cover
Contact Name
Yahya Wijaya
Contact Email
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Phone
+62274563929
Journal Mail Official
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin no 5-25 Yogyakarta 55225
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
ISSN : 25027743     EISSN : 25027751     DOI : https://doi.org/10.21460/gema.2020.52.614
GEMA TEOLOGIKA receives articles and book reviews from various sub disciplines Theology, particularly contextual theology Divinity Studies in the context of socio cultural religious life Religious Studies Philosophy of Religion Received articles will be reviewed through the blind review process. The submitted article must be the writers original work and is not published in another journal or publisher in any language. Writers whose articles are accepted and have account in google scholar profile will be requested to participate as peer reviewers.
Articles 175 Documents
Mempertahankan Sorga di Delang: Dilema Sawit dan Hutan John Christianto Simon
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2016.12.229

Abstract

Abstract The ecological issue has become crucial and urgent problem to be responded the logically and practically. This very issue is inseparable from a challenge in the form of catastrophic convergence: poverty, injustice, and violence. Analysis on the ecological problem brought us to trace back the problem of thought contributed by certain philosophical and thelogical thought. It has given birth to an absolute anthropocentrism which has been consolidated by certain theology and in turn gave birth to an expansive notion by way of the mastery over nature, even over other human fellow. The absolutisation of ratio brought about the birth of capitalism (globalized imperialism), which in turn created man as homo oeconomicus in which its keyword is injustice. In the middle of the impoverishing massive ecological damage, there is a different story that showed a local community's ability in defending the environmental conservation. A small village, Kudangan, in Delang Subdistrict are in agreement "Defending Delang's Forest against Palm Oil Plantation Expansion". Theologically, the Delang's local community see nature (forest) not only as something with economical value, but as a "home" for the Divine. The Divine abide in hills with its leafy trees in Delang's area. Here, a contextual theology taking into account the local religiosity instilment to help us rediscovering our contextual mission, that which taking into account the primal worldview (read: cosmic religion), whose principal value is be friendly toward nature. Abstrak Isu ekologis kini menjadi isu krusial yang perlu disikapi secara teologis dan praktis. Isu ini sendiri tidak terpisah dari tantangan berupa "kesatuan bahaya besar" (catastrophic convergence): kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan yang merajalela. Persoalan ekologis tidak terpisah dari paradigma filosofis dan teologis tertentu berupa antroposentrisme absolut dan melahirkan gagasan ekspansif melalui penguasaan atas alam bahkan atas manusia lain. Lahir pula globalisasi imperialisme (globalized imperialism) dan "manusia ekonomi" (homo oeconomicus) yang yang dapat menciptakan ketidakadilan. Di tengah masifnya kerusakan ekologi yang memiskinkan itu terdapat cerita yang berbeda tentang kemampuan masyarakat lokal mempertahankan kelestarian alam. Masyarakat Desa Delang bersehati "Mempertahankan Hutan Delang dari Ekspansi Sawit". Dari kacamata teologis, masyarakat Delang memahami bahwa alam (hutan) bukan sekadar benda yang bernilai ekonomis, melainkan "rumah" bagi Yang Ilahi. Yang Ilahi ber-surga di bukit-bukit yang rimbun dengan pepohonan di wilayah Delang. Di sinilah teologi kontekstual mempertimbangkan penghayatan religiositas lokal untuk membantu kita menemukan kembali misi yang kontekstual, yaitu misi yang mempertimbangkan pandangan dunia primal (baca: agama kosmik), yang nilai utamanya bersahabat dengan alam.
Perpaduan Cakrawalamu dan Cakrawalaku: Hermeneutik Gadamer dan Sumbangsihnya bagi Pendidikan Teologi di Indonesia Simanjuntak, Wilda
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2020.51.413

