cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Tinjauan hubungan formasi batuan sedimen dengan iklim Contoh kasus: endapan teras Bengawan Solo dan red beds di Cekungan Sumatra Tengah Danny Z. Herman
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1442.347 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.26

Abstract

SARIDi daerah beriklim tropis ketika curah hujan musiman berlangsung secara maksimum, akan terjadi discharge sedimen sangat tinggi sehingga menghasilkan endapan-endapan sedimen dataran banjir. Gosong meander sungai merupakan salah satunya dan melalui proses pengangkatan akan membentuk endapan teras. Banjir purba di sepanjang Bengawan Solo diyakini terjadi karena besarnya pasokan air yang disebabkan peningkatan curah hujan. Sedimen-sedimen gosong yang dikenal sebagai teras Bengawan Solo, merupakan salah satu di antara jenis-jenis sedimen lainnya hasil pengendapan kegiatan tersebut.Endapan teras Bengawan Solo merupakan salah satu rekaman geologi penting yang dapat digunakan sebagai indikator untuk memahami keterkaitan pembentukannya dengan iklim setempat pada masa lampau. Peningkatan curah hujan pada periode antara Plistosen Awal hingga Sub-Resen diduga menjadi penyebab berlimpahnya pasokan air pada saluran sungai yang pada gilirannya mengakibatkan banjir di sepanjang Bengawan Solo. Rekaman geologi penting lain yang ditemukan di cekungan-cekungan busur belakang Sumatra Tengah, yang dikenal sebagai formasi sedimen fluvial/lakustrin “Red Beds” diendapkan pada periode Eosen – Oligosen. Penemuan tersebut mengarah pada dugaan bahwa proses sedimentasi berimplikasi dipengaruhi oleh iklim tropis panas-kering. Kondisi iklim selama periode tersebut diduga menjadi penyebab terbentuknya pigmen berwarna coklat-merah (hematit), yang diakibatkan oleh proses ubahan in-situ dari oksida besi yang terhidrasi, berasal dari oksidasi mineral-mineral silikat ferromagnesian dan magnetit yang merupakan komponen-komponen sedimen lakustrin di cekungan Sumatra Tengah.Kata kunci: iklim tropis, curah hujan, endapan teras, panas-kering, endapan Red BedsABSTRACTIn tropical climate areas when the seasonal rainfall takes place in a maximum intensity, the highest rate of sediment discharge will occur, the floodplain deposits are formed. Point bar of river meander is one of those deposits and through an uplift process will form terrace deposit. Ancient flooding along theBengawan Solo was believed to occur due to the large intake of water supply caused by increased rainfall. Point bars known as the Bengawan Solo terrace is one among other types of sediment deposition result of these activities. The Bengawan Solo River terrace is one of the important geological record that can be used as an indicator to understand the interrelatedness of its formation with the local climate in the past. The increase in rainfall intensity in the periode of Early Pleistocene until Sub-Recent suspected as the cause of the abundance of water supply in the river channel which in turn resulted in flooding along the Bengawan Solo. Other important geological records found in the back-arc basin of Central Sumatra, which is known as fluvial sedimentary formations/lakustrin “Red Beds” was deposited during the Eocene- Oligocene period. The discovery led to the conjecture that the implications of sedimentation process was affected by the hot-dry tropical climate. The climatic conditions during this period is thought to be the cause of the formation of brown-red color (hematite). Hematite may be formed as the product of in-situ alteration process of hydrated Fe-oxides originating from ferromagnesian silicate minerals and magnetite of the lacustrine sediments in Central Sumatra basin.Keywords: tropical climate, precipitation, terrace deposit, hot-dry, Red-Beds deposit
Nickel and Chrome Pollutions Identification in the Coastal Area of Kulon Progo, Yogyakarta Ronaldo Irzon
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1909.76 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i2.143

