cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pharmacon@unsrat.ac.id
Editorial Address
Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science, Sam Ratulangi University, Manado, North Sulawesi, Indonesia, 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
PHARMACON
ISSN : 23022493     EISSN : 27214923     DOI : 10.35799
Core Subject : Health,
Pharmacon is the journal published by Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Indonesia (P-ISSN: 2302-2493 E-ISSN: 2721-4923). Pharmacon was established in 2012 and published four times a year. Pharmacon is an open access journal and has been indexed by main indexing Google Scholar, GARUDA, Crossref.
Arjuna Subject : -
Articles 1,131 Documents
EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN LANSIA DENGAN PNEUMONIA DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 – JULI 2014 Kuluri, Lisa Citra N.
PHARMACON Vol 4, No 3 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.8856

Abstract

EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN LANSIA DENGAN PNEUMONIA DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 – JULI 2014 Lisa Citra N. Kuluri1) , Fatimawali 1), Widdhi Bodhi 1) 1)Program studi farmasi FMIPA UNSRAT Manado   ABSTRACT Pneumonia is an infection of the lower respiratory tract that can be caused  various phatogens such as bacteria, fungi, viruses and parasites. One of indicators for irrational use of drug at health care facilities is the number of antibiotic use.  The rational use of antibiotics mast meet  several criteria, namely appropriate  patient, appropriate indication, appropriate drug, appropriate dose, and appropriate duration. The study aimed to evaluate the rational use of antibiotics for geriatric with pneumonia in Hospitalized installation at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This research  is a descriptive study with retrospective date aggregation based on medical second that antibiotics are the most used for  geriatric patient with pneumonia is single use of ceftriaxone  were 45.46%. Evalution of rational use of antibiotics to the appropriate  patient  (100%),  appropriate indication (94.11%), appropriate drug (94.11%), appropriate dose  (94.11%), and appropriate duration (92.15%).   Keywords : Rationality, antibiotic, pneumonia, geriatric ABSTRAK Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang dapat disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus dan parasit. Salah satu indikator penggunaan obat yang tidak rasional di suatu sarana pelayanan kesehatan ialah angka penggunaan antibiotika. Penggunaan antibiotik yang rasional harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat lama pemberian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerasionalan penggunaan antibiotik pada pasien lansia dengan Pneumonia  di Intalasi Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penilitian ini berupa penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif yang di dasarkan pada catatan medis, penelitian dilakukan terhadap 33 catatan medis yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukan jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pada pneumonia lansia ialah penggunaan tunggal antibiotik ceftriaxone yakni sebesar 45.46%. Evaluasi kerasionalan penggunaan antibiotik berdasarkan tepat pasien (100%), tepat indikasi (94.11%), tepat obat (94.11%), tepat dosis (94.11%) dan tepat lama pemberian (92.15%). Kata kunci : kerasionalan, antibiotik, pneumonia, lansia  
PENGARUH BERKUMUR AIR KELAPA MUDA TERHADAP pH SALIVA Mokoginta, Zuthra P.
PHARMACON Vol 6, No 1 (2017): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.6.2017.15001

Abstract

PENGARUH BERKUMUR AIR KELAPA MUDA TERHADAP pH SALIVA     Zuthra P. Mokoginta1) , Vonny N.S. Wowor1) , Juliatri1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran UNSRAT Manado, 95115   ABSTRACT Saliva is one factor that contributes to the development of caries, particularly in the process of demineralization. The low pH in the oral cavity will facilitate the growth of acidogenic bacteria such as Streptococcus mutans and Lactobacillus which is the main cause microorganisms in the process of caries formation. Under normal circumstances, the pH of saliva ranges from 6.8 to 7.2. Saliva is strongly influenced by changes both related to the viscosity, acidity, the composition of ions and proteins in saliva. Coconut is one of the plants that can easily founded in Indonesia, including at North Sulawesi because of the tropical climate. The young coconut water, has long been known as a healthy beverage and contains reducing sugar, potassium, sodium, calcium, vitamin C with a pH of 5.5. This study aims to find out the effect gargling with coconut water of salivary pH. This research is quasy experimental with research design of one group pre and post test using 30 samples of the 89 students population at SMP Negeri 1 Talawaan. Saliva collecting method is by spitting and the measurement of pH is using a digital pH meter. Results showed an average saliva pH before gargling is 7.33 and after gargling is 7.08. results of statistical test of paired t-test  shows that coconut water can significantly reduce the pH of saliva was (p=<0.05). Conclusion Gargling with coconut water proven could decrease the pH saliva Keywords: pH saliva, coconut water   ABSTRAK Saliva merupakan salah satu faktor yang berperan terhadap proses karies khususnya dalam proses demineralisasi. Rendahnya pH saliva dalam rongga mulut akan memudahkan pertumbuhan bakteri asidogenik seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus yang merupakan mikroorganisme penyebab utama dalam proses terjadinya karies. Dalam keadaan normal, pH saliva berkisar antara 6,8-7,2. Saliva sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan baik yang berhubungan dengan viskositas, derajat keasaman, susunan ion dan protein dalam saliva. Kelapa merupakan salah satu tanaman yang mudah ditemui di Indonesia termasuk Sulawesi Utara karena memiliki iklim tropis. Air kelapa muda, sudah sejak lama dikenal sebagai minuman yang menyehatkan, serta mengandung gula reduksi, kalium, natrium, kalsium, vitamin C dengan pH 5,5. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh berkumur air kelapa muda terhadap perubahan pH saliva. Jenis penelitian ini yakni quasy experimental dengan rancangan penelitian one group pre and post test menggunakan 30 sampel dari populasi 89 siswa SMP Negeri 1 Talawaan. Pengumpulan saliva dengan metode spitting dan pengukuran pH saliva menggunakan pH meter digital. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pH saliva sebelum berkumur 7,33 dan setelah berkumur 7,08. Hasil uji paired t-test menunjukkan bahwa air kelapa muda dapat menurunkan pH saliva secara signifikan (p=<0,05). Simpulan: Air kelapa muda berpengaruh menurunkan pH saliva. Kata kunci: pH saliva, air kelapa muda  
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN MAYANA (Coleus atropurpureus [L] Benth) TERHADAP Staphylococcus aureus, Escherichia coli DAN Pseudomonas aeruginosa SECARA IN-VITRO Mpila, Deby; Fatimawali, Fatimawali; Wiyono, Weny
PHARMACON Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.1.2012.440

