Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
"SANGKHAKALA" refers to the shell horns that blown regularly to convey certain messages. In accordance with the meaning, this journal expected to become an instrument in the dissemination of archaeological information to the public which is published on an ongoing basis. Berkala Arkeologi Sangkhakala is a peer-reviewed journal published biannual by the Balai Arkeologi Sumatera Utara in May and November. The first edition was published in 1997 and began to be published online in an e-journal form using the Open Journal System tool in 2015. Berkala Arkeologi Sangkhakala aims to publish research papers, reviews and studies covering the disciplines of archeology, anthropology, history, ethnography, and culture in general.
Articles
7 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15 No 2 (2012)"
:
7 Documents
clear
“Kotak Emas”, Pahatan Relung Pada Dinding Tebing Lae Tungtung Batu di Dairi, Sumatera Utara
Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3315.112 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.122
AbstractNiches at the walls of edge of Lae (river) Tungtung Batu have been known by the local people as “the golden box”. The naming, without sufficient scientific proofs, refers to its profane function as storage of valuable items. The question is: is the object of a profane or sacred function? A theory proposes that a megalithic structure that was built for the worship of ancestors, either as a tomb or supplementary worship, supported by a comparative study of similar findings in different areas with the same cultural background, results in different interpretations of the functions of the niches that were previously connoted to a storage for valuable things now are of a burial reason. Similar objects found in Samosir, Deli Serdang, Karo and Tana Toraja are currently interpreted as sarcophagus. The niches in Tuntung Batu share similar characteristics of sarcophagus with those in other areas in North Sumatra and Indonesia. It is contextually supported with the presence of other objects in Tuntung Batu such as pertulanen and mejan that are related with burial and stones of tunggul nikuta candi and perisang manuk and the statue of pangulubalang that is of a mystical purpose to give the people protection.AbstrakPahatan relung-relung pada dinding tebing batu Lae (sungai) Tungtung Batu oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “kotak emas”. Penamaan ini merujuk kepada fungsi profannya sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, namun tanpa ditunjang oleh bukti-bukti ilmiah yang cukup memadai. Masalah yang dikemukakan adalah : apakah objek tersebut memang memiliki fungsi profan seperti tersebut di atas ataukah berfungsi sakral ? Mengacu pada teori bahwa suatu bangunan megalitik didirikan terkait dengan pemujaan terhadap leluhur, baik sebagai kuburan ataupun sebagai pelengkap pemujaan, serta didukung dengan studi komparatif dengan temuan sejenis di beberapa daerah lainnya dengan latar budaya yang sama, menghasilkan interpretasi yang berbeda tentang fungsi relung-relung tersebut yang sebelumnya dikaitkan dengan tempat penyimpanan benda berharga menjadi lebih mengarah kepada fungsi penguburan. Objek sejenis yang antara lain ditemukan di Samosir, Deli Serdang, Karo dan Tana Toraja saat ini diinterpretasikan sebagai jenis kubur pahat batu. Karakteristik relung-relung di Tungtung Batu sangat sesuai dengan karakteristik jenis kubur pahat batu baik yang terdapat di Sumatera Utara aupun di daerah lainnya di Indonesia. Secara kontekstual hal itu diperkuat dengan keberadaan objek-objek lainnya di Tungtung Batu yaitu pertulanen dan mejan yang terkait dengan penguburan serta batu tunggul nikuta candi, batu perisang manuk serta patung pangulubalang yang lebih bersifat mistis terkait dengan perlindungan kepada masyarakat.
