cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
PENENTUAN ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN SEBARAN KLOROFIL-A Syetiawan, Agung
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.828 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.482

Abstract

Potensi perikanan di Provinsi Lampung cukup berlimpah dengan luas perairan laut (12 mil) 24.820 km2 (41,2% dari total luas keseluruhan) termasuk didalamnya luas perairan pesisir 16.625,3 km2. Namun, potensi perikanan yang cukup besar itu belum dapat memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat khususnya nelayan karena belum terkelola dengan baik. Kandungan klorofil-a di perairan dapat dijadikan sebagai ukuran banyaknya fitoplankton pada suatu perairan tertentu dan dapat digunakan sebagai petunjuk produktivitas perairan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan lokasi zona penangkapan ikan berdasarkan sebaran klorofil-a. Penentuan sebaran klorofil-a untuk penentuan zona potensi penangkapan ikan menggunakan data penginderaan jauh citra SPOT-4 dengan daerah kajian penelitian di perairan laut Provinsi Lampung. Pemilihan kanal citra yang sesuai untuk mengembangkan model algoritma dilakukan dengan cara meregresikan data digital dari kanal tunggal yang potensial, kemudian menduga konsentrasi klorofil dengan hasil pengukuran insitu dari parameter kualitas air tersebut. Berdasarkan hasil klasifikasi yang telah dilakukan, daerah Lampung memiliki jenis klorofil-a dengan klasifikasi konsentrasi tinggi dan sangat tinggi. Untuk konsentrasi tinggi memiliki luas area sebesar 48.897 Ha sementara konsentrasi sangat tinggi memiliki luas sebesar 30.313,04 Ha. Secara keseluruhan, sebaran klorofil-a di perairan Lampung lebih tinggi konsentrasinya pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai. Lokasi perairan dengan kandungan klorofil-a tinggi dapat diindikasikan di perairan tersebut kaya dengan ikan. Plankton yang mengandung klorofil-a tersebut merupakan indikator ketersediaan pangan bagi ikan di laut.Kata kunci: zona potensi penangkapan ikan, klorofil-a, penginderaan jauhABSTRACTPotential fisheries in the province of Lampung is quite abundant with sea area (12 miles) 24.820 km2 (41,2% of the total area) including 16.625,3 km2 area of coastal waters. However, the fisheries potential is large enough can not provide a great benefit to the community, especially fishermen because it is not managed properly. The content of chlorophyll-a in the water can be used as a measure of the amount of phytoplankton in certain waters and can be used as a guide marine productivity. This study was conducted to determine the location of fishing zones based on distribution of chlorophyll-a. Determining the distribution of chlorophyll-a for the determination of potential fishing zones using remote sensing imagery SPOT-4 with the area of research studies on marine waters Lampung Province. The selection of the appropriate channels to develop the image of a model algorithm was done by regressing digital data of a single channel potential, suspected chlorophyll concentration in situ measurement results of the water quality parameters. Based on the results of the classification has been done the area of Lampung have a kind of chlorophyll-A with the classification of high and very high concentrations. For high concentration has an area of 48.897 hectares while the very high concentration has an area of 30.313,04 hectares. Overall, the distribution of chlorophyll-A in the waters of Lampung higher concentrations in coastal waters, as well as low in offshore waters. Location waters with a high content of chlorophyll-a may be indicated in these waters rich with fish. Plankton containing chlorophyll-a is an indicator of the availability of food for the fish in the seaKeywords: potential fishing zones, chlorophyll-a, remote sensing
EVOLUSI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI S. Tikunov, Vladimir
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-1.179

Abstract

Geoinformatics is described as a scientific and technical complex integrating the branch of scientific knowledge, the appropriate technology and the applied, or productive, activities concerned with the development and implementation of geographical information systems. Four stages of geo-informatics evolution are discussed, and its prospects are outlined in brief.Keywords: geographical information systems, GIS evolution, periods of development, decision support systems, future trends. ABSTRAKGeoinformatika dideskripsikan sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang komplek yang mengintegrasikan cabang pengetahuan keilmuan, teknologi tepat guna dan terapan, atau aktivitas produktif yang berhubungan dengan pembangunan dan implementasi sistem informasi geografis. Ada empat tahapan evolusi geoinformatika yang didiskusikan dan prospeknya dijelaskan secara singkat dalam artikel ini.          Kata kunci: Sistem Informasi Geografi, Evolusi SIG, periode pembangunan, system pendukung keputusan, tren masa depan.
EKSTRAKSI KEDALAMAN LAUT MENGGUNAKAN DATA SPOT-7 DI TELUK BELANGBELANG MAMUJU (THE BATHYMETRY EXTRACTION USING SPOT-7 DATA AT THE BELANGBELANG BAY WATERS MAMUJU) Arya, Arya; Winarso, Gathot; Santoso, Agus Iwan
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.928 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.423

