cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
Indeks JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020 Sekretariat Redaksi Geomatika
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 20200
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Front Page Geomatika Vol. 26 No. 1 Tahun 2020 Sekretariat Redaksi Geomatika
Geomatika Vol. 26 No. 1 (2020): JIG Vol. 26 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

VISUALISASI PEMODELAN HASIL ANALISIS JARINGAN ANGKUTAN UMUM DI KABUPATEN KULON PROGO: (Visualization of Modeling Results Regarding Public Transport Network Analysis in Kulon Progo Regency) Febrian Fitryanik Susanta; Trias Aditya
Geomatika Vol. 26 No. 1 (2020): JIG Vol. 26 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan Bandar Udara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulon Progo berdampak pada berubahnya trayek jaringan angkutan umum yang telah ada. Perlu adanya perencanaan trayek baru yang sesuai dengan permintaan penumpang. Multimoda transportasi perlu direncanakan untuk pembangunan transportasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memodelkan trayek angkutan umum di Kabupaten Kulon Progo serta memvisualisasikannya dengan metode analisis visual. Pemodelan trayek angkutan umum diolah menggunakan metode analisis jaringan spasial (SpNA). Hasilnya divisualisasikan dalam tampilan grafik dan peta menggunakan metode analisis visual yang memanfaatkan Operations Dashboard for ArcGIS. Visualisasi pemodelan jaringan transportasi angkutan umum ini bersifat visual interaktif untuk memudahkan pengambil kebijakan dalam menyusun rencana penentuan jaringan trayek. Berdasarkan hasil pemodelan ini, ada tujuh rencana lokasi pembangunan pemberhentian baru. Selain itu, terdapat sebelas pemodelan trayek lintasan yang menghubungkan lokasi-lokasi pemberhentian. Terminal dapat melayani seluruh wilayah di Kabupaten Kulon Progo dalam rentang waktu 50 menit.
DESAIN ALTERNATIF LEMBAR PETA RUPABUMI INDONESIA (RBI) SKALA BESAR: (Alternative Design of Large-Scale Rupa Bumi Indonesia (RBI) Map Sheets) Sudarman; Hendriatiningsih Sudarman; Kosasih Prijatna
Geomatika Vol. 26 No. 1 (2020): JIG Vol. 26 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain lembar peta RBI skala 1:5000 dan skala yang lebih besar belum distandarkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, beberapa instansi pemerintah di Indonesia masih ada yang membuat peta skala besar untuk memenuhi kebutuhannya di wilayah yang sama dengan menggunakan berbagai sistem referensi geospasial yang menyangkut aspek geometrik yang berbeda dan akan menimbulkan duplikasi serta kontradiksi dalam informasi geometrik pada obyek yang sama di permukaan bumi. Untuk itu, diperlukan alternatif dalam mendesain lembar peta RBI skala besar dengan tujuan untuk mengatasi dan mewujudkan keterpaduan informasi geometrik pada obyek di permukaan bumi. Metode mendesain lembar dilakukan dengan menggunakan datum geodetik horizontal World Geodetic System 1984 (WGS 84), rangka jala metrik (grid) dan sistem penomoran lembar peta, analogi dengan sistem penomoran peta sebelumnya. Pada zona Universal Transverse Mercator (UTM) dengan sistem grid, digunakan lebar blok dari arah barat ke timur (6°) dan panjang blok dari arah selatan ke utara (25°). Titik awal lembar peta di batas zona dan batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), nilai overlap antar dua zona dan nilai penambahan cakupan wilayah, dihitung dalam sistem koordinat semu. Analisis dilakukan dengan cara kuantitatif berdasarkan nilai-hasil hitungan. Hasilnya, peta RBI skala 1:5000 dan 1:2500 menggunakan ukuran muka peta 60 cm × 60 cm, dan untuk skala 1:1000 digunakan ukuran muka peta 50 cm × 50 cm. Jumlah lembar peta RBI skala 1:5000 terdiri dari 206.752 lembar, untuk skala 1:2500 sebanyak 827.000 lembar dan skala 1:1000 sebanyak 7.443.072 lembar.
