cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Raheema
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Raheema (P-ISSN: 2502-812X and E-ISSN: 2502-8111) is a scientific journal Gender and Children, published by the Center for the Study of Gender and Children (PSGA) Institute for Research and Services In the Community (LP2M) State Islamic Institute (IAIN) Pontianak. This journal contains the works of authors and researchers who have competence in their skills. A vision of the journal Raheema is: Realizing the scientific community who have vision, knowledge, awareness, and concern about Gender and Children. While the mission of the journal Raheema is: First, Being the Information Center and the study of science on Gender and Children for all academics and the general public. Second, Making Media Journal Raheema as scientific publications Gender and Child-quality, innovative and competitive locally, nationally, and internationally. Third, to accommodate, to develop the knowledge, insight, and ideas of the author and researcher in the field of Gender and Children. Raheema journal is published twice a year, namely in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2019)" : 9 Documents clear
FAMILY INVOLVEMENT IN ECOLOGICAL DA’WAH THROUGH “SAIPUL BIMBANG” Patmawati Patmawati; Santa Rusmalita; Wardah Wardah
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.105 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1513

Abstract

Garbage is a classic problem in our environment, including in Banjar Serasan. The society live on the Kapuas river banks and usually throw the garbage in the river, as the river were a large garbage can that will carry their trash at low tide. They also used the river for bathing and washing, which in turn will also affect their health. This is what makes environmentalists from the village, health center, and maternal and child health services conducted ecological da’wah through “Saipul Bimbang”. It stands for "Garbage Collected Bring Weighing". The activities involved families, especially mothers who will weigh their babies while carrying a bag of trash. This research was a qualitative. The data obtained through observation, interviews and documentation. The results showed that the family played an important role in ecological da’wah through “Saipul Bimbang”. The method used was face to face, counseling and activities involving mothers and babies. The result of this ecological da’wah is the increase of society’s awareness that garbage is not an environmental disturbance, even garbage is a blessing, as long as garbage can be processed and utilized. Keywords: Ecological Da’wah, Garbage, Blessing, Saipul Bimbang Sampah adalah masalah klasik di lingkungan kita, termasuk di Banjar Serasan. Masyarakat tinggal di tepi sungai Kapuas dan biasanya membuang sampah di sungai, karena sungai itu adalah tong sampah besar yang akan membawa sampah mereka pada saat air surut. Mereka juga menggunakan sungai untuk mandi dan mencuci, yang pada gilirannya juga akan mempengaruhi kesehatan mereka. Inilah yang membuat para pencinta lingkungan dari desa, pusat kesehatan, dan layanan kesehatan ibu dan anak melakukan dakwah ekologi melalui “Saipul Bimbang”. Singkatan dari "Garbage Collected Bring Weighing". Kegiatan tersebut melibatkan keluarga, terutama para ibu yang akan menimbang bayi mereka sambil membawa kantong sampah. Penelitian ini adalah kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memainkan peran penting dalam dakwah ekologi melalui “Saipul Bimbang”. Metode yang digunakan adalah tatap muka, konseling dan kegiatan yang melibatkan ibu dan bayi. Hasil dakwah ekologis ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa sampah bukanlah gangguan lingkungan, bahkan sampah adalah berkah, selama sampah dapat diolah dan dimanfaatkan. Keywords: Da’wah Ekologi, Sampah, Sukarela, Saipul Bimbang
DILEMA RUANG PEREMPUAN DALAM KELUARGA DAN PUBLIK Studi Kasus Peran Perempuan di Kecamatan Pontianak Utara Fitri Kusumayanti
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.015 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1514

