Aksara
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Articles
299 Documents
MATERIALISME HISTORIS DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK
Muhammad Alfian
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (568.135 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v31i1.385.1-16
Masalah penelitian ini berkaitan dengan produksi dan konstestasi ideologi. Penelitian bertujuan untuk menguraikan struktur ideologi yang diproduksi oleh novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dengan menggunakan teori materialisme historis Terry Eagleton. Teori ini melihat produksi ideologi dari relasi antara konstituen eksternal, konstituen internal (teks), dan sejarah. Metode yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pengumpulan data menggunakan teknik simak-catat dan studi kepustakaan; analisis data dengan teknik analisis konten. Hasil penelitian membuktikan bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah: (1) artikulasi dari dominasi kekuasaan rezim yang fasis dan otoritarian. Dominasi ideologi rezim kekuasaan cenderung berpihak pada kapitalisme yang feodal, sehingga kaum proletar didiskualifikasi dari penguasaan bahan dan alat produksi, khususnya bahasa, politik, dan ekonomi. Produksi sastra dikontrol secara ketat sebagai legitimasi rezim kekuasaan terhadap ideologi dominan. Melalui pengolahan pengalaman-pengalaman pengarang dalam kondisi tersebut, terjadi penciptaan estetik yang melahirkan novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan genre realisme sosial sebagai cara untuk melawan rezim kekuasaan dengan personifikasi tradisi mistis dan lokalitas; dan (2) ideologi teks terikat dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang mengimplikasikan kritik terhadap rezim kekuasaan dengan cara mengontestasikan ideologi humanisme terhadap dikotomi ideologi dominan negara dan komunisme. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa produksi ideologi dengan melihat faktor-faktor historis di luar teks, yang diinteraksikan dengan teks, bersifat resistensi terhadap kemanusiaan dan subversif terhadap formasi sosial.
RESISTANSI PEREMPUAN PAPUA DI LINGKUNGANNYA DALAM ROMAN ISINGA KARYA DOROTHEA ROSA HERLIANY
Puji Retno Hardiningtyas
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (436.691 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v28i2.127.143-153
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan resistansi perempuan dalam melawan ketidakadilan lingkungan dan persoalan ekologi yang dihadapi perempuan dalam kaitannya dengan pengelolaan alam pada roman Isinga karya Dorothea Rosa Herliany. Metode pustaka dan teknik baca dan catat digunakan untuk menggumpulkan data penelitian. Metode dan teknik analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik interpretatif dan analisis kontens. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan humanistik dengan teori ekofeminisme. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa perempuan dan alam memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat Papua. Perjuangan perempuan Papua dalam membebaskan diri dari kekerasan, terutama yang bersumber dari struktur dan budaya masyarakat, kondisi alam, dan adatnya telah melahirkan resistansi posisi perempuan. Sistem patriarkat yang dianut oleh masyarakat Papua memosisikan perempuan sebagai pekerja, pengolah bahan makanan, dan penjual hasil panen. Perempuan Papua menghadapi tantangan tersebut dengan menguasai peran sebagai produsen, konsumen, pendidik, pengampanye, dan komunikator terhadap pelestarian alam. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan memiliki energi yang berpotensi dalam menjaga intergritas, menyejajarkan posisi antara perempuan dan laki-laki, serta mengambil peran sosial untuk menyadarkan masyarakat Papua dalam menjaga lingkungannya.
PEREMPUAN DAN RITUAL GURU PIDUKA DALAM CERPEN “SURAT DARI PURI” KARYA WIDIASA KENITEN
Ni Putu Ekatini Negari
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (672.004 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v27i1.173.107-112
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk ketidakadilan dan perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi tantangan masyarakat adatnya. Perjuangan yang berat seorang perempuan menghadapi tantangan dalam masyarakat adatnya menjadi masalah dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra dan teori sastra feminis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud ketidakadilan bagi perempuan terlihat dalam kekerasan emosional dan pelecehan seksual. Sebaliknya, wujud perjuangan perempuan meliputi berani menolak segala sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, bertanggung jawab kepada anak, serta bersedia mendidik dan mengasuh anak dengan kasih sayang, termasuk merawat anak sakit walaupun ditelantarkan oleh laki-laki. Ritual Guru Piduka dengan sesajen dipersembahkan kepada para dewa atau leluhur untuk memohon maaf atas kesalahan yang telah diperbuat agar mampu melaksanakan kehidupan dengan baik.
CERPEN "MATINYA SEORANG PENARI TELANJANG" KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA DALAM PERSPEKTIF SLAVOJ ŽIŽEK
Ahmad Zamzuri
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (555.583 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v30i1.226.1-16
AbstrakMasalah penelitian ini berkaitan dengan subjek. Tujuan penelitian ini mengetahui pergerakan subjek dalam cerita pendek Matinya Seorang Penari Telanjang karya Seno Gumira Ajidarma. Penelitian ini menggunakan teori subjek Slavoj Žižek. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, antar lain 1) penentuan objek material dan objek formal penelitian. Objek material penelitian ini adalah cerita pendek Matinya Seorang Penari Telanjang karya Seno Gumira Ajidarma. Sementara, objek formal penelitian berkaitan dengan subjek Žižekian; 2) melakukan pengumpulan data melalui tahapan membaca cerita pendek secara berulang-ulang untuk memahami cerita, mengumpulkan data dengan model simak terhadap kata, kalimat, dan paragraf, yang berkaitan dengan subjek Žižekian; Setelah tahap pengumpulan data, tahap berikutnya adalah analisis data. Pada tahap analisis, data akan dianalisis menggunakan metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis), yakni analisis dengan menggunakan seluruh perangkat kebahasaan dan menghubungkan data temuan dengan kerangka teoritik Slavoj Žižek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek melakukan tindakan radikal berupa menjadi stripper (penari telanjang) yang secara common sense itu melawan dimensi simbolik atau sosial. Selanjutnya, subjek mengalami lack dan mengejar yang imajiner sehingga subjek mengalamai sinis, yaitu tahu begitu salah, tetapi pura-pura tidak tahu bahwa itu salah, dan kynicism, yaitu menolak simbolik kampungan melalui ironi dan sarkasme. Terakhir, subjek pada akhirnya tidak mampu melawan yang simbolik.
PEREMPUAN YANG TERMARGINALKAN DALAM CERPEN “MENUJU KAMAR DURHAKA“ DAN “BERITA DARI PARLEMEN” KARYA UTUY TATANG SONTANI
Nurweni Saptawuryandari
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (489.889 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v28i1.15.39-48
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Utuy Tatang Sontani menggambarkansosok perempuan yang termarginalkan dalam cerpennya yang berjudul “Menuju KamarDurhaka” dan “Berita dari Parlemen”, dengan cara menganalisis sikap, ucapan, dan tindakanyang dialami dan dilakukan tokoh perempuan. Dalam kedua cerpennya, Utuy Tatang Sontanimenggambarkan rakyat kecil yang umumnya adalah tokoh perempuan selalu mengalamikesengsaraan dan kesialan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Metodeyang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan tulisan berdasarkan isi karyasastra, yang menggambarkan tokoh perempuan, yang selalu mengalami keterpurukan dankesengsaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen “Menuju Kamar Durhaka” dan“Berita dari Parlemen” menggambarkan perempuan sebagai sosok yang termarginalkan danselalu mengalami penderitaan.
INTERPRETASI SEGMEN BUNYI BAHASA JAWA KUNA: ANALISIS SPEECH ANALYZER DAN FITUR DISTINGTIF
Ni Ketut Ratna Erawati
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (547.472 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v29i2.79.225-238
Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu dialek temporal yang pernah ada di Indonesia, khususnya di Jawa.. Bahasa tersebut diperkirakan berkembang dari abad IX hingga akhir abad XV. Secara tipologi fonologis, bahasa Jawa Kuna memiliki sistem tujuh vokal dasar. Dari i sudut tipologi morfologis, bahasa tersebut termasuk tipe aglutinasi dengan ciri utamanya, yaitu satu kata terdiri dari satu atau lebih morfem sebagai pembentuknya. Bahasa yang aglutinatif memiliki kata dasar dan morfem terikat sebagai pembentuk kata menampakkan ciri analisis yang bersifat morfofonemik. Dengan demikian, dalam proses pembentukan kata sering terjadi proses perpaduan morfem yang berdampak pada perubahan fonem. Oleh karena itu, telaah morfem-morfem dan variasi fonem yang cukup banyak cocokdianalisis berdasarkan fonologi generatif. Secara fonologis, perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dapat ditelusuri dengan tepat berdasarkan teori fitur distingtif dan metode mekanik speechanalyser. Cara tersebut digunakan untuk menelaah dan menginterpretasi pelafalan segmen bunyi dalam bahasa Jawa Kuna. Di samping itu, segmen bunyi yang telah terjadi dalam tuturan yang ada dalam teks bahasa Jawa Kuna dapat dijelaskan secara lebih tuntas. Berdasarkan hasil telaahan, segmen bunyi terutamavokal dalam bahasa Jawa Kuna, seperti: segmen /u/ yang diikuti dengan /i/ berubah menjadi /w/, segmen bunyi /a/ diikuti /i/ menjadi /e/, dan segmen /i/ diikuti /a/ menjadi /y/. Perubahan-perubahan seperti itu tentu memiliki kelas dan fitur bunyi yang saling mempengaruhi. Hal seperti itu perlu dikaji lebih detail karena secara kasat mata satu segmen tunggal sebenarnya merupakan dua buah fonemmerger yang mengalami proses fonologis.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMOTIVASI MASYARAKAT DI KOTA TABANAN, BALI UNTUK MENGGUNAKAN ALIH KODE
I Nengah Sukayana
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1532.883 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v26i1.140.15-23
Masyarakat di kota Tabanan mayoritas tergolong dwibahasawan karena setidak-tidaknya mereka menguasai bahasa Bali (sebagai bahasa ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua yang didapatkan melalui pendidikan formal di sekolah. Sebagai dwibahasawan, dalam berkomunikasi mereka akan menyesuaikan diri dengan topik, situasi, serta lawan bicaranya untuk memilih bahasa yang cocok atau pantas digunakan. Tentunya sebagai dwibahasawan, mereka akan lebih leluasa untuk memilih bahasa yang lebih sesuai bila dibandingkan dengan seorang yang ekabahasawan. Dari kajian yang dilakukan, ternyata masyarakat di kota Tabanan telah melakukan alih kode dalam berkomunikasi, baik antarwarga Tabanan maupun dengan warga di luar Tabanan. Adapun faktor-faktor yang memotivasi mereka untuk beralih kode sebagai berikut. (a) Kehadiran orang ketiga yang tidak mengenal atautidak mengerti bahasa Bali. (b) Adanya pergantian topik untuk menonjolkan suasana kebalian. (c) Adanya peralihan suasana dari suasana santai ke suasana formal. (d) Adanya pengutipan kode yang digunakan dalam teks.
KOSMOLOGI LAUT DALAM TRADISI LISAN ORANG MANDAR DI SULAWESI BARAT
Sastri Sunarti
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (648.396 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v29i1.99.33-48
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kosmologi laut dalam tradisi lisan nelayan Mandar di Sulawesi Barat. Data penelitian ini meliputi ekspresi budaya dalam tradisi lisan seperti ritual laut dan sastra lisan yang terdapat di wilayah pesisir Mandar. Masalah yang hendak disoroti dalam penelitian adalah bagaimana kosmologi laut yang direpresentasikan dalam tradisi lisan orang Mandar sebagaimana terdapat dalam ritual laut dan cerita lisan yang berkaitan dengan laut. Untuk menunjang penelitian ini, digunakan metode etnografis dan kualitatif. Etnografis membantu memahami karakteristik orang Mandar dan kualitatif merupakan prasyarat dalam kajian lapangan sebagaimana yang sering dilakukan dalam penelitian tradisi lisan. Adapun data primer seperti cerita lisan Mandar akan dianalisis dengan pendekatan komposisi skematik lisan yang dikemukakan oleh Ong dan Sweeney. Hasil dan pembahasaan ini menunjukkan bahwa kosmologi laut orang Mandar sangat penting memeperlakukan laut sebagai tradisi dan arti penting laut dalam tradisi lisan nelayan Mandar ketika akan, dan, sedang melaut. Selain itu, pembahasaan ini menjelaskan proses asimilasi agama (Islam) dengan tradisi (agama lokal) di Mandar tanpa saling menafikan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tradisi lisan ini sudah wajar dilaksanakan oleh masyarakat Mandar, Sulawesi Selatan sebagai sebuah budaya yang adiluhung.
