cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 2 (2012)" : 9 Documents clear
UJI AKURASI TRAINING SAMPEL BERBASIS OBJEK CITRA LANDSAT DI KAWASAN HUTAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Noviar, Heru; Carolita, Ita; Cahyono, Joko Santo
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.692 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.190

Abstract

Teknik klasifikasi citra digital telah berkembang, dari berbasis pixel menjadi klasifikasi berbasis objek, dimana citra sebelumnya dibuat dalam bentuk segmentasi/poligon yang bias diatur homogenitasnya. Tetapi dalam proses klasifikasi baik dengan berbasis pixel dengan metode Maximum Likelihood maupun dengan berbasis objek tetap harus ditentukan training sampel untuk mengidentifikasi objek yang akan diklasifikasi. Dalam pengambilan training sampel dengan berbasis pixel, poligon yang dibuat, diambil sehomogen mungkin sedangkan dalam metode berbasis objek, training sampel dibuat berdasarkan poligon-poligon yang sudah terbentuk hasil segmentasi yang dibuat berdasarkan parameter scale, shape, compactness yang telah ditentukan.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji akurasi hasil training sampel yang dibuat berdasarkan polygon hasil segmentasi dengan training sampel yang dibuat berbasis pixel dengan studi kasus kawasan hutan di PLG Kapuas, Kalimantan Tengah dan citra yang digunakan citra Landsat. Akurasi diuji dengan melihat percampuran antar kelas (dengan Scatterplot) dan keterpisahan antar kelas dengan metode Confusion Matrix (nilai overall accuracy dan nilai kappa). Hasil memperlihatkan bahwa uji keakuratan training sampel berbasis objek pada lokasi lebih rendah ini jika dibandingkan dengan training sampel berbasis pixel, terlihat dari nilai Overall Accuracy dan nilai Kappanya. Grafik Scatterplot menunjukkan masih ada ketercampuran antar kelas (hutan, non hutan, non vegetasi dan tubuh air) pada kedua hasil dan lebih banyak terjadi pada training sampel hasil segmentasi.Kata kunci: training sampel, uji keakuratan, segmentasi, klasifikasi berbasis objek dan pixel, hutan dan non hutan, citra Landsat.ABSTRACTDigital image classification techniques have been developed from a pixel-based to an object-based classification, where the previous image is created in the form of segmentation/polygons whose homogenity can be set based on scale, shape, and compactness. However, in the classification process, either using pixel-based or object-based, several training samples still need to be determined in advance to identify objects that will be classified. In the pixel-based, while generating training samples, created polygons were made as homogeneous as possible. On the other hand, in the object-based method, training samples were made based on polygons from the results from segmentation process based on scale, shape, and compactness parameter. The research aim is to test  the accuracy of training samples from the object-based method, which is compared with the ones from the pixel-based method. As the case study was forest areas around PLG Kapuas, Central Kalimantan. Landsat imagery was used as material. The accuracy was tested by looking at the values of inter-class mixture (using scatterplot) and of class-separation (using confusion matrix to gain overall accuracy and kappa value). The results show that the accuracy of pixel-based training samples is better, which can be seen from the Kappa value and Overall AccuracyScatterplot graphic shows that there are mixed-classes (forest, non-forest, non-vegetation, and water bodies) on both samples test result, although there are more in the segmentation process rather than in the training samples made from manual delineationKey words: training samples, test accuracy, segmentation, object and pixel-based classification, forest and non forest, Landsat imagery
KAJIAN GEOSPASIAL TEMATIK EKOWISATA KABUPATEN BANGLI Handoyo, Sri; Helman, Helman; Riadi, Bambang; Panday, Rorim; Supriyatna, Supriyatna; Syarif, Risa Desiana
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.825 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.186

