cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL KONVERSI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Konversi Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta adalah jurnal nasional berbasis penelitian ilmiah, secara rutin diterbitkan oleh Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
PENGARUH TEMPERATUR PENGERINGAN LIMBAH DAGING BUAH PALA SEBAGAI BAHAN PENGAWET TERHADAP PERUBAHAN MUTU IKAN Apud Mahpudin; Alvika Meta Sari
JURNAL KONVERSI Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.3.2.%p

Abstract

Pengawetan ikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya pendinginan, pengasapan, pengeringan, penambahan pengawet dan pemvakuman. Penelitian ini memanfaatkan limbah buah pala untuk mengawetkan ikan segar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh temperatur pengeringan dari limbah daging buah pala sebagai bahan pengawet terhadap mutu ikan dengantemperatur pengeringan daging buah pala yang telah ditentukan. Proses pengawetan dilakukan dengan cara melapisi ikan segar yang sudah dibersihkan menggunakan campuran daging buah pala 6% dan garam 8%. Daging buah pala yang digunakan dalam proses ini dikeringkan terlebih dahulu melalui pemanasan menggunakan oven pada temperatur 60oC, 65oC, 70oC, 75oC dan 80oC.Mutu ikan diuji secara organoleptik, Angka Lempeng Total, Kadar Total Volatile Base (TVB), Kadar Trymethyl Amine (TMA) dan kadar air pada 2 tahap pengamatan yaitu sebelum perlakuan (H-0) dan hari ketiga setelah perlakuan (H+3). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa temperatur terbaik pengeringan daging buah pala berdasarkan hasil analisa laboratorium adalah pada 70oC.Hubungan antara temperatur pengeringan (x) dengan mutu ikan (y) dapat dilihat dari persamaan-persamaan y = -0.0066x2 + 0.95x - 28.071, R² = 0.9134 (Organoleptik) ; y = 1971.4x2 - 281800x + 1E+07, R² = 0.9426 (Angka Lempeng Total) ;y = 0.099x2 - 14.212x + 544.69, R² = 0.688 (Total Volatile Base); y = -0.0031x2 + 0.2708x + 18.401, R² = 0.9242 (Trymethyl Amine); y = 0.0118x2 - 1.4714x + 109.77, R² = 0.8702 (Kadar Air). Kata kunci : Ikan, Pengawet, Pala (Myrictica Fragranss), myristicin,Antimikroba.
STUDI PRODUKSI HIDROGEN MENGGUNAKAN FOTOKATALISIS Pt (1%)/TITANIA NANOTUBE DENGAN SACRIFICIAL AGENT METANOL DAN GLISEROL Indar Kustiningsih; Haryadi Wibowo; Slamet Slamet
JURNAL KONVERSI Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.4.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Produksi Hidrogen dengan menggunakan Fotokatalis Pt (1%)/Titania NanoTube dengan menggunakan Sacrificial agent Metanol dan Gliserol pada temperature reaksi 30 oC sampai dengan 70 oC telah dilakukan dalam suatu system reactor tertentu. Metanol dan Gliserol efektif digunakan pada produksi Hidrogen. Hasil produksi yang diraih oleh Metanol dengan Pt(1%)/TiNT adalah sebesar 2306 µmol/gcat, sementara itu produksi Hidrogen dengan menggunakan Gliserol sebesar 2120 µmol/gcat. Energi aktiviasi estimasi untuk Pt(1%)/TiNT dengan Metanol sebesar 10,869 kJ/mol, sementara dengan menggunakan Gliserol sebesar 11,901 kJ/mol. Penggunaan dopan metal Pt memberikan hasil produksi Hidrogen sebesar dua kali lipat jika dibandingkan dengan tanpa dopan, dengan sacrificial agent yang sama. Kata Kunci : fotokatalis, gliserol, hidrogen, metanol, Pt (1%)/Titania
KOMPOSISI OPTIMAL SERBUK KAYU GERJAJI DAN OLI BEKAS PADA PEMBUATAN BRIKET KAYU Suratmin Utomo
JURNAL KONVERSI Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.2.2.%p