Abstract

AbstractReading messages from the past to fi nd their implications for the present is a difficult task of interpretation. Certain hermeneutical skills are needed to prevent failure to bridge the gap in perspective between writers andreaders, and to meet the contextual needs. The focus of this article is the framework of Hans-Georg Gadamer’s hermeneutic theory. Studying Gadamer provides important benefits for contextual hermeneutic studies. This article suggests that Gadamer’s hermeneutics is beneficial for theological education struggling to overcome the diversity of horizons in the process of discovering the meaning of scriptures. AbstrakMembaca pesan dari masa lalu, menemukan implikasinya bagi masa sekarang adalah tugas memaknai yang tidak mudah. Dibutuhkan keterampilan hermeneutis tertentu untuk mencegah kegagalan menjembatani kesenjangan cara pandang yang ada di antara penulis dan pembaca, dan memenuhi kebutuhan lingkungan yang kontekstual. Fokus artikel ini adalah kerangka teori hermeneutik Hans-Georg Gadamer. Hasil studi terhadap Gadamer ini memberi manfaat penting bagi studi hermeneutik dalam semangatnya mencarimakna yang kontekstual. Studi ini menyarankan bahwa hermeneutik Gadamer bermanfaat bagi pendidikan teologi yang selalu bergumul mengatasi kepelbagaian horizon dalam proses menemukan makna Kitab Suci.
MEMAHAMI MAH?YÂNA DAN HÎNAYÂNA DALAM FILSAFAT TIMUR Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2018.31.346

Abstract

Abstract Since the death of Buddha, Buddhism has become very popular and growing. This was marked by the presence of two great schools of Buddhism namely Mah?yâna and Hînayâna. These two streams have similarities and differences in rituals and faith proclamation. This article, explains various characteristics of the two streams into their sub-streams. Such characteristics are not meant to divide the concept of seeing and living the Buddha, but to enrich the horizon of thought about it.   AbstrakSejak meninggalnya sang Buddha, Buddhisme menjadi begitu popular dan berkembang. Hal tersebut ditandai hadirnya dua aliran besar Buddhisme yakni Mahâyâna dan Hînayâna. Kedua aliran ini memiliki persamaan dan perbedaan dalam menjalani ritual dan mengikrarkan keyakinannya. Melalui artikel ini, penulis mencoba menjelaskan berbagai karakteristik kedua aliran hingga sub alirannya. Karakteristik ini tidak dimaksudkan memecah pemahaman dalam melihat dan menghayati Buddha, melainkan makin memperkaya cakrawala berpikir.
Keimanan Kristus dalam Peraturan Melkisedek: Sebuah Upaya Rekontruksi Kristologi Keimanan dalam Ibrani 7: 1-10 Rena Sesaria Yudhita
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 1 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2016.11.207

Abstract

Abstrak Hebrews has a distinctive christology denoting Christ’s particular priesthood. The fact that Jesus is not qualified in anyway to be a priest according the Aaronic order is inevitable. Therefore, the author composed an argument that the foundation of Christ’s priesthood isthe order of Melchizedek. This article seeks to examine how the Hebrew’s author recognize, interpret, and utilize the character of Melchizedek to build his unique priesthood christology. The efforts are made by interpreting Hebrews 7:1-10, in which the author shows the significance of the Melchizedek’s figure to the Jesus’ priesthood. First, this article investigate show the author of Hebrews uses Melchizedek mysterious character in Genesis and Psalm are echoed in verses 1-3 and then examine the christology of priesthood developed in verses 4-10. Basically the character of Melchizedek was still shrouded in mystery even to the end of the study. However, precisely in this mystery we can see how ingenious the author is. Abstrak Surat Ibrani memiliki kristologi unik yang menunjukkan peran imamat Sang Kristus. Namun tak bisa disangkal jika Yesus tak memenuhi kualifikasi keimaman menurut peraturan Harun. Karena itu, penulis Ibrani menyusun argumentasi bahwa dasar dari keimaman Yesus adalah peraturan Melkisedek. Artikel ini berupaya untuk meneliti bagaimana penulis Ibrani mengenal, menafsirkan, dan menggunakan karakter Melkisedek untuk membangun kristologi keimamannya. Upaya ini dilakukan dengan cara menafsir Ibrani 7:1-10 di mana penulis Ibrani menunjukkan signifikansi karakter Melkisedek terhadap peran keimaman Yesus. Pertama, artikel ini menyelidiki bagaimana penulis Ibrani menggunakan misteri karakter Melkisedek dalam Kejadian dan Mazmur yang digemakan dalam ayat 1-3 dan kemudian memeriksa konstruksi kristologi keimaman yang dikembangkan dalam ayat 4-10.Pada dasarnya, karakter Melkisedek masih diliputi misteri bahkan hingga akhir penelitian ini. Namun, justru dalam misteri inilah kita dapat melihat bagaimana cerdasnya penulis Ibrani memainkan imajinya dalam figur Melkisedek.
Identitas-Identitas Teologis Kristen Protestan Indonesia Pasca Orde Baru: Sebuah Pemetaan Awal Julianus Mojau
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2017.22.290