Abstract

Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL merupakan salah satu lembaga yang memiliki tugas menyediakan Peta Laut untuk kepentingan keselamatan pelayaran. Teknologi penginderaan jauh memberikan peluang untuk pemetaan batimetri perairan dangkal secara efektif dan efisien, terutama di daerah yang memiliki tingkat perubahan kedalaman yang relatif cepat. Tulisan ini membahas studi akurasi ekstraksi kedalaman laut dengan metode Lyzenga dan modifikasinya dengan menggunakan Data SPOT-7, sehingga pada penelitian ini dikaji tingkat ketelitian batimetri yang diekstrak menggunakan Data SPOT-7 dengan resolusi spasial 6 meter di Perairan Teluk Belangbelang Mamuju Sulawesi Barat. Data lapangan yang digunakan adalah data survei hidrografi untuk pendaratan amphibi di Teluk Belangbelang Mamuju. Metode yang dikaji dalam penelitian ini adalah metode yang dikembangkan oleh Kanno dkk. (2011) yang dimodifikasi dari Metode Lyzenga (2006) yang terdiri dari 4 jenis yaitu Lyzengga (2006) murni (LYZ), KNW dengan pengembangan dari LYZ dengan penyeragaman asumsi pengaruh kolom air dan atmosfir, SMP yaitu dengan menambahkan regresi semi-parametrik, STR (Spatial Trend) dengan mengkoreksi faktor error pada koordinat pixel, dan TNP yaitu gabungan dari ketiga metode antara lain: KNW, SMP dan STR. Hasil terbaik dengan ketelitian hampir 70% pada keseluruhan data didapatkan melalui metode TNP pada orde 2. Begitu juga persentase terkecil yang tidak masuk orde ketelitian adalah metode TNP dengan nilai 30,32%. Ketelitian pendugaan kedalaman dengan metode STR untuk kedalaman <0 m adalah 0,11 m, 0 - 2 m adalah 0,25 m, 2,1 - 5 m adalah 0,68 m.
Susunan Dewan Redaksi, Daftar Isi, Lembar Abstrak dan Pengantar Redaksi Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.773 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.593

Abstract

.
EVALUASI LAHAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI POLA LAHAN KERING MENGGUNAKAN AUTOMATED LAND EVALUATION SYSTEM (ALES) Widiatmaka, Widiatmaka; Mulia, S.P.; Hendrisman, M
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.499 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.184

Abstract

Sumberdaya lahan di Indonesia sangat beragam, dengan tingkat kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas yang beragam pula. Karena itu, diperlukan perencanaan penggunaan lahan –termasuk di lahan-lahan daerah transmigrasi- untuk menjamin pola budidaya yang paling sesuai secara fisik dan memberikan hasil yang optimal secara ekonomis. Evaluasi lahan merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi komoditas yang paling cocok untuk diushakan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi lahan fisik dan ekonomik di lokasi transmigrasi Rantau Pandan SP-2, Provinsi Jambi menggunakan sistem evaluasi lahan otomatis (Automated Land Evaluation System (ALES). Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk merekomendasikan penggunaan lahan yang paling sesuai secara fisik maupun ekonomik di lokasi transmigrasi lahan kering. Hasil studi menunjukkan bahwa dominasi kelas kesesuaian lahan untuk 9 (sembilan) komoditi adalah S3. Pembatas yang paling dominan adalah bahaya erosi dan retensi hara. Pembatas yang dominan pada kesesuaian lahan adalah bahaya erosi, ketersediaan air dan temperatur. Hasil evaluasi lahan ekonomi menunjukkan bahwa secara umum komoditas yang paling menguntungkan untuk diusahakan pada kesesuaian lahan ini adalah tomat. Rekomendasi yang diberikan berdasarkan hasil analisis tidak selalu sejalan dengan peruntukan lahan pada pola transmigrasi lahan kering. Meskipun demikian, hasil ini disarankan untuk diterapkan, baik dengan pertimbangan konservasi lahan maupun pertimbangan keuntungan ekonomi dan kesejahteraan petani.Kata Kunci: Kesesuaian lahan, pemetaan, pertanian lahan kering, transmigrasiABSTRACTLand resources in Indonesia are highly variable in the term of their suitability to support the cultivation of commodities. To that end, landuse planning -including in transmigration area- is needed to ensure the utilization of the most appropriate pattern of cultivation, which gives the highest yield biophysically, and economically profitable. Land evaluation is a method to identify the suitability of land for various use. This study aimed to physically and economically evaluate land suitability of transmigration settlement units for different commodities by using Automated Land Evaluation System (ALES). The evaluation results are then used to recommend the most appropriate commodity, either physically and economically, on dry land transmigration site. The study was conducted in Rantau Pandan SP-2, Jambi Province.This studyintegratedArc-View GIS with ALES and expert knowledgein land suitability analysis. The results showed that in the nineobserved agricultural commodities, the land suitability dominant class isS3 (marginally suitable), with erosion and nutrient retention as the most dominant limiting factors. Recommendations weregiven based on the analysis results, which were not always in line with the pattern of land use on dry land transmigration. Nonetheless, these results are suggested to be applied, either byconsidering land conservationor considering economic benefit and welfare of the farmers.Keywords: Land suitability, mapping, dryland farming, transmigration site
GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM APPLICATION TO ANALYZE TOLERATED EROSION FLOW IN MAMASA CATCHMENT AREA Faridah, Sitti Nur
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.581 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.7

Abstract

Geographic information system currently used in various fields, such as land suitability mapping, erosion studies and transmission network planning. To study the estimated amount of erosion of soil loss can be easily obtained by calculating and overlaying maps which are components of Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE). GIS applications of the results obtained less than 35% of the watershed has Mamasa erosion rate is still tolerable, which is the region with the use of forest land and paddy fields, with a value of TSL 22.17 tons/ha/yr. Keywords: GIS. Erosion, Watershed Mamasa  ABSTRAK Sistem informasi geografis saat ini banyak digunakan diberbagai bidang, seperti pemetaan kesesuaian lahan, studi erosi dan perencanaan jaringan transmisi. Untuk studi erosi estimasi besarnya kehilangan tanah dapat dengan mudah diperoleh dengan mengkalkulasi dan overlay peta yang merupakan komponen Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE). Dari hasil aplikasi SIG diperoleh kurang dari 35 % wilayah DAS Mamasa mempunyai laju erosi yang masih dapat ditoleransi, yang terdapat pada wilayah dengan penggunaan lahan hutan dan persawahan, dengan nilai TSL 22,17 ton/ha/thn. Kata Kunci : SIG. Erosi , DAS Mamasa
EFEKTIFITAS PEMETAAN PARTISIPATIF DAN STUDI TENURIAL UNTUK MEMPERTEGAS ASET RUANG DESA STUDI KASUS: DS. SUNGAI BATANG-KAB. OGAN KOMERING ILIR Mayasari, Wyda Swestika
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.416 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.503

Abstract

                                                                                         ABSTRAKEkspansi perusahaan pemasok kayu dari HTI (Hutan Tanaman Industri) untuk kebutuhan bubur kertas (pulp) semakin besar setiap tahunnya. Deforestasi wilayah hutan menjadi penyebab degadrasi lingkungan yang berkepanjangan. Tak hanya itu, HTI seringkali memunculkan konflik lahan bagi masyarakat yang ada di sekitar wilayah konsesi. Konflik lahan seringkali muncul karena adanya ketidak-jelasan batas wilayah desa terhadap konsesi perusahaan HTI, dan juga kurangnya komunikasi antara kedua belah pihak dalam penyelesaian masalah lahan. Hal ini diperburuk lagi dengan kondisi bahwa desa sebagai sebuah unit dari wilayah tidak memiliki batas wilayah secara definitif. Selanjutnya terdapat berbagai macam kerentanan masyarakat dalam menghadapi ekspansi perusahaan jika didudukkan dalam kerangka kehidupan berkelanjutan (penilaian dari 5 jenis aset). Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui aset ruang Desa Sungai Batang dari perspektif pentagonal aset. Selain itu, tujuan kedua penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pemetaan partisipatif dan studi tenurial di Desa Sungai Batang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer dan data sekunder, yang mana peneliti terlibat dalam proses grandtour, observasi dan wawancara kepada orang-orang kunci. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus Desa Sungai Batang sebagai salah satu desa yang berada di dalam batas wilayah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang HTI. Hasil dari penelitian ini, apabila Desa Sungai Batang didudukkan dalam kerangka penghidupan berkelanjutan, memiliki potensi besar dalam aset modal sosial dan modal alam. Sayangnya, kedua modal tersebut belum ditegaskan dengan batasan wilayah yang jelas sehingga sering terjadi ketidaksepahaman dan kecenderungan eksploitasi antara perusahaan kepada masyarakat.Kata kunci: desa sungai batang, batas wilayah, sistem tenurial                                                                                        ABSTRACTThe expansion of  wood supply chain in HTI or Industrial Forest Plantation for the needs of pulp is getting bigger every year. Deforestation causes prolonged relegation. HTI also create a land conflict to people surrounding the concession. Land conflict often arise by obscurity of village boundaries within HTI concession, and also the lack communication between two parties in resolution of land issues. It is worsened by village condition as one of unit of the area does not have definitive boundaries yet.There is a wide range of social vulnerability faced the expansion of the company, in terms of sustainable livelihoods (assesing 5 types of assets). The purpose of this research is to determine Sungai batang space’s assets from the pentagon asset perspective. In addition, the second purpose is to determine the effectivennes of participatory mapping and tenure study in Sungai Batang village. This research was conducted using primary data and secondary data, which researchers involved in the process grandtour, observation and interviews with key persons. This study uses case study method Sungai Batang as one of the villages that lies within the boundaries of a company as Industrial Forest Plantation.The results of this study, as Sungai Batang village assesed in terms of sustainable livelihoods, has great potential in social capital and natural capital. Unfortunately, both the capital have not been confirmed with the clear boundaries it caused some disagreement and exploitation tendency between companies to the community.Keywords: sungai batang village, boundaries, tenure system
PERAN DATA GEOSPASIAL UNTUK IDENTIFIKASI SEBARAN KETERSEDIAAN AIR DAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA DI KABUPATEN LOMBOK BARAT-NTB Sunarto, Kris
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.189

Abstract

Ketersediaan air dan pakan ternak merupakan syarat pokok dalam keberhasilan pembudidayaan ternak pada umumnya.Ternak ruminansia lebih memerlukan air dan hijauan maupun olahan limbah pertanian.Informasi potensi wilayah tentang ketersediaan air dan pakan ternak dapat didata secara geospasial. Dengan menggunakan teknik SIG dan dengan metode analisis dan interpretasi citra penginderaan jauh,  koleksi, kompilasi, reformat, dan standardisasi data, maka identifikasi sebaran ketersediaan air dan pakan ternak dapat diketahui. Maksud kajian adalah penyiapan informasi tentang lokasi potensi dan ketersediaan air serta bahan pakan ternak ruminansia guna pengembangan pembudidayaan pertanian peternakan wilayah kajian.Hasil kajian berupa beberapa peta tematik terstandar, peta-petaketersediaan air dan bahan pakan ternak wilayah Kabupaten Lombok Barat berserta data luasan.Data dan informasi Geospasial tersebut dapat digunakan untuk kajian lebih lanjut baik pengembangan pembudidayaan ternak maupun tanaman pakan ternak serta bahan pangan pada umumnya untuk program ketahanan pangan tingkat daerah maupun tingkat nasional.Kata kunci: Data geospasial, ketersediaan air dan pakan ternak, Budidaya pertanian peternakan.ABSTRACTWater and fodder availability is a basic requirement  for livestock farming success. Ruminant livestock requires more water, forage, and processed agricultural waste as their primary feed. Information about the potential area where water and fodder are available could be geo-spatially recorded and managed. By using GIS techniques, remote sensing imagery analysis and interpretation, as well as data collection compilation, reformation and standardization, water and fodder availability and distribution can beidentified .The study results standardized thematic maps, availability maps of water and fodderin Lombok Barat Regency. These geospatial data and information can be used for further studies on the development of livestock breeding and fodder crops, and foodstuffs in general for the food security program at regional and national level. Keywords: geospatial data, the availability of water and fodder, raising livestock farming
EKSTRAKSI KANDUNGAN AIR KANOPI DAUN TANAMAN PADI DENGAN DATA HYPERSPECTRAL Wibowo, Agus; Ratnasari, Dian; Sukojo, Bangun Muljo; Harianto, Teguh; Djajadihardja, Yusuf S.
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.784 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.12

Abstract

The spectral reflectance of leaves from several paddy stumps in irrigated rice area of Indramayu - West Java Province was measured with field spectrometer which has wavelength range 350-2500 nm and spectral resolution of 1 nm. The measurement was performed from a distance of 10 cm (FS10) and 50 cm (FS50) of rice leaf canopy surface. Measurement point is selected such that represent different stages of rice growth i.e. vegetative, reproductive and ripening. Meanwhile, a airborne survey with hyperpectral mapper (HYMAP) sensor is done over the same area. The HYMAP sensor has wavelength length from 400-2500nm, 128 channels, 10-20 nm spectral resolution, and 4.5 m spatial resolution. Clumps of rice that has been measured withdrawn and separated into the leaf, stem and panicle. Those sample are weighed as fresh weight and then dried in the laboratory until the temperature of 60 ° C. The canopy water content is the difference between fresh weight and dry weight. Linear regression modeling is performed to find the relationship between canopy water content (CWC) with water index (R900/R970) and the normalised difference water index (R860-R1240)/(R860-R1240). To obtain a good model of cross-validation process is carried out by separating 30% of data randomly for validation and the remaining 70% is used to build the regression model. Furthermore, the resulting model is validated with 30% of data, good model selected by the criteria of a maximum of R2 model and the RMSE of cross validation (RMSEVC) minimum. Selected regression model was applied to the data HYMAP to create distribution maps of canopy water content. Results show that both spectral indices shows a positive correlation and also sensitive to changes in water content that make the detection of canopy water content is possible. Selected model that can be used are (1) CWC = 13078.0 * WI - 13183.00 (R2 = 0:58, RMSECV = 499.13) and (2) CWC = 7157.4 * NDWI + 396.26 (R2 = 0:51, RMSECV = 640.84). Selected model is implemented with HYMAP data to produce a canopy water content distribution map. The result shows that both spectra indices has a negative value that represent a dry land. High spectral indices value also identified in a vegetative growth stage which is sparse rice canopy and mixed with water or soil background. Wider implementation should be done cautiously and need improvements to accommodate the level of the leaf canopy cover.Keywords: Remote Sensing, Hyperspectral, Paddy/Rice, Canopy Water Content, HYMAP, Field Spectrometer.
PEMODELAN 3 DIMENSI UNTUK BANGUNAN DI KAWASAN PUSPIPTEK, SERPONG Pramono, Gatot Haryo; E, Juniati; Y, Octora
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2600.542 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.194

Abstract

Pusat Penelitian limu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong, Tangerang, Banten, merupakan salah satu sentra kegiatan riset dan penelitian di Indonesia. Aktifitas di Puspiptek perlu diketahui oleh pihak yang terkait dengan penelitian dan masyarakat luas untuk meningkatkan pemanfaatan hasil riset. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji proses pembuatan model 3 dimensi dari fasilitas di kawasan Puspiptek agar dapat diakses oleh publik. Tahapan dalam penelitian ini adalah pengambilan data dan informasi bangunan, persiapan, pembangunan model dan mengunggah model ke Google Warehouse. Metode Extruded Footprint dipilih dalam proses pemodelan. Model 3 dimensi yang dihasilkan dapat diakses oleh publik sehingga keberadaan Puspiptek semakin diketahui oleh masyarakat dan secara tidak langsung meningkatkan pelaksanaan dan pemanfaatan penelitian.Kata Kunci: Pemodelan 3 dimensi, Pemetaan 3 dimensi, PuspiptekABSTRACTThe Research Center for Science and Technology (Puspiptek), Serpong, Tangerang, Banten is a significant research facilityin Indonesia. The activity of Puspiptek must be known by potential researchers and public in order to gain benefit of the research products. The purpose of this research is to evaluate the method for developing 3 dimension model at Puspiptek for public access. The steps in this research are acquisition of building data and information, model preparation, model construction and model upload to Google Warehouse. The Extruded Footprint method is chosen to perform the modeling. The resulted 3 dimensional model can be accessed by public. It is hoped that the presence of 3-D models may help publishing and improving the research activity at Puspiptek.Keywords: 3-D modeling, 3-D mapping, Puspiptek