Abstract

Sebagai salah satu Provinsi di Indonesia, Bali adalah tempat pariwisata yang terkenal di dunia. Begitu terkenal sehingga seringkali mendapat julukan sebagai tempat wisata terbaik di dunia. Pariwisata di wilayah Bali Selatan berkembang pesat, misalnya di Denpasar, Pantai Kuta, Pantai Sanur, Pantai Jimbaran, Tabanan dengan pantai Tanah Lot, Hutan Sangeh, Taman Margarana, dan lain-lain. Sementara itu di wilayah Bali Utara kegiatan pariwisatanya kurang berkembang. Berdasarkan program Pemerintah MP3EI maka Bali Utara perlu dikembangkan sektor pariwisatanya. Bangli (di wilayah Bali Utara) adalah satu-satunya Kabupaten dari sembilan Kabupaten di Provinsi Bali yang tidak memiliki kawasan pariwisata dalam tata ruang wilayahnya. Di lain pihak, Kabupaten Bangli memiliki cukup banyak tempat daya tarik wisata termasuk ekowisata. Daya tarik wisata tersebut antara lain adalah Desa Adat Panglipuran, Pura Kehen, Pura Dalem Jawa (Langgar), Desa Tradisional Bayung Gede, Taman Bali Raja, Agrowisata Kopi Arabika dan Jeruk, Ekowisata Bukit Bangli, Desa Wisata Tamansari, dan Bukit Jati. Pada umumnya metode penelitian dengan tema pariwisata adalah bersifat kualitatif. Namun, dengan kombinasi metode pendekatan geospasial berupa tinjauan tata ruang wilayah, di antaranya tinjauan terhadap fungsi dan peruntukan wilayah dan kawasan, makalah ini menguraikan kajian geospasial tematik pariwisata, dengan berbagai aspek pendukung dan kendalanya, untuk mengetahui potensi dan peluang pengembangan ekowisata di Kabupaten Bangli.Kata Kunci: tata ruang wilayah, geospasial, pariwisata, ekowisata, kabupaten Bangli.ABSTRACTAs one of the provinces in Indonesia, Bali is a famous tourist place in the world. So famous that it is often dubbed as the best tourist attractions in the world. Tourism is rapidly growing in the area of South Bali, for example in Denpasar, Kuta Beach, Sanur Beach, Jimbaran Beach, Tabanan with its Tanah Lot, Sangeh Forests, Parks of Margarana, and others. Meanwhile in the region of North Bali tourism activities are underdeveloped. Under the government program MP3EI the North Bali tourism sector should be developed. Bangli (in the North Bali area) is the only regency of the nine regencies in the province of Bali that do not have any tourist area in the spatial region. On the other hand, Bangli regency has enough places including eco-tourism attractions. The attractions include the traditional village Panglipuran, Kehen Pura, Pura Dalem Java (a small mosque), Gede Bayung Traditional Village, Bali Taman Raja, Agro Arabica Coffee and Oranges, Bukit Bangli Ecotourism, Tourism Village Tamansari, and Bukit Jati. In general, the theme of tourism research method is qualitative in nature. However, the combination of geospatial approach to the spatial form of review, including review of the functions and allocation of territories and regions, this paper describes the study of geospatial thematic tourism, with the various aspects of support and barriers, to find out the potential and opportunities of tourism development in the Regency of Bangli.Keywords: regional spatial planning, geospatial, tourism, ecotourism, Bangli regency
ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU JAKARTA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ALOS PALSAR POLARISASI GANDA Nindita, Wida; Trisasongko, Bambang H; Panuju, Dyah R
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.918 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.182