PEMETAAN DISTRIBUSI TOTAL SUSPENDED SOLID DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI SIDOARJO-PASURUAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH: (Mapping of Total Suspended Solid Distribution and Coastline Change in Sidoarjo-Pasuruan by Using Remote Sensing Data) Niken Dwi Wijayanti; Achmad Fachruddin Syah
Geomatika Vol. 26 No. 1 (2020): JIG Vol. 26 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Porong merupakan daerah muara sungai yang mengalami proses sedimentasi akibat bermuaranya air Sungai Porong ke Selat Madura yang membawa sedimen. Hal tersebut diduga akan menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai yang ada di sekitarnya. Disamping itu, perubahan morfologi daratan seperti abrasi atau sedimentasi dipengaruhi oleh faktor oseanografi fisik seperti arus. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh arus terhadap distribusi Total Suspended Solid (TSS) serta dampaknya terhadap perubahan garis pantai di Perairan Sidoarjo-Pasuruan. Data yang digunakan yaitu citra Landsat 7 (2002) dan Landsat 8 (2013 dan 2017) yang diperoleh dari United States Geological Survey serta data arus dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service. Penginderaan jauh digunakan untuk menganalisa perubahan garis pantai dan distribusi TSS. Hasil penelitian menunjukkan arus, dengan kecepatan 0.02-0.1 m/s, di Perairan Sidoarjo-Pasuruan berpengaruh terhadap distribusi TSS dengan arah menuju Barat dan Barat Laut. Konsentrasi TSS yang tinggi di perairan dekat pantai menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai yang ditandai dengan tingginya sedimentasi di lokasi tersebut. Lebih lanjut hasil menunjukkan bahwa perubahan garis pantai di Sidoarjo-Pasuruan tahun 2002-2013 sebesar 9,305 km dan 2013-2017 sebesar 3,226 km. Peningkatan konsentrasi TSS di Perairan Sidoarjo-Pasuruan sebanding dengan penambahan garis pantai.
DETEKSI TIPE DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN ANALISIS DIGITAL CITRA PENGINDERAAN JAUH Studi Kasus: Pesisir Pulau Flores Timur dan Pulau Adonara Barat: (Detecting Coastline Change and Typology using Digital Image Analysis, Case Study: Coastal area of East Flores and West Adonara) Devica Natalia Br Ginting; Rizky Faristyawan
Geomatika Vol. 26 No. 1 (2020): JIG Vol. 26 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garis pantai merupakan informasi batas wilayah antara darat dan laut. Informasi garis pantai sangat diperlukan dalam kegiatan di pesisir, terkhusus bagi negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Pengukuran lapangan untuk mendapatkan informasi garis pantai akan menghabiskan biaya, waktu dan tenaga yang besar. Penginderaan jauh mampu menghasilkan informasi garis pantai secara efektif. Lokasi kajian dilakukan di Pesisir Pulau Flores Timur dan Pulau Adonara Barat yang memiliki tiga tipe pantai yaitu berbakau, berpasir, dan tebing berbatu. Penelitian ini bertujuan melakukan ekstraksi garis pantai berdasarkan tipenya melalui proses digital. Data yang digunakan Landsat-5, Landsat-8, dan Sentinel-2. Perbandingan band digunakan untuk menganalisi tipe (Green/SWIR dan Green/NIR) pada Landsat-5 yang selanjutnya dibandingkan dengan tipe pantai yang bersumber dari referensi serta mengektrak garis pantai (Green/NIRand Green/SWIR). Citra Landsat-8 dan Sentinel-2 digunakan melihat perubaan garis pantai selama 10 tahun. Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa perbandingan band NIR dan Green menunjukkan hasil yang terbaik. Perubahan garis pantai akibat fenomena alam berupa erosi dan sedimentasi yang disebabkan oleh arus laut tidak berdampak signifikan kecuali di sekitar Selat Larantuka namun perubahan garis pantai akibat aktivitas manusia berupa pembangunan bandara memberikan perubahan sebesar 4,8 Ha.