Abstract

The aims of this research were to study antibacterial activity, effective concentration and effect ofincreasing concentrations of ethanolic extract from mayana leaf (Coleus atropurpureus [L] Benth) onbacteria growth inhibition of Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa.Extraction was done by maceration using ethanol 96%. Antibacterial activity test was done by usingpitting method, Kirby and Bauer agar difussion with modification. The result was analyzed by Oneway anova, followed by Duncan test. The result showed that extract concentrations (5, 10, 20, 40 and80%) possess bacterial inhibition activity. Extract concentrations (20, 40 and 80%) were effectivelyinhibit S. aureus growth and on effective concentration to inhibit E. coli were at 10, 20, 40 and 80%,while for P. aeruginosa were at 5, 10, 20, 40 and 80% extracts. The increase concentrations ofmayana extract shows high inhibition diameter of bacterial growth.Keywords : Antibacterial activity, Coleus atropurpureus [L] Benth, pathogen bacterial, agar difussionmethod
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA SISWA DI SMP KRISTEN EBEN HAEZAR 1 MANADO Musralianti, Feby
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12173

Abstract

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA SISWA DI SMP KRISTEN EBEN HAEZAR 1 MANADO Feby Musralianti1), A. J. M Rattu1), Wulan P. J Kaunang1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi, Manado   ABSTRACT Indonesia is currently experiencing multiple nutritional problems, where the problem of infectious diseases and malnutrition can’t be addressed as a whole, an increase in non-communicable diseases such as obesity and weight gain, especially in urban areasinfectious diseases will continue to dominate the developing countries, but when there is economic growth occurs, non-communicable diseases are increasingly common in the community. The purposes are (1) To analyzed the relationship between the physical activity with the obesity incidence with student in Christian Junior High School of 1 EbenHaezar Manado. (2) To analyzed the relationship between dietary habits with student in Christian Junior High School of  EbenHaezar Manado. Methods. This study was an observational study with case control approach. The number population in this study is all of  students who have excess weight in Junior High School of 1 EbenHaezar  Manado. The number of the samples same with the number of population is 82, consisting of 41 respondents were included in the case group and 41 respondents were included in the control group. The Results. There was a significant relation between physical activity with obesity incidence with students in Junior High School of 1 EbenHaezar Manado, with the value of physical activity (p <0.05; OR = 0.016), OR<1 independent variables as a protective factor in the incidents of obesity and statistically there is no relation between the dietary habits and the incidence of obesity. Conclusion: There is a significant relation between physical activity with obesity incidence and statistically there is no relation between the diet and the incidence of obesity. Keywords : Physical Activity, Dietary Habit, Obesity ABSTRAK Saat ini Indonesia mengalami masalah gizi ganda, dimana masalah penyakit menular dan gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh, terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti obesitas dan kenaikan berat badan terutama di daerah perkotaan. Penyakit infeksi akan terus mendominasi Negara berkembang, namun di saat terjadi pertumbuhan ekonomi, penyakit tidak menular pun semakin umum di masyarakat. Tujuan penelitian antaranya (1) Untuk menganalisis kebiasaan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas Pelajar di SMP 1 Eben Haezar  Manado. (2) Untuk menganalisis hubungan pola makan dengan kejadian obesitas Pelajar di SMP 1 Eben Haezar  Manado. Metode. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang mempunyai berat badan lebih di SMP Eben Haezar 1 Manado. Jumlah sampel sama dengan jumlah populasi yaitu 82 yang terdiri dari 41 responden yang termasuk dalam kelompok kasus dan 41 responden yang termasuk dalam kelompok kontrol. Hasil. Terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada pelajar SMP Kristen Eben Haezar 1 Manado dengan nilai aktivitas fisik (p<0,05;OR=0,016), OR<1, variabel independent sebagai faktor protektif pada kejadian obesitas dan secara statistik tidak ada hubungan antara pola makan dengan kejadian obesitas. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas dan secara statistik tidak ada hubungan antara pola makan dengan kejadian obesitas Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Pola Makan dan Obesitas  
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER MENGGUNAKAN GEN 16S RRNA BAKTERI SIMBION ENDOFIT YANG DIISOLASI DARI ALGA MERAH (Galaxaura rugosa) Hamzah, Muhammad Z.
PHARMACON Vol 7, No 3 (2018): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.7.2018.20570

