cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Assessment of Hydrochemistry and Unconfined Groundwater Quality At East Simeulue Coastal Area, Aceh Province WISNU ARYA GEMILANG
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1474.465 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i1.238

Abstract

East Simulue Subdistrict is one of the areas that has coastal tourism potential that is very good to develop. Tourism development cannot be separated from the provide of tourism facilities and infrastructure, one of which is public infrastructure in the form of providing clean water. Determination of hydrogeochemical characteristics and determination of groundwater quality index (Water Quality Index) is one method of assessing groundwater worthiness in East Simulue. Ground water in the Simulue East coastal area is dominated by HCO3 elements, with a value of Cl / HCO3 ratio <0.5 which indicates that ground water is not affected by sea water, while the Na / Cl ratio> 1 indicates that groundwater has a process of groundwater hydrolysis. There are 6 types of facies hydrochemical facies of East Simulue groundwater, Mg-HCO3, Ca-HCO3, mixing Ca-Na-HCO3, Na-HCO3, Na-SO4 and Ca-SO4, but overall dominated by Mg-HCO3 facies. The ratio of Na ++ K +/ (Na ++ K ++ Ca2 +) as a function of TDS also shows that the chemistry of East Simeulue groundwater is dominated by the interaction of rock (formation) with groundwater. Groundwater quality index classification in Simuelue coastal shows that overall groundwater is in the category of excellent water (good) and good water (good) category.
Pemanfaatan Automatic GIS (VORIS) untuk Penilaian Bahaya Jatuhan Material Vulkanik Gunungapi Kelud Ardli Swardana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1557.731 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i1.196

Abstract

Letusan Gunungapi Kelud tahun 2014menghasilkan material vulkanik yang membawa dampak kerusakan di Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang hingga Yogyakarta. Tujuan penelitian ini untuk memprediksi pola sebaran dan ketebalan jatuhan material vulkanik Gunungapi Kelud sebagai faktor bahaya di masa mendatang. Penentuan bahaya menggunakan VOlcanic Risk Information System (VORIS) dengan input angin u dan v serta jumlah material yang dierupsikan. Keluaran pemodelan ini berupa ketebalan material vulkanik sebagai faktor bahaya yang diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kajian terhadap pola sebaran material vulkanik dilakukan dari bulan Januari sampai Desember 2016. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa sebaran material vulkanik Gunungapi Kelud mempunyai pola aliran yang beragam, yaitu lingkaran dan elips dengan dominan arah barat hingga barat daya. Jangkauan terjauh pola sebaran material vulkanik berdasarkan hasil pemodelan VORIS mencapai Kabupaten Ponorogo, Trenggalek, hingga Samudera Hindia. Sebaran bahaya tinggi terkonsentrasi di sekitar tubuh Gunungapi Kelud dan menurun seiring dengan bertambahnya jarak dari pusat letusan. Jika letusan berlangsung pada musim angin baratan seluruh lokasi penelitian seluas 31.403 Ha terlanda oleh jatuhan material vulkanik, sehingga tingkat bahaya yang ditimbulkan menjadi lebih tinggi. Jika terjadi pada angin timuranlokasi yang terlanda paling sedikit diantara musim lainnya. Kata kunci:Jatuhan Material vulkanik, Gunungapi Kelud, VORIS, Bahaya
Pemodelan Aliran Awanpanas (Aliran Piroklastik) Sebagai Data Pendukung Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus Gunungapi Sinabung Sumatra Utara) Pyroclastic Flows Modeling as a Supporting Data for Volcanic Hazard Map (case study Sinabung Volcano-North Sumatra) Agoes Loeqman; Nana Sulaksana; Helman Hamdani; Wening Sulistri
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11430.519 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.164