Abstract

Abstract Kulon Progo is located in the southern part of Yogyakarta Special Province, Indonesia. The regency is famous of some tourist beach points. This study discusses the compositiom of beach sand samples in three coastal areas in Kulon Progo: Karangwuni, Glagah, and Congot in relation to environmental issues. Seven samples of four locations were megascopically descripted and analyzed using XRF and ICP-MS for geochemistry contents. Four of samples are beach sands from the surface whilst the others were collected from about 50 cm below surface. Box plots show maximum Cr outlier and minimum most of REE outliers in the group of beach sand samples. Nickel and chrome tenor anomalies were detected in samples from coastline of Karangwuni and Glagah. On the other hand, no Ni and Cr anamalies were indentified in the two samples 200 m from the seashore of Karangwuni nor the two samples near Congot seashore. In the polluted location, the two heavy metals are relatively concentrated in the surface. Two volcanic rock samples from the Andesite domain are selected to trace the origin of the heavy metals. The wastes of basic metal mining in northern Kulon Progo together with urban activities and several industries in Wates were then transported through the Serang River to Indian Ocean. Tidal currents helps the heavy metals to be deposited in the coastal areas near the mouth of Serang River. This study also concluded that folk gold mining activity in Sangon is not the source of Ni and Cr pollution to the coast of Kulon Progo.Keyword: geochemistry, beach sand, Kulon Progo, heavy metals pollution. Sari Kulon Progo berlokasi di bagian selatan Provinsi Daerah Istimewa Jakarta, Indonesia. Kabupaten ini terkenal dengan beberapa lokasi wisata pantai. Studi ini membahas mengenai komposisi pasir pantai pada tiga lokasi pantai di Kulon Progo: Karangwuni, Glagah, dan Congot terkait dengan masalah lingkungan. Tujuh contoh dari empat lokasi penelitian telah dideskripsikan secara megaskopis dan dianalisis kandungan geokimianya menggunakan XRF dan ICP-MS. Empat contoh merupakan pasir pantai yang berasal dari permukaan sedangkan contoh lain berasal dari 50 cm di bawah permukaan. Box plot dengan jelas menunjukkan keberadaan maximum outlier pada Cr dan minimum ourlier pada banyak elemen dari REE pada kelompok contoh pasir pantai. Anomali tinggi nikel dan krom terdeteksi pada seluruh contoh yang berada dekat tepi pantai di Karangwuni dan Glagah. Namun demikian, tidak terdapat anomali Ni dan Cr pada dua contoh yang berasal dari 200 m sebelum tepi pantai Karangwuni maupun dua contoh dari Pantai Congot. Pada titik yang tercemar polusi, dua logam berat ini lebih terkonsentrasi pada bagian permukaan. Dua batuan vulkanik dari wilayah Andesit dipilih dalam menelusuri asal muasal logam berat tersebut. Sampah sisa penambangan logam dasar bersama dengan aktifitas perkotaan dan industri di Kulon Progo telah terbawa oleh aliran Sungai Serang menuju Samudera Hindia. Arus bolak-balik air laut membantu logam berat tersebut terdepositkan di wilayah pantai dekat dengan mulut Sungai Serang. Studi ini turut menyimpulkan bahwa penambangan emas rakyat di Sangon bukan sebagai sumber pencemaran Ni dan Cr di tepi pantai Kulon ProgoKata kunci: geokimia, pasir pantai, Kulon Progo, polusi logam berat
Lingkungan Terumbu Karang sepanjang pantai gugusan Pulau-Pulau terluar di Perairan Kepulauan Aruah, Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Coral reef environment along coastal outer, in Aruah Archipelgo Waters area, Rokan Hilir District Riau Province Deny Setiady; Ediar Usman
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2087.056 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i1.185