Abstract

Women and their mobility remain an interesting study. This article seeks to reveal the role of women in the family room and public space in women in North Pnontianak District. Through qualitative research methods, it is known that the role of women in the family room and public is still in a very dilemmatic condition. One side of women can work freely in the public sphere, but on the other hand they also receive the impact of patriarchal interpretation which in fact remains a subordinate man in the eyes of men. Keywords: Gender, Islam and Women Perempuan dan ruang geraknya stetap menjadi kajian menarik. Artikel ini berupaya mengungkap peran perempuan di ruang keluarga dan ruang publik pada perempuan di Kecamatan Pnontianak Utara. Melalui metode penelitian kualitatif, diketahui bahwa peran perempuan di ruang keluarga dan publik masih dalam kondisi yang sangat dilematis. Satu sisi kaum perempuan dapat bekerja leluasa di ruang publik, tapi di sisi yang lain mereka juga menerima dampak tafsir patriarki yang sejatinya tetap menjadi manusia subordinatif di mata laki-laki. Kata Kunci: Gender, Islam dan Perempuan
RELIGION GAP IN FAMILY (STUDY OF COMMUNITY OF SINGKAWANG CITY WEST KALIMANTAN) Amalia Irfani
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.994 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1516

Abstract

There are so many social impacts in marriages of different religions and cultures. For example, the problem of education, or the religiousness of children which can change at any time and can not be controlled when the child faces social problems. This paper illustrates how the family life of the multicultural society in West Kalimantan in Singkawang City which is married in different religion but until the end of life remains harmonious. Using the communication psychology approach and the Psychological Theory of Piaget's Cognitive Development . Data obtained through observation, interviews and documentation. According to the research, the differences are caused by cultures brought down from generation to generation, the existence of relentlessness and the ability to adapt to change when the child has decided to choose a religion, parents of different religions tend to be prepared for the consequences of being different religious families. There is also unique finding from this study, that interpersonal communication is effective in establishing intimate and harmonious relationships but has not been able to reduce the inner conflict experienced by child informants as children of couples of different religious parent. In addition, harmonious relationships do not guarantee the success and effectiveness of children in making decisions. Keywords: parents parenting, families of different religions, decision making Ada begitu banyak dampak sosial dalam pernikahan dari berbagai agama dan budaya. Misalnya, masalah pendidikan, atau religiusitas anak yang dapat berubah setiap saat dan tidak dapat dikendalikan ketika anak menghadapi masalah sosial. Makalah ini menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga masyarakat multikultural di Kalimantan Barat di Kota Singkawang yang menikah di berbagai agama tetapi sampai akhir hayat tetap harmonis. Menggunakan pendekatan psikologi komunikasi dan Teori Psikologis Perkembangan Kognitif Piaget. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Menurut penelitian, perbedaan itu disebabkan oleh budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi, keberadaan tanpa belas kasihan dan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan ketika anak telah memutuskan untuk memilih agama, orang tua dari berbagai agama cenderung siap untuk konsekuensi. menjadi keluarga agama yang berbeda. Ada juga temuan unik dari penelitian ini, bahwa komunikasi interpersonal efektif dalam membangun hubungan yang intim dan harmonis tetapi belum mampu mengurangi konflik batin yang dialami oleh informan anak sebagai anak-anak dari pasangan pasangan orang tua yang berbeda agama. Selain itu, hubungan yang harmonis tidak menjamin kesuksesan dan efektivitas anak dalam membuat keputusan. Kata kunci: pengasuhan orang tua, keluarga dari berbagai agama, pengambilan keputusan
SMART PARENTING: TEACHING ENGLISH FOR KIDS AT HOME Nanik Shobikah
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.508 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1463

Abstract

This article discusses the role of parents especially the mother in caring and guiding their children to learn and study English at home. English as a second language acquisition in Indonesia made this language important to be learned by children. The earlier the children study English, the better English they have. This study is a qualitative research using literature review method. The collection data used is literature review. The data are taken from the references deal with the research focus such as journals, articles, and books. This articles found that many activities can be occured by the smart parents in learning English at home with their children such as reading an English book stories, watching English movies, singing an English children song, coloring English vocabulary pictures, playing English vocabulary games, and playing a role play. The parents are also must prepare the English book stories, English children movies, English children songs, coloring English vocabulary pictures, and English vocabulary dictionary.
AISYAH SEBAGAI FIGUR EMANSIPASI PEREMPUAN DUNIA Tisna Nugraha
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.017 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1518