Abstract

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER MENGGUNAKAN GEN 16S RRNA BAKTERI SIMBION ENDOFIT YANG DIISOLASI DARI ALGA MERAH (Galaxaura rugosa)Muhammad Zulkifli Hamzah 1), Herny E. I. Simbala1), Adithya Yudistira1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115ABSTRACT Endophytic bacteria are defined as bacteria that colonize healthy plant tissue without causing significant damage to the host. Several studies have shown that certain endophytic bacteria can produce chemical compounds that have health effects, especially antibacterial-producing compounds. The aim of this study was to obtain endophytic bacteria from red algae Galaxaura rugosa, to test the antibacterial activity of isolated endophytic bacterial against pathogenic bacteria Escherichia coli and Staphylococcus aureus, and to identify the species of endophytic bacteria that have the highest antibacterial activity based on molecular analysis using encoding gene of 16S rRNA. Bacterial isolation was performed by dilution method. Three isolates were inoculated based on morphological differences. Testing of antibacterial activity was tested by agar diffusion method. Endophytic bacterial isolate that have the highest antibacterial activity is K2 isolate which categorized as intermediate against Staphylococcus aureus and categorized as strong against Escherichia coli. The result of molecular idenfitication shows that K2 isolate has 99% similarity with Bacillus thuringiensis, Bacillus anthracis, Bacillus cereus, and Bacillus mycoides. After multiple sequence alignment and phylogenetic analysis, K2 isolate can be identified as Bacillus mycoides.Keywords: Endophytic Bacteria, Galaxaura rugosa, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, 16S rRNA Gene.ABSTRAK Bakteri endofit didefinisikan sebagai bakteri yang menjajah jaringan tanaman yang sehat tanpa menimbulkan luka yang nyata pada inang. Beberapa studi menunjukkan bahwa bakteri endofit tertentu dapat memproduksi senyawa kimia yang memiliki efek bagi kesehatan, terutama senyawa penghasil antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri endofit dari alga merah Galaxaura rugosa, menguji aktivitas antibakteri dari isolat bakteri endofit tersebut terhadap bakteri patogen Escherichia coli dan Staphylococcus aureus serta mengetahui spesies bakteri endofit yang memiliki aktivitas antibakteri terbesar berdasarkan analisis secara molekuler dengan menggunakan gen penyandi 16S rRNA. Isolasi bakteri dilakukan dengan metode pengenceran. Tiga (3) isolat diinokulasi berdasarkan perbedaan morfologi. Pengujian aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi agar. Isolat bakteri endofit yang memiliki daya antibakteri terbesar yaitu isolat K2 yang dikategorikan sedang terhadap Staphylococcus aureus dan kuat terhadap Escherichia coli. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa isolat K2 memiliki kesamaan 99% dengan Bacillus thuringiensis, Bacillus anthracis, Bacillus cereus, dan Bacillus mycoides. Setelah dilakukan multiple sequence alignment dan phylogenetic analysis, isolat K2 dapat diidentifikasi sebagai Bacillus mycoides.Kata kunci: Bakteri endofit, Galaxaura rugosa, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Aktivitas antibakteri, Gen 16S rRNA
HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR. R. D. KANDOU MANADO Sarampang, Yosprinto T.
PHARMACON Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.3.2014.5386

Abstract

ABSTRACT The success of treatment of hypertension requires adherence to dietary instructions and use the recommended drugs. Education about hypertension and the importance of adherence and side effects of drugs need administered to the patient. The purpose of this study is to determine whether any correlation between knowledge of drugs hypertensive class ACE inhibitor with patient compliance in therapy hypertension implementation. Sampling site is at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Samples taken were patients  to treatment in the polyclinic internal and patients using drug class ACE inhibitors. Samples are identified using a chi-square (p<0,05). The results showed that there is a significant correlation between patients knowledge about classes of antihypertensive drugs ACE inhibitors with patient compliance in the implementation of the treatment of hypertension, obtained from the Pearson Chi Square test with p = 0,0001 (p <0,05) that stated that the presence of the relationship between patients knowledge about classes of antihypertensive drugs ACE inhibitors with patient compliance in the implementation of the treatment of hypertension.   Key words : Knowledge, Adherence, Hypertension, ACE Inhibitor       ABSTRAK Kesuksesan pengobatan hipertensi menuntut kepatuhan terhadap instruksi diet dan penggunaan obat yang dianjurkan. Pendidikan mengenai penyakit hipertensi dan pentingnya kepatuhan serta efek samping obat sangat perlu diberikan kepada pasien. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien hipertensi tentang obat golongan ACE Inhibitor dengan kepatuhan pasien dalam pelaksanaan terapi hipertensi. Lokasi pengambilan sampel adalah di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel yang diambil adalah pasien yang melakukan pengobatan di poliklinik interna dan menggunakan obat antihipertensi golongan ACE Inhibitor. Sampel diidentifikasi menggunakan chi square (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan pasien tentang obat antihipertensi golongan ACE Inhibitor dengan kepatuhan pasien dalam pelaksanaan terapi hipertensi, dengan hasil uji Pearson Chi Square didapat nilai p = 0,0001 (p<0,05) sehingga dinyatakan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan pasien tentang obat antihipertensi golongan ACE Inhibitor dengan kepatuhan pasien dalam pelaksanaan terapi hipertensi.   Kata kunci : Pengetahuan, Kepatuhan, Hipertensi, ACE Inhibitor
PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN LABU SIAM (Sechium edule) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLETEROL DARAH TOTAL TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) Singal, Ausich; Queljoe, Edwin de; Yamlean, Paulina
PHARMACON Vol 9, No 1 (2020): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.27422

