cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 (2015): November" : 25 Documents clear
Fenomena Reproduksi Kerajinan Gerabah Serang Banten Di Bali I Wayan Mudra; Ni Made Rai Sunarini
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.358 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.169

Abstract

Selama ini produk kerajinan gerabah yang dipasarkan di Bali terdiri dari berbagai jenis gerabah daerah yang langsung dipasarkan di Bali namun tidak diproduksi di Bali, seperti gerabah Lombok, Yogyakarta maupun gerabah dari Jawa Timur. Gerabah dengan ciri khas Serang Banten justru dibuat di Bali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan reproduksi gerabah Serang Banten di Bali, seperti faktor-faktor yang menyebabkan direproduksi di Bali, pemasaran, peran pemerintah daerah dan tenaga kerja usaha kerajinan tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam menentukan sampel adalah teori porposive sampling dan snowballing sampling. Lokasi penelitian yaitu di Kota Denpasar. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan gerabah Serang Banten direproduksi di Bali yaitu pemilik usaha menghindari kerugian akibat biaya transportasi yang tinggi dan produk sering pecah di jalan jika masih memesan di Serang Banten. Faktor yang lain adalah pemilik usaha dapat melayani pembuatan produk sesuai pesanan calon konsumen, dan gerabah Serang Banten memiliki keunikan. Peluang pasar produk gerabah Serang Banten di Bali sampai 2015 ini dapat dikatakan cukup baik, konsumennya dalam negeri dan luar negeri. Pemerintah daerah belum berperan maksimal dalam meningkatkan usaha kerajinan ini. Tenaga kerja usaha kerajinan ini masih menghandalkan tenaga kerja dari daerah Serang Banten Jawa Barat.So far pottery products which are marketed in Bali consist of various types of local pottery areas that directly marketed in Bali, but is not produced in Bali, such as Lombok, Yogyakarta and East Java potteries. The characteristik of Serang Banten pottery is precisely made in Bali, the purpose of this research is to determine the various issues related to the reproduction of Serang Banten pottery in Bali, as factors that cause it reproduced in Bali, marketing, the role of local government and the craft industry workforce. The approaches used to determine the samples are purposive and snowballing sampling. The location of research is in Denpasar city. The data collection techniques used observation, interview and documentation techniques. The results obtained from this research are the factors that caused the Serang Banten pottery reproduced in Bali is that, the business owner avoiding losses caused by high transportation costs and the products are often broken on the street if still booked at Serang Banten. Another factor is that the business owner can serve the manufacture products to suit the prospective customer orders, and the Serang Banten pottery has a uniqueness. The Serang Banten pottery products market opportunities in Bali through 2015 are quite good, its consumers are from domestic and overseas. The local government has not maximally contribute in enhancing this craft industry. The craft business manpower still rely on the labor from Serang Banten, West Java.
Identifikasi Kesenian Etnis Sasak, Etnis Bali Dan Seni Akulturasi Di Kota Mataram Ida Ayu Trisnawati; I Gusti Lanang Oka Ardika; I Nyoman Kariasa
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.531 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.170