Abstract

ABSTRAK Indonesia mempunyai 127 gunungapi aktif dan berdasarkan sejarah erupsi 67 di antaranya merupakan gunungapi berbahaya. Erupsi gunungapi memiliki risiko merusak dan mematikan tidak hanya bagi masyarakat yang bermukim disekitarnya tapi juga menyebabkan bencana bagi masyarakat luas. Salah satu bahaya primer erupsi gunungapi adalah aliran awanpanas, produk erupsi gunungapi yang sampai saat ini paling banyak menyebabkan jatuhnya korban jiwa, untuk itu diperlukan suatu simulasi/pemodelan untuk mengetahui pola aliran awanpanas guna mendukung penentuan Kawasan Rawan Bencana (KRB) erupsi gunungapi. Simulasi/pemodelan aliran awanpanas ini dibuat berdasarkan data Model Elevasi Digital (DEM) dan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS), dengan output berupa representasi dinamis dari kecepatan aliran awanpanas, ketebalan deposit, dan daerah terdampak, dengan studi kasus Gunungapi Sinabung Sumatera Utara. Setelah erupsi terakhir 1200 tahun lalu (sutawidjaja, 2013), peningkatan aktivitas Gunungapi sinabung ditandai dengan terjadinya letusan freatik pada periode Agustus-September 2010. Setelah 3 tahun beristirahat, aktivitas erupsi kembali terjadi sejak September 2013 hingga saat ini. Aktivitas erupsi berupa pertumbuhan kubah lava dan luncuran awanpanas telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta memaksa penduduk mengungsi menjauhi daerah bahaya. Simulasi/pemodelan aliran awanpanas Gunungapi Sinabung karena runtuhnya kubah lava dibuat ke berbagai arah dengan skenario volume kubah lava ; 1, 2 dan 3 juta m3 . Hasil overlay antara daerah landaan awanpanas dengan skenario 3 juta m3 pada Peta KRB menunjukan jangkauan aliran awanpanas pada sektor tenggara, barat dan timurlaut telah sedikit melewati batas KRB III (kawasan sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, guguran lava dan gas beracun). Kata kunci : awanpanas, Simulasi/model, titan2d, KRB ABSTRACT Indonesia has 127 active volcanoes and based on historical eruption, 67 of them are dangerous. Volcano eruption having destructive risk and deadly, not only for the people who lived around, but also caused disaster for large society.  One of the primary danger of volcano eruption is the pyroclastic flow, volcano eruption products that until recently was the most caused the loss of life, therefore necessary creating a simulation/modeling to know pyroclastic flow pattern to support of a determination the Volcanic hazard map. Pyroclastic flow Simulation/modeling is made based on the Digital Elevation Model (DEM) data and using Geographical Information System (GIS) application, with output of representation dynamic from the pyroclastic flow velocity, the thickness of deposit, and affected areas, with case Sinabung Volcano in North Sumatra. Since lates eruption about 1.200 years ago, Increased activity Sinabung volcano started by phreatic eruptions during August – September 2010. After three years of rest, eruption activity occurs again on September 2013 until today, with lava dome growth and pyroclastic flow acitvity have caused casualties and forcing residents were being evacuated away from the danger area. The pyroclastic flow simulation/modeling due the lava dome collapse is made into various directions with scenario of lava dome volume ; 1, 2 and 3 million m3 . The results of overlay between areas affected by pyroclastic flow model with scenario 3 million m3 and volcanic hazard map showed the range of pyroclastic flow to the southeast, west and northeast sector reached the limit of zone III at volcanic hazard map (Very potentially affected by pyroclastic flow, lava flow, lava avalanche, and toxic volcanic gas ). Keywords : pyroclastic, simulation/modeling Titan2D, volcanic hazard map
Karakterisasi Durabilitas Batulempung Menggunakan Uji Indeks Disintegrasi; Studi Kasus pada Lokasi Rencana Jalan Tol Cisumdawu di Daerah Ujungjaya, Sumedang, Jawa Barat Misbahudin .; Imam Achmad Sadisun
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.853 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.187

Abstract

Batulempung seringkali mudah hancur dalam periode singkat ketika tersingkap ke permukaan dan atau saat berinteraksi dengan air. Hal ini dapat memicu beberapa permasalahan di dalam kegiatan rekayasa. Salah satu kegiatan rekayasa  yang sedang dan akan berjalan adalah pembuatan Jalan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) yang merupakan akses penghubung wilayah-wilayah di sekitar Bandung dan Cirebon. Akses jalan ini juga akan terhubung dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati. Bagian ruas jalan ini di daerah Ujungjaya, Sumedang akan melintasi Formasi Subang dan Kaliwangu yang memiliki litologi utama berupa batulempung. Karakterisasi durabilitas jenis batuan ini penting dilakukan untuk menunjang aspek teknis kegiatan rekayasa di sekitar area tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pengambilan sampel tak terganggu (undisturbed sample) di lapangan, uji pembasahan dan pengeringan (wetting-drying) di laboratorium berupa uji indeks disintegrasi, uji mineralogi lempung melalui difraksi sinar X (XRD), dan uji sifat-sifat fisik batuan yang mencakup kadar air alami, densitas kering, porositas, dan absorbsi. Hasil penelitian menunjukkan indeks-indeks durabilitas batulempung dalam penelitian ini tergolong rendah. Disintegrasi batuan berlangsung cepat dan menunjukkan perilaku body slaking. Faktor-faktor yang berpengaruh kuat terhadap durabilitas batulempung terdiri dari porositas dan absorbsi. Hubungan porositas dan absorbsi dengan indeks durabilitas (rasio disintegrasi) mengikuti suatu kurva eksponensial negatif. Rasio disintegrasi cenderung turun seiring kenaikan nilai porositas dan absorbsi batulempung. 
Analisis Kecepatan Gelombang Geser (Vs) Sebagai Upaya Mitigasi Bencana Gempabumi di Kulonprogo, DIY Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Bambang Sunardi; Supriyanto Rohadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2207.597 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.215