Abstract

Sebagai salah satu wilayah perkotaan utama di Indonesia, Jakarta memerlukan ruang terbuka hijau. Keberadaan lahan ruang terbuka hijau sangat penting dalam sistem perkotaan karena berperan sebagai penyangga lingkungan. Namun demikian, wilayah ini sering diabaikan karena pembangunan gedung-gedung yang menunjang aktivitas perkotaan memberikan lebih banyak manfaat secara komersial. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme pemantauan lahan ruang terbuka hijau di Jakarta. Pada penelitian ini, pemantauan ruang terbuka hijau dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit ALOS PALSAR, utamanya dengan analisis data polarisasi ganda. Analisis ini memungkinkan ekstraksi informasi lebih detil dibandingkan dengan analisis polarisasi tunggal. Data polarisasi ganda juga saat ini merupakan jenis data yang banyak disediakan oleh vendor data. Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa tutupan lahan penting pada wilayah perkotaan seperti ruang terbuka hijau berkayu, ruang terbuka hijau pertanian, badan air, permukiman dan permukaan non vegetatif (beraspal atau beton) lainnya dapat dipisahkan dengan cukup baik.Kata kunci: polarisasi ganda, ruang terbuka hijau, Jakarta IndonesiaABSTRACTAs one of the major urban areas in Indonesia, Jakarta needs green open space. The presence of green open space is very important in an urban system because it acts as a buffer for urban environment. However, the region is often overlooked as building construction  to support urban activities can provide more benefit. Therefore, a mechanism to monitorgreen open space in Jakarta is necessary. In this study, monitoring of green open space was done by using ALOS PALSAR satellite images, mainly using dual polarization data analysis. This analysis enables the extraction of more detailed information than the single polarization analysis. Besides that, data vendors also provide dual polarization more than the single. This study shows that some important land cover in urban areas such as woody green open space, agricultural green open, water bodies, residential and non-vegetative surface (asphalt or concrete) can be well separated.Keywords: dual polarization, green open space, jakarta Indonesia
KRITERIA PENENTUAN TELUK MENURUT UNITED NATION CONVENTIONS ON THE LAW OF THE SEA Ramdhan, Muhammad
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.187

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki teluk yang sangat banyak. Teluk sebagai suatu estuaria tertutup memiliki peran strategis sebagai salah satu sumberdaya ekologi dan layanan lingkungan. Paper ini mencoba menyajikan kriteria penentuan teluk menurut UNCLOS, dengan aplikasi langsung untuk wilayah Bungus Teluk Kabung-Kota Padang. Menurut UNCLOS definisi teluk adalah bentukan laut yang menjorok ke arah daratan dengan luas area yang lebih besar daripada luasan setengah lingkaran berdiameter mulut lekukan di teluk tersebut. Hasil menunjukkan bahwa peta RBI produk dari Bakosurtanal belum sepenuhnya mengacu pada kriteria teluk yang disyaratkan oleh UNCLOS.Kata Kunci: UNCLOS, kategori teluk, konvensi hukum lautABSTRACTIndonesia as an archipelagic country has many bays. As an enclosed estuary, a bay area has strategic role as a source of ecological resources and other environmental services. This paper triesto present a criteria to consider an area as abay under UNCLOS, with direct application to Bungus Teluk Kabung in Padang city. According to the UNCLOS definition, abay area is a marine formation that protrudes toward the mainland and larger than the semi-circle curvature area diameter at the bay mouth. The findings show that the bay area in Topographic Maps from Bakosurtanal has not been fully refers to the criteria required by UNCLOS.Keywords: UNCLOS, bay area, conventions on the law of the sea
APLIKASI CITRA QUICKBIRD UNTUK PEMETAAN 3D SUBSTRAT DASAR DI GUSUNG KARANG Selamat, Muhammad Banda; Jaya, Indra; Siregar, Vincentius P; Hestirianoto, Totok
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.183