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kesenian etnis Sasak, Etnis Bali dan seni akulturasi di Kota Mataram. Hasil identifikasi selanjutnya dikemas dalam bentuk DVD Seni Pertunjukan dengan tema yaitu Untaian Mutiara Gumi Sasak. Cerita dalam DVD dibalut dengan kisah Dewi Rengganis yang nantinya memunculkan potensi seni dan etnis di Kota Mataram sehingga bisa menjadi tujuan wisata dunia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehidupan masyarakat Kota Mataram cukup harmonis walaupun terdiri dari berbagai etnis seperti etnis Sasak sebagai penduduk asli, etnis Bali, Jawa, Melayu dan sebagainya yang merupakan penduduk pendatang. Keharomisan ini terbukti dari adanya pemahaman tentang keberadaan kotanya yang pluralisme, kemudian di praktekan dalam kehidupan yang toleransi sehingga menciptakan suatu kehidupan rukun yang menjadi modal masyarakat dalam mengembangkan diri. Situasi yang harmonis ini menarik sehingga diwujudkan dalam sebuah seni kolaborasi dengan tema Untaian Mutiara Gumi Sasak yang berceritakan tentang keberagaman seni budaya di Kota Mataram yang hidup harmonis. Cerita ini di balut dalam kisah Dewi Rengganis yang merupakn cerita asli suku Sasak. Hasil seni kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu nilai jual sekaligus produk wisata alternatif yang bisa membantu mewujudkan kota Mataram menjadi salah satu tujuan wisata dunia.This research is intended to identify the arts of Sasak ethnic, Bali ethnic and the arts acculturation in Mataram city. Next the results of identification is packed in performing arts DVDs in theme Untaian Mutiara Gumi Sasak (The Pearl Strands World Of Sasak). The DVD tells the story of Dewi Rengganis which later raises the potential of art and ethnicity in Mataram so it became a world tourism destination. The research shows that the society life of Mataram city quite harmonious although consists of different ethnicities such as ethnic Sasak as a native, Bali, Java, or Malay ethnic and many others which is a resident immigrants. The harmony proven by the notion of the existance of pluralism in the city, then practiced into a tolerance life thus creating a along well life which became the community asset to develop themselves. This harmonious situation is very interesting so that manifested in an art collaborations with theme Untaian Mutiara Gumi Sasak which tells about the art and culture diversity in Mataram city who lives in harmony. This story is made from the story of Dewi Rengganis which is the original story of Sasak tribe. The results of this collaborative art expected to become one of the selling points as well as an alternative tourism product which be able helped the materialize of Mataram city became one of the world's tourist destination.
Pelestarian Prasi Dengan Teknologi Digital Ida Bagus Kt. Trinawindu; Cok Alit Artawan; I Wayan Agus Eka Cahyadi
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.966 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.171

Abstract

Lontar sudah ada dari sejak jaman nenek moyang masyarakat Hindu Bali, sebuah tradisi tua di Bali yang sudah melewati masa keemasan beratus-ratus tahun lamanya. Selain lontar yang disebutkan di atas, ada jenis lontar yang memuat berbagai cerita yang dituliskan dan digambarkan / divisualisasikan sarat dengan makna dan nilai estetika yang tinggi. Lontar yang ada di Bali biasanya berisi mantra-mantra suci untuk berbagai aktivitas masyarakat Hindu Bali. Didalam Lontar-Lontar tersebut tersurat dan terkandung berbagai macam ilmu pengetahuan tentang agama, filsafat, etika, arsitektur, astronomi, pengobatan dan lain sebagainya. Salah satu contoh adalah Lontar Prasi yang terdapat di Desa Tenganan Pegringsingan yang berada di Karangasem-Bali. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang diarahkan pada kondisi asli subyek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Hermeunetik, yang merupakan jenis pengetahuan ilmiah bersifat interpretatif. Dengan adanya perkembangan teknologi seperti sekarang ini maka diharapkan warisan budaya yang telah ada dari sejak beratus-ratus tahun yang lampau ini dapat terekam dalam media digital yang nantinya dapat menjadi sebuah pustaka digital tentang Lontar Prasi dan mampu menjadi pelopor dalam melestarikan warisan budaya yang direkam ke dalam media digital dengan memanfaatkan teknologi komputer sehingga diharapkan agar warisan budaya ini dapat terselamatkan dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita di masa yang akan datang. Terciptanya produk baru dari seni prasi dalam bentuk yang berbeda yaitu dalam bentuk digital yang dapat diakses dengan mudah oleh generasi muda sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam prasi tersebut dapat dipahami dan dimaknai oleh pembacaLontar already exist since the days of the Balinese ancestors of Hindu society, an old tradition in Bali which already past the golden age for a hundreds of years ago. Besides the above-mentioned of lontar, there are types of of lontar that contains various stories described and illustrated/visualized with full of meaning and  high aesthetic values. Balinese lontar usually contains of sacred mantras for various Balinese Hindu community activities. Inside those various types of lontars there are an explicit meaning and contains of various kinds of knowledge such as religion, philosophy, ethics, architecture, astronomy, medicine and many others. One of the examples is Prasi palm lontar which is located in the village of Tenganan Pegringsingan in Karangasem regency, Bali. This research is a qualitative research, which is pointed on the original condition of the subject research. This research is conducted by using hermeneutic approach, which is interpretative scientific knowledge. With the technology development like today it is expected that the already existing cultures heritage which has existed since hundreds years ago could be recorded on a digital media which later can be a digital library of the Prasi lontar and able to be a pioneer in preserving the cultural heritage that were recorded onto digital media using computer technology it is expected that it can be preserved and enjoyed by our children and grandchildren in the future. The creation of a new products from the art of Prasi in different forms that is in a digital form which can be easily accessed by the younger generation so that the values contained in Prasi could be understood and interpreted by the reader.
Industrialisasi Musik Pop Bali: Ideologi, Kepentingan, Dan Praktiknya Ni Wayan Ardini
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.726 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.172

