Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles
219 Documents
Ekosistem Seni Event Organizer “PG Pro” Pada Event Festival Saba Blangsinga 2024
Aryani, Putri
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekosistem seni yang digunakan oleh event organizer PG Pro dalam event Saba Festival Blangsinga 2024. Secara teoritis hasil penelitian ini bertujuan untuk menambah wawasan kepada pembaca khususnya pelaku event organizer dan tata kelola seni terkait membangun sebuah ekosistem seni di suatu acara besar. Saba Festival Blangsinga 2024, merupakan salah satu event seni yang menghadirkan banyak pengunjung, peserta dan pertunjukan kesenian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan dan memaparkan hasil analisis pada ekosistem seni yang dirancang oleh event organizer PG Pro khususnya dalam event Saba Festival Blangsinga 2024.
Bali Kandarupa: Cerminan Dinamika Cipta Lintas Masa
Idayati, Ni Wayan
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk merunut kembali jejak historis seturut dinamika cipta masyarakat seni rupa Bali yang lintas masa dalam beberapa peristiwa kunci, sekaligus menimbang relevansi kehadiran kebijakan regulasi PERDA Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali dalam praktik kesenian di Bali, diantaranya pameran kolosal berkala Bali Kandarupa. Penelitian ini menggunakan metode sejarah heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi, dengan pendekatan sejarah sosial yang diakronis. Sejumlah peristiwa kunci yang dirujuk, antara lain; terbentuknya organisasi Pita Maha tahun 1936 sebagai cerminan gerakan sosial pada masa itu; Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama tahun 1979 sebagai visi kebudayaan Gubernur pada masa itu, yakni Ida Bagus Mantra; gerakan “Mendobrak Hegemoni” sebagai salah satu bentuk kontra atau protes terhadap PKB; peristiwa seni rupa pasca Bom Bali I & II yang menandakan upaya masyarakat seni rupa untuk bangkit; kelahiran organisasi Bali Art Society (BAS) sebagai salah satu bentuk aksi advokasi untuk kebijakan seni budaya di Bali; kemudian ditetapkannya regulasi berupa PERDA Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali; dan kehadiran Pameran Bali Kandarupa sebagai salah satu manifestasi PERDA Nomor 4 Tahun 2020. Melalui kajian ini dapat dirumuskan bahwa setidaknya ada 3 (tiga) unsur yang berperan dalam dinamika cipta seni rupa Bali yang lintas masa; 1) peristiwa, menunjuk pada ruang dan faktor kesadaran atau kehendak pelaku sejarah; 2) momentum, merujuk pada waktu yang dikehendaki sejarah; dan 3) sosok yang memiliki kesadaran sejarah, kemudian mengakselerasikan peristiwa dan momentum tersebut menjadi sebuah gerakan.
Historiografi Koleksi Museum Pasifika
Imansa, Namira Putri
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Museum Pasifika merupakan museum yang menampilkan 600 koleksi dari 200 seniman dan 25 negara yang tinggal di Asia Pasifik maupun mengangkat topik-topik di sekitar Asia Pasifik. Museum ini didirikan sebagai lembaga permanen untuk menampilkan gaya dan bentuk daerah agar dapat dipelajari serta dinikmati semua orang. Tulisan ini dipaparkan dengan metode kualitatif deskriptif. Pendekatan yang menggunakan adalah teori praktik sosial dari Pierre Bordjue yang memiliki rumusan generative yaitu (Habitus x Modal) + Arena= Praktik. Tujuan dari penulisan historiografi koleksi di Museum Pasifika adalah untuk mengidentifikasi modalitas budaya, modalitas ekonomi, modalitas sosial, dan modalitas simbolik, habitus, dan arena dari Museum Pasifika. Kemudian dari tahapan identifikasi tersebut dapat diketahui perjalanan praktik sosial yang telah dilakukan oleh Museum Pasifika. Praktik sosial yang dilakukan Museum Pasifika ini tentunya untuk mengumpulkan koleksi, membangun citra baik museum agar koleksi tetap dapat lestari. Kajian ini penting dilakukan agar memberikan tambahan wawasan dan referensi akademik terkait praktik yang dilakukan oleh komponen sosial dan agen sosial di balik adanya maupun pengelolaan koleksi Museum Pasifika.
DINAMIKA HISTORIOGRAFI FESTIVAL ALUNAN BUDAYA PERINGGASELA
Imtihan, Riyadi
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/sw.v12i2.2986
Penelitian ini bertujuan untuk menilik Festival Alunan Budaya Desa Peringgasela sebagai wadah pemasaran Kain Tenun Peringgasela. Masyarakat Peringgasela merancang suatu acara sebagai wadah khusus untuk melestarikan budaya yang dimilikinya. Hal ini menjadi peluang besar bagi masyarakat Peringgasela sebagai wadah pemasaran Kain Tenun Peringgasela dan pelestarian Budaya yang dimilikinya. Sehingga para pemuda membentuk satu tim untuk merancang acara tersebut dan lahirlah event Festival Alunan Budaya Desa Peringgasela. Tulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Proses observasi dilakukan secara langsung selama kegiatan berlangsung, dari Juli hingga Agustus 2022. Dokumen yang dikumpulkan termasuk dokumen informasi, artikel, materi promosi, dan foto dan video kegiatan pelaksanaan. Alunan Budaya Peringgasela mengalami kemajuan dalam penyelenggaraan setiap tahunnya. Alunan budaya juga melibatkan berbagai elemen Masyarakat, mulai dari pemuda desa, Masyarakat penenun, Masyarakat adat, pelajar dan bahkan mampu menggandeng pemerintah dalam perhelatan festival dengan tujuan untuk mensukseskan acara alunan budaya yang mampu melestarikan budaya, dan lainnya.
