cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 1 (2015)" : 9 Documents clear
STUDI BATAS WILAYAH MENGGUNAKAN METODE KARTOMETRIK Studi Kasus: Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya Purwanti, Renita; Budisusanto, Yanto
GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.665 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.463

Abstract

Permasalahan garis batas wilayah administrasi baik di lingkup antar kecamatan atau antar kabupaten/kota dapat menjadi potensi konflik di masa yang akan datang bila tidak segera diselesaikan. Daerah-daerah perbatasan yang mempunyai sumber daya alam yang besar diperkirakan akan menjadi sumber sengketa antar kabupaten/kota dan antar provinsi. Batas wilayah memiliki peranan penting sebagai pemisah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. Ketidakjelasan batas suatu daerah akan menghambat proses pembangunan di daerah tersebut. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 27 tahun 2006 tentang Penetapan dan Penegasan Batas Desa, proses penetapan segmen garis batas desa/kelurahan dapat dilakukan dengan menggunakan metode kartometrik. Metode kartometrik adalah penelusuran/penarikan garis batas pada peta kerja dan pengukuran/penghitungan posisi titik, jarak serta luas cakupan wilayah dengan menggunakan peta dasar dan peta-peta lain sebagai pelengkap. Selain itu, solusi untuk percepatan penetapan batas wilayah adalah delineasi batas kecamatan, desa/kelurahan melalui metode pemetaan partisipatif dengan melibatkan perangkat pemerintahan dan masyarakat diatas peta kerja. Penelitian ini menggunakan citra resolusi tinggi dan batas kelurahan dari RBI keluaran Bakosurtanal sebagai batas indikatif, kemudian membandingkan batas indikatif tersebut dengan batas hasil verifikasi. Penelitian ini menghasilkan kajian awal penegasan batas kelurahan melalui proses perbandingan antara data peta RBI dengan hasil verifikasi yang disajikan dalam peta citra.Kata kunci: batas wilayah, metode kartometrik, pemetaan partisipatifABSTRACTBoundary problems between Aregions both in the scope of the district or inter-district/city can be a potential conflict in the future if not resolved immediately. Border areas which usually has natural resources are expected to be a source of dispute between districts/cities and even possibly between provinces. Land boundaries have important role as an arbiter in the government administration. The indefiniable line boundaries may lead a conflict and will hold up the development process in that area. Regulation of Minister of Home Affairs (Permendagri) Number 27/2006 as a technical guideline to resolve administrative regional boundary, states that delimitation boundaries can be done using Cartometry Method. Furthermore, participatory mapping can be used as other solutions to solve the boundaries conflict fastly by involving the government apparatus. This research also use high resolution imagery and land boundaries that already exist in RBI as indicative boundary then compared with the verification boundaries. The result of this research is an early study of delimitation boundary using cartometry and participatory mapping methods which shown in imagery map.Keywords: land boundaries, cartometry method, participatory mapping
MODEL SPASIAL ALIRAN PERMUKAAN DAN MONITORING TUTUPAN LAHAN DI KOTA SEMARANG Sasmito, Bandi; Suprayogi, Andri
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.023 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.469

