cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan
ISSN : 19796072     EISSN : 26210193     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Bidang kajian dimuat meliputi agribisnis, teknologi budidaya, sumberdaya perikanan, kelautan, sosial ekonomi kelautan dan perikanan, bioteknologi perikanan. Sejak tahun 2017 mulai diterbitkan secara elektronik kerjasama Pusat Studi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna Raha.
Arjuna Subject : -
Articles 826 Documents
Studi tingkat kerusakan akibat hama daun pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) di areal persemaian PT. Gema Hutani Lestari Kec. Fene Leisela Martini Wali; Sahria Soamole
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.8.2.36-45

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerusakan yang disebabkan oleh hama perusak daun pada anakan Meranti di persemaian. Penelitian ini dilakasanakan di areal persemaian IUPHHK PT. Gema Hutani Lestari Kecamatan Fena Leisela Kabupaten Buru yang berlangsung dari bulan Januari-Februari 2014. Metode penelitian menggunakan metode pengamatan pada areal persemaian dengan cara pengambila sampel di setiap bedengan. Bedeng yang digunakan sebagai sampel sebanyak6 bedeng dan tiap bedeng sampel diambil seluruh anakan yang ada pada bedeng tersebut. Pengamatan yang dilakukan hanya berorientasi pada keruskan daun akibat serangan hama. Intesitas kerusakan yang terjadi pada tiap bedeng sampel yang disebabkan hama daun yang tertinggi pada bedeng 5 yaitu 33.34%, dengan kategori ringan, disusul oleh bedeng 3 yaitu 8.19%, selanjutnya bedeng 6 yaitu 7.35%, bedeng 2 yaitu 3.18%, bedeng 1 yaitu 0.76%, dan yang terendah pada bedeng 4 yaitu 0.38%. Dari semua intensitas serangan pada tiap bedeng ternyata masih dikategorikan serang ringan.Luas serangan yang diakibatkan hama daun pada tiap bedeng sampel terbesar yaitu bedeng sampel 5 yaitu 33.34%, disusul bedeng 3 yaitu 28.49%, bedeng sampel 6 yaitu 21.22%, bedeng 1 yaitu 12.73%, bedeng 2 yaitu 1.22%, dan luas serangan terendah pada bedeng sampel 4 yaitu 0.91%. Selanjutnya dari hasil penelitian di lapangan di temukan beberapa jenis hama daun yang menyerang tiap bedeng sampel pada meranti di lokasi penelitian yaitu ham jenis Kumbang Puthul.
Persepsi Masyarakat Tentang Larangan Pemanfaatan Dan Pelestarian Penyu Di Pulau Meti Kabupaten Halmahera Utara Sophia N. M. Fendjalang
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.13.1.23-28

Abstract

Tiga dari enam jenis penyu di Indonesia yaitu; Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Abu-abu (Lepidocheys olivacea) dapat ditemukan di Pulau Meti. Ketiga jenis penyu ini dapat ditemukan pada 2 lokasi yang berbeda di pulau ini pada akhir bulan Maret hingga Juni setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat Pulau Meti terhadap larangan dan pelestarian penyu. Penelitian dilakukan selama bulan Juni 2019 di Pulau Meti sebagai lokasi peneluran dan penetasan penyu. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pemilihan responden untuk wawancara dilakukan secara purposif (Purposive Sampling) yang difokuskan pada kelompok nelayan. Jumlah responden sebanyak 30 orang, data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42.15% responden mengetahui tentang larangan penangkapan penyu dan pengambilan telur penyu oleh pemerintah, namun masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. 31.40% dari responden mengaku tidak peduli dengan larangan pemerintah.  15.7% responden tidak tahu tentang larangan eksploitasi penyu, 8.26% responden pernah dengar tentang larangan eksploitasi penyu, 2.48% responden baru tahu tentang larangan eksploitasi penyu menunjukkan masih kurangnya sosialisasi tentang larangan ini kepada masyarakat. 55.71% responden sangat setuju dan 2.86% setuju pelestarian penyu perlu lebih diperhatikan, 11.9% responden tidak setuju untuk dilakukan pelestarian penyu sedangkan 21.9% responden tidak peduli tentang pelestarian penyu. Sikap masyarakat “asal tidak ada yang tahu”, “asal tidak ada yang lapor”, “asal petugas tidak tahu” harus diubah. karena itu, kegiatan sosialisasi dan monitoring serta penerapan sanksi perlu dilakukan bagi yang melanggar peraturan.
Evaluasi aspek sosial terhadap kegiatan penangkapan ikan kakap merah (Lutjanus) dan pengembangannya di sekitar Perairan Sinjai Teluk Bone Erika Lukman
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.6.2.49-52

