cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
English and Literature Journal
ISSN : 23550821     EISSN : 25805215     DOI : -
ELITE: English and Literature Journal (Print ISSN: 2355-0821, Online ISSN: 2580-5215) is a peer-reviewed journal devoted specifically to the studies of English linguistics and literature and other literatures with a special emphasis on local culture, wisdom, philosophy and identity. Published twice a year in June and December, the first edition of ELITE was published in 2013. The journal contents are managed by the English and Literature Department, Faculty of Adab and Humanities, Alauddin State Islamic University of Makassar, Indonesia. The primary objective of the journal is to provide a productive forum for lecturers, researchers, authors, graduate students, and practitioners to present results of their recent studies in the areas of English linguistics and literature and other literary traditions. The journal is also intended to help disseminate recent developments in theories, concepts, and ideas in the areas concerned to the academic community of language and literature studies in Indonesia in particular and worldwide in general.
Arjuna Subject : -
Articles 215 Documents
A MULTIMODAL DISCOURSE OF PROMOTIONAL VIDEO WONDERFUL INDONESIA Muhammad Ansori; Lita Liviani Taopan
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.655 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a1

Abstract

This study aimed at exploring the ideational and representational meaning of a promotional video Wonderful Indonesia. By applying the Systemic Functional Linguistics and Visual Grammar framework, this study views how the verbal and visual modes construe the meaning in the video. It is concluded that verbal mode contributes to build ideational meaning that intended to promote tourism as well as to persuade the tourists to visit Indonesia. Besides, the visual modes successfully depict both conceptual and narrative representation that are the hospitality of local people, the diversity of culture, the beauty of nature, and the modernity of Indonesia. At the end of the discussion, this study shows how to implement the dynamic modes in the context of English language teaching that will be beneficial for teaching ESP and vocational school. Keywords: Multimodal discourse analysis, ideational meaning, representational meaning, promotional videoABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna ideasional dan representasional dari video promosi Wonderful Indonesia. Dengan menerapkan Linguistik Fungsional Sistem dan bingkai Tata Bahasa Visual, penelitian ini melihat bagaimana mode verbal dan visual menafsirkan makna dalam video. Dapat disimpulkan bahwa mode verbal berkontribusi untuk membangun makna ideasional yang dimaksudkan untuk mempromosikan pariwisata serta membujuk para wisatawan untuk mengunjungi Indonesia. Selain itu, mode visual berhasil menggambarkan representasi konseptual dan naratif yang ramah masyarakat setempat, keanekaragaman budaya, keindahan alam, dan modernitas Indonesia. Pada akhir diskusi, penelitian ini menunjukkan bagaimana menerapkan mode dinamis dalam konteks pengajaran bahasa Inggris yang akan bermanfaat untuk pengajaran ESP dan sekolah kejuruan. Kata kunci: Analisis wacana multimodal, makna ideasional, makna representasional, video promosi 
THE MEANING OF PERFORMATIVE VERBS IN ENGLISH MOVIES Rosaria Mita Amalia
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.083 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a6