Abstract

Musik pop Bali mengalami industrialisasi sejak dasa warsa 1990-an ketika perkembangan teknologi, system ekonomi, dan budaya music baru mendorong secara massif kelahiran studio-studio rekam, musisi-musisi, dan produk-produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk industrialisasi musik pop Bali di wilayah Provinsi Bali; ideologi dan kepentingan yang bekerja di dalamnya; dan praktik pergulatan maknanya secara ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan, sepanjangduasetengahdasawarsaini, industrialisasi musik pop Bali berlangsung dalam bentuk produksi, distribusi, dan konsumsinya di wilayah Provinsi Bali akibat adanya jalinan kekuasaan budaya, kekuasaan kapital, dan kekuasaan media. Secara musikalitas, musik pop Bali cenderung semakin tidak Bali dalam tangga nada, lirik/syair, gaya penyajian, dan alat musik.Beragam genre dan nuansa musik pop Bali diproduksi padahal sebenarnya bersifat standar. Di dalamnya, kapitalisme secara halus berhasil mengendalikan ideologi-ideologi lainnya, yakni popisme, politik budaya lokal, dan kulturalisme. Tercipta kesadaran palsu bahwa musik pop Bali merupakan kebutuhan masyarakat dan demi pelestarian kebudayaan Bali. Banyaknya pihak yang terlibat memunculkan pergulatan antarpihak tersebut, yakni artikulasi yang berbeda-beda atas makna-makna yang ada untuk kepentingannya masing-masing.Balinese pop music has got industrialized at the decade of 1970’s since the technological progress, economic system, and new musical culture massively drove to the born of related recording studios, musicians, and products. This study is to comprehend the form of industrialization of Balinese pop music in Bali Province; the ideologies and interests that work behind; and the practice of meaning struggles among all parties engaged economically, socially, culturally, and politically. Data collecting covers techniques of interview, observation, and document studies. The result of study shows that for more than the Balinese pop music industrialization have been occurring in the forms of production, distribution, and consumption in all areas of Bali Province because of the system of cultural power, capital power, and media power. In the musicality aspects, the Balines pop music tends to lose their balineses in their tone scales, lyrics, performance styles, and instruments. For the sake of market, various musical genre and nuance are created although, in fact, they are standard. In the industrialization, capitalism ideology can smoothly control other ideologies, such as popism, politics of local culture, and culturalism. A false consciousness, that Balinese pop music is the need of the society and for the conservation of the Balinese culture, is constructed. So many parties involved in it, so that there are struggles among them, i.e. different articulations towards meaning for the interests they have.
Revitalisasi Tari Janger Lansia Di Kelurahan Tonja Denpasar Ni Made Ruastiti; I Wayan Suharta; Ni Nyoman Manik Suryani
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.489 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.173

