cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18 No 2 (2020)" : 8 Documents clear
CASTING: A METHOD OF ARCHAEOLOGICAL DATA RECORDING IN SAVING THE NATIONAL CULTURAL HERITAGE HISTORY VALUES lenrawati lanrawati
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.402

Abstract

Casting sebutan lain dari penggandaan dalam dunia arkeologi. Casting diartikan sebagai upaya untuk merekam data yang ada pada suatu benda arkeologi secara akurat dalam bentuk tiga dimensi sehingga seluruh ukuran dan permukaan akan sama dengan benda aslinya. Pembuatan casting ini, dilakukan secara manual dengan melalui tiga tahapan. Tahapan pertama dilakukan pembuatan cetakan pola negatif, tahapan kedua dilakukan pembuatan cetakan positif, dan tahapan ketiga pendinginan serta pewarnaan. Berbicara mengenai casting, maka akan berfikir bagaimana teknik casting pada benda cagar budaya yang berukuran 0-7 cm dan berukuran kurang lebih 1 meter. Pembuatan casting benda-benda arkeologi bertujuan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tindakan penyelamatan, bahan pameran atau sebagai alat peraga pendidikan. Metode yang dilakukan di antaranya, pengumpulan data, pengelompokan data dan bereksperimen terhadap benda yang akan di casting. Pembuatan casting benda cagar budaya memiliki tahapan yang berbeda, tergantung tingkat kesulitan benda tersebut. Pembuatan casting termasuk upaya pendokumentasian dalam pekerjaan penyelamatan terhadap benda meskipun fisik bendanya sudah mulai rapuh atau rusak.   Casting, a method of recreating an archaeological object, is intended to accurately record the existing data on that object from three-dimensional perspective. It allows the exactly same display as that of the original object. Generally speaking, casting consists of three manual stages: negative mold preparation, positive mold making and cooling and colorong. The current study focuses on objects measuring 0-7 cm and less than 1 meter. Making archaeological objects casting aims for the benefit of science, a heritage rescue, exhibition material or as educational aids. The methods employed in this research are data collection, data classification and actual experimenting on casting. The study indicates that casting has a wide range of processes, depending on the level of difficulty. Making casting is also an effort to recording in a work of saving objects even though the object has begun to become fragile or damaged.
MAHENDRADATTA: HER ROLES BASED ON ARCHEOLOGICAL INSCRIPTIONS VIEWED FROM FEMINISM APPROACH Muhamad Alnoza
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.419

Abstract

Berkaitan dengan penelitian yang kerap dilakukan dalam kajian epigrafi, masa Hindu-Buddha menjadi masa yang seringkali dijadikan bahan kajian para ahli epigrafi. Salah satu masa dalam Hindu-Buddha yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah masa Dinasti Isana di Jawa Timur. Selama kekuasaan Dinasti Isana, raja-raja yang berkuasa banyak melakukan inisiasi hubungan diplomasi dengan kerajaan asing. Pembinaan hubungan dengan bangsa asing yang dilakukukan Dinasti Isana sebelum Airlangga berkuasa juga rupanya diikuti pula dengan pembinaan hubungan politik dengan kerajaan Nusantara, yaitu Kerajaan Bali yang dikuasai oleh Dinasti Warmadewa. Mahendradatt? sebagai perempuan berkuasa yang hidup dalam pusaran politik kerajaan Isana (Jawa) dan Bali, telah meninggalkan beberapa tinggalan berupa prasasti-prasasti baik di Jawa maupun di Bali. Prasasti yang ditinggalkan memunculkan suatu pertanyaan mengenai apa peranan dari seorang perempuan berkuasa seperti Mahendradatt? dalam menjalankan hubungan politik antara Jawa dan Bali berdasarkan data prasasti? Metode yang digunakan dalam  menjawab pertanyaan tersebut terdiri dari beberapa tahapan, antara lain tahap formulasi, pengumpulan data, analisis dan interpretasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa prasasti, diantaranya Prasasti Pucangan Sansekerta (Jawa), Buahan  A, Serai A II, Batur Abang A, Sading A dan Bebetin A2. Kesemuanya kemudian di analisis melalui deskripsi isi prasasti. Isi prasasti kemudian diinterpretasi dengan landasan teori arkeologi feminisme.   Inscription is a source of writing that is often used by archaeologist to reconstruct past cultures. The study of inscriptions is called epigraphy. The Hindu-Budhist period is one of the periods in which epigraphy is practiced. The current study is focused on the 10th and 11th centuries Isana Kingdom of East Java. In the 10th and 11th centuries, the kingdom had diplomatic relations with several other kingdoms, one of which was with Bali. Mahedradatta as a powerful woman who lived in the political vortex of the Isana Kingdom (Java) was a figure who helped foster diplomatic relations through marriage to King Udayana. The inscription issued by Mahedradatta begs the question of how powerful this woman was in the context of Javanese and Balinese ties. The method used is the archaeological observations, including data collection, analysis and interpretation. The data used in this study include Sanskrit Pucangan Inscription (Java), Bwahan A, Batur Pura Abang A, Sading A and Bebetin A2. The contents of the inscription were the interpreted based on feminism approach. The variables employed cover gender and ethnicity of Mahendratta.
KONTRIBUSI DATA BARU PULAU-PULAU KECIL PERAIRAN UTARA JAWA DALAM ARKEOLOGI PRASEJARAH INDONESIA Alifah Alifah
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.430