Abstract

Posisi Kulonprogo yang berbatasan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia - IndoAustralia dan keberadaan patahan-patahan lokal menyebabkan sering merasakan dampak guncangan gempabumi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kecepatan gelombang geser (Vs) sebagai salah satu upaya mitigasi bencana gempabumi di Kabupaten Kulonprogo. Nilai Vs dihasilkan dengan pengolahan 28 titik pengukuran Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) yang tersebar di daerah Kulonprogo. Pengolahan data dilakukan dengan membuat kurva yang menghubungkan antara kecepatan fase – frekuensi dan selanjutnya dilakukan picking pada fundamental mode serta dilakukan proses inversi untuk mendapatkan profil kecepatan gelombang geser 1 dimensi (Vs 1D). Hasil Vs 1D digunakan untuk menganalisis tingkat bahaya gempabumi. Analisis dilakukan pada nilai Vs secara spasial dan teknik penampang melintang berdasarkan nilai Vs 1D.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Wates, Panjatan, Galur, dan Temon sisi Utara memiliki tingkat bahaya guncangan gempabumi yang relatif lebih besar daripada daerah lain di Kulonprogo. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut memiliki nilai Vs yang relatif lebih rendah (endapan jenis tanah lunak dan jenis tanah sedang yang cukup tebal) daripada daerah lain di Kab. Kulonprogo.
Identifikasi Zona Infiltrasi Airtanah di Kawasan Karst Berdsarkan Nilai Tekanan Parsial CO2 dan Indeks Kejenuhan CaCO3 (SIc) di Sekitar Perbukitan Karst Watuputih Nofi Muhammad Alfan Asghaf; Boy Yoseph CSSS Alam; Hendarmawan Hendarmawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2631.119 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.251

Abstract

Persebaran mata air di sekitar perbukitan karst Watuputih menunjukkan kawasan tersebut memiliki potensi air tanah yang tinggi. Kehadiran mata air karst tersebut sebagai akibat dari kondisi geologi yang didominasi oleh batuan karbonat yang mudah larut dan struktur geologi yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik daerah infiltrasi air tanah berdasarkan analisis tekanan parsial CO2 (Pco2) dan indeks kejenuhan CaCO3 (SIc), dikombinasikan dengan analisis fasies kimia air tanah dan kelurusan morfologi. Hasil analisis menunjukkan, pada densitas kelurusan morfologi tinggi memiliki nilai Pco2 rendah dan air tanah dalam kondisi jenuh sedangkan pada densitas kelurusan morfologi rendah nilai Pco2 tinggi dan air tanah dalam kondisi jenuh hingga tidak jenuh. Korelasi Pco2 dengan SIc dikombinasikan dengan kondisi geologi dan fasies kimia air tanah menghasilkan tiga tipe mata air, yaitu (1) Nilai Pco2 tinggi, nilai SIc jenuh hingga tidak jenuh, fasies hidrokimia dominan Ca-Mg-HCO3, densitas morfologi rendah, lapisan soil tebal, dan media aliran air tanah dominan jaringan pori memiliki infiltrasi rendah; (2) Nilai Pco2 rendah, nilai SIc jenuh, fasies hidrokimia dominan Ca-HCO3, densitas morfologi tinggi, lapisan tanah tipis, dan media aliran air tanah dominan jaringan pori dan rekahan batuan yang rapat, tetapi mulai berkembang jaringan rongga, memiliki infiltrasi tinggi; dan (3) Nilai Pco2 sangat tinggi, nilai SIc tidak jenuh, fasies hidrokimia Ca-Na-HCO3 dan Ca-Mg-Cl-HCO3, densitas morfologi tinggi, lapisan soil tebal, media aliran air tanah jaringan pori, dan litologi batuan nonkarbonatan, memiliki infiltrasi rendah.
Intensitas Erosi pada Kerucut Sinder Gunungapi Slamet Berdasarkan Pembagian Kelas Morfometri Kerucut, Jawa Tengah Wilda Aini Nurlathifah; Ildrem Syafri; Johanes Hutabarat; Agustina Djafar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5818.278 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.261