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan perbandingan komposisi bahan pembuat briket dan temperatur pengeringan pada pembuatan briket dari bahan serbuk kayu gergaji dan oli bekas. Bahan penelitian adalah limbah serbuk kayu gergaji dari kayu jati dan limbah oli atau minyak pelumas bekas bukan dari jenis dan merek tertentu. Proses pembuatan briket dengan cara pengarangan serbuk kayu gergaji dengan variabel proses komposisi bahan baku dan temperatur  pengeringan. Parameter uji briket meliputi nilai kalori, kadar abu dan kadar air. Hasil uji briket dari parameter-parameter tersebut dengan variabel komposisi bahan baku, didapat komposisi optimum: serbuk arang  60%, oli bekas 30% dan tanah liat 10%  dengan spesifikasi nilai kalor  11.064,26 Btu lb-1, kadar  abu 10,45% dan kadar air 6,18%. Sedangkan untuk variabel temperatur pengeringan diperoleh temperatur yang otimum pada 70 OC dengan nilai kalori 9.783,09 Btu lb-1, kadar abu 10,40% dan kadar air 6,45%. Hubungan antara variabel komposisi oli bekas (x) terhadap nilai kalori (y) dengan komposisi tanah liat tetap (10%) dan temperatur pengeringan 80oC dapat dijelaskan dengan persamaan:  y = 86,57x + 8438, sedangkan hubungan antara variabel temperatur (x) terhadap nilai kalor (y) dengan waktu pengeringan 1 jam dapat dijelaskan dengan pesamaan: y = 6,176 x + 9170.   
PENGARUH VARIASI PH TERHADAP KADAR FLAVONOID PADA EKSTRAKSI PROPOLIS DAN KARAKTERISTIKNYA SEBAGAI ANTIMIKROBA Suci Nurfazri Rismawati; Ismiyati Ismiyati
JURNAL KONVERSI Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.6.2.89-94