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kegiatan penangkapan ikan Kakap (Lutjanus) di sekitar perairan Sinjai Teluk Bone dan kemungkinan pengembangannya. Pengambilan sampel diambil secara keseluruhan dengan jumlah responden sebanyak 30 nelayan yang menangkap ikan kakap dengan tiga jenis alat tangkap yang digunakan yaitu pancing tangan, jaring insang tetap, dan bubu. Analisis untuk aspek sosial menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif yang didasarkan pada kriteria-kriteria sosial dengan menggunakan pendapat responden. Berdasarkan hasil penelitian jaring insang dapat diterima secara sosial. Berdasarkan tinjauan dari aspek sosial, alat tangkap terbaik untuk dikembangkan di perairan Sinjai Teluk Bone untuk penangkapan ikan kakap adalah alat tangkap jaring insang tetap.
Community Perception on Waste Management (Case Study: Bumi Maluku Lestari Waste Bank, Ambon City) Ivakdalam, Lydia Maria; Far Far, Risyarth A.
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.1.161-171

Abstract

Waste bank is one alternative that can be done in overcoming the problem of waste management. The Bumi Lestari Maluku Waste Bank was established in order to develop social awareness for the environment, especially in waste management and reforestation. The purpose of the study was to describe the management pattern of the Bumi Lestari Maluku waste bank in Ambon City and to find out public perceptions on economic, social, and environmental aspects related to waste management. The research was conducted in Laha Village, Teluk Ambon District, Ambon City. Data were collected by means of a census of 30 customers of the Bumi Lestari Maluku waste bank who were used as research respondents. The types of data used are primary data and secondary data. Primary data was obtained through interviews with respondents using a questionnaire and secondary data was obtained from a relevant source from the Department of the Environment, the National Statistics Agency. The method used is descriptive quantitative analysis using a Likert scale. Research shows that the Bumi Lestari Maluku Waste Bank has a system and working method starting from sorting organic and inorganic waste in the household, depositing waste to a waste bank, weighing waste, recording the amount of waste savings to the results into rupiah value and waste by collectors. Community perception of Bumi Lestari Maluku waste management economically with additional income, socially increasing social interaction, and creating a clean and healthy environment.
Analisis Usahatani pada Sistem Pertanian Alami Padi Ladang di Kabupaten Halmahera Utara Rope, Ranita
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.2.1.10-18

Abstract

Konsep pertanian alami yang dilahirkan oleh Fukuoka seorang professor mikrobiologi yang berasal dari Jepang pada tahun 1978 dalam bukunya “The One Strow Revolution, An Introduction to Natural Farming”, sebenarnya adalah system pertanian yang merupakan tradisi pertanian petani dahulu (primitif). . Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan efisiensi teknik dalam penggunaan input terhadap prodksi system pertanian alami padi ladangdengan system pertanian tidak alami padi sawah, biaya dan pendapatan, serta efisien alokatif pertanian alami padi lading di kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis melalui wawancara pada petani sampel padi lading berjumlah 48 orang, dan petani padi sawah berjumlah 17 orang. Fungsi produksi diestimasi menggunakan fungsi prodksi tipe Cobb-Douglas dengan alat analisis eview 4.0, biaya dan pendapatan dengan uji T Tess Mean Sampel Independen dengan alat analisis SPSS 12, dan efisiensi alokatif dengan uji t ki dengan fasilitas excel . Analisis data diperoleh : 1) Penggunaan jumlah dan jenis input yangberbeda berpengaruh terhadap tingkat produksi perusahatani; 2) Penggunaan jumlah dan jenis biaya input minimal, menjadikan pendapatan per hektar pada system pertanian alami padi lading tidak berbeda dengan system pertanian tidak alami padi sawah; 3) Penggunaan benih pada system pertanian alami padi lading per hektar menunjukan sudah efisien alokatif sedangkan penggunaan tenaga erja tidak efisien.
Viabilitas Usaha Pengolahan Ikan Tamban Salai di Kabupaten Lingga Tetty Tetty; Khairunnisa Khairunnisa; Khairul Hafsar
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.2.359-363

Abstract

Kabupaten Lingga merupakan salah satu wilayah di Provinsi Kepualuan Riau yang memiliki potensi sumberdaya perikanan begitu besar, masyarakat umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan memanfaatkan hasil tangkapan sebagai sumber kehidupan. Pemanfaatan hasil tangkapan tidak hanya dalam bentuk bahan baku mentah, tetapi dalam bentuk pengolahan yaitu ikan asap, dikalangan masyarakat Kabupaten Lingga lebih dikenal dengan istilah ikan salai. Ikan yang biasa digunakan ialah ikan tembang atau ikan tamban (Sardinella fimbriata). Ikan salai menjadi makanan khas yang wajib dibawa oleh wisatawan ataupun pengunjung lokal ketika bertandang ke Kabupaten Lingga maupun hanya sekadar dijadikan sebagai panganan sehari-hari. Tujuan penelitian ini ialah Menilai viabilitas usaha pengolahan ikan tamban salai, Rata-rata usaha ikan tamban salai masih dalam skala kecil dengan metode pengasapan sederhana. Penelitian terkait viabilitas finansial usaha pengolahan perikanan masih sangat sedikit dilakukan, terutama pada usaha Ikan Tamban Salai di Kabupaten Lingga. Rata-rata total pengeluaran pangan pemilik usaha tamban salai sebesar Rp21.450.947 per tahun, non pangan sebesar Rp13.729.263 per tahun, rata-rata total konsumsi sebesar Rp36.561.222 per tahun, sedangkan rata-rata pengeluaran untuk biaya usaha sebesar Rp146.020.193 per tahun. Dalam penelitian ini diperoleh rata-rata pendapatan usaha ikan tamban salai sebesar Rp269.464.018 pertahun Jika dibandingkan antara total pengeluaran dan pendapatan maka dari 19 usaha ikan tamban salai di Kabupaten Lingga dapat dikatakan viabel
Pengaruh modal dan tenaga kerja terhadap produksi industri kerajinan kulit di Kabupaten Merauke Riza Fachrizal
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.9.2.66-75

Abstract

Kabupaten Merauke sebagai salah satu wilayah dari Provinsi Papua memiliki bermacam-macam subsektor industri kecil yang diharapkan kompetitif dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Salah satunya adalah industri kerajinan kulit yang keberadaannya diharapkan dapat berperan besar dalam peningkatan perekonomian daerah. Industri kerajinan kulit merupakan proses produksi yang secara teknis adalah hubungan antara faktor produksi dengan produksi, faktor produksi dengan faktor produksi, dan produksi dengan produksi. Peran industri kerajinan kulit dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah adalah melalui perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja. Kemampuan industri kerajinan kulit menyerap tenaga kerja dan menjadi pilihan usaha ditentukan oleh seberapa besar pengaruh faktor produksi modal dan tenaga kerja terhadap produksi. sehingga perlu dilakukan studi mengenai pengaruh faktor produksi modal dan tenaga kerja terhadap produksi pada industri kerajinan kulit di Kabupaten Merauke. Data yang diamati dalam penelitian ini adalah data time series. Menggunakan model estimasi regresi linier berganda dalam bentuk double log untuk mengetahui hubungan pengaruh dari variabel penelitian. Hasil regresi dari model estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel modal 0,573 dan koefisien regresi variabel tenaga kerja 1,152 secara statistik signifikan pada α = 5%. Variabel modal dan variabel tenaga kerja berpengaruh positif terhadap produksi pada industri kerajinan kulit di Kabupaten Merauke. Hasil penelitian menyatakan bahwa modal dan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang positif terhadap produksi, artinya apabila salah satu faktor produksi tersebut meningkat maka akan meningkatkan produksi pada industri kerajinan kulit di Kabupaten Merauke.
Pertumbuhan fitoplankton Coccolithophore sp di Wadah Terkontrol Dengan Kepadatan Inokulum Yang Berbeda Anita Padang
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6 (2013): Publikasi Edisi Spesial
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.6.0.33-38

