cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
SINTASAN DAN PERKEMBANGAN COCCON LINTAH LAUT (Zeylanicobdella arugamensis) PADA SUHU YANG BERBEDA Mahardika, Ketut; Mastuti, Indah; Zafran, Mr.
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.15

Abstract

Lintah laut (Zeylanicobdella arugamensis) merupakan ektoparasit yang sering menginfeksi ikan kerapu di keramba jaring apung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu inkubasi terhadap sintasan lintah laut dan perkembangan coccon (telur). Lintah laut dikoleksi dari ikan kerapu hibrida cantang (panjang total 5-7 cm) dan menempatkannya pada cawan petri. Sebanyak 108-232 ekor lintah laut hidup ditempatkan dalam setiap satu cawan petri yang telah diisi air laut dengan salinitas 32 ppt (total 16 cawan petri). Masing-masing 4 cawan petri di inkubasi dalam inkubator suhu 37, 30 dan 25 °C, dan suhu ruang 20-23 °C. Lintah laut dan coccon yang dihasilkan diinkubasi selama 18 hari, Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lintah laut dapat bertahan hidup selama: 3 hari pada suhu 36-37 °C, 10 hari pada suhu 29-30 °C, 13 hari pada suhu 20-23 °C, dan 15 hari pada suhu 25-26 °C. Akan tetapi, jumlah lintah laut yang bertahan hidup menurun seiring pertambahan waktu inkubasi. Rata-rata jumlah coccon yang berkembang pada suhu inkubasi 25-26 °C lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan suhu inkubasi lainnya. Coccon yang menetas menjadi larva lintah laut menunjukkan jumlah tertinggi (38,71±7,90% b) pada suhu inkubasi 25-26 °C dan berbeda nyata dibandingkan dengan jumlah coccon yang menetas pada suhu inkubasi 29-30 °C (3,86±2,95% a).  Sedangkan coccon pada suhu 36-37 °C dan 20-23 °C tidak ada yang menetas (0 a). Hasil tersebut menunjukkan bahwa lintah laut dan coccon mampu bertahan hidup lebih lama dan menetas lebih banyak pada suhu 25-26 °C.
PEMBERIAN EKSTRAK JERUK LEMON (Citrus limon) PADA IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) DALAM PENCEGAHAN INFEKSI VNN Mahardika, Ketut; Mastuti, Indah; Satriyani, Monica Eka; Zafran, Mr.
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 2 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.02.1

Abstract

Jeruk lemon (Citrus limon) merupakan buah yang kaya akan vitamin C dan serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak buah jeruk lemon pada juvenil kakap putih (Lates calcarifer) untuk mencegah infeksi VNN (viral nervous necrosis).  Masing-masing 50 ekor kakap putih sehat ukuran panjang 10,44±1,44 cm dan berat 16,86±4,91 g ditempatkan dalam 4 bak fiber volume 500 Liter. Setiap ikan diberi pakan pelet komersial yang mengandung: 100 mL air seduhan dari 100 g daging dan kulit jeruk lemon/kg pakan, 100 g ekstrak daging jeruk lemon/kg pakan, 100 g ekstrak daging dan kulit jeruk lemon/1 kg pakan, dan 100 mL air tawar steril/kg pakan sebagai kontrol. Pakan diberikan dua kali sehari secara ad libitum selama 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berbeda nyata (p> 0,05) dari keempat perlakuan tersebut. Jumlah leukosit dan kadar glukosa darah dari ikan yang diberi pakan dengan air seduhan jeruk lemon lebih tinggi (18,967 sel/mm3 dan 97,0 mg/dL) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Akan tetapi, persentase hematokrit dan hemoglobin dari ikan yang diberi pakan dengan daging lemon maupun daging dan kulit lemon lebih tinggi (37,67-39,33% dan 8,18-8,27 g/dL) dibandingkan dua perlakuan lainnya (24,33-25,33% dan 7,0-7,23 g/dL). Uji tantang dengan inokulum VNN menunjukkan ikan yang diberi pakan dengan air seduhan jeruk lemon lebih baik dalam menekan mortalitas ikan (sintasan 30%) dibandingkan perlakuan lainnya (sintasan 15-20%).
STUDI BUKAAN MULUT LARVA KERAPU SUNU PLECTROPOMUS LEOPARDUS DAN KESESUAIAN UKURAN PAKAN ALAMI Sudewi, Miss; Asih, Yasmina Nirmala; Nasuka, Afifah
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.13