Abstract

Tari Janger Lansia merupakan sebuah kesenian yang dirancang khusus untuk para lansia. Hal itu dapat diamati dari koreografi, tata rias busana, dan tempo iringan musik tarinya. Tari Janger Lansia penting untuk direvitalisasi mengingat selama ini tari tersebut telah terpinggirkan dan tidak berkelanjutan lagi. Tujuan riset ini dilakukan untuk merevitalisasi model Tari Janger Lansia di Kelurahan Tonja dalam rangka membangkitkan kembali semangat para lansia itu berkesenian. Riset implementatif ini dilakukan di Kelurahan Tonja dengan mempertimbangkan tingkat populasi dan potensi berkesenian para lansia di daerah tersebut memadai. Untuk itu, riset yang dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya implementatif partisipatoris ini menjadikan para lansia tersebut sebagai informan, yang memberi informasi tentang berbagai permasalahan terkait dengan ketidaksesuaian model tari itu bagi kondisi fisik mereka, sementara para seniman yang turut dalam kegiatan revitalisasi tersebut dijadikan informan kunci untuk mengungkap, sekaligus memberikan saran yang bermanfaat. Dengan demikian Tari Janger Lansia yang sebelumnya terpinggirkan itu akan dapat bangkit dan hidup bergairah kembali.Tari Janger Lansia, the Janger dance which is performed by the elders is particularly designed for the elders. That can be observed from its choreography, clothing, cosmetics, and the music which accompanies it. It is important to revitalize it as it has been marginalized and discontinued. This present study is intended to revitalize the model Tari Janger Lansia as an attempt to make the elders motivated again to get involved in arts. The study was conducted at Tonja Subdistrict for the reason that the number of the elders and the potential they have to get involved in arts are adequate. The qualitative method, especially the participatory implementative one, was used, meaning that the elders were used as the informants who could give information on the matters pertaining to the model which is physically impracticable to them. The informants involved in the revitalization were used as the key ones who revealed what the model was like and gave useful suggestions. The Tari Janger Lansia, which had been marginalized, would be resurrected and revitalized again.
Revitalisasi Musik Tradisional Prosesi Adat Sasak Sebagai Identitas Budaya Sasak I Gede Yudarta; I Nyoman Pasek
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.462 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.175

Abstract

Masyarakat Sasak sangat kaya dengan budaya musik, khususnya musik tradisional. Di samping gendang beleq yang sudah dipakai sebagai ikon dan disahkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh UNESCO, terdapat berbagai jenis musik tradisional lainnya seperti: tawaq-tawaq, barong tengkoq, kelentang, rebana gending, gula gending, tambur, gong suling yang juga merupakan tradisional yang lahir dari tradisi dan budaya Sasak serta menjadi identitas budaya Sasak.  Keberadaan berbagai jenis seni musik tradisional tersebut, jumlahnya semakin menyusut bahkan beberapa diantaranya mengalami kepunahan. Mengamati fenomena tersebutlah topik ini perlu diangkat, dikaji dalam bentuk penelitian ilmiah, sehingga pemahaman terhadap keberadaan musik tersebut bisa diperkuat kembali. Revitalisasi sebagai salah satu upaya untuk mengangkat kembali seni musik tradisional sebagai salah satu ikon dan identitas budaya Sasak sangat penting untuk dilaksanakan. Sebagai langkah awal dalam revitalisasi akan dilakukan identifikasi serta mendiskripsikan terhadap jenis-jenis ensambel musik prosesi yang terdapat dalam tradisi budaya masyarakat Sasak. Hal ini dilaksanakan agar dapat diketahui jenis-jenis ensambel dengan berbagai instrumen yang terdapat di dalamnya serta keberadaannya di dalam berbagai jenis prosesi ritual adat Sasak. Untuk dapat menganalisa, identifikasi serta diskripsinya dipergunakan metode diskriptif kualitatif melalui pendekatan musikologis dan etnomusikologis dengan dukungan beberapa teori yang terkait dengan bentuk dan struktur musik.Sasak communities were very rich with musical culture, especially traditional music. In addition to beleq drum which has been used as an icon and passed as one of the intangible cultural heritage by UNESCO, there are various types of traditional music such as tawaq-tawaq, barong tengkoq, kelentang, rebana gending, gula gending, tambur, gong suling which also is traditionally born of tradition and culture as well as being a cultural identity Sasak. The existence of various types of traditional music, the numbers dwindling even some of them to extinction. Observing the phenomenon on this topic is exactly needs to be raised and studied in the form of scientific research, so an understanding of where the music existence can be reinforced. Revitalization as an effort to revive traditional music as one of the Sasak culture icons and identities is very important to be implemented. As the first step in the revitalization it will be identifications and descriptions on musical ensembles procession types contained in Sasak community cultural traditions. This step is performed to determine the types of ensembles with various instruments contained in it as well as its presence in various types of indigenous Sasak ritual procession. Qualitative descriptive method through musicological approach and ethnomusicology is used to be able to analyze, identify, and describe the descriptions with the support on several theories related to the form and structure of the music.
Aplikasi Prinsip-Prinsip Desain Pada Tampak Depan Hotel I Made Jayadi Waisnawa; Toddy Hendrawan Yupardhi
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.336 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.199

