Aksara
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Articles
299 Documents
PENGALIHWAHANAAN PARIBASA BALI LISAN KE DALAM LAGU BALI POPULER
Ni Nyoman Tanjung Turaeni
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (179.202 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v29i2.124.211-224
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal Bali melalui ungkapan-ungkapan lisan dalam lirik lagu Bali populer. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan lisan yang terdapat dalam lirik lagu Bali populer. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian adalah bagaimana bentuk ungkapan-ungkapan lisan ditransformasikan melalui lirik lagu Bali populer dan bagaimana fungsi dan makna ungkapan lisan yang dimanfaatkan dalam lirik lagu tersebut. Berdasarkan tujuan penelitian ini, pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan teknik baca catat. Metode analisis penelitian ini menerapkan metode deskriptif analitik dengan teknik hermeneutik. Teori yang digunakan penelitian ini menggunakan transformasi. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan lisan yang tertuang dalam lirik lagu Bali populer sarat dengan kearifan lokal Bali, terutama tentang sistem kehidupan masyarakat dalam berperilaku terhadap lingkungan. Selain itu, melalui lirik lagu Bali populer yang mengandung unsur ungkapan lisan diharapkan dapat membangun pembentukan karakter generasi muda sekaligus melestarikan kearifan lokal dan memperkenalkan lagu-lagu Bali populer dalam masyarakat secara umum.
DEKONSTRUKSI TOKOH GAJAH MADA DALAM NOVEL PERANG BUBAT KARYA AAN MERDEKA PERMANA
Sarip Hidayat
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (545.133 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v30i2.317.237-250
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan sejumlah upaya yang dilakukan pengarang dan pemaknaan dari penginterpretasian tokoh Gajah Mada dalam novel yang berjudul Perang Bubat. Rumusan masalahnya adalah bagaimana cara Aan Merdeka Permana menginterpretasikan tokoh Gajah Mada dalam novelnya dan apa makna yang dapat diperoleh dari upaya pengarang tersebut. Teori yang digunakan untuk menganalisis novel ini adalah teori dekonstruksi. Melalui teori ini, data dalam novel akan dianalisis melalui kehadiran sejumlah oposisi biner yang berkaitan dengan tokoh Gajah Mada dalam novel dan menghubungkannya dengan narasi besar tentang Gajah Mada dalam teks-teks sumber-sumber sejarah yang telah dikenal selama ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada sejumlah upaya yang dilakukan pengarang dalam menginterpretasikan tokoh Gajah Mada. Simpulan yang dapat dikemukakan adalah (1) upaya pengarang dalam menginterpretasikan tokoh Gajah Mada adalah dengan cara menciptakan informasi baru mengenai tokoh Gajah Mada berdasarkan logika penceritaan novel; (2) makna yang diperoleh dari upaya interpretasi ini adalah bahwa tidak ada interpretasi tunggal terhadap suatu fenomena.
PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA JAWA DI DAERAH TRANSMIGRASI DI KOTA PALANGKARAYA
Ralph Hery Budhiono
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (378.435 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v31i2.378.285-298
Abstrak Banyak bahasa daerah yang berinteraksi dengan bahasa lain akhirnya mengalami pergeseran, termasuk bahasa Jawa. Pergeseran ini kemudian menimbulkan upaya pemertahanan bahasa. Penelitian ini membahas pergeseran dan pemertahanan bahasa Jawa di daerah transmigrasi di km 38 Kota Palangkaraya. Tujuan penelitian ini ialah menggambarkan keadaan kebahasaan dan mendeskripsikan upaya pemertahanan bahasa Jawa yang dilakukan oleh para responden yang menghuni kawasan transmigrasi di km 38 Kota Palangkaraya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan kualitatif. Data diambil dengan cara membagikan kuesioner untuk selanjutnya ditanggapi oleh para responden. Responden yang menjadi penanggap kuesioner ini mencapai 78 orang. Data kemudian dianalisis dengan bantuan perangkat lunak statistik. Berdasarkan analisis disimpulkan bahwa ranah memengaruhi pilihan bahasa. Terdapat pula perbedaan rata-rata pilihan bahasa pada ranah dan variabel tertentu. Pilihan bahasa kemudian memunculkan pergeseran bahasa yang kian memprihatinkan. Upaya pemertahanan yang dilakukan oleh para penutur yang tinggal di daerah itu bersifat manasuka dan sukarela, tidak terstruktur, dan tidak formal. Akibatnya regenerasi penutur bahasa Jawa tidak berjalan dengan baik dan tidak berkesinambungan. Kata kunci: pergeseran dan pemertahanan bahasa, sikap dan pilihan bahasa, ekologi bahasa, sosiolinguistik Abstract Many native languages in Indonesia who interact with other codes shift, including Javanese. This shifting lead to massive language maintenance. This interaction leads to language shifting and the shift of language leads to language maintenance. This research is focused on the Javanese shifting and maintenance in transmigration region in Palangkaraya. The goal of the research is to describe the shifting and maintenance of Javanese in the region. This is a descriptive and qualitative research. The data is collected by distributing questionners to some respondents and then to be responded respectively. There are 78 respondents involved in the research. The data is then analyzed by using statistics software. Based on the analysis, domain plays some important roles in the context of language choices. It is also found that there is some average difference in how the respondent’s choice a code in certain contexts. These choices lead to the condition of language shift. How the respondents maintain their language is such kind of unstructural and unformal efforts. Therefore, the language speaker’s regeneration is neither well performed nor sustainably constructed.Keywords: language shift and maintenance, language attitude and preference, ecology of language, sociolinguistics
ANALISIS NARATIF PERSONAL LISAN SISWA SEKOLAH DASAR
Adi Budiwiyanto
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (419.148 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v27i2.183.185-193
Penelitian ini bertujuan untuk melihat konsep sederhana atau kompleks struktur bercerita siswa sekolah dasar. Permasalahan ini menjawab tiga pertanyaan, yaitu (1) struktur naratif personal lisan siswa sekolah dasar; (2) perbedaan struktur naratif personal antara siswa pria dan perempuan; dan (3) fitur-fitur kebahahasaan apakah yang muncul dalam naratif personal siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis struktural dan teori sosiolinguistik sebagai dasar pijakan membahas struktur naratif. Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan bagi guru dalam mengembangkan metode naratif dalam pemelajaran. Pertimbangan lainnya adalah melihat bahwa narasi atau pengisahan adalah metode yang sangat baik untuk diterapkan untuk meningkatkan daya imajinasi, kemampuan verbal, dan kepercayaan diri siswa.
PENAMPIL LINTAS GENDER DALAM SASTRA LISAN MINANGKABAU, RONGGEANG PASAMAN
Eka Meigalia;
Yerri Satria Putra
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (535.374 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v31i1.331.51-64
Ronggeang[1] Pasaman merupakan salah satu sastra lisan dari etnis Minangkabau yang berkembang di wilayah Pasaman. Tradisi ini masih hidup dan diapresiasi oleh masyarakat pendukungnya hingga saat ini. Dalam pertunjukannya, ronggeang (penari) dalam tradisi Ronggeang Pasaman ini dilakukan oleh laki-laki yang berdandan sebagaimana seorang perempuan. Namun dialektika antara adat dan agama di Minangkabau secara tidak langsung juga berdampak pada penerimaan masyarakat terhadap kehadiran mereka dalam pertunjukan. Untuk itu, tulisan ini akan memaparkan permasalah yang dihadapi oleh penampil lintas gender dalam tradisi Ronggeang Pasaman berkaitan dengan dialektika antara adat dan agama di Minangkabau.. Dengan melalui proses penelitian yang bermetode etnografis dan kualitatif, data-data untuk tulisan ini diperoleh melalui proses pengamatan, wawancara, serta studi pustaka. Berdasarkan proses tersebut dapat dipahami bahwa kehadiran penampil lintas gender dalam tradisi Ronggeang Pasaman merupakan hasil negosiasi dan adaptasi terhadap perbenturan budaya yang ada, yaitu Jawa dengan Minang. Juga perbenturan antara adat dan syarak yang dianut masyarakat Minangkabau.[1] Penulisan kata ronggeang di sini disesuaikan dengan pelafalan masyarakat Pasaman terhadap tradisi ini yang bagi mereka sendiri berbeda dengan tradisi ronggeng di Jawa.
KETIDAKBERDAYAAN PEREMPUAN ATAS PERSOALAN KEHIDUPAN DALAM NOVEL GARIS PEREMPUAN KARYA SANIE B. KUNCORO
Ery Agus Kurnianto
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (465.096 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v28i2.128.157-170
Masalah ketidakberdayaan tokoh perempuan dalam novel Garis Perempuan karya Sanie B. Kuncoro menjadi persoalan yang dibahas dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap, mendeskripsikan, dan mengintepretasikan subalternasi yang menimpa tokoh Ranting dan Gending dalam novel Garis Perempuan karya Sanie B. Kuncoro. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah metode pustaka dengan teknik catat. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam menyajikan analisis data dengan teknik analisis kontens. Teori yang digunakan adalah partiarki Walby (1990) dengan pendekatan subalternasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh perempuan yang dimunculkan dalam novel Garis Perempuan ini merupakan bentuk perempuan yang selama ini tersubalternasi oleh oleh kaum penganut sistem patriarkat. Perempuan menempati posisi sebagai golongan subalternasi yang tidak diberi suara untuk menyampaikan pandangan dan hasratnya dalam dunia kuasa. Dari hasil pembahasaan tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan dapat diabaikan dalam hubungannya dengan persoalan publik, perkerjaannya berkaitan dengan hal-hal domestik, khususnya kehidupan rumah tangga.
MANUSIA DAN BUDAYA JAWA DALAM ROMAN BUMI MANUSIA: EKSISTENSIALISME PEMIKIRAN JEAN PAUL SARTRE
Puji Retno Hardiningtyas
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (737.993 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v27i1.174.83-98
Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer mengisahkan peristiwa perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonial Belanda yang terjadi sekitar tahun 1899, akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Permasalahan yang menarik untuk diteliti dari Bumi Manusia meliputi (1) realitas budaya Jawa dan feodalisme, (2) wujud eksistensi tokoh Jawa sebagai manifestasi keberadaan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) realitas budaya Jawa dan feodalisme, (2) wujud eksistensi tokoh Jawa sebagai manifestasi keberadaan manusia dalam Bumi Manusia. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan teknik catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan hermeneutika dengan teknik naratif informal, dan menerapkan teori eksistensialisme. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kondisi masyarakat Jawa semasa abad ke-19 masih menggenggam erat feodalisme dan budaya Jawa tumbuh berdampingan dengan budaya Eropa. Sementara itu, eksistensialisme secara mutlak memberikan kebebasan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menentukan keinginan dan tindakannya sendiri. Eksistensi tokoh Jawa tercermin sebagai manifetasi keberadaan seorang kelas atas, manusia pencipta dirinya sendiri, bebas bertindak dan berpikir, memilih dan bertangung jawab, kecemasan dan ketakutan, serta pemberontakan. Dengan demikian, karya sastra—dalam konteks Bumi Manusia dan eksistensialisme—tidak boleh lepas dari eksistensinya sebagai ekspresi kejiwaan yang paling subjektif dan emosional, bahkan bisa dilengkapi dengan psikologi dan filsafat.
ARUS KESADARAN DALAM AGAMA KETUJUH
Dessy Wahyuni
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (482.316 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v30i1.85.43-57
Agama Ketujuh: Sebuah Prosa merupakan sebuah prosa pendek karangan Romi Zarman. Dalam prosa pendek ini, pengarang ingin mengungkap budaya matrilineal yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau. Dalam menyajikan cerita, pengarang tidak menyampaikan informasi secara lugas, tetapi ia melakukannya dengan menghidupkan kembali para tokoh dalam roman legendaris, seperti Midun, Kacak, dan Tuanku Laras dalam Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati); Ramah, Musa, dan Mamak dalam Dijemput Mamaknya (Hamka); Samsul Bahri, Siti Nurbaya, dan ayahnya dalam Sitti Nurbaya (Marah Rusli); Poniem, Leman, serta keluarga matrilinealnya dalam Merantau ke Deli (Hamka); dan Hanafi dalam Salah Asuhan (Abdul Muis). Agama Ketujuh ini memperlihatkan kegelisahan Romi Zarman terhadap budaya matrilineal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Melalui kajian dengan teknik arus kesadaran, terlihat tokoh dan karakterisasinya yang disajikan pengarang. Dengan penelusuran karakterisasi tokoh yang menggunakan teknik kolase melalui pendekatan psikologi sastra, peran mamak dalam budaya matrilineal dapat terkuak. Kajian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka ini memperlihatkan bahwa pengarang menggunakan dua cara atau metode untuk menyajikan karakter (watak) para tokoh dalam karyanya. Metode pertama adalah metode langsung (telling) dan metode kedua adalah metode tidak langsung (showing). Simpulan dari kajian ini menunjukkan bahwa kedudukan adat dan budaya dalam masyarakat Minangkabau sangat kuat dan tidak bisa ditentang.
PERJUANGAN PEREMPUAN MENDOBRAK KETIDAKADILAN GENDER DALAM CERITA “PAN BRENGKAK”, “DIAH RATNA TAKESHI”, DAN TEMPURUNG
I Made Budiasa
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (538.101 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v28i1.16.49-60
Isu perlawanan gender terhadap hegemoni laki-laki, sistem patriarki, feodal, dan kawin paksasering mewarnai karya sastra, baik sastra tradisional maupun modern. Terjadinya perlawanankaum perempuan itu dalam karya sastra tidak terlepas dari kondisi masyarakat Bali yangmasih diwarnai arogansi elite, struktur status, dan kelas sosial. Penelitian ini bertujuanuntuk mengungkap bentuk perjuangan kaum perempuan dalam mendobrak ketidakadilangender yang dialaminya dan implikasi positif dari perjuangan itu. Sumber data adalah ceritarakyat “Pan Brengkak”, lakon wayang kulit “Diah Ratna Takeshi”, dan novel Tempurung.Ketiga cerita itu menggambarkan perjuangan kaum perempuan dalam mencari identitashidup dengan mendobrak hegemoni laki-laki, sistem patriarki, feodal, dan kawin paksa.Pengumpulan data menggunakan metode studi pustaka dengan teknik catat. Analisis datamenggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa bentukperlawanan yang dilakukan oleh kaum perempuan dalam memperjuangkan keadilan genderpada ketiga cerita itu adalah perlawanan terhadap dominasi laki-laki, penentangan terhadapsistem feodal, dan penolakan terhadap sistem perjodohan. Perjuangan itu berimplikasi positifdalam menumbuhkan jiwa perempuan pekerja keras, bertanggung jawab, dan pemberani.
IMPLIKATUR KAMPANYE POLITIK DALAM KAIN RENTANG DI RUANG PUBLIK
Suryo Handono
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (320.245 KB)
|
DOI: 10.29255/aksara.v29i2.52.253-266
Kampanye politik merupakan komunikasi yang terencana untuk membentuk suatu citra yang diharapkan oleh penutur. Tuturan dalam komunikasi itu terdapat maksud yang tersurat dan tersirat atau disebut implikatur. Penelitian ini mengkaji implikatur dan sumber implikatur kampanye politik dalam kain rentang di ruang publik. Penyediaan data dilakukan menggunakan metode simak dengan teknik catat dan rekam. Melalui analisis pragmatik dengan metode padan terungkap bahwa dalam kampanye politik terdapat implikatur konvensional dan konversasional. Implikatur konversasional yang timbul adalah meyakinkan, mengajak, meminta, menjanjikan dan memerintah. Implikatur tersebut bersumber pada penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan. Penerapan prinsip kerja sama meliputi pemenuhan dan pelanggaran maksim kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Kemudian, penerapan prinsip kesantunan meliputi pemenuhan maksim ketimbangrasaan serta pelanggaran maksim ketimbangrasaan, kemurahhatian, dan kerendahhatian.