MUDRA Jurnal Seni Budaya
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles
496 Documents
Literasi Media Kritis dalam Adaptasi Novel Salah Asuhan ke Sinetron dan Film
I Nyoman Suaka
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.972
Tujuan artikel ini untuk mengetahui hasil adaptasi dari teks novel Salah Asuhan ke film dan sinetron. Masalahnya adalah sejauh mana perubahan teks tersebut dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadi perubahan?. Masalah tersebut akan dikaji dari teori literasi media kritis dari Devito (2008), sebab peran media dan aktor-aktor media sangat menentukan keberhasilan sebuah program acara. Objek Penelitian adalah novel Salah Asuhan (2008) karya Abdul Muis, film Salah Asuhan (1972), sutradara Asrul Sani dan sinteron Salah Asuhan (1994), sutradara Ami Priyono. Data-data dalam film dan sinetron diperoleh melalui VCD Salah Asuhan. Data-data dikumpulkan dengan teknik catat dan audio visual. Berdasarkan analisis data, maka temuan penelitian adalah, film Salah Asuhan sutradara Asrul Sani merupakan adaptasi murni dari novelnya, sedangkan sinetron Salah Asuhan merupakan adaptasi bebas dari sutradara Ami Priyono. Sinetron tersebut berhasil menggali ide atau gagasan asli pengarang Abdul Muis. Teks novel Salah Asuhan yang beredar di pasaran merupakan karya yang sudah disensor oleh redaksi Volkslectuur, sebuah penerbitan di bawah pemerintah kolonial Belanda. Dengan demikian, melalui literasi media kritis dapat menempatkan teks Salah Asuhan dengan variasi masing-masing sesuai konteks zamannya.
Eksistensi Budaya Pappaseng Sebagai Sarana Pendidikan Moral
Dewi Handayani;
Sunarso Sunarso
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.974
This study aims to analyze the importance of the existence of Pappaseng culture as a moral education suggestion for young people so that they have character and wise attitudes and behaviors in the midst of globalization. Pappaseng is a traditional literary work which is a work of art that uses language as a medium in presentation, passed down from generation to generation as a will in the Bugis tribe. The method in this research uses a qualitative approach with ethnographic design. Research subjects were sixteen South Sulawesi female student dormitories in Yogyakarta. Data collection techniques through in-depth interviews and literature study. The research results show that the development of the times has made Pappaseng's values ​​gradually eroded in some individuals, but there are still many people who still maintain Pappaseng culture because it is a life guide inherited from ancestors and the values ​​contained in Pappaseng culture are relevant to the values Islam. The importance of culture-based education because it can improve the quality of human life such as Pappaseng which can be used as a means of moral education and character building for humans. Keywords : Culture, Pappaseng, Moral Education
Animasi sebagai Media Pendidikan Karakter Berbasis Tri Kaya Parisudha untuk Anak-Anak
I Gusti Agung Rangga Lawe;
Irfansyah Irfansyah;
Hafiz Aziz Ahmad
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.975
Pendidikan karakter sangat penting untuk diberikan pada anak sejak dini, terutama saat ia berada dalam fase imitasi, di mana anak belajar meniru perangai seperti cara bicara dan cara bersikap yang diambil dari model yang diteladani. Meniru dengan keteladanan mengajarkan anak untuk mengembangkan moral, sosial dan spiritual mereka. Salah satu landasan pendidikan karakter dalam Hindu adalah ajaran Tri Kaya Parisudha, yang terdiri dari Manacika, Wacika, dan Kayika. Ajaran ini sangat penting untuk dipahami dan diamalkan oleh anak di kehidupan sehari-hari, karena akan membentuk sifat integritas dan jati dirinya. Keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan agar selalu berada di jalan yang baik dan benar dalam Tri Kaya Parisudha dapat disampaikan menggunakan pendekatan keteladanan, yaitu proses meniru perilaku yang diperagakan oleh model/idola yang disukai mereka. Di era modern, penerapan pendidikan karakter bisa dilakukan dengan bantuan media eksternal seperti animasi. Konsep pendidikan karakter dikemas lewat tokoh animasi dan dapat dijadikan model/idola oleh anak untuk ditiru. Selain itu, nilai yang terkandung lewat cerita di animasi juga dapat terbawa sampai anak tumbuh dewasa, dan dijadikan referensi olehnya saat dibutuhkan. Adanya ikatan emosional anak pada karakter animasi menyebabkan anak meniru gaya/gerak karakter tersebut, hingga turut merasakan apa yang dirasakan karakter itu. Selain itu, cerita dalam animasi juga memberikan pengalaman baru bagi anak untuk dijadikan pembelajaran dalam pembentukkan karakternya. Sebagai media pembelajaran, animasi dapat menunjang aspek kognitif anak dengan cara mengingat apa yang ia dapat di animasi tersebut, untuk kemudian ditiru agar dapat membentuk karakter mereka.