Abstract

 The utterance that contains performative verb explicitly has subject pronominal I, present simple tense, and direct object. The meaning of performative verb contains declarative, representative/assertive, expressive, directive, and commisive meaning.The method used in this research is a descriptive method. According to Djajasudarma (1993 : 8), a descriptive method aims to make descriptions; make pictures, paint  a systematic, factual and accurate picture of the information or data, properties, and phenomena under study. The steps of this research were: (1) literature review, (2) the collection of data, (3) data analysis, and (4) conclusions.The data was taken from conversation on ‘Gladiator’ and ‘A Few Good Man’ Movies. The results show that the performative verbs in the movies are ‘warn’, ‘assume’, ‘admit’ which are categorized into representative/assertive meaning, ‘promise’, ‘bet’, ‘reject’, ‘swear’ whose meanings are commisive,’order’, ‘ask’, ‘advise’, ‘beg’, ‘command’ which have directive meaning, ‘judge’, ‘announce’, ‘declare’ which have declarative meaning, and ‘apologize’, ‘thank’, ‘honor’, ‘salute’ which have expressive meaning. All performative verbs mentioned are found in explicit and implicit performative speech. Keywords: Performative verb, assertive, directive, declarative, commisive, and expressive meaning ABSTRAK Ucapan yang mengandung verba performatif secara eksplisit memiliki ciri; subjek pronominal I,  dalam bentuk present simple tense, dan direct object. Arti verba performatif mengandung makna deklaratif, representatif / asertif, ekspresif, direktif, dan komisif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Djajasudarma (1993: 8), metode deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi; membuat gambar, melukiskan gambaran sistematis dari informasi atau data, sifat, dan fenomena yang diteliti Langkah-langkah penelitian ini adalah: (1) tinjauan literatur, (2) pengumpulan data, (3) analisis data, dan (4) kesimpulan. Data diambil dari percakapan para tokoh dalam film 'Gladiator' dan 'A Few Good Men'. Konversasi yang terjadi dalam film merupakan refleksi terhadap konversasi yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari. Data yang berhasil dihimpun dari kedua film di atas sangatlah cukup dan valid sebagai represntasi penggunaan verba performatif dalam kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba performatif yang ditemukan dalam film-film tersebut adalah warn’, ‘assume’, ‘admit’ yang dikategorikan menjadi makna asertif, ‘promise’, ‘bet’, ‘reject’, ‘swear’ termasuk dalam makna komisif. Selanjutnya adalah verba ’order’, ‘ask’, ‘advise’, ‘beg’, ‘command’ yang termasuk ke dalam kategori direktif. Lalu untuk kategori makna deklaratif ditemukan dalam verba seperti ‘judge’, ‘announce’, ‘declare’, dan verba ‘apologize’, ‘thank’, ‘honor’, ‘salute’ yang memiliki makna ekspresif.Semua verba performatif yang disebutkan ditemukan dalam tindak tutur performatif eksplisit dan implisit. Kata kunci: verba performatif, makna asertif, direktif, deklaratif, komisi, dan ekspresif 
YORUBA CULTURE INFLUENCE INTO CONTEMPORARY STAGE THROUGH WOLE SOYINKA’S THE SWAMP DWELLERS Muhammad Baihaqi; Muhammad Yakob
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.153 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a2

Abstract

This paper aims to observe the full development of literature on the African continent through special attention to a world-leading literary scholar from Africa, Wole Soyinka with his masterpiece drama the Swanp Dwellers. This paper also explore the history of the greatness of Wole Soyinka who continually nurtured Yoruba cultural traditions through her works. More interestingly, the description of Yoruba culture is not only seen in his works, but also has colored the life of the author himself. Although his mind and personality were influenced by the outside world when he continued his studies in the United Kingdom, his love and love for local cultural traditions, especially Yoruba culture, remained something to be prioritized. The method used is descriptive qualitative by using content analysis approach . The result of the research shown that the Yoruba culture with contemporary stage reflected into swamp dweller drama and had been influenced others cultural  over the whole of Africa till now.Keywords: Yoruba, Wole Soyinka, Swamp Dwellers Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengamati secara utuh perkembangan  sastra di benua Afrika melalui perhatian khusus kepada seorang sarjana sastra terkemuka dunia yang berasal dari Afrika  yaitu Wole Soyinka dengan drama terkenalnya the Swamp Dwellers.  Tulisan ini juga akan menelusuri sejarah kehebatan Wole Soyinka yang secara terus menerus menyuburkan tradisi budaya Yoruba melalui karya-karyanya. Lebih menarik lagi penjabaran budaya Yoruba tidak hanya terlihat pada karya-karyanya, namun juga telah mewarnai kehidupan pengarang itu sendiri . Walaupun pikiran dan pribadinya telah dipengaruhi oleh dunia luar sewaktu beliau melanjutkan studinya di United Kingdom, namun cinta dan rasa kasihnya kepada tradisi budaya setempat terutama budaya Yoruba tetap menjadi sesuatu yang harus diutamakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan content analisis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa budaya Yoruba dengan latar kontemporer tergambarkan melalui drama swamp dweller yang ditulis oleh Wole Soyinka dan juga telah mempengaruhi budaya lainnya di afrika hingga saat ini.. Kata kunci: Yoruba , Wole Soyinka, Swamp Dweller
PARTICULARIZATION IN INSIDIOUS 4: THE LAST KEY MOVIE (INDONESIAN SUBTITLE) Lilik Istiqomah; Nurwidayati Nurwidayati; Atatin Atiqotul
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.869 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a7

Abstract

This research attempts to find out the translation technique used in Indonesian subtitle, especially for the particularization of “Insidious 4: The Last Key”. This study used descriptive qualitative approach with document analysis since the data consists largely of words. The data source of this study is “Insidious 4: The Last Key” movie. The data are the subtitle of “Insidious 4: The Last Key” movie containing compound- complex sentences taken from www.subscene.com. The finding revealed that they are 53 utterences translated using particularization technique which are divided into 3, they are : (1) Particularization in Word; (2) Particularization in Phrase; and (3) Particularization in Sentence. Particularization in Phrase is divided into 4, that are: (1) Noun Phrase; (2) Verbial Phrase; (3) Prepositional Phrase; and (4) Adverbial Phrase. Keywords: Translation technique, Particularization, SubtitleABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik penerjemahan yang digunakan dalam subtitle film berbahasa Indonesia, terutama untuk partikularisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis dokumen karena data sebagian besar terdiri dari kata-kata. Data adalah subtitle dari film Insidious 4: The Last Key yang berisi kalimat majemuk yang diambil dari www.subscene.com. Temuan ini mengungkapkan bahwa ada 53 ucapan yang diterjemahkan menggunakan teknik partikularisasi yang dibagi menjadi 3, yaitu: (1) Partikulatisasi dalam kata; (2) Partikulasi dalam Frasa; dan (3) Partikulasi dalam Kalimat. Partikulasi dalam Frasa dibagi menjadi 4, yaitu: (1) Frasa Kata benda; (2) Frasa Verbial; (3) Frasa Preposisi; dan (4) Frasa Adverbia.Kata kunci: Teknik penerjemahan, Partikularisasi, Subtitle
POWER AND IMPOLITENESS IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Ayu Ratri; Priyatno Ardi
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.231 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a3

Abstract

This research examines the types of impoliteness strategies and the purposes of the exercise of power through impolite language in the movie The Devil Wears Prada. This study focuses on two characters, namely Miranda and Emily, who have power relationship in their workplace. The researchers employed qualitative content analysis method. The findings suggest that Miranda used all types of impoliteness strategies. Meanwhile, Emily only used bald on record impoliteness, positive impoliteness, negative impoliteness, and sarcasm or mock politeness. The purposes of Miranda’s exercise of power were to appear as superior, get authority over actions, dominate in a conversation, and to reactivate the power. At the same time, the purposes of Emily’s exercise of power were to appear as superior, to get authority over actions, to emphasize the power hierarchy, and to reactivate the power.Keywords: impoliteness strategies, power, The Devil Wears Prada movieABSTRAKPenelitian ini membahas jenis strategi ketidaksantunan dan tujuan penggunaan kekuasaan melalui bahasa yang tidak santun dalam film The Devil Wears Prada. Fokus penelitian ini pada dua karakter, yaitu Miranda dan Emily, yang memiliki hubungan kekuasaan di tempat kerja mereka. Analisis konten digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Miranda menggunakan semua jenis strategi ketidaksantunan. Sementara itu, Emily hanya menggunakan ketidaksantunan secara langsung (bald on record impoliteness), ketidaksantunan positif (positive impoliteness), ketidaksantunan negatif (negative impoliteness), dan sarkasme atau kesantunan semu (sarcasm or mock politeness). Tujuan Miranda menggunakan kekuasaanya adalah untuk tampil superior, mendapatkan otoritas atas tindakan, mendominasi percakapan, dan untuk mengaktifkan kembali kekuaasaan. Tujuan Emily menggunakan kekuasaannya adalah untuk tampil superior, untuk mendapatkan otoritas atas tindakan, untuk menekankan hierarki kekuasaan, dan untuk mengaktifkan kembali kekuasaan.Kata Kunci: strategi ketidaksantunan, kekuasaan, film The Devil Wears Prada 
A COMPARATIVE STUDY: FITZGERALD’S THE GREAT GATSBY AND WINTER DREAMS THROUGH MARXIST LITERARY CRITICISM Dewi Christa Kobis
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.699 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a4

