cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
THREE-DIMENSIONAL TOPOGRAPHIC MAPPING OF VERTICAL AND OVERHANGING SURFACES OF COASTAL CLIFFS USING UAV-BASED LIDAR DATASET A Case Study in South Kuta District, Bali Island: (Pemetaan Topografi Tiga Dimensi Permukaan Vertikal dan Menggantung dari Tebing Pantai Menggunakan Data LiDAR Berbasis Wahana Tanpa Awak: Studi Kasus di Kecamatan Kuta Selatan, Pulau Bali) Daniel Adi Nugroho
Geomatika Vol. 27 No. 1 (2021): JIG Vol. 27 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The availability of high-density LiDAR datasets, enabled by UAV-based airborne laser scanning, has allowed topographic mapping surveyors to see unprecedented details on the earth’s surface. One of the problems faced in large-scale topographic mapping is generating proper three-dimensional contour lines for vertical cliffs, recesses, and overhangs, especially when the surface is covered by vegetation, which is quite common in the tropical area. This paper showcases the practical application of the LiDAR survey using an unmanned aerial vehicle and ground point classification process using the Simple Morphological Filter (SMRF) algorithm to produce high-fidelity, three-dimensional digital contour maps of coastal cliffs. By rotating the LiDAR dataset before the classification process to minimize overlapping surfaces, the entire dataset can be simulated as a 2.5-D surface. Therefore, the SMRF algorithm can be executed to classify all ground points on the cliff surface, including the overhangs and recesses. The resulting ground surface derived from this classification process provided a sufficient approximation of the real-world surface in overhanging cliffs and recesses while maintaining the conventional way to convey local landscape topography through three dimensional contour lines
ANALISIS SUBSIDENCE MENGGUNAKAN METODE MULTITEMPORAL DINSAR DAN ANOMALI BOUGUER DI WILAYAH PERKOTAAN Studi Kasus Kota Samarinda: (Subsidence Analysis using Dinsar Multitemporal Method and Bouguer Anomaly in Urban Areas Case Study at Samarinda City) Aprilia Puspita; Yosef Prihanto; Sukendra Martha; Rudy.A.G. Gultom
Geomatika Vol. 27 No. 1 (2021): JIG Vol. 27 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena penurunan tanah di kota-kota besar di Indonesia sangat berdampak terhadap kerusakan infrastruktur bangunan, bahkan dapat menjadi pemicu bencana geologi seperti longsor dan sinkhole. Oleh sebab itu diperlukan upaya mitigasi untuk meminimalisir dampak kerusakan yang ditimbulkan, salah satunya dengan memetakan beberapa wilayah yang teridentifikasi mengalami subsidence di wilayah penelitian (Kota Samarinda), sebagai informasi awal dalam pengembangan tata ruang wilayah perkotaan. Pada penelitian ini menggunakan penginderaan jauh yang memanfaatkan citra radar SAR (Synthetic Aperture Radar) , yang diolah dengan metode DInSAR (Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar) dan dianalisis secara multitemporal untuk mengidentifikasi subsidence di wilayah penelitian. Dikombinasikan dengan metode gravitasi dengan penentuan nilai anomali Bouguer sederhana (SBA) untuk menentukan struktur bawah permukaan di wilayah penelitian. Data yang digunakan adalah citra SAR Sentinel 1A tipe SLC band C (5.405 GHz), dalam kurun waktu 2015-2019 dan data model anomali gravitasi Free Air Anomaly (FAA) yang diperoleh dari data satelit GGMplus. Hasil yang diperoleh menunjukkan wilayah yang teridentifikasi mengalami subsidence (penurunan tanah) sebagian besar berada di sekitar DAS Mahakam, dan merupakan pusat kegiatan penduduk dengan tingkat kerapatan bangunan yang tinggi. Nilai subsidence tertinggi sebesar 11,93 cm dalam periode tahun 2016-2017 di Kecamatan Samarinda Ilir, dan laju penurunan tanah rata-rata tertinggi sebesar 9,62 cm/tahun. Wilayah yang teridentifikasi terjadi subsidence umumnya memiliki nilai SBA yang relatif lebih rendah sehingga mempunyai struktur tanah yang lebih lemah
Index JIG Vol. 27 No. 1 Tahun 2021 JIG
Geomatika Vol. 27 No. 1 (2021): JIG Vol. 27 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Front Page Geomatika Vol. 26 No. 2 Tahun 2020 Sekretariat Redaksi Geomatika
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

GPS-DERIVED SECULAR VELOCITY FIELD AROUND SANGIHE ISLAND AND ITS IMPLICATION TO THE MOLUCCA SEA SEISMICITY: (Kecepatan Sekuler Kepulauan Sangihe Berdasarkan Data GPS dan Impilkasinya Terhadap Seimisitas Laut Maluku) Leni Sophia Heliani; Cecep Pratama; Parseno; Nurrohmat Widjajanti; Dwi Lestari; Hilmiyati Ulinnuha
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sangihe-Moluccas region is the most active seismicity in Indonesia. Between 2015 to 2018 there is four M6 class earthquake occurred close to the Sangihe-Moluccas region. These seismic active regions representing active deformation which is recorded on installed GPS for both campaign and continuous station. However, the origin of those frequent earthquakes has not been well understood especially related to GPS-derived secular motion. Therefore, we intend to estimate the secular motion inside and around Sangihe island. On the other hand, we also evaluate the effect of seismicity on GPS sites. Since our GPS data were conducted on yearly basis, we used an empirical global model of surface displacement due to coseismic activity. We calculate the offset that may be contained in the GPS site during its period. We remove the offset and estimate again the secular motion using linear least square. Hence, in comparison with the secular motion without considering the seismicity, we observe small change but systematically shifting the motion. We concluded the seismicity in the Molucca sea from 2015 to 2018 systematically change the secular motion around Sangihe Island at the sub-mm level. Finally, we obtained the secular motion toward each other between the east and west side within 1 to 5.5 cm/year displacement.
SURVEI DIMENSIONAL DAN KALIBRASI SISTEM MULTIBEAM LAUT DALAM DI KAPAL RISET BARUNA JAYA I: (Dimensional Survey and Calibration of Deep-water Multibeam System of RV Baruna Jaya I) Dwi Haryanto; Hendra Kurnia Febriawan; Ahmad Fawaiz Safi'; Muhamad Irfan
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah laut Indonesia bagian tengah dan timur merupakan perairan laut dalam dengan informasi batimetri yang masih terbatas. Data batimetri laut dalam dapat diperoleh menggunakan alat survei khusus, yaitu Multibeam Echosounder (MBES). MBES laut dalam pada Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I mampu menghasilkan data batimetri hingga kedalaman 11 km. MBES laut dalam tersebut mempunyai dimensi fisik yang relatif besar, sehingga transducer MBES harus dipasang secara permanen pada tunas kapal. Sistem MBES laut dalam terdiri dari beberapa sensor yang terintegrasi dalam satu sistem akuisisi MBES. Agar menghasilkan data batimetri berkualitas tinggi, perlu dilakukan survei dimensional untuk memperoleh informasi sudut miss-alignment transducer MBES dan posisi secara 3D (tiga dimensi) sensor sistem MBES laut dalam secara akurat dalam satu referensi sistem koordinat. Paper ini bertujuan untuk memperoleh nilai ketidaklurusan (miss-alignment) transducer MBES dan nilai offset sensor - sensor yang terpasang pada KR Baruna Jaya I terhadap suatu sistem koordinat kapal menggunakan metode survei dimensional. Selain itu, hasil survei dimensional tersebut diverifikasi secara dinamis menggunakan metode kalibrasi patch test. Hasil survei dimensional menunjukkan pemasangan fairing sebagai rumah transducer MBES memenuhi toleransi dengan nilai roll: -0,089˚ dan yaw: 0,292˚ sedangkan nilai pitch (-0,120˚ ) tidak memenuhi toleransi. Hasil pemasangan transducer MBES menunjukkan nilai roll dan yaw memenuhi toleransi (roll: 0,012˚ dan yaw: 0,200˚ ), sedangkan nilai pitch di atas ambang toleransi (pitch: 0,698˚ ). Nilai kesalahan pemasangan transducer diverifikasi dengan hasil kalibrasi Patch Test MBES dan mendapatkan nilai roll: 0,20°, pitch: 0,45°, dan yaw: -1,43°.