Abstract

Data mengenai bukaan mulut larva kerapu sunu Plectropomus leopardus merupakan hal penting dalam memilih pakan alami yang sesuai selama pemeliharaan larva. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui ukuran bukaan mulut larva dari D-3 hingga D-30, dan mengevaluasi kesesuaian ukuran pakan alami untuk larva. Larva kerapu sunu dipelihara selama 30 hari dan diberi pakan trochophore sejak hari ke-dua (D-2), rotifer pada D-3, nauplii kopepoda mulai hari ke-4, dan nauplii Artemia sejak D-20. Sampling dilakukan terhadap minimal 30 individu untuk dilakukan pengambilan gambar dan pengukuran baik bukaan mulut larva maupun pakan alami.  Bukaan mulut larva meningkat secara lambat mulai dari D-3 (113,33±29,85 µm) ke D-7 (144,65±23,99 µm), tetapi meningkat secara signifikan ke 263,67±44,57 µm pada D-10, dan berturut-turut pada D-20 dan D-30 yaitu 470,94±123,86 µm dan 719,73±103,39 µm. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa trochophore sesuai untuk larva karena ukurannya lebih rendah dari bukaan mulut larva. Rotifer yang disaring memiliki panjang 121,94±17,21 µm dan lebar 93,65±13,32 µm. Penting untuk diperhatikan bahwa hanya 34,14% (14/41) dari populasi rotifer memiliki panjang dibawah bukaan mulut larva D-3. Rata-rata panjang dan lebar nauplii kopepoda yaitu 354,40 ± 44,83 µm dan 237,77 ± 33,42 µm mengindikasikan bahwa ukuran ini jauh lebih tinggi dari bukaan mulut larva D-4. Nauplii Artemia memiliki rata-rata panjang 541,23±88,56 µm dan lebar 408,62±68,25 µm, sebagai konsekuensinya, larva D-20 tidak dapat memangsa dari sisi samping, tetapi dapat memangsa nauplii Artemia dari arah depan. Kami menyarankan bahwa prinsip kesesuaian ukuran pakan alami sebaiknya diterapkan dalam pemeliharaan larva kerapu sunu P. leopardus untuk meningkatkan pemangsaan pakan alami oleh larva.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI YANG DIISOLASI DARI LARVA IKAN KERAPU HIBRIDA CANTIK YANG TERSERANG PENYAKIT EKOR BUNTUNG Zafran, Mr.; Ismi, Suko; Mastuti, Indah; Mahardika, Ketut
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 2 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.02.2

Abstract

Budidaya ikan kerapu sudah berkembang pesat di Indonesia. Beberapa tahun belakangan mulai berkembang jenis kerapu hibrida, antara lain kerapu hibrida cantik. Salah satu kendala dalam pembenihan ikan kerapu hibrida cantik adalah terjadinya serangan penyakit yang menyebabkan sirip ekor ikan jadi buntung. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri dari ekor larva ikan kerapu hibrida cantik dan mengetahui karakteristiknya. Dari hasil isolasi didapatkan empat  isolat bakteri murni dimana dua isolat tumbuh baik pada media cytophaga agar  membentuk koloni berwarna keputih-putihan dan dua isolat lainnya tumbuh baik pada media TCBS agar membentuk koloni berwarna hijau. Isolat bakteri 1 dan 2 sensitif terhadap antibiotik chloramphenicol dan oxytetracyclin tetapi resisten terhadap antibiotik  ampicillin, novobiocin, erythromycin, streptomycin, dan penicillin. Di pihak lain, isolat bakteri 3 dan 4 hanya sensitif terhadap antibiotik chloramphenicol. Nilai konsentrasi hambat minimum antibiotik oxytetracyclin terhadap bakteri isolat 1 dan 2 adalah 62,5 mg/L, dan terhadap isolat 3 dan 4 adalah 250 mg/L. Antibiotik erysanbe 500 tidak efektif menghambat pertumbuhan keempat bakteri uji sampai konsentrasi 1000 mg/L. Konsentrasi hambat minimum antibiotik inrofloxs-25 untuk bakteri isolat 1 dan 2 adalah 31,2 mg/L, sedangkan untuk bakteri isolat 3 adalah 62,5 mg/L dan untuk bakteri isolat 4 adalah 15,6 mg/L.
NISBAH KELAMIN DAN UKURAN PERTAMA KALI MATANG GONAD ALLIGATOR PIPEFISH (Syngnathoides biaculeatus (Bloch, 1785) YANG TERTANGKAP DI DAERAH PADANG LAMUN KEPULAUAN TANAKEKE, KABUPATEN TAKALAR Mulyawan, Ardi Eko
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.21