Abstract

This study discusses about both Fitzgerald’s works entitled The Great Gatsby as a novel (1926) and Winter Dreams (1922) as a short story. These works talk about a man who is originally from low social status but try to pursue his dream to be rich in purpose to get the women that he loves. The purposes of this study are to know the reason of why Gatsby and Dexter eager to be rich and being successful financially, and whether their reasons to be rich relate to economic power and class struggle in the context of Marxist criticism that had been proposed by Karl Marx or not. This also aims to know whether or not American society at that time gave contributions regarding Gatsby’s and Dexter’s action in pursuing their dreams for being rich as what had been depicted by Fitzgerald. This study is a descriptive qualitative study and uses library research and document study. At the end, this study found that both of The Great Gatsby and Winter Dreams that Fitzgerald wrote had the same theme regarding the social status and economic power. Although these two literary works had a difference where Gatsby believed that he would be able to get Daisy when he became rich and Dexter knew that he might not be able to be with Judy because of his low social status, but after all, these works of Fitzgerald both carried a lot of social status and economic power issues which had been highly talked in 1920s.Keywords: The Great Gatsby, Winter Dream, Marxism, American Dream. ABSTRAK Penelitian ini membahas dua karya sastra karya Fitzgerald yang berjudul The Great Gatsby yang merupakan sebuah novel (1926) dan Winter Dreams (1922) yang merupakan cerita pendek. Kedua karya ini menceritakan tentang seorang pria yang sebelumnya berasal dari kalangan kelas ekonomi rendah tapi mencoba untuk menggapai mimpinya untuk menjadi kaya dengan tujuan untuk mendapatkan wanita yang dicintainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan mengapa Gatsby dan Dexter ingin sekali untuk menjadi kaya dan mapan secara ekonomi, dan apakah alasan mereka untuk menjadi kaya berhubungan dengan kekuasaan ekonomi dan perjuangan kasta dalam konteks kritik Marxist dari Karl Marx atau tidak. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah masyarakat Amerika pada periode tersebut memberikan konstribusi terhadap perlakuan dari Gatsby dan Dexter dalam menggapai mimpi mereka untuk menjadi kaya seperti apa yang digambarkan oleh Fitzgerald. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dan menggunakan penelitian pustaka dan analisis dokumen. Akhirnya, penelitian ini mendapati bahwa The Great Gatsby dan Winter Dreams yang ditulis oleh Fitzgerald mempunyai tema yang sama terkait status sosial dan kuasa ekonomi. Dua karya ini punya sebuah perbedaan dimana Gatsby percaya bahwa dia akan mendapatkan Daisy jika dia menjadi kaya dan Dexter mengethaui bahwa dia tidak akan pernah mampu untuk bersama Judy dikarenakan status sosialnya. Secara spesifik, kedua karya dari Fitzgerald ini sama-sama membawa banyak permasalahan dan isu sosial terkait pengaruh kuasa ekonomi yang banyak diperbincangkan pada tahun 1920an. Kata Kunci: The Great Gatsby, Winter Dream, Marxism, Impian masyarakat Amerika
ADULT SECOND LANGUAGE ACQUISITION IN CROSS CULTURAL CONTEXT: A CASE STUDY OF A STUDENT FROM GUINEA BISSAU (WEST AFRICA) WHO LEARNS BAHASA INDONESIA AS HIS SECOND LANGUAGE Umbu Tonga; Hilda Hafid
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 2 (2019): December
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.935 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i2a3

