Panggung
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Articles
913 Documents
Tari Wayang Karakter Satria Ladak
Lilis Sumiati
PANGGUNG Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (384.103 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v22i1.35
Wayang dance is a dance expressing events in the stories of wayang. The events here among oth- ers are dances revealing the background of the story, theme, the name of the dance, characters, and philosophical elements. Of those various elements, the scope in this study is limited into matters of satria ladak character.Wayang dance satria ladak character living in several areas contains some significant differences in several aspects. The term differing the specialty of wayang dance is called sejak. The scope of se- jak is more for one’s style in dancing dance genre from the same ethnic. Therefore, the term sejak is firstly come out when seeing one’s performance in dancing, either referred to her/his choreography or to her/his specialty in performing the dance. Then, sejak owned by the individual is spread among his/her surrounding, so that it can be an icon in respective areas.The quantity of Wayang dance satria ladak is varied in each areas, such as sejak Sumedang is Dipati Karna dance. While Sejak Garut is Bambang Somantri dance, and sejak Bandung is Arayana dance. These materials are chosen as samples for comparative and interpretative study.Keywords: Wayang Dance, Satria Ladak, Sejak, comparative, interpretative. Â
Makna ‘Seneng lan Kemringet’ dalam Festival Lima Gunung
Joko Aswoyo;
Rustopo Rustopo;
Lono Lastoro Simatupang;
Drajat Tri Kartono
PANGGUNG Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (185.749 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v28i1.500
AbstractThis article aims to discover the meaning of the expression ‘seneng lan kemringet’ at FLG (Festival Lima Gunung) in Magelang. The expression ‘seneng lan kemringet’ gives an opportunity to anybody who involved to reveal his existence and to speak about the essence of himself. By building a sense of familiarity, direct involvement in art activities, and dialogue with the farmers about circumstances in the field, it will be possible to reveal the meaning behind the expression ‘seneng lan kemringet'. The research results showed that within the expression 'seneng lan kemringet', there is vitality as a fundamental asset for the FLG sustainability. ‘Seneng lan kemringet’ can also be understood as an autonomy and self-actualization. Additionally, 'seneng lan kemringet' is a part of a game with the goal of displaying self-existence. Finally, ‘seneng lan kemringet’ is an embodiment of self-esteem. Keywords: ‘seneng lan kemringet’, vitality, and game AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui makna ungkapan ‘seneng lan kemringet’ pada Festival Lima Gunung (FLG) di Magelang. Ungkapan ‘seneng lan kemringet’ memberi kesempatan bagi yang terlibat untuk mengungkapkan keberadaannya dan berbicara tentang hakikat dirinya. Dengan keakraban, keterlibatan langsung dalam aktivitas kesenian, dan berdialog dengan petani atas kenyataan-kenyataan di lapangan, akan dapat disingkap makna di balik ungkapan ‘seneng lan kemringet’ tersebut. Hasil dari penelitian kami menunjukkan bahwa di dalam ungkapan ‘seneng lan kemringet’ tersimpan daya hidup sebagai modal dasar keberlanjutan FLG. ‘Seneng lan kemringet’ juga dimaknai sebagai otonomi dan aktualisasi diri. Selain itu, ‘seneng lan kemringet’ adalah bagian dari permainan dengan tujuan untuk memperlihatkan eksistensi diri. Pada akhirnya, ‘seneng lan kemringet’ merupakan kebanggaan diri.Kata kunci: ‘seneng lan kemringet’, daya hidup, dan permainan
Religious Transformation Of Seni Dodod At Mekar Wangi Village South Banten
Yuliawan Kasmahidayat
PANGGUNG Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (277.124 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v22i3.73
Selama proses transformasi budaya ditemukan adanya persinggungan antara seni tradisi dengan seni modern di luar wilayah seni Dodod. Dewasa ini terbentuk Gubahan Seni Dodod yang berfungsi sebagai sarana upacara perkawinan dan khitanan. Proses enkulturasi dilakukan secara formal di sekolah dengan menerapkan Gubahan Seni Dodod sebagai materi pembelajaran seni budaya. Pe nerapan Seni Dodod dalam bentuk asli serta gubahannya merupakan pewarisan non formal yang dilakukan di sanggar Seni Dodod, kalangan remaja, dan warga desa. Pemaknaan religiusitas Seni Dodod  terekspresikan dalam kehidupan masyarakat desa Mekar Wangi, didasarkan pada pemak naan yang dilakukan oleh para pimpinan pondok pesantren. Pemaknaan didasarkan pada penjelasan, yang menerangkan, menampakkan, menyibak, serta merinci tujuh ayat AlÂQur’an, yang melahirkan pemaknaan pada keutuhan ragam gerak, kostum yang digunakan, syair pantun Lutung Kasarung, dan mantra atau do’a yang digunakan dalam Seni Dodod, serta Seni Dodod sebagai kebudayaan dan kesenian Islam. Tampaknya kedudukan Seni Dodod dewasa ini mengalami pergeseran yang semula sebagai sarana ritual pertanian, kini menjadi bagian penting dalam upacara perkawinan dan khita nan, namun tidak sampai menjadi seni yang sekular. Kata Kunci: Transformasi religiusitas, seni dodod Â
Rekontruksi Model Manajemen Rurukan dalam Upacara Adat
Euis Suhaenah;
Ai Juju Rochaeni;
Wanda Listiani
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (442.948 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v26i1.158
ABSTRACT The research  found the community  management  theory especially the rurukan  manage- ment  and the  model of rurukan  management  in the ritual. Accredited Scientific  journal or international  reputation,  memoir  and the  textbook for the cultural and art student  are the output  of this  fundamental research.This  research use the qualitative descriptive analysis, field observation  is applied  as the first  step.The  observation  focuses on  interview  and  event recording.The  interview conducted with the performers, the prominent figures,  and the artists that involved in the ritual.Depth  interview  technique through the main informan  to get the valid data for the solid result  and comprehend description.The  results  of this research made reference to the Sundanese social-mindset in the manner  of the Tritangtu concept in ritual tra- dition through  the three steps of the Rurukan  discipline-management;  Musyawarah  (Confer- ence),  Ngalaksanakeun  (Implementation),  and Wawarian  (evaluation)also  called MNW. Keywords: Community  management,  ritual tradition,  rurukan  management in Sumedang  ABSTRAK Penelitian ini menemukan teori manajemen komunitas khususnya manajemen rurukan dan model manajemen rurukan dalam upacara adat. Luaran penelitian Fundamental ini berupa jurnal ilmiah terakreditasi atau bereputasi internasional, laporan penelitian dan buku ajar bagi mahasiswa seni budaya. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analisis kualitatif, sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi lapangan. Hal ini menitikberatkan pada pengamatan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian.Wawancara dilakukan dengan pelaku, tokoh yang terlibat langsung, dan tokoh seniman yang terlibat didalamnya.Teknik wawancara yang mendalam dengan cara memilih informan kunci guna mendapatkan validitas data yang menghasilkan deskripsi yang lebih utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian merujuk pada pola pikir masyarakat Sunda dengan konsep Tritangtu. Dalam upacara adat ada 3 (tiga) tahapan dalam proses pengolaan manajemen rurukan; yakni musawarah, ngalaksana-keun, wawarian yang disebut MNW. Kata kunci: manajemen komunitas, upacara adat, manajemen rurukan, Sumedang
Makna Tindakan Pragmatik Bedhaya Tejaningsih pada Jumenengan K.G.P.H Tejawulan Sebagai Raja Paku Buwana XIII di Surakarta
Maryono Maryono
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (183.812 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v27i1.231
AbstractThe presence of Bedhaya Tejaningsih in the inauguration or jumenengan ritual of K.G.P.H Tejawulan is evidently not only a form of entertainment but also contains a symbolic meaning. In this pragmatic study of Bedhaya Tejaningsih, the writer uses a pragmatic linguistic approach. The research is qualitative interpretative in nature and uses as a basic reference pragmatic theories and performing art theories. The methods used for collecting data include a library study, observation, and interviews. The results of the study show that the meaning of the presence of the dance Bedhaya Tejaningsih in the jumenengan ritual of K.G.P.H Tejawulan is a form of entertainment, exemplification, and credibility. As a form of entertainment, the presence of the dance Bedhaya Tejaningsih at the king coronation provides an aesthetical presentation for the audience. The meaning of its exemplification is seen in the request