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the effect of infusion of conjoined pumpkin leaves (Sechium edule) on reducing total blood cholesterol of male white rats (Rattus norvegicus). The subjects of this study were 15 male white rats with an average body weight of 200 grams which were divided into 5 groups, each group consisted of 3 mice. The method used is a laboratory experiment with a completely randomized design. The results were obtained from 2 measurements of blood cholesterol levels, namely measurements before and after treatment. The treatment begins with the provision of high-fat foods for 48 days. On the 49th day a blood cholesterol level was measured before treatment. Furthermore, treatment was given to each group, namely aquades in the negative control group, simvastatin in the positive control group, and squash leaves infusion with their respective doses in the dose group I (40%), the dose group II (20%), and the dose group III (10%). Measurement of cholesterol levels after treatment was carried out on day 54. Data were analyzed by Paired t-test and One Way ANOVA. The analysis showed that there were no significant differences between treatment groups. Judging from the change in average and percentage, 40% infusion dose of siamese pumpkin leaves gives the best reduction in cholesterol levels. Keywords: Cholesterol, pumpkin leaves, male white mouse infusion. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa daun labu siam (Sechium edule ) terhadap penuruan kolesterol darah total tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Subjek penelitian ini berupa tikus putih jantan berjumlah 15 ekor dengan berat badan rata-rata 200 gram yang dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing kelompok sebanyak 3 ekor. Metode yang digunakan yaitu eksperimen laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian diperoleh dari 2 kali pengukuran kadar koleterol darah yaitu pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan. Perlakuan dimulai dengan pemberian makanan tinggi lemak selama 48 hari. Pada hari ke49 dilakukan pengukuran kadar kolesterol darah sebelum perlakuan. Selanjutnya diberikan perlakuan pada tiap kelompok yaitu aquades pada kelompok kontrol negatif, simvastatin pada kelompok kontrol positif, dan infusa daun labu siam dengan dosis masing-masing pada kelompok dosis I (40 %), kelompok dosis II (20 %), dan kelompok dosis III (10%). Pengukuran kadar kolesterol sesudah perlakuan dilakukan pada hari 54. Data diananlisis dengan Paired t-test dan One Way ANOVA. Hasil analisa menunjukan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan. Dilihat dari perubahan rerataan dan presentase, dosis infusa  40% daun labu siam memberikan penurunan kadar koleterol terbaik. Kata kunci : Infusa daun Labu siam, kolesterol, tikus putih jantan.
HUBUNGAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA Gosal, Angelica A.
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10196