Abstract

Salah satu masalah dalam pemetaan batimetri di perairan gusung terumbu karang adalah sulitnya aksesibilitas kapal survei oleh karena perairannya yang dangkal.  Di lain pihak, citra satelit sinar tampak telah umum digunakan untuk pemetaan habitat terumbu karang dan kedalaman perairan.  Studi ini bertujuan menghasilkan peta 3D substrat dasar di gusung terumbu karang dari citra Quickbird.Sejumlah 325 titik sampling menjadi acuan dalam penentuan tipe substrat dasar melalui pendekatan indeks kemiripan Bray Curtis.Setelah koreksi atmosferik, metode koreksi kolom air diaplikasikan pada citra dan ditingkatkan akurasinya dengan kombinasi profil geomorfologi. Pendekatan ini telah menghasilkan peta substrat dasar di gusung Karang Lebar dengan akurasi tematik 82%.  Sejumlah lebih 5700  titik perum di regresi dengan kanal hijau dan merah untuk mendapatkan model estimasi batimetri dari citra Quickbird berdasarkan tipe substrat.  Gabungan model regresi menghasilkan nilai koefisien determinasi=94% dan RMSE=0.4 meter.  Interpolasi data gabungan citra batimetri pasir dan data perum menghasilkan model 3D batimetri di Karang Lebar dengan ME=0.4 m dan RMSE=0.9 m.  Hasil ini menunjukkan peta batimetri yang dihasilkan belum dapat memenuhi persyaratan navigasi, meskipun demikian masih dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti pengelolaan sumberdaya, pemodelan oseanografi dan lain-lain.Kata kunci: substrat dasar, Quickbird, batimetriABSTRACTOne of the problems when conducting bathymetric mapping in patch reef environments is shallow water condition.The shallowness complicates the surveillance boat to access the location. Apart from this, using visible satellite imagery, ones still can map coral reefs and shallow water depth. This study goal was to produce 3D bottom substrate map from quickbird imagery.  About 325 sampling points wereselected to characterize bottom substrate based on the similarity index from Bray Curtis. After theatmospheric correction, a water-column correction method was implemented and then a geomorphologic profilingwas applied to improve the map’s thematic accuracy. Theapproach has resultedan accuracy 82% for bottom substrate map.  A bathymetric estimation model then wasbuilt from a regression analysis to 5700 sounding data and combination of green and red channel value of quickbird. The model has 0.4m RMSE value and 94% for itscoefficient determination The fusion of sand bathymetric image and sounding data results on the 3D bathymetric model of Karang Lebar with ME=0.4 m and RMSE=0.9 m.  This result shows that the produced bathymetric map was not fulfilled the navigation requirement, but still potential as an additional information for resource management, oceanographic modeling etc.Keywords: bottom substrate, Quickbird, bathymetry
PENURUNAN MUKA TANAH DI PESISIR SEMARANG Pryambodo, Dino Gunawan
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.188

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mendeteksi penurunan muka tanah di kawasan industri Kaligawe, pesisir Semarang, dengan menggunakan metode sipat datar (leveling) untuk melihat penurunan muka tanah yang terjadi di daerah penelitian. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada bulan Juni 2004 dan Nopember 2005 dalam jarak rentang waktu 16 bulan. Disimpulkan bahwa di lokasi penelitian selama periode tersebut telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 1 – 10 cm. Penurunan muka tanah terbesar terjadi di sisi sebelah barat dan utara dari daerah penelitian dan yang terkecil hampir merata di tengah daerah penelitian, dengan pola penurunan muka tanah cenderung menuju ke arah barat. Penurunan diduga akibat beban bangunan di atas tanah alluvial yang belum terkompaksi.Kata kunci: Penurunan muka tanah, daerah industri Kaligawe, pesisir Semarang, metode sipat datarABSTRACTThis research was conducted to detect land subsidence in the industrial area of Kaligawe, a coastal zone of Semarang by using leveling method. The measurement is done twice, on June and November 2004. It is concluded that the areahas been experienced 1-10 cm land subsidence within 16 months in the study site. The biggest land subsidence occurs in the western and northern part of the study area, while the smallest almost evenly in the middle of the study area, with the patterns of land subsidence is heading to the west. The subsidance might be caused by theoverburden uncompacted alluvial soil.Keywords: Land subsidence, Kaligawe industrial zone, coastal zone of Semarang, Leveling methods
EVALUASI LAHAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI POLA LAHAN KERING MENGGUNAKAN AUTOMATED LAND EVALUATION SYSTEM (ALES) Widiatmaka, Widiatmaka; Mulia, S.P.; Hendrisman, M
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.499 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.184