it makes to the general public to follow the example of a good and wise leader who always prioritizes his love for the people in the way he provides them with protection, peace, and security. The meaning of credibility is K.G.P.H Tejawulan is request that the people will give their support and recognition of his inauguration to become king so that he gains legitimacy based on the cultural tradition of the Kasunanan Palace in Surakarta.Keywords: Bedhaya Tejaningsih dance, meaning of pragmatic action, and jumenengan.AbstrakKehadiran Bedhaya Tejaningsih pada ritual jumenengan K.G.P.H Tejawulan rupanya tidak sekadar bentuk hiburan, namun mengandung makna simbolis. Pada Penelitian pragmatik Bedhaya Tejaningsih, peneliti menggunakan pendekatan linguistik pragmatik. Bentuk penelitiannya bersifat kualitatif interpretatif dengan dasar rujukan teori-teori pragmatik dan seni pertunjukan. Metode pengumpulan datanya dengan cara: studi pustaka, observasi dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna kehadiran tari Bedhaya Tejaningsih pada ritual jumenengan K.G.P.H Tejawulan merupakan bentuk hiburan, keteladanan dan kredibilitas. Sebagai bentuk hiburan kehadiran tari Bedhaya Tejaningsih pada penobatan raja secara keseluruhan sajiannya memberikan santapan estetis bagi penonton. Makna keteladanan yang ditemukan adalah bentuk permintaan terhadap masyarakat untuk meneladani figur pemimpin yang baik dan bijak yang selalu mengutamakan cinta kasih dalam mengayomi masyarakat, menciptakan ketentraman dan kedamaian. Makna kredibilitas adalah permohonan K.G.P.H Tejawulan terhadap masyarakat untuk memberi dukungan dan pengakuan atas penobatannya sebagai raja supaya memiliki legitimasi berdasar adat budaya Karaton Kasunanan Surakarta.Kata kunci: tari Bedhaya Tejaningsih, makna tindakan pragmatik, dan jumenengan.
The Legitimacy of Classical Dance Gagrag Ngayogyakarta
Y. Sumandiyo Hadi
PANGGUNG Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1891.115 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v27i4.295
ABSTRACT This article of research findings is to reveal the existence of classical dance style of Yogyakarta, since the government of Sultan Hamengku Buwono I, which began in 1756 lasted up until now on era government of Sultan Hamengku Buwono X. The legitimation of classical dance is considered as "gagrag Ngayogyakarta", furthermore not only preserved in the palace, but living and growing, and may be examined by general public. The dance was first considered as a source of classical dance “gagrag Ngayogyakarta”, created by Sultan Hamengku Buwono I, ie Beksan Lawung Gagah, or Beksan Trunajaya, Wayang Wong or dance drama, and Bedaya dance. Three dances until now can be categorized as a sacred dance, to review performances that are related to traditional ceremonies, or rituals. Three types of dance later developed other types of classical dance “gagrag Ngayogyakarta”, which is categorized as a kind of secular dance for entertainment performance.Keyword: Sultan Hamengku Buwono, classical dance “gagrag” or style of Yogyakarta, legitimacy, sacred or ritual dance, secular dance
Rekonstruksi Sejarah Seni Dalam Konstruk Sejarah Visual
Reiza D Dienaputra
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (183.953 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v22i4.64
ABSTRACTArt History is a category of history writing that is rich with research object. This is along withthe width of art definition scope. In the most current development, the work of art history iseasier to find in the form of scientific work at university, either essay of undergraduate (skripsi),thesis, or dissertation. Observing the encouraging development, some efforts to make the arthistory work either more qualified or more interesting to be enjoyed are needed. One of theefforts can be taken is by reconstructing art history in the visual history construct.Reconstruction of art history in visual art construct requires the using of visual source as themain source of writing and visual history research method as the chosen method. By using themethod, the produced art history will be rich with visual fact, either moving pictures or staticones.Keywords: art history, visual history, visual sourceABSTRAKSejarah seni adalah sebuah kategori penulisan sejarah yang kaya dengan obyekpenelitian. Hal ini seiring dengan luasnya ruang lingkup definisi seni. Dalamperkembangan terbaru, karya sejarah seni lebih mudah ditemukan dalam bentukkarya ilmiah di universitas, baik tulisan para sarjana (skripsi), tesis, ataupun disertasi. Dalam mencermati perkembangan yang menggembirakan tersebut, diperlukan upaya- upaya untuk membuat karya sejarah seni yang lebih berkualitas dan lebih menarikuntuk dinikmati. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah denganmerekonstruksi sejarah seni dalam konstruk sejarah visual. Rekonstruksi sejarah senidalam konstruk sejarah visual memerlukan penggunaan sumber visual sebagai sumberutama penulisan sejarah dan metode penelitian visual sebagai metode yang dipilih. Dengan menggunakan metode ini, sejarah seni yang dihasilkan menjadi kaya akanfakta visual, baik gambar-gambar bergerak maupun gambar-gambar statis. Kata kunci: sejarah seni, sejarah visual, sumber visual
Nusantara Berdendang: Seremoni Multikulturalisme oleh Kabinet Kerja
Arief Rahman;
Titis Srimuda Pitanav;
Wakit Abdullah
PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26742/panggung.v28i4.709
ABSTRACT Following the 1945 Constitution, the state is obliged to preserve the arts and culture of Indonesia. Kabinet Kerja commemorating 88 Years of Sumpah Pemuda with Nusantara Berdendang show at Istana Merdeka on October 28, 2016. This study discussesa multiculturalism discourse presented in the performance based on the Cultural Studies paradigm with the support of Stuart Hall's representation theory and power theory of Foucault. The research usesa qualitative method with descriptive and interpretative analysis.The multiculturalism discourse is produced by the Kabinet Kerja through performing arts that appear in Nusantara Berdendang. Performing arts are used by the state as a tool to show diversity, as well as a unifying symbol. The state ceremony becomes a discursive area of multiculturalism to implement the unity and unity of Indonesia. Multiculturalism discourse is used to facilitate the success of the Nawacita program. The implication is that Indonesia's image is a bhinneka state, (2) a tolerant and peaceful image of Indonesia,and (3) obedience to the government authorities. Keywords: multiculturalism, Kabinet Kerja, performing art, diversity, ethnicity ABSTRAK Sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945, negara berkewajiban memelihara kesenian dan kebudayaan Indonesia.Kabinet Kerja memperingati 88 Tahun Sumpah Pemuda dengan pergelaran Nusantara Berdendang di Istana Negara pada 28 Oktober 2016. Penelitian ini membaca diskursus multikulturalisme yang dihadirkan dalam pergelaran tersebut dengan paradigma Kajian Budaya dengan dukungan teori representasi Stuart Hall (2003) dan teori kuasa/pengetahuan. Penelitian menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dan interpretatif.Diskursus multikulturalisme diproduksi oleh Kabinet Kerja melalui seni pertunjukan yang tampil di Nusantara Berdendang.Seni pertunjukan digunakan oleh negara sebagai alat untuk menunjukkan keberagaman, sekaligus sebagai simbol pemersatu.Seremoni negara menjadi area diskursif multikulturalisme untuk merawat kesatuan dan persatuan Indonesia. Diskursus multikulturalisme dilakukan oleh Kabinet untuk memperlancar suksesnya program Nawacita. Implikasinya, citra Indonesia merupakan negara bineka, (2) citra Indonesia yang toleran dan damai, serta (3) kepatuhan pada penguasa pemerintahan. Kata kunci: multikulturalisme, Kabinet Kerja, kesenian, keberagaman etnik
Re-Interpretasi Budaya Tradisi dalam Karya Seni Kontemporer Bandung Karya Radi Arwinda
Kiki Rizky Soetisna Putri;
Setiawan Sabana
PANGGUNG Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1527.119 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v26i3.193
AbstrakBandung memiliki posisi begitu penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.Perkembangan yang pesat paska boom tahun 2000an serta peran penting salah satu akademi seni tertua di Indonesia menjadi lahan subur bermunculannya seniman muda dengan karakter yang khas. Karakter yang khas tersebut salah satuya dimiliki oleh Radi Arwinda, seorang seniman yang dibesarkan dari lingkungan keluarga yang begitu tertarik pada kebudayaan tradisi, namun tumbuh dan berkembang di kota urban dengan dipengaruhi oleh kultur populer Jepang dan Amerika lewat film animasi, dan komik. Karya-karya Radi pada perkembangannya merupakan upaya re-interpretasi budaya, mengubah struktur dengan pembacaan personal terhadap fenomena di masyarakat.Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif secara deskriptif dengan menganalisis berbagai macam data literatur serta data hasil wawancara dan observasi yang mendukung penelitian. Penelitian ini juga meminjam pendekatan kritik seni untuk menginterpretasikan karya.(Kata-kata Kunci: Radi Arwinda re-interpretasi budaya tradisi, seni rupa kontemporer, , Bandung)AbstractBandung has a very important position in the development of contemporary art in Indonesia. The rapid development after the boom of the 2000s as well as the important role of one of the oldest art academy in Indonesia to be fertile ground emergence of young artists with a distinctive character. Distinctive character is one of owned by Radi Arwinda, an artist who grew up in the so interested in cultural tradition family environment, but thrive in an urban city with popular Japan and the US culture influenced through animated films and comics. Radi works on the development of an attempt to re-interpretation of the culture, changing the structure of the personal reading of the phenomena in the society. This study uses descriptive qualitative methodological approach to analyzing a wide range of literature data as well as data from interviews and observations to support research. The study also borrow approach of art criticism to interpret the works.(Key Words:Radi Arwinda,traditional cultural re-interpretation, contemporary art, Bandung)
Rhythm and Tempo Learning Through The Use of Recorder with Behavioristic Approach (A Case Study In Class V-C At YWKA Bandung Elementary School)
Try Wahyu Purnomo
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1041.364 KB)
|
DOI: 10.26742/panggung.v27i3.281
Abstrak Ritme dan tempo merupakan unsur musik yang sangat penting untuk dipahami peserta didik. Pendekatanbehavioristik melalui pembelajaran rekorder yang dibarengi dengan pemahaman terhadap unsur musik (ritme dan tempo) merupakan tindakan untuk membantu mencapai hasil belajar yang lebih baik. Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif yang bertujuan untuk merancang, menyempurnakan, dan menguji pelaksanaan pembelajaran. Program pembelajaran yang dirancang merupakan strategi untuk membantu keterampilan peserta didik dalam bermain rekorder serta memahami unsur ritme dan tempo.Seluruh data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Konsep ritme dan tempo diberikan malalui latihan tepuk tangan dan tepuk paha serta mengaplikasikan konsep ritme kedalam bentuk notasi balok. Selanjutnya teknik tiup biasa, legato dan stacato serta pencapaian terhadap nada tinggi (C”-G”) dalam memainkan rekorder juga menjadi tujuan dalam pembelajaran ini. Pemberian penguatan (reinforcement) secara searah dan terkontrol melalui pengulangan dan latihan terhadap bentuk perilaku ternyata dapat mencapai tujuan pembelajaran.Peserta didik dapat mempraktikkan konsep ritme yang diaplikasikan kedalam simbol notasi dan selanjutnya secara keseluruhan peserta didik dapat memainkan variasi melodi yang dibentuk oleh peneliti ke dalam media rekorder dengan tempo yang tepat.Kata kunci: ritme dan tempo, rekorder, behavioristik.Abstract Rhythm and tempo are the most important musical elements that students should understand. Behaviouristic approach through recorder learning accompanied by the understanding of the musical elements (i.e. rhythm and tempo) refers to an action performed to increase a better result of learning. This study, classified as evaluative study, aims at designing, perfecting, and testing the running of learning program.The design program is defined as a strategy functions to help students play recorder as well as understand the elements of rhythm and tempo. The collected data are analysed descriptively. The concepts of rhythm and tempo are given through the practices of hands and thighs claps; the rhythm concept is also implemented in the form of notation. Furthermore, the common inflatable techniques- namelylegato andstacato-and the achievement of high pitch (C”-G”) in playing recorder are considered as the other aims of this study. Directed and controlled reinforcement through repetitions and practices towards behavioural form, in fact, can achieve the learning goals. The students can practice the rhythm concept by implementing it into notation symbols and after that, the students can completely play variety of melodies which have been formed by the researcher into recorder in a high tempo.Keywords: rhythm and tempo, recorder, behaviouristic