Abstract

Abstrak Secara geografis, Kepulauan Aruah merupakan gugusan pulau-pulau kecil terluar yang  terletak di perairan Selat Malaka, yang berbatasan dengan Malaysia. Metoda penelitian geologi kelautan terdiri dari, Pemetaan geologi pantai dan lepas pantai, penentuan posisi, pengukuran pasang surut, pengukuran kedalaman dasar laut dan pengukuran luas terumbu karang. Hasil pengukuran luas gugusan  Terumbu karang di sekitar Kepulauan Aruah pada waktu pasang yaitu: Pulau Jemur (31.3800 ha), Pulau Kalironggo (39.0229 ha), Pulau Sarong Alang (0.5081 ha), Pulau Pandan (3.5940 ha), Pulau Labuhan Bilik (15.5340 ha), Pulau Tukong Mas (19.4271), Pulau Pasir (25.853), Pulau Batu Adang (43.1740), Pulau Batu Berlayar (70.9140), dan Pulau Batu Mandi (9.0770 ha). Pulau Tukong Simbang terdapat 7 gugusan pulau kecil, dimana  pada saat air laut mengalami surut terendah membentuk satu kesatuan pulau dengan luas mencapai 104,9 ha. Kedalaman dasar laut di daerah penelitian maksimum 80 meter, dengan perbedaan pasang surut maksimum dan surut minimum adalah 5,9 meter di daerah penelitian. Keberadaan batuan Tersier di pantai dan terumbu karang menjadi penyangga keberadaan dan ketahanan gugusan pulau-pulau kecil. Pantai dan lepas pantai Kepulauan Aruah. Hampir seluruh bagian pinggir dari pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Jemur dikelilingi oleh lingkungan terumbu karang, sehingga menambah pesona keindahan perairan dan pantai kepuauan Aruah.  Kata Kunci: Kepulauan Aruah, Lingkungan Terumbu Karang, Pulau terluar, dan geologi kelautan Abstract Aruah Islands located in the  Malacca Strait waters is outer islands cluster and the border Malaysia. Study method consits of coastal geology mapping positioning Low – high Tide measurenment, sea bottom measurenment and Coral reef wide measurenment. High tide coral reef cluster measurenment in Aruah archipelago are:  Jemur Island(31.3800 ha), Kalironggo (39.0229 ha), Sarong Alang  Island (0.5081 ha),  Pandan Island (3.5940 ha),  Labuhan Bilik Island (15.5340 ha), Tukong Mas Island (19.4271), Pasir Island (25.853), Batu Adang Island (43.1740), Batu Berlayar Island(70.9140), dan Batu Mandi Isand (9.0770) ha). There are seven small island Tukong Simbang Island, when low tide forming one island with 104.9 ha square. Maximum depth of seawater is 80 meter dept and differences between low tide and high tide is 5,9 meter in  study area. The existence of Tertiary rocks on the beach and coral reefs into existence and resistance as a buffer of small islands cluster. Almost all of the edges of small islands around the Jemur island is surrounded by coral reefs environment, that adding to the charm and beauty of coastal and waters Aruah Islands  Keywords. Aruah archipelago, Coral reef environment, outer island, and marine geology,
ANALISIS DEFORMASI GUNUNG API BATUR BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS BERKALA TAHUN 2008, 2009, 2013, DAN 2015 DEFORMATION ANALYSIS OF BATUR VOLCANO BASED ON PERIODIC GPS OBSERVATIONS DATA IN 2008, 2009, 2013, AND 2015 Achmad Faris; Estu Kriswati; Irwan Meilano; Dina Anggreni Sarsito
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2132.048 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i1.194