Buku Seni (Artist’s Book) Sebagai Media Diplomasi Budaya Indonesia-Jerman
Agus Dody Purnomo;
Toni Masdiono
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.992
Seni merupakan alat yang ampuh sebagai sarana diplomasi damai (soft diplomacy) dalam pergaulan dunia saat ini. Melalui seni jati diri suatu bangsa dapat dikenal oleh masyarakat dunia. Seni juga dapat menjadi penyeimbang dalam kehidupan yang serba seragam di era global. Buku seni (artist’s book) sebagai salah satu bentuk karya seni rupa dapat menjadi sarana diplomasi budaya dengan negara Jerman. Buku seni merupakan media ungkap ekspresi dari seniman sehingga buku seni memiliki bentuk dan tampilan yang unik. Buku seni juga berbeda dengan buku-buku pada umumnya dimana di dalamnya berisi teks dan ilustrasi. Buku seni juga dicetak dalam edisi terbatas sehingga semakin memberikan kesan ekslusif. Folklor lisan yang berkembang di tanah Sunda menjadi sumber ide untuk isi buku seni. Sedangkan medium buku seni menggunakan kertas Daluang salah satu kertas tradisional yang berkembang di tanah air. Dari aspek isi dan medium kertas yang digunakan mencerminkan kekayaan budaya yang ada di Nusantara. Perlu dipahami bahwa di era global keunikan dan keragaman budaya Nusantara dapat dipakai untuk bersaing dengan bangsa lain. Melalui kegiatan workshop dan pameran buku seni di Berlin, Jerman menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya Nusantara ke luar negeri.
Makna Konotasi Rebranding Logo TVRI
Sumbo Tinarbuko
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.993
Tulisan ini dibuat guna memahami makna konotasi pada tanda serta pesan komunikasi visual yang terkandung dalam rebranding logo TVRI. Bagi desainer komunikasi visual, mempelajari dan memanfaatkan semiotika komunikasi visual untuk memahami tanda verbal dan tanda visual serta makna konotasi rebranding logo TVRI menjadi sangat penting. Hal penting lainnya, desainer komunikasi visual sebagai produsen tanda akan lebih kreatif dalam menciptakan tanda verbal dan tanda visual serta pesan verbal dan pesan visual. Tulisan ini dibuat menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan dan menginterpretasikan makna konotasi rebranding logo TVRI berdasarkan bangunan teori semiotika, teori desain komunikasi visual dan teori branding. Metode analisis semiotika komunikasi visual ditawarkan dan digunakan sebagai metode analisis tanda dan pesan komunikasi visual rebranding logo TVRI. Prosesnya dilakukan dengan memanfaatkan analisis Triadik Sumbo Tinarbuko. Konsep analisis Triadik Sumbo Tinarbuko penulis ciptakan untuk mengidentifikasikan, mendeskripsikan dan memahami makna konotasi tanda verbal dan tanda visual serta pesan verbal dan pesan visual yang terkandung dalam rebranding logo TVRI.
Pendidikan Karakter Dalam Cerita Rakyat Rajapala
Ni Nyoman Karmini
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.994
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pendidikan karakter dalam cerita rakyat Rajapala. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dengan teknik catat. Data dianalisis dengan metode hermeneutika dan verstehen. Hasil penelitiannya, pendidikan karakter yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional terkandung dalam cerita rakyat Rajapala. Dari penelitian ini diperoleh dua temuan. Pertama, memiliki karakter yang baik akan dijadikan panutan dan dihargai oleh orang lain. Kedua, generasi muda yang mandiri, disiplin, kerja keras, kreatif, tanggung jawab serta arif bijaksana tentu mencapai prestasi puncak, dihargai dan dihormati oleh orang lain (seperti tokoh Durma dalam cerita). Hasil penelitian disajikan secara deskriptif dengan teknik induktif-deduktif.