Abstract

The world migration is an interesting issue to be discussed. Reflecting on the recent phenomenon, world migration makes the people become the world citizen. Indeed, it is challenging the people to be more aware of cross cultural understanding because they have to live in a place where the culture is totally different from theirs. One key to face the challenges of becoming world citizen is to be able to communicate with a lingua franca used in a specific setting. This study aims to investigate how a student from Guinea Bissau (West Africa) learns Bahasa Indonesia as his second language when he studies in Indonesia. This study was conducted by doing an in-depth interview with the subject used notes and video recording. The results show the relevant influence of first language to his second language acquisition and the settings of language learning exposed the subject to effectively communicate in L2 and also gets corrective feedbacks when he makes grammatical mistakes or errors.Keywords: World Migration, Cross Cultural Understanding, Second Language AcquisitionABSTRAK Migrasi dunia merupakan suatu isu yang menarik untuk didiskusikan. Berkaca dari fenomena masa kini, migrasi dunia membuat manusia menjadi warga negara dunia. Tentu saja, hal ini menantang manusia untuk semakin menyadari pemahaman lintas budaya karena mereka hidup di tempat di mana budayanya sangat berbeda dari budaya asal mereka. Salah satu kunci untuk menghadapi tantangan menjadi warga negara dunia adalah mampu berkomunikasi dengan bahasa pengantar yang digunakan di tempat tertentu. Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi bagaimana seorang mahasiswa dari Guinea Bissau (Afrika Barat) mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya ketika dia melanjutkan studi di Indonesia. Studi ini dilakukan melalui wawancara mendalam dengan subyek, menggunakan catatan dan rekaman video. Hasilnya menunjukan pengaruh relevan dari bahasa pertamanya terhadap pemerolehan bahasa keduanya dan tempat pembelajaran bahasa mengarahkan subyek untuk berkomunikasi secara efektif dalam bahasa kedua dan juga subyek mendapatkan masukan yang mengoreksi ketika dia membuat kesalahan gramatikal.Keywords: Migrasi Dunia, Pemahaman Lintas Budaya, Pemerolehan Bahasa Kedua
THE VALUES OF ANCESTOR’S MESSAGES (PAPPASENG) IN BUGINESE TRADITION (CASE STUDY ON BONE REGENCY STUDENTS IN UIN ALAUDDIN MAKASSAR) Abdul Rasak; Nasrum Nasrum; Helmy Syukur
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.115 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i1a8

Abstract

This research discussed about values in Ancestor's Message (Pappaseng) of Buginese tradition (Study Case at Bone regency Students in English and Literature Department of UIN Alauddin Makassar). This research aimed to find out the kinds of Pappaséng and figure out the influences of Pappaseng in their life. The researchers applied qualitative method where the data analyzed through Sikki’s theory (1991) about the kind of Pappaseng and Debbarma’s theory (2014) about the kind of values. The researchers used interview sheet, recorder and note taking as the instruments of the research. The researchers found there are three kinds of Pappaseng owned by Bone regency students, such as: Pappaseng as advice, view of life and individual relationship tightening. The researchers also found Pappaseng has good influence to the students' life. The researchers concluded that Buginese Students still keep Pappaseng as their life guidance. Keywords: Pappaseng, Values, Ancestors, Message, Buginese TraditionABSTRAKPenelitian ini membahas tentang nilai-nilai dalam Pesan Leluhur (Pappaseng) tradisi Bugis (Studi Kasus pada mahasiswa Kabupaten Bone yang kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Pappaseng dan mengetahui pengaruh Pappaseng dalam kehidupan mereka. Peneliti menerapkan metode kualitatif di mana data dianalisis melalui teori Sikki (1991) tentang jenis Pappaseng dan teori Debbarma (2014) tentang jenis nilai. Peneliti menggunakan lembar wawancara, perekam dan pencatatan sebagai instrumen penelitian. Peneliti menemukan ada tiga jenis Pappaseng yang dimiliki oleh mahasiswa kabupaten Bone, seperti: Pappaseng sebagai saran, pandangan hidup dan perekat hubungan individu. Peneliti juga menemukan Pappaseng memiliki pengaruh yang baik terhadap kehidupan mahasiswa. Peneliti menyimpulkan bahwa mahasiswa Bugis masih mempertahankan Pappaseng sebagai pedoman hidup mereka.Kata kunci: Pappaseng, Nilai, Leluhur, Pesan, Tradisi Bugis
ARCHETYPES SYMBOLISING ATHENA’S PERSONALITY DEVELOPMENT IN THE WITCH OF PORTOBELLO Yohana Gabriella Nanda Kristiani; Priyatno Ardi
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 2 (2019): December
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.815 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i2a1

