Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
"SANGKHAKALA" refers to the shell horns that blown regularly to convey certain messages. In accordance with the meaning, this journal expected to become an instrument in the dissemination of archaeological information to the public which is published on an ongoing basis. Berkala Arkeologi Sangkhakala is a peer-reviewed journal published biannual by the Balai Arkeologi Sumatera Utara in May and November. The first edition was published in 1997 and began to be published online in an e-journal form using the Open Journal System tool in 2015. Berkala Arkeologi Sangkhakala aims to publish research papers, reviews and studies covering the disciplines of archeology, anthropology, history, ethnography, and culture in general.
Articles
235 Documents
TRANSFORMASI ARKEOLOGI PERAHU KUNO DI PESISIR PANTAI TIMUR SUMATERA
Stanov Purnawibowo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 8 No 17 (2006)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1688.143 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v8i17.338
The transformation process of archaeological data which foundon “sampan sudur” artifact in Terjun River and Padang River isthe Natural Transformation. It is said that the “sampan sudur” isnot in use now by its material cultural support.
BATU NISAN LAMREH TIPE ‘PLANGPLENG’
Dedy Satria
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 22 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4145.704 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v22i2.407
Plangpleng type tombstone is a very distinctive shape. Sculpture style is the main characteristic of this type of tombstone. That makes it different from other tombstones in Lamreh. Forms of local and foreign motifs from different cultural backgrounds and belief systems. This is a character that reflects a 'mixed' society at the beginning of the development of Islam in Aceh Besar and Banda Aceh. This tombstone is a very important marker as the initial evidence of the presence of Muslim communities along the coast of Aceh Besar and Banda Aceh. As an art object, it has been a human work of the past, and is evidence of the culmination of the achievement of cultural development in an ancient society in Aceh Besar known as the 'Lamuri community’.
ANALISIS PEMANGKU KEPENTINGAN PADA TINGGALAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI DESA BERAKIT
Stanov Purnawibowo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 22 No 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3415.703 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v22i1.398
The stakeholder analysis on the underwater archeological relics of Berakit village is an integrated part of the Research Program of Balai Arkeologi Medan, North Sumatra, entitled The Archeological Survey on the North Coast of Bintan Island, Bintan Regency, Riau Islands Province, that is conducted in 2018 in Berakit Village, Teluk Sebong District, Bintan Regency. The raised issue is the potential management of underwater relics in Berakit Village based on its stakeholder analysis. This study aims to obtain the policy of underwater archeological relics management based on the potential conflict that occurs among the stakeholders. The applied methods are in-depth interviews and Focused Group Discussion (FGD) with the stakeholders related to the underwater archeological relics in the research location. The stakeholders are classified into three groups, i.e. government, society, and academics. Issues on the underwater archeological relic management that give general descriptions about the potential conflicts of that archeological relic management are raised in the in-depth interviews and FGD. The potential is then analyzed using one of the conflict-analysis tools, i.e. onion analysis. The result of the stakeholder analysis shows a common need that becomes the knot of the conflict, i.e. the land utilization.
KEBERADAAN PRASASTI DALAM KONTEKS KEPURBAKALAAN HINDU-BUDDHA DI PADANG LAWAS, SUMATERA UTARA
Churmatin Nasoichah
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (573.689 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v21i2.362
Pada tahun 2018, Balai Arkeologi Sumatera Utara melakukan survei arkeologi dan menemukan 1 (satu) buah prasasti bernama Prasasti Bahagas. Adapun Permasalahannya adalah apakah makna keberadaan Prasasti Bahagas bagi kesejarahan di kawasan kepurbakalaan Hindu-Buddha Padang Lawas, Sumatera Utara? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna keberadaan Prasasti Bahagas bagi kesejarahan di kawasan kepurbakalaan Hindu-Buddha Padang Lawas, Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif. Dari hasil analisis didapatkan kesimpulan bahwa Prasasti Bahagas dibuat dari batuan andesit, berbentuk lapik arca, menggunakan aksara pasca-palawa atau paleo-sumatera, dan berbahasa Batak yang diartikan sebagai bangunan yang kuat dan kokoh. Terkait dengan masyarakat pendukung budayanya, penyebutan kata bahagas ini dapat menambah asumsi bahwa masyarakat pendukung kepurbakalaan Hindu-Buddha di Padang Lawas adalah masyarakat ber-etnis Batak.