Abstract

Sejauh ini penelitian arkeologi prasejarah di pulau kecil banyak dilakukan di wilayah Wallacea. Penelitian tersebut menghasilkan banyak pengetahuan yang berkaitan dengan tema migrasi dan perkembangan budaya. Sementara penelitian sejenis di wilayah lain seperti pulau-pulau kecil di utara Jawa belum banyak dilakukan. Secara geokronologis pulau-pulau di perairan utara Jawa telah terpisah dengan Jawa setidaknya sejak awal Holosen dan secara budaya memiliki keragaman yang berbeda pula. Tulisan ini berupaya menyajikan hasil penelitian terbaru di Pulau Madura, Bawean dan Kangean serta berupaya untuk menempatkan data tersebut dalam konteks arkeologi prasejarah di Indonesia. Data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan tahun 2018 dan 2019 (data primer) dan studi pustaka (data sekunder) untuk memperoleh gambaran arkeologi prasejarah Indonesia di pulau tersebut. Temuan sisa manusia dan budayanya di Pulau Kangean secara kronologis dan teknologis dapat dimasukkan dalam konteks budaya preneolitik. Demikian juga temuan budaya lainya di Pulau Madura dan Bawean. Informasi ini membuka perpektif baru mengenai sebaran tinggalan bukti kehidupan masa prasejarah di perairan utara Jawa baik sebagai tempat transit maupun sebagai lokasi tujuan utama dalam proses migrasi   So far prehistoric archeological research on small islands has exclusively been carried out in the Wallacea region. The research yielded a lot of knowledge related migration and cultural development. While similar research in other areas such as small islands in northern Java has not been explored much yet. This is because of the view that the condition of the islands is considered to be the same as that of Java. The islands were geochronologically separated from Java at least since the beginning of the Holocene and culturally different. This paper attempts to present the results of the latest research on Kangean Island as one of the small islands in northern Java and seeks to position the data in the context of prehistoric archaeology in Indonesia. The data used in this paper come from the results of a recent research conducted in 2018 and 2019 (primary data) and literature studies (secondary data) to obtain an archaeological picture of Indonesian prehistory. The chronological and technological findings of human remains and culture at the Kangean Arca Cave site can be included in the pre-Neolithic cultural context, as well as the remains at Madura and Bawean Island. The new information adds to the picture of prehistoric life in Indonesia.
Biografi Lanskap Pusat Kerajaan Bone Muhammad Irfan Mahmud; Nur Ihsan Djindar; Fardi Ali Syahdar; Nasihin; Budianto Hakim; Syahruddin Mansyur; Andi Muhammad Saiful; Ade Sahroni
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.437