Abstract

Abstract Protestant Christianity in Indonesia cannot be inconsistant with the general principle of Protestantism worldwide: sola scriptura. That is why biblical identity is one of the identity markers of Protestant Christians in Indonesia. Also, it is impossible to understand the identity of Protestant Christianity in Indonesia, apart from christology as a marker of the identity in appreciating the second general principle of Protestantism: sola gratia. The unity of God as the trinity has also become another marker of identity. In the past these three identity markers are often seen as distinctive identities to "deny" theological and soteriological truth claims of local religions and Islam. But the findings of this article show that the development of Protestant Christian theology in Indonesia after the New Order is more open to and dialogical with the theological and soteriological beliefs of local and Islamic religions. Although it must be admitted that in terms of trinitarian identity it still takes time to enter the dialogue with those religious traditions. Abstrak Kekristenan Protestan (di) Indonesia tidak mungkin dapat dilepaskan dari prinsip umum Protestantisme sedunia: sola scriptura. Itulah sebabnya identitas alkitabiah merupakan salah satu penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia. Selain itu, kita tidak mungkin memahami identitas Kristen Protestan (di) Indonesia, tanpa memerhatikan secara sungguh-sungguh identitas kristologis sebagai penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia dalam menghayati prinsip umum Protestantisme kedua, yaitu: sola gratia. Di samping itu ajaran tentang keesaan Allah yang bersifat trinitaris telah juga menjadi salah satu penanda identitas Kristen Protestan (di) Indonesia. Di masa lampau ketiga penanda identitas ini sering kali dipandang sebagai identitas pembeda untuk "menyangkal" kebenaran-kebenaran teologis dan soteriologis pada agama-agama lokal dan Islam. Tetapi, hasil penelitian penulis memperlihatkan bahwa perkembangan pemikiran teologis Kristen Protestan (di) Indonesia pasca Orde Baru semakin terbuka terhadap dan dialogis dengan keyakinan-keyakinan teologis dan soteriologis agama-agama lokal dan Islam. Sekalipun harus diakui bahwa dalam hal identitas trinitaris masih membutuhkan waktu untuk memasuki dialog dengan keyakinan teologis agama-agama lokal dan Islam.
Menguak Prasangka Homoseksualitas dalam Kisah Sodom dan Gomora: Kajian Hermenutik Kejadian 19:1-26 Ngahu, Silva S. Thesalonika
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2019.41.406

Abstract

Abstract The issue of homosexuality tends to be avoided in the public discourse in Indonesia. Heteronormative constructions based on religious teachings lead to a negative stigma against homosexuals, producing injustice and discrimination. The story of Sodom and Gomorrah in Genesis 19:1-26 considered as a reference for punishment against homosexuals is used as an excuse to legitimize discrimination and hatred by particular grups of Christians. This study uses historical criticism method in the biblical hermeneutic work and qualitative methods in the field research. The finding show that the story is a criticism of the xenophobic attitude of the inhabitants of Sodom and Gomorrah as well as a way of promoting the importance of the culture of hospitality. Abstrak Isu homoseksualitas di Indonesia cenderung dihindari untuk dibicarakan. Konstruksi heteronormatif yang terbentuk berdasarkan ajaran agama mengakibatkan munculnya stigma negatif terhadap kaum homoseksual dan menyebabkan terjadinya ketidakadilan dan diskriminasi. Kisah Sodom dan Gomora dalam Kejadian 19:1-26 yang dianggap sebagai kisah penghukuman terhadap kaum homoseksual, dijadikan alat untuk melegitimasi tindakan diskriminasi dan kebencian oleh kalangan Kristen tertentu. Penelitian ini menggunakan metode historis kritis dalam kerja hermeneutik dan metode kualitatif untuk mengkaji hasil penelitian lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah ini hendak mengkritisi sikap xenophobia penduduk Sodom dan Gomora serta menegaskan pentingnya budaya keramahan.
Etika Kepemimpinan Kristen dalam Perspektif Poskolonial: Studi Kasus Program Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa di Universitas Kristen Duta Wacana Mintardjo, Jeannette Josephine; Wijaya, Yahya
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2020.51.409