Sebaran Sumatralith Sebagai Indikasi Jarak Dan Ruang Jelajah Pendukung Hoabinhian
Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4738.046 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.123
AbstractA river was highly significant in search of a settlement in the past, which is why there have been numerous findings of pre-historic sites and activities at watersheds. Findings of stone artifacts of the same kind at some estuaries indicate similar environment exploitations. Such exploitations could have been at relatively the same time or at a different time. To know the past activity more accurately, morphological and technological analyses on the stone artifacts need implementing.Furthermore, a comparative analysis on the findings of similar artifacts along with their distribution is an inseparable method in investigating the culture and the distance and space of the pre-historic men. The Sumatralith distribution at the Bay of Belawan’s estuaries indicates exploitations by men inhabiting the site of Bukit Kerang Percut by using the river channel as the hunting navigation to the highland of Tanah Karo covering 25-30 km of exploration area. Such interpretation indicates the direction of exploration from the lowland (the site of Bukit Kerang Percut) to the highland of Tanah Karo. The existence of the site of Bukit Kerang Percut and Sumatralith distribution also indicate the settlement of Hoabinh culture people at the highland whose exploration space covered the lower land.AbstrakSungai memiliki peran penting dalam menentukan lokasi hunian pada masa lalu. Oleh karena itu, situs-situs masa prasejarah dengan aktivitasnya kerap ditemukan di Daerah Aliran Sungai. Temuan artefak batu yang sejenis di beberapa sungai yang bermuara sama, mengindikasikan adanya upaya eksploitasi lingkungan yang sama. Eksploitasi dimaksud dapat dalam waktu yang relatif sama atau dapat juga dalam waktu yang berbeda. Untuk mengetahui aktivitas masa lalu dengan lebih baik maka diperlukan analisa morfologi dan teknologi atas artefak batu dimaksud, serta temuan lain yang dapat memberikan interpretasi yang lebih baik. Selain itu adanya perbandingan dengan artefak sejenis pada situs terdekat dan diketahuinya sebaran artefak tersebut, merupakan bagian yang sangat penting untuk mengetahui budaya dan jarak serta ruang jelajah manusia masa prasejarah. Sebaran sumatralith yang ditemukan di sungai-sungai yang bermuara di Teluk Belawan mengindikasikan adanya eksploitasi manusia yang menghuni di Situs Bukit Kerang Percut, dengan memanfaatkan alur sungai sebagai navigasi aktivitas perburuan ke dataran tinggi Tanah Karo, dengan jarak jelajah berkisar 25-30 km. Interpretasi tersebut menunjukkan adanya arah jelajah dari dataran rendah (Situs Bukit Kerang Percut) ke dataran tinggi Tanah Karo. Hal lainnya yang dimungkinkan atas keberadaan situs Bukit Kerang Percut dan sebaran sumatralith adalah, adanya indikasi hunian pendukung budaya Hoabinh di dataran tinggi, yang memiliki ruang jelajah hingga ke dataran yang lebih rendah.
Transformasi Makna Religi Borotan Dalam Upacara Kurban Bius Pada Masyarakat Batak
Defri Elias Simatupang
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3381.406 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.124
Abstract‘Borotan’ is a Batak Tobanese vocabulary meaning “stake”, to which an animal is tied before being sacrificed in a traditional Bataknese ceremony. ‘Borotan’ physically looks like a simple piece of wood but it bears a profound interpretation and has become an important part of reconstructing the religious aspects of the ancient Bataknese. Thus, this writing aims at explaining the religious importance of ‘Borotan’. The religiousness being discussed here is its interpretation of form and function in the religious activity in the past and present. Inductive reasoning is expected to produce an answer to the problem question through the analysis of the observed variables. The observation results show that the Bataknese try to communicate with the divine power in the ceremony to create two-way communication, vertically and horizontally.AbstrakBorotan merupakan istilah kosa kata Batak Toba yang berarti kayu pancang, tempat hewan diikat sebelum dikurbankan dalam sebuah tradisi upacara adat Batak Toba. Secara fisik borotan terlihat sebagai kayu biasa saja, namun secara pemaknaan sangat dalam dan menjadi bagian penting dalam usaha merekonstruksi aspek religi masyarakat Batak masa lampau. Maka tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana borotan dilihat dari aspek religiusitasnya. Religiusitas dalam hal ini adalah pemaknaan borotan terkait bentuk dan fungsinya dalam aktivitas religi masyarakat Batak masa lampau dan hingga terkini. Melalui kerangka pikir induktif diungkapkan jawaban atas permasalahan tersebut dengan menganalisisnya berdasarkan variabel pengamatan yang dibuat. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa masyarakat Batak berusaha mengadakan komunikasi dengan kekuatan adi kodrati sehingga dalam kegiatan upacara terjadi hubungan dua arah yaitu secara vertikal dan horizontal.
