cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
+62361-227316
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Mudra Jurnal Seni Budaya Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra.v37i4.2084
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 33 No 1 (2018): Februari" : 16 Documents clear
Kerajinan Ukiran Kayu Di Palembang Aji Windu Viatra; Retika Wista Anggraini
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.131

Abstract

Seni ukiran Palembang telah dikenal luas, seni kerajinan ukir kayu yang lazim disebut Ukiran Palembang. Adapun sentra industri seni kerajinan ukiran kayu Palembang berada di Kampung 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, sebelah Barat Masjid Agung Palembang. Kampung 19 Ilir, memproduksi berbagai bentuk perabotan, alat-alat rumah tangga, dan hiasan rumah dengan ukiran kayu khas Palembang. Kegiatan mengukir di Palembang sebelumnya memiliki hubungan erat dengan rumah tradisional adat Palembang, yakni rumah Bari atau rumah Limas. Rumah tradisional yang saat ini masih digunakan oleh masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di Palembang dengan segala perlengkapan rumah tangganya. Pertumbuhan ukiran kayu Palembang mengalami pasang surut dengan kondisi sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Seni kerajinan ukiran kayu ini hanya diproduksi oleh keluarga-keluarga tertentu  saja,  masih  banyak masyarakat Palembang dan para perajin beralih mengandalkan penghasilan ekonomi dengan mencari profesi lain. Perubahan yang terjadi pada proses pengolahan bahan kayu yang semakin sulit digunakan, kreasi motif ukiran, dan teknik pengukiran telah bercampur dengan daerah lain seperti Jepara, dan negara luar India, Eropa dan China. Akulturasi ragam hias ini telah menghasilkan suatu bentuk, gaya dan cita rasa baru menambah khasanah ukiran kayu Palembang. Kajian utama penelitian ini dititik beratkan pada kontinuitas, perubahan dan analisis ragam hias pada motif ukiran kayu. Kajian ini menggunakan pendekatan multidisplin, yakni pendekatan sosiologi, dan estetika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan analisis deskriptif analitik. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengidentifikasi perkembangan seni kerajinan ukiran kayu Palembang terhadap kehidupan masyarakat, terutama bagi pelaku budaya tersebut, mengkaji terjadinya perubahan dan perkembangan bentuk, motif ragam hias seni kerajinan ukiran kayu Palembang dan menggali pengetahuan secara mendalam mengenai kebudayaan Palembang.Woodcarving arts from Palembang are widely known and commonly referred ro Ukiran Palembang. The center of woodcarving art industry of Palembang is in Kampung 19 Ilir, District of Bukit Kecil, West of Palembang Grand Mosque. Kampung 19 Ilir, produces various forms of furniture, and home decoration with wooden carving typical of the Palembang style. Woodcarving arts from Palembang previously fostered a very close ralationship with the traditional homes of Palembang, known as the Bari or Limas houses. Bari or Limas houses are Traditional houses that are still used by the people of South Sumatra, especially in Palembang equipped with household accessories made in Palembang. The growth of Palembang woodcarving has experienced fluctuation relative to regional economic conditions Art craft woodcarving is continued only by certain families, as the economic situation of the region causes many craftsmen to search for employment in other industries and professions. Changes in wood processing procedures have caused materials to become increasingly difficult to use. Also, carving motive creations, and engraving techniques have been hybridized with other regions such as Jepara, and countries outside India, Europe and China. The acculturation of this decorative variety has resulted in new forms, styles and flavors adding to the treasures of Palembang woodcarvings.
Wayang Jawa Timuran Lakon Gandamana Luweng (Kajian Struktur Dan Makna) Andini Shinta Kurniawati
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.137

