cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
NILAI EDUKATIF CERITA “BE JELEG TRESNA TELAGA”: MEMPERKUAT PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA Cokorda Istri Sukrawati
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.904 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.187.229-241

Abstract

Penelitian ini membicarakan nilai-nilai edukatif dalam cerita “Be Jeleg Tresna Telaga” sebagai salah satu upaya memperkuat karakter bangsa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam salah satu cerita rakyat Bali, yaitu “Be Jeleg Tresna Telaga”. Kajian nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam cerita itu dianalisis dengan teori pragmatik. Pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Selain itu, pendekatan pragmatik  juga mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatik, di antaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implisit dan secara sinkronis maupun diakronis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perpustakaan karena teks yang diteliti telah didokumentasikan dalam bentuk sebuah buku, yaitu kumpulan buku cerita rakyat Bali karya Suparta, berjudul Satua Bali. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat empat penerapan nilai edukatif yang diperoleh dalam cerita rakyat tersebut, yaitu cinta tanah air, demokratis, religius, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut bersifat universal sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam mewujudkan generasi muda yang berkarakter kuat sehingga mampu menghadapi berbagai pengaruh dalam kehidupan dalam era globa saat ini.
MAKNA NARASI PERSONA DALAM LIRIK KABANTI KULISUSU Zakiyah Mustafa Husba
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.041 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.201.189-204

Abstract

Fenomena laut yang terkandung di dalam sebuah puisi bukan suatu hal yang baru bagi masyarakat pesisir. Sastra dan laut bagi masyarakat pesisir adalah sebuah kenyataan. Semua yang terkandung dalam puisi pada dasarnya merupakan sebuah re eksi dari kebiasaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat penuturnya. Kabanti merupakan salah satu jenis puisi lisan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir di Buton Utara. Kegiatan bertutur menjadi salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh nelayan di Desa Lantagi, Kulisusu, khususnya sebelum melakukan kegiatan melaut. Salah satu cara untuk mengungkapkan berbagai pengalaman hidup suatu masyarakat dapat dilakukan dengan menganalisis karya-karyanya. Pengungkapan ini tentunya untuk mengetahui cara masyarakat pesisir bersastra, berseni, berkreasi tentang berbagai hal, mengabarkan sebuah peristiwa, menceritakan sebuah pengalaman, dapat diketahui melalui cara-cara penggunaan bahasa penciptanya. Penelitian ini difokuskan pada tanda dan makna yang dianalisis melalui pendekatan semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan berbagai hal tentang kehidupan nelayan melalui pengalaman persona penyair kabanti. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam Kabanti Kulisusu terdapat sebuah hubungan harmonis antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Hubungan ini khususnya ditandai dengan adanya penggunaan simbol dan motif yang menunjukkan ekspresi dan kecintaan manusia pada laut, ungkapan perasaan cinta antara sesame manusia, dan perjuangan hidup manusia dalam memperoleh kebahagiaan. 
IDEOLOGI PENGASINGAN PADA KOSAKATA BUDAYA DALAM TERJEMAHAN NOVEL BREAKING DAWN Yusup Irawan
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.359 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.132.213-226

Abstract

Penelitian penerjemahan ini mengangkat masalah pengaruh ideologi pengasingan pada sebuah karya terjemahan sastra modern. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh ideologi pengasingan pada kosakata budaya dalam terjemahan novel populer Breaking Dawn karya Stephenie Meyer. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan   metode pengumpulan data pembacaan teks dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan analisis kontens dengan teknik perbandingan karya terjemahan dengan karya asli. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori ideologi penerjemahan Venuti dan Judickaitė, sedangkan teori yang digunakan untuk menganalisis kosakata budaya adalah teori kategori budaya Newmark. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh ideologi pengasingan dalam karya terjemahan novel tersebut pada kosakata budaya. Hal tersebut terlihat dari strategi-strategi penerjemahan yang diaplikasikan oleh penerjemah, yaitu strategi penerjemahan (1) preservasi, (2) penambahan, (3) naturalisasi, dan (4) literal. Strategi-strategi itu digunakan oleh penerjemah pada berbagai kategori kosakata budaya, yaitu kategori  (1) ekologi, (2) budaya material atau artefak, (3) budaya sosial yang mencakup pekerjaan dan aktivitas pada waktu luang, (4) organisasi atau kelompok, dan (5) gestur/bahasa tubuh dan  kebiasaan. Implikasi dari penggunaan pendekatan pengasingan dalam karya terjemahan novel Breaking Dawn adalah pembaca karya terjemahan tersebut dapat menikmati “foreigness”, yaitu rasa bahasa sumber novel tersebut sekaligus juga rasa budaya sumbernya. 
PENERJEMAHAN REPETISI LEKSIKAL DALAM THE OLD MAN AND THE SEA DAN DUA VERSI TERJEMAHANNYA Arif Bagus Prasetyo; Ida Bagus Putra Yadnya; Ni Luh Nyoman Seri Malini
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.243 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.225.89-106

Abstract

Penelitian ini membahas penerjemahan repetisi leksikal dengan mengacu pada novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dan dua versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pengkajian dilakukan terhadap cara yang digunakan oleh masing-masing penerjemah novel tersebut, Sapardi Djoko Damono dan Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat, untuk menangani repetisi leksikal dalam teks sumber, serta pergeseran terjemahan yang ditimbulkannya. Dalam kajian ini terungkap bahwa kedua penerjemah telah mereduksi gaya bahasa repetisi Hemingway. Reduksi menyebabkan kedua teks terjemahan mengalami pergeseran yang substansial dari teks orisinal, baik secara sintaktis maupun semantis.  
ANALISIS PERCAKAPAN BAHASA SASAK DALAM PERSPEKTIF GENDER: SEBUAH KAJIAN WACANA KRITIS Bakri Bakri
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.793 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.20.91-102

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi peran laki-laki atau perempuanSasak dalam pilihan kosakata, dalam melakukan kendali interaksional, dalam struktursintaksis, dan dalam pemakaian metafora dengan percakapan bahasa Sasak. Teori yangdipergunakan adalah teori wacana kritis model Norman Fairclough dan dilengkapi denganteori Teun A. Van Dijk. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan cakap(wawancara) serta teknik dasar dan turunannya, metode observasi, dan metode dokumentasi.Sumber data diperoleh dari para pemuda dan pemudi Sasak yang sedang berkomunikasi.Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untukmembuat deskripsi secara sistematis, kategorisasi, dan pemolaan. Data disajikan secaraformal dan informal. Pada akhirnya, penelitian ini menghasilkan realita motif atau ideologisikap komunikator yang memihak peran laki-laki atau perempuan Sasak dalam perspektifgender, yang kerap menimbulkan persinggungan fisik-psikis, seperti; pelecehan seksual,KDRT, dan bahkan dalam budaya kawin cerai.
REALISASI FONETIS KONSONAN GETAR ALVEOLAR BAHASA INDONESIA PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DEWASA Sang Ayu Putu Eny Parwati
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.031 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.169.37-47

Abstract

Penelitian ini membahas tentang konsonan getar alveolar [r] menggunakan kajian fonetis yang direalisasikan dengan program spektogram. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran bunyi konsonan getar alveolar [r] yang diucapkan oleh orang orang dewasa.  Metode padan dan teknik simak digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan uji spektogram diperoleh gambaran bunyi konsonan getar alveolar  [r] oleh responden dewasa pada posisi awal [rusak] oleh laki-laki memiliki durasi lebih pendek daripada perempuan, frekuensi untuk laki-laki diperoleh lebih rendah daripada perempuan. Sementara itu, bunyi getar pada posisi tengah [surat] oleh laki-laki berdurasi lebih pendek daripada bunyi perempuan, sedangkan frekuensi bunyi laki-laki lebih rendah daripada perempuan. Bunyi getar pada posisi akhir [getar] oleh informan laki-laki lebih panjang daripada bunyi perempuan dengan frekuensi bunyi getar laki-laki lebih rendah daripada bunyi perempuan.  
MAKNA VERBA MAJEMUK ~KIRU DALAM BAHASA JEPANG: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIS Taqdir Taqdir; Nani Sunarni; Agus Suryadimulya
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1790.255 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.143.47-56

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur verba majemuk (V + V) dalam bahasa Jepang. Struktur tersebut meliputi pembentukan zenkoudoushi (verba awal) dengan koukoudoushi (verba akhir). Verba akhir (koukoudoushi) yang menjadi objek dalam makalah ini adalah verba ~kiru. Sementara itu, zenkoudoushi (verba awal) dalam pembahasan ini meliputi joutai doushi ‘verba statis’, keizoku doushi ‘verba kontuinitas’, shunkan doushi ‘verba fungtual’ dan daiyonshu doushi ‘verba bagian ke empat’. Pengklasifikasi ini mengacu pada pengklasifikasian verba Kindaichi. Kiru sebagai verba tunggal bermakna memotong, mengirisi, memutuskan, dan mematikan. Kiru pada saat digabungkan dengan verba lain akan membentuk sebuah verba majemuk yang mempunyai beberapa arti. Secara garis besar verba gabung kiru memiliki dua makna, yakni makna dari segi leksikal dan makna dari segi sintaksis.Secara leksikal verba gabung ~kiru bermakna setsudan ‘pemotongan’ dan shuketsu ‘selesai/berkahir’, sedangkan dari segi sintaksis memiliki makna kyokudo ‘luar biasa / tak terhingga’ dan makna kansui ‘perfektif’. Verba gabung ~kiru yang melekat pada verba kontuinitas (keizokudoushi) akan bermakna setsudan setsudan ‘pemotongan’, shuketsu ‘selesai/berkahir’, dan kansui ‘perfektif’, sedangkan apabila melekat pada verba fungtual (shunkandoushi) akan bermakna kyokudo ‘luar biasa/tak terhingga’. 
OPRESI PEREMPUAN AMERIKA DALAM NOVEL RIDING FREEDOM DAN PAINT THE WIND KARYA PAM MUNOZ RYAN Winta Hari Arsintowati
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.551 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.244.17-36

