cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
ADAPTASI SOSIAL DAN POLA PERMUKIMAN DI KAMPUNG TOLERANSI BANDUNG
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4733.190-206

Abstract

Abstrak Bandung merupakan salah satu kota dengan ciri heterogenitas sosial tinggi. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandung berusaha mempertahankan keberagaman tersebut. Salah satunya dengan program kampung toleransi. Dalam kampung toleransi, terdapat beragam tempat ibadah dalam satu wilayah. Masyarakat dapat menjaga keberagaman tersebut. Salah satunya terletak di Jalan Vihara, RW 08, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir. Terjadilah pertemuan beragam kebudayaan. Masyarakat berusaha untuk beradaptasi secara sosial dan pola permukiman sehingga tetap terjaga kerukunan antar umat beragama. Oleh karena itu, Kampung Toleransi di Jalan Vihara menjadi objek yang menarik untuk dibahas. Tujuan penelitian untuk memahami bagaimana masyarakat dapat beradaptasi secara sosial dan pola permukiman yang terbentuk akibat keberagaman agama pada Kampung Toleransi di Jalan Vihara. Penelitian menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan keadaan eksisting Kampung Toleransi di Jalan Vihara dan membandingkannya dengan teori adaptasi dan pola permukiman. Data Kampung Toleransi di Jalan Vihara dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi lapangan, dan studi pustaka Amos Rapoport dan Habraken. Hasilnya masyarakat melakukan adaptasi sosial dengan dua cara, yaitu adaptasi dengan penyesuaian dan penarikan. Secara pola permukiman, fasilitas ekonomi berpusat di Jalan Kelenteng dan Jalan Jendral Sudirman. Fasilitas sosial budaya berupa tempat ibadah diletakkan secara terpisah-pisah. Tipe bangunan hunian dibedakan menjadi dua, yaitu bangunan yang berbatasan dengan jalan utama dan bangunan di dalam kampung. Pembeda utamanya yaitu organisasi ruang, bahan bangunan, dan aturan membangun. Pada bangunan hunian sudah jarang ditemukan penggunaan ragam hias. Kata Kunci: adaptasi sosial, pola permukiman, kampung toleransi
RELASI PURA BESAKIH DENGAN HOTEL THE APURVA KEMPINSKI BALI DITINJAU DARI TATA MASSA, TATA RUANG, DAN SOSOK BANGUNAN
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4736.207 - 222

Abstract

Abstrak Persebaran agama Hindu di Pulau Bali dipercaya dimulai pada abad pertama Masehi oleh seorang pemuka agama Hindu asal India bernama Hyang Rsi Markandeya. Bagi orang Hindu, pura paling penting di Bali adalah Pura Besakih yang terletak dekat kaki Gunung Agung. Pura Penataran Agung Besakih merupakan pura pusat yang terletak di dalam kawasan Pura Besakih. Area Pura Penataran Agung dilingkupi oleh dinding dan memiliki tujuh mandala atau tingkatan. Sosok Pura Besakih merupakan cerminan arsitektur Indonesia kuno peninggalan nenek moyang kita yang masih dapat ditemukan dan dipelihara pada jaman modern ini. Di sisi lain, arsitektur modern turut berkembang pesat di Indonesia, terutama dibidang pariwisata di Pulau Bali. Hotel The Apurva Kempinski Bali dirancang oleh arsitek Budiman Hendropurnomo dari Duta Cermat Mandiri Jakarta. Hotel resor ini menerapkan konsep perpaduan antara arsitektur kuno dan modern. Sejauh mana citra Pura Besakih dapat diadaptasi ke dalam desain hotel The Apurva Kempinski Bali akan menjadi isi penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode komparatif dengan pendekatan kualitatif. Dalam studi ini, akan dicari persamaan dan perbedaan kedua objek ditinjau dari segi tata massa, tata ruang, dan sosok bangunan dengan didasari oleh teori prinsip penyusunan Francis D.K. Ching. Hasil penelitian ini menunjukkan kemiripan antara tata massa dan tata ruang Pura Penataran Agung Besakih pada hotel The Apurva Kempinski Bali dari segi sumbu, simetri, hirarki, datum, dan irama walaupun ada perbedaan dalam skala, proporsi, maupun fungsi. Hal ini membuktikan bahwa arsitektur kuno dapat menjadi inspirasi untuk rancangan arsitektur modern dengan cara diadaptasi dan dimodifikasi sesuai dengan fungsi, material, dan kebutuhan rancangan. Kata Kunci: pura, Bali, hotel, relasi, tata massa, tata ruang, sosok bangunan
STUDI KUALITAS SINEMATIK DALAM BIOSKOP METROPOLE
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4737.223-239