Abstract

AbstractThis article explores leadership paradigms employed in the Management and Leadership Training Program for Students (P2KMM) in Universitas Kristen Duta Wacana. An evaluation of the leadership paradigm is important because it plays a determining role in whether a leader would be successful or failed ethically. Using post-colonial approach, this study focuses on the moral spirit acknowledged as the Duta Wacana Values, particularly the value of ‘Service to the World.’ As a part of the research, a fieldwork was carried out both by observation of 2017 P2KMM writing materials, as well as interviews with representatives of P2KMM committee and the student staff . The finding indicates that the said value tends to be overlooked in the UKDW leadership program for students. AbstrakArtikel ini adalah studi etika kepemimpinan dengan perspektif postkolonial. Yang diteliti adalah paradigma kepemimpinan yang digunakan dalam Program Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa(P2KMM) di Universitas Kristen Duta Wacana. Pentingnya penilaian terhadap paradigma kepemimpinan terletak pada peran menentukan dari paradigm kepemimpinan dalam keberhasilan atau kegagalan etisseorang pemimpin. Menggunakan pendekatan poskolonial, artikel ini menyoroti serangkaian nilai-nilai moral yang diakui sebagai ‘Nilai-nilai Duta Wacana,’ khususnya nilai ‘Melayani Dunia.’ Sebagai bagian dari penelitian, dilakukan observasi terhadap materi P2KMM UKDW tahun 2017 dan wawancara terhadap perwakilan tim penyusun materi dan mahasiswa pendamping P2KMM. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ‘Melayani Sesama,’ cenderung terabaikan dalam program pembentukan kepemimpinan mahasiswa UKDW.
Resensi: Seni Memahami—Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida Haleluya Timbo Hutabarat
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Kuantitatif dalam Teologi Praktis Handi Hadiwitanto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2017.21.291

Abstract

Abstract One of modern practical theology's task is what so-called descriptive-empirical task. In this sense practical theology does require an empirical approach for her reflection. Therefore practical theologians should have sufficient skills in using methods of field research. Traditionally qualitative methods have been known more among theologians. And in the same time some people suspect that quantitative methods are not suitable and cannot explain any theological problems. Some others concern and think that quantitative methods only work deductively and it is against the tradition of theology from below which normally works inductively. This essay would like to show how quantitative methods can work within theological field and give theologians an alternative approach when they want to empirically understand particular religious community. Obviously we realise that social sciences such as sociology and social psychology have developed quantitative methods in their researches for long time. In the spirit of interdisciplinary approach we owe them some explanations in running particular quantitative analyses.   Abstrak Satu tugas dari teologi praktis modern saat ini adalah deskriptif-empiris di mana teologi harus memahami situasi lapangan secara empiris. Terkait dengan hal ini teologi praktis memerlukan pendekatan empiris sebelum melakukan refleksi teologisnya. Dan dengan demikian maka seorang teolog praktis harus memiliki keterampilan yang memadai dalam menggunakan metode-metode penelitian lapangan. Secara tradisional metode kualitatif sudah dikenal dengan lebih baik di antara para teolog. Dan pada saat yang bersamaan beberapa orang curiga bahwa metode kuantitatif tidak cocok dan tidak dapat menjelaskan permasalahan-permasalahan teologis. Beberapa orang lain berpikir bahwa metode kuantitatif bekerja secara deduktif dan hal tersebut melawan tradisi teologi dari bawah yang semestinya bersifat induktif. Tulisan ini hendak memperlihatkan secara kritis bagaimana metode kuantitatif juga dapat bekerja dalam teologi dan memberikan alternatif pada para teolog ketika mereka hendak memahami suatu komunitas religius secara empiris. Tentu kita menyadari bahwa ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi dan psikologi sosial telah lama mengembangkan metode kuantitatif ini dalam penelitian-penelitian yang mereka lakukan. Dalam semangat pendekatan interdisipliner kita berhutang pada mereka tentang bagaimana analisis-analisis kuantitatif dijalankan.
Resensi: Mereka Juga Citra Allah—Hakikat dan Sejarah Diakonia Termasuk bagi yang Berkebutuhan Khusus (Buruh, Migran, dan Pengungsi, Penyandang Disabilitas, LGBT) Manoe, Herman Arnolus
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 2 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2019.42.451

Abstract

Page 3 of 18 | Total Record : 175


Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 1 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 1 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 2 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 6 No. 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 5 No. 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 2 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 4 No. 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 1 No 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 1 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian More Issue