Abstract

Penelitian ini dilakukan selama enam bulan dari bulan Juni sampai November 2018 pada perairan Kepulauan Tanakeke Kabupaten Takalar. Jumlah tangkur buaya yang diperoleh pada lokasi pengambilan sampel Labbotallua sebanyak 88 ekor jantan dan 67 ekor betina pada lokasi pengambilan sampel Labbokatoang sebanyak 68 ekor jantan dan 52 ekor betina. Hasil penelitian menunjukkan Nisbah kelamin Syngnathoides biaculeatus (Bloch, 1785)  pada lokasi labbotallua dan labbokatoang di Pulau Tanakeke Sulawesi Selatan yaitu 1.31:1 dapat dikatakan seimbang. Hasil analisis terhadap ukuran pertama kali matang gonad tangkur buaya pada kedua lokasi pengambilan sampel pada individu jantan mengalami kematangan gonad pertama kali yang lebih cepat pada ukuran 19.3038 mm dan 20.8287 mm sedangkan tangkur buaya betina pada ukuran 21.3192 mm dan 21.2339 mm. 
BEBERAPA MACAM CACAT TUBUH YANG TERJADI PADA BENIH IKAN KERAPU CANTANG HASIL HATCHERY Ismi, Suko
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.14

Abstract

Cantang grouper is a hybrid between female tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) and male giant grouper (Epinephelus lanceolatus) cantang grouper is currently in big demand for aquaculture because it has fast growth. Seed requirement of this fish can be supplied from hatcheries production, one of the constraints of the hatchery production it is deformities. The purpose of this study is to know the kinds of deformities that occur in fish seeds produced from the hatchery. The study was conducted in  Gerokgak District , Buleleng Regency, Bali. Data obtained by survey and direct observation in several hatcheries and  collected was analyzed descriptively. The results showed that highest deformity were open gills reached 90.1%, followed by deformity of tail  72.6%, head and mouth  reached 23.8% and backbone (kiposis, lordosis skiolosis) reached 20.8%. High deformities in the resulting seed will result in losses to the hatchery because the seed can't sell.
PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN KERAPU BATIK (EPINEPHELUS POLYPHEKADION) HASIL BUDIDAYA Setiawati, Ni Ketut Maha; Melianawati, Regina
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.18

Abstract

Ikan kerapu batik merupakan jenis ikan laut yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga  budidaya terhadap ikan ini perlu dilakukan. Dua parameter yang penting dalam budidaya adalah pertumbuhan untuk mengetahui kondisi individu ikan dan tingkat kematangan gonad (TKG) yang menunjukkan perkembangan gonad ikan. Kedua hal tersebut merupakan indikator yang penting untuk evaluasi keberhasilan suatu budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, panjang dan berat ikan kerapu batik hasil budidaya serta perkembangan tingkat kematangan gonadnya selama pemeliharaan. Penelitian menggunakan 2 buah bak fiberglass volume 1.000 L, yang masing-masing bak diisi dengan 20 ekor ikan dengan ukuran panjang awal 8,96± 1,5 cm dan berat tubuh  13±2 g.  Pemeliharaan dilakukan selama 19 bulan dan selama itu ikan diberi pakan pellet. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan ikan yang diukur dari panjang dan berat tubuhnya, serta tingkat kematangan gonad dan diameter telurnya. Hasil menunjukkan bahwa pada akhir penelitian, panjang ikan mencapai 16,0-30,9 cm, terbanyak pada kisaran panjang 22,0-24,9 cm (37,7%), dan berat tubuhnya berkisar 60-484 g. Pertumbuhan berat ikan lebih cepat daripada pertumbuhan panjangnya. Gonad ikan mulai berkembang pada panjang 19,0-21,9 cm dengan TKG I (54,5%), II (27,5%) dan III (18,0%). Pada akhir penelitian, ikan dengan panjang 28,0-30,9 cm sudah mencapai TKG IV  (60%).  Kisaran diameter telur yang dominan pada TKG I, II, III dan IV, masing-masing adalah 10,0-35,9 µm (89,5%), 36,0-61,9 µm (73,2,%), 36,0-61,9 µm (56,1%) dan 30,0-61,9 µm (58,8%). Hasil ini menunjukkan bahwa ikan kerapu batik hasil budidaya yang dipelihara dalam bak pemeliharaan dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan tingkat kematangan gonad.
Analisa Sebaran Panjang dan Hubungan Panjang Bobot Tuna Sirip Kuning Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788) yang Didaratkan di Pelabuhan Benoa, Bali Safitri, Tiara Gadis; Kurniawan, Roy; Wiadnya, DGR.
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 1 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.01.6