Peran UMKM Kwace Bali dalam Mempertahankan Eksistensi Kain Tenun Endek di Provinsi Bali
Ni Luh Putu Diah Gitanjali
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/sw.v12i1.2987
Endek merupakan kain tenun khas Bali. Perluasan pasar kain Endek merupakan peluang dan potensi bagi pengrajin Endek yang tergolong UMKM. Namun selain potensi dan peluang, terdapat tantangan yang harus dihadapi yaitu adanya kain tenunan yang menyerupai Endek Bali yang pengerjaannya menggunakan Alat Tenun Mesin (ATM) yang tidak membutuhkan penenun dalam pengerjaannya, sehingga harga kain tersebutmenjadi lebih murah dibandingkan dengan kain tenunan ATBM. Kwace Bali merupakan perusahaan yangbergerak di bidang tailor dan tekstil yang berdiri sejak awal tahun 2003 dengan menjual jasa jahit dan pada tahun 2012 mulai bergerak di bidang pertenunan kain tradisional Endek sekaligus mengolahnya menjadi pakaian jadi dengan sistem pre-order . Pada penelitian ini, penulis akan meneliti faktor yang melatarbelakangipengerajin tenun Endek Kwace Bali memproduksi motif modern, serta bagaimana motif-motif modern yangdibuat oleh Kwace Bali. Selain itu, penulis juga akan meneliti aspek-aspek yang terdapat pada motif modern yang bisa dikembangkan dalam tujuan mempertahankan eksistensi kain tenun di Bali. Metode penelitian yangdigunakan adalah dekriptif kualitatif. Penelitian ini mendapatkan hasil yaitu Kwace Bali memiliki peran yang cukup penting dalam mempertahankan eksistensi kain tenun di Bali. Terdapat tiga factor yang melatarbelakangi Kwace Bali memproduksi motif modern, yakni faktor budaya, faktor ekonomi dan faktor lingkungan. Motif–motif modern yang dihasilkan oleh pengerajin tenun Endek Kwace Bali pada umumnya adadua jenis yaitu motif modern hasil kombinasi dan motif yang mengambil corak dari hasil barang teknologi.Aspek-aspek yang terdapat pada motif tenun Endek yang bisa dikembangkan adalah aspek pengetahuan tentang sumber daya alam, aspek seni, dan aspek kewirausahaan.
Sejarah Sosial dan Budaya Pameran Artos Kembang Langit
Ahmad Nur Faizin
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/sw.v12i2.2990
Penelitian ini mengkaji sejarah sosial dan budaya Pameran Artos Kembang Langit di Banyuwangi, sebuah pameran seni yang telah memainkan peran penting dalam transformasi seni dan budaya lokal. Menggunakan teori-teori dari Pierre Bourdieu, seperti habitus, kapital budaya, dan medan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pameran ini merefleksikan dan mempengaruhi dinamika sosial serta budaya di Banyuwangi. Melalui pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan seniman, kurator, dan pengunjung pameran, serta analisis dokumen dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitus seniman dan kapital budaya mereka berkontribusi secara signifikan terhadap partisipasi dan penerimaan karya seni mereka di pameran. Selain itu, Pameran Artos Kembang Langit berfungsi sebagai medan di mana berbagai aktor berinteraksi dan bersaing untuk mendapatkan pengakuan dan pengaruh, mencerminkan struktur kekuasaan dan distribusi sumber daya dalam komunitas seni Banyuwangi. Penelitian ini menemukan bahwa Pameran Artos Kembang Langit tidak hanya menjadi platform untuk menampilkan karya seni tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan budaya. Pameran ini membantu membentuk identitas budaya lokal, meningkatkan kesadaran seni di masyarakat, dan mendukung perkembangan karier seniman lokal. Dengan demikian, pameran ini berkontribusi pada transformasi seni dan budaya di Banyuwangi, memperkaya lanskap seni lokal dan mempromosikan nilai-nilai budaya melalui representasi dan interaksi sosial.