ANALISIS HASIL DELINEASI BATAS DESA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA: (Analysis of The Results of Village Boundary Delineation in Gunungkidul Regency, Province of Daerah Istimewa Yogyakarta) Heri Sutanta; Imasti Dhani Pratiwi; Dedi Atunggal; Bambang Kun Cahyono; Diyono
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batas administrasi desa memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai kegiatan pemerintahan. Batas desa di Kabupaten Gunungkidul didelineasi ulang pada tahun 2018 melalui kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Acuan utama untuk membuat Peta Kerja Batas adalah Peta Desa Lama skala 1:5.000 yang dibuat antara tahun 1932-1938. Batas desa pada Peta Desa Lama tersebut diinterpretasi dan didigitasi di Citra Tegak Resolusi Tinggi dari Badan Informasi Geospasial. Penelitian ini menganalisis perbedaan batas dalam hal karaksteristik segmen batas, pergeseran segmen batas, dan perbedaan luas wilayah. Terdapat perubahan karakteristik segmen batas yang berupa titik temu, segmen berbatasan dan segmen tidak berbatasan. Pergeseran posisi segmen batas yang terjadi sampai 1.773 m pada Peta RBI, dan 997 m pada hasil identifikasi peta desa lama. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul mengalami penurunan dibandingkan dengan luas menurut Peta RBI sebesar 287,79 hektar, dan 269,22 hektar jika dibandingkan dengan data BPS. Dalam hal luas wilayah desa terdapat 71 desa mengalami penambahan luas wilayah dibandingkan dengan Peta RBI dan 67 desa jika dibandingkan dengan data BPS. Perbedaan sumber data, skala, dan metode pembuatan batas di Peta RBI dan hasil kesepakatan menghasilkan perbedaan karakteristik batas, posisi garis batas, dan luas wilayah. Berdasarkan hasil ini, batas desa definitif perlu disegerakan penyediaannya untuk menggantikan jenis batas lain yang terpaksa digunakan.
IDENTIFIKASI ARAH SEBARAN DAN KETINGGIAN ERUPSI GUNUNG BERAPI MENGGUNAKAN CITRA RADAR CUACA Studi Kasus Erupsi Gunung Agung, 28 Juni 2018 Studi Kasus Erupsi Gunung Agung, 28 Juni 2018: (Identification of Volcanic Ash Propagation and Height Using Weather Radar Imagery, Case study: Mt. Agung Eruption, June 28, 2018) Nayla Alvina Rahma; Aprizal Verdyansyah; Muhammad Zakky Faza; Imma Redha Nugraheni; Gumilang Deranadyan
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erupsi vulkanik pada waktu yang lama dapat membahayakan keselamatan masyarakat dan aktivitas penerbangan. Radar cuaca dapat dimanfaatkan untuk monitoring dan identifikasi sebaran debu vulkanik secara real time. Penelitian ini memanfaatkan radar Gematronik dengan produk yang digunakan antara lain: CMAX, VCUT, dan CAPPI sehingga dapat menganalisis debu vulkanik yang dihasilkan oleh erupsi gunung berapi. Dalam kasus kejadian erupsi Gunung Agung tanggal 28 Juni 2018 didapatkan nilai reflektivitas maksimum mencapai 30-35 dBZ, sedangkan pada produk VCUT didapatkan ketinggian kolom debu vulkanik mencapai 7.5 km. Jenis material erupsi dapat diketahui dengan produk VCUT. Produk CAPPI V yang telah ditentukan batasnya yaitu 3 km, 5 km, dan 7 km menggambarkan arah gerakan debu vulkanik berdasarkan lapisannya. Arah sebaran debu vulkanik dominan ke barat dan barat daya. Dilihat secara horizontal maupun vertikal, debu vulkanik mempunyai karakteristik yang khas yaitu nilai echo reflektivitas menurun seiring menjauhi pusat erupsi.
