cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF BERBASIS METODE QUANTUM WRITING PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI D-4 (S-1 TERAPAN) MANAJEMEN BISNIS PARIWISATA, JURUSAN PARIWISATA, POLITEKNIK NEGERI BALI I Gusti Putu Sutarma; Ida Bagus Artha Adnyana
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1531.986 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.146.75-85

Abstract

Penelitian ini didasari oleh masalah kurangnya kemampuan mahasiswa dalammenulis. Hal itu disebabkan oleh materi pembelajaran menulis kreatif belum adapada materi pembelajaran bahasa Indonesia. Di samping itu, rendahnya minatbaca mahasiswa juga menjadi pemicunya. Sehubungan dengan kondisi itu, dalam penelitian ini dibahas masalah pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing terhadap kemampuan menulis mahasiswa. Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan tiga kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi prates, pemberian materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing, dan postes. Prates dilakukan untuk mengetahui kemampuan menulis mahasiswa sebelum diberikan materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing, sedangkan postes diberikan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa setelah diberikan materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing. Hasil prates dan postes menunjukkan bahwa pemberian materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing dapat meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Oleh karena itu, materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing akan ditambahkan pada buku ajar Bahasa Indonesia pada Program Studi D-4 (S-1 Terapan) Manajemen Bisnis Pariwisata.
BUDAYA LAMPUNG DALAM CERPEN “SEBAMBANGAN” KARYA BUDI P. HATEES Dian Anggraini
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.969 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.100.49-62

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya lokal yang terkandung dalam cerita pendek yang berjudul “Sebambangan” dan keberadaan budaya tersebut pada masa lampau. Penelitian ini membahas masalah budaya lokal dan keberadaan budaya dalam cerita pendek “Sebambangan”. Berdasarkan tujuan tersebut, metode penelitian ini menggunankan metode kepustakaan dan teknik baca. Analisis data penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik interpretatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi dan antropologi sastra. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukan bahwa cerita ini sarat dengan budaya lokal, terutama tentang sistem perkawinan masyarakat Lampung. Larian menjadi alternatif pasangan muda mudi untuk melangsungkan pernikahan. Uniknya larian juga merupakan salah satu adat-istiadat Lampung yang dikenal dengan sebambangan. Larian dilakukan untuk menghindari perkawinan begawi adat. Sejak zaman dahulu, tingginya uang antaran sudah menjadi polemik bahkan menjadi salah satu penghambat pertumbuhan penduduk di Lampung. Dalam cerpen ini, pengarang juga ingin mengambarkan posisi perempuan dalam sistem perkawinan ini serta keberadaan penyimbang marga yang terkadang menyalahgunakan kewenangannya karena kepentingan pribadi. Selain itu, pengarang juga ingin menggambarkan bahwa tidak selamanya adat membuat masyarakat pemiliknya menjadi terkungkung. Warisan nenek moyang ini juga memberikan perlindungan kepada kaum perempuan seperti pantang cerai guna mengikat pernikahannya. 
MENELUSURI TRADISI ONGGOSO SUKU TOLAKI YANG TEREPRESENTASI DALAM MITOS OHEO Heksa Biopsi Puji Hastuti
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.579 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.433.223-238

Abstract

Abstrak Mitos Oheo adalah mitos yang hidup dalam masyarakat Tolaki, Sulawesi Tenggara. Mitos ini diyakini memuat peristiwa peminangan yang pertama kali dilakukan dalam peradaban suku Tolaki. Dalam penelitian ini dilakukan penelusuran representasi tradisi onggoso, sebuah tradisi membayar sejumlah uang belanja sebagai syarat pernikahan, dalam mitos Oheo. Permasalahan penelitian adalah bagaimana tradisi onggoso yang dikenal oleh Suku Tolaki terepresentasi dalam mitos Oheo. Penelitian ini bertujuan untuk menarik relasi antara kode- kode yang terdapat di dalam mitos Oheo dengan tradisi onggoso yang dikenal dalam adat perkawinan Suku Tolaki. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi onggoso mengambil contoh dari pengajuan syarat dari Anawaingguluri kepada Oheo untuk menerima pinangan Oheo. Dalam mitos Oheo, tradisi onggoso terepresentasi dalam dua fokus, yaitu penentuan kesepakatan dan teknis pembayaran. Segmen awal mitos Oheo berelasi dengan penentuan kesepakan mengenai jenis dan jumlah onggoso yang harus dibayarkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Syarat yang diajukan oleh Anawaingguluri harus disetujui oleh Oheo agar pernikahan di antara keduanya dapat dilaksanakan. Segmen tengah dan akhir yang memuat upaya Oheo berkumpul kembali dengan Anawaingguluri berelasi dengan mo mbolika odandi atau memperbaharui janji. Melalui mo mbolika odandi inilah terlihat upaya pihak laki-laki dalam menepati janjinya sebagai sebuah tanggung jawab. Kata kunci: tradisi onggoso, suku Tolaki, mitos Oheo Abstract The Oheo myth is a myth that lives in the Tolaki society, Southeast Sulawesi. This myth is believed to contain the rst marriage proposal carried out in Tolakinese civilization. This study traced the representation of onggoso tradition, a tradition of paying an amount of spending money as a condition for marriage, in the Oheo Myth. The issue of research is how is the traditional tradition known by the Tolaki tribe represented in the Myth of Oheo? This study aims to attract relations between the myth of Oheo and the tradition of onggoso known in the marriage customs of the Tolaki tribe. The study was conducted with a qualitative descriptive method with a semiotic approach. Based on the results of the analysis it can be concluded that the Onggoso tradition took the example of submitting conditions from Anawaingguluri to Oheo to accept Oheo’s proposal. In the Oheo myth, the onggoso  tradition is represented in two focuses, namely the determination of agreement and technical payment. The initial segment of the Oheo myth relates to the determination of agreement on the type and number of onggosos the male side must pay to the woman. The terms proposed by Anawaingguluri must be approved by Oheo so that the marriage between the two can be carried out. While the middle and nal segments that contain Oheo’s efforts are reunited with Anawaingguluri in connection with the music magazine or renewing an appointment. It is through this mo mbolika odandi that the efforts of the men in keeping their promises are seen as a responsibility.Keywords: onggoso tradition, Tolakinese tribe, Oheo myth 
REDUPLIKASI NOMINA DALAM BAHASA INDONESIA: KAJIAN SINTAKSIS DAN SEMANTIK Wati Kurniawati
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1432.012 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.155.133-143

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan fungsi dan keserasian reduplikasi nomina dalam bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode melalui penelitian kepustakaan yang ditunjang dengan teknik pengumpulan data dan analisis data. Sumber data dalam penelitian ini adalah data tertulis, intuisi penulis, dan percakapan para pemakai bahasa Indonesia. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa fungsi reduplikasi nomina dalam tataran frasa dapat berkedudukan sebagai inti dan pewatas. Sementara itu, fungsi reduplikasi nomina dalam tataran klausa berfungsi sebagai subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Perilaku reduplikasi nomina tidak dapat memengaruhi konstituen yang berada di sebelah kiri dan kanannya.
SISTEM FONOLOGI BAHASA BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR Nurul Masfufah
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.443 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.216.251-265

Abstract

Fonologi bahasa Benuaq memiliki beberapa ciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk memaparkan secara singkat dan jelas struktur fonologi bahasa Benuaq. Adapun masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur vokal, konsonan, diftong dan distribusinya, serta bentuk suku kata dalam bahasa Benuaq. Penelitian ini menggunakan teori linguistik struktural, yaitu dengan cara menganalisis struktur fonologinya. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu metode wawancara terstruktur dan observasi sistematis dengan teknik rekam dan catat. Adapun analisis data menggunakan metode deskriptif analitik untuk mengetahui fonologi bahasa Benuaq. Hasil penelitian ini ditemukan enam vokal pendek (i, u, e, |, o, dan a) dan ditemukan juga lima vokal panjang (i:, u:, e:, o:, dan a:), 23 konsonan, dan enam diftong. Fonem vokal berdistribusi lengkap, sedangkan konsonan ada yang berdistribusi lengkap dan tidak lengkap. Konsonan yang berdistribusi lengkap berjumlah sepuluh fonem, yaitu /p/, /m/, /s/, /t/, /n/, /l/, /r/, /y/, /k/, dan /G/, sedangkan konsonan yang berdistribusi tidak lengkap terdapat 13 fonem, yaitu /b/, / pm/, /w/, /d/, /tn/, /j/, /c/, /~n/, /g/, /q/, /kG/, /h/, dan /?/. Suku kata dalam bahasa Benuaq, yaitu V, D, VK, KV, KVK, KD, dan KDK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fonologi bahasa Benuaq memiliki keunikan tersendiri, seperti bentuk vokal panjang dan konsonan unik /pm/, /tn/, dan /kG/. 
KALIMAT IMPERATIF DALAM WACANA PERKAWINAN ADAT BALI I Gde Wayan Soken Bandana
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.62 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.133.227-239

Abstract

Penelitian ini membahas masalah kalimat dalam wacana perkawinan adat Bali. Salah satu kalimat yang digunakan dalam komunikasi pada proses ngidih ‘meminang’ dan majauman ‘pamitan pihak pengantin perempuan kepada leluhurnya’ adalah kalimat imperatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis kalimat dan makna, bentuk, dan penanda kalimat imperatif dalam wacana perkawinan adat Bali. Pada tahap penyediaan data digunakan metode studi pustaka dan metode observasi dengan teknik catat. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analitik dan teknik interpretatif dengan mengacu pada teori linguistik antropologi. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kalimat imperatif dalam wacana perkawinan adat Bali berupa kalimat imperatif biasa, halus, permohonan atau permintaan, ajakan atau harapan, pelarangan, dan pembiaran. Makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah makna perintah, permohonan, ajakan, harapan, pelarangan, dan pembiaran. Bentuk dan penanda kalimat imperatif berupa afiks dan kata dengan kelas kata adverbia, adjektiva, dan verba. Dalam wacana perkawinan adat Bali, keenam kalimat imperatif digunakan secara berimbang.  
ALIH KODE PADA PENTAS SENI PERTUNJUKAN WAYANG KULIT ”JOBLAR” LAKON I TUALEN DADI CARU I Made Sumalia
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.02 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.179.%p

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan alih kode pada pentas seni pertunjukan wayang kulit Joblar lakon I Tualen Dadi Caru. Analisisnya dititikberatkan pada masalah-masalah alih kode dan latar belakang alih kode tersebut. Metode yang dipakai adalah studi pustaka, observasi, dan wawancara. Dalam penjaringan data digunakan teknik catat dan rekam. Data dianalisis secara kualitatif melalui empat proses, yaitu (1) mentranskripsi data, (2) mereduksi data, (3) menyusun data, dan (4) menarik suatu simpulan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan adanya peristiwa alih kode yang dilakukan oleh Dalang Joblar (DJ) dalam pementasan wayangnya. Sebagai seorang bilingual, DJ menggunakan dua bahasa atau lebih dalam dialog pertunjukannya. Bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali sebagai bahasa utama, sedangkan bahasa Jawa Kuno, bahasa Sanskerta, bahasa Jawa, bahasa Inggris, dan bahasa Arab sebagai bahasa kedua. Hasil analisis menunjukkan adanya fenomena alih kode ke luar dan alih kode ke dalam sebagai faktor penyebab terjadinya alih kode.
CULTURAL MEANINGFULNESS ON INTERCULTURAL PERSPECTIVE OF ENGLISH LEARNING MATERIALS FOR ELEMENTARY SCHOOL Fardini Sabilah; Ni Luh Sujtiati Beratha; I Made Budiarsa; Ida Bagus Putra Yadnya
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.525 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.209.149-164