Abstract

Wayang, sebagai salah satu bentuk kesenian klasik tradisional yang oleh pecintanya dikatakan mempunyai nilai adiluhung, banyak mempengaruhi tata nilai kehidupan Jawa khususnya dan masyarakat pada umumnya.Orang Jawa begitu percaya adanya perlambang, simbolisasi ataupun filsafat hidup yang berupa mitos pada satu lakon wayang.Salah satu lakon wayang yang cukup menarik perhatian adalah lakon wayang dengan judul “Gandamana Luweng”. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penulisan ini adalah (1) Bagaimana struktur lakon Gandamana Luweng, (2) Bagaimana makna simbolik lakon Gandamana Luweng. Tujuan penulisan ini yaitu menganalisa dan mendeskripsikan struktur lakon dan makna simbolik lakon Gandamana Luweng. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomnologis empiris. Subjek utama dalam penelitian ini adalah Ki Pringgo Jati Rahmanu, sedangkan pengumpulan data diperoleh dengan pengamatan, wawancara, studi dokumen, dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemerksaan keabsahan data menggunakan informan review dan triangulasi data (sumber dan teknik). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur lakon Gandamana Luweng terdiri atas sinopsis, penjabaran lakon, penokohan, alur, setting, dan tema cerita.Lakon Gandamana Luweng ini memiliki makna bahwa jika dalam suatu Negara para rakyatnya bermoral lemah tidak mempunyai kekuatan dan keberanian apalagi kesadaran apa arti hidup ini maka hancurlah Negara itu. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Lakon Gandamana Luweng memiliki struktur lakon cukup menarik yang dikemas dalam durasi tampilan 60 menit, sedangkan dengan adanya makna simbolik yang terkandung diharapkan para pelaku hidup ini akan sadar tentang pentingnya saling mengerti, menyadari tentang hidup dan kehidupan di dunia.Shadow Puppettry, as one of the traditional classical art form that by the lover is said to hold in high value, hold much affect to the values of life of Java in particular and its society in general. The Javanese are very confident in the use of symbols. Symbols and philosophies of life that are manifest in one myth in one puppet play. One of the puppet plays that attract attention is the wayang play entitled "Gandamana Luweng". The main issues studied in this book are (1) How Gandamana Luweng play is structured, (2) The symbolic meaning of Gadamana Luweng play. The purpose of this paper is to analyze and describe the structure of the play and the symbolic implications of the play Gandamana Luweng. This research uses qualitative research design with empirical phenomenological approach. The main subject in this study is Ki Pringgo Jati Rahmanu, while data collection is obtained with observation, interview, document study, documentation. Data analysis is done through by data reduction, presentation data, and conclusion. The validity of data is checked using using informant review and triangulation of data (source and technique). The results of this study indicate the structure of the Gandamana Luweng play consists of synopsis, description of the play, characterization, plot, setting, and theme of the story. This Gandamana Luweng play has the meaning if country’s people possess weak moral, no strength and courage let alone awareness as to what this life means, then the country is destroyed. From these data can be concluded Gandamana Luweng shadow puppet play holdss a fascinating  structure that comprises a 60 minute view duration, where the symbolic meanings intentions are expected that these actors will be aware of understanding each other, conscious about life and life in the world.
Menjadi Lelaki Sejati: Maskulinitas Dalam Komik Daring Webtoon Indonesia Asep Wawan Jatnika; Ferry Fauzi Hermawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.158

Abstract

Perkembangan teknologi telah mengubah cara penyebaran komik di Indonesia. Saat ini internet dan media sosial menjadi salah satu media utama penyebaran komik. Salah satu media yang menjadi pilihan tempat menyebarkan dan membaca komik adalah Webtoon. Tulisan ini bermaksud menganalisis wacana homoseksualitas dan maskulinitas yang terdapat dalam komik No Homo karya Apitnobaka yang diterbikan dalam Webtoon. Menggunakan pemahaman Foucault dan Bartkly tentang panoptikon dan gender hasil kajian menunjukkan bahwa pembicaraan masyarakat (gosip) merupakan alat utama dalam pengonstruksian gender di masyarakat. Gosip berperan sebagai pengawas perilaku seperti apa yang boleh dilakukan laki-laki dan sebaliknya. Gosip berperan sebagai panoptikon dalam mengawasi pelanggengan konstruksi maskulinitas di masyarakat. Selain itu, ditemukan juga salah satu penanda maskulinitas ideal di masyarakat yaitu, laki-laki harus menjadi seorang alfa dan tidak bergantung pada orang lain. Jika seorang laki-laki tidak mampu memenuhi hal tersebut dirinya akan digolongkan bukan laki-laki ideal. Dalam komik No Homo dipandang memiliki orientasi seksual lain yaitu homoseksual yang dianggap tabu dalam masyarakat. Selain itu, komik No Homo merefleksikan dan melanggengkan anggapan bahwa orientasi seksual yang bukan hetero seperti homoseksual bukanlah berasal dari Indonesia. Hal itu dipandang sebagai bagian dari budaya Barat.Technological developments have changed the way in which comics are circulated and distributed throughout Indonesia. Currently the internet and social media have become the primary media for the distribution of comics. One of the media that has been chosen for circulation, distribution and consumption of comics is Webtoon. This paper intends to analyze discourse in subjects such as homosexuality and masculinity as can be observed in Apitnobaka's No Homo comic as published on Webtoon. Using Foucault's and Bartkly's understanding of the panopticon and the gender; this study suggests that community talk (gossip) plays a major role in gender-building in society. Gossip serves as a supervisory behaviour that shapes gender norms in society i.e., what is considered as acceptable behaviour by a male or vice versa. Gossip serves as a panopticon in overseeing the construction of masculinity in consumer society. Moreover, it can be observed that one of the markers of ideal masculinity in the community is that a male must be an alpha and does not rely on the others can be found within this comic. If a male does not capably fulfil these terms, he will consequently be classified a as non-ideal man by consumer society. In No Homo comics, the male is portrayed as being of homosexual orientation and it is considered as taboo in society. In addition, No Homo comics reflect upon and perpetuate the assumption that sexual orientation other than heterosexual such as a homosexual is apart from Indonesian heteronormative culture. However, it is viewed as being a symptom of western culture.
Variasi Leksikal Bahasa Bali Dialek Kuta Selatan Putu Devi Maharani; Komang Dian Puspita Candra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.196