Membaca Desain Komunikasi Visual Pada Relief Cerita Krsna di Candi Lara Jonggrang
Andri Restiyadi
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5493.344 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.120
AbstractStory reliefs inscribed at the walls of the temple tell a lot of information including the visual communication design. Thus, to learn of the artist’s creative process, it is important to conduct a study of the relief’s visual design. Most relief-related studies available merely try to identify the story rather than the visual design aspect. The study proposed here is on the aspect of visual communication design of Krishna story relief, a study that has been neglected. Such fact is an irony since visual communication design is actually another side of a relief that is of a high interest due to its communicative purpose. This study uses an inductive research pattern that starts at field data analysis and ends in a conclusion. For the ease of analysis, the visual form of story relief will be transferred into composition matrixes that later will be compared to acquire a complete relief design. In the case of Krishna relief, some figures sculpture composition patterns are found at the panels. Such patterns, which may determine the meaning of the relief in the context of visual communication, have been standpoints from which the relief artist considered the aspects of religion and technique.AbstrakRelief cerita yang terpahat pada dinding candi memuat banyak informasi, termasuk di dalamnya berkaitan dengan desain komunikasi visual. Kajian tentang desain visual relief sangat penting dilakukan untuk mengetahui proses kreatif seniman. Selama ini penelitian yang berkaitan dengan relief secara umum berusaha untuk mengidentifikasi cerita di dalamnya sementara aspek desain visual jarang dijadikan topik bahasan. Adapun permasalahan yang diajukan dalam hal ini berkaitan dengan aspek desain komunikasi visual relief cerita Krsna. Sebuah kajian yang selama ini belum menjadi pusat perhatian. Sisi lain dari sebuah relief cerita yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena relief cerita tidak lain merupakan sebuah media komunikasi. Penelitian ini menggunakan alur penelitian induktif yang bergerak dari fakta di lapangan dan diakhiri dengan penarikan sebuah kesimpulan. Dalam hal ini untuk mempermudah analisis, bentuk visual relief cerita akan diubah menjadi matriks komposisi untuk selanjutnya dibandingkan antara matriks yang satu dengan matriks yang lain untuk mengetahui desain relief secara utuh. Pada kasus Relief Cerita Krsna terdapat beberapa pola komposisi pemahatan figur dalam panil. Pola-pola tersebut menjadi patokan seniman dengan mempertimbangkan aspek religi dan aspek teknis, hal tersebut sekaligus dapat menentukan makna relief cerita dalam konteks komunikasi visual.
Emas dalam Budaya Batak
Nenggih Susilowati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5581.366 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.125
AbstractGolden artifacts have different varieties and decorative patterns, such as in jewellery. The presence of golden artifacts in the past is known presently from the Dutch old record in North Sumatra. At that time, the Bataknese lived an old belief of the ancestor spirits or called the megalithic tradition. The development of gold craftsmanship is seen through the golden artifacts with the typical Batak patterns influenced by the old faith as well as external decorative patterns. The proposed question is how the golden artifacts were integrated into the Bataknese culture. The study aims at collecting more knowledge of the importance of golden artifacts in Bataknese life as well as the cultural aspects reflected on those artifacts. Explorative-descriptive writing method with inductive reasoning is used to get an answer to the problem being proposed. Inductive reasoning begins at the study of data that can give a general conclusion or empirical generalization after data analysis stage process. Golden artifacts are just like pieces of art that bear a unique function in the society as well as describing such social, cultural, and religious aspects of the Bataknese in the ancient North Sumatra.AbstrakArtefak emas cukup beragam jenis dan pola hiasnya, di antaranya digunakan sebagai perhiasan. Tentang artefak emas di masa lalu diketahui melalui catatan lama ketika Belanda masuk ke wilayah Sumatera Utara. Pada masa itu etnis Batak pada umumnya masih hidup dalam kepercayaan lama yang berkaitan dengan roh nenek moyang atau dikenal dengan tradisi megalitik. Perkembangan seni kriya emas terlihat melalui artefak emas dengan pola hias khas Batak yang mendapat pengaruh religi lama, dan pola hias yang mendapat pengaruh dari luar. Permasalahannya adalah bagaimana artefak emas menjadi bagian dalam budaya masyarakat Batak ? Tulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai pentingnya artefak emas dalam kehidupan masyarakat Batak serta aspek-aspek kebudayaan yang tercermin melalui artefak tersebut. Untuk dapat menjawab permasalahan yang diajukan, maka metode penulisan bertipe eksploratif- deskriptif menggunakan alur penalaran induktif. Penalaran induktif berawal dari kajian terhadap data yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang bersifat umum atau generalisasi empiris setelah melalui proses tahap analisis data. Seperti hasil karya seni lain, artefak emas mempunyai fungsi dalam kehidupan masyarakat serta menggambarkan aspek sosial, budaya, dan religi masyarakat Batak di Sumatera Utara di masa lalu.