Abstract

Fenomena desain tampak depan hotel yang memiliki berbagai macam bentuk terkesan memberikan dampak negative terhadap budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mempertimbangkan tampak depan(fasade) hotel sebagai media pelestarian budaya lokal melalui aplikasi prinsip-prinsip desain serta hubungannya dalam mencapai estetika. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kulaitatif dengan purposive sample. Kriteria dari sample adalah hotel berbintang empat yang memiliki susunan elemen desain. Beberapa tahapan dalam penelitian ini seperti menentukan rumusan permasalahan, dilanjutkan dengan mengumpulkan data yang akan dipergunakan dalam memecahkan permasalahan, kemudian menentukan alat dalam pengumpulan data yaitu servey, observasi, landasan teori dan dokumentasi dan menentukan teknik pendekatan dalam desain untuk menganalisis data. Dari 10 hotel yang dijadikan sample, hanya 1 hotel yang mengaplikasikan budaya lokal. 10 hotel lainnya hanya berorientasi pada susunan elemen desain. Beberapa bidang pada tampak depan hotel seharusnya berorientasi pada pengaplikasian budaya lokal. Aplikasi prinsip desain yang banyak dipergunakan adalah ritme visual, keseimbangan dan harmoni. Prinsip ritme banyak teraplikasi melalui bentuk persegi pada elemen pembentuk ruang.Prinsip harmoni diciptakan melalui aplikasi warna, material dan elemen/ unsur desain.The phenomenon of design facade hotel that has impressed provide various forms of negative impact on the local culture. This study aims to consider the visible front (facade) hotel as a media preservation of local culture through the application of the principles of design and its relationship to achieve a esthetic. The method used in this research is descriptive qualitative with purposive sample. The criteria of sample is a four-star hotel that has a composition design elements. Several stages in this study such as determining the formulation of the problem, followed by collecting data to be used in solving the problem, then determine the data collection tool that is surveyed, observation, documentation and determine teoridan foundation engineering design approach to analyze the data. From 11 hotels sampled, only one hotel which is applying local culture. 10 more hotels only oriented to the arrangement of design elements. Some areas of the facade of the hotel should be oriented towards the application of the local culture. Application design principles are widely used visual rhythm, balance and harmony. The principle of rhythm much applied through a square shape on the forming element ruang.Principle harmony created trough the application of colour, material and elements of the design.
Pengembangan VCD/DVD Dalam Pembelajaran Seni Budaya Tari Jaran Teji Pada Siswa SMA Negeri 8 Denpasar Ni Wayan Iriani; Ni Wayan Mudiasih
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.582 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.200

