cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 219 Documents
The Penggunaan Metode Visual Storytelling Untuk Membangun Identitas Visual Berbasis Folklore Dalam Branding Produk Lokal Fadhila Sara, Cindy
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v12i2.3064

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi penerapan visual storytelling berbasis folklore dalam membangun identitas visual merek untuk produk lokal. Penggunaan elemen-elemen budaya dalam desain visual dapat menciptakan hubungan emosional yang lebih dalam antara konsumen dan merek, terutama bagi mereka yang memiliki keterikatan dengan budaya tersebut. Dengan menganalisis literatur terkait, penelitian ini merumuskan model teoretis untuk meningkatkan keterlibatan konsumen melalui narasi visual yang kuat dan berakar pada budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkuat identitas visual produk lokal, tetapi juga mengedukasi konsumen tentang warisan budaya. Dengan demikian, visual storytelling berbasis folklore adalah strategi branding yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan konsumen dan memperkuat daya saing produk lokal di pasar.
Visualisasi Modern Sebagai Strategi Dalam Pengenalan Budaya Di Era Globalisasi Kepada Gen Z kresna, surya
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v12i2.3070

Abstract

Era globalisasi mengakibatkan penurunan minat generasi Z terhadap budaya lokal, mereka terpapar oleh estetika gaya visual budaya populer yang lebih modern dibandingkan dengan gaya budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan strategi visualisasi modern dalam proses pengenalan budaya lokal kepada Gen Z, melalui visualisasi modern yang disesuaikan dengan preferensi visual mereka. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara melibatkan siswa SMPN 1 Denpasar. Hasil menunjukkan bahwa lebih dari 50% siswa lebih menyukai visualisasi modern dari ilustrasi karakter wayang, dibandingkan dengan gaya tradisional. Respon positif ini mengindikasikan bahwa visualisasi yang dinamis, penuh warna dan relevan secara estetis mampu menarik perhatian Gen Z dan meningkatkan antusiasme mereka terhadap budaya lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa visualisasi modern memiliki potensi besar sebagai media efektif dalam mengenalkan budaya kepada generasi muda, menjaga warisan budaya tetap relevan di tengah arus globalisasi.
Deskripsi Kecerdasan Spasial Visual pada Anak Jalanan Melalui Metode Menggambar Yupardhi, Toddy; Trisna Sumadewi, Komang
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3170

Abstract

Kemampuan spasial visual bagi anak jalanan diyakini akan dapat membantu mereka mengembangkan potensi diri dan berkontribusi lebih bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kondisi kecerdasan spasial visual anak jalanan yang berada pada naungan Yayasan Bali Street Mums and Kids Denpasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Metode menggambar dengan dan tanpa instruksi digunakan untuk menganalisis bagaimana deskripsi kecerdasan spasial pada objek kasus. Variabel penilaian berupa tingkat kesesuaian dengan komposisi, proporsi dan teknik perspektif objek. Melalui hasil penelitian ditemukan bahwa anak jalanan pada rentang usia 0-7 tahun cenderung lebih banyak menggunakan imajinasinya dalam memvisualkan objek, sehingga lemah dalam proporsi dan detail, serta belum mengetahui tentang kedalaman objek. Rentang usia 8-12 tahun lebih mendetail dalam menggambar dengan instruksi, sudah lebih proporsional dan mengenal kedalaman objek,  namun kurang dalam memvisualkan imajinasinya. Rentang usia 13-16 tahun menunjukkan variasi yang lebih tinggi antara yang sudah mampu dan yang belum mampu memvisualkan dengan baik sehingga faktor keterampilan menggambar menjadi faktor yang berpengaruh. Penguatan kecerdasan spasial visual agar difokuskan pada rentang usia 8-12 tahun.
Desain Pola Ruang Terbuka Rumah Tinggal Tipe 100 Berbasis Konsep Bali Madya Dalam Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) Ida Ayu, Anindya Chintya Aridewi; I Made , Jayadi Waisnawa; Yupardhi, Toddy Hendrawan
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3199