Abstract

Abstrak Film dan arsitektur adalah dua bentuk seni taktil yang bergantung pada beberapa indera manusia sekaligus untuk dapat dinikmati. Walaupun begitu, kesamaan antara arsitektur dan film seringkali diabaikan ketika mendesain atau mengapresiasi sebuah objek arsitektur. Dengan melakukan studi mengenai hubungan film dengan arsitektur, ditemukan bahwa ada kualitas-kualitas pada arsitektur yang berdasar pada konsep-konsep pada perfilman yang dapat memperkaya dan memanipulasi ruang tempat manusia beraktivitas. Kualitas-kualitas unik ini disebut sebagai kualitas sinematik. Namun, melihat ruang lewat sinema dapat memberikan kesan yang berbeda dibanding mengalami ruang secara langsung. Kesamaan dan perbedaan ini berasal dari pengalaman sinematik yang berbeda pada waktu mengalami ruang secara fisik dengan mengalami ruang lewat film yang sudah disunting. Untuk memahami topik sinematik dalam arsitektur lebih lanjut, dilakukan studi pada objek arsitektur Bioskop Metropole. Objek arsitektur ini unik karena Bioskop Metropole pernah menjadi latar tempat utama pada film roman-komedi Janji Joni. Penampilan bioskop di dalam film tersebut dan penampilan bioskop di dunia nyata mungkin memiliki perbedaan, dan kualitas sinematik adalah penentu perbedaan tersebut Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahu kualitas sinematik di bioskop Metropole, bagaimana kualitas sinematik tersebut memengaruhi representasi ruang-ruang Bioskop Metropole dalam film Janji Joni, dan kualitas sinematik apa saja yang ada pada Bioskop Metropole. Metode yang digunakan adalah deksriptif kualitatif, dengan data dari studi literatur dan observasi objek di lapangan. Studi ini mencapai kesimpulan bahwa terdapat kualitas-kualitas sinematik tertentu pada Bioskop Metropole, walaupun dalam derajat yang berbeda dengan yang ditunjukan dalam film Janji Joni. Kata Kunci: sinematik, kualitas sinematik, Janji Joni, Jakarta
STUDI ANALOGIS ARSITEKTUR DAN MUSIK BAROK
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4738.240 - 258

Abstract

Abstrak Spasialitas dapat kita persepsikan melalui penglihatan. Demikian pula pendengaran kita dapat mempersepsikan spasialitas. Hal ini menunjukkan adanya relasi antara arsitektur dan musik. Keduanya adalah bidang seni dan keduanya berkaitan dengan makna dan keindahan sehingga memiliki suatu dasar estetika tertentu. Keduanya merupakan hasil dari perkembangan kultur manusia sehingga menunjukkan bagaimana manusia hidup dan bagaimana pandangan manusia terhadap hidup itu sendiri. Penelitian ini akan menjelajahi masa Barok untuk mencari analogi kualitatif antara persepsi auditorial dan persepsi visual melalui manifestasi seni Barok, yakni arsitektur dan musik zaman Barok. Dengan metode analisis analogis, penelitian ini ditujukan untuk mencari korelasi antara keduanya dengan bantuan sistem representasi. Melalui penelitian ini, peneliti menemukan adanya keterkaitan dalam soal pola bentuk, tekstur, dan artikulasi antara arsitektur dan musik Barok yang membuktikan adanya dasar estetika yang sama. Penemuan ini diharapkan dapat memberi arsitektur dan musik lebih banyak pemahaman tentang disiplinnya masing-masing, dan juga memberi cara baru berpikir melalui perenungan akan yang lampau. Kata Kunci: analogis, barok, arsitektur dan musik, bentuk dan ruang, spasialitas, tekstur, artikulasi
DESKRIPSI ARSITEKTURAL SITUS KI BUYUT TRUSMI DESA TRUSMI, CIREBON
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4739.259 - 280