Abstract

Humans are naturally born with a unique identity difference between one self and another. This difference also includes differences in inner spirit and physical form attached to humans which are then classified into the sexes of men and women, as evidence of the greatness of the Creator in realizing His creation of the universe. This difference was not originally to dominate the roles and positions of one another, but rather to complement each other, to share love and so that they both felt at ease. However, the journey of humanity's life in conquering nature and fighting each other in seizing the glory, changing the dominance of roles and positions between men and women. The physical weaknesses of women then deprived them of their rights, so that in the future, women's emancipation is born, a movement to obtain gender justice and equality between men's and women's rights. Among women emancipation figures, Aisyah is a figure that can not only be seen from the religious and spiritual side, but also from various other sides such as politics, economics, and education. Aisha can be said to be the foundation of gender justice and women's emancipation in the world. It is a reflection that the ideal of women's success is not only due to their achievement of happiness in the world, but also the hereafter. Keywords: Aisha, Emancipation and Women Manusia secara kodrati lahir dengan perbedaan identitas yang unik antara diri yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini juga mencakup perbedaan atas spirit bathiniah dan bentuk fisik yang melekat pada manusia yang kemudian digolongkan atas jenis kelamin laki-laki dan perempuan, sebagai bukti kebesaran sang Pencipta dalam mewujudkan kreasi-Nya atas alam semesta. Perbedaan ini pada awalnya bukanlah untuk saling mendominasi peran dan kedudukan antara satu dengan yang lain, melainkan untuk saling melengkapi, saling berbagi kasih sayang dan agar keduanya cenderung merasa tentram. Namun, perjalanan hidup umat manusia dalam menaklukan alam serta saling brtempur dalam merebut kejayaan, merubah dominasi peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Kelemahan perempuan secara fisik kemudian menjadikan hak-hak atas mereka dirampas, sehingga dikemudian hari melahirkan emansipasi perempuan yaitu suatu gerakan untuk memperoleh keadilan gender dan kesetaraan antara hak laki-laki dan perempuan. Diantara tokoh emansipasi perempuan, Aisyah merupakan figur yang tidak hanya dapat dilihat dari sisi religius dan spiritual, namun juga dari berbagai sisi lainnya seperti politik, ekonomi, dan pendidikan. Aisyah dapat dikatakan sebagai peletak dasar keadilan gender dan emansipasi perempuan di dunia. Ia merupakan cerminan bahwa kesuksesan perempuan yang ideal bukan hanya sekedar atas pencapaian mereka akan kebahagian di dunia, melainkan juga akhirat. Kata Kunci: Aisyah, Emansipasi dan Perempuan
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA PERSPEKTIF ISLAM Zulkifli Zulkifli
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.435 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1515

Abstract

Data from the field shows that the number of violence against women, especially in the household continues to increase from time to time. Domestic violence (Kekerasan Dalam Rumah Tangga [KDRT]) is one proof of gender equality and justice not being realized. It is generally understood that one of the important factors that support and even enrich the practice of domestic violence is religious teachings, especially Islamic teachings contained in the Koran and Hadith. The basic question raised in this paper is: is it true that the Qur'an and the hadith teach about domestic violence? By using the literature study method, it is found that there has been a interpretation of gender bias in interpreting the verses and hadiths related to hitting a wife who is indicative of nusyuz. The verses of the Qur'an and the traditions of the Prophet do not justify committing acts of violence against wives and women in general. Thus, the source of domestic violence is not sourced from the Qur'an and the hadith of the Prophet. The source is the understanding of scholars (ulama) who are gender biased. Therefore, a new perspective is needed in interpreting the verses of the Qur'an and the traditions of the Prophet towards understanding the teachings of Islam with gender justice. Data dari lapangan menunjukkan angka kekerasan terhadap perempuan, khususnya di dalam rumah tangga terus meningkat dari waktu ke waktu. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu bukti belum terwujudnya kesetaraan dan keadilan jender. Umum dipahami bahwa salah satu faktor penting yang mendukung bahkan menyuburkan praktik KDRT adalah ajaran agama, khususnya ajaran Islam yang terdapat di dalam Alquran dan hadis. Pertanyaan mendasar yang diajukan dalam tulisan ini adalah: benarkan Alquran dan hadis mengajarkan tentang KDRT? Dengan menggunakan metode kajian pustaka, ditemukan bahwa telah terjadi tafsir bias jender dalam memaknai ayat-ayat dan hadis yang terkait dengan memukul istri yang terindikasi nusyuz. Ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi tidak membenarkan melakukan tindak kekerasan terhadap isteri dan perempuan pada umumnya. Dengan demikian, sumber perilaku KDRT bukanlah bersumber dari Alquran dan hadis Nabi. Sumbernya adalah pada pemahaman para ulama yang bias jender. Oleh karena itu, diperlukan cara pandang baru dalam memaknai ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi menuju pemahaman ajaran Islam yang kerkeadilan jender.
HALAQAH KELUARGA DI ERA MILENIAL PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAKWAH Cucu Cucu; Isyatul Mardiyati
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.244 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1399

Abstract

The halaqah method in practice has been applied in various joints of human life, including in formal educational institutions to da'wah institutions. However, the application of the halaqah method in the home seems to be very rare. In terms of family law a strong bond between father and mother will be formed as da'i with mad'u (recipient of the message) who is also his children. The focus of his research is how halaqah is applied at home as an effort to strengthen family Islam. Through field research with the approach of psychological proselytizing, it was found that in family halaqah activities not only messages are easily absorbed, but mental contact between da'i to mad'u, even between mad'u and other mad'u will be absorbed well. In addition, in halaqah not only is the understanding of family Islam increasing, but the communication and intimacy of family members are increasingly well realized. Furthermore, from this study found a new formulation in strengthening Islamic through halaqah, namely: The house became the center of the formation of family quran personality, and the stronghold of negative social media, and the House as a medium of family counseling. Keywords: Halaqah, and the Formation of the Soul Qur'ani Metode halaqah pada praktiknya telah diterapkan di berbagai sendi kehidupan manusia termasuk di lembaga-lembaga pendidikan formal hingga di lembaga-lembaga dakwah. Namun penerapan metode halaqah dalam rumah nampaknya masih sangat jarang Padahal dalam halaqah keluarga akan terbentuk suatu ikatan yang kuat antara ayah dan ibu sebagai da’i dengan mad’u (penerima pesan) yang juga merupakan anak-anaknya. fokus penelitiannya adalah bagaimana halaqah diterapkan di rumah sebagai upaya penguatan keislaman keluarga. Melalui penelitian lapangan dengan pendekatan psikologi dakwah, ditemukan bahwa dalam kegiatan halaqah keluarga tidak hanya pesan yang mudah diserap, tetapi kontak mental antara da’i terhadap mad’u, bahkan antar mad’u dengan mad’u yang lain akan terserap secara baik. Selain itu, dalam halaqah bukan hanya pemahaman keislaman keluarga yang meningkat, tetapi komunikasi dan keintiman anggota keluarga semakin terealisasi dengan baik. Selanjutnya dari penelitian ini ditemukan adanya formulasi baru dalam penguatan keislaman melalui halaqah, yaitu: Rumah menjadi pusat pembentukan kepribadian qur’ani keluarga, dan benteng arus negatif media sosial, serta Rumah sebagai media konseling keluarga. Kata Kunci: Halaqah, dan Pembentukan Jiwa Qur’ani
ANAK DAN PEREMPUAN DALAM PELINDUNGAN KEKERASAN RUMAH TANGGA Baharuddin Baharuddin
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.062 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1517

