Jurnal Penelitian Politik
Jurnal Pusat Penelitian Politik-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2Politik-LIPI) merupakan media pertukaran pemikiran mengenai masalah-masalah strategis yang terkait dengan bidang-bidang politik nasional, lokal, dan internasional; khususnya mencakup berba-gai tema seperti demokratisasi, pemilihan umum, konflik, otonomi daerah, pertahanan dan keamanan, politik luar negeri dan diplomasi, dunia Islam serta isu-isu lain yang memiliki arti strategis bagi bangsa dan negara Indonesia.
Articles
560 Documents
NASIONALISME, DEMOKRATISASI, DAN SENTIMEN PRIMORDIAL DI INDONESIA : PROBLEMATIKA IDENTITAS KEAGAMAAN VERSUS KEINDONESIAAN (KASUS ORMAS PENDUKUNG KHILAFAH ISLAMIYAH)
Syafuan Rozi
Jurnal Penelitian Politik Vol 7, No 2 (2010): Peluang Indonesia dalam Perdagangan Bebas
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v7i2.498
AbstractThis article is a desk review or literature study about the raising ofreligious sentiment ofpolitical identity withvarious expressions related to some Islamic movements such as HTI Hizbut Tahrir Indonesia Tarbiyah movementand MM Majelis Mujahidin Indonesia in Indonesia s post Soeharto era This kind of movements can be seenas a phenomenon ofpolitical movement and religious awareness as critical mass toward Indonesian nation stateor secular nationalism The contestation of the meaning of keindonesiaan such as spirit of tolerance equalityand appreciation ofpluralism anti andpro secular liberalism reducingpoverty and increasing wealth and goodmanners in theface ofsearchingfor model or alternative ofnewform ofthe state which promoted by the KhilafahIslamiyah movement and supporters This research elaborated issues such as howfar religious values and khilafahprinciples implemented by various Islamic movements towards Khilafah Islamiyah states and howfar it will makeimpact toward Indonesian nation state atpresent and in the future The general questions of this research namelywhat are the basic and core values ofpolitical thinking ofthis groups in order to convince the people that KhilafahIslamiyah is an alternative ofthe future state and how they implement their principles What kind ofstrategic andstep they take in order to prove that their vision will become reality or not Finally how big their ideas and theirmovement may counter the keindonesiaan principle as best practice or alternative in political development
DAMPAK MULTIDIMENSI COVID-19 UNI EROPA
Muhammad Yusuf Abror;
Larassita Damayanti
Jurnal Penelitian Politik Vol 18, No 1 (2021): Konstelasi Politik di Tengah Pandemi Covid-19 II
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v18i1.880
Artikel ini membahas mengenai dampak multidimensi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19) di Uni Eropa. Uni Eropa sebagai rezim internasional yang paling stabil saat ini mendapatkan ujian dari mewabahnya Covid-19. Hal tersebut membuat kestabilan Uni Eropa menjadi terganggu. Dengan demikan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang dampak Covid-19 di Uni Eropa pada sektor kesehatan, ekonomi, dan keamanan perbatasan negara. Adapun konsep yang digunakan adalah konsep rezim internasional yang diperdalam dengan desk study. Secara umum dampak dari pandemi Covid-19 di Uni Eropa terlihat dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara anggota pada triwulan I dan II, bahkan beberapa negara sudah masuk dalam kategori resesi. Korban Covid-19 terus bertambah membuat isu kesehatan semakin memburuk. Selain itu dampak lain yang terlihat adalah ketegangan yang disebabkan karena perbedaan kebijakan publik dari beberapa negara anggota seperti penutupan perbatasan antarnegara anggota. Hal kebijakan tersebut menyulitkan perpindahan barang, jasa, dan orang sehingga berdampak pada menurunnya ekonomi. Merespon hal tersebut, kerja sama dan kekompakan antarnegara Uni Eropa menjadi mutlak untuk mengatasi dampak multidimensi dari Covid-19, serta mempercepat pemulihan ekonomi yang tidak dapat dilakukan secara singkat menimbang perbedaan dampak dari Covid-19 pada masing-masing negara anggota sehingga tidak dapat ditangani dengan mekanisme yang serupa. Kata Kunci: Covid-19, Uni Eropa, Resesi ekonomi, Aspek kesehatan, Aspek keamanan , Politik
Indonesia dan Dinamika Politik Timur Tengah
Riza Sihbudi
Jurnal Penelitian Politik Vol 8, No 2 (2011): Membaca Arah Politik Luar Negeri Indonesia
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v8i2.463
The current political tension in Arab states have intensified especially after similar crises that ousted BinAli in Tunisia and Hosni Mubarak in Egypt There are also differences in how nations have responded to each political crisis The Arab regimes are facing strong resistance from the majority of their own people with Libyafalling into civil war Many Libyan people arefed up and disgusted with the leadership of Colonel Qadhafi whohas ruled the countryfor 40 years with desert style authoritarianism People in Libya demanded a succession andpolitical reforms that wouldpave the wayforfreedom ofspeech and association which have eluded the nationforfour decades Then why did the West take a differentpolitical attitude towards thepro democracy movements in theArab countries In the case ofLibya both mass media andpolitical elites drew a line in supporting the resistance movement The Westernforces under NATO even launched military strikes against Libya to support the oppositioncamp as soon as they managed to convince the United Nations to enforce a nofly zone in Libyan airspace Theopportunistic attitude of the West in the case ofLibya is closely related to economic factors which is Libyan oilreserves After successfully controlling Iraq Libya now seems to be the next easyprey especially by hawkish groupsand neo conservative that generally control US oil companies In the case of the NATO s political attitudes towardthe Libyan crisis economic considerations oil are more advanced than political reality Politically Qadhafi is now clearly different from what he was Before 2003 Qadhafi was known as an anti Westfigure The US and itsallies seem reluctant to learnfrom history Theirfailures in Iraq and Afghanistan are not enoughfor them to learnThat s the uglyfact of Western hypocrisy
Menelaah Sisi Politiko-Historis Shalawat Badar : Dimensi Politik dalam Sastra Lisan Pesantren
Dhurorudin Mashad
Jurnal Penelitian Politik Vol 16, No 1 (2019): Dinamika Sosial Politik Menjelang PEMILU Serentak 2019
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v16i1.784
AbstrakShalawat Badar merupakan satu wujud dari sastra lisan pesantren. Namun, berbeda dari berbagai sastra lisan pesantren lain yang umumnya hanya merupakan ekspresi seni (estetis dan hiburan) kaum santri, yang dimanfaatkan sebagai sosialisasi nilai dan ajaran Islam, Shalawat Badar ternyata memperlihatkan karakateristiknya yang beda, yakni tampil kental dengan nuansa politik. Shalawat ini acapkali dijadikan sarana mobilisasi kaum santri dalam berbagai kontestasi politik. Realitas ini menjadi bukti bahwa entitas Shalawat Badar kenyataannya merupakan manifestasi dari relasi antara sastra – agama - politik. Naskah ini dimaksud untuk melakukan rekonstruksi historis tetang konteks politik ketika Shalawat Badar lahir, menelusuri akar  penyebab shalawat ini menjadi kental dengan nuansa politik, serta alasan di balik realitas politik bahwa Shalawat ini akhirnya menjadi dipakai sebagai sarana mobilisasi kaum santri. Kata Kunci: Shalawat Badar, Pesantren, Sastra Lisan, Kontestasi Politik
MYANMAR DAN MATINYA PENEGAKAN DEMOKRASI
Awani Irewati
Jurnal Penelitian Politik Vol 4, No 1 (2007): Demokrasi Mati Suri
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v4i1.430
Abstract Democratization in Myanmar is the most prevalent issue for international society The world takes the issue because the country has beenfor decades under authoritarian regime since militaryjunta takeover the government via coup d etat Since 1990 general election which had been won by National League for Democracy NLD the Military Junta Tatmadaw still ruled the country as a sole authoritarian regime Transition to democracy which been pledged by thejunta has not shown any positive outcome The paper is sought to answer two questions base on the actualpolitical circumstance in Myanmar how is theprogress ofdemocratic and human rights enforcement that has been pushed by pro democratic people in Myanmar The second question will bring our attention to the power ofthe prolonged militaryjunta in Myanmar Even though Myanmar has been under economic sanction and isolatedfrom international society there is no evidence that the military junta will come to an end Based on literature study as the main source ofdata collecting approach this paper bringsforward two conclusions Those two conclusions emerge from the existing internal and external political condition ofMyanmar Internal political condition shown that ethnical diversity in Myanmar is main obstaclefor establishing oppositional coalition against the military junta Ethnic in Myanmar is separated in fictionalized movement against the ruling authoritarian regime since colonial era It is still complicated until recent time to build a coalition from pro democratic movement in Myanmar The second conclusion is coming from the international society in putting more pressure towards the ruling regime It is goodfor the UN and the international society notjust isolating and sanctioning Myanmar but also approaching Myanmar using the influence ofthe third country China is good to become a promoter political reformation in Myanmar since China is the only country that still maintains a close relation with Myanmar This approach is to give more emphasis for Myanmar government to comply with its own pledge toward democratic transition in its own country.
Peran Kerja Sama IMT-GT Dalam Pembangunan Konektivitas ASEAN
Sandy Nur Ikfal Raharjo;
Awani Irewati;
Agus R Rahman;
Tri Nuke Pudjiastuti;
CPF Luhulima;
Hayati Nufus
Jurnal Penelitian Politik Vol 14, No 1 (2017): Transformasi Identitas Keindonesiaan
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v14i1.695
AbstrakIndonesia-Malaysia—Thailand Growth Triangle (IMT-GT) merupakan salah satu kerja sama ekonomi subregional yang diakui oleh ASEAN berperan penting dalam membangun konekivitas ASEAN. Namun demikian, perbedaan karakter geografis dan perbedaan kepentingan antartiga negara anggotanya berpeluang menghambat implementasi IMT-GT dalam membangun konektivitas tersebut. Studi ini difokuskan pada tiga hal, yaitu arti penting IMT-GT bagi masing-masing negara anggotanya, implementasi program-program IMT-GT tahun 2012-2016, dan peran IMT-GT dalam membangun konektivitas ASEAN, khususnya di sektor maritim. Melalui metode kualitatif  bersifat deskriptif korelatif, studi ini menemukan bahwa IMT-GT berkontribusi hampir 50% bagi perekonomian Malaysia, mendukung visi Poros Maritim Dunia bagi Indonesia, serta mendorong kemajuan wilayah Thailand Selatan yang relatif tertinggal. Temuan lainnya, capaian program IMT-GT 2012-2016 masih rendah, terutama di sisi Indonesia akibat terlalu banyaknya program yang dicanangkan. Terakhir, IMT-GT berperan dalam membangun konektivitas ASEAN melalui pengembangan lima koridor ekonomi, walaupun masih lebih dominan pada dimensi darat dibanding dimensi maritim. Kata Kunci: ASEAN, IMT-GT, konektivitas, dan maritim
INDONESIA DI TENGAH KESEPAKATAN ACFTA
Lidya Christin Sinaga
Jurnal Penelitian Politik Vol 7, No 2 (2010): Peluang Indonesia dalam Perdagangan Bebas
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v7i2.488
The ASEAN China Free Trade Area ACFTA formally took effect as ofJanuari 1 2010 The initial phase of the trade agreement was in force in early 2004 also known as the Early Harvest Programme EHP A free trade area covering trade in goods between China and the original six ASEAN members including Indonesia is to be completed by 2010 and the remainingfour by 2015 However the socialization ofEHP scheme by Indonesian government relativelypoor and made it difficultfor business sector especially Small and Medium Enterprises SMEs in Indonesia to exploit this scheme The full implementation ofACFTA on January 2010 has given strong pushes from business sectors to delay the implementation The basic problem is in our domestic capacity and capability which is not yet competitive enough to compete especially with China products Therefore this paper will analyze the impact of ACFTA on Indonesia and what should be done to counter the impacts
MENAKAR KEBERLANJUTAN VISI POROS MARITIM DUNIA DI TENGAH AGENDA PEMBANGUNAN MARITIM REGIONAL
Khanisa Krisman;
Lidya C Sinaga
Jurnal Penelitian Politik Vol 17, No 1 (2020): Perang dan Damai : Situasi Politik Internasional di Era Ketidakpastian
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v17i1.858
Poros Maritim Dunia merupakan visi yang menandai perubahan haluan pembangunan di Indonesia. Ambisi maritim ini bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, melainkan juga untuk mencapai posisi sebagai sebuah “poros†dalam skala global. Namun, untuk mencapai hal tersebut Indonesia harus memastikan adanya penguatan maritim di lingkup regional Asia Tenggara yang secara geografis mengelilinginya dan secara strategis memiliki kaitan erat, terutama dalam kerangka kerja sama di ASEAN. Untuk itu, Indonesia harus memastikan terbentuknya sebuah lingkungan kondusif bagi keberlangsungan Poros Maritim Dunia itu sendiri. Artikel ini lebih jauh membahas usaha-usaha yang telah dilakukan pada lima tahun pertama masa pemerintahan Presiden Joko Widowo (2014–2019) untuk memastikan sinkronisasi antara visi Poros Maritim Dunia dan skema pembangunan maritim di ASEAN serta melihat bagaimana visi ini diposisikan dalam periode kedua pemerintahan Joko Widodo. Kata Kunci: ASEAN, Indonesia, Indo-Pasifik, maritim, poros maritim dunia
KEMERDEKAAN PAPUA DAN RELEVANSI REAKSI TIGA NEGARA
Zainuddin Djafar
Jurnal Penelitian Politik Vol 9, No 1 (2012): Pembangunan Papua dalam Pusaran Politik
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v9i1.453
Keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia oleh kelompok separatis di Papua telah mencapai titik kritis Hal itu bertambah pelik bila memperhatikan reaksi dari beberapa negara seperti Australia Selandia Baru danAmerika Serikat Berdasarkan hal itu artikel ini bertujuan mendiskusikan secara khusus persoalan persoalan sebagaiberikut 1 dinamika persoalan Papua 2 kondisi terakhir masyarakat Papua dan 3 hubungannya dengan aktorinternasional seperti Australia Selandia Baru dan Amerika Serikat selain juga 4 beberapa peluang dan langkahdiplomasi yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Indonesia Selain itu beberapa temuan penting untuk dikemukakan seperti fakta bahwa Papua berupaya mencapai kemerdekaannya berdasarkan atas hak dan latar belakangbudaya dan sejarah serta kenyataan yang berkembang hingga kini Fakta fakta tersebut akan menjadi sangat rumittatkala sejumlah negara seperti Australia Selandia Baru dan Amerika Serikat juga memiliki kepentingan untukterlibat dalam persoalan dan isu Papua Artikel ini merekomendasikan Pemerintah Indonesia untuk melakukan pilihan sejumlah kebijakan yang menitikberatkan pada kepentingan masyarakat Papua terutama hak untuk terbebasdari kemiskinan bukan hak untuk menjadi negara merdeka Untuk mengakhiri tekanan internasional atas kasusPapua Pemerintah Indonesia harus tegas menyatakan persoalan Papua adalah persoalan domestik yang intervensiterhadapnya merupakan pelanggaran atas hukum dan kedaulatan IndonesiaKata kunci Kemerdekaan Papua reaksi tiga negara
Mitos dan Realita Perempuan dalam Pemilu: Sebuah Pelajaran dari Situasi Politik Amerika di Era Polarisasi
Mouliza K.D Sweinstani
Jurnal Penelitian Politik Vol 15, No 2 (2018): Konstelasi Politik di Tahun Elektoral
Publisher : Pusat Penelitian Politik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jpp.v15i2.756
AbstrakTujuan dari penulisan tinjauan buku ini adalah untuk membedah buku yang ditulis oleh Danny Hayes dan Jennifer Lawless yang berjudul Women on the Run: Gender, Media, and Political Campaigns in Polarized Era. Buku ini ditulis oleh mereka sebagai respon dari situasi politik Amerika yang berkaitan dengan eksistensi perempuan dalam kehidupan politik Amerika Serikat khususnya dalam dua pemilu sela pada tahun 2010 dan 2014. Buku ini juga memberikan cara pandang baru terhadap area politik di era terpolarisasi di Amerika Serikat dengan berusaha membongkar pemahaman konvensional mengenai bias yang harus dihadapi oleh perempuan dalam dunia politik. Selain itu buku ini juga berusaha mencari tahu apa sebetulnya yang menjadi penyebab masih adanya pemahaman bias gender dalam area politik di Amerika Serikat. Hanya saja, simpulan dari buku ini perlu digunakan secara hati-hati agar pembaca tidak melakukan generalisasi atas kondisi politik yang telah dianggap netral gender dan tidak diskriminatif seperti yang terjadi di Amerika. Pembaca sebaiknya mengontekskan kondisi lanskap politik masing-masing agar dapat menghasilkan temuan yang mengelaborasi temuan Hayes dan Lawless. Dengan demikian, hal ini dapat memperkaya studi-studi tentang kampanye politik, media dan kandidat perempuan dalam kajian ilmu politik. Kata Kunci : era terpolarisasi, kampanye politik, netral gender, perilaku pemilihÂ