Religiusitas Sasolahan Sanghyang Bungbung Di Pura Dalem Sindu Sanur (Sebuah Studi Teo – Estetik)
I Nyoman Linggih
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.995
Sesungguhnya Tari Sanghyang merupakan jenis tari peninggalan di zaman Bali kuna, namun salah satu tari Sanghyang yang tergolong langka, sebagai seni tari religious magis terdapat di Pura Dalem Sindu, Kelurahan Sanur adalah; Sanghyang Bungbung, oleh masyarakat disebut Ratu Alit. Sanghyang Bungbung merupakan sebuah tari Wali (Sakral) dengan menggunakan sepotong bungbung (seruas bambu berlubang) sebagai alas Pratima, pralingga (tempat berstananya para Dewa). Pratima atau Pralingga yang dibuat berbentuk muka manusia berjumlah 12, yaitu; 6 buah laki-laki, dan 6 buah wanita dibuat dari pohon jepun yang tumbuh di Pura Dalem Sindu Sanur di masa yang silam oleh Ida Pedanda Gede Rai yang kesah dari Grya Sindu Sidemen Karangasem menetap mendirikan Grya Sindu Sanur, ketika pemerintahan Raja Denpasar, beberapa tahun sebelumnya pecah perang Puputan Badung 20 September 1906. Hingga saat kini Sanghyang Bungbung, dilestarikan sebagai Tari Wali untuk menetralisir yaitu; harmonisasi alam niskala dan sekala. Sanghyang Bungbung sebagai perwujudan Ratu Alit (Widyadara-Widyadari) yang turun dari Kahyangan ke bumi, dengan menari Janger menghibur Ratu Gede Nusa yang bergelar Bapak Poleng dengan iringan 1500 Wong Samar berpakaian serba poleng membawa pedang, tombak, dan sebagainya, untuk mencari manusia sebagai labaan (kurban) pada sasih keenem. Ratu Alit yang bergelar nama bunga yaitu; Sekar Jepun, Sekar Gadung, Sekar Pudak, sekar Sandat, Sekar Jempiring, Sekar Soka, Sekar Madori Putih, Sekar Anggrek Geringsing,Widyadari Tunjung Beru, Widyadari Tunjung Bang, Widyadari Tunjung Putih, dan Widyadari Sang Supraba menari untuk memendak, menghibur Ratu Gede Nusa selama enem sasih, mulai sasih Tilem Kapat hingga Purnama Sasih Ke Dasa. Ratu Alit mapalawatan Sanghyang Bungbung masolah mendak Ida Ratu Gede Nusa setiap Tilem Kapat di Pantai Sindu Sanur, setiap Kajang Kliwon di Pempatan Agung Sindu Sanur, setiap Purnama di Pura Dalem Sindu Sanur. Sasolahan Sanghyang Bungbung merupakan tarian Religus Magis yaitu penuh keaajaiban, dengan kekuatan yang luar biasa menari Janger, tidak hanya membuat penonton terhibur, tetapi juga Ida Ratu Gede Nusa terperangah, terpesona dengan tarian Jangernya Ratu Alit, hingga Ratu Gede Nusa mengurungkan niatnya untuk mencari manusia sebagai labaan (kurban) sasih keenem (Teo-Estetik).
The Study of Lisung-Halu as the Personification of Women in Mythical World In World View of Agrarian Sundanese
Tiara Isfiaty;
Imam Santosa
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.997
Lisung paired with halu is one of the traditional Sundanese farming tools that has a practical function as a pestle/grain pounder into rice. From the perspective of the world view of Sundanese, lisung-halu is a cultural product that is born from the mythical logic of Sundanese. It is the manifestation of the values, norms, characteristics, desires and beliefs of agrarian Sundanese. It is the personification of male and female in world’s top (mythical world). Sundanese are oriented towards awareness of their origins. Men are considered stronger than women. But in the context of lisung-alu, the role becomes reversed. This article is descriptive qualitative by using the theory of psycho-analysis from Carl Gustav Jung to study the physical of lisung-halu (awareness output) as the personification of women in the mythical world (unconscious output) within the framework of the world view of agrarian Sundanese. The approach which is taken in this article is the cultural approach because this article is an attempt to understand the facts that refer to something. This writing is in order to generate insight and knowledge about the values of life and beliefs of the agrarian Sundanese which is contained in lisung-halu through the personification of women in mythical world.
Minahasan Vernacular House; Values, Meanings, And Forms
Ronald M P Kolibu;
Agus Sachari;
Pindi Setiawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.998
House is one of human’s three primary needs. It is developed alongside human civilization. Minahasa as a part of that civilization developed vernacular architecture based on their culture’s unique values, meanings, and forms. This article is a part of research concerned in answering the questions of (1) how are the knowledge and technology used by Minahasan to build their vernacular house, (2) how are the shape and form of Minahasan vernacular house in Minahasa’s cultural development, and (3) what are the value and meaning of Minahasan vernacular house for its people. These three questions were being addressed in this research by using qualitative method with ethnographic approach, where every steps and results will be described by interpretation of several patterns from the values, meanings, and forms found in the research process. Ethnography was utilized to see phenomena in this research. The results are identification of values, meaning, and forms development in Minahasan vernacular house.
Potential Management Development Of Batik Small-Medium Enterprise In Pilang Village, Sragen
Asri Laksmi Riani;
Edi Kurniadi;
Mohammad Cholil;
Mohammad Amien Gunadi;
Atmaji Atmaji;
Agung Prabowo
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i1.999
The study was conducted in Batik Small-Medium Enterprise (Batik SMEs) in Pilang Village of Sragen Regency. Pilang village is one of the producers of Batik, it considerably contributes to the Batik market in Solo region. The study was aimed at finding out the condition and the potential of development through management comprising financial, human resource, marketing, and production management. The Descriptive quantitative method was employed, the respondents were ten SMEs Batik entrepreneurs. The study found that SMEs relied on traditional and limited financial management methods. It was also found that their marketing aspect had not adopted a modern marketing and promotion strategy. Their production has run well, however they face hindrances in product innovation and design with local characteristics. Then, human resource management also faced obstacles in on time delivery, creativity, and payment system.