Abstract

ABSTRAKPropolis telah dikenal dikalangan masyarakat sebagai obat,  dan makanan kesehatan. Propolis merupakan  zat  resin  yang  dikumpulkan  oleh  lebah  madu  (stingless  bee  dan  honey  bee)  dari berbagai tanaman yang memiliki  khasiat seperti antimikroba, antioksidan, induksi  apoptosis  dan anti kanker. Propolis adalah substansi resin keras, maka diperlukan adanya proses ekstraksi untuk mendapatkan propolis yang siap  dikonsumsi. Tujuan  penelitian  ini adalah  untuk menganalisa pengaruh variasi pH terhadap proses ekstraksi propolis dengan pelarut air dan karakterisasinya sebagai  zat antimikroba. Ekstraksi  dilakukan dengan teknik  maserasi, dengan perbandingan bubuk propolis dan pelarut adalah 2:8, dengan variasi pH 2,4,6,8 dan 10. Flavonoid diukur dengan metode kolorimetri kompleksasi aluminium – flavonoid. Aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus diukur dengan metode difusi disk dan pembentukan zona hambatan. Dari deret standar didapatkan hasil regresi sebesar 0,9995 dan kandungan flavonoid tertinggi didapatkan dengan menggunakan pelarut air pH 8 yaitu sebesar 62,6098 ppm. Aktifitas antibakteri dari propolis menunjukan hasil positif membentuk zona hambat pada pelarut air pH 8 yaitu sekitar 2,0 mm. Didapatkan persamaan persamaan garis linearnya yaitu y = 5,6029x - 4,2001 dengan nilai dengan R2 adalah 0,8289. Kadar flavonoid optimum ditunjukkan  pada ekstraksi pada pH 8 Kata kunci :aktivitas antimikroba, flavonoid, pH, propolis  ABSTRACTPropolis has been recognized among people as a medicine, and health food. Propolis is a resin substance collected by honey bee from various plants that have properties such as antimicrobials, antioxidants, apoptosis and anti-cancer. Propolis is a hard resin substance, it needs an extraction process to get propolis ready for consumption. The purpose of this study was to analyze the influence of pH variation on the extraction process of propolis with water solvent and its characterization as an antimicrobial agent. The extraction was done by maceration technique, with the ratio of propolis powder and solvent was 2: 8, with variation of pH 2,4,6,8 and 10. Flavonoids were measured by colorimetric complexation method of aluminum - flavonoids. Antimicrobial activity against Staphylococcus aureus was measured by the disk diffusion method and the formation of the inhibitory zone. From the standard series obtained regression of 0.9995 and the highest flavonoid content obtained by using water solvent pH 8 which is equal to 62.6098 ppm. Antibacterial activity of propolis showed positive result form resistor zone on water solvent pH 8 which is about 2.0 mm. The linear equation equation equation is y = 5,6029x - 4,2001 with with R2 is 0,8289. The optimum flavonoid content is indicated on the extraction at pH 8  Keywords: antimicrobial activity, flavonoids, pH, propolis
PENGARUH LAMA WAKTU PENGADUKAN DENGAN VARIASI PENAMBAHAN ASAM ASETAT DALAM PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DARI BUAH KELAPA Zeffa Aprilasani; Adiwarna Adiwarna
JURNAL KONVERSI Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.3.1.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan katalis asam asetat dan waktu pengadukan terhadap rendemen dan beberapa sifat fisikokimia Virgin Coconut Oil (VCO). Pembuatan VCO dengan katalis asam asetat dilakukan dalam erlenmeyer 250 ml.Sampel yang digunakan yaitu VCO yang dibuat dengan penambahan asam asetat konsentrasi 1%, 2%, 3% dan 4% dan waktu pengadukan 10 menit, 15 menit, 20 menit, dan 25 menit. Masing-masing sampel dianalisis kualitasnya yang meliputi kadar air, angka asam lemak bebas, angka peroksida, dan rendemen VCO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen VCO yang tertinggi diperoleh melalui penambahan asam asetat sebesar 2% dan lama pengadukan selama 10 menit, yaitu sebesar 18.03% dan volume VCO sebesar 119 ml. Hal ini dikarenakan pada penambahan asam asetat 2% menciptakan kondisi isoelektrik, dimana terbentuk ion zwitter yang akan mendenaturasi protein pada pH optimum 4,5. Kata kunci: Waktu, Asam Asetat, Virgin Coconut Oil, isoelektrik.
PENDAYAGUNAAN KITOSAN DARI KULIT UDANG SEBAGAI ADSORBEN GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR Dina Mariana; Sri Rachmawati; Irfan Purnawan
JURNAL KONVERSI Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.1.2.%p

Abstract

Kegiatan industri, transportasi dan pembusukan sampah merupakan sumber dari polusi udara. Polusi udara memberikan kontribusi yang besar bagi bertambahnya tingkat kematian yang terjadi di seluruh dunia. Kitosan telah banyak digunakan sebagai adsorben zat dan senyawa berbahaya seperti logam berat, zat warna remazol yellow, logam nikel dari limbah katalis proses pengolahan minyak bumi, ion Cadmium, timbal, tembaga. Kitin dapat diisolasi dan ditransformasi menjadi kitosan melalui proses deasetilasi. Kitin merupakan polisakarida utama yang terdapat pada kulit udang, cangkang kepiting, fungi dan kerangka luar serangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kitosan untuk menjerap gas buang kendaraan bermotor. Metode Penelitian meliputi: pembuatan kitosan (berupa serbuk dan membran), uji emisi gas buang kendaraan bermotor, pembuatan rekayasa knalpot sebagai media uji dan terakhir adalah uji emisi gas buang kendaraan bermotor menggunakan kitosan dengan variasi massa (serbuk) dan variasi jumlah lembaran (membran). Pada pengujian pertama tahap ke-1 untuk serbuk kitosan terjadi penurunan Hidrokarbon 35,82%; Karbon monoksida 20%; Karbon dioksida 38,27%. Untuk membran kitosan kenaikan Hidrokarbon 8.96%; karbon monoksida 20%; karbon dioksida 18,52%, oksigen 0.048%. Saat pengujian pertama tahap ke-2 untuk serbuk kitosan terjadi penurunan Hidrokarbon 15,71%; Karbon monoksida 25,92%; kenaikan oksigen2,56%; CO2 75%. Namun seiring bertambahnya waktu kontak, justru emisi yang dihasilkan jauh lebih tinggi. Kata kunci: kitosan, gas buang kendaraan bermotor, adsorpsi, uji emisi
PENGARUH KONSENTRASI NAOH TERHADAP RENDEMEN β-NAFTOL PADA PROSES PEMBUATAN -NAFTOL Irfan Purnawan; Sugono Sugono
JURNAL KONVERSI Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.5.1.31-38