Abstract

Tari Jaran Teji adalah tari yang memadukan gerak tari laki dan perempuan yang menggambarkan penyamaran Dewi Sekar Taji dengan putri pendamping ketika mengembara mencari kekasihnya Raden Inu Kerta Pati yang menghilang dari Istananya. Dewi Sekar Taji bersama pendampingnya menyamar menjadi penunggang kuda yang gagah perkasa dan tak ada yang dapat mengenalinya dengan berpakaian laki-laki. Tari Jaran Teji bercirikan gerak yang menirukan binatang kuda. Penciptanya I Wayan Dibia tahun 1985, ia membuat tarian ini terinspirasi dari tari Sanghyang Jaran yang sakral. Gerak-gerak Sanghyang Jaran kemudian dipadukan dengan gerak-gerak tari klasik Bali dan Jawa. Struktur pertunjukan tari kreasi baru Jaran Teji ini dimulai dari Pengawit, Pengawak, Pengecet, dan Pekaad. Proses belajar mengajar di studio perlu dikombinasikan dengan pengembangan pembelajaran pada Mata Pelajaran Seni Budaya pada klas 7 IPS Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Denpasar, dengan metode ceramah dan dilanjutkan demontrasi gerak. Ssiswa mengikuti contoh ragam gerak yang sudah dirancang dan direkam melalui VCD disesuaikan dengan Struktur tarinya. Tari kreasi baru jaran Teji dalam penampilannya berpolakan tradisi dan dikembangkan dengan ekspresi yang dimiliki oleh setiap individu berdasarkan karakter tarian tersebut, dipadukan unsur-unsur tenaga, ruang dan waktu.Jaran Teji dance is a dance that combines dance depicting male and female impersonation daughter Dewi Sekar Taji with a companion when Raden Inu wander looking for his girlfriend who disappeared from Kerta Pati palace. Dewi Sekar Taji together companion posing as a valiant horseman and nobody could recognize them dressed men. Jaran Teji dance that mimicked the movement of animals is characterized by a horse. I Wayan Dibia creator in 1985, he made this dance inspired Sanghyang Jaran sacred dance. Sanghyang Jaran motions then combined with classical dance movements of Bali and Java. The structure of the new creation dance performances Jaran Teji starts from pengawit, pengawak, pengecet, and pekaad. Teaching and learning process in the studio need to be combined with the development of learning at the Arts and Culture Subjects in class 7 IPS Senior High School 8 Denpasar, with a lecture and demonstration followed the motion. Students follow the example of range of motion that has been designed and recorded through the VCD adapted to the structure of the dance. The new dance creations distance Teji in appearance patterned tradition and developed with an expression which is owned by each individual based on the character of the dance, combined elements of power, space and time.
Desain Interior Micro Teaching Berbasis Ergonomi Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi; I Dewa Ayu Sri Suasmini; Ni Luh Desi In Diana Sari
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.537 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.201

Abstract

Pembelajaran micro teaching adalah kegiatan pelatihan mengajar untuk mendalami makna bahkan strategi penggunaannya pada setiap proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan micro teaching dilaksanakan di kelas khusus, disebut ruangan micro teaching. Demi tercapainya pembelajaran micro teaching yang baik, diperlukan ruangan yang nyaman dan ergonomis, untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang ruangan micro teaching. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah tersedianya teori berupa pedoman tertulis dan dokumen desain berupa gambar kerja, sehingga dapat digunakan sebagai model untuk mewujudkan desain interior micro teaching yang ergonomis bagi Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan yang tidak pernah secara khusus mempelajari teori tentang desain interior dan ergonomi. Target khusus pada penelitian ini adalah tersedianya pedoman tertulis dan gambar kerja tentang desain interior micro teaching berbasis ergonomi. Pengumpulan data pada penelitian tahun pertama, dilakukan memakai metode kepustakaan, wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan memakai metode deskriptif dan komparatif serta glass-box melalui adanya masukan, proses dan luaran agar diperoleh simpulan yang signifikan. Adapun rincian kegiatan tahun pertama terdiri atas pengumpulan teori desain interior, seni yang berhubungan dengan interior dan ergonomi, wawancara dengan dosen dan mahasiswa LPTK, mengukur antropometri pengguna interior microteaching, observasi pengukuran dan dokumentasi desain interior micro teaching yang sudah ada di Bali, penetapan masalah, analisis serta simpulan.The learning of microteacing is a teaching worksop to explore of meanings and using strategy in every learning processes. Microteacing was arranged particullarly class that is called as microteaching classroom. To achieves good microteaching requires cozy and ergonomic room or scenery. To this requirement, is needed to organize the research of microteaching room. Long terms goals of this research aims theory as a written guidance and a ready-use design document of work charts to apply as model to achieves ergonomy microteaching interior design for vocational collage or academy. The specific target to be achieved in this research are the availabilty of written manual and work-chart about egronomic based interior design of microteaching. In order to achieves the objectives of this research, datas and objects collected by means of literature method, interviewing, observation and documentaries study. Data analisis are ordered by descriptives and comparatives method and glass-box of input and output in order to achieve the significant conclussion. The first year details of activities are interior design theory, art that is related to interior and ergonomy, interview to expert lectures and the students of LPTK, measures anthropometry of interior microteaching user, the observation of measurements and records the documents of microteaching of interior design that are already available in Bali, problems determination, analyzing and conclusing.
Genggong Dalam Karawitan Bali: Sebuah Kajian Etnomusikologi I Gde Made Indra Sadguna; I Wayan Sutirtha
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.829 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.202

Abstract

Hingga saat ini kajian tentang Genggong masih sangat terbatas dan eksistensi Genggong di masyarakat semakin langka dan termarjinalkan akibat pengaruh globalisasi. Oleh karena itu, penelitian tentang Genggong secara lebih mendalam sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan tekstual Etnomusikologi. Untuk menjawab permasalahan, digunakan teori organologi dan estetika sebagai pisau bedahnya. Dari observasi serta wawancara yang dilakukan, dapat dijelaskan proses pembuatan Genggong sebagai berikut. Genggong merupakan satu-satunya instrumen dalam karawitan Bali yang terbuat dari pugpug. Untuk membuat sebuah Genggong terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu, membuat bakalan, proses ngerot,dan nyetel suara. Selain itu dijelaskan juga mengenai dekorasi serta cara perawatan instrumen Genggong. Agar seorang musisi mampu memainkan Genggong terdapat beberapa hal yang harus dipahami. Hal-hal tersebut adalah sikap duduk yang baik, teknik membunyikan Genggong yang meliputi teknik mentil, serta cara untuk mencari nada. Perubahan Genggong dari alat musik individu menjadi sebuah ensamble disebabkan karena perubahan konteks musiknya. Dahulu Genggong hanya digunakan sebagai alat musik pribadi, berkembang menjadi sebuah barungan untuk mengiringi sebuah pertunjukan.Until now, studies on Genggong are still very limited. The existence of Genggong is becoming very rare in Bali which is caused by the effect of globalization. Therefore, deep research on Genggong is urgently required. This research is an Ethnomusicology qualitative textual approach. The organology and aesthteics theory are used to solve the problems. Collecting data is done by means of literature studies, interviews, and observation participation. From observations and interviews that have been conducted, the process of making a Genggong are as follows. Genggong is the only musical instrument in Bali made of pugpug. To create a Genggong there are several steps that must be passed, which are, making the bakalan, ngerot process, and tuning the sound. In addition, I also describe the decor as well as how to treat a Genggong. In order for a musician capable of playing Genggong there are some things that must be understood. These things are: a good sitting position, Genggong techniques such as mentil and finding a proper sound. The change of Genggong from an individual instrument into a musical ensemble is caused by the change of the musical context. Genggong formerly was only used as a means of personal music, evolved into a musical ensamble to accompany a performance.

Page 1 of 3 | Total Record : 25