Abstract

This current paper brings into discussion cultural meaningfulness on intercultural perspective of English learning materials for elementary school. Students might be perceived to master English, but there has been no guarantee that they can properly make use of their acquired language skills upon direct interaction with native speakers of the target language. This is reasonable as English instruction in elementary school is projecting grammatical aspects, not touching cultural aspects of the target language yet. In fact, those cultural aspects are playing pivotal roles in achieving interactional comprehension between speakers and interlocutors. In regards to cultural studies, foreign language students are to be apt to target language’s cultures. Departing for the mentioned concerns, English is to be taught by incorporating cultural aspects of native speakers, and thus intercultural perspective. This current paper pinpoints the development of intercultural perspective in English learning materials for elementary school students aging from 6-12 years old. Cultural meaningfulness on intercultural perspective is set to be the target that encapsulates various topics for teaching English in elemenatry school. The so called perspective not merely comprises social skills, but training sensitivity and comprehension on values, point of view, proper way of life and thinking as well. A number of materials containing intercultural perspective and cultural meaningfulness are described in this paper. Those materials are presented within six intercultural topics in the forms of culture-related vocabularies, expressions, and meanings.
PERGESERAN KOSAKATA BAHASA BALI RANAH PERTANIAN: STUDI LINGUISTIK KEBUDAYAAN Nengah Arnawa
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.511 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.21.103-110

Abstract

Fokus penelitian ini adalah pergeseran kosakata bahasa Bali pada ranah pertanian dandampaknya terhadap pelestarian budaya darma pamacul ‘kewajiban petani’. Penelitian inidilatarbelakangi oleh kondisi empirik bahwa telah terjadi perubahan tatacara petani dalampengolahan lahan. Perubahan tersebut berdampak pada pergeseran kosakata yang berimplikasipada perubahan budaya. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk memetakan pergeserankosakata bahasa Bali ranah pertanian dan kaitannya dengan dinamika budaya lokal. Untukmencapai tujuan tersebut, penelitian ini berpijak pada teori linguistik kebudayaan danmakrosemantik. Penelitian ini dirancang dalam desain kualitatif. Data dikumpulkan melaluimetode cakap dengan para petani subak basah dan kering di Kabupaten Tabanan dan Buleleng.Informan diklasifikasi berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Berdasarkan prosedurpenelitian tersebut terungkap bahwa telah terjadi pergeseran kosakata dan budaya pertanianpada aspek: peralatan, budaya dan ikatan sosial, proses pengolahan lahan, perawatan tanamandan penanganan hasil panen. Pergeseran kosakata ranah pertanian tersebut berdampak padakegagalan anak-anak petani memahami metafora yang sering digunakan dalam wacanaberbahasa Bali.
PENGGUNAAN ASPEK BAHASA DALAM TEKA-TEKI TRADISIONAL ETNIK KAILI Nursyamsi Nursyamsi
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.159 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.170.49-64

Abstract

Teka-teki tradisional merupakan salah satu bentuk tradisi lisan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah penggunaan aspek bahasa dalam teka-teki tradisional etnis Kaili. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan aspek bahasa dalam teka-teki tradisional etnik Kaili. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan data digunakan metode simak dengan teknik sadap dan simak libat cakap. Teknik rekam dan teknik catat juga digunakan dalam penelitian ini. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa teka-teki tradisional etnis Kaili menggunakan kata tanya nuapa ‘apa’ yang terletak pada awal dan tengah kalimat pertanyaan (topik) dan kata tanya nuapa hai ‘apakah itu’ pada kalimat berikutnya setelah kalimat pertanyaan. Aspek makna yang terkandung dalam teka-teki tradisional etnis Kaili bersifat harfiah dan metaforis.