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap diskriminasi yang terjadi pada anak perempuan Amerika dalam novel Riding Freedom dan Paint the Wind. Dua novel karya Pam Munoz Ryan tersebut sama-sama berkisah mengenai anak perempuan Amerika yatim piatu yang dikungkung oleh orang-orang terdekat, seperti keluarga dan masyarakat sekitar, untuk meraih mimpi. Peneliti menggunakan metode kualitatif, terutama kajian pustaka dengan data primer berupa kedua novel karangan Ryan, sedangkan data sekunder berupa data-data mengenai opresi terhadap perempuan Amerika di era 1800-an dan di masa modern yang sesuai dan dapat dijadikan acuan untuk penelitian ini. Kedua novel ini dianalisis dengan teori feminisme eksistensialis yang dicetuskan Simone de Beauvoir untuk mengetahui bagaimana usaha kedua tokoh tersebut untuk mencapai kebebasan. Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa meski mendapat opresi dari lingkungan sekitar, tokoh anak perempuan Amerika dalam kedua novel itu tetap melakukan perlawanan dengan cara berbeda untuk mencapai impiannya. Hal itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang pengarang hadirkan  mengenai hak dan kebebasan kaum perempuan Amerika seiring dengan perkembangan zaman. Penelitian ini juga menemukan bahwa meski perempuan Amerika masa kini dapat lebih bebas berpendapat bahwa opresi terhadap perempuan masih tetap terjadi.
REGISTER PERCAKAPAN ANGGOTA KESATUAN LALU LINTAS POLRESTA PONTIANAK: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Wahyu Damayanti
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.978 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.104.103-116

Abstract

Register adalah variasi bahasa berdasarkan penggunaannya. Variasi bahasa merupakan wujud keanekaragaman bahasa yang ditampilkan berdasarkan konteks yang menyertainya, termasuk penutur dan penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan bentuk register yang terdapat pada percakapan anggota kesatuan lalu lintas Polresta Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara simak dan catat. Data penelitian ini berupa kata, abreviasi, kode, istilah, dan wacana yang termasuk register dalam percakapan komunitas Satlantas Polresta Pontianak melalui jejaring sosial WhatsApp pada bulan Agustus dan September 2016. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil dan pembahasaan penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik bentuk register dalam percakapan anggota melalui jejaring sosial WhatsApp berupa bentuk dasar, bentuk berafiks, bentuk ulang, bentuk majemuk, pemendekan atau abreviasi, pemenggalan, singkatan, akronim, kontraksi, sapaan, kode, dan istilah khusus. Dengan demikian, penelitian register dalam percakapan anggota Satlantas merupakan satu di antara bentuk register yang terjadi di masyarakat, dalam hal ini kajian sosiolinguistik. 
MUATAN IDEOLOGIS DALAM NOVEL SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN Heksa Biopsi Puji Hastuti
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.569 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.159.189-199

Abstract

Novel “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” (SPBS) adalah karya Pramoedya Ananta Toer yang sederhana, tidak seperti karya Toer lainnya yang bersifat kontemplatif. Dengan kesederhanannya, SPBS mampu menyampaikan pesan mendalam dari sang pengarang tentang arti sebuah perjuangan. Fokus penelitian ini adalah muatan ideologis yang terkandung dalam novel SPBS. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif, yaitu memberikan gambaran secara sistematis tentang objek penelitian dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Objek dalam penelitian ini adalah apa dan bagaimana muatan ideologis yang dikandung novel tersebut. Dari hasil pembahasan disimpulkan bahwa muatan ideologis yang terdapat dalam novel SPBS adalah ideologi pengarang, yakni realisme sosialis. Ideologi ini direpresentasikan melalui tiga ciri, yakni (a) menyajikan permasalahan yang timbul dari hubungan penindas dan tertindas, (b) menempatkan kaum lemah (proletar) sebagai manusia penggerak dan penentu sejarah, dan (c)  menggunakan seni sebagai wahana penyadaran bagi masyarakat.