DETEKSI URBAN HEAT ISLAND TERHADAP PERKEMBANGAN PERKOTAAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DI KOTA BAUBAU Septianto Aldiansyah; Risna
Geomatika Vol. 30 No. 1 (2024): JIG Vol 30 No 1 Tahun 2024
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenoma Urban Heat Island (UHI) sering dikaitkan dengan perkembangan perkotaan yang berawal dari peningkatan suhu permukaan (Land Suface Temperature). Deteksi UHI terhadap perkembangan perkotaan dilakukan dari tahun 2018 hingga 2023 yang berfokus di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena UHI yang terjadi akibat perkembangan perkotaan seperti perubahan penggunaan lahan dan kerapatan bangunan. Selain itu, sebaran dan intensitas UHI juga di analisis dalam lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah teknik penginderaan jauh temporal dengan memanfaatkan algoritma LST dari citra Landsat 8 OLI/TIRS dan Landsat 9 OLI-2/TIRS-2. Maximum Likelihood juga digunakan untuk mengklasifikasi penggunaan lahan. Perubahan tutupan lahan area terbangun dan kerapatan bangunan berdampak terhadap fenomena UHI. Tutupan lahan terbangun meningkat hingga 0,53 km2 dengan suhu rata-rata UHI mencapai 2,6oC ditahun 2023, sedangkan setiap peningkatan kepadatan bangunan 1% akan meningkatkan suhu udara rata-rata hingga 0,0847oC. Fenomena distribusi dan intensitas UHI terjadi di daerah pusat perkotaan, dan kenaikan intensitas UHI mencapai 2oC.
PERANCANGAN WebGIS UNTUK SISTEM ZONASI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI DI KOTA BOGOR Dessy Apriyanti; Ngabdurrahman Rifai; Diah Kirana Kresnawati; Rudie R Atmawidjaja; Rina Muthia Harahap
Geomatika Vol. 30 No. 1 (2024): JIG Vol 30 No 1 Tahun 2024
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak tahun ajaran baru 2018 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan bahwa peserta didik yang akan melanjutkan ke jenjang berikutnya mempertimbangkan beberapa kriteria salah satunya adalah jarak tempat tinggal ke sekolah sesuai dengan wilayah zonasi masing-masing sekolah yang diatur oleh pemerintah daerah masing-masing. Terkait hal tersebut maka Pemerintah Kota Bogor menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Bogor untuk mengatur sistem zonasi sekolah. Dengan hal tersebut maka diperlukan adanya sebuah sistem informasi yang bisa diakses dengan mudah, oleh karena itu dalam pelaksanaan PPDB di Kota Bogor dapat memanfaatkan sistem informasi geografis berbasis internet (WebGIS) zonasi sekolah. Pemanfaatan WebGIS zonasi sekolah ini menggunakan data dari penelitian sebelumnya dan juga data atribut yang didapatkan dari data pokok Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Perancangan WebGIS ini menggunakan kerangka kerja codeigniter dan bootstrap, kemudian melakukan penulisan progam untuk mengintegrasikan basis data dengan program dan menampilkan persebaran lokasi sekolah dan wilayah zonasinya. Hasil dari perancangan WebGIS zonasi sekolah diunggah ke web hosting supaya bisa diakses oleh masyarakat luas melalui web broswer. Hasil pengujian metode black box dan system usability scale menunjukkan bahwa WebGIS dapat menampilkan seluruh fitur yang ada dan berjalan dengan semestinya saat diakses dengan perangkat laptop dan handphone.