Verklaring: Bukti Tertulis Mobilitas Masyarakat Pribumi Pada Awal Abad Ke-20 Masehi
Churmatin Nasoichah
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3566.057 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.121
Abstract‘Verklaring’ is an official document serving as a proof of an activity, for instance a ‘Verklaring’related with a travel permit (now passport), or any other information documentations. ‘Verklaring’(prevailing at the Dutch East Indies colonization era in Nusantara) is expected to provide adescription of the then society. An old Dutch script, a collection of Tanjung Pinang City’s StateMuseum, Riau Island, and two privately-owned Dutch scripts are used to conduct an inductiveanalysis. The use of ‘Verklaring’ at the early 20 th century Dutch East Indies suggested two differentkinds of social movement or mobility, horizontal and vertical. In the course of mobility, there was asocial interaction of partnerships among individuals and groups in order to achieve a goal and anintention.AbstrakVerklaring merupakan dokumen resmi yang berfungsi sebagai tanda bukti untuk melakukansesuatu, misalnya verklaring yang berkaitan dengan perihal izin untuk bepergian (saat ini biasadisebut passport ), yang berkaitan dengan perihal surat keterangan baik maupun yang berkaitandengan hal-hal lainnya. Dengan adanya verklaring (yang ada di Nusantara pada masa Hindia-Belanda) diharapkan akan didapat gambaran tentang kehidupan masyarakat pada saat itu. Dalammenganalisis, digunakan penalaran induktif yang beranjak dari data primer berupa naskah Belandakoleksi Museum Negeri Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dan data kedua berupa dua naskahBelanda yang merupakan koleksi pribadi. Keberadaan verklaring pada masa Hindia-Belanda padaawal abad ke-20 memperlihatkan adanya perpindahan atau mobilitas sosial yang berbeda, yaitumobilitas yang bersifat horizontal atau mendatar dan mobilitas yang bersifat vertikal ataunaik/menurun. Dalam melakukan mobilitas sosial tersebut terdapat adanya interaksi sosial yangberbentuk kerja sama antara individu dengan suatu kelompok sehingga maksud dan tujuannya bisatercapai.
Permukiman Gua di Sub-Cekungan Payakumbuh
Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6368.227 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v15i2.126
AbstractPre-historic men's life mainly relied on the availability of natural resources in the surrounding area. The settlements had inevitably to provide their needs of food and tools. Payakumbuh’s sub-basin, a strategic location for settlement, is a plain with a river in the middle that provides a place to shade and settle at its ‘Ngalau’ (caves and rock shelters). This location is also supported by the presence of hills and Sinamar River. Culturally, archaeological findings on the use of this site as a settlement are also found. This writing tries to describe the patterns of distribution and the use of caves at the Payakumbuh’s sub-basin. Archaeological landscape approach method is used to observe some physical and cultural aspects in that area. To provide further pictures, analyses on the neighbouring area are also done through the use of such softwares as Arc-View 3.2 and ArcGIS 9.3 with the extension of Network Analysis and Spatial Analysis.AbstrakKehidupan manusia pada masa prasejarah masih mengandalkan pada ketersediaan sumberdaya lingkungannya. Lokasi yang mereka jadikan sebagai lokasi permukiman harus menyediakan kebutuhan mereka akan makanan dan juga peralatannya. Sub-Cekungan Payakumbuh merupakan salah satu lokasi yang baik digunakan sebagai permukiman. Secara fisik, lokasi ini memiliki bentuklahan dataran dengan sungai yang mengalir pada bagian tengahnya, serta tersedianya lokasi berteduh dan bermukim di ‘Ngalau’ (gua dan ceruk). Lokasi ini didukung dengan bentangalam pedataran dengan bukit-bukit yang muncul di beberapa tempat dan juga didukung dengan keberadaan Sungai Sinamar. Secara budaya, pada lokasi ini juga telah ditemukan data arkeologi tentang pemanfaatanny sebagai lokasi permukiman. Pada tulisan ini akan membahas bagaimana pola sebaran dan pemanfaatan gua di Sub-Cekungan Payakumbuh. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan model pendekatan arkeologi lansekap yang memperhatikan pada beberapa aspek fisik serta budaya pada lokasi tersebut. Untuk lebih menggambarkan hal tersebut digunakan juga analisis tetangga terdekat dengan bantuan software Arc-View 3.2 dan ArcGIS 9.3 dengan ekstensi Network Analysis, Buffer Wizard, dan Spasial Analysis.