PENGAMATAN JANGKA PENDEK PERILAKU ARUS DAN KEKERUHAN RELATIF PADA KANAL ANTAR-TERUMBU PASCA-PASANG PERBANI Studi Kasus: Perairan Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu: (Short Term Observation of the Behaviour of Current and Relative Turbidity in an Inter-Reef Channel during the Post-Spring Tide, Case Study: Nearshore Waters of Pramuka and Panggang Islands, Seribu Islands) Poerbandono; Eka Djunarsjah; Wiwin Windupranata
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini membahas perilaku jangka pendek arus dan kekeruhan relatif. Pembahasan didasarkan pada analisis data dari pengamatan lapangan di satu titik pada kedalaman sekitar 30 m. Titik pengamatan terletak di kanal antar-terumbu sekitar 600 m timur laut Pulau Pramuka ke arah Pulau Panggang. Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) berfrekuensi 614,4 kHz digunakan dalam pengukuran selama 25 jam dan 50 menit, sekitar dua hari setelah pasang perbani. ADCP mengukur profil arus dan hamburan balik dengan interval 1 m. Analisis dilakukan dengan menghubungkan saat perubahan kecepatan arus dengan pasut. Selain itu, kekeruhan relatif dihitung dari hamburan balik menggunakan persamaan kalibrasi empiris. Dari analisis, diperoleh korelasi positif antara tunggang pasut dengan kecepatan arus. Kecepatan arus tertinggi (yaitu 0,42 meter per detik) berkorelasi dengan saat air tinggi yang lebih rendah (lower high water). Kecepatan arus terdistribusi secara merata di sepanjang kolom air. Dibandingkan dengan di lapisan bawah, kecepatan arus di lapisan atas meningkat lebih cepat. Kekeruhan relatif yang dihitung dari hamburan balik menunjukkan bahwa material padat tersuspensi lebih banyak terkumpul di lapisan bawah. Peningkatan kekeruhan relatif diidentifikasi terjadi saat air rendah setelah air pasang tinggi (higher high water). Arah gerak arus saling berkebalikan dengan jumlah kejadian yang dua kali lebih banyak dan kecepatan arus yang dua kali lebih kuat ke arah ke arah 33o dibandingkan dengan ke arah 226o.
KAJIAN TEKNIK STEREO PLOTTING PADA FOTO UDARA FORMAT KECIL UNTUK MENGHASILKAN DATA DTM: (Assessment of Stereoplotting Techniques for Small Format Aerial Photographs to Generate DTM Data) Harintaka
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada fotogrametri, untuk menghasilkan data Digital Terrain Model (DTM) dari foto udara dilakukan dengan cara stereo plotting. Ada dua cara stereo plotting, cara interaktif dan otomatis. Cara interaktif memerlukan waktu yang lama bagi operator untuk melihat dan mendeliniasi dalam ruang 3D untuk menghasilkan posisi tiga dimensi (3D) objek dalam sistem koordinat tanah. Cara otomatis adalah melakukan proses stereo matching dengan salah satunya menggunakan algoritma korelasi silang. Pada cara otomatis ini, setiap pasangan foto stereo diidentifikasi objek yang sama secara otomatis, kemudian dihitung koordinat 3D-nya menggunakan persamaan space intersection. Penelitian ini mengkaji penggunaan kedua teknik tersebut pada Foto Udara Format Kecil (FUFK) untuk menghasilkan data DTM dan dibandingkan hasilnya. Pada penelitian ini digunakan satu blok pemotretan udara yang terdiri dari lima jalur terbang, dengan setiap jalur terdiri dari 40 foto. Setelah dilakukan hitungan triangulasi udara, pasangan – pasangan foto stereo dipilih dan dibentuk epipolar image. Kemudian proses stereo plotting secara interaktif dan otomatis diterapkan dan dibandingkan hasilnya. Hasil kajian menunjukkan data DTM yang dihasilkan antara teknik stereo plotting interaktif dan otomatis adalah mirip, tetapi tidak identik. Ini terjadi terutama di daerah campuran dengan tajuk pohon rapat. Keunggulan teknik stereo plotting interaktif adalah hasil sangat akurat dan tanpa memerlukan tahapan editing lagi, sedangkan teknik otomatis adalah kecepatan proses tetapi masih memerlukan editing.