Abstract

ABSTRAKGunung Batur yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, terakhir meletus pada tahun 2000. Pada 2009 terjadi peningkatan aktivitas vulkanis di Gunug Batur walaupun tidak terjadi letusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola deformasi pada Gunung Batur serta keterkaitannya dengan peningkatan vulkanis pada tahun 2009. Analisis didasarkan pada pola vektor pergeseran dan pola regangan masing-masing titik pengamatan GPS berkala pada area Gunung Batur tahun 2008, 2009, 2013, dan 2015. Berdasarkan pengamatan GPS Oktober 2008-November 2009 pola deformasi menunjukkan adanya inflasi dengan pola vektor pergeseran titik pengamatan GPS dominan ke arah luar dari Gunung Batur, selain itu pola regangan memperlihatkan bahwa pada area bagian utara dan timurlaut Gunung Batur dominan terjadi ekstensi. Pada pengamatan GPS untuk periode November 2009-Februari 2013 pola deformasi menunjukkan adanya deflasi pada Gunung Batur dengan pola vektor pergeseran titik pengamatan GPS berarah menuju Gunung Batur dan pola regangan memperlihatkan bahwa pada area Gunung Batur terjadi kompresi. Kata Kunci: Gunung Batur, deflasi, deformasi, pergeseran, GPS, inflasi, regangan. ABSTRACTBatur volcano located in Bangli, Bali, last erupted in 2000. Increased in the volcanic activity occurred in 2009 but did not followed by eruption. This study aims to determine ground deformation pattern in Batur volcano and its association with the increased in volcanic activity in 2009 based on the pattern of displacement vector and strain using 2008-2015 campaign GPS data. During period of October 2008-November 2009, Batur Volcano experience inflation and strain pattern shows that the area of the north and northeast of Batur Volcano experienced extension. During November 2009-February 2013, Batur Volcano experienced deflation with GPS displacement directed towards Batur Volcano and a strain pattern of compression around Batur Volcano. Keywords: Batur Volcano, deflation, deformation, displacement, GPS, inflation, strain.
Water Sea Quality Study at Jakarta Bay due to Reclamtion and The Development of Giant Sea Wall (GSW) Mardi Wibowo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.883 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i1.198

Abstract

To overcome many problems in Jakarta such as: flood, tide flood, lack of water resources and land, the government decided to build a giant sea wall (GSW). Development GSW on Jakarta Bay is a form of intervention of technology on the water sea environment, so its will surely had an impact especially to the water sea quality (BOD, DO and salinity). Aim of this study is to know magnitude of sea water quality changes due to the construction of GSW .This study was conducted with computation modeling using software MIKE-2,1 Eco Lab module. Based on this study, GSW development will give significant impact to sea water quality  especially waters in the formed polder. The quality of waters in formed polder significantly decreased, especially of the value of BOD . Value of BOD is rise more than 100 % and value of DO is decrease more than 20 % andsalinityis decrease more than 2 percent .To prevent a trend of decreasing the sea water quality in Jakarta Bay that caused GSW development, must be done with prevention act from upstream part before the waters entrance to Jakarta Bay.
Relokasi Gempabumi Teleseismic Double-Difference di Wilayah Bali – Nusa Tenggara dengan Model Kecepeatan 3D Tio Azhar Prakoso Setiadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2951.79 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i1.149

Abstract

Bali dan Nusa Tenggara memiliki kondisi tektonik yang komplek. Aktivitas seismik umumnya pada wilayah penelitian berasal dari subduksi lempeng Indo-Australia (Busur Sunda), patahan naik busur belakang, dan juga aktivitas vulkanis. Penelitian dilakukan untuk mengetahui seismisitas, pola tektonik dan menghitung sudut penujaman lempeng di wilayah Bali hingga Nusa Tenggara berdasarkan metode relokasi Teleseismic Double-Differencedengan model kecepatan 3D. Data yang digunakan adalah data katalog gempabumi BMKG pada periode pengamatan Januari 2010 – Februari 2017 sebanyak 4201 kejadian gempabumi. Hasil relokasi menunjukkan pola sebaran gempabumi yang didominasi oleh gempa-gempa dangkal di wilayah barat daerah penelitian, dan semakin ke arah timur semakin dalam, yang mengindikasikan bahwa gempa tersebut berasal dari zona subduksi
Variasi Gas Radon dan Aktivitas Kegempaan di Sekitar Patahan Opak Bambang Sunardi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2498.195 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i1.166