Abstract

Sumberdaya lahan di Indonesia sangat beragam, dengan tingkat kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas yang beragam pula. Karena itu, diperlukan perencanaan penggunaan lahan –termasuk di lahan-lahan daerah transmigrasi- untuk menjamin pola budidaya yang paling sesuai secara fisik dan memberikan hasil yang optimal secara ekonomis. Evaluasi lahan merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi komoditas yang paling cocok untuk diushakan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi lahan fisik dan ekonomik di lokasi transmigrasi Rantau Pandan SP-2, Provinsi Jambi menggunakan sistem evaluasi lahan otomatis (Automated Land Evaluation System (ALES). Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk merekomendasikan penggunaan lahan yang paling sesuai secara fisik maupun ekonomik di lokasi transmigrasi lahan kering. Hasil studi menunjukkan bahwa dominasi kelas kesesuaian lahan untuk 9 (sembilan) komoditi adalah S3. Pembatas yang paling dominan adalah bahaya erosi dan retensi hara. Pembatas yang dominan pada kesesuaian lahan adalah bahaya erosi, ketersediaan air dan temperatur. Hasil evaluasi lahan ekonomi menunjukkan bahwa secara umum komoditas yang paling menguntungkan untuk diusahakan pada kesesuaian lahan ini adalah tomat. Rekomendasi yang diberikan berdasarkan hasil analisis tidak selalu sejalan dengan peruntukan lahan pada pola transmigrasi lahan kering. Meskipun demikian, hasil ini disarankan untuk diterapkan, baik dengan pertimbangan konservasi lahan maupun pertimbangan keuntungan ekonomi dan kesejahteraan petani.Kata Kunci: Kesesuaian lahan, pemetaan, pertanian lahan kering, transmigrasiABSTRACTLand resources in Indonesia are highly variable in the term of their suitability to support the cultivation of commodities. To that end, landuse planning -including in transmigration area- is needed to ensure the utilization of the most appropriate pattern of cultivation, which gives the highest yield biophysically, and economically profitable. Land evaluation is a method to identify the suitability of land for various use. This study aimed to physically and economically evaluate land suitability of transmigration settlement units for different commodities by using Automated Land Evaluation System (ALES). The evaluation results are then used to recommend the most appropriate commodity, either physically and economically, on dry land transmigration site. The study was conducted in Rantau Pandan SP-2, Jambi Province.This studyintegratedArc-View GIS with ALES and expert knowledgein land suitability analysis. The results showed that in the nineobserved agricultural commodities, the land suitability dominant class isS3 (marginally suitable), with erosion and nutrient retention as the most dominant limiting factors. Recommendations weregiven based on the analysis results, which were not always in line with the pattern of land use on dry land transmigration. Nonetheless, these results are suggested to be applied, either byconsidering land conservationor considering economic benefit and welfare of the farmers.Keywords: Land suitability, mapping, dryland farming, transmigration site
PERAN DATA GEOSPASIAL UNTUK IDENTIFIKASI SEBARAN KETERSEDIAAN AIR DAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA DI KABUPATEN LOMBOK BARAT-NTB Sunarto, Kris
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.189