Abstract

Gunung Slamet memiliki 35 kerucut sinder di sisi lereng timurnya. Kerucut ini menyebar secara acak dan hadir baik di tubuh Gunung Slamet dan sebagian kecil di kaki Gunung Slamet. Kerucut sinder ini merupakan jenis kerucut parasit monogenetik yang muncul setelah Gunung Slamet Tua terbentuk. Meskipun secara sekilas kenampakan morfologi kerucut sinder Gunung Slamet hampir seluruhnya sama, namun dengan menggunakan data citra beresolusi tinggi akan didapat perbedaan bentuk kenampakan morfologinya. Dari kenampakan morfologi ini dapat dihitung morfometrinya untuk ditentukan kelas kerucutnya. Menurut Taylor, dkk. (2003), kelas morfometri kerucut sinder ini berhubungan dengan tingkat degradasi atau erosi dari suatu kerucut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensitas erosi yang terjadi pada kerucut sinder Gunung Slamet berdasarkan pembagian kelas morfometrinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis morfometri dengan menggunakan citra satelit TerraSar untuk menghitung parameter kerucut, seperti bentuk kerucut, bentuk kawah, relief, sudut lereng kerucut, dan rasio tinggi kerucut/diameter alas kerucut. Untuk memudahkan penelitian, dipilih 5 buah kerucut sinder yang mewakili kelompok kerucut yang hadir di tubuh (fasies medial) dan di kaki (fasies distal) Gunung Slamet baik secara soliter maupun berkelompok. Kelima kerucut sinder tersebut adalah Kerucut Sinder Bukit Lingi/Pisang, Kerucut Sinder Bukit Kandanggotong, Kerucut Sinder Bukit Siremeng, Kerucut Sinder Bukit Batusanggar dan Kerucut Sinder Bukit Telu. Kelas morfometri kerucut 1 menunjukkan tingkat erosi yang paling rendah dengan karakteristik bentuk kerucut yang masih cukup sempurna, bentuk kawah yang masih terlihat jelas dan dalam, nilai sudut lereng yang besar, relief yang cukup halus, dan rasio tinggi/diameter alas kerucut yang cukup tinggi. Semakin besar angka dalam kelas morfometri kerucut sinder memberi arti bahwa intensitas erosi semakin besar. Dari kelima kerucut sinder yang dianalisis diketahui bahwa kerucut sinder Bukit Telu yang terletak pada kaki Gunung Slamet memiliki kelas morfometri kerucut 1. Hal ini berarti intensitas erosinya paling rendah. Sementara itu, kerucut sinder Bukit Siremeng yang terletak di tubuh Gunung Slamet masuk ke dalam kelas kerucut 4 dan memiliki intensitas erosi paling tinggi dibandingkan dengan keempat kerucut lainnya.
Bangunan Sabodam, Fungsi dan Potensinya sebagai Bagian dari Geowisata Gunung Api Merapi Moh. Dedi Munir
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18208.033 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.202