Abstract

Monitoring gas radon di dalam tanah telah dilakukan secara kontinyu selama dua tahun terakhir di sekitar patahan Opak Yogyakarta sebagai salah satu upaya mitigasi bencana gempa. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi radon dan aktivitas kegempaan yang terjadi di sekitar patahan Opak serta mengeksplorasi munculnya prekursor untuk gempa lokal. Monitoring data radon dilakukan di dua lokasi yaitu di daerah Pundong dan Piyungan, sedangkan aktivitas gempa di sekitar patahan Opak diperoleh dari data repositori gempabumi BMKG.  Eksplorasi anomali radon untuk melihat adanya prekursor gempa dilakukan dengan menerapkan metode korelasi. Anomali radon ditetapkan apabila rasio simpangan koefisien korelasi (Sk) dengan deviasi standar (Ds) lebih kecil dari -1.  Hasil penelitian menunjukkan peningkatan emisi gas radon berkorelasi dengan kenaikan frekuensi kejadian gempa. Penerapan metode korelasi memperlihatkan beberapa anomali radon yang dapat diklasifikasikan sebagai prekursor gempa di sekitar patahan Opak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat konsistensi hasil monitoring anomali radon dengan kejadian gempa di sekitar patahan Opak.
Kajian Daya Dukung Sumberdaya air berdasarkan analisis ketersediaan dan kebutuhan sumberdaya air: studi kasus Daerah Aliran Sungai Cerucuk, Pulau Belitung Ida Narulita
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2054.35 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i2.181

Abstract

Abstrak: Pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang pesat di kota Tanjungpandan, kabupaten Belitung telah meningkatkan penggunaan sumberdaya air. Periode kelangkaan air yang mulai sering dirasakan di kota Tanjungpandan, yang terletak di DAS Cerucuk. Fenomena ini dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan. Analisis daya dukung dilakukan untuk mengetahui status sumberdaya air di Daerah Aliran Sungai Cerucuk, serta kemampuannya dalam mendukung petumbuhan penduduk beserta aktifitas ekonominya secara berkelanjutan. Daya dukung sumberdaya air ditetapkan berdasarkan perbandingan antara ketersediaan air dan kebutuhan air. Ketersediaan air spasial diduga dengan metode CN (SCS/NRCS), distribusi tegangan airtanah (pF) dan perbedaan konduktifitas hidraulik dengan memanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data dasar yang digunakan meliputi data curah hujan harian dari 5 stasiun yang tersebar di daerah kajian periode 1980 - 2014, data citra satelit landsat tahun 2013, peta tanah, peta geologi. Kebutuhan air diduga berdasarkan data kependudukan dan aktivitasnya untuk setiap kecamatan berdasarkan data statistik tahun 2012. Status dayadukung sumberdaya air di DAS Cerucuk secara umum masih tinggi,  kecuali di perkotaan dimana intensitas pemakaian air sangat tinggi akibat kepadatan penduduk, sehingga daya dukungnya  defisit. Untuk mengatasi kelangkaan air  di  daerah urban pada musim kemarau, diperlukan penampungan air permukaan (embung, kolong, dsb), untuk didistribusikan  pada musim kering.Kata kunci : sumberdaya air, dayadukung , kelangkaan, ketersediaan, kepadatan penduduk. 
Analisis Kondisi Atmosfer dengan Memanfaatkan Citra Satelit Cuaca dan Karakteristik Tanah pada Kejadian Tanah Longsor di Pesisir Barat Lampung sepanjang Tahun 2014 Jaka A. I. Paski
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19438.942 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i2.161

Abstract

Berdasarkan data BNPB pada tahun 2014, terdapat 385 kasus tanah longsor di Indonesia dengan Kabupaten Pesisir Barat Lampung merupakan salah satu wilayah rawan longsor di Provinsi Lampung. Menurut data curah hujan dari Badan Meteorologi dan Geofisika, curah hujan di Kabupaten Pesisir Barat berkisar antara 2.500 - 3.500 milimeter dalam setahun atau 140 - 221 milimeter dalam sebulan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membahas dinamika atmosfer selama terjadi longsor serta karakteristik tanah di Kabupaten Pesisir Barat pada tahun 2014. Analisis dinamika atmosfer pada penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit MTSAT BMKG melalui kanal IR1 dan IR3. Dari analisis yang dilakukan, citra satelit MTSAT mampu menggambarkan sebaran awan dan kandungan uap air saat kejadian tanah longsor. Dari hasil analisis data jenis tanah diperoleh bahwa kondisi karakteristik tanah di Pesisir Barat cenderung rentan erosi dengan kemiringan lereng 25-40 % serta ada anomali signifikan dari curah hujan bulanan selama kejadian tersebut.
Metode Kombinasi Weight of Evidence (WoE) dan Logistic Regression (LR) untuk Pemetaan Kerentanan Gerakan Tanah di Takengon, Aceh pamela pamela; Imam A. Sadisun; Rendy Dwi Kartiko; Yukni Arifianti
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2319.397 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i2.219

Abstract

ABSTRAKPeta kerentanan gerakan tanah sangat diperlukan sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan lahan dan mitigasi bencana. Kerentanan gerakan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemiringan lereng, arah lereng, litologi, tutupan lahan, elevasi, curah hujan, kelurusan, percepatan gempabumi, kurvatur, arah aliran, jarak dari sungai, dan jalan. Dalam penelitian ini dikembangkan metode pemetaan kerentanan gerakan tanah menggunakan metode kombinasi logistic regression (LR) – weight of evidence (WoE). Metode gabungan ini diharapkan dapat menghasilkan metoda yang menggabungkan kelebihan dari masing-masing metode serta sekaligus mengatasi kelemahan masing-masing metode. Wilayah studi kasus penelitian adalah Takengon, salah satu wilayah di Provinsi Aceh yang rawan terhadap bencana gempabumi dan gerakan tanah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 251 kejadian gerakan tanah secara acak yang terjadi pada tahun 2000 hingga tahun 2016. Data tersebut dibagi menjadi dua kelompok data, 70% data digunakan sebagai set data analisis untuk penyusunan model dan 30% data digunakan sebagai set data validasi untuk pengujian model. Tahapan penelitian meliputi pembobotan dua belas parameter yang mempengaruhi kerentanan gerakan tanah dengan menggunakan metode WoE. Analisis kombinasi LR-WoE menggunakan parameter hasil pembobotan metode WoE dan kemudian di analisis menggunakan statistik LR. Selanjutnya melakukan analisis perbandingan hasil pemetaan kerentanan gerakan tanah melalui pengujian kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Hasil validasi dan pengujian model menunjukkan bahwa metode kombinasi LR-WoE mempunyai nilai AUC 0,853 yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan metode WoE (AUC 0,830). Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa metode kombinasi LR-WoE memberikan tingkat akurasi yang lebih baik dari metode WoE untuk pemetaan kerentanan gerakan tanah. Metode kombinasi LR-WoE dapat terus dikembangkan dan dapat diusulkan menjadi metode pemetaan gerakan tanah yang akurat, efektif dan ekonomis. Kata kunci: Kerentanan gerakan tanah, Logistic Regression, Takengon, Weight of Evidence. ABSTRACTLandslide susceptibility map is an imperative basic tool for land use application, spatial planning and disaster mitigation. The susceptibility of landslide is influenced by factors such as slope, slope aspect, lithology, land cover, elevation, rainfall, linemeant, peak ground acceleration, curvature, flow direction, distance from rivers, and roads. In this research, a combined method of weight of evidence (WoE) and logistic regression (LR) was applied to assessed its advantages and overcome the limitation of each method. Takengon is an area prone to earthquake disaster and landslide. The 251 landslides from 2000 until 2016 were randomly divided into two groups of modelling/training data (70%) and validation/test data sets (30%).  The research stages include weighting of twelve parameters that affect the susceptibility of landslide using the WoE method. The combination LR-WoE analysis uses the weighted parameter of the WoE method and then analyzed using LR statistics. The validation results using Receiver Operating Characteristic (ROC) curve showed that the LR-WoE method had a better accuracy than the WoE methods, with values of 0,890 higher than that of the WoE method 0,830 prediction. Therefore, it is concluded that the combined method of LR and WoE can provide a promising level of accuracy for landslide susceptibility mapping. Combined LR-WoE method can be developed and proposed to be an accurate, effective and economical method of mapping the landslides susceptibility map. Keywords: Kerentanan gerakan tanah, Logistic Regression, Takengon, Weight of Evidence.