Abstract

Bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Bahasa Bali menjadi salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sangat kaya dengan kosakata. Untuk menyebutkan satu entitas seringkali kita temui berbagai variasi penyebutannya di masyarakat yang tinggal pada wilayah yang berbeda di Bali padahal mereka menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa Bali. Variasi penyebutan suatu entitas ini terkadang menjadi sesuatu yang terdengar aneh atau kurang dimengerti oleh penutur bahasa Bali yang berasal dari daerah yang berbeda namun menjadi ciri dan identitas daerah mereka yang dapat menghasilkan atmosfer kekeluargaan dan keakraban saat dipergunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi leksikal bahasa Bali di daerah Kuta bagian Selatan khususnya daerah Ungasan, Jimbaran dan Kedonganan yang saat ini menjadi salah satu tempat tujuan wisata di Bali serta untuk memetakan bagaimana perkembangan variasi pilihan kata masyarakat lokal daerah tersebut setelah banyaknya interaksi dengan wisatawan asing dan lokal yang datang ke daerah Kuta bagian Selatan ini, sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah a) Bagaimana penggunaan variasi leksikal bahasa Bali di daerah Jimbaran, Ungasan dan Kedonganan dan b) Pada kelas kata apa  saja variasi leksikal yang terjadi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik sadap, teknik libat cakap, teknik bebas libat cakap, teknik rekam dan teknik catat serta metode cakap dengan teknik pancing yang menjadi acuan dalam menemukan tujuan penelitian. Dari hasil analisis tiga dialek bahasa Bali daerah Kuta bagian Selatan ini, ditemukan beberapa variasi leksikal dalam kelas kata pronominal, nomina, kata sifat, kata kerja dan kata keterangan. Kemunculan variasi leksikal untuk kelas kata nomina muncul paling dominan. Pada dialek Jimbaran dan Kedonganan banyak ditemukan penggunaan leksikal yang sama. Pada dialek Ungasan ditemukan lebih banyak perbedaan leksikal yang digunakan untuk merujuk suatu yang sama.Language describes the culture of local society because in the culture activity, the community has not off from the language as a tool of interaction. Balinese language is a traditional language spoken by the local people of Bali. Differences or variations in the use of Balinese language can be observed in each district at the level of sound, morphological, syntactic and lexical. The variation in Balinese language raises particular dialect in each region. This aims of this study is to find out the lexical variations in the three different area those are Jimbaran, Kedonganan and Unggasan. The method of collecting the data in this research are close observation method with refers to the technique of tapping, face-to-face interview technique, eave-dropping technique, recording and note-taking technique. Generally found there are some lexical variations found in these three areas used to mention the same things. The lexical variation found are in class of pronoun, noun, verb, adjective, and adverbial. The dominant variation is noun. In Jimbaran and Kedonganan has a similarity in lexical choice. Unggasan has many differences than the other areas because the location of this village is in highlands position.
Pengaruh Globalisasi Dan Hegemoni Pada Transformasi Musik Dol Di Kota Bengkulu Bambang Parmadie; A.A Ngurah Anom Kumbara; A.A Bagus Wirawan; I Gede Arya Sugiartha
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.240