Abstract

HUBUNGAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA Angelica A. Gosal1), Krista V. Siagian1), Vonny N.S. Wowor1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT   ABSTRACT Removable partial dentures (RPDs) are generally chosen as an alternative in replacing the missing teeth in partially edentulous situation, however the usage of removable partial dentures has a disadvantage in increasing the food debris accumulation that caused dental plaque formation. Plaque is an essential factor in the ethiology of gingivitis, as such plaque can only be mechanically removed by tooth brushing. The act of tooth brushing is the only effective way for plaque control, however the majorities yet to perform the act of tooth brushing correctly. The aim of this study was to explore the relation between the habit of tooth brushing and the status of gingival health on removable partial denture wearers in Batu Kota Manado. This study is an analytical descriptive with cross sectional approach that had done to 81 RPD wearers in Batu Kota Manado recruited by purposive sampling technique. The data were collected by questionnaire for surveying the habit of tooth brushing and gingival index observation towards the respondents. The result of this study shows respondents with a good habit of tooth brushing suffered only from minor gingival inflammation (75.9%), on the other hand respondents that performed a bad habit of tooth brushing appeared to have moderate (82.6%) to advanced (4.4%) gingival inflammation. The statistic evaluation used Chi-Square test resulted in p value = 0.000 < a (0.05), therefore H0 were rejected, wherease this concluded that there is relation between habit of tooth brushing and status of gingival health on removable partial denture wearers in Batu Kota Manado.   Key words: Habit of tooth brushing, gingival index, removable partial denture ABSTRAK Gigi tiruan sebagian lepasan umumnya dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi, namun pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dapat meningkatkan penumpukan sisa makanan yang mengakibatkan pembentukan plak. Plak merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gangguan pada kesehatan gingiva atau gingivitis, dan tidak dapat dibersihkan hanya dengan berkumur-kumur, semprotan air atau udara tetapi plak dapat dibersihkan secara mekanis yaitu dengan menyikat gigi. Menyikat gigi merupakan tindakan kontrol plak yang paling efektif, namun masih banyak masyarakat yang belum melakukan tindakan menyikat gigi dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 81 responden pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner penilaian kebiasaan menyikat gigi dan pemeriksaan indeks gingiva responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi hanya mengalami keradangan ringan pada gingiva (75,9%), sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi umumnya mengalami keradangan bersifat sedang (82,6%) hingga berat (4,4%) pada gingiva. Hasil perhitungan statistik dengan menggunakan uji Chi Square diketahui p value = 0,000 < a (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota.   Kata kunci: Kebiasaan menyikat gigi, indeks gingiva, gigi tiruan sebagian lepasan   Gigi tiruan merupakan perangkat tiruan yang digunakan untuk menggantikan fungsi gigi yang hilang pada seseorang yang mengalami  kehilangan gigi serta digunakan untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013, sebanyak 1,5% masyarakat Indonesia yang berusia ³12 tahun menggunakan gigi tiruan, baik gigi tiruan cekat maupun lepasan.1 Gigi tiruan lepasan yang dibuat untuk menanggulangi kehilangan satu atau beberapa gigi pada seseorang disebut sebagai gigi tiruan sebagian lepasan. Gigi tiruan sebagian lepasan umumnya dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi, antara lain karena biaya pembuatannya relatif lebih terjangkau dibandingkan gigi tiruan cekat. Di sisi lainnya gigi tiruan sebagian lepasan memiliki kelemahan, terutama pada pengguna yang kurang memerhatikan kebersihan gigi tiruan yang digunakannya. Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak diperhatikan pemeliharaan kebersihannya dapat menimbulkan permasalahan baru pada gigi geligi asli yang masih ada serta jaringan pendukungnya. Salah satu permasalahan yang dapat timbul sebagai dampak pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan, yaitu meningkatnya penumpukan sisa makanan pada bagian yang berkontak langsung dengan permukaan gigi asli maupun mukosa rongga mulut.2 Penumpukan sisa makanan yang terjadi bila tidak dibersihkan berperan dalam peningkatan perkembangan bakteri dan pembentukan plak yang merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gangguan pada gingiva berupa gingivitis.3,4 Plak bersifat sangat tipis, baru terlihat setelah dilakukan pewarnaan, dan tidak dapat dibersihkan hanya dengan berkumur-kumur, semprotan air atau udara tetapi plak dapat dibersihkan secara mekanis yaitu dengan menyikat gigi.5 Menyikat gigi merupakan tindakan kontrol plak yang paling efektif, efisien dan ekonomis karena mudah dilakukan sendiri di rumah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, prevalensi menyikat gigi setiap hari di Indonesia telah mencapai 94,2%, namun hanya 2,3% yang menyikat gigi dengan benar.1 Menurut penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Fernatubun di Kelurahan Batu Kota pada tahun 2014, ditemukan kerusakan pada jaringan pendukung gigi penyangga sebanyak 72 kasus dari 81 responden pengguna gigi tiruan sebagian lepasan. Kerusakan jaringan pendukung yang paling banyak ditemukan yaitu gingivitis dengan persentase sebesar 48,6%.6   METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Setiap responden hanya diobservasi satu kali tanpa intervensi dan diukur menurut keadaan atau status waktu diobservasi. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Batu Kota Kecamatan Malalayang Manado pada bulan Maret-September 2015. Populasi penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Batu Kota yang menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan yaitu sebanyak 355 orang. Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 81 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu menentukan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sehingga didapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan sesuai besaran sampel. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu laki-laki dan perempuan berusia 18-60 tahun yang sehat dan tidak memiliki keterbatasan motorik ataupun keterbelakangan mental yang dapat menghambat kebiasaan menyikat gigi responden, bersedia berpartisipasi dengan sukarela untuk menjadi responden penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian, serta bersikap kooperatif selama pengambilan data. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu responden yang sudah kehilangan gigi-gigi indeks yang akan diperiksa, responden yang memiliki kebiasaan merokok, responden yang sedang hamil atau dalam masa menopause atau gangguan hormonal lainnya yang ikut memengaruhi kondisi kesehatan gingiva, serta responden yang memiliki faktor sistemik yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan gingiva, seperti penyakit DM, nutrisional dan hematologi (penyakit darah). Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu kebiasaan menyikat gigi dan variabel terikat yaitu status kesehatan gingiva. Kebiasaan menyikat gigi, yaitu tindakan menyikat gigi yang sudah menjadi perilaku responden, meliputi cara menyikat, frekuensi, waktu, serta durasi menyikat gigi setiap kali tindakan ini dilakukan. Penilaian kebiasaan menyikat gigi responden yaitu melalui pengisian lembar kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang disusun berdasarkan teori dan pilihan jawaban yang menggunakan skala Likert. Status kesehatan gingiva,  adalah keadaan yang menggambarkan kondisi klinis gingiva saat diperiksa. Penilaian status kesehatan gingiva ditentukan berdasarkan Indeks Gingiva menurut Loe and Sillness. Instrumen penelitian terdiri atas lembar pemeriksaan status gingiva dan kuesioner untuk penilaian kebiasaan menyikat gigi. Penelitian dilakukan setelah mendapat izin penelitian dari Lurah Batu Kota berdasarkan surat permohonan izin dari PSPDG UNSRAT dan adanya lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian yang telah ditandatangani oleh responden. Pendataan dilakukan untuk mendapatkan responden penelitian yang memenuhi syarat sesuai kriteria inklusi. Responden menyatakan kesediaannya dengan menandatangani lembar persetujuan kesediaan menjadi responden dalam penelitian. Responden yang telah memenuhi syarat kriteria inklusi dan menandatangani lembar persetujuan, akan diperiksa status kesehatan gingivanya berdasarkan Indeks Gingiva menurut Loe and Sillness, kemudian data hasil pemeriksaan dicatat di lembar pemeriksaan yang telah disediakan. Responden yang telah diperiksa kemudian mengisi lembar kuesioner untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penilaian kebiasaan menyikat gigi. Setelah pemeriksaan dan pengisian kuesioner selesai pada satu responden, dilanjutkan pemeriksaan pada responden lainnya dengan menggunakan alat yang telah disterilisasi dan pengisian lembar kuesioner seperti pada responden sebelumnya. Semua data hasil penelitian yang diperoleh akan diproses dan diolah dengan komputer menggunakan program SPSS versi 16 dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang diperoleh dari penelitian kemudian dianalisis secara univariate untuk memperoleh gambaran dan distribusi setiap variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun terikat. Data juga dianalisis secara bivariate untuk mengetahui interaksi dari dua variabel tersebut, kemudian diuji menggunakan uji Chi - square. HASIL PENELITIAN Karakteristik responden pada penelitian ini dilihat berdasarkan jenis kelamin dan usia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagaimana diperlihatkan dalam Tabel 1.     Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin n % Perempuan Laki-laki 65 16 80,2 19,8 Total 81 100,0 Tabel 1 menunjukkan bahwa responden terbanyak menurut jenis kelamin yaitu responden berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 65 orang atau sebesar 80,2%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 16 orang atau sebesar 19,8%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik responden berdasarkan usia sebagaimana diperlihatkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia   Usia (tahun) n % 20-30 31-40 41-50 51-60 4 17 31 29 4,9 21,0 38,3 35,8 Total 81 100,0 Tabel 2 menunjukkan bahwa responden terbanyak yaitu responden yang berusia 41-50 tahun yang berjumlah 31 orang atau sebesar 38,3%, sedangkan responden paling sedikit yaitu responden yang berusia 20-30 tahun yang berjumlah 4 orang atau sebesar 4,9%. Gambaran kebiasaan menyikat gigi responden dapat dilihat pada hasil data distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat gigi yang disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat gigi Kebiasaan Menyikat Gigi n % Baik Kurang baik 58 23 71,6 28,4 Total 81 100,0   Tabel 3 memperlihatkan gambaran kebiasaan menyikat gigi pada  responden, dengan responden paling banyak memiliki kebiasaan baik yaitu berjumlah 58 orang atau sebesar 71,6%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik yaitu berjumlah 23 orang atau sebesar 28,4%. Gambaran status kesehatan gingiva responden dapat dilihat pada hasil data distribusi frekuensi responden berdasarkan indeks gingiva yang disajikan dalam Tabel 4.   Tabel 4. Distribusi frekuensi responden berdasarkan indeks gingiva   Indeks Gingiva n % Ringan Sedang Berat 47 33 1 58,0 40,8 1,2 Total 81 100,0   Tabel 4 memperlihatkan gambaran status kesehatan gingiva pada responden, dengan responden paling banyak memiliki indeks gingiva ringan yaitu berjumlah 47 orang atau sebesar 58,0%, sedangkan yang memiliki indeks gingiva sedang yaitu berjumlah 33 orang atau sebesar 40,8% dan yang memiliki indeks gingiva berat yaitu berjumlah 1 orang atau sebesar 1,2%. Hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dapat dilihat dari data hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden yang disajikan dalam bentuk tabulasi silang pada Tabel 5.   Tabel 5. Tabulasi silang hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden   Kebiasaan menyikat gigi Indeks gingiva Total p value Ringan Sedang Berat n % n % n % n %       0,000 Baik Kurang baik 44 3 75,9 13,0 14 19 24,1 82,6 0 1 0,0 4,4 58 23 71,6 28,4 Total 81 100,0 Tabel 5 memperlihatkan hasil data hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dalam bentuk tabulasi silang. Responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi dan memiliki indeks gingiva ringan berjumlah 44 orang atau sebesar 75,9%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi dan memiliki indeks gingiva ringan berjumlah 3 orang atau sebesar 13,0%. Responden yang memiliki kebiasaan baik dan indeks gingiva sedang berjumlah 14 orang atau sebesar 24,1%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dan indeks gingiva sedang berjumlah 19 orang atau sebesar 82,6%. Responden dengan kebiasaan baik tidak ada yang memiliki indeks gingiva berat, sedangkan responden dengan kebiasaan kurang baik dan memiliki indeks gingiva berat berjumlah 1 orang atau sebesar 4,4%. Hasil uji statistik hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dengan menggunakan uji Chi – Square diperoleh bahwa p value = 0,000. PEMBAHASAN Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden terbanyak berjenis kelamin perempuan, yakni sebesar 80,2%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki hanya sebesar 19,8% (Tabel 1). Responden terbanyak menurut usia yaitu responden yang berusia 41-50 tahun yakni sebesar 38,3% (Tabel 2). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pimtip dan juga hasil penelitian Fernatubun, yang menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memakai GTSL dibandingkan responden yang berjenis kelamin laki-laki.6,7 Hasil penelitian Fernatubun juga menunjukkan bahwa responden dengan kelompok usia serupa merupakan responden terbanyak yang menggunakan GTSL di Kelurahan Batu Kota.6 Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar responden sudah memiliki kebiasaan menyikat gigi yang baik yaitu sebesar 71,6% (Tabel 3). Hal ini dibuktikan dengan responden yang sebagian besar sudah menyikat gigi 2 kali atau lebih setiap hari dan sebagian besar responden juga sudah menyikat gigi dengan durasi lebih dari 2 menit. Hal ini sesuai dengan rekomendasi American Dental Association (ADA) yang menyatakan bahwa menyikat gigi dua kali sehari adalah rekomendasi untuk kontrol plak serta oral malodor, dan menyikat gigi dengan durasi 2-4 menit terbukti efektif dalam menghilangkan lebih banyak plak pada gigi .8,9 Sebagian responden dalam penelitian juga masih ada yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi yaitu sebesar 28,4% (Tabel 3). Hal ini disebabkan oleh sebagian responden yang menyikat gigi pada waktu dan dengan cara yang kurang tepat. Menyikat gigi sangat dianjurkan dilakukan sesudah makan pada pagi hari dan sebelum tidur pada malam hari, sedangkan cara atau teknik menyikat gigi yang paling baik adalah teknik kombinasi.10,11 Sebagian responden dalam penelitian menyatakan sudah menyikat gigi 2 kali setiap hari, tetapi dilakukan pada saat mandi pagi atau sore dan teknik menyikat gigi yang paling sering dilakukan adalah teknik horizontal. Hal ini sesuai dengan data RISKESDAS tahun 2013 yang menyatakan bahwa prevalensi menyikat gigi setiap hari di Indonesia telah mencapai 94,2%, namun masih banyak masyarakat yang menyikat gigi pada waktu dan dengan cara yang kurang tepat.1 Salah satu dampak pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yaitu meningkatnya penumpukan plak yang dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan gingiva.2 Hasil penelitian membuktikan bahwa pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota yang diperiksa sebagai responden umumnya mengalami gangguan pada kesehatan gingiva. Gangguan yang terjadi berupa keradangan bersifat ringan dengan persentase sebesar 58,0%, keradangan bersifat sedang dengan persentase sebesar 40,8% dan hanya 1,2% responden yang ditemukan mengalami keradangan berat pada gingiva (Tabel 4). Penelitian sebelumnya yang dilakukan Fernatubun di Kelurahan Batu Kota menunjukkan hasil yang serupa, dimana ditemukan kerusakan pada jaringan pendukung gigi penyangga sebanyak 72 kasus dari 81 responden pengguna GTSL, dan kasus yang paling banyak ditemukan yaitu gingivitis dengan persentase sebesar 48,6%.6 Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi hanya mengalami keradangan ringan pada gingiva (75,9%), sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi umumnya mengalami keradangan bersifat sedang (82,6%) hingga berat (4,4%) pada gingiva (Tabel 5). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Stanmeyer yang melaporkan bahwa terdapat penurunan keradangan gingiva dengan meningkatnya frekuensi menyikat gigi, serta hasil penelitian Prijantojo yang mengungkapkan bahwa peningkatan kesehatan gingiva bergantung pada teknik menyikat gigi yang benar.12,13 Hasil uji statistik menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Chi – Square dimana diperoleh p value = 0,000 < a (0,05), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima (Tabel 5). Hal ini juga sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa menyikat gigi adalah cara yang paling efektif dalam menghilangkan plak pada gigi, dimana plak adalah salah satu faktor utama penyebab gangguan kesehatan pada gingiva.8,9 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado. SARAN Masyarakat khususnya yang menggunakan GTSL diharapkan lebih memerhatikan penyikatan gigi secara teratur dengan cara yang benar dan pada waktu yang tepat, sehingga dapat meningkatkan dan mempertahankan kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut.Dokter gigi dan institusi pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan dan puskesmas setempat perlu lebih aktif dalam mengadakan promosi kesehatan tentang pentingnya menerapkan kebiasaan menyikat gigi yang baik dan benar. Dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah dan kondisi responden yang lebih variatif untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan gangguan kesehatan gingiva pada pengguna GTSL. DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013. Jakarta, 2013. h. 176-93. (cited 23 April 2015) Tersedia di URL: http://labmandat.litbang.depkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2013/RKD_dalam_angka_final.pdf Rodan R, Al-Jabrah O, Ajarmah M. Adverse effects of removable partial dentures on periodontal status and oral health of partially edentulous patients. Journal of The Royal Medicine Services, Vol. 19 No. 3: Sep 2012, p. 53-9.Dula LJ, Ahmedi EF, Shala KS. Clinical evaluation of removable partial dentures on the periodontal health of abutment teeth: A Retrospective Study. The Open Dentistry Journal, Vol. 9: 2015, p. 132-9.Suryono. Buku ajar kepaniteraan periodonsia. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.Tjahja NI, Lely MA. Hubungan kebersihan gigi dan mulut dengan pengetahuan dan sikap responden di beberapa puskesmas di Jawa Barat. Media Litbang Kesehatan, Vol. XV No. 4: 2005, h. 1-7.Fernatubun. Gambaran kerusakan gigi penyangga pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di kelurahan Batu Kota. Jurnal e-Gigi, Vol. 3 No. 1: 2015.Pimtip. A clinical survey of removable partial denture after 2 years of usage. [Thesis] University of Sydney. Australia 1979.Attin T, Hornecker E. Tooth brushing and oral health: how frequently and when should tooth brushing be performed? [serial online]. (cited 25 Mei 2015) Available from URL: http://www.quintpub.com/userhome/ohpd/ohpd_2005_03_s135.pdfFelton A, Chapman A, Felton S. Basic guide to oral health education and promotion. United Kingdom: Wiley Blackwell, 2013. p. 178-179.Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 2010. h.121-148.Derby M L, Walsh M M. Dental hygiene theory and practice. Canada: Evolve, 2010. p. 390-400, 280.Stanmeyer, WR. A measure of tissue response to frequency of toothbrushing. [serial online] 2005. (cited 2 September 2015) Available from URL: http://archive.rubicon-foundation.org/8305Prijantojo. Kondisi jaringan periodonsium dari kelompok masyarakat di daerah pedesaan dengan perbedaan teknik menyikat gigi. Majalah kesehatan masyarakat Indonesia 1996; 24(2), h. 23-7    
FORMULASI DAN UJI STABILITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK TERPURIFIKASI DAUN PALIASA (Kleinhovia Hospita L.) YANG BEREFEK ANTIOKSIDAN Suryani, Suryani
PHARMACON Vol 6, No 3 (2017): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.6.2017.16867

Abstract

FORMULASI DAN UJI STABILITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK TERPURIFIKASI DAUN PALIASA (Kleinhovia Hospita L.) YANG BEREFEK ANTIOKSIDANSuryani1), Andi Eka Purnama Putri1), Putri Agustyiani1)1)Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara*Email: soerysuer@yahoo.com ABSTRACT Paliasa (Kleinhovia hospita L.) is kind of plant in Southeast Sulawesi. Paliasa leaves contain flavonoids which has antioxidant activity. The aims of this study was to determine the formulation of gel containing extracts of Paliasa leaves (Kleinhovia hospita L.) purified extract with variation of concentration (1.IC50, 3.IC50 and 6.IC50) which have antioxidant activity and good stability. Purification Extract was conducted using n-hexane to increase the activity of antioxidant in extract of paliasa leaves (Kleinhovia hospita L.). Antioxidant activity of paliasa leaves purified extract was tested by DPPH method (1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl) to determine inhibition concentration 50 (IC50). Stability parameters tested in this research were organoleptic, homogeneity, pH and viscosity. Cycling test method was conducted on gel for 6 cycles. Results of the determination of activity antioxidant of ethanol extracts and purified extracts of leaves paliasa is 123,70 ppm and 93,52 ppm, while the activity antioxidant of the extract gel purified paliasa leaves among others 1.IC50 (333,12 ppm), 3.IC50 (242,13 ppm) and 6.IC50 (147,31 ppm). Results of stability test showed that all gel were stable in homogeneity, pH and viscosity but gel with 3.IC50 and 6.IC50 of paliasa leaves purified extract were organolaptic unstable because of color changing after cycling test. Keywords: antioxidant activity, paliasa leaves (Kleinhovia hospita L.), purified extracts, gel formulation, gel stability                                                                                   ABSTRAK Paliasa (Kleinhovia hospita L.) adalah salah satu tumbuhan di Sulawesi Tenggara yang berkhasiat sebagai antiosidan. Kandungan senyawa daun Paliasa yang diduga berperan sebagai antioksidan adalah flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah formulasi gel yang mengandung ekstrak terpurfikasi daun Paliasa konsentrasi 1.IC50, 3.IC50 dan 6.IC50 memiliki aktivitas antioksidan dan stabilitas yang baik. Purifikasi ekstrak dilakukan dengan menggunakan pelarut n-heksan untuk meningkatkan aktivitas antioksidan ekstrak daun Paliasa. Penentuan aktivitas antioksidan ekstrak dan sediaan gel dilakukan  dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl) yang dinyatakan dengan inhibition concentration 50 (IC50). Pengujian stabilitas gel meliputi uji organoleptik, viskositas, pH, homogenitas. Uji dengan metode Cycling test dilakukan sebanyak 6 siklus. Hasil penentuan aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan ekstrak terpurifikasi daun paliasa yaitu 123,70 ppm dan 93,52 ppm, sedangkan aktivitas antioksidan gel ekstrak terpurifikasi dau paliasa antara lain  1.IC50 (333,12 ppm), 3.IC50 (242,13 ppm) dan 6.IC50 (147,31 ppm). Hasil uji stabilitas menunjukkan sediaan gel stabil dari parameter viskositas, pH dan homogenitas tetapi tidak stabil dari parameter organoleptik karena terjadi perubahan warna sediaan gel yang mengandung ekstrak terpurifikasi 3.IC50 dan 6.IC50 setelah proses cycling test. Kata kunci: antioksidan, ekstrak terpurifikasi, Paliasa (Kleinhovia hospita L.), sediaan gel, stabilitas gel 
Uji Ekstrak Daun Binahong ( Anredera cordifolia Steen.) Terhadap kadar Gula Darah Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar ( Rattus norvegicus) yang Diinduksi Sukrosa Makalalag, Indri Wirasuasty; Wullur, Adeanne; wiyono, Weny
PHARMACON Vol 2, No 1 (2013): pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.2.2013.883

Abstract

ABSTRACT The objective of this research were tostudy the effect of Binahong leaf extract (Anredera cordifolia Steen.) on blood glucose content of white male Wistar rats (Rattus norvegicus) induced with sucrose.  This research using Randomized Controlled Group Design (RAL).The subjects in these research were 15 mices which divided into 3 groups, namely a negative control group (aquadest), a positive control group (Glucobay4,5 mg/KgBB) and treatments groupusing crude extract of Binahong leaf 1,8 g/KgBB.  Data were obtained after blood glucose examination at 15, 30, 60, and 120 minutes treatment. Data were analyzed using ANOVA and LSD to compare the effect of treatment. Statistical analysis shows that there are significant effect between a negative control group and treatment group, a negative control group and a positive control group, but did not show differences between treatment group and a positive control group.  The conclusion is Binahong leaf extract possess activity to decrease blood glucose content of white male wistar induced with sucrose.   Keywords: Anredera cordifolia Steen.,Extract, blood glucose content

Page 2 of 114 | Total Record : 1131


Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): PHARMACON Vol. 13 No. 3 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 2 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 1 (2024): PHARMACON Vol. 12 No. 3 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 2 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 1 (2023): PHARMACON Vol. 11 No. 4 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 3 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 2 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 1 (2022): PHARMACON Vol. 10 No. 4 (2021): PHARMACON Vol 10, No 3 (2021): PHARMACON Vol 10, No 2 (2021): PHARMACON Vol 10, No 1 (2021): PHARMACON Vol 9, No 4 (2020): PHARMACON Vol 9, No 3 (2020): PHARMACON Vol 9, No 2 (2020): PHARMACON Vol 9, No 1 (2020): PHARMACON Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019): PHARMACON Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 3 (2019): PHARMACON Vol 8, No 2 (2019): PHARMACON Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019): Pharmacon Vol 7, No 4 (2018): Pharmacon Vol 7, No 3 (2018): Pharmacon Vol 7, No 2 (2018): Pharmacon Vol 7, No 1 (2018): Pharmacon Vol 6, No 4 (2017): Pharmacon Vol 6, No 3 (2017): Pharmacon Vol 6, No 2 (2017): Pharmacon Vol 6, No 1 (2017): Pharmacon Vol 5, No 4 (2016): Pharmacon Vol 5, No 3 (2016): Pharmacon Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon Vol 5, No 1 (2016): Pharmacon Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon Vol 4, No 3 (2015): Pharmacon Vol 4, No 1 (2015): pharmacon Vol 3, No 4 (2014): pharmacon Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013): pharmacon Vol 2, No 2 (2013): pharmacon Vol 2, No 1 (2013): pharmacon Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue