cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2009)" : 8 Documents clear
THE EARTHENWARE FROM ALLANGKANANGNGE RI LATANETE EXCAVATED IN 1999 David Bulbeck; Budianto Hakim
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2133.154 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.211

Abstract

Situs Allangkanangnge ri Latanete, Wajo adalah pusat Kerajaan Bugis kuno sekitar abad ke 13-17 Masehi. Selain sebagai pusat kerajaan, situs ini juga menjadi pemukiman yang cukup padat dengan bukti temuan fragmen gerabah dan keramik vang cukup padat, baik yang ditemukan di permukaan situs maupun dalam penggalian arkeologi. Khusus temuan fragmen gerabah yang sudah dianalisis, menunjukkan adanya beberapa jenis (teknik pembuatan, dekorasi dan bahan) yang sebagian besar diyakini sebagai produksi lokal, namun sebagian di antaranya adalah gerabah inpor (mungkin dari Jawa atau Sumatera?). Salah satu jenis gerabah yang dianalisis adalah gerabah dari bahan tanah liat berwarna coklat susu (agak putih), halus dan tipis serta hiasan menyerupai anyaman dengan pola teratur pada permukaan luar gerabah (mungkin bekas tempelan kain?). Gerabah jenis ini diberi nama gerabah biskuit dan diperkirakan sebagai produksi lokal masyarakat Bugis kuno. Selain ditemukan di situs Allangkanangnge, gerabah jenis ini juga ditemukan dibeberapa situs di wilayah Kerajaan Luwu kuno.
KAITAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 1997 DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 Muhammad Nur
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2030.431 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.216

Abstract

Within Act number 23 Year 1997 regarding the living environment management, Act number 5 year 1992 have not considered, whereas these two Acts were closely related. It will easier to understand, then, that in the description of regulation under Act number 23 Year 1992, cultural heritage material issue have an insufficiency accommodation.Dalam UU nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, UU nomor 5 tahun 1992 belum mempertimbangkan, sedangkan kedua UU ini saling terkait erat. Maka akan lebih mudah untuk memahami bahwa dalam uraian peraturan berdasarkan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992, masalah materi warisan budaya memiliki akomodasi yang tidak mencukupi.
JEJAK-JEJAK ARKEOLOGIS DI KAKI GUNUNG BAMBAPUANG KABUPATEN ENREKANG SULAWESI SELATAN Nani Somba
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5357.99 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.212

Abstract

Sites located in Buntu Kotu Enrekang, is one of the suspected sites as settlement sites. It was seem from the variability of findings of such a monumental and artifaktual stone mortar and fragments of pottery. In addition, this location is very strategic in terms of defense because it was on a hill called Kotu. Period must start and end of the residential site can not be determined, but it can be expected to have existed since praislam. The causes of abandonment of the site not known for certain, however, can be attributed to several events such as natural disasters, wars, or the reduced quality of natural resources in the places of origin so that the site was left to look for a new settlement site.Situs yang terletak di Buntu Kotu Enrekang, adalah salah satu situs yang diduga sebagai situs pemukiman. Itu terlihat dari variabilitas temuan seperti lesung batu yang monumental dan artifaktual serta pecahan tembikar. Selain itu, lokasi ini sangat strategis dalam hal pertahanan karena berada di sebuah bukit yang disebut Kotu. Mengenaia kapan dimulain dan berakhirnya situs pemukiman ini tidak dapat ditentukan, tetapi dapat diperkirakan telah ada sejak praislam. Penyebab ditinggalkannya situs tidak diketahui secara pasti, bagaimanapun, dapat dikaitkan dengan beberapa peristiwa seperti bencana alam, perang, atau berkurangnya kualitas sumber daya alam di tempat asal sehingga memeutuskan untuk mencari pemukiman yang baru.
GAMBARAN UMUM SITUS GERABAH MANDING SULAWESI BARAT Citra Andari
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.569 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.217