Abstract

Abstrak Kebudayaan merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya (Liliweri 2002: 8) dan kebudayaan tersusun oleh kategori-kategori kesamaan gejala umum yang disebut adat istiadat yang mencakup teknologi, pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, estetika, rekreasional dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat (Liliweri 2002: 62). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan arsitektural Situs Ki Buyut Trusmi yang masih dijaga oleh warga setempat, dilihat kebudayaannya dari aspek Religion and Beliefs, Rite and Ceremonial, Gender Roles, Domestic Routine, dan Social Structure dan bagaimana keterkaitannya wujud arsitektural Situs Ki Buyut Trusmi terhadap pengaruh aktivitas kebudayaan di dalamnya. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Data kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan bangunan-bangunan yang membentuk ruang secara arsitektural yang terbentuk akibat pengaruh aktivitas kebudayaan dan bagaimana pemanfaatan ruang yang terbentuk dari pengaruh tersebut untuk aktivitas kesehariannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas kebudayaan merupakan faktor utama dalam mempengaruhi orientasi bangunan dan ruang-ruang yang ada sehingga aktivitas kesehariannya akan memanfaatkan ruang yang terbentuk dari kebudayaan yang ada. Selain itu, kebudayaan membuat adanya bentuk stuktur sosial yang mengajarkan harus menghormati orang yang lebih tua dan harus taat kepada Sang Pencipta. Kata Kunci: Kebudayaan, pembentuk ruang, aktivitas keseharian, Situs Ki Buyut Trusmi ,Cirebon
POLA TATANAN MONUMENTAL ISLAMI PADA ARSITEKTUR MASJID ISTIQLAL
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4740.281 - 301

Abstract

Abstrak Arsitektur monumental keagamaan terjadi bukan hanya karena karya arsitektur dapat menjadi simbol yang bermakna semata, tetapi juga karena konsolidasi identitas nasional, terutama di negara-negara pascakolonial, dapat terjadi atas faktor agama. Arsitektur keagamaan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan yang 'tak terkatakan' dan transenden. Arsitektur keagamaan dapat mewujudkan citra keagamaan masyarakat yang dirumuskan melalui kerangka referensi yang didominasi oleh inti budaya dari pandangan dunia, etika, dan kepercayaan. Di saat bersamaan, masjid sebagai ruang ritual tidak hanya menjadi tempat bagi orang-orang percaya, tetapi juga bangunan monumental yang mewakili kebesaran sifat kepentingan yang berkuasa. Penelitian-penelitian sebelumnya masih banyak yang mendefinisikan masjid secara tradisional, yakni sebagai pusat tempat beribadah tanpa spesifikasi lebih lanjut. Penyederhanaan ini mendominasi analisis masjid pada umumnya, sehingga tampak mengesampingkan aspek-aspek lain yang juga ditampakkan dalam bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pola tatanan monumental Islami yang terwujud pada arsitektur Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal dipilih sebagai kasus studi karena dinilai signifikan sebagai karya arsitektur monumental keagamaan yang dibangun sebagai bentuk perwujudan identitas nasional Indonesia. Sesudah pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1949, muncul ide untuk membangun masjid negara sebagai wajah identitas nasional, mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi umat Islam terbanyak di dunia. Dalam Masjid Istiqlal terwujud desain monumental yang tidak hanya mewujudkan visi dan gagasan Islami tetapi juga memainkan peran nyata dalam pengejawantahan visi nasional negara. Penelitian akan mengedepankan isu pola tatanan dari bentuk arsitektur yang memiliki peran monumental sekaligus berfungsi sebagai bangunan keagamaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian diawali dengan melakukan pendataan properti dan komposisi pembentuk monumental Islami lewat studi teori-teori terkait: teori arsitektur masjid, teori properti dan komposisi, dan teori lingkup. Data lapangan dikumpulkan dengan cara studi pustaka dan pengamatan objek studi kemudian dilengkapi dengan hasil wawancara. Analisis akan dibagi dalam tiga lingkup, terdiri dari lingkup lingkungan, lingkup tapak, dan lingkup bentuk, untuk mencari tahu apa pola tatanan monumental Islami yang terwujud pada arsitektur Masjid Istiqlal. Kata Kunci: pola tatanan, masjid, monumental, Islami, properti, komposisi, lingkup
TAMAN TEMATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP SETTING FISIK DAN PENGGUNAAN TAMAN DI KOTA BANDUNG
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4741.302-319