Abstract

Seperti kota-kota lain di dunia, perkembangan pembangunan di Kota Semarang sangat pesat. Pemantauan dan analisis kondisi fisik suatu wilayah sangat penting untuk dilakukan terhadap wilayah dengan tingkat dinamika yang cukup tinggi. Terjadinya pembangunan berpengaruh pada perubahan morfologi aliran permukaan dan kondisi tutupan lahan di sekitarnya, sehingga perlu adanya monitoring secara berkala. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan model spasial aliran permukaan yang nantinya digunakan untuk monitoring tutupan lahan yang ada di Kota Semarang. Hal ini perlu didukung dengan analisis klasifikasi tutupan lahan sehingga menjadi rujukan dalam konservasi daerah pengaliran sungai baik di daerah hulu (recharge area), daerah tengah sebagai penyangga dan daerah hilir sebagai tempat berkumpulnya aliran permukaan yang merasakan dampak paling besar dalam kerusakan. Monitoring aliran permukaan dan kondisi tutupan lahan dapat dilakukan secara cepat dan tepat menggunakan analisis spasial dengan memanfaatkan data DEM (Digital Elevation Model) dan citra satelit. Pemodelan hidrologi aliran permukaan dan kondisi tutupan lahan di atasnya dapat dianalisis secara bersamaan berbasis spasial dengan teknologi Remote Sensing dan Sistem Informasi Geografis. Didapat hasil luas vegetasi yang lebih dari 30% tidak sampai di separuh jumlah DAS (Daerah Aliran Sungai) yang ada, tepatnya hanya 5 (lima) DAS dari keseluruhan 12 (dua belas). Luas terbesar ada di DAS Blorong 62,41%. Dari analisis NDVI lahan bervegetasi dan vegetasi jarang mendominasi sampai 60%. Konservasi dan perlindungan kawasan bervegetasi pada DAS harus dilakukan untuk menghindari efek yang ditimbulkannya seperti bencana banjir.Kata kunci:  aliran permukaan, daerah aliran sungai, tutupan lahan, kerapatan vegetasi, Remote Sensing, Sistem Informasi GeografisABSTRACTLike other cities in this world, the development in Semarang is very rapidly. Monitoring and analysis of the physical condition is very important to a region with a high level dynamic. The development give effect to the morphological changes in surface runoff and land cover conditions in the vicinity, so periodic monitoring is needed. The purpose of this study is to generate a spatial model of runoff that will be used for monitoring land cover in the city of Semarang. This should be supported by the analysis of land cover classification so that makes reference to the conservation of the drainage area of the river both upstream (recharge area), central area as a buffer, and downstream areas as a gathering place for runoff that is the part that felt the most impact in damages. Monitoring the flow of surface and condition of land cover can be done quickly and accurately using spatial analysis of data utilizing DEM (Digital Elevation Model) and satellite imagery. Hydrological modelling runoff and land cover conditions on it can be analyzed simultaneously with technology spatial using Remote Sensing and Geographic Information Systems. Technology obtained results of extensive vegetation of more than 30% less than in half the number of existing watershed, rather only 5 (five) watershed on the whole 12 (twelve). The largest area is in the Blorong watershed 62.41%. From the analysis of NDVI vegetated land and sparse vegetation rarely indomination up to 60%. Conservation and protection of vegetation in the watershed region must be taken to avoid its effects such as floods.Keywords: runoff, watershed, land cover, vegetation density, Remote Sensing, Geographic Information Systems
PEMBANGUNAN MODEL DISTRIBUSI POPULASI PENDUDUK RESOLUSI TINGGI UNTUK WILAYAH INDONESIA MENGGUNAKAN SISTEM GRID SKALA RAGAM Nengsih, Siska Rusdi
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.76 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.471

Abstract

Kepadatan penduduk di suatu wilayah terjadi karena persebaran penduduk yang tidak merata. Tingkat kepadatan penduduk di tiap-tiap wilayah Indonesia yang berbeda menimbulkan masalah kependudukan tersendiri. Diantara permasalahan yang timbul adalah masalah sarana dan prasarana sosial, stabilitas keamanan, pemerataan pembangunan dan kerentanan terhadap suatu bencana. Permasalahan kerentanan terhadap bencana menjadi sangat penting karena Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana alam. Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut maka informasi tentang distribusi dan kepadatan penduduk di suatu wilayah sangat diperlukan. Informasi tersebut nantinya akan digunakan untuk mengetahui ada tidaknya gejala kelebihan penduduk (overpopulation), untuk mengetahui pusat-pusat kegiatan ekonomi di suatu wilayah, perencanaan pembangunan, tindakan penyelamatan apabila terjadi bencana alam dan lain sebagainya. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk membangun model distribusi populasi penduduk yang memiliki resolusi tinggi yang merepresentasikan keadaan distribusi penduduk yang sebenarnya di wilayah Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah simulasi atau pemodelan dimana hasil penelitian ini dititikberatkan pada model distribusi populasi penduduk yang bisa merepresentasikan keadaan distribusi populasi penduduk yang sebenarnya.Kata kunci:distribusi, kepadatan, penduduk, populasiABSTRACTPopulation density in a region occurs because of the uneven distribution of the population. The population density in each of the different parts of Indonesia raises problems of its own population. Among the problems that arise is a matter of social infrastructure, security and stability, equitable development, and vulnerability to a disaster. The problem of vulnerability to disaster is very important because Indonesia is a country that is highly vulnerable to natural disasters. Given these problems, the information about the distribution and density of population in the region is needed. Such information will be used to determine the presence or absence of symptoms of overpopulation, to determine the centers of economic activity in a region, development planning, rescue actions in case of natural disasters, and so forth. The purpose of the implementation of this research is to build the distribution model of population that has a high resolution that represent the actual state of the population distribution in Indonesia. The method used in this study is simulation or modelling in which the results of this study focused on the population distribution model that can represent the state of the actual population distribution.Keywords: distribution, density, habitant, population
Cover Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 21 No. 1 Agustus 2015 Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.592

Abstract

.
PENGARUH JUMLAH SALURAN SPEKTRAL, KORELASI ANTAR SALURAN SPEKTRAL DAN JUMLAH KELAS OBJEK TERHADAP AKURASI KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN Nugroho, Ferman Setia
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.383 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.461

Abstract

Penutup lahan merupakan salah satu informasi penting yang dapat diperoleh dari data penginderaan jauh. Penutup lahan diperlukan sebagai landasan bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pembangunan, perencanaan pengembangan wilayah, dan pengelolaan sumber daya alam. Oleh sebab itu, inventarisasi dan pemetaan lahan perlu dilaksanakan secara kesinambungan, cepat, tepat dan tinggi akurasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tingkat akurasi hasil klasifikasi penutup lahan dari citra penginderaan jauh seiring penambahan jumlah saluran spektral yang dilibatkan, semakin tingginya korelasi antar saluran yang dilibatkan, dan seiring penambahan jumlah kelas objek. Penelitian ini menggunakan 2 saluran spektral sampai dengan 9 saluran spektral pada citra ASTER VNIR+SWIR dengan area penelitian meliputi Surabaya dan sekitarnya. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa penambahan jumlah saluran yang dilibatkan dapat meningkatkan akurasi, semakin tinggi korelasi antar saluran maka akurasi yang didapatkan menurun, semakin banyak jumlah kelas objek maka akurasi yang didapatkan menurun.Kata kunci:penutup lahan, saluran spektral, kelas objekABSTRACTLand cover is one of the most important information that can be obtained from remote sensing data. It were needed as a basis data for government to determine the direction of development policy, regional development planning, and management of natural resources. Therefore, inventory and mapping of land need to be implemented in a sustainable, rapid, precise, and also accurate. The purposes of this study is to determine changes of the accuracy level from land cover classification of remote sensing image as the increased number of spectral bands that are involved, the higher the correlation between spectral bands involved, and as the addition of the number of class objects. The results of this study showed that the increasing number of spectral bands that are involved can improve accuracy, the higher correlation between spectral bands make the accuracy obtained decreased, classification using more number of object classes the accuracy obtained decreasedKeywords: land cover, spectral band, object class
PENGGUNAAN FOTO UDARA FORMAT KECIL MENGGUNAKAN WAHANA UDARA NIR-AWAK DALAM PEMETAAN SKALA BESAR Gularso, Herjuno; Rianasari, Hayu; Silalahi, Florence Elfriede S
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.311 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.472