PEMUKIMAN PENDERITA KUSTA DAN FASILITASNYA DI DESA LAU SIMOMO, KABUPATEN TANAH KARO
Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 8 No 17 (2006)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1740.005 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v8i17.333
Settlement in Lau Simomo, Tanah Karo described the human historyregarding the residential area for lepers. The building of this areasupported the lepers in order to get a reasonably comfortable life. Theother facilities which part of the important things for treatment ofleprosy or character building are hospital and church.
EKOLOGI POLITIK DALAM PERLUASAN WILAYAH MASA SRIWIJAYA: BERDASARKAN BEBERAPA BUKTI PRASASTI
Muhamad Alnoza;
Rafael Arya Bagas Ananta;
Mentari Putri Ramadhanti
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (789.299 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v23i1.368
Srivijaya is a federation state in Nusantara on the 7th century AD. Dapunta Hyang as the first of Datu Sriwijaya, was first mentioned in the Kedukan Bukit Inscription (606 AD). In its development, Srivijaya's authority which began in Palembang began to develop into the surrounding areas. Evidence of this expansion of Srivijaya is recorded in the Srivijaya inscriptions found in these areas. The inscriptions found generally contain curses about people who rebel against unity. This paper is intended to reconstruct the ecological considerations made by Srivijaya in expanding its territory. This paper connects the location of the discovery of the inscription, the composition of the contents of the curse of the inscription and number of inscriptions to find out the priority scale of the Sriwijaya territory. The analyzed data is then compare it with the ecological conditions of each region. In interpreting the expansion of the region based on ecological and geographic conditions, political ecology theory is used. Finally, it can be seen that Palembang is the axis of unity, because of the many inscriptions found and the curse composition in the inscriptions. Palembang has a wealth of natural resources and the most favorable geographical conditions for the Sriwijaya Union. The inscription discovery area outside Palembang is a hinterland area, whose natural wealth is used as a commodity for Kadatuan Sriwijaya.
FIGUR HEWAN PADA BATU-BATU PIPIH DI KOMPLEKS PEMAKAMAN SUTAN NASINOK HARAHAP
Khairun Nisa
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5674.604 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v23i1.369
Makam-makam yang dapat dijumpai di Kompleks Pemakaman Sutan Nasinok Harahap berupa gundukan tanah yang dipagari oleh batu-batu pipih berdenah persegi. Beberapa di antara batu-batu tersebut tampaknya telah diolah manusia, ada yang bahkan memiliki inskripsi beraksara dan berbahasa Batak dan/atau dihiasi relief beragam bentuk, meski ada juga yang tidak mengalami proses pengerjaan sama sekali. Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah mengenai relief yang menampilkan figur-figur binatang yang dipahatkan pada batu-batu pipih di Kompleks Pemakaman Sutan Nasinok Harahap. Mengapa penggambaran hewan dipilih? Makna apa yang terkandung di dalamnya? Dan apa tujuan dipahatkannya figur hewan tersebut? Penelitian ini akan melewati tahap observasi, deskripsi, dan eksplanasi. Kajian yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah etnoarkeologi dengan melakukan perbandingan terhadap budaya yang dikenal masyarakat sekitar serta masyarakat Angkola-Mandailing dan sub etnik Batak lainnya.