ASSESSMENT OF PEATLAND ECOSYSTEM CHARACTERISTICS IN THE PEAT HYDROLOGICAL UNIT OF GONGAN RIVER- NILO RIVER, RIAU PROVINCE: Kajian Karakteristik Ekosistem Gambut pada Kesatuan Hidrologi Gambut Sungai Gongan-Sungai Nilo Provinsi Riau Budi Susetyo; Waluyo; Erwin Hermawan
Geomatika Vol. 30 No. 1 (2024): JIG Vol 30 No 1 Tahun 2024
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minister of Environment and Forestry Regulation No. P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 establishes protocols for assessing and defining the function of peat ecosystems, involving 13 criteria. Among these, survey points must align with map coordinates, with a displacement limit of 200 meters. The research aims to meticulously control the characteristics of peatlands in the Peat Hydrological Unit (PHU) of Gongan River-Nilo River, Riau Province, following the work plan to ensure that observations align with actual conditions. The Haversine method gauges the distance between planned and actual observation points, revealing an average shift of 19.9 meters, ranging from 3.38 to 198.9 meters, indicating surveyor accountability. Field data shows 68% of the area with groundwater levels below 30 cm, and 32% between 30 and 60 cm. Channel water heights are predominantly between 50 and 100 cm (68%), with 22% lower and 10% higher. Soil pH consistently measures below 4 (100%), similar to channel water (73%), and substratum (81%) with most below 4. Only 3.1% of groundwater exceeds 300 μS/cm in electrical conductivity, while 96% are below 300 μS/cm, including low substratum conductivity. Total dissolved solids are mostly below 75 ppm (97%), with 3% between 75 and 150 ppm. The average peat thickness is 367.9 cm, primarily clay/river sediment at the hemic level. It can be concluded that all field survey results in the PHU Gongan-Nilo River can be accepted as valid data that can be used as a basis for development planning/regional determination in this area.
IDENTIFIKASI PERMUKIMAN KUMUH DARI CITRA PLEIADES DENGAN METODE MAXIMUM LIKELIHOOD CLASSIFICATION, OBIA DAN NEURAL NETWORK CLASSIFICATION DI BUMIWARAS, BANDAR LAMPUNG Zulfikar Adlan Nadzir; Nirmawana Simarmata; Lea Kristi Agustina; Tri Kies Welly
Geomatika Vol. 30 No. 1 (2024): JIG Vol 30 No 1 Tahun 2024
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permukiman kumuh telah menjadi masalah utama dalam perkembangan wilayah perkotaan, mengakibatkan dampak negatif pada kualitas hidup penduduk dan menghambat usaha pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Pentingnya pemetaan permukiman kumuh ini juga dapat digunakan sebagai alat untuk pemantauan dan evaluasi program intervensi yang sudah ada atau yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi area terbangun, menguji akurasi klasifikasi area terbangun dan mengidentifikasi permukiman kumuh di Kecamatan Bumiwaras Kota Bandar Lampung. Dalam penelitian ini, data citra resolusi sangat tinggi (CRST) yang digunakan adalah mozaik dari satelit Pleiades pada bulan Agustus 2018. Metode yang digunakan adalah Maximum Likelihood Classification (MLC), Object-Based Image Analysis (OBIA) dan Neural Network Classification (NNC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas permukiman pada Kecamatan Bumiwaras mencakup 18,34 % pada metode MLC, 63,80 % pada metode OBIA dan 32,06 % pada metode NNC dari total luas Kecamatan Bumiwaras sebesar 444,05 ha. Hasil uji akurasi menunjukkan bahwa metode dengan nilai overall acccuracy terbesar adalah metode OBIA dengan nilai 92,00 %, sedangkan metode MLC memiliki nilai sebesar 78,00 % dan metode NNC sebesar 57,45 %. Hasil analisis spasial pemetaan kawasan permukiman kumuh di Kecamatan Bumiwaras didominasi oleh permukiman kumuh dengan kelas sedang dengan total luas yaitu 176,17 ha. Sementara permukiman kumuh kelas ringan berada pada angka 80,51 ha dan kelas berat yaitu 26,06 ha. Kombinasi OBIA dan survei lapangan ditemukan sebagai kombinasi yang paling baik dalam mengidentifikasi permukiman kumuh di Kecamatan Bumiwaras.