Abstract

Abstrak Perkembangan Kota Bandung sebagai kota kreatif, mendorong pemerintah untuk melakukan inovasi terhadap keberadaan ruang terbuka publik.Munculnya taman tematik berhasil menarik perhatian masyarakat terhadap keberadaan taman-taman yang ada di Kota Bandung. Lalu apa yang sebenarnya dimaksud dengan taman tematik dan mengapa tema menjadi sesuatu yang perlu diberikan pada taman-taman yang sudah ada sebelumnya. Mengingat taman tematik yang ada saat ini merupakan pengembangan dari taman-taman lingkungan (neighborhood park). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian dari taman tematik dan pengaruhnya terhadap setting fisik taman dan penggunaan sebuah ruang terbuka publik. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan keadaan taman lansia, taman superhero, taman hewan, taman cibeunying, dan alun-alun cicendo. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan dilengkapi dengan penyebaran kuisioner online untuk mendapatkan data kuantitatif.Pengertian mengenai taman tematik ditelaah berdasarkan litelatur yang didapatkan dari Koran dan sumber infomasi lainnya yang membahas mengenai taman tematik di Kota bandung. Kemudian pembahasan mengenai taman tematik akan ditelaah lebih lanjut dengan teori-teori yanga ada pada landasan teori. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tema yang diberikan pada taman layaknya tema yang digunakan dalam sebuah cerita, tema berfungsi sebagai acuan dalam mengolah ruang terbuka yang ditampilkan lewat setting fisik taman. Fisik taman yang hadir melalui fasilitas turut mempengaruhi aktivitas yang terjadi didalam taman, dimana aktivitas mengarah pada tema yang diberikan pada taman tersebut. Taman tematik menjadi pengembangan ruang terbuka publik yang terinspirasi dari konsep theme park.Namun berbeda dengan theme park, taman tematik yang ada di Kota Bandung terbuka bagi masyarakat umum sehingga tidak bersifat komersil. Kata-kata kunci: ruang publik, taman tematik, aktivitas sosial, taman di Kota Bandung
TINJAUAN DESAIN SENSORI PADA MUSEUM BANK INDONESIA DALAM MENGAKOMODASI PENGUNJUNG PENYANDANG TUNANETRA Saraswati, Putri Nadhira; L. Lukman, Aldyfra
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i04.5297.320-333

Abstract

Abstract- Museum as an architectural object with its function as an educational and recreational facility is open to public and must be able to be used by all people. Therefore, the design of museums must be accessible for all people, including those with special needs. One of the museums in Indonesia which is considered to be a good work of architecture is the Museum of Bank Indonesia. It receives many visitors from various circles, including people with visual impairments. To accommodate visitors with visual impairments, the Museum of Bank Indonesia must have design features that help them to do activities, despite their limited sense of sight. Through this study, the research aims to find out how physical elements in the Museum of Bank Indonesia accommodates the orientation and mobility of visitors with visual impairments. This is a qualitative research, with a descriptive discussion. The collected data are the data on physical elements in the Museum of Bank Indonesia and the data on the behavior of visually impaired visitors while doing orientation and mobility in the Museum of Bank Indonesia exhibition area. The data are collected through observation and interview, then analyzed by using a table which elaborates physical elements from technical requirements aspect and sensory design aspect, and how they accommodate visually impaired visitors. Research shows that some physical elements in the Museum of Bank Indonesia are already adequate in accommodating visually impaired visitors. They able to provide assistance for visually impaired visitors while doing orientation and mobility, as well as gathering information on the museum objects. On the other hand, there are also some physical elements that hinder visually impaired visitors because they don’t technically meet the user’s needs. Therefore, improvement in the physical elements design is needed, so it can accommodate visitors with visual impairments better. Key Words: museum, visual impairment, Bank Indonesia, universal design, sensory design
RELASI ARSITEKTUR MATARAM KUNO TERHADAP KARAKTERISTIK KUIL INDIA UTARA DAN SELATAN: DITINJAU DARI SOSOK-TEKTONIKA, TATA MASSA-RUANG, DAN ORNAMENTASI H. B. Danuleksono, Samuel; Prajudi Herwindo, Rahadhian
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i04.5298.334-347