Abstract

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan rawai tuna, sebaran frekuensi panjang baku dan panjang cagak, hubungan panjang berat tuna sirip kuning Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788) pada bulan Juni-Juli yang didaratkan di Pelabuhan Benoa, Bali. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di pelabuhan Benoa pada tanggal 18 Juni sampai 12 Juli 2019. Kegiatan enumerasi yang dilakukan pada penelitian ini berdasarkan standard IOTC (Indian Ocean Tuna Commision) dengan menggunakan standard sampling minimal 30%. Hasil dari enumerasi ini kemudian akan diolah menjadi sebuah data komunikatif yang menunjukan berbagai macam jenis informasi. Hasil dari studi ini didapatkan bahwa: 1) dengan mengambil sampel 160 ekor ikan pada tanggal 18 Juni-12 Juli 2019 yang didaratkan di pelabuhan Benoa, Bali didapatkan analisa sebaran panjang cagak tuna sirip kuning memiliki kisaran panjang 91-165 cmFL dan sebesar 99% dari total sampel sudah layak tangkap. 2) Hasil dari monitoring 160 ekor panjang tuna sirip kuning memiliki pola pertumbuhan isometrik. 3) Analisa hubungan panjang baku dan panjang cagak 160 ekor tuna sirip kuning menghasilkan sebuah rumus estimasi yaitu FL = -2,4334 + 1,107xSL. 4) Hasil tangkapan rawai tuna yang didaratkan di pelabuhan Benoa, Bali didominasi oleh hasil tangkapan sampingan sebesar 65% dengan keadaan beku. Beberapa hal ini menunjukan bahwa kegiatan enumerasi merupakan kegiatan penting untuk memperoleh data dilapang secara langsung terdiri dari pengukuran panjang baku, panjang cagak, dan bobot tuna sirip kuning sehingga data dapat diolah menjadi informasi serta kebijakan dapat ditentukan.
Antibakteri Ekstrak Etanol Serbuk Kering Sargassum cristaefolium Terhadap Bakteri Escherischia coli dan Salmonella thyposa Kartikaningsih, Hartati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.8

Abstract

Sargassum cristaefolium dried powder can be used as food and fed additives as well as  a beverage powder, contained some minerals and terpenoid active ingredients. This study aimed to determine the anti-bacterial activity of Sargassum cristaefolium dried powder on the inhibition of Escherischia coli and Salmonella thyposa bacteria in vitro. The research showed that the dried powder of Sargassum cristaefolium had better inhibition on Salmonella thyposa (2.3 mm) compared to Escherischia coli (1.2 mm) although it was classified as weak bactericidal. Sargassum cristaefolium dried powder showed positive testing for alkaloids, flavonoids, terpenoids and tannins and does not contain saponins, had low toxicity (LC50 322 ppm). The LCMS test showed a peak at 2.16 retention time with a molecular weight of 339.39 m/z. The structure of the Sargassum cristaefolium antibacterial active ingredient should be clarified using C-NMR and H-NMR.
Komoditas Perikanan di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi Prasetiawan, Nanda Radhitia
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.23

Abstract

Pulau Wangi-Wangi sebagai bagian dari Taman Nasional Wakatobi merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi di Kabupaten Wakatobi. Keanakeragaman hayati laut dan kultur bahari yang cukup kuat menjadikan sebagian mayarakat pada pulau ini berprofesi sebagai nelayan. Hasil perikanan pun menjadi sumber gizi utama dan komoditas bagi masyarakat. Jenis-jenis komoditas hasil perikanan telah diidentifikasi melalui survei pada pasar-pasar yang ada di pulau Wangi-Wangi. Hasil perikanan yang diperdangangkan didominasi oleh ikan pelagis dan ikan-ikan karang. Adapun ikan-ikan tersebut berasal dari famili Scombridae, Carangidae, Serranidae, Lutjanidae, Haemulidae, Scaridae, Labridae, Lethrinidae, Siganidae, Nemipteridae, Mullidae, Mugilidae, Dasyatidae, Acanturidae, Holocentridae, Balistidae, Atherinidae, Belonidae, Caesionodae, Ephippidae, Ostraciidae, Diodontidae, Coryphaenidae, Zanclidae, Muraenidae yang  merupakan hasil tangkapan nelayan tradisional. Beberapa komoditas perikanan lain yang diperdagangkan adalah cumi-cumi, sotong, gurita, Crustacea, Bulu babi (Diadematidae) serta kerang-kerangan dan gastropoda laut. Kima (Tridacnidae) juga dapat ditemukan di pasar di pulau Wangi-Wangi. Sebagian besar hasil perikanan diperdangkan dalam bentuk segar, adapun produk lainnya merupakan hasil pengasapan, pengasinan ataupun pengeringan yang ditujukan untuk konsumsi lokal. Pada pasar di pulau Wangi-Wangi nelayan menjual langsung hasil tangkapan ke konsumen ataupun ke pedagang ikan. Pengolahan hasil perikanan di Pulau Wangi-Wangi masih terbatas sehingga perlu adanya diversifikasi produk olahan untuk memberikan nilai tambah pada komoditas hasil perikanan yang ada.