Abstract

Ketersediaan air dan pakan ternak merupakan syarat pokok dalam keberhasilan pembudidayaan ternak pada umumnya.Ternak ruminansia lebih memerlukan air dan hijauan maupun olahan limbah pertanian.Informasi potensi wilayah tentang ketersediaan air dan pakan ternak dapat didata secara geospasial. Dengan menggunakan teknik SIG dan dengan metode analisis dan interpretasi citra penginderaan jauh,  koleksi, kompilasi, reformat, dan standardisasi data, maka identifikasi sebaran ketersediaan air dan pakan ternak dapat diketahui. Maksud kajian adalah penyiapan informasi tentang lokasi potensi dan ketersediaan air serta bahan pakan ternak ruminansia guna pengembangan pembudidayaan pertanian peternakan wilayah kajian.Hasil kajian berupa beberapa peta tematik terstandar, peta-petaketersediaan air dan bahan pakan ternak wilayah Kabupaten Lombok Barat berserta data luasan.Data dan informasi Geospasial tersebut dapat digunakan untuk kajian lebih lanjut baik pengembangan pembudidayaan ternak maupun tanaman pakan ternak serta bahan pangan pada umumnya untuk program ketahanan pangan tingkat daerah maupun tingkat nasional.Kata kunci: Data geospasial, ketersediaan air dan pakan ternak, Budidaya pertanian peternakan.ABSTRACTWater and fodder availability is a basic requirement  for livestock farming success. Ruminant livestock requires more water, forage, and processed agricultural waste as their primary feed. Information about the potential area where water and fodder are available could be geo-spatially recorded and managed. By using GIS techniques, remote sensing imagery analysis and interpretation, as well as data collection compilation, reformation and standardization, water and fodder availability and distribution can beidentified .The study results standardized thematic maps, availability maps of water and fodderin Lombok Barat Regency. These geospatial data and information can be used for further studies on the development of livestock breeding and fodder crops, and foodstuffs in general for the food security program at regional and national level. Keywords: geospatial data, the availability of water and fodder, raising livestock farming
IDENTIFIKASI LAHAN RAWA DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Studi Kasus Lahan Rawa di Kabupaten Indragiri Hulu Riadi, Bambang; M.A, AB. Suriadi; Suryanto, Jaka; Pranadita, Sekar
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.507 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.185

Abstract

Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau memiliki areal rawa yang luas mencapai 146.367 ha dari luas wilayah 795.569 ha atau 18,4 % wilayah kabupaten. Saat ini kondisi rawa tersebut terdegradasi untuk pemanfaatan lain diantaranya untuk perkebunan dan kegiatan ekonomi lainnya. Kondisi rawa yang masih berupa hutan (hutan tanaman industri, hutan, gambut dan rawa) mencapai 33.700 ha sedang yang berubah menjadi kebun kelapa sawit mencapai 39.800 ha dan kebun campuran 30.500 ha. Ada pemanfaatan lain di areal rawa untuk kegiatan ekonomi selain kegiatan ekonomi di atas. Tahapan kegiatan penelitian yang dilakukan adalah extraksi Peta Rupabumi, kompilasi data sekunder, interpretasi data inderaja, survey lapangan dan pemutakhiran peta. Area rawa dianalisis menggunakan SRTM 30m dan pemutakhiran tutupan lahan menggunakan data citra satelit SPOT5. Analisis perubahan pemanfaatan lahan rawa menggunakan teknik overlay pada Sistem Informasi Geografi, guna memvalidasi hasil analisis dilakukan survey lapangan.Kata kunci: degradasi, hutan, pemutakhiran peta, tutupan lahanABSTRACTIndragiri Hulu Regency of Riau Province has wetlands area reaches 146.367 ha of the total area 795.569 hectares (11.5% of the area). Currently, most of the wetland areaare converted and degraded into other  usage such as plantations and other economic activities. In the area,  33.700 hectares are still forested(forest industry plants, forests, peat bogs and swamps) while about 39.800 and 30.500 hectares are now being converted into palm plantations and mixed garden. Besides that, there are other utilization for economic activity different to the mentioned above. There werephases conducted in the research: topographic map information extraction, secondary data compilation, remote sensing data interpretation, field survey, and map updating. The wetlands was analyzed by using 30m SRTM; and its land cover was updated using SPOT-5 imagery. A GIS-overlaytechnique was implemented to analyze the change of land use and field survey was carried out to validate the results.Key words: degradation, forest, map updating, land cover

Page 1 of 1 | Total Record : 9