Abstract

Novels often use symbols to voice their authors’ opinions about individuals’ personalities. One type of symbols used is an archetype. This study aims to investigate the archetypes of a character named Athena in Paulo Coelho’s The Witch of Portobello (2008). The researchers employed a library study to conduct this study. The results show that there are six archetypes, namely Pallas Athena, the Virgin, the Martyr, the Saint, the Witch, and Hagia Sofia. The archetypes portraying her initial personality are Pallas Athena, the Virgin, the Martyr, and the Saint. The archetypes depicting Athena’s developed personality are the Saint, the Witch, and Hagia Sophia. In conclusion, these archetypes are able to symbolise Athena’s personality development.ABSTRAKNovel sering menggunakan symbol-simbol untuk menyampaikan gagasan penulisnya tentang  kepribadian seseorang. Salah satu simbol yang digunakan ialah arketipe. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti arktipe seorang karakter bernama Athena dalam novel yang ditulis oleh Paulo Coelho, yang berjudul The Witch of Portobello (2008). Penulis menggunakan kajian pustaka dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam arketipe yang dimiliki Athena, yaitu Pallas Athena, Perawan Maria, Martir, Orang Kudus, Penyihir dan Hagia Sofia. Arketipe-arketipe yang menggambarkan kepribadian awal Athena adalah Pallas Athena, Perawan Maria, Martir dan Orang Kudus. Arketipe-arketipe yang menggambarkan perkembangan kepribadian Athena adalah Orang Kudus, Penyihir dan Hagia Sofia. Kesimpulannya, arketipe-arketipe dalam novel tersebut ini menyimbolkan perkembangan kepribadian Athena.Kata kunci: arketipe, perkembangan kepribadian, Athena.
BETRAYAL TRAUMA IN HEATHER LLOYD’S MY NAME IS VENUS BLACK Sabrina Silmi Aulia; Parlindungan Purba; Dian Marisha Putri
Elite : English and Literature Journal Vol 6 No 2 (2019): December
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.621 KB) | DOI: 10.24252/elite.v6i2a2

Abstract

ABSTRACT This thesis analyzes how betrayal trauma in the main character occurs as a result of the person she believes has betrayed her. The aim of this thesis is to find out how betrayal trauma occurs by looking for problems namely depression and anxiety from those described in the novel. Venus betrayed her stepfather by killing him to come out of sexual harassment that she could no longer accept because it caused her to be depressed and anxious. The research method used in this thesis is a descriptive-qualitative method and library research. A researcher collects data from the novel, articles, books, and journals. The result of this thesis is to reveal the truth that betrayal trauma can occur to the main character due to depression and anxiety problems she ever experiences.Keywords: Betrayal, trauma, depression, anxiety. ABSTRAK Skripsi ini menganalisis bagaimana trauma pengkhianatan dalam karakter utama terjadi akibat orang yang dia percaya selama ini mengkhianatinya. Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mencari tahu dan memahami bagaimana trauma pengkhianatan terjadi dengan mencari kedua masalah yaitu depresi dan kecemasan dari yang tergambarkan di dalam novel. Venus mengkhianati ayah tirinya dengan membunuhnya untuk keluar dari pelecehan seksual yang tidak bisa lagi diterimanya karena hal tersebut menyebabkan dia depresi dan cemas. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif-kualitatif dan penelitian kepustakaan. Penulis mengumpulkan data dari novel dan dari beberapa sumber artikel, buku, dan jurnal. Hasil dari skripsi ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran bahwa trauma pengkhianatan dapat terjadi pada karakter utama karena masalah depresi dan kecemasan yang pernah dialaminya.Kata Kunci: Pengkhianatan, trauma, depresi, kecemasan.

Page 10 of 22 | Total Record : 215