Abstract

Children are a very valuable asset, then maintain, protect and provide good education, both religious and social education that is good and right. So they grow and develop into a good child and become the light of parents, family, religion and society. The primary and first education starts from the family because all the children know from new birth are only parents and close family, then the surrounding environment. This is also one of the main factors determining the good and bad character and morals of children. Children are basically pure human beings who have just been chosen. But the reality is certainly there are still many children who do not get their rights, they do not get a proper education, there is no care, no care and other rights. Every child has the right to receive care from both parents, this is so that the child's mentality can develop properly. If the child is not well educated, deviant behaviors will arise, from this disobedient behavior law violations will emerge. We have to protect this child as well as possible. Nowadays, women are also often we with a lot of abuse and violence at home so that women must become priority to be protected so that they get legal protection properly. Keywords: Women, Children, Protection, Violence, Protection Anak merupakan harta yang sangat berharga, maka pelihara, lindungi dan berilah pendidikan yang baik, baik itu pendidikan agama dan sosial kemasyarakatan yang baik dan benar. Sehingga mereka tumbuh kembang menjadi anak yang baik dan menjadi cahaya orang tua, keluarga, agama dan masyarakat. Pendidikan utama dan pertama itu dimulai dari keluarga karena yang anak kenal dari baru lahir cuma orang tua dan keluarga dekatnya, selanjutnya baru lingkungan sekitarnya. Ini juga salah satu faktor utama menentuka baik buruknya akhlak serta moral anak. Anak pada dasarnya adalah manusia yang masih suci yang baru diliharikan. Namun kenyataannya yang pasti masih banyak anak yang tidak mendapatkan hak-haknya, ia tidak mendapatkan pendidikan yang layak, tidak ada yang mengasuh, tidak mendapat perawatan dan hak-hak lainnya. Setiap anak berhak mendapat asuhan dari kedua orang tuanya, hal ini agar mental anak dapat berkembang secara baik. Jika anak tidak dididik secara baik maka akan timbul perilaku-perilaku menyimpang, dari perilaku menyipang ini akan muncul pelanggaran-pelanggaran hukum. Hal ini anak harus kita lindungi sebaik-baik mungkin. Dewasa ini juga perempuan juga sering kali kita dengan banyak pelecehan dan kekerasan dirumah tangga sehingga perempuan harus menjadi perioritas untuk dilindungi sehingga mereka mendapatkan perlindungan hukum secara baik dan benar. Kata Kunci: Perempuan, Anak, Pelindungan, Kekerasan, Perlindungan
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB DAN DAMPAK KELUARGA BROKEN HOME Imron Muttaqin; Bagus Sulistyo
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.765 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1492

Abstract

Keluarga yang seharusnya mempunyai fungsi edukasi, sosialisasi, proteksi dan afeksi pada anak dapat tercerai-berai apabila terjadi broken home. Hubungan antara orang tua dan anak memang tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun. Artikel ini membahas tentang faktor penyebab broken home dan dampaknya bagi anak yang disimpulkan melalui analisis terhadap karya ilmiah akademisi dan praktisi melalui jurnal dan buku-buku terkait broken home. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpukan bahwa faktor penyebab broken home adalah tersumbatnya komunikasi keluarga, egoisme, perekonomian, tingkat pemahaman/Pendidikan, kesibukan dan gangguan pihak ketiga. Dampak broken home adalah perilaku agresif anak, kenakalan, prestasi sekolah menurun, perilaku menyimpang, dan gangguan kejiwaan berupa broken heart, broken integrity, broken value dan broken relation. Bagi keluarga yang menginginkan keluarga yang bahagia direkomendasikan agar menjaga dan mengatisipasi faktor-faktor penyebab broken home.

Page 1 of 1 | Total Record : 9