Abstract

Warna memiliki peran penting dalam memberikan daya tarik terhadap suatu produk, sehingga penggunaan zat pewarna baik yang alami maupun sintesis menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan. β-naphtol merupakan salah satu zat pewarna sintesis yang biasa digunakan sebagai zat pewarna pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh konsentrasi Natrium Hidroksida terhadap rendemen β-naphtol. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sulfonasi. Naftalen direaksikan dengan H2SO4 dan dipanaskan hingga suhu 170oC, lalu ditambahkan soda abu dengan mempertahankan suhunya dan didiamkan hingga tercapai suhu ruangan. Kemudian ditambahkan larutan lime dan disaring. Filtrat merupakan kristal sodium naftalena sulfat yang selanjutnya ditambahkan larutan NaOH, dipanaskan hingga suhu 300oC dan didinginkan hingga suhu ruangan. Selanjutnya diencerkan dengan air panas dan diteteskan HCl pekat berlebih, maka akan terbentuk endapan kristal β-naphtol yang dapat ditimbang beratnya. Hasil penelitian didapat konsentrasi NaOH terbaik yaitu 1,25 mol dengan persamaan y = 9,9737X + 81,905 dan R2 = 0,8519. Kesimpulan yang didapat adalah semakin tinggi konsentrasi NaOH, memberikan rendemen β-naphtol yang semakin tinggi juga hingga konsentrasi sebesar 1,25 mol. Namun setelah konsentrasi NaOH dinaikan ke 1,5 mol, rendemen mengalami penurunan. Kata kunci: naphtol, rendemen, pewarna alami, sintesis  
PENGARUH SUHU APLIKASI TERHADAP VISKOSITAS LEM ROKOK DARI TEPUNG KENTANG Diana Apriyanti; Nurul Hidayati Fithriyah
JURNAL KONVERSI Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.2.1.%p

Abstract

. Sebuah perekat atau lem, adalah campuran cairan dalam keadaan semi-cair atau yang melekat atau ikatan item bersama. Perekat dapat berasal dari sumber alam atau sintetis. Kini tingkat persaingan yang tinggi menuntut perusahaan untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, sehingga perusahaan perlu memberikan perhatian serius terhadap kualitas produk yang akan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian agar kualitas produk semakin baik.Dalam penelitian ini dipelajari “ Pengaruh Suhu Aplikasi Terhadap - Viskositas Lem Rokok Dari Tepung Kentang “. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Quality Control PT. LF Asia, Jl. Raya Bogor km 28 Jakarta Timur. Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah tepung kentang, actiside, antifoam, dan air. Bahan-bahan tersebut akan dicampur, untuk proses pembuatan lem rokok. Setelah lem tersebut jadi, maka lem akan dicek viskositasnya dengan menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Viskometer yang digunakan yaitu Viskometer Brookfield LVT 3/30. Pada penelitian ini digunakan suhu aplikasi 15°, 20°, 25°, 30° dan 35 °C untuk pengecekan viskositas lem dan analisa organoleptis lem rokok tersebut.Pada penelitian ini, digunakan lem yang berbahan dasar tepung kentang sebagai bahan untuk membuat lem kertas rokok, karena tepung kentang memiliki daya rekat yang cukup kuat, selain itu tepung kentang cukup aman digunakan sebagai lem rokok karena berasal dari bahan nabati yang memiliki warna kekuningan dan tidak akan merubah warna kertas rokok saat digunakan sebagai lem kertas. Kata Kunci : Viskositas, lem rokok, tepung kentang
PENGARUH KONSENTRASI KHITOSAN DAN WAKTU FILTRASI MEMBRAN KHITOSAN TERHADAP PENURUNAN KADAR FOSFAT DALAM LIMBAH DETERJEN Syahrul Ramadhanur; Alvika Meta Sari
JURNAL KONVERSI Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.4.1.%p