Abstract

Abstract- Hinduism is a religion that was born in India and has developed rapidly into the archipelago with evidence of Sanskrit inscriptions and Pallava. The religion had a significant influence on Java which changed the political, economic, social and cultural life which at that time was still a kingdom. The arrival of Indians to Indonesia affected by the reverse flow between Indonesia and India and India and Indonesia. This can be seen by the presence of Indonesian dormitories in Nalanda (North India) and Nagapattinam (South India). The influence of North and South India can be seen from the existence of Hindu-Buddhist temples in the Archipelago which was built in one of the Hindu kingdoms, namely the Kingdom of Ancient Mataram which had areas of authority from Central Java to East Java. The temples that were built are thought to have an identity with temples in North and South India in terms of figure, inner space tectonics, mass layout, spatial planning, and ornamentation. This identity is thought to be a close relationship between North India and South India with Indonesia, especially in the era of Ancient Mataram. The purpose of this study is to find out the relationship or relationship of Ancient Mataram era temple architecture to North and South Indian temple architecture. The analysis method used is the comparative – qualitative method. Work plans, plans, pieces, site plans, and block plans of 28 Hindu-Buddha tower types in Central Java will be compared in terms of similarities and differences and then analyzed regarding the position of the laying, and elements of the temple so that the relationship between the two countries is found. Data obtained from literature studies and field surveys. The conclusion drawn from this study is that there is a closer relationship with South India than North India. The influence of North India and South India is only limited to the external appearance in the study of figure and ornamentation, while in the study of mass and spatial planning and inner space tectonics is more developed by the people of Ancient Mataram which is adjusted to traditional values and natural influences. Key Words: figure, tectonics, mass layout, spatial planning, ornamentation, North and South India, Ancient Mataram
EVALUASI IDENTITAS LOKAL PADA EKSPRESI BANGUNAN HOTEL KATAMAMA DI SEMINYAK, BALI Zipora, Sonia; Fauzy, Bachtiar
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i04.5299.348-366

Abstract

Abstract- The times have created an identity crisis that has led to the fading of cultural diversity. This has caused many buildings in Indonesia today that have acted on behalf of or made the building have a local identity to reflect culture. The local identity used should not only be in the physical part of the building, but also have concepts and meanings applied. One of the local identity can be reflected through the expression of the building. A good building expression is a building that can pay attention to the local identity of the local culture in the building. This study aims to determine the local identity contained in the object of study, related to the expressions observed by observers. The object of study needs to be examined and studied further about the concept of Tri Angga used, and the representation of Bali that is reflected through the building, so that it can be known whether the object of study displays local Balinese identity or not. This evaluation discusses the conclusions of local identity in the case study building expressions and what should be done so that the local identity of Bali is more felt in the object of research. The theory used to support this research is the evaluation of architecture, local identity, architectural expression, identity and expression of Balinese architecture. The expression theory uses the Building Quality Theory by Kevin Lynch in 1960. The aspects of expression theory are chosen according to the explanations relevant to the object of study, form simplicity, visual scope, directional differentiation, and dominance. The method used in this study uses qualitative methods with descriptive, analytic, and interpretative approaches. The results of the study were to evaluate the local identity contained in the Katamama Hotel building expressions, which were assessed based on the theory of building quality. Local identity in the research object is in the aspect of dominance / dominance. The identity used is only found in the Bali brick material used in the scope of the building. Katamama Hotel does not use Balinese concepts, which rights are a characteristic or identity of Balinese architecture. The quality of buildings such as visual scope in the shape of the building is the main expression to be displayed. The brick material with gaps obtained from the brick structure makes a visual impression that can be felt by visitors, and is in accordance with the concept designed by the architect of the building by paying attention to lighting and shadows. While the quality of directional differentiation and form simplicity in buildings, both the shape of the building and the arrangement of the space become an aspect that is less attention to the Katamama Hotel. The benefit of this research is to provide an in-depth understanding of local identity and the importance of maintaining local wisdom, educating the public about the expression and its relation to local architectural identity with examples of real objects, so that physical and non-physical elements can be seen, enriching knowledge, especially culture local archipelago, as well as adding theoretical study studies on local expression and identity, as well as their relation to national identity. Key words: Evaluation, local identity, expression, Bali

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue