cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
MORFODINAMIKA DELTA CIMANUK, JAWA BARAT BERDASARKAN ANALISIS CITRA LANDSAT Solihuddin, Tb.
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.17

Abstract

Delta Cimanuk merupakan delta dari sungai terpanjang kedua di Jawa Barat. Panjang aliran Sungai Cimanuk ± 250 km, hulunya berada di sekitar Kabupaten Garut melalui Kabupaten Sumedang dan Majalengka bermuara ke Laut Jawa di utara. Studi tentang morfodinamika Delta Cimanuk bertujuan untuk mengetahui dinamika dan evolusi Delta Cimanuk berdasarkan analisis citra landsat tahun 1991, 2001 dan 2007. Bentuk geometri Delta Cimanuk yang bertipe telapak kaki burung menunjukkan bahwa proses darat – laut lebih kuat dibandingkan dengan proses laut. Kajian morfologi menunjukkan perubahan menyolok pada lingkungan muara delta akibat pengikisan gelombang dan arus sejajar pantai. Analisis perubahan garis pantai menunjukkan proses abrasi di sekitar muara S. Cimanuk ± 56,25 m/tahun, muara S. Pancersong ± 25 m/tahun dan teluk Pancerpayang ± 12,5 m/tahun, sedangkan sedimentasi terjadi di teluk Pancersong ± 23,75 m/tahun. Proses erosi pantai mengakibatkan luas delta berkurang ± 1,6 ha/tahun. Penurunan pasokan sedimen S. Cimanuk banyak disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembuatan sudetan pada badan sungai untuk menghindari banjir, juga pembuatan bendungan untuk keperluan pengairan sawah dan irigasi. Kata kunci : erosi, sedimentasi, morfodinamika delta, analisis citra Landsat.ABSTRACTCimanuk Delta is a delta from the second longest river in West Java. The length of Cimanuk river is ± 250 km beginning at the Garut Regency through Sumedang and Majalengka going north to the Java Sea. The aim of this study is to investigate the dynamic and evolution of Cimanuk Delta based on landsat image analysis (acquisition year 1997, 2001 and 2007). Geometry of the Cimanuk Delta is a birdfoot-type delta, indicating that the fluvio-marine processes is stronger than marine processes. Morphology of the estuary environment of Cimanuk Delta has changed extremely because of wave and longshore current erosion. Coastline changes analysis indicate that erosion occurred during 1991–2007 at Cimanuk estuary with rate of ± 56,25 m/year, Pancersong estuary with rate of ± 25 m/year and Pancerpayang bay with rate of ± 12,5 m/year. Meanwhile, sedimentation occurred at Pancersong bay with rate of ± 23,75 m/year. The area of delta shows that retrogradation occurred about ± 1,6 ha/year. The degradation of sediment supply dominantly caused by human artificial. Canal and dam were built on Cimanuk River to avoid flood hazard and farm land watering and irrigation.Keywords: erosion, sedimentation, delta morfodynamic, Landsat image analysis
POLA SPASIAL SEBARAN MATERIAL DASAR PERAIRAN DI TELUK BUNGUS, KOTA PADANG Yulius, Yulius; Kusumah, G; Salim, H.L.
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.811 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.22

Abstract

Teluk Bungus memiliki sumberdaya alam yang sangat potensial dengan posisinya yang sangat strategis dekat dengan ibukota provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran material dasar perairan dengan menggunakan SIG. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis spasial.Berdasarkan hasil analisis secara spasial, diperoleh bahwa untuk sebaran material dasar perairan pada daerah penelitian dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu: (1) pasir dengan areal seluas 64,66 hektar, (2) karang berpasir dengan areal seluas 143,85 hektar, (3) pasir berlumpur dengan areal seluas 1145,14 hektar dan (4) berbatu dengan areal seluas 30,07 hektar. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis (SIG), material dasar perairan, Teluk Bungus. ABSTRACT Bungus Bay has potential natural resources with strategic position near the capital of West Sumatra Province. The study aims to define sub-surfacesubstrates using GIS technique. The methods used in this study is spatial analysis using GIS.The result shows that sub-surface substratesat Bungus Bay area can be divided into four types, these are: (1) sand with area of 64,66 hectare, (2) coral sandwith area of 143,85hectare, (3) muddy sandwith area of 1145,14hectare and (4) rocky with area of 30,07hectare. Keywords: Geographic Information System (GIS), bottom substrates, Bungus Bay.
Front Cover GEOMATIKA Vol. 22 No. 1 geomatika, redaksi
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.278 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.751

Abstract

DINAMIKA SPASIAL TERUMBU KARANG PADA PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT DI PULAU LANGKAI, KEPULAUAN SPERMONDE Nurdin, Nurjannah; Prasyad, Hermansyah; A.S., Muh. Akbar
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.853 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.199

Abstract

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mengevaluasi perubahan ekosistem dasar perairan dangkal secara multitemporal merupakan bagian dari informasi geospasial yang bermanfaat sebagai acuan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Kepulauan Spermonde memiliki tingkat keanekaragaman terumbu karang yang cukup tinggi. Namun dalam kurun waktu 12 tahun terakhir terjadi penurunan tingkat penutupan karang hidup dan keragaman jenisnya sebanyak 20%. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran terumbu karang pada dasar perairan dangkal dan menganalisis perubahan luasannya dalam kurun waktu 14 tahun (1997-2011) di Pulau Langkai, Kepulauan Spermonde. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat (TM dan ETM+) akuisisi 24 Oktober 1997, 4 November 2004 dan 5 September 2011 dengan kondisi pasang surut yang sama. Pengolahan citra Landsat dilakukan dengan melakukan perbaikan citra (gap fill) pada citra Landsat ETM+ dengan menggunakan perangkat lunak Frame and Fill. Algoritma yang digunakan adalah Algoritma Lyzenga yang diintegrasikan dengan hasil pengecekan lapangan (ground truth) untuk menghasilkan citra baru. Persentase perubahan luas tutupan karang hidup di Pulau Langkai berdasarkan citra terklasifikasi yakni dari tahun 1997 ke tahun 2004 terjadi penurunan luas sebesar 24,27% sedangkan dari tahun 2004 ke tahun 2011 terjadi peningkatan luas sebesar 14,83%.Kata Kunci : geospasial, landsat, perbaikan citra, Algoritma Lyzenga, terumbu karangABSTRACTUtilization of multitemporal remotely sensed imageries to evaluate ecosystem changes in shallow waters is a useful geospatial information to be used as a reference in coastal areas and small islands management in Indonesia. Spermonde Archipelago has a high diversity of corals, however, during the last 12 years there has been a decreasing in the coverage of living coral cover and coral diversity at about 20%. The aims of this study were mapping the distribution of coral reefs in shallow water and analyzing the changes on coral reef during 14 years (1997-2011) in Langkai Island, Spermonde Archipelago. The data used were Landsat (TM and ETM+) with acquisition dates of 24th October 1997, 4th November 2004 and 5th September 2011. Landsat image processing included image gap filling for Landsat ETM+ image using Frame and Fill software and application of Lyzenga Algorithm combined with ground truth to obtain a new image. Based on the image classification in Langkai Island from 1997 to 2004, the percentage of living coral has reduced by 24.27 %, and then increased by 14.83% during the period of 2004 to 2011.Keyword : geospatial, landsat, gap fill, Lyzenga Algorithm, coral reef
EVALUASI KETERSEDIAAN INFORMASI GEOSPASIAL UNTUK PEMILIHAN WILAYAH POTENSIAL BUDIDAYA RUMPUT LAUT Hartini, Sri
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.27

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditi yang bernilai ekonomis tinggi.Produksirumput laut bisa ditingkatkan dengancara budidaya.Pemilihan lokasi yang potensial untuk budidaya rumput laut membutuhkan informasi geospasial yang memadai.Paper ini membahas ketersediaan dan kondisi informasi geospasial untuk pemilihan wilayah yang potensial untuk budidaya rumput laut secara nasional.Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi geospasial untuk mencari wilayah yang potensial untuk budidaya rumput laut.Wilayah potensial budidaya rumput laut diidentifikasi berdasarkan parameter fisik dan oseanografi berdasarkan habitat dan pertumbuhan rumput laut.Kata kunci:rumput laut, informasi geospasialABSTRACTSeaweed is among the most economical marine culture commodities. The seaweed production could be boosted by culture.Selecting area suitable for seaweed culture requires proper geospatial information. This paper discusses and assesses the availability and condition of geospatial information for seaweed culture purpose nationally. This assessment aims to identify the needs of geospatial information to find suitable location seaweed culture based on physical and oceanographic parameters derived from seaweed habitat and growth.Keywords: seaweed, geospatial information
ESTIMASI KETEBALAN SEDIMEN DENGAN ANALISIS POWER SPECTRAL PADA DATA ANOMALI GAYABERAT Apriani, Mila; Julius, Admiral Musa; Yusuf, Mahmud; Heryanto, Damianus Tri; Marsono, Agus
GEOMATIKA Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1265.566 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-2.649

Abstract

ABSTRAK Penelitian dengan analisis power spectral data anomali gayaberat telah banyak dilakukan untuk estimasi ketebalan sedimen. Dalam studi ini penulis melakukan analisis spektral data anomali gayaberat wilayah DKI Jakarta untuk mengetahui kedalaman sumber anomali yang bersesuaian dengan ketebalan sedimen. Data yang digunakan berupa data gayaberat dari BMKG tahun 2014 dengan 197 lokasi titik pengukuran yang tersebar di koordinat 6,08º-6,36º LU dan 106,68º-106,97º BT. Studi ini menggunakan metode power spectral  dengan mentransformasikan data dari domain jarak ke dalam domain bilangan gelombang memanfaatkan transformasi Fourier. Hasil penelitian dengan menggunakan metode transformasi Fourier  menunjukkan bahwa ketebalan sedimen di Jakarta dari arah selatan ke utara semakin besar, di sekitar Babakan ketebalan diperkirakan 92 meter, sekitar Tongkol, Jakarta Utara diperkirakan 331 meter. Kata kunci: power spectral, anomali gayaberat, ketebalan sedimen ABSTRACT Studies of spectral analysis of gravity anomaly data have been carried out to estimate the thickness of sediment. In this study the author did spectral analysis of gravity anomaly data of DKI Jakarta area to know the depth of anomaly source which corresponds to the thickness of sediment. The data used in the form of gravity data from BMKG 2014 with 197 locations of measurement points spread in coordinates 6.08º - 6.36º N and 106.68º - 106.97º E. This study used the power spectral method by transforming the data from the distance domain into the wavenumber domain utilizing the Fourier transform. The result of the research using Fourier transform method shows that the thickness of sediment in Jakarta from south to north is getting bigger, in Babakan the thickness of the sediment is around 92 meter, in Tongkol, North Jakarta is around 331 meter. Keywords: power spectral, gravity anomaly, sediment thickness
ANALISIS SPASIAL SEBARAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Nahib, Irmadi
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.095 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.204

Abstract

Ketahanan pangan merupakan salah satu aspek kehidupan masyarakat yang semakin penting, sekarang dan mendatang. Salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan. Aspek produksi menjadi salah satu aspek terpenting dalam ketersediaan pangan. Informasi tentang ketersediaan pangan di suatu daerah sangat penting kaitannya dengan kecukupan pangan, rawan pangan dan masalah sosial lainnya. Ketahanan pangan suatu wilayah dipengaruhi oleh tingkatan kesejahteraan masyarakatnya dan juga produksi pangan. Kabupaten Lebak adalah kabupaten yang memiliki desa miskin terbanyak di Provinsi Banten. Lebih dari 50% desa di Kabupaten Lebak termasuk dalam kategori desa miskin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial sebaran kemiskinan di Kabupaten Lebak dan menganalisis pola spasial sebaran ketahanan pangan di Kabupaten Lebak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebanyakan desa di Kabupaten Lebak termasuk dalam kategori kemiskinan ”sedang” yaitu sejumlah 191 desa (63,25 %), dalam kategori kemiskinan “rendah” sejumlah 60 desa (19,87 %), dan dalam kategori kemiskinan “tinggi” sejumlah 51 desa (16,89%). Kondisi kemiskinan penduduk juga berpengaruh pada ketahanan pangan. Berdasarkan ketahanan pangan, desa di Kabupaten Lebak didominasi pada kategori “sedang” yaitu sejumlah 168 desa (55,13 %), 49 desa (16,23 %) dalam kategori “rendah” dan 28 desa (28,08 %) pada kategori “tinggi”. Pola distribusi dari area ketahanan pangan di Kabupaten Lebak adalah mengelompok (kluster).Kata Kunci: iklim ekstrim, analisis spasial, ketahanan pangan, kemiskinanABSTRACTFood security is one of important aspects in current society life and in the future. One of the important pillars in developing food security is food production. Information on food availability in a particular area is very important especially that related to food security, food insecurity and other social issues. Food security is affected by level of food production and welfare of society. Lebak Regency is the regency that has the most impoverished villages in Banten Province. More than 50 % of the villages in Lebak Regency fall in the category of impoverished village. This study aimed to: (1) analyse spatial distribution pattern of poverty in Lebak Regency, and (2) analyse distribution pattern of food security in Lebak Regency. The results of this study indicated that most villages in Lebak included in the poverty category of "medium", as accounted for 191 villages (63.25 %), in the poverty category of "low" accounted of 60 villages (19.87 %), and in the poverty category of "high" accounted for 51 villages (16.89 %). The poverty condition of the people also affected the food security. Based on food security analysis, the villages in Lebak Regency was dominated by the category of "medium" as accounted for 168 villages (55.13 %), 49 villages (16.23 %) in the category of "low", and 28 villages (28.08 %) in the category of "high". The pattern of area distribution of the food security in Lebak generally was clustered.Keywords: extreme climate, spatial analysis, food security, poverty
KONTROL KUALITAS DALAM ALUR PRODUKSI KARTOGRAFI PETA RBI DI BADAN INFORMASI GEOSPASIAL Hakim, Yofri Furqani; Riqqi, Akhmad; Harto, Agung Budi
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.32

Abstract

Alur produksi kartografi dalam sistem pengelolaan informasi geospasial terpadu yang menghasilkan Peta RBI memerlukan mekanisme kontrol yang selama ini tidak dijalankan. Selain itu, adanya kebutuhan kualitas Peta RBI sesuai amanat pasal 49 ayat (1) dan (2) Undang-undang No. 4 tahun 2011 yang mengharuskan adanya penyusunan prosedur kontrol kualitas dan penjaminan kualitas (QC/QA) namun selama ini belum secara eksplisit dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar produksi kartografi Peta RBI yang ada dalam Dokumen SNI No. 6502.3-2010, tentang Spesifikasi Penyajian Peta RBI Skala 1 : 50.000, tidak dapat dijadikan acuan dalam penyusunan prosedur kontrol kualitas dan penjaminan kualitas (QC/QA). Dokumen Katalog Unsur Geografi (KUG) juga harus dilakukan perbaikan mengenai kodefikasi unsur geografis dan penambahan atribut simbol. Sistem indeks Peta RBI skala besar yang ada dalam dokumen Spesifikasi Teknis Penyajian Peta RBI Skala Besar (SPR 77) harus disusun ulang secara sistematis cakupan dan penamaan/penomorannya. Prosedur kontrol kualitas (QC) disusun pada 9 tahapan produksi kartografi dan penjaminan kualitas (QA) dilakukan berdasarkan hasil kontrol kualitas pada 9 tahapan produksi kartografi Peta RBIKata kunci: kartografi, peta RBI, standar dan prosedur kartografi, kontrol kualitas, penjaminan kualitasABSTRACT     Cartographic production line within an integrated geospatial information management system that produces Topographic Map requires a control mechanism. In addition, the need for the quality of Topographic Map of Indonesia, which is amandated by Article 49 paragraph (1) and (2) of Act No.4 In 2011, requires also quality control and quality assurance (QC/QA) procedures however it has not been explicitly implemented. The results of this study showed that the standards of cartographic production of Indonesian Topographic Map in the SNI (Standar Nasional Indonesia) Document No.6502.3-2010, about Presentation Specifications of Indonesian Topographic Map Scale 1:50.000, can not beused as a reference in the preparation of quality control and quality assurance (QC/QA) procedures. Document of KUG (Katalog Unsur Geografi) should also be improved on geographic features codefication and addition of attributes table for the feature symbols. Large scale Indonesian Topographic Map Index existing in the technical specifications document of Large Scale Topographic Maps Presentation (SPR 77) should be rearranged systematically both the coverage distribution and the naming or numbering. Quality control procedures (QC) arranged in 9 stages of cartographic production line and quality assurance (QA) is performed based on the results of quality control procedures.Keywords: cartography, indonesian topographic map, cartographic standards and procedures, quality control, quality assurance
PENERAPAN KAWASAN KKOP BERDASARKAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DI KABUPATEN TANATORAJA Purwanto, Eko Hadi; Kamilah, Nurul
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1138.951 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.209

Abstract

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tanatoraja Tahun 2011-2030 terdiri atas beberapa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). RPJMD pertama terdiri atas lima tahun yaitu Tahun Anggaran 2011- 2015. Pada anggaran RPJMD Tahun 2012 dialokasikan salah satunya untuk kegiatan pembuatan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Bandar Udara Baru dan Studi Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandar Udara Baru Pesawat Terbang Berbadan Besar. Karena kegiatan KKOP Tahun 2011 belum dilaksanakan, maka kegiatan RTBL Tahun Anggaran 2012 tidak dapat dilaksanakan. Oleh karena itu harus dibuat materi yang memenuhi penyelesaian kegiatan dengan mengacu pada ketentuan Keputusan Menteri Perhubungan No. Km 55 Tahun 2010 tentang KKOP di sekitar Bandar Udara Lombok Baru. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan pengumpulan data, analisis masalah, dan perancangan sketsa usulan, dan kunjungan ke lapangan. Hasil yang diperoleh ialah delineasi built up area untuk penempatan tapak RTBL.Kata Kunci : KKOP, RTBL, struktur ruang, ketinggian bangunanABSTRACTRegional Spatial Planning of Tanatoraja Regency consists of several years from 2011 to 2030 Medium Term Development Plan (RPJMD). The first consists of a five-year plan in which the fiscal year 2011-2015. In 2012 one among the budget allocated on RPJMD was for developing a Planning for Building and Environment (PBE) New Airport Zone and Area Studies Operational Flight Safety (SOFS) based on Regulation for New Airport for Large Aircrafts. However KKOP activities in 2011 have not been implemented thus causing RTBL fiscal year 2012 could not be implemented. Therefore, it must be made of material that meets the activity‟s completion with reference to the provisions of the Decree of the Minister of Transportation No. Km 55 of 2010 on KKOP around Lombok Baru Airport. The research method consisted of data collection, problem analysis, design sketches and proposals, and field work. The result was the delineation of a built up area for the placement of tread RTBL.Keywords: SOFS, PBE, spatial structure, building height limit
KARAKTERISTIK PASANG SURUT LAUT DI RAJA AMPAT, INDONESIA Wismadi, Tunjung; Handayani, Sri
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.37

Abstract

Pemahaman mengenai karakteristik wilayah perairan, khususnya yang terkait dengan pasang surut air laut merupakan salah satu kebutuhan utama dalam pengelolaan wilayah pesisir. Penulisan ini bertujuan menghitung delapan konstanta harmonik pasang surut utama di Pelabuhan Waisai, Raja Ampat. Data yang digunakan adalah data pasang surut tahun 2013 dengan panjang data satu tahun. Jika delapan konstanta harmonik utama ini diketahui, maka datum tinggi dapat didefinisikan dengan baik. Pada akhirnya, pemetaan garis pantai dan rencana tata ruang wilayah pesisir akan lebih presisi. Berdasarkan hasil pengolahan konstanta harmonik tersebut diperoleh informasi bahwa karakteristik pasang surut di perairan ini adalah pasang surut campuran condong harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal) dengan nilai datum pasang surut yang telah diikatkan kepada benchmark (BM) pasang surut, yaitu Mean Sea Level (MSL) = -282.0868 cm, nilai Mean High Water Spring (MHWS) = -211.8392 cm, nilai Mean Low Water Spring (MLWS)= -352.334 cm, nilai Highest Astronomical Tide (HAT) = -161.857 cm, nilai Lowest Astronomical Tide (LAT) = -402.317 cm.Kata Kunci: pasang surut, karakteristik pasang surut, Raja Ampat, datum pasang surutABSTRACTThe understanding of the water characteristics, especially the tidal phenomenon, is one of the major needs of coastal area management. This research’s objective is to compute the eight main tidal harmonic constituents at Port Waisai, Raja Ampat. The data used in this study is the 2013 tidal data with a year data length. If these harmonic constituents known, then the vertical datum could be defined as well. Finally we can get a more precise coastline mapping and coastal area planning than before. Based on these computed harmonic constituents, the tidal characteristic in this area could be categorized as mixed tide prevailing semi diurnal. The tidal datum values relative to the tidal benchmark are -282.0868 cm for MSL, -211.8392 cm for MHWS, -352.334 cm for MLWS, -161.857 cm for HAT and -402.317 cm for LAT.Keywords: tidal, tidal characteristics, Raja Ampat, tidal datum