Abstract

Earthenware vessel is one of archaeological artifacts made of clay which has been known since prehistoric, the era when human started to plant and staying in one place. Staying together in one village cause knowledge which has to be arrange increased. Technology to produce daily goods started to be increased by making things of clay. Before human knew making stuff made of clay, their needs of organic stuff was still used until now, even earthenware vessel could be made.Bejana tembikar adalah salah satu artefak arkeologis yang terbuat dari tanah liat yang telah dikenal sejak prasejarah, Era ketika manusia mulai menanam dan tinggal di satu tempat. Bermukim di satu desa dapat menyebabkan pengetahuan bertambah. Teknologi untuk menghasilkan barang sehari-hari mulai meningkat dengan membuat bahan dari tanah liat. Sebelum manusia tahu membuat bahan  yang terbuat dari tanah liat, kebutuhan mereka akan bahan organik masih digunakan sampai sekarang, bahkan tembikar pun dapat dibuat.
MANIK-MANIK DALAM KONTEKS PENGUBURAN DI SITUS GUA WOLATU, KOLAKA UTARA, SULAWESI TENGGARA Bernadeta AKW
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3967.727 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.213

Abstract

Research conducted at the site found some Wolatu Cave beads made of stone and glass with various colors, associated with a bronze bracelet, foreign ceramics and wood fragments alleg­edly used as a burial container. The findings also strengthen the interpretation used as stock tomb. Ethnographic study showed that functional beads grave as with stock, also has a primary function, namely as accessories to beautify the objects themselves and as a medium of exchange in trade trading activities.Penelitian yang dilakukan di situs Gua Wolato ditemukan beberapa manik-manik terbuat dari batu dan kaca dengan berbagai warna, terkait dengan gelang perunggu, keramik asing dan pecahan kayu yang sebelumnya digunakan sebagai wadah penguburan. Temuan ini juga memperkuat interpretasi yang digunakan sebagai makam. Studi etnografi menunjukkan bahwa manik-manik difungsikan sebagai bekal kubur, juga memiliki fungsi utama, yaitu sebagai aksesoris untuk mempercantik benda itu sendiri dan sebagai media pertukaran dalam aktivitas perdagangan.
PUSAT PERDABAN ABAD XV-XVIII KERAJAAN BUKI SELAYAR SULAWESI SELATAN nfn Muhaeminah; M. Irfan Mahmud
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6575.599 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.214

Abstract

The center of Kingdom of Buki was known as a teritory of a powerfull dinasty and reaches their golden age in XV to XVI century based on the foreign ceramics population found. In the next centuries, Buki was still became a powerful dinasty when the Islamic influence spread stronger in XVIII century. At the top of Islamic influence's glory, there was a control to the Silolo site's area that located in the east side of the Kingdom of Buki. But the site of Buki was a still a center for the elite of the kingdom. Buki, Selayar is quite interesting for a research to get a more accurate data. There is several finds like, Maros point (serration arrow point) that found in Batang Mata Sappo area, human skull from Batu Tumpa cave at Bonto Sikuyu, and many other finds. These kinds of finds commonly found in South Sulawesi but Selayar is placing an important position based on the quantity and the quality of its finds.Pusat Kerajaan Buki dikenal sebagai wilayah dinasti yang kuat dan mencapai zaman keemasan mereka di abad XV - XVI berdasarkan populasi keramik asing yang ditemukan. Pada abad-abad berikutnya, Buki masih menjadi kerajaan yang kuat ketika pengaruh Islam menyebar lebih luas di abad XVIII. Pada puncak kejayaan pengaruh Islam, ada kontrol terhadap area situs Silolo yang terletak di sisi timur Kerajaan Buki. Tapi situs Buki masih menjadi pusat elit kerajaan. Buki, Selayar cukup menarik untuk sebuah penelitian untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Ada beberapa temuan seperti, maros poin (mata panah bergerig) yang ditemukan di daerah Batang Mata Sappo, tengkorak manusia dari gua Batu Tumpa di Bonto Sikuyu, dan banyak temuan lainnya. Temuan semacam ini umumnya ditemukan di Sulawesi Selatan tetapi Selayar menempatkan posisi penting berdasarkan kuantitas dan kualitas temuannya.
INDIKASI PERMUKIMAN SITUS-SITUS BERCIRI AUSTRONESIA DI PANTAI TIMUR DAN SELATAN PULAU SELAYAR nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5033.896 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.210