Abstract

Fitoplankton merupakan pakan alami yang baik bagi larva ikan pada fase awal pengenalan makanan dan zooplankton. Salah satu jenis fitoplankton yang dibudidayakan sebagai pakan alami yaitu Coccolithophore sp, dimana pertumbuhan Coccolithophore sp dipengaruhi oleh salinitas, pH, suhu dan kepadatan inokulum. Inokulum adalah bibit kultur yang diperoleh dari stok bibit atau sering disebut stok starter tujuan penelitian adalah untuk mengamati pertumbuhan Coccolithophore sp dalam wadah terkontrol dengan kepadatan inokulum yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 di Laboratorium Pakan Alami Balai Budidaya Laut Ambon, dengan tiga perlakuan kepadatan inokulum yaitu: 1,6-2,2x106 sel/ml (A), 2,3-2,7x106 sel/ml (B) dan 2,8-3,2x106 sel/ml (C). Perhitungan kepadatan dilakukan setiap 24 jam selama 14 hari dengan menggunakan miksrokop NIKON SF pada pembesaran 400x. Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan kepadatan sel serta waktu pencapaian puncak pertumbuhan, dimana perlakuan  A dan B menggalami puncak pertumbuhan pada hari kesebelas dengan kepadatan sel pada perlakuan A sebesar 72,07 x106 sel/ml  dan perlakuan B sebesar 63,36 x106 se/ml sedangkan perlakuan C mencapai puncak pertumbuhan pada hari kesepuluh sebesar 51,69 x106 sel/ml.
Model pentahelix pengembangan wisata Desa Sawai berbasis green tourism Novalien Carolina Lewaherilla; Conchita Valentina Latupapua; Restia Christianty
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 15, No 2 (2022)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.15.2.459-465

Abstract

Pentingnya peranan Pentahelix Pariwisata untuk pengembangan Desa Wisata menjadi salah satu dasar penelitian ini dilakukan. Dengan mengambil lokasi pada Desa Sawai Kabupaten Maluku Tengah yang merupakan salah satu desa Wisata, diharapkan mampu menghasilkan Model Pentahelix dalam Pengembangan Pariwisata Desa Sawai berbasis Green Tourism Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode wawancara dan kuisioner dengan aktor Pentahelix yakni Pemerintah, Community, Buinis, Media dan juga Akademisi yang berperan dalam pengembangan Wisata di Desa Sawai. Sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan sebuah kajian yang komprehensif dalam membangun Model Pentahelix yang terintegrasi dalam Pengembangan Desa Wisata
Analisis potensi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan kuwe (Carangidae sp) di perairan Laut Flores Propinsi Sulawesi Selatan Umar Tangke
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.3.2.31-38

Abstract

Tujuan utama pengelolaan sumberdaya perikanan ditinjau dari segi biologi adalah upaya konservasi stok ikan untuk menghindari lebih tangkap tangkap. Dalam eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya perikanan, diperlukan dugaan potensi sumberdaya perikanan yang dapat memberi gambaran mengenai tingkat dan batas maksimal dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di suatu wilayah. Dengan demikian pembangunan perikanan dapat direncanakan sedemikian sehingga potensi sumberdaya perikanan laut tetap berkelanjutan (sustainable) untuk mendukung kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dan tingkat pemanfaatan ikan kuwe di perairan laut Flores. Hasil penelitian menunjukan bahwa, jumlah MSY adalah 1261.980 untuk Model Scheafer dan 1173.808 untuk Model Fox dan jumlah effort optimum adalah 302016 untuk Model Scheafer dan 201140 untuk Model Fox, dimana data MSY tersebut menunjukan bahwa produksi ikan kuwe (Carangidae sp) diperairan laut Flores telah mengalami Over Fishing pada tahun 2003 dengan produksi adalah 1298.5000 Ton dan jumlah effort adalah 409346 unit.