Abstract

Indonesia yang terletak pada pertemuan lempeng dan daerah khatulistiwa sehingga menyebabkan daerah ini rentan terhadap terjadinya bencana alam seperti letusan gunungapi, gempa bumi, longsor, banjir lahar dsb. Salah satubencana yang sering terjadi adalah letusan gunungapi. Kejadian ini memiliki dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat yang dibedakan menjadi dua yaitu dampak primer (letusan, awan panas, lava, dsb) dan dampak sekunder (bencana banjir lahar). Banjir lahar merupakan kejadian yang dijadikan fokus karena peristiwa ini terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu dari letusan sampai dengan beberapa waktu tertentu setelah gunung tersebut meletus. Bangunan sabo dam merupakan struktur yang berfungsi sebagai bangunan penangkap sedimen debris ataulahar yang biasa ditempatkan pada sungai di gunungapi. Bangunan ini bermanfaat dalam mengendalikan lahar atau debris terutama yang terjadi disebabkan oleh hujan yang lebat. Keberadaan bangunan sabo tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan bencana lahar tetapi juga dapat dijadikan pembelajaran ataupun studi serta masuk dalam bidang pariwisata. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memperkenalkan fungsi bangunan sabo dan mempelajari nilai bangunannya serta mengeksplorasi lingkungannya sebagai objek yang merupakan pendukung dari geowisata Gunung Merapi di Yogyakarta. Dari penelitian ini diketahui terdapat potensi yang cukup baik dari bangunan sabo sebagai pendukung dari wisata Gunung Merapi. Potensi pariwisata yang timbul tidak hanya menjadi sebuah sarana rekreasi tetapi dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat terhadap bencana baik bencana letusan maupun banjir lahar.Kata kunci: Geowisata, Gunung Merapi, Lahar, Sabo dam
Peranan Geomorfologi dalam Perencanaan Bangunan pada Zona Ancaman Longsor Tinggi di Kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong Bagian Utara Puguh D Raharjo; Kritiawan Widiyanto; Sueno Winduhutomo; Mohammad Al’Afif
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 3 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.192 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i3.274

Abstract

Kawasan Karangsambung merupakan Cagar Alam Geologi yang menjadi bagian dari Geopark Nasional. Fungsi edukasi, konservasi, wisata serta pemberdayaan masyarakat menjadikan fokus pembangunan dari pemerintah daerah pada kawasan geopark. Sehingga diperlukan pemerataan pembangunan terutama sektor-sektor penting di kawasan geopark. Ancaman longsor pada bagian utara memiliki kriteria ancaman tinggi hingga sedang dan hanya sedikit yang memiliki kriteria rendah. Penelitian mengenai gerakan tanah sudah banyak dilakukan namun masih dalam skala yang kecil berupa spasial, namun masih jarang yang melakukan penelitian dalam skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kelayakan lokasi yang memiliki status kepemilikan oleh Pemerintah Daerah Kebumen pada wilayah yang rawan terhadap ancaman longsor. Sehingga dengan diketahuinya status ancaman longsor lokasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam perencananaan bangunan strategis. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan dengan data lapangan, data laboratorium serta pendekatan dengan analisis keruangan. Hasil yang diperoleh bahwa bangunan fisik berupa kantor masih dapat direncanakan pada lokasi tertentu di zona ancaman longsor tinggi. Sehingga perkembangan wilayah dapat tercapai untuk mendukung pengembangan Geopark Karangsambung-Karangbolong.
Analisis Sumber Gempa Bumi Lebak 23 Januari 2018 Tio Azhar Prakoso Setiadi; Marlita Aulia Rahman; Yusuf Hadi Perdana; Agustya Adi Martha; Nova Heryandoko; Supriyanto Rohadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 3 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1650.592 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i3.254

Abstract

Gempa bumi tektonik 23 Januari 2018 berkekuatan M 6,1 telah mengguncang wilayah Lebak  dan sekitarnya. Guncangan gempa bumi ini berdampak berrisiko yang cukup serius. Menjadi perhatian dari peristiwa ini adalah pusat gempa bumnyai berada di laut pada  zona sesar Cimandiri sebagai kelanjutan dari zona sesar yang berada di daratan. Penelitian ini berhasil melakukan relokasi episenter dan hiposenter gempa bumi bersumber dari BMKG dari tanggal 23 hingga 28 Januari 2018 sebanyak 62 kejadian gempa bumi, menentukan bidang sesarnya, dan perkiraan transfer tekanan Coulomb gempa bumi utama (mainshock). Relokasi hiposentrum gempa bumi menunjukan adanya lineasi sumber gempa bumi yang mengarah baratdaya-timurlaut dan berasosiasi dengan terusan zona sesar Cimandiri ke arah arah daratan di Teluk Pelabuhan Ratu. Pengolahan HC-plot dapat menentukan bidang sesar sebenarnya pada gempa bumi Lebak yaitu bidang nodal 2 dengan nilai jurus N 41.79° E, kemiringan 81.4°, rake 43.9°. Selain itu analisis perubahan nilai tekanan Coulomb gempa bumi menunjukkan pengaruh gempa bumi utama yang menyebabkan terjadinya gempa bumi susulan di sekitar wilayah sumber.