Abstract

The arrival of Austronesian communities in South and Southeast Sulawesi did not occur at the same time. Allegedly the coast of South and Southeast Sulawesi mainland inhabited earlier than the small islands to the south. The strategy used is a survey primarily on sites along the east coast and southern Selayar Island. The entire site is the coast with a discovery of a corpse coffin was left of human bones are stored in a cave, bronze bracelets, and artifacts of stone tools and fragments of pottery. Utilization of caves and niches shows a multi-resi­dential space that functions as a dwelling (with indication of shellfish), industrial (with indication of stone tools and chips/waste rock), and the burial place (which proved the dis­covery of human bones and container tomb called duni placed in the cave).Kedatangan masyarakat Austronesia di Sulawesi Selatan dan Tenggara tidak terjadi pada saat yang bersamaan. Diduga pantai daratan Sulawesi Selatan dan Tenggara dihuni lebih awal dari pulau-pulau kecil di selatan. Strategi yang digunakan adalah survei terutama pada situs di sepanjang pantai timur dan Pulau Selayar selatan. Seluruh situs adalah pantai dengan penemuan peti kubur yang tersisa dari tulang manusia yang disimpan di gua, gelang perunggu, dan artefak alat-alat batu dan pecahan tembikar. Pemanfaatan gua dan ceruk menunjukkan ruang multi-residen yang berfungsi sebagai tempat tinggal (dengan indikasi kerang), industri (dengan indikasi alat-alat batu dan keripik / batuan sisa), dan tempat pemakaman (yang membuktikan adanya penemuan tulang manusia dan wadah makam yang disebut duni ditempatkan di gua).
PERAN SELAT MAKASSAR SEBAGAI JALUR MARITIM ANTARA KALIMANTAN TIMUR DAN SULAWESI SELATAN Gunadi Kasnowihardjo
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2376.833 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.215

Abstract

This paper examined the relationship between South Sulawesi in eastern Kalimantan through archaeological heritage. Integration of the existing archaeological remains of the East Kalimantan and is found in South Sulawesi West Sulawesi or, in fact has an interesting cultural similarity to be studied in an integrated manner. The emergence of the kingdom of Kutai in IV-V century AD in East Kalimantan, shows that the role of the Makassar Strait is very large in delivering the merchants and Brahmins (propagator of religion) who came from outside Indonesia and along the Mahakam River to the interior of Borneo. Similarly, the lines of rivers in South Sulawesi and West Sulawesi is very important since prehistoric times to show a connection between the two regions bridged by the Makassar strait.Tulisan ini membahas hubungan antara Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur melalui warisan arkeologi. Integrasi sisa-sisa arkeologi Kalimantan Timur yang ada dan ditemukan di Sulawesi Selatan atau Sulawesi Barat ternyata memiliki kesamaan budaya yang menarik untuk dipelajari secara terintegrasi. Munculnya kerajaan Kutai pada abad IV-V M di Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa peran Selat Makassar sangat besar dalam mengantarkan para pedagang dan Brahmana (penyebar agama) yang datang dari luar Indonesia dan menyusuri Sungai Mahakam ke pedalaman Kalimantan. Demikian pula, garis-garis sungai di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sangat penting sejak zaman prasejarah untuk menunjukkan hubungan antara dua wilayah yang dijembatani oleh selat Makassar.

Page 1 of 1 | Total Record : 8