Abstract

Bone merupakan salah satu situs pusat kerajaan Bugis yang menarik diungkap biografi lanskapnya, dari unit-unit kampung kecil tradisional (abad ke-14 M) hingga mencapai bentuk kota kolonial pada awal abad ke-20. Penelitian ini secara spasial berfokus pada situs dalam wilayah keruangan Kota Watampone dengan menggunakan metode pendekatan biografi lanskap. Metode penelitian melalui tahapan: (1) rekonstruksi sejarah dan arkeologi; (2) dokumentasi ingatan kolektif; dan (3) narasi biografi lanskap. Hasil penelitian menemukan 9 lapisan biografis secara vertikal. Dari jumlah lapisan biografis tersebut, memori kolektif warga kota hanya terkait Bola Soba sebagai ikon arsitektur serta 4 lapisan biografi peradaban terkait legacy tokoh, yaitu Kawerang (situs Manurunge), Macege, serta Tanah Bangkala dan Taman Arung Palakka (periode lanskap tanpa istana). Perubahan lanskap sangat dipengaruhi perubahan lokasi istana, mengikuti ruang hunian penguasa terpilih. Lanskap tidak saja menunjukkan biografi periodic ruang, tetapi juga identitas dan ‘legacy’ tokoh pada setiap lapisan peradaban.
JARINGAN BUDAYA KERAJAAN SOPPENG PERIODE ISLAM BERDASARKAN DATA KUBUR JERA LOMPOE Muhammad Nur; Yusriana Yusriana; Akin Duli; Khadijah Tahir Muda; Rosmawati Rosmawati; Andi M. Akhmar; Syahruddin Mansyur; Chalid A.S.; Asmunandar Asmunandar
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.493

Abstract

Jaringan budaya kerajaan Soppeng pra-Islam telah dibahas oleh beberapa peneliti sehingga kita memiliki gambaran yang luas tentang periode tersebut. Pada periode Islam, pemahaman kita tentang jaringan budaya kerajaan Soppeng masih terbatas, terutama dalam perspektif arkeologi. Artikel ini akan fokus pada diskusi tentang jaringan budaya kerajaan Soppeng berdasarkan data kubur Jera Lompoe, dengan titik berat analisis pada nisan kubur. Data sekunder berupa hasil kajian sejarah akan mendukung analisis arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada lima informasi tentang jaringan budaya kerajaan Soppeng abad ke-17 hingga abad ke-19, yaitu: (a) nisan Aceh tipe K, (b) nisan tipe hulu keris dan mahkota, (c) nisan tipe pedang, (d) makam duta kerajaan Sidenreng dan Pajung Luwu, dan (e) makam We Adang, istri salah seorang Raja Bone. Luasnya jaringan budaya kerajaan Soppeng pada abad ke-17 hingga ke-19 menjadi petunjuk tentang peran pentingnya dalam historiografi Sulawesi Selatan dan keikutsertaannya dalam trend penggunaan nisan kubur se-Nusantara.
INTI KONFEDERASI WAJO: SURVEY ARKEOLOGI DI TOSORA, CINNOTABI AND LAMASEWANUA Moh. Ali Fadillah; M. Irfan Mahmud; Budianto Hakim
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.496

Abstract

“The beginning of Wajo's establishment began with the migration of people from various places to open rice fields and build settlements to the east of Lake Tempe. The settlements were then transformed into political units which formed a 'state' under the rule of a nobleman based in Cinnotabi. Several political agreements underlie the formation of a confederation of three domains. Regime change resulted in the transfer of the center of government. Lontara Wajo and the oral tradition mention some toponyms but do not explain in detail where the core of the Wajo confederation lies. This research is aimed at determining the location and character of the toponym by conducting field surveys in places that are suspected of being associated with the existence of the pre-Islamic capital of Wajo. Using an archaeological approach and supported by information from textual sources. Surveys in the villages of Tosora, Cinnongtabi and Tajo in Majauleng District have identified the existence of the old capitals around Wajo-wajo, Boli, Leppadeppa, Attunuang, and other sites based on archeological traces such as menhirs, burned bone fragments, pottery and ceramics shards and other artifacts. Identification of imported ceramic fragments from China, Thailand, Vietnam, these sites might be dated between the 14th and 17th centuries. Taking into account the concentration of artefacts and relations between sites, it can be concluded that Tosora was the capital from the end of the 16th century and until the arrival of Islam at the beginning of the 17th century, while the capital of the early period of Wajo hypothetically was dated between the beginning of the 15th century and the end of the 16th century was around the confluence of Wajo-wajoe river which flows into Latamperu and Penrange lake which then empties into Cellue river before ending at the Cenrana mainstream”
JPG Editorial Team
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UCAPAN TERIMA KASIH PENINJAU Editorial Team
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 8