant Agreement Ratio) value (0.800) is in the category of using plants as recovery) Kata kunci: Balenggang, Desa Kalon, Etnobotani, Suku Dayak Bakati
Aplikasi Metarhizium anisopliae Dan Azadirachta indica A. Juss Untuk Mengendalikan Nephotettix virescens D. Sebagai Serangga Vektor Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi Yukiko Susandi; Christina Leta Salakia; Jackson Fraky Watung
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.49072

Abstract

Wereng hijau (Nephotettix sp.) diketahui merupakan serangga vektor penyakit tungro pada tanaman padi. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan jamur entomopatogen berpotensi untuk dikembangkan, contohnya jamur entomopatogen M. anisopliae. Pengendalian lain yang juga dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan pestisida nabati, seperti esktrak daun mimba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi jamur M. anisopliae sebagai jamur entomopatogen dan aplikasi ekstrak daun mimba terhadap mortalitas N. virescens.  Hasil pengamatan dari aplikasi jamur entomopatogen dan ekstrak daun mimba pada beberapa taraf konsentrasi memiliki efek yang mematikan terhadap serangga N. virescens. Mortalitas tertinggi dari aplikasi jamur entomopatogen M. anisopliae berada pada kerapatan spora 108 per ml (P3) dan 109 per ml (P4) yaitu 100 %. Mortalitas tertinggi dari aplikasi ekstrak daun mimba berada pada perlakuan 150 gr (P3) dan 200 gr (P4) yaitu mencapai 100 %. Serangga N. virescens setelah diaplikasikan dengan jamur entomopatogen M. anisopliae menunjukkan perilaku dengan gerakan melambat kemudian mati. Perilaku serangga saat aplikasi ekstrak daun mimba menunjukkan penurunan daya makan hingga perkembangan yang melambat kemudian serangga mati. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa aplikasi jamur entomopatogen M. anisopliae dan aplikasi pestisida nabati ekstrak daun A. indica, keduanya dapat menyebabkan mortalitas pada serangga N. virescens Green leafhoppers (Nephotettix sp.) are known to be vectors of tungro disease in rice plants. Biological control by utilizing entomopathogenic fungi has the potential to be developed, for example the entomopathogenic fungus M. anisopliae. Another control that can also be done is by using vegetable pesticides, such as neem leaf extract. This study aims to analyze the effect of the application of M. anisopliae fungus as an entomopathogenic fungus and the application of neem leaf extract on the mortality of N. virescens. The results showed that the application of entomopathogenic fungi and neem leaf extract at several concentration levels had a lethal effect on the insect N. virescens. The highest mortality from the application of the entomopathogenic fungus M. anisopliae was at a spore density of 108 per ml (P3) and 109 per ml (P4), namely 100%. The highest mortality from the application of neem leaf extract was in the treatment of 150 gr (P3) and 200 gr (P4), which reached 100%. After being applied with the entomopathogenic fungus M. anisopliae, the insect N. virescens showed behavior with slowed movements and then died. Insect behavior when the application of neem leaf extract showed a decrease in eating power until development slowed down and then the insects died. Based on the research that has been done, it can be seen that the application of the entomopathogenic fungus M. anisopliae and the application of botanical pesticides of A. indica leaf extract, both can cause mortality in the insect N. virescens.

Page 1 of 1 | Total Record : 6