Gurat Institut dalam Menjembatani Tradisi dan Modernitas dalam Seni Rupa Bali
Win, Allyce
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mengulas peran Gurat Institut dalam menjembatani tradisi dan modernitas dalam seni rupa Bali. Sebagai lembaga independen berbasis di Denpasar, Bali, Gurat Institut berfokus pada riset, dokumentasi, dan pengembangan kebudayaan visual melalui program-program seni rupa dan karya kolaboratif lintas seniman. Visi utama institut ini adalah menggali dan mengenali potensi warisan budaya Bali serta mengkaji dampak kolonialisme dalam penyebaran nilai-nilai budaya Bali ke dunia Barat. Selain itu, Gurat Institut juga berfungsi sebagai portal pengembangan kebudayaan kawasan, menjadikan Bali sebagai pintu gerbang menuju wilayah Indonesia Timur. Dengan berbagai program seperti dokumentasi seni visual, riset seni rupa, pendidikan berbasis Kurikulum Merdeka, dan publikasi, Gurat Institut berperan penting dalam mendorong kreativitas dan kolaborasi seni lintas kawasan, mengembangkan seni rupa Bali dalam konteks modern sekaligus melestarikan nilai-nilai tradisionalnya.
Elemen-elemen Ekosistem Seni Pada Pameran “Jukung Anyar” Oleh Komunitas Jong Sarad
Pramesti, Sintia
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/sw.v12i2.2995
Jong Sarad adalah komunitas seni yang didirikan pada tahun 2021, yang berfokus pada pameran dan pengembangan keterampilan bagi para seniman. Jukung Anyar adalah acara ketiga Jong Sarad, yang diadakan pada Januari 2024 di Kulidan Kitchen and Space, Gianyar, Bali. Dalam acara yang terlaksana dengan baik, tentunya terdapat ekosistem seni yang berkelanjutan yang membentuk hubungan timbal balik. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekosistem seni dalam pameran Jukung Anyar oleh Jong Sarad. Melalui metode penelitian kualitatif yang melibatkan observasi dan studi literatur, ditemukan bahwa Jong Sarad memiliki ekosistem seni yang meliputi kurator, art handler, seniman, media massa, sponsor, dan pengunjung yang mampu menciptakan rantai timbal balik dalam acara Jukung Anyar. Hasil penelitian ini berguna untuk memberikan acuan atau pedoman terkait elemen-elemen yang diperlukan dalam ekosistem pameran seni rupa dalam konteks komunitas.
Inovasi Desain Busana Wanita Urban Fusion Style Dengan Kain Tenun Endek Sebagai Upaya Revitalisasi Pengrajin Tenun di Bali
Adiyanti, Putu Ayu
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/sw.v12i2.3048
Penelitian ini bertujuan mengembangkan inovasi desain busana wanita bergaya urban fusion berbahan kain tenun Endek Bali untuk meningkatkan daya saing pengrajin lokal di pasar global, mendukung pelestarian warisan budaya, dan memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat urbanmodern. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat terjadi revitalisasi terhadap pengrajin tenun di Bali dengan mendorong penggunaan kain tenun Endek Bali dalam industri fashion yang lebih luas. Revitalisasi ini tidak hanya penting untuk menjaga keberlanjutan keterampilan menenun yang diwariskan turun temurun, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan pengrajin dan memperkuat posisi industri tenun di pasar internasional yang semakin kompetitif. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui studi literatur tentang pengrajin tenun Endek di Bali, regulasi kain tenun Bali, serta kondisi industri tenun di Bali. Wawancara dengan para penenun juga mengungkapkan gambaran mengenai kondisi industri tenun di Bali saat ini yang tengah menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain busana ready-to-wear berbahan tenun Endek merupakan langkah efektif untuk revitalisasi pengrajin lokal, meningkatkan daya saing produk, dan membantu tantangan penurunan regenerasi produsen kain Endek. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan industri fashiondengan mengintegrasikan elemen tradisional dan kontemporer dalam desain busana modern yang relevan dengan kebutuhan masyarakat urbanserta mempromosikan nilai budaya dalam skala global.
Desain Mainan Edukatif Aksara Jawa untuk Anak Usia 8 Tahun melalui Permainan: Studi Kasus Kelas 3 SD Budya Wacana Yogyakarta
Angelika, Amelia
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/sw.v12i2.3049
Mainan edukatif berfungsi sebagai sarana pembelajaran yang memadukan aspek pendidikan dengan aktivitas bermain yang menyenangkan, menjadikannya sarana yang efektif dalam mendukung perkembangan anak. Di Yogyakarta, penguasaan Bahasa Jawa menjadi tantangan khusus bagi anak-anak, terutama mereka yang berasal dari luar daerah. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan dari pemerintah yang menjadikan pembelajaran Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran wajib; muatan lokal. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merancang mainan edukatif yang bertujuan meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa anak usia 8 tahun melalui pendekatan interaktif dan menyenangkan. Metode yang digunakan mencakup observasi terhadap proses pembelajaran Bahasa Jawa, wawancara dengan guru, orang tua, dan anak-anak untuk mengidentifikasi kesulitan pembelajaran, serta studi literatur tentang perkembangan kognitif anak usia 8 tahun. Hasil dari penelitian ini adalah desain mainan edukatif yang mengenalkan aksara Jawa dan mengembangkan keterampilan berbahasa melalui permainan. Mainan ini diharapkan tidak hanya menjadi alat bantu yang efektif dalam pembelajaran Bahasa Jawa, tetapi juga berperan dalam mendukung pengajar dan orang tua serta membantu melestarikan bahasa dan budaya Jawa di kalangan generasi muda.