Abstract

Transformasi memiliki arti perubahan bentuk dan secara lengkap merupakan perubahan fisik maupun nonfisik (bentuk, rupa, sifat, fungsi, dan lain-lain). Transformasi dimaksudkan baik perubahan yang masih menunjukkan benda asalnya maupun perubahan yang sudah tidak memperlihatkan kesamaan dengan benda asalnya. Arus globalisasi dan hegemoni yang terjadi pada perubahan musik Dol sebagai musikalitas ritual Tabot digunakan secara sengaja untuk hiburan, kreativitas seniman, pencitraan, pendidikan, dan pariwisata. Fenomena yang terjadi dalam waktu yang panjang dan bertahap-tahap, bersifat linier dan hierarkis, dari sakral ke sekuler atau profan (komodifikasi), dari idealisme tradisi ke idealisme industri dan pencitraan (ekonomi), dan dari tujuan ke pesanan (kreativitas). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teori yang digunakan untuk menganalisis permasalahan yaitu teori hegemoni, teori budaya populer dan teori praktik sosial. Hasil penelitian pengaruh globalisasi dan hegemoni pada perubahan musik Dol dari sakral ke sekuler atau profan maupun sebaliknya yang terjadi dalam masyarakat Bengkulu menyebabkan perubahan (motivasi dan stimulasi) ini dapat diterima oleh masyarakat dan bisa menyatu dalam kehidupan bermasyarakat.  Pengaruh globalisasi dan hegemoni pada perubahan musik Dol menjadikan kesenian ini sebagai industri budaya, materi kreatifitas seniman, pariwisata, pencitraan dan inovasi pada pendidikan. Musik Dol tumbuh menjadi kebudayaan seni pertunjukan baru yang menggeser  keberadaan pesta rakyat ritual Tabot pada saat ini. Hal ini tampak jelas dalam perkembangan musik Dol semakin meluas secara kuantitas dan kreatifitas.Transformation signifies meaningful change in form and is a complete physical and nonphysical reconfiguration (form, likeness, nature, function, etc.). Transformation is representative of both intended change that is still indicative of the origins of an object and the changes that are not indicative of showing any similarity with the object in its original form. The dynamics of globalization and hegemony that have affected change in Dol music as Tabot ritual musicality is used deliberately for entertainment, artist's creativity, imaging, education, and tourism. Long-term and gradual phenomena are linear and hierarchical, from sacred to secular or profane (commodification), from idealism to industrial idealism and imaging (economy), and from purpose to order (creativity). The method used in this research is qualitative method. The theory used to analyze the problems of hegemony theory, popular culture theory and social practice theory. The result of the research of the influence of globalization and hegemony on the musical change of Dol from sacred to secular or profane and vice versa that happened in Bengkulu society caused change (motivation and stimulation) that is accepted by society and can be instrumental in united  society life. The influence of globalization and hegemony on the change of Dol music makes this art  take form as cultural industry, artistic creativity, tourism, imaging and innovation in education. So Dol music becomes an icon of Bengkulu Province and flourishes into a new performance art culture that shifts the existence of Tabot ritual folk feast. This is evident as the development of Dol music is widespread in quantity and creativity.
Desain Ilustrasi Foto Pada Baju Kaos Dengan Media Fotografi Digital Pendukung Pariwisata Budaya Di Pura Tanah Lot Dan Taman Ayun I Made Saryana; Anis Raharjo; Amoga Lelo Octaviano
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan industri kreatif dengan menerapkan fotografi digital melalui pengembangan produk instan dengan desain ilustrasi foto pada baju kaos. Pemilihan Obyek wisata Pura Tanah Lot Tabanan dan Pura Taman Ayun Badung Bali, dijadikan obyek penelitian karena obyek wisata tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi pustaka. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dianalisis dengan menggunakan metode penciptaan seni, sehingga hasil análisis dapat dijadikan pedoman atau konsep dasar dalam pengembangan produk sovenir baju kaos. Penelitian ini dilakukan dengan (1) Mengidentifikasi berbagai jenis sovenir baju kaos yang dijual pada kawasan obyek wisata Tanah Lot Tabanan dan Pura Taman Ayun Badung Bali, baik dari bahan, desain ilustrasinya serta teknik pembuatannya. (2) Menganalisis harga, tingkat penjualan, serta bahan, desain ilustrasinya dan teknik pembuatannya.  (3). Melakukan eksperimen desain ilustrasi foto dengan fotografi digital dan pengolahan melalui komputer. (4) Pembuatan ilustrasi foto dan menerapkannya dengan fotografi dan sablon digital pada baju kaos.This research started with observation of several tourism destinations  in Bali such as Tanah Lot in Tabanan and Taman Ayun Badung. The observation is that by taking pictures of tourists and then selling it on photo printed  paper, profit margins are minimized. Furthermore, selling t-shirts as souvenirs on which the design is lacking in representation of the location show restricted and minimized monetization capabilities. Based on these observations, the researcher intends to conduct research while creating an innovative product which is capable of representing the aforementioned locations. Through implementation of digital photography and patternization modalities, designed photos can instantaneously be printed on the t-shirt, and automatically it may be worn by tourists. This technique can prove to have drastic impact upon the profit margins of vendors in comparison to conventional modalities. The aim of the research is to develop creative industry by applying digital photography through the development of instant product through creative design on t-shirts. The option to choose Tanah Lot and Taman Ayun temples because these toruism objects are of the most favorite tourism destinations steadily receive visitation from many tourists from all around the world. This research focuses on (1) The identification of T-shirts as souvenirs sold in Tanah Lot temple in Tabanan and Taman Ayun temple in Badung, based on  fabric, lllustration design and the production techniques. (2) Price analysis, seeling rank, fabric, illustration design and production techniques; (3) To conduct experimental photography llustration design through digital photography and computer-driven image processing; (4) The production of photo llustration and digital patterns on t-shirts. Data collection is taken based on observation, interviews and library research. The data is analyzed using art creation method therefore it can be used as guidance or a basic concept in developing t-shirts as souvenirs
Rekontruksi Nilai-Nilai Konsep Tritangtu Sunda Sebagai Metode Penciptaan Teater Ke Dalam Bentuk Teater Kontemporer Tatang Rusmana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.314

Abstract

Konsep filosofi Tritangtu Sunda, sebagai falsafah hidup masyarakat Sunda di Kabupaten Bandung. memiliki tiga makna penting tentang pembagian dunia, tiga dunia itu yakni Buana Nyungcung (Dunia Atas, simbolnya; Langit, Air, dan Perempuan), Buana Larang (Dunia Bawah, simbolnya; Bumi, Tanah, dan Laki-laki), dan Buana Pancatengah (Dunia Tengah, simbolnya; Batu, Manusia, Laki-laki dan Perempuan). Tritangtu Sunda merupakan perspektif penyatuan tiga dunia dalam kehidupan masyarakat petani. Penyatuan tersebut yaitu perkawinan Buana Nyungcung dengan Buana Larang, dan Buana Pancatengah-lah yang menyatukannya. Konsep Tritangtu Sunda berpengaruh terhadap seni tutur Wawacan yang lazim ditampilkan ke dalam Seni Beluk. Wawacan inilah yang ikut membentuk pikiran kolektif masyarakat Sunda. Wawacan yang menjadi sumber penelitian disertasi ini adalah “Wawacan Nata Sukma” yang ditulis anonim oleh masyarakat Banjaran, Kabupaten Bandung tahun 1833 M (abad ke-19) dalam masa “tanam paksa” untuk menanam kopi di Pangalengan. Tritangtu Sunda  akan difungsikan sebagai perangkat penciptaan seni teater berbasis teater kontemporer (terutama penyutradaraan). Penelitian menggunakan penajaman teori resepsi Isser, untuk mengaktualisasikan karya dengan cara yang berbeda, karena tidak ada tafsir tunggal yang benar (Culler, 2003). Pendekatan lain pendapat George Land dari teori transformasi, diartikan sebagai sebuah kreasi baru atau perubahan ke bentuk yang baru baik secara fungsi maupun strukturnya. “To transform”, berarti mengkreasikan yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, transformasi juga bisa berarti perubahan “polapikir”. Perangkat penelitian menggunakan metoda yang disarankan Schechner (2002 dan 2004) dan metode mise en scene yang dirumuskan oleh Patrice Pavis. The concept of the Sunda Tritangtu philosophy, is the life philosophy of the Sundanese community including in Bandung regency. Derived from this philosophy are three important meanings of the division of the world, the three worlds are Buana Nyungcung (Upper  world, its symbols: Heavens, Water, and Woman), Buana Larang (Underworld, symbols; Earth, Land and Man), and Buana Pancatengah (Middle world, symbol: Stone, Man, Man and Woman). The Sundanese Tritangtu is the perspective of the unification of the three aforementioned worlds in peasant life. The union is the marriage of Buana Nyungcung with Buana Larang, and Buana Pancatengah is the one that unites it. The concept of the Sundanese Tritangtu influences the art of Wawacan speech that is commonly integrated into the art of Beluk. Wawacan is a contributing factor in what helped shape the collective minds of the Sundanese people. Wawacan, which is the source of this dissertation research, is "Wawacan Nata Sukma”, written anonymously by Banjaran society, Regency of Bandung in 1833 AD (19th century) during "Cultuurstelsel" to grow coffee in Pangalengan. Sunda Tritangtu functions as a tool for the creation of theater based contemporary theater modalities (especially directing). This research uses Isser's reception theory, to actualize the work in different ways. There is no single correct interpretation (Culler, 2003). Another approach of George Land's opinion of the theory of transformation, defined as a new creation or change to a new form both in function and structure. "To transform", means creating a new one that has never existed before, transformation can also mean a change of "mindset". The research used Schechner's method (2004 and 2004) and the mise en scene method formulated by Patrice Pavis.
Konsep Garapan Dan Kreativitas Seni Teater “Rumah Dalam Diri” - Yusril
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.315