SEJARAH DAN FIKSI DALAM “LEGENDA KAMPUNG JAGALAN” DAN “LEGENDA KAMPUNG SEWU” SURAKARTA
Nugraheni Eko Wardani
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (54.295 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v31i2.371.207-222
AbstrakPenelitian ini bertujuan menjelaskan bentuk cerita rakyat “Legenda Kampung Jagalan” dan “Legenda Kampung Sewu” Surakarta, aspek sejarah dalam kedua cerita rakyat, unsur ksi dalam kedua cerita rakyat, serta hubungan antara cerita rakyat dengan babad. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini buku Cerita Rakyat Surakarta dan Yogyakarta dan informan. Teknik pengumpulan data melalui analisis kedua legenda dan analisis catatan hasil wawancara informan. Analisis data menggunakan analisis model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk cerita rakyat Surakarta adalah legenda asal-usul nama Kampung Jagalan dan Kampung Sewu Surakarta. Cerita rakyat “Legenda Kampung Jagalan” berhubungan dengan tokoh sejarah Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X dan “Legenda Kampung Sewu” berhubungan dengan tokoh Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II. Fiksi dalam cerita rakyat berkaitan dengan penceritaan tokoh dari kalangan rakyat jelata, latar tempat yang menunjukkan kehidupan rakyat jelata, dan dialog-dialog yang terjadi antartokoh di kalangan rakyat. Cerita rakyat dan babad bertujuan untuk melegitimasi nama raja. Hal ini menunjukkan bahwa kedua legenda mengandung sejarah yang berhubungan dengan raja-raja Kerajaan Surakarta. Legenda mengandung unsur ksi pada struktur cerita.Kata Kunci: sejarah, ksi, cerita rakyat, SurakartaAbstractThis study aims to describe the form of Surakarta folktale through “Kampung Jagalan Legend” and “Kampung Sewu Legend”, historical aspects and roles in both folktales, the ction contained in both folktale, the relationship between folktales and babad. This research is qualitative descriptive research. The data in this study are book Cerita Rakyat Surakarta dan Yogyakarta and informants. The technique of collecting data through analysis of the two legends and informant interview records. Data analysis using interactive model analysis. The results of the research indicate that Surakarta folktales are the legend of the origin of the name Kampung Jagalan and Kampung Sewu Surakarta. “Kampung Jagalan Legend” relates to the historical gure of Pakubuwono X and “Kampung Sewu Legend” related the character of Pakubuwono II. Fiction in legends is related to the telling of gures from the common people, backgrounds that show the lives of ordinary people, and dialogues that occur between group, folktales and babad aim to legitimize the name of the king. The two legends contain history related to king of the kingdom Surakarta. Legends contain elements of ction in the structure of stories.Keywords: history, ction, folktales, Surakarta
NOUN PHRASES (NPs)-MOVEMENT IN SASAK
Lalu Erwan Husnan
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1433.206 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v26i2.154.121-132
Sasak is spoken language used by Sasak speakers in Lombok, West Nusa Tenggara. This language is included into Bali-Sasak-Samawa subgroup. Most of the linguists and researchers constructed this language using SVO, but they do not explore the possible movement of the Noun Phrases (NPs) as the basis of constructing its structure. So, it is a need to have the possibility of the NPs movement whether the predicates in Sasak require one or two argument. Data used in this writing are taken through documentary method. They are analyzed using case theory proposed by Chomsky. The analysis shows that both raising verbs and raising adjective involve phrases case. They do not allow structural case movement. In addition, both induce raising. However, they are different in selecting source of NP movement; raising verbs finite or non finite clause, and raising adjective finite clause. Passivization also induces NP-movement in Sasak.Moreover, passive verbs in Sasak can be followed by preposition of locative or not depend on the notion of the verbs used. It has the same analogy with unaccusativity verbs. They lack of internal argument and cannot assign accusative case.