KAJIAN UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK PADA PENULISAN PUSTAHA LAKLAK PODA NI TABAS NA RAMBU DI PORHAS
Churmatin Nasoichah;
Manguji Nababan;
Mehammat Boru Karo Sekali;
Tomson Sibarani
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2002.943 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v23i1.382
Pustaha Laklak Poda Ni Tabas Na Rambu Di Porhas merupakan karya sastra masyarakat Mandailing yang isinya tentang mantra. Terdapat dua unsur dalam mengkaji karya sastra yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana bentuk unsur intrinsik dan ekstrinsik Pustaha Laklak Poda Ni Tabas Na Rambu Di Porhas? Tujuannya untuk mendeskripsikan unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah kuno tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pustaha laklak ini bertema nasihat dari mantra Rambu Di Porhas untuk melawan musuh. Naskah kuno ini memperlihatkan bahwa penulis merupakan orang yang pintar, sangat penting dan berpengaruh dalam kegiatan ritual. Dari sisi tipografi, naskah ini ditulis menggunakan aksara Batak (tulak-tulak). Tidak ditemukan pemenggalan kata dan jeda. Enjambemen pada naskah ini tetap terlihat meskipun tidak sesuai dengan baris ataupun tanda baca. Akuilirik dan sekaligus penulis naskah ditemukan dengan adanya penggunaan kata ganti orang pertama tunggal dan kata ganti milik orang pertama tunggal. Rima tidak ditemukan pada naskah ini. Citraan penulis digambarkan sebagai orang yang memiliki pengetahuan luas dan hebat. Ragam bahasa yang digunakan adalah hata sibaso atau hato hadatuan. Pustaha ini ditulis di Mandailing pada waktu pengaruh agama Islam dan kolonial di Mandailing namun masyarakatnya masih menganut kepercayaan roh leluhur. Kebiasaan perang antar huta atau etnis lain juga tergambar jelas dari isi pustaha yang sebagian besar berisi mantra dan ramalan.
JAKARTA DARI MASA KE MASA: KAJIAN IDENTITAS KOTA “INDONESIA” MELALUI TINGGALAN CAGAR BUDAYA
Ary Sulistyo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4041.284 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v23i1.387
Identitas Kota Jakarta tidak lepas dari momen sejarah yaitu sejak kemerdekaan tahun 1945. Perkembangan Kota Jakarta sebelum kemerdekaan masih kuat dipengaruhi oleh unsur kolonial Belanda, dan setelah kemerdekaan Indonesia (Kotapraja Djakarta). Namun demikian perkembangan Kota Jakarta pada masa orde Baru hingga kini kembali mendapatkan pengaruh barat melalui difusi kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif-kualitatif. Kota Jakarta sebagai kesatuan ruang dari berbagai peristiwa sejarah yang terwujud melalui tinggalan materi kini telah ditetapkan dalam SK Gubernur DKI Jakarta No 473/1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di DKI Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya yang berjumlah total 132 Cagar Budaya. Cagar Budaya berupa bangunan dan struktur terbanyak terdapat di Kotamadya Jakarta Pusat sebanyak 63 bangunan dan 4 struktur. Kota Jakarta, khususnya Kotamadya Jakarta Pusat pada pasca-kemerdekaan dirancang sebagai kota simbolisme material dimana Monas, Mesjid Istiqlal, dan bangunan perkantoran sama seperti representasi kota pra-kolonial dimana keraton, alun-alun, dan pusat aktivitas perekonomian berdekatan. Seiring dengan perkembangan jaman, kota Jakarta berkembang sebagai kota simbol modernitas, identitas dan representasi budaya Indonesia juga kota internasional. Namun dengan bermunculannya gedung-gedung pencakar langit menetralisir lapisan-lapisan simbolisme material tersebut termasuk kawasan Kotatua Jakarta.
KAWASAN “PUSAT KOTA” KLATEN PADA MASA KOLONIAL HINDIA BELANDA
Galih Sekar Jati Nagari
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (21327.978 KB)
|
DOI: 10.24832/bas.v23i1.420
Klaten pada akhir abad XIX hingga awal abad XX memiliki peran penting dalam perkembangan perekonomian di Hindia Belanda karena hasil perkebunannya yang baik. Kondisi tersebut juga mendukung perkembangan kawasan “pusat kota” Klaten yang sebelumnya hanya digunakan sebagai pusat pemerintahan, kemudian berkembang menjadi lebih kompleks dengan dibangunnya fasilitas-fasilitas modern. Tulisan ini memaparkan interpretasi perkembangan kawasan “pusat kota” Klaten dari awal Klaten menjadi kabupaten di bawah Kasunanan Surakarta hingga sebagai afdeeling perkebunan di Karesidenan Surakarta. Metode penelitian yang digunakan bersifat historis, dengan menelusuri komponen-komponen kota menggunakan sumber-sumber lama seperti peta dan catatan, juga dibandingkan dengan keletakan komponen kota di lapangan. Melalui penelusuran tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa kawasan “pusat kota” Klaten mencirikan tata kota Indis, yang memiliki perpaduan antara komponen kota tradisional dan komponen kota modern Eropa.