Abstract

Karya seni teater “Rumah Dalam Diri” memuat persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan personal manusia dalam waktu kapan saja. Fenomena-fenomena sosial dan budaya seperti arus globalisasi yang tidak terbendung membuat pintu-pintu terpaksa dibuka dan mempersilahkan budaya global itu untuk masuk. Pemakaian pintu menyimbolkan ruang yang seharusnya tertutup dan terbuka apabila dikehendaki oleh pemilik pintu itu sendiri. Akan tetapi ruang tidak lagi menjadi milik personal namun telah menjadi milik komunal yang menyebabkan siapapun berhak untuk membuka dan menutupnya. Artinya pintu-pintu telah terbuka untuk banyak negara. “Aku” dan “kami” telah bertukar menjadi “kita”. Tidak ada lagi ruang personal yang menyimpan persoalan-persoalan pribadi yang seharusnya bukan milik bersama. Namun kenyataannya, semua orang merasa memiliki apa yang dimiliki orang lain. Persoalan orang lain juga harus menjadi persoalan kita. Hal ini merupakan pemaksaan terhadap sesuatu yang semestinya tidak menjadi beban kita.Theater entitled “Rumah dalam Diri” contains problems happened in human’s personal environment in anytime. Social and cultural phenomena such as globalization that’s unstoppable result on doors that must be opened and then allow that global culture to enter. The use of door symbolizes room that’s supposed to be closed and opened whenever the door owner wants it to be opened or closed. However, room is no longer personal possession, it has become communal possession that causes anyone has a right to open and close the door. It means that doors have been opened for many countries. I and We has changed into We. There is no longer personal room that keeps personal problems that does necessarily not belong to communal possession. In fact, everybody feels that she has a right to possess everything’s owned by others. Someone else’s problem must become ours. This is a coercion toward something that’s necessarily not our problems.
Desain Kemasan Buah Pasca Panen Dengan Fungsi Higroskopis Melalui Pemanfaatan Komposit Limbah Kayu Dudy Wiyancoko; Imam Damar Djati; Slamet Riyadi; Bismo Jelantik
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.317

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan hasil pemanfaatan material ramah lingkungan untuk pengembangan desain kema­san buah, khususnya kemasan dari tahap pasca-panen hingga pasar pengecer. Studi kasusnya adalah kemasan buah mangga gedong gincu di beberapa wilayah di Jawa Barat. Sedangkan material ramah lingkungan yang dimanfaat­kan adalah tatal kayu yang mudah didapat sebagai limbah proses pengerjaan produk perkayuan. Hasil dari eksperi­mentasi penelitian ini adalah: (1) Tatal kayu memiliki fungsi higroskopis, yakni kemampuan untuk menyerap mole­kul air dan mampu menjadi material kemasan yang menahan buah agar tidak cepat busuk; (2) Desain kemasan buah yang dihasilkan dari bahan tatal kayu dapat dikembangkan sebagai wadah buah higroskopis dan kemasan buah secara moduler sehingga mudah untuk dibuat, dibawa, ditumpuk, dan digunakan oleh konsumen dengan tampilan yang dibuat menarik.This research aims to explain the potential and application of biodegradable material in fruit packaging design, specifically those prepared for post-harvest stage to the retail market. As a case study is packaging of mango ‘gedong gincu’ which is an excellent product of fruit farming in some regencies in West Java. Biodegradable material in this research is the use of wood shavings as a waste material obtained from woodworking process. The results of experimentation from this research are: (1) Wood shavings have hygroscopic function, that is having ability to absorb water molecules so the packaged fruit is not easy to rot; (2) The design of fruit packaging made from wood shavings can be developed as a hygroscopic fruit container and a modular packaging that is easy to make, deliver, stack, and used by the consumer with a good appearance.   
Perubahan Dan Keberlanjutan Tari Balanse Madam Di Lingkungan Masyarakat Nias Padang Novina Yeni Fatrina; Yan Stevenson
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.318

Abstract

Tulisan berjudul “Perubahan dan Keberlanjutan Tari Balanse Madam di Lingkungan Masyarakat Nias Padang“ bertujuan untuk mengungkapkan perubahan  tari Balanse Madam serta menganalisis keberlanjutannya. Tari Balanse Madam merupakan tarian kelompok yang terdiri dari pasangan penari laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Penampilannya diiringi secara live dengan alat musik barat seperti biola, gitar, tamburin, akordeon, dan set drum. Namun setelah banyak para pelaku seninya yang meninggal dunia, sehingga tari Balanse Madam mengalami perubahan. Perubahan terjadi pada penarinya, tidak harus orang yang sudah berumahtangga lagi, sedangkan musik iringannya no use life music. Analisa perubahan tari Balanse Madam diamati dari  tahun 1995 sampai tahun 2017.   Metode penelitian deskripsi kualitatif dengan pendekatan interaksi dan interpretasi analisis digunakan untuk mengungkapkan permasalahan tersebut. Pelacakan dilakukan dengan melihat dan menganalisa perubahan tari Balanse Madam pada perkembangan elemen pembentuk komposisi tarinya dari tahun 1995 sampai tahun 2017. Penelitian perubahan dan keberlanjutan tari Balanse Madam di lingkungan masyarakat Nias Padang dianalisis dengan menggunakan teori ketahanan budaya yang dikemukakan oleh Edi Sedyawati dan teori elemen pembentuk komposisi yang digunakan oleh R.M. Soedarsono. Hasil penelitian menunjukan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, berbagai hal mempengaruhi kondisi tari Balanse Madam, sehingga terjadi perubahan pada beberapa elemen pembentuk tari Balanse Madam. Adapun perubahan tersebut adalah (1) penari terdiri orang-orang yang masih remaja; (2) musik iringan mengalami perubahan irama dan terkadang diiringi musik rekaman. Pemakaian penari remaja dan musik rekaman merupakan salah satu bentuk keberlanjutan tari Balanse Madam. Inilah yang membuat tari Balanse Madam masih tetap bertahan dalam kehidupan masyarakat Nias Padang.The article entitled "The Change and Sustainability of Balanse Madam Dance in the Nias Padang Community" aims to reveal Balanse Madam dance changes and to analyze its sustainability. After many of its supporting artists died, many changes occurred in Balanse Madam dance, both in terms of dancers as well as the music of the accompaniment. Qualitative description research method with the approach of interaction and interpretation analysis was used to reveal this problem. The tracking was done by way of viewing and analyzing Balanse Madam dance changes on the development of forming elements in dance compositions from 1995 to present. The study of change and sustainability of Balanse Madam dance in Nias Padang society was analyzed by using culture endurance theory proposed by Edi Sedyawati and the theory of composition forming elements used by R.M. Soedarsono. The study  results showed that over time, various things affect the condition of Balanse Madam dance, resulting in changes in some elements of Balanse Madam dance formation. The changes are (1) the dancers, who used to be housewives, can now be performed by the dancers that are still teenagers; (2) music accompaniment, used to be played directly by musicians, but now can be accompanied by music recordings. The use of teen dancer and music recordings are a form of sustainability carried out in Balanse Madam dance.

Page 1 of 2 | Total Record : 16