Abstract

Hingga saat ini, teknologi fotogrametri terus berkembang, baik dari segi pengumpulan data dan pengolahan. Hal ini ditandai dengan adanya teknik pengumpulan data dengan wahana udara tak berawak sebagai wahana pembawa sensor fotogrametri. Keuntungan menggunakan teknologi ini adalah efektif dan efisien baik dari segi waktu serta biaya untuk pemetaan di daerah yang tidak terlalu besar. Keuntungan lainnya dapat menghasilkan foto yang lebih jelas, karena tinggi terbang UAV sekitar ± 200 meter di atas permukaan tanah menghasilkan foto dengan resolusi 0,5 cm. Saat ini perangkat lunak fotogrametri telah berkembang pesat, awalnya pengolahan data fotogrametri dilakukan secara manual tetapi saat ini proses pengolahan datanya dapat dilakukan secara otomatis, salah satunya dengan menggunakan perangkat lunakAgisoft PhotoScan. Perangkat lunak ini dapat mengidentifikasi kesesuain pixel antar foto, mosaik dan membangun DSM otomatis. Kalibrasi kamera dan orientasi luar kamera juga dapat dilakukan secara otomatis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji akurasi hasil pemotretan dengan UAV format kecil untuk dimanfaatkan pada pemetaan skala besar.Akuisisi data dan uji akurasi berlangsung di sekitar kantor Badan InformasiGeospasial. Kamera yang digunakan adalah kamera digital non-metrik (Sony NEX 7). Proses fotogrametri menggunakan perangkat lunakAgisoft PhotoScan. Untuk membuat stereo model yang nantinya akan digunakan untuk plotting 3D didapatkan dari pembetukan stereomate dari mosaik yang telah terbentuk dan DSM dengan menggunakan perangkat lunak summit evolution. Hasil penelitian didapat bahwa nilai akurasi horizontalsebesar 0,270319 meter dan akurasi vertikal sebesar 0,331021 meter. Berdasarkan NMAS nilai hasil akurasi mozaik dan DSM UAV pada penelitian ini memenuhi toleransi akurasi untuk pemetaan skala besar.Kata kunci: Wahana Udara Nir-awak, model stereo, summit evolution, pemetaan skala besarABSTRACTUntil now, photogrammetry technology continues to grow, both in terms of data collection and processing. It is characterized by the presence of data collection techniques by unmanned aerial vehicle as photogrammetric sensors carrier. The advantages of using the technology is effective and efficient in terms of both time and cost for mapping in not too large area, and can result in a clearer picture, because high of flying the UAV is ± 200 meter above ground level so the image have ground spatial distance 0,5 cm. In the development of photogrammetry software had been developed, initially photogrammetric data processing is done manually, in this time the process can be done automatically, one of them is Agisoft PhotoScan. The software can identify tie points, mosaics, and build DSM automatically. Calibration camera and exterior orientation is also done automatically. Data acquisition and the accuracy test take place in the area of Geospatial Information Agency. The camera used is a non-metric digital camera (Sony NEX7). Photogrametry process using software Agisoft PhotoScan. To make stereo model that will be used for 3D digitization is carried making stereomate from mosaics and DSM of the summit evolution software.The result is that the value of 0,270319 meter horizontal accuracy and vertical accuracy of 0,331021 meters. Based NMAS mosaic accuracy and value of the DSM UAV in this study meets the accuracy tolerances for large-scale mapping.Keywords: UAV, stereo model, summit evolution, large scale mapping
Susunan Dewan Redaksi, Daftar Isi, Lembar Abstrak dan Pengantar Redaksi Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.773 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.593

Abstract

.
PEMBANGUNAN MODEL BASISDATA SPASIAL DARI FENOMENA PENURUNAN TANAH DI INDONESIA Hafidzah, Dinni Sanni; Abidin, Hasanuddin Z; Andreas, Heri; Riqqi, Akhmad
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.491 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.462

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang kota-kota besarnya terkena dampak dari penurunan tanah. Fenomena penurunan tanah biasa terjadi di daerah-daerah yang memiliki tingkat urban development tinggi seperti DKI Jakarta, Bandung dan Semarang. Pemantauan fenomena penurunan tanah ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan metode geodetik yaitu survei sipat datar (levelling), survei GPS, survei gaya berat mikro dan Interferometric Synthetic Aperture Radar(InSAR). Informasi-informasi mengenai penurunan tanah ini dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan maupun pengambilan keputusan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kebumian serta hal-hal lainnya apabila disimpan serta dipergunakan secara tepat guna. Data-data spasial serta informasi pendukung dari penurunan tanah di Indonesia ini belum memiliki suatu sistem sebagai media pengelolaan data. Tujuan penelitian ini adalah perancangan model basisdata untuk fenomena penurunan tanah yang terdiri dari tiga tahap yaitu perancangan basisdata konseptual, logikal dan fisikal. Hasil perancangan basisdata kemudian disimpan pada perangkat lunak PostgreSQL/PostGIS sebagaiDatabase Management System. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa untuk membangun suatu model basisdata spasial membutuhkan tahapan yang panjang antara lain inventarisasi data, perancangan model basisdata, dan pembangunan basisdata.Pembangunan suatu basisdata spasial inidiharapkan dapat membantu dalam pengorganisasian data-data spasial dari fenomena penurunan tanah di Indonesia. Kata kunci: penurunan tanah, DBMS, basisdata spasialABSTRACTIndonesia’s big cities have been affected by land subsidence phenomenon. This land subsidence phenomenon usually occurs in areas that have a high urban development, such as DKI Jakarta, Bandung, and Semarang. Monitoring of land subsidence phenomenon can be done by utilizing the geodetic method such as levelling survey, GPS survey, micro-gravity survey, and Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Information about land subsidence can be used as policy formulation and decision-making on various matters relating to the Earth issues and other matters if it stored and used properly. Spatial data and other information of land subsidence in Indonesia does not yet have a data management system. The purpose of this study is designing database models for land subsidence phenomenon which is consists of three stages: conceptual database design, logical, and physical. Results of the database design are stored in the PostgreSQL/PostGIS software as Database Management System. Moreover, it can be concluded that in order to build a model of spatial database requires a long stage include data inventory, data model design, and database development.Development of a spatial database model is expected to help in organizing the spatial data of land subsidence phenomenon in Indonesia.Keywords: land subsidence, DBMS, spatial database
EVALUATING THE USE OF LOW COST STRUCTURED LIGHT SCANNER FOR INDOOR MAPPING Tyas, Fitri Astika Mahargyaning
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.292 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.497

Abstract

Structured light scanner (SLS) has an opportunity to be used in 3D cadastre data collection since it has affordable capability in capturing 3D object by means of triangulation technique. However, due to its low price, it has several issues when deploying the sensor, including lightning and movement sensitivity as well as inability in capturing wide planar surface. Thus, theresult of this affordable technology needs to be evaluated in order to comply with land administration requrement, as well as to be utilised in other applications including Building Information Model (BIM). The research was accomplished by conducting five main approaches, includingindoor data collection using kinect for windows sensor, data processing, room semantic database development, BIM creation, and validation by comparing Kinect data with other data sourcing methods. It concludes that structured light scanner can be used to create small 3D model of the room with some innovation in the data collection process to overcome the problems encountered. The quality of the data captured by the sensor has reliable accuracy comparing with other three measurement methods, including Terrestrial Laser Scanner, manual tape measurement and electronic distance measurement (distometer). Keywords : Indoor mapping, structured light scanner, 3D cadastre, building information modelABSTRAKTeknologi Structured Light Scanner (SLS) saat ini mempunyai potensi yang menjanjikan untuk digunakan dalam pengumpulan data kadaster 3D.Hal ini dikarenakan sensor SLS mampu merekam obyek secara 3D dengan prinsip triangulasi dengan biaya yang relatif murah.Namun dengan biaya murah tersebut, sensor ini memiliki kelemahan yaitu sensitivitas yang tinggi terhadap pencahayaan dan pergerakan.Selain itu, sensor SLS juga tidak dapat merekam obyek datar yang relatif luas. Oleh karena itu, evaluasi perlu dilakukan dalam penggunaannya sebagai metode pengumpulan data kadaster sehingga kaidah-kaidah yang diperlukan dalam manajemen administrasi pertanahan dan dalam aplikasi lain seperti Building Information Model (BIM) dapat dipenuhi. Penelitian ini diselesaikan dengan menggunakan lima tahapan, yaitu pengumpulan data menggunakan sensor Kinect for Windows, pemrosesan data, pembangunan basis data semantik untuk ruangan, pembuatan BIM, dan validasi hasil dengan membandingkan data yang diperoleh dari sensor Kinect dengan data dari pengukuran menggunakan metode peralatan survei yang lain. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sensor SLS dapat digunakan untuk membangun model 3D untuk ruangan kecil dengan beberapa inovasi yang perlu dilakukan dalam tahap pengumpulan data untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya.Selain itu, kualitas data hasil rekaman mempunyai ketelitian yang cukup akurat jika dibandingkan dengan tiga metode pengukuran lain, yaitu Terrestrial Laser Scanner, pita ukur dan Electronic Distance Measurement (distometer).Kata kunci: Pemetaanruangan, structured light scanner, kadaster 3D, model informasi bangunan

Page 1 of 1 | Total Record : 9