Abstract

Pemanasan global menyebabkan peningkatan suhu dan perubahan iklim ekstrem yang berdampak langsung pada lingkungan rumah tinggal, khususnya kenyamanan termal dan kualitas udara dalam ruang. Di tengah keterbatasan lahan urban, rumah tinggal tipe 100 m2 menjadi bentuk hunian yang umum, namun menghadapi tantangan adaptasi ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk merancang alternatif desain pola ruang terbuka rumah tinggal tipe 100 berbasis konsep Bali Madya yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan sesuai dengan SDGs 11. Konsep lokal seperti Tri Hita Karana, Natah, dan Karang Tuang digunakan sebagai dasar perancangan, yang dipadukan dengan pendekatan Landscape Ecology melalui struktur patch-corridor-matrix dan Biophilic Design untuk menciptakan ruang yang sehat, adaptif, dan terhubung dengan alam. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara terarah. Hasil penelitian berupa empat alternatif desain pola ruang terbuka yang mendukung fungsi ekologis dan spiritual rumah tinggal, meningkatkan kenyamanan termal, pencahayaan alami, serta memperkuat identitas lokal. Penelitian ini menunjukkan bahwa rumah tinggal dengan ruang terbuka yang dirancang secara ekologis dan berbasis budaya lokal dapat menjadi solusi adaptif terhadap pemanasan global, sekaligus mendukung terwujudnya kota dan permukiman berkelanjutan sesuai dengan SDGs 11.
Kehidupan Sosial Masyarakat Jawa pada Abad ke-9: Analisis Semiotika terhadap Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur Lakusa, Nicholas Ferdeta
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3213

Abstract

Penelitian ini menganalisis kehidupan sosial masyarakat Jawa abad ke-9 melalui interpretasi semiotika terhadap relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kerangka semiotika triadik Peirce, penelitian ini mengungkap bagaimana elemen visual dalam relief merepresentasikan hierarki sosial, kegiatan ekonomi, nilai moral, peran gender, dan praktik keagamaan. Data dikumpulkan melalui analisis ikonografi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relief Karmawibhangga tidak hanya mencerminkan ajaran karma dalam konteks Buddhisme, tetapi juga menjadi cerminan struktur sosial masyarakat Jawa Kuno. Simbolisme yang terdapat dalam relief ini mengindikasikan adanya perbedaan status sosial berdasarkan pakaian, posisi tubuh, dan aktivitas yang digambarkan. Selain itu, penelitian ini menyoroti peran seni visual sebagai sarana edukasi moral dan alat legitimasi kekuasaan pada masa itu. Studi ini memberikan kontribusi dalam pemahaman mengenai filsafat seni Jawa serta menekankan pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai sumber edukasi sejarah dan estetika.
KAJIAN DAYA TARIK VISUAL PADA KARAKTER BAND VIRTUAL ALVIN AND THE CHIPMUNKS Endarini, Endah Riana
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3214

Abstract

The Chipmunks adalah band virtual yang tetap eksis sampai saat ini selama 60 tahun lebih lamanya sejak tahun 1963. Di Tengah banyaknya band virtual yang muncul saat ini, The Chipmunks ialah band virtual yang tidak menggunakan karakter manusia sebagai figurnya, juga menjadi band virtual yang memiliki banyak series TV Shows dan film yang masih berproduksi hingga hari ini. Tentunya daya tarik visual memiliki peran yang cukup besar, terlebih desain karakter dari figur anggota band itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami aspek keunikan atau daya tarik visual dari karakter The Chipmunks; Alvin, Simon, dan Theodore sebagai entitas kolektif dikonstruksi secara naratif dan visual berdasarkan teori three dimensional character dan teori semiotika Saussure. Hasil menunjukkan bahwa penggambaran antropomorfisme tupai menjadi salah satu faktor unik yang menarik. Keunikan ini dapat bertahan lama dan menjadi sesuatu yang ikonik karena karakternya yang memiliki relevansi psikologi dan emosi dengan penonton. Melalui analisis semiotika Saussure, didapatkan bahwa warna merupakan petanda yang digunakan untuk membangun sifat dan kepribadian tokoh The Chipmunks. Tanda ini dibangun bersamaan dengan latar belakang tokoh melalui teori three dimensional character yang menjelaskan sisi fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Warna pada atribut fisik The Chipmunks berasosiasi dengan makna warna dalam psikologi warna, yang artinya dapat membangkitkan emosi manusia yang melihatnya. Maka daya tarik visual karakter The Chipmunks selain dibangun melalui atribusi pada hewan, juga didukung oleh sifat dan kepribadiannya di dalam cerita. Penonton menyesuaikan emosi yang dirasakan dengan representasi sifat dan kepribadian The Chipmunks sebagai hewan antropomorfi yang membawa alur cerita.
Augmented Reality Topeng Sidakarya Dwijaksara, I Gst. Ngr.
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3215

Abstract

Topeng merupakan salah satu unsur kebudayaan di Bali yang memiliki ciri khas tersendiri, sehingga mudah dibedakan dari topeng daerah lain di Indonesia. Salah satu seni pertunjukan topeng yang terkenal di Bali adalah Topeng Sidakarya. Nama "Sidakarya" memiliki arti upacara yang selesai dengan sempurna. Tokoh Sidakarya digambarkan sebagai sosok yang unik dan menakjubkan, dengan taring besar pada rahang atas, mirip dengan topeng Wayang Wong atau Barong Kedingkling. Topeng ini memiliki peran penting dalam ritual keagamaan dan erat kaitannya dengan babad Bebali Sidakarya.Meskipun dikenal luas di Bali, masih banyak hal yang belum diketahui tentang Topeng Sidakarya. Hal ini karena sifatnya yang sakral, di mana pementasannya hanya dilakukan dalam rangkaian upacara agama tertentu, sehingga sulit ditemukan dalam pertunjukan umum.Seiring kemajuan teknologi, media desain grafis tidak hanya terbatas pada bentuk konvensional (cetak), tetapi juga telah berkembang ke media digital. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah Augmented Reality (AR). Dengan menggabungkan seni dan teknologi, sebuah aplikasi Android dikembangkan untuk mendigitalisasi Topeng Sidakarya. Aplikasi ini berisi informasi lengkap mengenai topeng tersebut dan dilengkapi fitur AR yang memungkinkan pengguna melihat objek 3D Topeng Sidakarya menggunakan marker sebagai penanda. Aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Bali serta menjadi sarana edukasi dan promosi kesenian tradisional dengan tampilan yang lebih modern dan interaktif.
KAJIAN BENTUK DAN STRUKTUR KARYA PIWAL II DALAM PERSPEKTIF BUDAYA POSTMODERN: I Kadek Agus Cahaya Suputra Program Studi Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Bali Jl. Nusa Indah, Denpasar, 80235, Indonesia E-mail: agussuputra@isi-dps.ac.id I Kadek, Agus Cahaya Suputra
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3216

Abstract

Piwal merupakan karya musik baru untuk gamelan dengan menggarap tungguhan-tungguhan konvensional dari gamelan Bali yang diekspresikan secara inkonvensional. Ekspresi inkonvensional tersebut diterapkan melalui sistem tata racik dari tungguhan-tungguhan yang digunakan dalam kesatuannya. Karya musik Piwal terdiri dari 4 (empat) reportoar karya musik gamelan Bali yang terdiri dari Piwal I, Piwal II, Piwal III, Piwal IV. Masing-masing reportoar menggunakan barungan gamelan yang berbeda antara satu sama lain. Karya musik Piwal II yang merupakan bagian kedua dari pertunjukan yang bertajuk Piwal karya I Putu Adi Septa Suweca Putra ini menawarkan tawaran-tawaran baru, baik dalam komposisi dan teknik permainan intrumen yang dipakai. Piwal II menggunakan media ungkap lima tungguh gong gantung, dua tungguh kempul, tiga tungguh bende, tiga tungguh kajar yang menggunakan ideng, enam pencon riyong semarandhana, dan enam pengarad. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan karya piwal yang dibatasi pada analisis bentuk dan struktur karya. Berdasarkan komposisi dan teknik permainan yang inkonvensional dalam karya Piwal II, tentu saja tidak mudah dimengerti baik oleh musisi/komposer lain maupun orang awam. Jadi, sangat menarik jika dibahas dengan kacamata postmodern. Penelitian berbentuk deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan studi kepustakaan. Penelitian ini diharapkan mampu menganalisa bentuk dan struktur dari karya ini agar dapat menjadi referensi dalam karya-karya selanjutnya dan mampu memberikan wawasan tentang estetika postmodern bagi masyarakat umum.
Transformasi Desain Kebaya Bali: Menelusuri Perkembangan dari Tradisional hingga Kontemporer Ida Ayu, Mahadewi
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3224

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi desain kebaya Bali dari aspek tradisional hingga kontemporer. Kebaya Bali sebagai salah satu simbol budaya yang kaya, mengalami perubahan dalam desain dan penggunaannya seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi. Penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen desain kebaya Bali yang telah berubah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut, seperti teknologi, media sosial, dan globalisasi. Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, data diperoleh melalui studi literatur, wawancara dengan perancang kebaya, dan observasi langsung terhadap kebaya yang diproduksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kebaya Bali mempertahankan unsur-unsur tradisional, namun telah terjadi adaptasi dalam hal pemilihan bahan, motif, dan teknik pembuatan yang lebih modern. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika pelestarian budaya dalam konteks perubahan zaman.
Transformasi Mitologi Kue Bulan pada Perancangan Desain Kemasan Bingkisan Kue Bulan Yasa, Eka; Nabilaisyah Firdauzi, Genial; Sri Wahyuni, Ni Wayan
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i1.3233

Abstract

Perancangan ini bertujuan untuk merancang kemasan kue bulan dengan mentransformasikan budaya dan makna dari Festival Pertengahan Musim Gugur. Kemasan yang modern tanpa meninggalkan identitas tradisional Cina. Perancangan ini juga bermanfaat untuk menarik perhatian konsumen dan pengguna produk kue bulan serta untuk mereservasi warisan budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia pada generasi muda agar tidak punah. Metode perancangan ini menggunakan metode design thingking dikombinasikan dengan model transformasi budaya. Fase pertama yaitu, Cultural Study dan Product Study . Fase kedua yaitu, Branstorming & Classification , Scenario building , dan Idea Sketch . Fase ketiga yaitu prototype dengan memanfaatkan Computer Aided Design System untuk menghasilkan desain jaring-jaring kemasan dan model tiga dimensi. Hasil perancangan ini berupa desain kemasan bingkisan kue bulan dengan konsep bingkisan yang dapat dibawa dan berbagi (sharing) bersama keluarga. Empat mitologi-mitologi kue bulan yaitu gambar Dewi Chang’e, kelinci bulan, pohon osmanthus yang bersatu menjadi sebuah lingkaran seperti bulan. Masing-masing box mempunyai warna merah dan warna sesuai rasa kue bulan di dalamnya. Hasil perancangan kemasan kue bulan ini telah berhasil mentransformasi budaya dan makna dari Festival Pertengahan Musim Gugur atau Festival Kue Bulan dengan desain modern yang menyederhanakan gambar lukisan mitologi tersebut. Implikasi perancangan bagi berbagai aspek, mulai dari pengembangan keilmuan, strategi bisnis, hingga dampak bagi masyarakat. Limitasi perancangan ini berupa interpretasi mitologi bersifat subjektif yang fokus pada aspek visual dan kurang mendalami aspek keberlanjutan dari kemasan. Kurangnya pengukuran data secara kuantitatif, pemanfaatan teknologi, desain interaktif, dan keberlanjutan dapat menjadi peluang pengembangan desain di masa depan.