Abstract

Penanggulangan terhadap pencemaran air limbah yang mengandung senyawa fosfat,  terutama yang berasal dari air limbah deterjen dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi membran. Membran dapat dibuat dari bahan polimer alam yaitu senyawa khitosan yang diperoleh dari khitin yang terdapat di dalam kulit udang. Khitin dapat diubah menjadi khitosan melalui proses deasetilasi menggunakan NaOH 50%. Kualitas khitosan yang diperoleh pada penelitian ini ditentukan dengan FTIR.  Khitosan dilarutkan dalam asam asetat 1%, selanjutnya digunakan untuk membuat membran jenis membrane Ultrafiltrasi dengan variasi konsentrasi khitosan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% (b/v). Membran tersebut digunakan untuk menurunkan kadar fosfat larutan standar KH2PO4 10 ppm dengan variasi waktu kontak 30, 60, 90 dan 120 menit. Membran khitosan 3% dan waktu kontak 60 menit merupakan membran terbaik karena mampu menurunkan kadar fosfat dalam larutan standar KH2PO4 10 ppm secara optimal. Besarnya derajat deasetilasi (DD) 84.18%. Kondisi ini diaplikasikan untuk menurunkan kadar fosfat total yang terdapat dalam air limbah deterjen. Hasil pengamatan menunjukkan dapat menurunkan kadar fosfat total dalam air limbah deterjen sampai 97.40% setelah dilakukan filtrasi empat kali dan perubahan pH larutan dari 9 menjadi 8. Kata kunci : Derajat deasetilasi, Membran Khitosan, Fosfat. 
PEMANFAATAN TANIN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI TERHADAP LAJU KOROSI BESI DALAM LARUTAN NaCl 3% (w/v) Tian Wahyuni; Syamsudin Ab
JURNAL KONVERSI Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.3.1.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inhibitor yang berasal dari ekstrak tanin daun jambu biji terhadap laju korosi besi dalam media NaCl 3%(w/v) dan mendapatkan konsentrasi optimum melalui nilai efisisensi inhibisi. Ekstrak tanin diperoleh dari daun jambu biji dengan cara mengekstrak 20 gram daun jambu biji dalam 1000 mL air dengan waktu 20 menit, selanjutnya didinginkan dan disaring, serta dikeringkan pada suhu 105 ºCmenggunakan hot plate. Tanin ekstrak daun jambu biji yang terbentuk diidentifikasi dengan menambahkan larutan gelatin 10%, dan hasilnya terbentuk endapan berwarna putih yang berarti tanin positif. Larutan FeCl3 10% bertetes-tetes ditambahkan pada filtrat hasil ekstraksi, jika warna yang terbentuk adalah hitam kehijauan, berarti tanin positif. Metode permanganatometri digunakan untuk menentukan kadar tanin. Variasi penambahan ekstrak tanin daun jambu bijike dalam natrium klorida adalah dengan konsentrasi 0 ppm, 65 ppm, 130 ppm, 195 ppm, 260 ppm, dan 325 ppm. Laju korosi dihitung dariberkurangnyamassa besi/waktu atau metode gravimetri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa inhibitor ekstrak daun jambu biji  mampumengurangi laju korosi besi dalam media NaCl 3%. Konsentrasi inhibitor optimal untuk mencegah korosi adalah 130 ppmdengan laju korosi 0.045 mg/cm2hari dengan efisiensi inhibisi sebesar 38,36%.  Kata kunci: daun jambu biji, Tanin, korosi besi, inhibitor

Page 4 of 14 | Total Record : 137